• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI IMPLEMENTASI E-PROCUREMENT BARANG DAN JASA DI KABUPATEN GOWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI IMPLEMENTASI E-PROCUREMENT BARANG DAN JASA DI KABUPATEN GOWA"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

DI KABUPATEN GOWA

Oleh:

SRY WAHYUNI

Nomor Induk Mahasiswa : 105611109016

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

DI KABUPATEN GOWA

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi dan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Disusun dan Diajukan Oleh :

SRY WAHYUNI

Nomor Stambuk : 105611109016

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)
(6)

iv ABSTRAK

Sry Wahyuni, Abdi dan Nasrul Haq. Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa.

E-procurement adalah inovasi terbaru dalam perkembangan pemanfaatan E-government. Pengadaan barang dan jasa di kabupaten Gowa telah lama menggunakan pelelangan ataupun pembelian barang dan jasa secara manual beralih menjadi lebih simpel dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pelelangan pengadaan barang dan jasa tak lagi dilaksanakan dengan cara manual tapi melalui E-procurement dan diterapkan ke dalam LPSE yaitu Layanan Pengadaan Secara Elektronik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif yakni suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum sebagai macam data yang dikumpul dari lapangan secara objektif dengan tipe penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara terhadap sejumlah informan dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa sebagai berikut dengan adanya inovasi pengadaan barang dan jasa seperti saat ini yang dulunya manual menjadikan hal ini dapat lebih mudah, efektif dan efisien serta bersifat akuntabel. Penyampaian informasi atau data pengadaan dari panitia menjalankan kewajibannya telah sesuai dengan prosedur dan standar yang berlaku namun sedikit mengalami hambatan dalam memaksimalkan penyampaian informasi pengadaan karena pada setiap tahap pelaksanaan pengadaan tidak terlepas dari peluang pelanggaran KKN oleh panitia ataupun penyedia barang dan jasa. Sistem informasi elektronik mulai dari daftar jenis, spesifikasi teknis dan harga barang selalu disiapkan oleh panitia membuat penyedia ataupun konsumen dapat mengakses informasi dengan merasa aman, mudah, baik dan tepat karena adanya aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah diaplikasi sistem itu sendiri. Tahap transaksi dalam tahap awal hingga tahap akhir (transaksi) kantor bagian pengadaan barang dan jasa wajib mendukung penyedia dengan konsumen. Dalam segi keamanan juga penyedia maupun konsumen merasa aman karena pengadaan barang dan jasa ini dilegalitaskan pemerintah, apabila ada kesalahan maka itu sudah menjadi tanggung jawab pemerintah.

(7)

v

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, penulis memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebsar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah menemani penulis selama ini. Skripsi ini penulis persembahkan kepada yang tercinta terkhusus dan teristimewa untuk kedua Orangtua Penulis, Orangtua yang tiada henti-hentinya mendoakan dan memberikan dorongan baik moril maupun materil, kepercayaan, kesabaran, serta senantiasa mengalunkan doa dan kasih saying yang tak henti-hentinya kepada penulis. Doa dan dedikasi yang selalu diberikan kepada penulis dan menjadi motivasi terbesar penulis dalam menyelesaikan studinya.

Selain itu skripsi ini selesai juga berkat dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itulah dalam kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih dan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Abdi, M.Pd selaku Pembimbing I dan Bapak Nasrul Haq, S.Sos., M.PA selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 2. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Nasrul Haq, S.Sos., M.PA selaku Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

(8)
(9)

vii DAFTAR ISI HALAMAN PERSETUJUAN ... i HALAMAN PERNYATAAN ... ii ABSTRAK ... iii KATA PENGANTAR ... iv DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 7 C. Tujuan Penelitian ... 7 D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Penelitian Terdahulu ... 8

B. Pengertian Implementasi ... 12

C. E-procurement... 19

D. Kerangka Pikir ... 36

E. Fokus Penelitian ... 37

F. Deskripsi Fokus Penelitian ... 37

BAB III. METODE PENELITIAN ... 39

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 39

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 39

C. Sumber Data ... 40

D. Informan Penelitian ... 40

E. Teknik Pengumpulan Data ... 41

F. Teknik Analisa Data ... 42

G. Teknik Pengabsahan Data ... 43

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 45

A. Deskripsi Objek Penelitian ... 45

B. Pembahasan dan Hasil Penelitian... 56

BAB V. PENUTUP... 72

A. Kesimpulan ... 72

(10)

viii

DAFTAR PUSTAKA ... 75 LAMPIRAN ... 78

(11)

ix

DAFTAR TABEL

(12)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Proses Implementasi Kebijakan Donald Van Meter and Carl

Van Horn Dalam Suratman (2017) ... 15

Gambar 2.2 Model Implementasi Kebijakan Mazmanian and Sabatier ... 17

Gambar 2.3 Kerangka Pikir... 37

Gambar 4.1 Peta Administrasi Kabupaten Gowa ... 46

Gambar 4.2 Struktur Organisasi kantor bagian layanan pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Gowa... 51

Gambar 4.3 Alur Pelaksanaan E-procurement di Kabupaten Gowa... 52

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sejarah pengadaan barang dan jasa pemerintah bermula dari sebuah unit kerja bernama Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Publik (PPKPBJ) sebagai unit kerja eselon II. Dibentuk pada tahun 2005, unit kerja ini bertugas menyusun kebijakan dan regulasi pengadaan barang/jasa pemerintah, memberikan bimbingan teknis dan advokasi terkait pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah, serta memfasilitasi penyelenggaraan ujian sertifikasi ahli pengadaan barang/jasa pemerintah.

Dengan semangat ingin mewujudkan Indonesia yang lebih baik, mengemuka harapan agar proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) dapat berlangsung secara lebih efektif dan efisien serta mengutamakan penerapan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat, transparan, terbuka, dan adil bagi semua pihak dan tentunya dapat dipertanggung jawabkan. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007.

E-government bertujuan memberi pelayanan kepada masyarakat tanpa ada lagi intervensi-intervensi dan mempermudah pelayanan tanpa antrian yang bisa dilakukan dengan lebih sederhana. Perkembangan teknologi komunikasi informasi mempermudah masyarakat untuk menerima informasi sehingga akan mengurangi

(14)

kemungkinan-kemungkinan tindak korupsi dengan cara meningkatkan akuntabilitas dan transparansi lembaga pemerintahan. Faktor utama yang menjadi penghambat dalam pelayanan publik yang baik dapat dilihat dari dua sisi, yaitu birokrasi dan standar pelayanan publik.

Di era informasi, pelayanan publik menghadapi tantangan yang sangat besar. Tata kelola pemerintahan membutuhkan reformasi di berbagai bidang termasuk di lingkungan birokrasi. Reformasi birokrasi di Indonesia yang sedang berlangsung diharapkan bisa menciptakan pemerintahan yang baik tahun 2025. Reformasi birokrasi mencakup beberapa aspek. Pertama, kelembagaan, yaitu terwujudnya struktur organisasi birokrasi yang ramping dan kaya fungsi; Kedua, SDM, yaitu menciptakan SDM yang profesional dan kompeten; Ketiga, Implementasi, yaitu menciptakan proses bisnis yang efisien dan efektif; Keempat, pengawasan dan akuntabilitas, yaitu menciptakan proses bisnis yang transparan dan akuntabel; Kelima, pelayanan publik, yaitu menyelenggarakan pelayanan publik yang cepat, tepat, murah, mudah, tidak diskriminatif, dan memuaskan.

Implementasi E-procurement telah memberikan kontribusi pengurangan anggaran sampai 18 ,4% 2009 di Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Jika dilihat berdasarkan potensi pengurangan tingkat kebocoran maka solusi

strategisnya menggunakan sistem elektronik berupa E- procurement. E-procurement merupakan proses pengadaan barang dan jasa pemerintah yang

dilakukan secara elektronik terutama berbasis web atau internet. Instrumen ini memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi meliputi pelelangan umum secara elektronik yang diselenggarakan oleh LPSE.

(15)

E-procurement merupakan wujud dari E-government dalam hal yang lebih teknis. Dimana telah kita ketahui, E-procurement adalah pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Dalam pasal 107 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dijelaskan bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik bertujuan untuk, meningkat kan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan, mendukung proses monitoring dan audit, dan memenuhi kebutuhan akses informasi yang tepat waktu.

Dasar hukum pembentukan Layanan Pengadaan Secara Elektronik adalah Pasal 73 Nomor 16 Tahun 2018 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah yang ketentuan teknis operasionalnya diatur oleh Peraturan Lembaga LKPP Kabupaten Gowa Nomor 14 Tahun 2018 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik. E-procurement merupakan pengadaan barang/jasa yang dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Demikian definisi yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang ditetapkan pada tanggal 6 Agustus 2010 kebijakan ini adalah kebijakan nasional, kemudian wajib dilaksanakan diseluruh kabupaten/daerah yang ada di Indonesia terutama di Kabupaten Gowa itu ditahun 2012. Pengadaan barang/jasa secara elektronik atau E-procurement tersebut diperlukan agar pengadaan Barang/Jasa yang diselenggarakan pemerintah dapat terlaksana dengan baik, sehingga dapat meningkatkan dan menjamin terjadinya efisiensi, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas dalam pembelanjaan uang negara.

(16)

Peraturan Bupati (PERBUP) No. 2 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Gowa Nomor 6 Tahun 2014 tentang Pembentukan Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Lingkup Pemerintah Kabupaten Gowa.

E-procurement adalah inovasi terbaru dalam perkembangan pemanfaatan E-government. Pengadaan barang dan jasa di kabupaten Gowa telah lama menggunakan pelelangan ataupun pembelian barang dan jasa secara manual beralih menjadi lebih simpel dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pelelangan pengadaan barang dan jasa tak lagi dilaksanakan dengan cara manual tapi melalui E-procurement dan diterapkan ke dalam LPSE yaitu Layanan Pengadaan Secara Elektronik. Penerapan E-government menjadi hal yang sangat penting dalam memudahkan proses aktivitas lembaga pemerintahan. semua pelayanan ataupun hal-hal penting lainkemudian diterapkan E-government dalam pelaksanaannya, salah satu diantaranya adalah pengadaan barang dan jasa secara elektronik (E-procurement).

Pengadaan barang dan jasa secara elektronik ini dapat membuat segalanya menjadi lebih efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Namun, dibalik itu masih ada ketimpangan-ketimpangan yang menjadi alasan tidak berjalan efektifnya hal tersebut. Jika dikaitkan dengan TPK ( Tindak Pidana Korupsi) maka akan sangat jelas masalah yang kemudian muncul pada pengadaan barang dan jasa. “lelang proyek di Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE)” ada 18 organisasi perangkat daerah (OPD) yang siap melakukan proyek, hanya saja dari 18 OPD ini baru ada tiga yang melelang proyeknya secara terbuka, diantaranya Dinas Bina Marga, Dinas Sosial dan Dinas Peternakan. Adapun 15 lainnya masih dalam tahap

(17)

proses pemeriksaan internal oleh Aparat Pengawasan Internet Pemerintah (APIP). Biro pembangunan Sulsel mencatat proses pengadaan barang dan jasa tahun 2019, masih didominasi dengan sistem pengadaan Penunjukan Langsung (PL). Menurutnya masih ada 30-an OPD yang belum siap melakukan lelang proyek, tentu OPD yang belum siap melakukan lelang, akan melakukan Penunjukan Langsung (PL) dalam mengadakan barang dan jasa. (tribunnews.com)

Kebijakan E-procurement dengan mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk mewujudkan good governance melalui pengadaan barang dan jasa yang bebas KKN. Penerapan E-procurement dikembangkan untuk membentuk jaringan sistem manajemen dan proses kerja instansi pemerintah secara terpadu dengan pihak-pihak yang menjadi kerjasama dalam proses pengadaan barang dan jasa. E-procurement juga memberikan rasa aman dan nyaman. Rasa aman karena proses pengadaan selalu dalam ketentuan yang diatur secara elektronik dengan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas, sehingga pemenang adalah penyedia barang dan jasa yang telah mengikuti kompetisi dengan adil dan terbuka. Jumlah peserta pengadaan yang bertambah akan meningkatkan persaingan yang mengakibatkan penawaran mencapai harga pasar yang sesungguhnya.

E-procurement juga berdampak terhadap interaksi yang terjadi antara pelaku usaha dengan pemerintah. Jika di masa lalu, pelaku usaha perlu sering mendatangi instansi pemerintah di masing-masing sektor dan mendekati pihak yang terkait untuk mendapatkan informasi tentang peluang pengadaan, maka kini informasi tersebut telah tersedia dalam sistem. Akibatnya, terjadi perubahan cara

(18)

berinteraksi dimana frekuensi komunikasi melalui sistem E-procurement meningkat sedangkan frekuensi tatap muka menjadi jauh berkurang. Pada lingkup Implementasi di Kabupaten Gowa E-procurement bisa meningkatkan perhatian terhadap fasilitas TI.

Namun dibalik kecanggihan dalam pengadaan barang dan jasa melalui E-procurement ada sisi lain yang harus diteliti secara komprehensif terutama di Kabupaten Gowa. Sisi lain tersebut antara lain: Pelaksanaan proyek yang selalu terlambat karena instansi yang berwenang dalam pengadaan barang dan jasa lebih memahami pola manual dari pada E-procurement, harga kontrak relatif sama atau lebih mahal dibandingkan dengan harga pasar atau toko. Hal ini dikarenakan praktik E-procurement menjadi Inovasi baru praktek penyelenggaraan di pemerintah daerah.

Berdasarkan beberapa bukti penelitian yang pernah ada setidaknya diperoleh 6 faktor kendala utama yaitu peraturan dan ketentuan hukum dalam memenuhi kebutuhan Implementasi E-procurement, kondisi infrastruktur dan pengaturan sistem pendukung E-procurement, kemampuan teknologi pengguna dan penyedia jasa, tingkat kemampuan sumber daya manusia, sosialisasi kepada pihak yang terlibat, dan unsur-unsur lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses E-procurement. Implementasi E-procurement Barang dan Jasa yang masih belum maksimal di Indonesia khususnya di Kabupaten Gowa kemudian menjadi topik yang dianggap menarik oleh penulis untuk diangkat menjadi judul skripsi dalam penelitian dengan judul “Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa”

(19)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian tersebut, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa. D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharpakan menjadi karya yang berguna bagi kemajuan dan perkembangan Ilmu Administrasi Negara secara lebih khusus untuk konsentrasi kebijakan dan manajemen publik. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada civitas akademika mengenai pengadaan barang dan jasa secara elektronik (E-procurement).

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih kepada Instansi LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) tentang Implementasi barang dan jasa secara elekronik (E-procurement) di Gowa.

(20)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

1. Helmy (2013)

Penelitian ini berjudul “Implementasi E-procurement pada Pemerintah Kota Surabaya”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan E-procurement pada pemerintah kota Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa pelaksanaan kebijakan E-procurement pada pemerintah kota Surabaya belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari kendala pelaksanaan kebijakan E-procurement, antaralain: Pertama, adalah kendala teknis pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik di Kota Surabaya. Kendala ini lahir terutama disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia tidak memiliki SDM aparatur yang spesifik yang menangani tugas yang terkait dengan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Kedua, kendala bersifat internal yang dihadapi oleh unit LPSE adalah keterbatasan server dan tenaga teknis jaringan dan sistem. Sementara secara eksternal adalah keterbatasan unit akses yang dapat digunakan oleh publik pengguna LPSE dalam bentuk bidding point. Ketiga, infrastruktur pengguna yang telah memakai sistem ini kesulitan dalam upload data penawaran (dari sisipraktik penggunaan E-procurement) dan SDM pengguna.

(21)

LPSE, panitia, rekanan banyak yang belum melek IT. Keempat, dari sisi pengembangan terletak pada komitmen Pimpinan/Kepala Daerah, apalagi tuntutan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya clean local govern-ment (pemerintah daerah yang bersih dari KKN). Kelima, keterbatasan juklak dan juknis secara elektronik untuk mengoperasionalkan ketentuan dalam Keppres pengadaaan barang dan jasa. Keenam, penyedia jasa belum semuanya memahami proses pengadaan barang/jasa melalui elektronik sehingga masih diperlukan pembinaan dan sosialisasi.

2. Siska (2012)

Penelitian ini berjudul “Implementasi Kebijakan E-procurement di Kabupaten Wonogiri”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi E-procurement di Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan hasil penelitian ini Proses Implementasi Kebijakan E-procurement di Kabupaten Wonogiri, apabila dilihat dari ketepatan kebijakan E-procurement sudah mampu menjawab persoalan mengenai pelaksanaan pengadaan barang dan jasa sebelum dikeluarkan kebijakan E-procurement, melihat dari segi ketetapan pelaksanaan implementor juga sudah mengetahui lembaga-lembaga mana saja yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan barang dan jasa serta tugas pokok dan fungsi dari setiap lembaga sehingga menunjang pelaksanaan dan dapat berjalan dengan lancar namun LPSE masih menempel pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonogiri. Melihat dari ketepatan target, target yang ada sudah

(22)

tepat namun dalam upaya pencapaian target yang ada masih menemui kendala seperti sistem yang tiba-tiba eror ketika penyedia jasa mengupload sebuah dokumen atau proses lelang sedang besar-besarnya. Dari segi

lingkungan banyak masyarakat yang tidak mengerti dengan sistem E-procurement yang ada sehingga mereka seperti tidak tahu, atau acuh

terhadap kebijakan E-procurement ini. 3. Santi (2017)

Penelitian ini berjudul “Implementasi Kebijakan E-procurement di Kabupaten Bulungan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan E-procurement di Kabupaten Bulungan. Berdasarkan hasil penelitian ini Implementasi kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik (E-procurement) di Kabupaten Bulungan telah dilaksanakan, namun pelaksanaan implementasi tersebut belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian tujuan kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik (E-procurement) dimana masih terdapat 2 (dua) tujuan yang belum terlaksana secara optimal yaitu transparansi dan persaingan usaha yang sehat hal ini disebabkan masih adanya celah yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum untuk melakukan penyimpangan seperti penggiringan paket untuk penyedia-penyedia tertentu.

(23)

4. Ikhsan (2018)

Penelitian ini berjudul “Tata Laksana E-procurement di Kabupaten Pangkep dan Kepulauan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tata laksana kebijakan E-procurement di Kabupaten Pangkep dan Kepulauan. Berdasarkan hasil penelitian ini tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Tata Laksana E-procurement dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat E-procurement di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. E-procurement merupakan suatu inovasi dalam pemanfaatan Teknologi Informasi untuk kepentingan pelayanan publik. Berdasarkan hal tersebut peneliti terdorong untuk mencoba menjelaskan Pelaksanaan E-procurement di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah 05 orang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi yaitu menekankan pada subyektivitas pengalaman hidup manusia. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan menggunakan model analisa interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelaksanaan E-procurement di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan belum sepenuhnya terlaksana dengan optimal hal ini dilihat dari aspek tahapan E-procurement dimana penyedia yang meskipun telah sesuai dengan prosedur namun belum sepenuhnya berhasil dalam melaksanakan tahapan E-procurement sesuai dengan tujuan yang terdapat dalam Peraturan Presiden No. 54 tahun 2010 pasal 107. Hal ini dilihat dari indikator (1) E-tendering (2) E-bidding

(24)

(3) E-catalogue dan (4) E-purchasing. Faktor Pendukung dalam pelaksanaan ini adalah Strategi dan Loyalitas penyedia sedangkan faktor yang menjadi penghambat adalah penyimpangan dan penundaan.

B. Pengertian Implementasi

Implementasi diartikan sebagai proses ataupun cara mengurus dalam melaksanakan suatu kegiatan. Implementasi merupakan suatu tindakan lanjut dari suatu program yang ditetapkan berlaku dan dirumuskan. Dengan demikian fokus perhatian implementasi yakni kesediaan-kesediaan yang ditimbulkan sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijaksanaan ditetapkan, Wahab (2005).

Kemudian Siagian, menyatakan bahwa jika suatu rencana yang terealisasi telah tersusun program kerja yang “achievement oriented” telah dirumuskan maka kini tinggal pelaksanaannya. Lebih lanjut, Siagian (1984) mengatakan bahwa dalam pelaksanaan ada beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan, yaitu:

a. Membuat rencana detail, artinya merubah rencana strategis (jangka panjang) menjadi rencana teknis (jangka pendek) dan mengorganisir sumber-sumber dan staf dan selanjutnya menyusun peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tertentu.

b. Pemberian tugas artinya merubah rencana teknis menjadi rencana praktis dan tujuan selanjutnya melakukan pembagian tugas-tugas dan sumber-sumber. c. Monitor artinya pelaksanaan dan kemajuan pelaksanaan tugas jangan sampai

terjadi hal-hal yang berhubungan dengan rencana praktis. Dalam hal ini diperlukan untuk memeriksa hasil-hasil yang dicapai.

(25)

d. Review artinya pelaporan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan, analisis pelaksanaan tugas-tugas, pemeriksaan kembali dan penyusunan jadwal waktu pelaksanaan selanjutnya dalam hal laporan diharapkan adanya saran dan perbaikan bila ditemui adanya perbedaan dan penyimpangan.

Implementasi adalah aktivitas atau usaha-usaha yang dilakukan untuk melakukan secara rencana dan kebijaksanaan dan telah dirumuskan dan ditetapkan dengan dilengkapi kebutuhan dimana tempat pelaksanaan, kapan waktu pelaksanaan, kapan waktu dimulai dan berakhirnya dan bagaimana cara yang harus dilakukan. Proses implementasi sekurang-kurangnya terdapat 3 unsur penting yaitu:

1. Adanya program kegiatan/kebijaksanaan yang dilaksankan.

2. Target grup atau kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dan harapan akan menerima manfaat dari program tersebut.

3. Untuk pelaksanaan baik organisasi maupun perorangan yang bertanggungjawab dalam pengolahan, pelaksanaan, pengawasan dari proses Implementasi.

Salah satu tahapan penting dalam siklus kebijakan publik adalah implementasi kebijakan. Implementasi sering dianggap hanya merupakan pelaksanaan dari apa yang telah diputuskan oleh legislative atau para pengambil keputusan, seolah-olah tahapan ini kurang berpengaruh. Akan tetapi dalam kenyataannya, tahapan implementasi menjadi begitu sangat penting karena suatu kebijakan tidak akan berarti apa-apa jika tidak dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Dengan kata lain implementasi merupakan tahap dimana suatu

(26)

kebijakan dilaksanakan secara maksimal dan dapat mencapai tujuan kebijakan itu sendiri.

Implementasi secara etimologis adalah berasal dari bahasa Inggris yaitu to implement. Dalam kamus besar webster, to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); dan to give practical effect to (untuk menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Pengertian implementasi selain menurut webster diatas dijelaskan juga menurut Van Meter dan Van Horn (1975) dalam jurnal administrasi bahwa implementasi adalah “tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan”.

Menurut Donald Van Meter and Carl Van Horn (1975) dalam jurnal administrasi, mendefinisikan implementasi kebijakan, merupakan tindakan yang dilakukan baik oleh individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta, yang diarahkan untuk tercapainya tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. Pandangan keduanya mengandaikan bahwa implementasi kebijakan berjalan secara linear dari kebijakan publik, implementor dan kinerja kebijakan.

Meter and Horn mengemukanan suatu model dasar yang mencakup enam variabel yang membentuk keterkaitan antara kebijakan dengan kinerja. Dalam model ini, variabel terikat adalah kinerja, yang didefinisikan sebagai tingkat

(27)

sejauh mana standar-standar dan tujuan-tujuan kebijakan direalisasikan. Adapun variabel-variabel yaitu:

Gambar 2.1

Model Proses Implementasi Kebijakan Donald Van Meter and Carl Van Horn dalam Suratman (2017).

Berdasarkan pada gambar diatas jelas sekali bahwa kebijaksanaan bersangkut paut dengan tujuan-tujuan yang telah digariskan dan sumber-sumber yang tersedia. Hal ini terlihat dari gambar diatas, dengan ditandai beberapa garis yang di indikasikan adanya keterkaitan. Sedangkan tanda panah menandakan adanya arahan dalam proses pelaksanaan. Pusat perhatian pada badan-badan pelaksana meliputi baiknya organisasi formal maupun non formal. Sedangkan komunikasi antar organisasi terkait beserta kegiatan pelaksanaannya mencakup antar hubungan didalam lingkungan sistem politik dengan kelompok sasaran. Akhirnya pusat perhatian pada sikap para pelaksana mengantarkan kita telah mengenai orientasi dari mereka yang mengoperasionalkan program dilapangan.

Komunikasi organisasi dan kegiatan Ukuran dan tujuan kebijaksanaan Ciri badan pelaksana Sikap pelaksana Prestasi kerja Sumber-sumber kebijakan Lingkungan Ekonomi dan Sosial

(28)

Van Meter dan Van Horn dalam Suratman (2017) mendefinisikan implementasi kebijakan publik sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh organisasi publik yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Tahap implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum tujuan dan sasaran ditetapkan terlebih dahulu yang dilakukan oleh formulasi kebijakan terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut.

Implementasi didefinisikan sebagai pelaksanaan suatu keputusan kebijakan. Proses implementasi normalnya berjalan melalui sejumlah tahapan mulai dari pasasi peraturan perundang-undangan, diikuti dengan keputusan-keputusan tentang output kebijakan dan instansi pelaksanaan, kepatuhan kelompok sasaran terhadap keputusan-keputusan tersebut, dampak actual yang diinginkan maupun tidak diinginkan, dampak yang dipahami oelh instansi pelaksana, dan akhirnya revisi penting ataupun revisi awal dari peraturan perundang-undangan tersebut (Mazmanian and Sabatier, dalam Suratman (2017).

(29)

Gambar 2.2

Model Implementasi Kebijakan Mazmanian and Sabatier.

Implementasi seringkali juga didefinisikan sebagai aktivitas yang mencakup empat komponen utama: (1) spesifikasi yang jelas atas tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang secara akurat merefleksikan maksud kebijakan;

Mudah tidaknya masalah dikendalikan: 1.Dukungan teori dan teknologi. 2.Keragaman perilaku kelompok sasaran. 3.Tingkat perubahan perilaku yang dikehendaki.

Kemampuan Kebijakan untuk mengstrukturkan proses

implementasi 1.Kejelasan/ kosistensi tujuan/

sasaran.

2.Teori kausal yang memadai. 3.Sumber keuangan yang

mencukupi.

4.Integrasi organisasi pelaksana. 5.Akses formal pelaksana ke

organisasi lain.

6.Akses formal pelaksana ke organisasi lain.

Variabel di luar kebijakan yang mempengaruhi proses

implemenetasi 1.Kondisi

sosioekonomidanteknologi 2.Dukungan publik

3.Sikap dan sumbaer daya kelompok sasaran utama 4.Dukungan kewenangan 5.Komitmen dan kemampuan

pejabat pelaksana.

Tahapan dalam Proses Implementasi

Revisi Undang-Undang Diteriman ya Hasil Tersebut. Hasil Nyata Output Kebiajaka n Kepatuha n target untuk mematuhi Output Output Kebijakan Dari Lembaga Pelaksana

(30)

(2) suatu rencana manajemen yang mengalokasikan tugas-tugas dan standar-standar kinerja kepada sub-sub unit; (3) suatu saran objektif untuk mengukur kinerja sub-sub unit; dan (4) system manajemen pengendalian dan sanksi social yang mencakupi bagi para bawahan yang diserahi tanggung jawab untuk mencapai kinerja tersebut. Definisi seperti ini menekankan aktivitas structural internal organisasi atau instansi pelaksana, padahal implementasi tersebut berlangsung dalam suatu konteks yang dinamis dan mencakup beragam aktor dengan beragam kepentingan.

Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah tindakan agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Untuk lebih mengimplementasikan kebijakan publik menurut Nugroho (2003) menawarkan dua pilihan langkah, yaitu: 1) langsung mengimplementasikan dalam bentuk program-program, 2) melalui formulasi kebijakan derivat atau turunan dari kebijakan publik tersebut.

Pengimplementasian suatu kebijakan tidak lepas dari suatu permasalahan yang meyebabkan kegagalan pencapaian tujuan kebijakan/program yang di implementasikan dapat diidentifikasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan strategi untuk mengatasi kegagalan tersebut.Strategi yang dilakukan tentu sangat disesuaikan dengan tipe kegagalan implementasi program. Ada empat tipe implementasi sebuah kebijakan Goggin et, al dalam Erwan dan Dyah (2012). Tipologi tersebut menunjukkan potensi kegagalan dan keberhasilan pencapaian tujuan suatu kebijakan/program.

a. Penyimpangan (defiance): tipe implementasi ini diwarnai terjadinya pengunduran atau bahkan pembatalan implementasi oleh implementer yang

(31)

disertai perubahan-perubahan, baik tujuan, kelompok sasaran maupun mekanisme implementasi, yang berakibat tidak tercapainya tujuan.

b. Penundaan (delay) yaitu penundaan tanpa modifikasi. Dalam kasus ini implementer menunda pelaksanaan implementasi, namun tidak melakukan perubahan-perubahan terhadap isi kebijakan.

c. Strategi (strategic), yaitu modifikasi yang bertujuan memperbesar keberhasilan implementasi.

d. Loyal/Taat (compliance), yaitu tipe implementasi di mana implementor menjalankan implementasi tanpa disertai dengan perubahan terhadap isi dan mekanisme implementasi kebijakan tersebut.

Berdasarkan beberapa definisi yang disampaikan para ahli diatas, disimpulkan bahwa implementasi adalah suatu kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan dengan harapan akan memperoleh suatu pemahaman apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan.

Keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan dapat dievaluasi dari sudut kemampuannya secara nyata dalam meneruskan dan mengoprasionalkan program-program yang telah dirancang sebelumnya.

C. E-Procurement

E-government merupakan kependekan dari Electronic Government, atau ada yang menyebutnya dengan E-government. E-government adalah salah satu bentuk atau model sistem pemerintahan yang berlandaskan pada kekuatan teknologi digital, di mana semua pekerjaan administrasi, pelayanan terhadap

(32)

masyarakat, pengawasan dan pengendalian sumber daya milik organisasi yang bersangkutan, keuangan, pajak, retribusi, karyawan dan sebagainya dikendalikan dalam satu sistem. Menurut Indrajit (2002) dalam Budi Rianto dkk (2012:36): “Bahwa E-government merupakan suatu mekanisme interaksi baru antara pemerintah dengan masyarakat dan kalangan lain yang berkepentingan, dengan melibatkan penggunaan teknologi informasi (terutama Internet) dengan tujuan memperbaiki mutu (kualitas) pelayanan”. E-government adalah penyelenggaraan kepemerintahan berbasiskan elektronik untuk meningkatkan kualitas layanan publik secara efisien, efektif dan interaktif. Dimana pada intinya E-government adalah penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan hubungan antara pemerintah dan pihak-pihak lain (penduduk, pengusaha, maupun instansi lain). Indrajit (2002:1) mengatakan, berbeda dengan defenisi E-commerce maupun E-business yang cenderung universal.

Jurnal Administrasi Negara (2006:18) mengatakan bahwa aplikasi teknologi E-government adalah respon terhadap perubahan lingkungan strategik yang menuntut adanya perubahan administrasi publik yang lebih efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Secara perlahan namun tidak menghilangkan batasbatas negara dan peradaban bangsa yang sebelumnya bersifat homogen dan monopolistik bergeser kearah sesuatu yang heterogen dan demokratis.

Jurnal Administrasi Negara (2006:19) dijelaskan bahwa E-government merupakan pemanfaatan dan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi dalam rangka mencapai beberapa tujuan dan kebutuhan akan:

(33)

2. Memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik. 3. Menyediakan akses informasi kepada publik secara lebih luas.

4. Menjadikan penyelenggaraan pemerintah lebih bertanggung jawab dan transparan kepada masyarakat.

Berdasarkan beberapa definisi yang disampaikan para ahli diatas, disimpulkan bahwa E-government adalah sistem pemerintahan yang menggunakan teknologi informasi untuk memberikan pelayanan dan informasi bagi masyarakat dalam urusan bisnis serta hal penting lainnya yang berhubungan dengan pemerintahan.

E-procurement merupakan bagian dari E-government. E-procurement berada pada model Government-to-Business dimana dijelaskan bahwa pemerintah menyediakan informasi kepada para pelaku bisnis untuk mengikuti transaksi pengadaan barang dan jasa untuk membantu pemerintah dalam menunjang kerja-kerja organisasi, mulai dari perlengkapan di dalam kantor hingga perlengkapan lapangan.

LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) mengatakan bahwa E-procurement merupakan proses pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dilakukan secara elektronik terutama berbasis web atau internet. Instrumen ini memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi meliputi pelelangan umum secara elektronik yang diselenggarakan oleh LPSE.

Eric, Evans dkk (2000:3) mengatakan dalam hal bisnis, perubahan mungkin tidak cukup membuat kita tertarik, tetapi web sekarang menjadi pemasaran pokok bersama media iklan untuk sebagian besar

(34)

perusahaanperusahaan terkemuka. Banyak perusahaan sekarang menggunakan internet untuk membuat koneksi dengan pelanggan mereka secara langsung. Selain itu mereka juga mengembangkan hubungan dengan gaya kemitraan bersama pemasok utama dan pelanggan. Internet juga digunakan dalam dunia bisnis untuk hal-hal yang lebih banyak lagi. Apapun itu, intinya adalah segalanya akan menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Pengertian E-procurement adalah proses pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Barang/jasa publik adalah barang yang pengunaannya terkait dengan kepentingan masyarakat banyak baik secara berkelompok maupun secara umum, sedangkan barang/jasa privat merupakan barang yang hanya digunakan secara individual atau kelompok tertentu. Berdasarkan atas penggolongan ini, maka suatu barang atau jasa dapat saja dikategorikan atas barang publik tapi dapat juga dikategorikan atas barang privat tergantung pada penggunaannya, menurut Engstorm, et.al. (2009).

Menurut Kodar Udoyono (2012) mengatakan bahwa pengadaan barang dan jasa tanpa E-procurement telah mengakibatkan penyalahgunaan anggaran negara mencapai 10-50 persen. Angka ini sebenarnya bisa ditekan melalui

penggunaan teknologi informasi terutama E-procurement. Penggunaan E-procurement menjadi tantangan karena praktik KKN yang mengakar kuat

dalam praktik pengadaan barang dan jasa. Hal ini dipertegas oleh Fathul Wahid (2009) yang menjelaskan bahwa pengembangan LPSE pada tahap awal baru

diselenggarakan di beberapa tempat saja. Misi akhir dari penerapan E-procurement ini adalah bagaimana proses pengadaan barang dan jasa di

(35)

pemerintahan dan bagaimana caranya memanfaatkan teknologi informasi agar tidak banyak membuang buang waktu dan biaya. E-procurement dapat menjadi instrumen untuk mengurangi tindakan KKN karena melalui E-procurement lelang menjadi terbuka sehingga akan muncul tawaran tawaran yang lebih rasional. Bahkan mereka juga yang tidak berada dalam jaringan pun bisa terlibat.

Menurut Maureen Reason dkk (2000:12) mengatakan bahwa portal industri sejenis kemudian muncul dalam bahan kimia, cat, baja dan produk konsumen lainnya. Beberapa portal ini akan sangat cepat mendominasi industri terkemuka di dunia. Pada bulan Maret tahun 2000, 50 dari kelompok produk konsumen yang terbesar di dunia mengumumkan bahwa mereka berniat untuk mendirikan sebuah pasar elektronik yang akan diperdagangkan pada akhir tahun 2000. Pesaingnya seperti Proctor &Gamble, Unilever, Nestle dan Kraft Foods akan kembali ke portal ini. Barang di pasar tersebut akan meliputi bahan baku, kemasan dan barang-barang lainnya, dan akan memfasilitasi lelang elektronik.

Penerapan E-procurement berakibat pada terjadinya sejumlah pengurangan, mulai dari harga pembelian barang, waktu proses pembelian, penagihan, dan pembayaran, hingga pengurangan biaya administrasi maupun waktu dari proses pengadaan barang. Selain itu, melalui E-procurement, proses pelaksanaan pengadaan barang/jasa menjadi lebih transparan, terbuka, dan menciptakan persaingan yang sehat dengan berkurangnya tatap muka antara panitia pengadaan dengan pihak calon penyedia barang dan jasa, serta meminimalisasi terjadinya penyimpangan maupun persekongkolan tender yang sering terjadi, Maria Avilla dalam jurnalnya (2014:14).

(36)

Kodar Udoyono (2012) mengatakan kebijakan implementasi E-procurement dilakukan dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan

teknologi informasi untuk mewujudkan good governance melalui pengadaan barang dan jasa yang bebas KKN. Sasaran diterapkanya sistem E-procurement adalah untuk memberikan media proses pengadaan barang yang transparan,

kompetitif, efektif, efisien, adil dan tidak diskriminatif dan akuntabel. E-procurement dikembangkan untuk membentuk jaringan sistem manajemen dan

proses kerja instansi pemerintah secara terpadu dengan pihak-pihak yang menjadi kerjasama dalam proses pengadaan barang dan jasa.

Fitur utama E-procurement meliputi:

1) Katalog elektronik untuk item-item standar/inti.

2) Kemampuan punch-out ke situs-situs web pemasok untuk produk-produk yang dinamis/bermacam-macam.

3) Memunculkan kembali daftar-daftar permintaan/belanja untuk item-item yang dibeli secara teratur.

4) Jalur-jalur persetujuan yang menyatu (built-in) untuk menjalankan kendali anggaran belanja.

5) Kemampuan untuk memberi laporan informasi manajemen yang detil.

Eric Evans dkk (2000:3) mengatakan bahwa kunci untuk memahami E-procurement adalah mengurangi fokus kita pada teknologi saat itu dan lebih menekankan pada perubahan dan perkembangan teknologi. Teknologi internet itu sendiri memang memiliki manfaat yang signifikan, tapi kuncinya adalah sejauh mana hal tersebut:

(37)

a) Membuka kesempatan manajer untuk mencoba tantangan lain saat bekerja b) Mendorong para pelaku pengadaan untuk mengadopsi pengembangan strategi

daripada hal-hal operasional atau kegiatan transaksional

c) Berpotensi menyeimbangkan basis pasokan dengan kebutuhan pelanggan d) Menangkap imajinasi dari manajemen terdahulu dan memungkinkan proses

pengadaan bergerak dengan dukungan manajemen untuk proses pengadaan baru.

Pil Bae Song dalam United Nations Publication (2006:9) menerapkan langkah demi langkah dalam proses menyusun konsep proyek E-procurement. Langkah pertama yaitu penilaian kinerja sektor dan masalah.Sektor ini dapat mengungkapkan tata kelola yang buruk termasuk kurangnya transparansi, keadilan dan akuntabilitas. Masalah yang dimaksud adalah inefisiensi dalam proses pengadaan publik seperti kurangnya kompetisi dan menyita waktu dalam proses tender. Langkah kedua yakni mengidentifikasi ada tidaknya suatu hukum dan kerangka kebijakan disamping kurangnya kapasitas konstitusional yang memadai untuk melaksanakan proses pengadaan publik. Langkah ketiga menunjukkan faktor yang mempengaruhi masalah regulasi dari proses pengadaan dan kesulitan pemasok dalam mengakses pasar dan memperoleh informasi.

Langkah keempat menunjukkan solusi spesifik seperti undang-undang dan peraturan untuk meningkatkan transparansi, pengenalan E-procurement, peningkatan kapasitas lembaga pengadaan publik, dan integrasi dengan sektor swasta. Pelajaran yang didapat pada langkah kelima adalah studi pengalaman di darat dan lepas pantai, menganalisis relevansi pengalaman dengan konteks lokal.

(38)

Langkah enam dari proses persiapan proyek yakni menetapkan tujuan proyek, mengonversi masalah negatif menjadi tujuan positif, dengan kata lain, menjadikan sistem pengadaan publik lebih efisien.

Pil Bae Song (2006) mengatakan bahwa kerangka Proyek merupakan komponen penting dari usulan proyek. Kerangka proyek harus mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Dampak atau tujuan - Pernyataan dampak jangka menengah yang diinginkan (dicapai sekitar 3 tahun setelah selesai) yang sebagian disebabkan oleh proyek.

b. Output - Menjelaskan barang atau jasa yang dihasilkan oleh proyek seperti sistem infrastruktur yang dibangun, layanan operasional, kebijakan dirumuskan, kapasitas dibangun dan sebagainya.

c. Akivitas - Tugas dilakukan dengan menggunakan input proyek untuk menghasilkan output yang diinginkan.

d. Input - sumber utama (keuangan dan manusia) yang diperlukan untuk melaksanakan proyek yang perlu disediakan oleh pendanaan lembaga, pemerintah dan lain-lain.

e. Target kinerja / indikator - Indikator adalah langkah-langkah yang digunakan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil, target adalah tingkat waktu dan prestasi yang diinginkan untuk hasil yang spesifik , terukur , disebabkan , relevan dan terikat waktu.

f. Mekanisme monitoring - Sumber data untuk pengukuran pencapaian untuk masing-masing indikator/target.

(39)

g. Asumsi dan risiko - Asumsi adalah kondisi, peristiwa atau tindakan yang desain oleh proyek diperlukan untuk menunjukkan sebab dan akibat logika untuk terus benar, tapi yang jaminan untuk ruang lingkup proyek. Risiko adalah efek samping yang potensial atau tindakan yang berada di luar kendali dari manajemen proyek, tetapi jika mereka melakukan hal negatif akan mempengaruhi proyek.

Kodar Udoyono (2012) mengatakan E-procurement dapat menjadi instrumen untuk mengurangi tindakan KKN karena melalui E-procurement lelang menjadi terbuka sehingga akan muncul tawaran-tawaran yang lebih rasional. Bahkan mereka juga yang tidak berada dalam jaringan pun bisa terlibat. Meskipun menurut Fathur Wahid tidak terhindari adanya „permainan-permainan‟ pula dalam praktik E-procurement. Penggunaan E-procurement secara rasional dapat menghemat anggaran 20-40%. Selain itu, E-procurement dapat menghemat 50% anggaran untuk kontrak kecil dan 23% untuk kontrak besar ( Republika, 21 Juni 2009).

Robert Rhotery dalam United Nations Publication (2006:7) mengatakan bahwa manfaat Electronic Government Procurement (E-GP) adalah efisiensi, transparansi, kesetaraan, keadilan, dan dorongan dari bisnis lokal. Efisiensi dapat dicapai dikarenakan E-procurement meningkatkan kompetisi dan menurunkan biaya transaksi, meminimalisasi waktu dan kesalahan dalam proses tender dan arus yang pengambilan keputusan. Transparansi memerlukan informasi lebih tepat waktu untuk lebih banyak orang. Jejak kertas transaksi pengadaan, manajemen dokumen, penyingkapan, analisis hasil, audit dan sanksi merupakan

(40)

bagian dari transparansi. Dalam E-procurement aturan yang transparan dan proses kerja di lapangan serta prosedur yang disederhanakan akan mengurangi kesenjangan keterampilan ICT dan pengetahuan. Bisnis lokal dan usaha kecil dan menengah (UKM) didorong untuk berpartisipasi karena prosedur standarnya sederhana untuk melakukan proses penawaran. Semua dibangun dalam fitur Target UKM, jaringan bisnis dan subkontrak akan dipromosikan.

Berikut ini faktor-faktor menurut Robert Rhotery (2006) yang berpengaruh dalam keberhasilan pengembangan dan penyebaran pengetahuan tentang E-procurement:

a. Kepemimpinan pemerintah

b. Kebijakan dan kerangka hukum

c. Perubahan kelembagaan

d. Kesadaran dan kapasitas

e. Teknologi

Robert Rothery dalam United Nations Publication (2006:16) mempresentasikan panduan terbaik untuk praktik dan penggunaan E-government procurement (E-GP) bagi bank multilateral (MDB). Panduan MDB tentang E-procurement menetapkan standar dari sistem E-procurement yang harus terpenuhi agar dapat diterima dan digunakan pada proyek-proyek yang dibiayai oleh bank multilateral.

(41)

Prinsip-prinsip dari sistem E-procurement bank multilateral (MDB) adalah sebagai berikut:

a. Ekonomi, efisiensi dan transparansi b. Non-diskriminasi dan kesetaraan akses c. Kompetisi Terbuka

d. Akuntabilitas e. Keamanan proses

McDermont dalam United Nations Publication (2006:19) mengatakan ketika melakukan penilaian, penting untuk melihat pandangan semua pihak yang terlibat dalam pembangunan jangka panjang dari sistem Electronic Government Procurement (E-GP). Para pemangku kepentingan dapat berasal dari beberapa sektor yakni sektor publik seperti kebijakan bisnis, keuangan, manajemen pengadaan, dan perencanaan IT. Ada pula dari sektor swasta seperti kelompok pemasok dalam konstruksi dan kesehatan , dan kelompok konsumen. Komponen kunci dari penilaian tersebut adalah:

a. Kepemimpinan pemerintah b. Manajemen sumber daya manusia c. Perencanaan dan manajemen d. Kebijakan E-procurement

e. Perundang-undangan dan peraturan f. Layanan Infrastruktur dan web g. Standar

(42)

i. Sistem E –procurement

Komponen pertama yakni kepemimpinan pemerintah secara khusus dimaksudkan pada visi kepemimpinan kemudian disinergikan dengan keberadaan penerapan E-procurement. Ketika pimpinan pada suatu lembaga mendukung penerapan E-procurement sudah jelas bahwa kebutuhan-kebutuhan penunjang penerapan kebijakan E-procurement akan diupayakan untuk dipenuhi oleh pimpinan agar penerapan kebijakan ini dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Kemudian komponen kebijakan E-procurement berfokus pada konsistensi sebuah lembaga dalam menerapkan kebijakan E-procurement ini. Melihat kebijakan E-procurement yang merupakan bagian dari E-government itu sendiri selalu memiliki masalah dikarenakan tidak konsistennya kebijakan ini diterapkan.Berbicara tentang pengadaan barang dan jasa elektronik tentunya merupakan hal yang baru dan diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih baik itu dari pemerintah maupun pelaku bisnis. Biaya yang dikeluarkan untuk mendanai E-procurement cukup besar namun ketika dilaksanakan sesuai dengan aturan dan tetap konsisten maka akan memberikan banyak manfaat baik dari materi maupun non materi.

Komponen perundang-undangan dan peraturan. Komponen ini berfokus pada pemahaman para pelaku pengadaan barang dan jasa terkait masalah peraturan perundang-undangan dimana Implementasi E-procurement ini diatur dan memiliki dasar hukum. Pemahaman para pelaku pengadaan terhadap peraturan perundang-undangan ini sangat penting. Hal ini terkait tentang acuan para pelaku pengadaan barang dan jasa dalam menyelenggarakan E-procurement,

(43)

serta membatasi para pelaku pengadaan barang dan jasa secara elektronik dalam bertindak. Hal ini tentunya akan lebih memproteksi para pelaku pengadaan barang dan jasa secara elektronik untuk tidak dapat melakukan tindakan korupsi.

Berikutnya, yang telah dijelaskan McDermont (2006) adalah komponen standar. Yang menjadi fokus dari komponen ini adalah keberadaan standar petunjuk pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik yang kemudian harus dipahami oleh pelaku pengadaan barang dan jasa. Petunjuk pelaksanaan ini yang kemudian menjadi pedoman para pelaku pengadaan barang dan jasa dalam melaksanakan pengadaan barang dan jasa yang lebih teknis lagi.

Komponen akhir yang dijelaskan McDermont (2006) yaitu system procurement, yang difokuskan dalam komponen ini adalah keberadaan sistem E-procurement suatu lembaga yang baik sehingga mampu dioperasikan oleh para pelaku pengadaan barang dan jasa secara elektronik.Sistem yang dimaksud adalah sistem LPSE. Keberadaan sistem LPSE yang baik tentunya akan mempermudah para pelaku pengadaan baik pemerintah maupun penyedia barang dan jasa dalam mengikuti proses pengadaan barang dan jasa melalui sistem LPSE itu sendiri.

Komponen-komponen yang dijelaskan McDermont (2006) tadi akan memperlihatkan kemapanan sebuah lembaga pemerintah dalam menerapkan E-procurement.

(44)

Tingkat kesiapan untuk komponen dan subkomponen adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada bukti komponen ada di tempat dan tidak ada bukti yang mendukung.

2. Sedikit bukti komponen yang ada di tempat dan sedikit atau tidak ada bukti yang mendukung.

3. Beberapa bukti bahwa komponen di tempat dan beberapa bukti yang mendukung.

4. Bukti yang memadai untuk komponen yang ada di tempat dan ada cukup bukti yang mendukung.

McDermont (2006) menguraikan langkah-langkah untuk membuat penilaian yang tadi, berikut tahapannya:

a. Mengidentifikasi siapa yang akan mensponsori penilaian

b. Gunakan tenaga ahli internal dan atau eksternal untuk mengoordinasi komentar dan laporan

c. Mengidentifikasi responden baik dari sektor publik maupun swasta - Apakah responden diidentifikasi atau tidak teridentifikasi?

d. Izinkan tanggapan dari kelompok e. Apakah sesi briefing diperlukan?

f. Pastikan responden dapat menghubungi koordinator tim penilai g. Pastikan untuk menindaklanjuti wawancara/diskusi dengan responden h. Kapan diperbolehkan

(45)

j. Apa tanggapan akan diberikan kepada responden nantinya

Melakukan penilaian dengan melibatkan kegiatan-kegiatan berikut: a. Konfirmasi sponsor

b. Mengidentifikasi responden, melibatkan sponsor c. Memberikan penilaian dan petunjuk kepada responden d. Melakukan briefing jika diperlukan

e. Melakukan tindak lanjut wawancara atau diskusi f. Menerima penilaian responden

g. Menganalisis tanggapan

h. Menulis laporan di tempat temuan dan rekomendasi i. Mendistribusikan draft laporan untuk komentar j. Hadirkan laporan akhir atau tanggapan lain

McDermont (2006) mengatakan bahwa jenis penilaian ini telah dilakukan di Asia, Amerika Selatan dan Eropa Timur, dan laporan dari penilaian dan rekomendasi untuk perubahan telah disampaikan kepada pemerintah yang terlibat.

LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) mengatakan dalam kaitannya dengan pengadaan peralatan dan perlengkapan milik pemerintah, pemerintah kemudian mengintruksikan untuk melakukan pengadaan barang dan jasa secara lebih efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Hal ini dapat terwujud dengan menggunakan E-procurement. Penggunaan E-Procurement juga tidak bisa dilakukan dengan setengah-setengah tetapi secara keseluruhan harus mapan dalam pelaksanaan. Bukan hanya pemerintah yang

(46)

harus mapan tapi juga semua pihak yang akan melakukan proses transaksi pengadaan barang dan jasa dalam hal ini masyarakat maupun pihak swasta sebagai mitra pengadaan barang dan jasa harus mengerti dalam pemanfaatan E-procurement. Adapun metode Implementasi E-procurement dikabupaten Gowa seperti yang disebutkan oleh (Willem dalam Damayanti, dkk 2013) yaitu:

1. E-tendering

E-tendering adalah tata cara pemilihan pemasok yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua pemasok yang terdaftar pada sistem pengadaan secara elektronik.

2. E-bidding

E-bidding merupakan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan cara penyampaian informasi atau data pengadaan dari penyedia barang dan jasa,dimulai dari pengumuman sampai dengan pengumuman hasil pengadaan, yang dilakukan dengan media elektronik antara lain menggunakan media internet, intranet dan electronic data.

3. E-catalogue

E-catalogue adalah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai penyedia barang dan jasa.

(47)

4. E-purchasing

E-purchasing adalah tata cara pembelian (transaksi) barang dan jasa melalui sarana E-catalogue.

Kodar Udoyono (2012) juga mengatakan bahwa E-procurement juga akan memberikan rasa aman dan nyaman. Rasa aman karena proses pengadaan mengikuti ketentuan yang diatur secara elektronik dengan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas, sehingga pemenang adalah penyedia barang/ jasa yang telah mengikuti kompetisi dengan adil dan terbuka. Jumlah peserta pengadaan yang bertambah akan meningkatkan persaingan yang mengakibatkan penawaran mencapai harga pasar yang sesungguhnya. Risiko panitia menjadi berkurang karena teknologi membantu mengurangi kemungkinan kesalahan prosedur baik yang disengaja maupun tidak. Pada akhirnya, masing-masing pihak merasa nyaman berkat bantuan E-procurement.

Berikutnya, Gunasekaran (2008:159-175) mengatakan bahwa pada kenyataannya E-procurement masih memiliki kelemahan serta hambatan dalam Implementasi, seperti kurangnya dukungan finansial, terdapat beberapa instansi dan penyedia jasa lebih nyaman dengan sistem sebelumnya (pengadaan barang dan jasa konvensional), kurangnya dukungan dari top manajemen, kurangnya skill dan pengetahuan tentang E-procurement, serta jaminan keamanan sistem tersebut. Penyebab hambatan sistem E-procurement dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Peraturan Perundangan Belum adanya peraturan yang lebih rinci tentang pengaturan tanda tangan digital.

(48)

3. Standar file dokumen elektronik yang belum ada.

4. Sumber Daya Manusia Baik internal dan eksternal yang masih belum memahami pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik.

5. Perangkat Keras dan Infrastruktur Jaringan Infrastruktur jaringan internet yang masih belum mendukung pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik, karena kecepatan mengakses kesistem masih lambat.

Berdasarkan beberapa definisi yang disampaikan para ahli diatas, disimpulkan bahwa E-procurement adalah system pengadaan barang dan jasadengan menggunakan media elektronik seperti internet atau jaringan komputer dengan tujuan agar pelayanan kepadamasyarakat lebih efektif dan efisien.

D. Kerangka Pikir

Implementasi E-procurement dilakukan dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk mewujudkan good governance melalui pengadaan barang dan jasa yang bebas KKN. Siagian, menyatakan bahwa jika suatu rencana yang terealisasi telah tersusun jika program kerja yang “achievement oriented” telah dirumuskan maka kini tinggal Implementasi. Implementasi E-procurement dikabupaten Gowa ada 4 langkah yang disebutkan oleh (Willem dalam Damayanti, dkk 2013) yakni E-tendering, E-catalogue, E-bidding, dan E-purchasing, sehingga dapatlah disusun kerangka pikir sebagai berikut:

(49)

Gambar 2.3 Bagan Kerangka Pikir E. Fokus Penelitian

Fokus pada penelitian ini adalah ingin melihat bagaimana Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa.

F. Deskripsi Fokus Peneitian

1. E-tendering (Pemilihan Penyedia) adalah tata cara pemilihan Pemasok/penyedia secara terbuka yang dapat diikuti oleh semua pemasok yang terdaftar pada sistem pengadaan secara elektronik di Kabupaten Gowa. 2. E-catalogue (katalog) adalah E-catalogue adalah sistem informasi elektronik

yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga awal barang tertentu dari berbagai penyedia barang dan jasa di Kabupaten Gowa.

Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa

Implementasi E-procurement di Kabupaten Gowa dengan pedoman Teori Implementasi

E-procurement Willem (2013), yaitu: 1. E-tendering

2. E-catalogue 3. E-bidding 4. E-purchasing

Implementasi

(50)

3. E-bidding (Penawaran) adalah E-bidding merupakan implementasi pengadaan barang dan jasa dengan cara menyampaikan informasi atau data pengadaan dari penyedia baik itu barang maupun jasa seperti memberikan harga terendah kepada konsumen, melakukan penawaran dengan media elektronik antara lain menggunakan media internet, intranet dan electronic data di Kabupaten Gowa.

4. E-purchasing (penentuan pemenang dan transaksi) adalah apabila telah ditentukan pemenang tender oleh POKJA (Kelompok Kerja) pada Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa maka setelah itu konsumen melakukan pembelian (transaksi) barang dan jasa kepada Penyedia melalui sarana sistem SPSE di Kabupaten Gowa.

5. Implementasi E-procurement Barang dan Jasadi Kabupaten Gowa sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di Kabupaten Gowa.

(51)

39 BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 September 2020 - 8 November 2020. Untuk mengetahui apakah pada instansi tersebut telah melaksanakan E-procurement sesuai dengan tujuan E-procurement pada pasal 107 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010.

Penelitian ini mengambil lokasi di kantor Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kabupaten Gowa, dengan alasan untuk mengetahui Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di kantor LPSE tersebut.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Metode kualitatif juga disebut juga metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seno (kurang terpola) dan disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasinya terhadap data yang ditemukan dilapangan. Kualitatif juga bisa disebut metode penelitian yang naturalistik karena penelitinya dilakukan pada kondisi yang alami (natural setting) (Sugiyono, 2014). Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dari sejumlah informan kunci yang dianggap dapat memberikan informasi yang berhubungan dengan masalah penelitian ini yaitu Implementasi

(52)

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini adalah tipe penilitan deskriptif kualitatif. Tipe penelitian ini menggambarkan kejadian secara umum mengenai masalah yang diteliti yaitu: Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa.

C. Sumber Data

1. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung melalui penelitian, yang berupa hasil wawancara atau pengamatan kepada para informan.

2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen atau laporan-laporan tertulis dan tidak tertulis.

D. Informan Penelitian

Informan yang diambil dari lingkungan kantor LPSE di Gowa. Informan dipilih berdasarkan karakteristik kesesuaian dengan data yang diperlukan yakni:

Tabel 3.1

Daftar Informan Penelitian

No. Informan Jumlah

1. Kepala Sub Bagian Pengadaan Barang dan Jasa

1 2. Kepala Sub Bagian Layanan

Pengadaan Secara Elektronik

1 3. Pengguna Layanan E-procurement 1 4. Pemenang Tender 1 (Sumber: Peneliti, 2020)

(53)

E. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1. Pengamatan (observasi)

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan fakta/data yang relative efektif dalam mempelajari suatu sistem. Dengan menggunakan metode ini peneliti memperoleh informasi dan gambaran secara jelas terkait bagaimana keadaan implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa.

Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan mengamati lokasi penelitian yaitu di Kantor LPSE Kabupaten Gowa. Adapun hasil observasi ini sangat membantu dalam proses penelitian ini karena penulis dapat mengetahui bagaimana pelaksana kebijakan E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa. Peneliti melakukan observasi di Kantor LPSE Kabupaten Gowa dengan melakukan pengamatan secara bebas, mencatat apa yang menarik, melakukan analisis dan menarik kesimpulan.

2. Wawancara (Interview)

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara langsung kepada narasumber dengan subyek penelitian tentang permasalahan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Peneliti melakukan wawancara dengan informan seperti Kepala Sub Bagian Pengadaan Barang dan Jasa, Kepala Sub Bagian

Layanan Pengadaan Secara Elektronik, serta Pengguna Layanan E-procurement. Wawancara tersebut dilakukan guna mempertanyakan

(54)

bagaimana implementasi kebijakan E-procurement ini. Dari wawancara tersebut, peneliti dapat mengetahui bagaimana pelaksanaan kebijakan Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa. Peneliti terlebih dahulu menyusun beberapa pertanyaan yang akan disampaikan kepada informan agar pembicaraan dalam wawancara lebih terarah dan fokus pada tujuan yang dimaksud.

3. Dokumentasi

Dokumentasi yang peneliti lakukan yaitu dengan cara mengumpulkan data dan informasi penunjang melalui berbagai dokumen berupa laporan, peraturan, jurnal, struktur organisasi dan hsil penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini. Dokumen tersebut membantu

peneliti guna melengkapi materi-materi tentang Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa. Dokumentasi sangat

diperlukan guna menunjang data yang ada dan dapat pula dijadikan sebagai bahan referensi penelitian. Serta dokumentasi juga dalam hal ini berupa foto atau gambar yang diperoleh dari Kantor LPSE di Kabupaten Gowa.

F. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data yang penulis gunakan dalam mengelola data dari hasil wawanca, observasi dan dokumentasi setelah data dikumpulkan selanjutnya dianalisis dan menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif.

(55)

G. Pengabsahan Data

Menurut Ashari (2011 : 38) pengabsahan data bentuk batasan berkaitan suatu kepastian, bahwa yang berukur benar-benar merupakan variable yang ingin diukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang cepat. Salah satu caranya adalah dengan proses Triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data itu. 1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber adalah membandingkan cara mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, membanding apa yang dikatakan umum dengan yang dikatakan pribadi, membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik

Teknik data untuk memperoleh data informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda misalnya data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicetak dengan observai, dokumentasi atau kuisioner.

3. Triangulasi Waktu

Triangulasi waktu digunakan untuk validitas data yang berkaitan dengan pengecekan data berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Perubahan suatu proses dan perilaku manusia mengalami

(56)

perubahan dari waktu ke waktu. Untuk mendapatkan data yang sah melalui observasi penelitian perlu diadakan pengamatan tidak hanya satu kali pengamatan.

Gambar

Gambar 2.3  Bagan Kerangka Pikir  E.  Fokus Penelitian
Gambar 4.1Peta Administrasi Kabupaten Gowa  Sumber: http://gowakab.go.id

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa dengan penerapan sistem elektronik pengadaan barang dan jasa telah meningkatkan akses bagi para

Mengajukan permohonan keikutsertaan untuk menjadi Penyedia Barang/Jasa dalam sistem E- Procurement Nasional pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), yang selanjutnya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa secara Elektronik (E-Procurement) di Kantor Layanan Pengadaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa secara Elektronik (E-Procurement) di Kantor Layanan Pengadaan

“PENERAPAN E-PROCUREMENT TERHADAP PENGHEMATAN BIAYA PENGADAAN BARANG DAN JASA (STUDI KASUS UNIVERSITAS JEMBER)” sebagai syarat untuk meraih gelar sarjana (S1) pada

Artinya, pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan menggunakan e- procurement lebih efektif dibandingkan secara manual atau sebelum menggunakan e-procurement

Dalam usaha mengatasi kelemahan-kelemahan dan kesulitan dalam proses pengadaan maka dilakukanlah pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik (E-Procurement)

Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan indikator Input ini dapat dipahami bahwa inovasi Sistem E-toll seperti saat ini berjalan cukup baik yang dulunya manual