• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS E-PROCUREMENT (PENGADAAN BARANG/JASA SECARA ELEKTRONIK) DI KABUPATEN BONE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIVITAS E-PROCUREMENT (PENGADAAN BARANG/JASA SECARA ELEKTRONIK) DI KABUPATEN BONE"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

EFEKTIVITAS E-PROCUREMENT (PENGADAAN

BARANG/JASA SECARA ELEKTRONIK)

DI KABUPATEN BONE

Oleh:

Jusniati

Nomor Induk Mahasiswa : 105611120517

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

i SKRIPSI

EFEKTIVITAS E-PROCUREMENT (PENGADAAN

BARANG/JASA SECARA ELEKTRONIK)

DI KABUPATEN BONE

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi dan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Disusun dan Diajukan Oleh:

JUSNIATI

Nomor Stambuk: 105611120517

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)
(6)

v

ABSTRAK

Jusniati. 2021 EFEKTIVITAS E-PROCUREMENT (PENGADAAN BARANG/JASA SECARA ELEKTRONIK) DI KABUPATEN BONE di bimbing oleh bapak Dr. Drs. H. Anwar Parawangi, M.Si selaku Pembimbing I dan bapak Nur Wahid, S.Sos., M.Si selaku Pembimbing II

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana e-procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik) dalam mewujudkan efektivitas

e-procurement di Kantor Bagian Pengadaan Barang/Jasa Setda Kabupaten Bone.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menggambarkan keadaan atau fenomena yang terjadi dalam pengadaan barang dan jasa di kabupaten Bone. Secara objektif dengan menggunakan logika serta teori-teori yang sesuai dilapangan. Hasil penelitian menujukkan bahwa: (1) pencapaian target, menunjukkan bahwa adanya target yang telah ditentukan melalui perencanaan kemudian target tersebut dicapai (2) kemampuan adaptasi, yaitu kemampuan diri dalam menyesuaikan situasi atau keadaan (3) kepuasan kerja, dalam pekerjaan dikatakan berkualitas apabila dapat memberi kepuasan (4) Tanggung jawab, setelah adanya pembagian tugas diharuskan menjalankan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing.

(7)

vi

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Penulis panjatkan rasa syukur yang tidak terhingga kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas e-procurement (pengadaan barang

dan jasa secara elektronik) di kabupaten bone”.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Dr. Drs. H. Anwar parawangi, M.Si selaku Pembimbing I dan Bapak

Dr. Nur Wahid, S.Sos., M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa

meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Ibu Dr. Ihyani Malik, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Bapak Nasrul Haq, S.Sos., M.PA selaku Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar 4. Seluruh dosen Ilmu Administrasi Negara yang telah memberikan segala ilmu

yang dimiliki selama proses pembelajaran dikampus sehingga dapat menjadi pengetahuan yang sangat berharga bagi penulis kedepan.

5. Kedua orang tua saya tercinta yang telah mengorbankan serta memberikan motivasi, nasehat, semangat dan doa kepada ALLAH SWT sehingga penulis

(8)

vii

mampu menyelesaikan skripsi ini. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, panjang umur, rezeki dan semoga anakmu ini bisa membahagiakan bapak dan mama.

6. Ibu Andi Tenri Olle, S.T., M.Si selaku kepala bagian pengadaan barang dan jasa yang telah meluangkan waktunya dalam memberikan informasi terkait penelitian penulis sehingga skripsi ini dapat diseledaikan.

7. Bapak Agus, S.E., M.Si selaku Kasubag Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang telah meluangkan waktunya dalam memberikan informasi terkait penelitian penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

8. Ibu Andi Sugiawati, S.Sos., M.Si selaku Kasubag pengelola pengadaan barang dan jasa di UKPBJ Kabupaten Bone.

9. Ibu Hasmi, .Sos., M.Si selaku Kasubag pembinaan dan advokasi PBJ yang telah meluangkan waktunya dalam memberikan informasi terkait penelitian penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

10. Siska Rahayau, S.H selaku staff bagian Layanan Pengdaan secara Elktronik (LPSE). 11. A. Muh. Ridwan, S.T selaku Konsultas atau penyedia barang dan jasa yang telah

meluangkan waktunya dalam memberikan informasi terkait penelitian penulis sehingga skripsi ini dapat diseledaikan.

12. Randy Setiawan, selaku pengguna barang dan jasa yang telah meluangkan dalam memberikan informasi terkait penelitian penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 13. Sabri, selaku pengguna barang dan jasa yang telah meluangkan dalam memberikan

(9)
(10)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENERIMAAN TIM ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 7

B. Teori dan Konsep ... 13

Konsep Efektivitas ... 13

Konsep Pengadaan Barang Dan Jasa ... 17

Konsep E-Procurement ... 23

C. Kerangka Pikir ... 27

D. Fokus penelitian ... 28

E. Deskripsi fokus penelitian ... 28

BAB III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi penelitian ... 30

(11)

x

C. Sumber Data ... 31

D. Informan ... 31

E. Teknik Pengumpulan Data ... 32

F. Teknik Analisis Data ... 33

G. Teknik pengabsahan Data ... 34

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokus Penelitian ... 38

B. Hasil Penelitian ... 58 C. Pembahasan Penelitian ... 69 BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ... 75 B. Saran ... 76 DAFTAR PUSTAKA ... 77 LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 10

Tabel 3.1 Informan Penelitian ... 32

Tabel 4.1 Luas Wilayah Kabupaten Bone ... 41

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Kabupaten Bone ... 42

Tabel 4.3 Struktur Organisasi Kabupaten Bone ... 43

Tabel 4.4 Inventarisasi Pegawai Negeri Sipil ... 45

Tabel 4.5 Pegawai LPSE Kabupaten Bone ... 48

Tabel 4.6 Jumlah Paket Lelang Empat Tahun Terakhir ... 57

Tabel 4.7 Jumlah Paket Pengadaan Barang/Jasa Di Kab.Bone Pada Tahun 2021 ... 57

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian ... 27

Gambar 3.1 Triangulasi Sumber ... 36

Gambar 3.2 Triangulasi Teknik ... 36

Gambar 3.3 Triangulasi Waktu ... 37

Gambar 4.1 Peta Wilayah Kabupaten Bone ... 38

Gambar 4.2 Struktur Organisasi ... 49

(14)
(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Terselenggaranya pemerintahan yang baik (good governance) merupakan suatu hal yang tentunya sangat ingin diwujudkan oleh negara-negara yang ada di belahan dunia dan tak terkecuali indonesia itu sendiri. Indonesia sendiri sebagai negara berkembang tentunya masih banyak hal yang harus diperbaiki lagi untuk mewujudkan good governance pada tata kelola pemerintahannya. Salah satu upaya yang di tempu pemerintah Indonesia adalah dengan menerapkan electronic

government (e-Government) pada sistem dan manajemen pemerintahannya.

Efektivitas dimaksud sebagai tingkat seberapa jauh suatu sistem sosial mencapai tujuannya. Efektivitas ini harus dibedakan dengan efisiensi. Efisiensi terutama mengandung pengertian perbandingan antara biaya dan luas, sedangkan efektivitas secara langsung dihubungkan dengan pencapaian tujuan.

Sedangkan, E-procurement adalah sebuah sistem lelang dalam pengadaan barang/jasa pemerintah dengan memanfaatkan teknologi, informasi dan komunikasi berbasis internet, agar dapat berlangsung secara efektif, efisien, terbuka, dan akuntabel. Dalam aplikasi ini dimunculkan seluruh proses lelang mulai dari pengumuman, mengajukan penawaran, seleksi, sampai dengan pengumuman pemenang pelelangan secara online.

Fraud adalah tindakan kecurangan yang disengaja dalam mendapatkan

keuntungan pribadi maupun kelompok yang melanggar hukum. Kadangkala dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kewenangan terhadap aset baik

(16)

perusahaan atau pun negara. Kasus fraud dapat terjadi pada pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terutama dalam kegiatan pengadaan Barang/jasa. Kegiatan pengadaan barang /jasa sangat diperlukan oleh pemerintah/BUMN/BUMD dalam mendukung kegiatan operasional.

Sistem e-procurement yang digunakan dalam pengadaan baik barang maupun jasa di lingkungan kementerian dan lembaga telah dilakukan semenjak tahun 2020. E-procurement merupakan teknologi digital yang terintegrasi dengan website untuk memudahkan dalam proses pengadaan barang diantaranya berupa permintaan barang, pencarian barang, pemesanan barang, kontrak kerja dengan penyedia barang serta pembayarannya. E-procurement bertujuan untuk memudahkan lembaga atau pemerintahan dalam proses pencarian kebutuhan barang dan jasa yang diawali dengan pencarian spesifikasi barang sampai pada proses pembayaran yang di dalamnya juga terdapat komunikasi langsung secara online antara pembeli dalam hal ini pemerintah dengan penjual (swasta/pihak ketiga).

Adapun manfaat e-procurement dalam pelaksanaan pengadaan di lingkungan pemerintah, yaitu (1) pengadaan dapat dilakukan secara terbuka dan menciptakan persaingan yang sehat dan adil, (2) mendorong swasta untuk berpartisipasi dalam pengadaan di lingkungan publik. Selain itu, masyarakat secara mudah mengetahui proses pengadaan tersebut di lingkungannya, (3) semua peserta pengadaan dapat saling mengawasi untuk mencegah terjadinya korupsi mengingat dalam pelaksanaan pengadaan tidak dilakukan secara tatap muka

(17)

antara penyedia barang dan pemerintah, (4) memudahkan untuk memperoleh barang maupun jasa yang diperlukan berdasarkan kriteria teknis yang diinginkan, (5) memberikan kemudahan baik kepada pemerintah maupun penyedia barang karena dilakukan secara online, (6) penghematan biaya dan waktu, (7) memudahkan untuk melakukan pertanggungjawaban.

Untuk menciptakan layanan publik yang berkualitas dengan biaya rendah, maka pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan dan strategi nasional pengembangan e-government melalui instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003, yang merupakan payung hukum dari seluruh kebijakan detail teknis di bidang

e-government. Oleh karena itu untuk mendukung terselenggaranya good governance, maka di setiap instansi pemerintah diwajibkan untuk menggunakan

aplikasi layanan e-procurement.

Keputusan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah menyatakan bahwa “Pengadaan secara elektronik atau

e-procurement adalah pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan dengan

menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.” Berikut beberapa tahapan perubahan dasar hukum e-procurement yang diterapkan di Indonesia diantaranya sebagai berikut (1) keputusan Presiden nomor 80 tahun 2003, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, (2) peraturan Presiden nomor 8 tahun 2006, tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemeritah, (3) undang-undang nomor 11 tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi elektronik.

(18)

Peraturan yang digunakan dalam pelaksanaan sistem e-procurement pada masing-masing lembaga publik di Indonesia menggunakan dasar Keputusan Presiden nomor 80 tahun 2003 beserta perubahannya dan diikuti oleh berbagai aturan di bawahnya hingga peraturan pelaksana masing-masing lembaga.

Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 pengadaan barang dan jasa pemerintah secara elektronik bertujuan untuk (1) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, (2) meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, (3) memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan, (4) mendukung proses monitoring dan audit, (5) memenuhi kebutuhan akses informasi yang real time.

Berdasarkan dari hasil penelitian terdahulu Arsyad et al. (2016) dengan judul “Analisis Pengadaan Barang Dan Jasa Secara Elektronik (E-Procurement) Pada LPSE Kota Kendari” dinilai telah terlaksana dengan baik. Namun masih terdapat berbagai kendala diantaranya lelang yang harus di ulang kembali, yang mnegakibatkan diadakannya penambahan waktu dan biaya.

Mengukur suatu efektivitas menurut Hasibuan (2012), dapat dianalisis berdasarkan indikator (1) pencapaian target, yaitu bagaimana suatu organisasi dapat menetapkan target kemudian merealisasikan dengan baik, yang dapat dibuktikan dari hasil pelaksanaan tujuan organisasi dalam mencapai target berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan, (2) kemampuan adaptasi, karena keberhasilan organisasi dapat dilihat dari sejauh mana organisasi tersebut mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi, baik internal maupun eksternal, (3) kepuasan kerja, kondisi yang mampu memberikan rasa nyaman dan motivasi terhadap peningkatan kinerja organisasi atau pun instansi,

(19)

dan (4) tanggung jawab, pelaksanaan tugas dan kewenangan yang telah diemban serta mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dalam pekerjaan.

Kantor Bagian Pengadaan Barang/Jasa Setda Kabupaten Bone telah menerapkan e-procurement yaitu sistem pengadaan barang dan jasa yang proses pelaksanaannya dilakukan secara elektronik dan berbasis web dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi. Pada observasi awal yang dilakukan peneliti (2/4/2021) masih belum bisa dikatakan efektif maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian.

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut dengan mengangkat suatu judul penelitian yaitu

“Efektivitas E-Procurement (Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik) Di Kabupaten Bone”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Bagaimana efektivitas e-procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik) di Kabupaten Bone?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka tujuan penelitian ini adalah:

Untuk mengetahui efektivitas e-procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik) di Kabupaten Bone.

(20)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini, adalah : 1. Manfaat akademis

a. Hasil penelitian ini di harapkan menjadi sumbangsi pemikiran bagi peneliti lainnya yang ingin meneliti lebih komprehensif yang belum terungkap dalam penilitian ini

b. Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah dan memperluas wawasan berpikir mahasiswa tentang berbagai konsep atau teori yang memberikan informasi dan data dalam penelitian lanjutan.

2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbungsi pemikiran dalam upaya peningkatan efektivitas e-procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik) di Kabupaten Bone.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dalam mendukung penelitian ini, diantaranya :

1. Arsyad et al. (2016), yang melakukan penelitian pada Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Kendari dengan metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif memberikan gambaran atau penjelasan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement) yang dijalankan oleh LPSE kendari dengan menggunakan data primer berupa data yang diperoleh langsung dari kontraktor, konsultan, dan kelompok kerja unit pengadaan jasa (POKJA ULP) dengan menggunakan kuesioner untk mendapatkan informasi yang diperlukan. Menunjukkan bahwa implementasi

e-procurement di kota kendari pada bulan Oktober-Desmber 2014 berjalan

dengan efisien dari segi biaya dan waktu. Hal ini ditunjukkan yang dapat menghemat biaya dalam anggaran daerah kota kendari dan pengadaan barang dan jasa dapat diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan oleh ULP. Selain itu e-procurement juga meningkatkan efektifitasnya dengan dimana nilai rata-ratanya berdasarkan skala likert yang didasarkan pada tanggapan dari kontraktor, konsultan dan e-procurement yang disetujui WG ULP untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan akses ke pasar dan persaingan dengan beberapa masukan di setiap variabel.

(22)

2. Swadesi (2017), yang melakukan penelitian pada Kantor Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (E-Procurement) LPSE Kota Pekanbaru dengan metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan penilaian data deskriptif. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi, dan doumentasi. Dengan menggunakan kunci informan sebagai sumber informasi dan teknik tringulasi sebagai sumber dalam pengujian data keabsahan. Hasil penelitiannya awalnya melihat dari fenomena masih sering terjadinya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) barang dan jasa oleh pemerintah. Sehingga e-procurement dapat menjadi instrument untuk mencegah dan mengurangi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) karena melalui program e-procurement, pengadaan barang dan jasa dapat lebih meningkatkan transaparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan usaha yang sehat. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektifitas pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement) di LPSE pekanbaru serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengruhi efektifitas pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement) di LPSE Pekanbaru. Dan hasilnya adalah dengan menggunakan program

e-procurement dalam pengadaan barang dan pelayanan di lingkungan

pemerintahan kota pekanbaru belum terlaksana secara efektif. Karena hal ini disebabkan keterbatasan sumber daya manusia (SDM), kesulitan teknis dan terbatas pendanaan. Yang mana semua faktor tersebut sangat mempengaruhi efektifitas pengadaan barang dan layanan elektronik (e-procurement) di LPSE pekanbaru.

(23)

3. Habibi (2017), yang melakukan penelitian pada kantor pengadaan barang dan jasa di kota Malang. Adapun tujuan penelitiannya yaitu untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan e-procurement dalam pengadaan barang dan jasa di pemerintah kota Malang, serta menganalisis hambatana pelaksanaannya. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi, observasi dan wawancara. Model interaktif digunakan dalam analisis data . Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan e-procurement di Pemerintah Kota Malang berjalan efektif terbukti dengan pelaksanaan tender yang transparan dan akuntabel sehingga memungkinkan untuk setiap perusahaan mengikuti tender tersebut, selain itu pelaksanaan tender juga sangat mudah dengan memanfaatkan sistem aplikasi. Adapun hambatan dalam pelaksanaan e-procurement yaitu adanya rangkap jabatan, sumber daya manusia yang kurang memenuhi dan prasarana yang kurang mendukung.

(24)

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No. Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil 1. Analisis Pengadaan Barang Dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Kendari. Arsyad et al., (2016) Penelitian Kuantitatif

Implementasi e-procurement di kota kendari pada bulan oktober-desember 2014 berjalan dengan efisien dari segi biaya dan waktu. Hal ini ditunjukkan yang dapat menghemat biaya dalam anggaran daerah kota kendari dan pengadaan barang dan jasa dapat diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan oleh ULP. Selain itu

e-procurement juga meningkatkan efektivitasnya dengan dimana nilai rata-ratanya berdasarkan skala likert yang didasarkan pada tanggapan dari kontraktor, konsultan dan e-procurement yang disetujui WG ULP untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan akses ke pasar dan persaingan dengan beberapa masukan di setiap variabel. 2. Efektivitas Pengadaan Barang Dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Pekanbaru. Swadesi (2017) Penelitian Kualitatif

Melihat dari fenomena yang masih sering terjadinya praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) barang dan jasa oleh pemerintah. Sehingga e-procurement dapat menjadi instrument untuk mencegah dan mengurangi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) karena melalui program e-procurement, pengadaan barang dan jasa

dapat lebih meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan usaha yang sehat. Dan hasilnya adalah dengan menggunakan program e-procurement dalam pengadaan barang dan

pelayanan di lingkungan pemerintah kota pekanbaru belum terlaksana secara efektif. Karena hal ini disebabkan keterbatasan sumber daya manusia (SDM), kesulitan teknis dan terbatas pendanaan. Yang mana semua faktor tersebut sangat mempengaruhi efektivitas pengadaan barang dan layanan elektronik (e-procurement) di LPSE pekanbaru.

(25)

3. Efektivitas Pelaksanaan E-procurement Dalam Pengadaan Barang Dan Jasa. Habibi (2017) Penelitian Kualitatif

Secara umum pelaksanaan e-procurement di pemerintah Kota Malang berjalan efektif terbukti dengan pelaksanaan tender yang transparan dan akuntabel sehingga memungkinkan untuk setiap perusahaan mengikuti tender tersebut, selain itu pelaksanaan tender juga sangat mudah dengan memanfaatkan sistem aplikasi. Adapun hambatan dalam pelaksanaan

e-procurement yaitu adanya rangkap jabatan,

sumber daya manusia yang kurang memenuhi dan prasarana yang kurang mendukung.

Sumber data: Dari berbagai sumber (jurnal)

Dalam melakukan penelitian ini, penulis tidak terlepas dari penelitian-penelitian sebelumnya yang juga membahas tentang pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Penelitian-penelitian sebelumnya merupakan acuan bagi penulis untuk melakukan dan membuat penelitian ini. Dimana penelitian-penelitian sebelumnya merupakan bahan perbandingan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan serta mengetahui dan membandingkan metode-metode yang digunakan dalam dalam penelitian sebelumnya. Dan hasil perbandingan tersebut, maka penulis dapat mengetahui metode yang tepat dalam penelitian ini serta pengguna dapat menyempurnakan kekerangan-kekurangan penelitian sebelumnya.

Pada penelitian ini penulis menggunakan tiga buah hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian tentang pengadaan barang dan jasa secara elektronik, antara lain adalah (1) Arsyad dengan judul penelitian “Analisis Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Kendari”, (2) Swadesi dengan judul oenelitian “Efektivitas Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Pekanbaru, dan (3)

(26)

Habibi dengan judul penelitian “Efektivitas Pelaksanaan e-procurement Dalam Pengadaan Barang dan Jasa”.

Dan yang menjadi kekurangan dan kelebihan diantara tiga penelitian terdahulu ini adalah pertama yang menjadi kelebihannya adalah dua diantara penelitian terdahulu mengatakan bahwa penerapan e-procurement (pengadaan barang dan jasa secara elektronik) terlaksana secara efektif. Dikarenakan, yang pertama mengatakan bahwa dengan penerapan e-procurement ini berjalan dengan efisien dari segi biaya dan waktu karena dapat menghemat biaya dalam anggaran daerah dan diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan. Dan ada juga yang mengatakan efektif karena pelaksanaan tender yang dilakukan itu berjalan dengan transparan dan akuntabel sehingga memungkinkan setiap perusahaan bisa mengikutinya.

Sedangkan yang menjadi kekurangannya yaitu ada juga penelitian yang mengatakan dengan adanya penerapan e-procurement ini belum bisa dikatakan efektif dikarenakan terbatas akan adanya sumber daya manusia (SDM), kesulitan teknis dan terbatas akan pendanaannya. Dan juga ada yang mengatakan bahwa dengan adanya penerapan e-procurement ini masih terdapat hambatan diantaranya adanya rangkap jabatan dalam kantor. Sehingga peneliti juga tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui apakah di kantor LPSE kabupaten Bone, apakah penerapan e-procurement sudah bisa dikatakan efektif atau belum.

(27)

B. Teori dan Konsep

1. Konsep Efektivitas

Efektivitas berasal dari kata dasar efektif, kata efektif mempunyai arti efek, pengaruh, akibat atau dapat membawa hasil. Jadi, efektivitas adalah keaktifan, daya guna, adanya kesesuaian dalam suatu kegiatan orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju.

Badrudin (2014) mengatakan efektif adalah kemampuan mengerjakan sesuatu dengan benar. Efektivitas banyak berkaitan dengan tujuan karena semakin dekat organisasi kepada tujuannya, semakin efektif organisasi tersebut.

Sadad (2014) mengatakan bahwa konsep efektivitas merupakan konsep yang luas mencakup berbagai faktor dan dari sudut pandang mana kita melihatnya. Pada umumnya efektifitas dihubungkan dengan berbagai cara pencapaian tujuan baik dari segi proses atau pun dari segi waktu.

Winardi (2004) beranggapan efektivitas adalah hubungan suatu organisasi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Handoko (2007:7) berpendapat bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, seorang manajer efektif dalam memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metoda (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan.

Amirullah et al. (2004) efektivitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam mencapai sasaran-sasaran (hasil-akhir) yang telah ditetapkan secara tepat. Pencapaian hasil akhir yang sesuai dengan target waktu yang telah

(28)

ditetapkan dan ukuran maupun standar yang berlaku mencerminkan suatu perusahaan tersebut telah memperhatikan efektivitas operasionalnya.

Danim (2004) beranggapan bahwa efektif merujuk pada hasil guna dan efisien merujuk pada hasil kerja. Sedangkan menurut Solihin (2009:4) mengatakan bahwa efektivitas menunjukkan tercapainya tujuan yang diinginkan melalui serangkaian tindakan yang dilakukan oleh perusahaan.

Winardi (2004) beranggapan bahwa efektivitas diperbaiki dengan jalan mencapai sumber-sumber yang tepat, dan pengorganisasian manajemen dan para karyawan untuk bekerja sama guna mencapai sasaran-sasaran keorganisasian. Efektivitas keorganisasian dapat dianggap sebagai alat pengukur kualitas hubungan sebuah organisasi dengan lingkungannya. Secara paradoksal dapat dikatakan bahwa sebuah organisasi mungkin efektif (suatu hubungan langgeng dengan lingkungannya) tetapi tidak efisien (secara intern ia penuh pemborosan).

Wiludjeng (2007) mengatakan efektif adalah kemampuan untuk menetapkan tujuan yang tepat untuk kemampuan melakukan pekerjaan yang benar (doing the

thight things). Efektif dapat dinilai dari pemenuhan atau realisasi tujuan atau dari output suatu tugas.

Mahmudi (2005) mendefinisikan efektivitas merupakan hubungan antara

output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap

pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa efektivitas mempunyai hubungan timbal balik antara output dengan tujuan. Efektifitas berfokus pada outcome (hasil), program, atau kegiatan yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat

(29)

memenuhi tujuan yang diharapkan atau dikatakan spending wisely. Output merupakan segala sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berwujud (intangible) dan outcome merupakan segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah yang mempunyai efek langsung.

Adapun kriteria atau indikator efektivitas menurut Hasibuan (2012:194), diantaranya sebagai berikut:

a. Pencapaian target

Maksud dari pencapaian target disini adalah bagaimana suatu organisasi dapat dikatakan menetapkan suatu target kemudian merealisasikannya dengan baik. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil pelaksanaan suatu tujuan organisasi dalam mencapai target berdasarkan tujuan yang telah di tetapka sebelumnya. b. Kemampuan adaptasi

Kemampuan dalam beradaptasi sangat diperlukan dalam suatu organisasi karena keberhasilan suatu organisasi dapat pula dilihat dari sejauh mana suatu organisasi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu perubahan yang didapatkan dari dalam organisasi (internal) maupun dari luar organisasi (eksternal).

c. Kepuasan kerja

Kepuasan kerja adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seluruh anggota organisasi ataupun pegawai dalam sebuah instansi yang mampu memberikan rasa nyaman dan motivasi terhadap peningkatan kinerja organisasi atau pun instansi.

(30)

d. Tanggung jawab

Organisasi dapat melaksanakan tugas dan kewenangan yang telah diberikan sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat selanjutnya, serta mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dalam pekerjaannya.

Adapun indikator lain mengenai efektivitas menurut Prawirosentono (2008:27), yaitu (1) adanya kejelasan tujuan program, (2) adanya kejelasan mengenai strategi pencapaian tujuan program, (3) adanya perumusan suatu kebijakan program yang baik, (4) adanya penyusunan program yang tepat, (5) penyediaan sarana dan prasarana, (6) efektivitas operasional program, (7) efektivitas fungsional program, (8) efektivitas tujuan program, (9) efektivitas sasaran program, (10) efektivitas individu dalam pelaksanaan kebijakan suatu program, dan (11) efektivitas unit kerja dalam pelaksanaan kebijakan suatu program.

Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi adalah sebagai berikut (1) adanya tujuan yang jelas, (2) struktur organisasi, (3) adanya dukungan atau partisipasi masyarakat, (4) adanya sistem nilai yang dianut.

Organisasi akan berjalan terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Dengan adanya tujuan akan memberikan motivasi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Tujuan organisasi adalah memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan yang akan datang yang senantiasa dikejar dan diwujudkan oleh organisasi. Struktur dapat mempengaruhi efektifitas dikarenakan struktur yang akan menjalankan suatu organisasi itu. Struktur yang baik adalah

(31)

struktur yang kaya akan fungsi dan sederhana. Kemudian, tanpa adanya dukungan dan partisipasi serta sistem nilai yang ada maka akan sulit untuk mewujudkan organisasi yang efektif.

Richard M Steers (1995:86) menyebutkan 5 faktor yang mempengaruhi efektivitas, yaitu (1) karakteristik Organisasi, (2) karakteristik pekerjaan, (3) prestasi kerja, (4) karakteristik lingkungan, dan (5) kebijakan dan praktek manajemen

Dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis dan menguji indikator efektivitas yang dikemukakan oleh Hasibuan (2012:194), yaitu (1) pencapaian target, (2) kemampuan adaptasi, (3) kepuasan kerja, dan (4) tanggung jawab, terkait dengan efektivitas e-procurement dalam pengadaan barang/jasa pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kabupaten Bone, dikarenakan keempat indikator tersebut sangat relevan dengan penelitian ini.

2. Konsep Pengadaan Barang Dan Jasa

Pengadaan barang dan jasa atau yang sering dikenal dengan istilah lelang, banyak dilakukan oleh instansi pemerintah maupun dalam sektor swasta. Kegiatan ini sering kali dilakukan untuk memperoleh barang dan oleh suatu instansi/lembaga yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai dengan diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang dan jasa tersebut.

Pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan komponen fundamental dari tata kelola pemerintah yang baik. Pengadaan barang/jasa pemerintah memiliki

(32)

tujuan antara lain untuk memperoleh barang/jasa dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan dengan jumlah dan mutu yang sesuai dan tepat pada waktunya (tepat jumlah, tepat mutu dan tepat waktu).

Berdasarkan keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.

Berdasarkan peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 Pengadaan barang dan jasa merupakan kegiatan untuk memperoleh barang atau jasa oleh Kementerian / Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah / Institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Pengadaan barang dan jasa pemerintah yang selanjutnya disebut dengan pengadaan barang/jasa adalah kegiatan untuk memperoleh barang/jasa oleh Kementerian / Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah / Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.

Menurut Subagya, pengadaan ialah segala kegiatan dan usaha untuk menambah dan memenuhi kebutuhan barang dan jasa berdasarkan peraturan yang berlaku dengan menciptakan sesuatu yang tadinya belum ada menjadi ada.

Menurut Suherman (2010:2) kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah ditinjau dari perspektif Hukum Indonesia:

(33)

a. Pengadaan barang dan jasa pemerintah memiliki arti strategis dalam proteksi dan preferensi bagi pelaku usaha negeri;

b. Pengadaan barang dan jasa pemerintah merupakan sektor signifikan dalam upaya pertumbuhan ekonomi;

c. Sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah yang mampu menerapkan prinsip tata pemerintahan yang baik akan mendorong efisiensi dan efektivitas belanja publik sekaligus menkondisikan perilaku 3 pilar pemerintahan, swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan Good Governance;

d. Bahwa ruang lingkup pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi berbagai sektor dalam berbagai aspek dalam pembangunan bangsa.

Dari pengertian yang ada, muncul pengertian bahwa terdapat dua pihak yang berkepentingan. Pihak pertama adalah instansi pemerintah, BUMN atau sektor swasta yang mengadakan penawaran pengadaan barang dan jasa. Pihak kedua adalah personal maupun perusahaan kontraktor yang menawarkan diri untuk memenuhi permintaan akan barang dan jasa tersebut.

Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 Pasal 3 tentang pengadaan barang/jasa bahwa pelaksanaan barang/jasa dilakukan melalui (a) swakelola, dan (b) pemilihan penyedia barang/jasa.

Pada pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi (a) barang, (b) pekerjaan konstruksi, (c) jasa konsultasi, dan (d) jasa lainnya.

(34)

Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 menyebutkan jenis-jenis pengadaan barang dan jasa yang dilakukan untuk menentukan penyedia barang dan jasa dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. Pengadaan barang/Jasa Umum

Adalah metode pemilihan penyedia barang / pekerjaan konstruksi / Jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia barang / pekerjaan konstruksi / jasa lainnya yang memenuhi syarat. Pengadaan barang/jasa umum dengan nilai diatas RP. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah); b. Pengadaan barang/jasa terbatas

Adalah metode pemilihan penyedia barang / pekerjaan konstruksi dengan jumlah penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks;

c. Pemilihan Langsung

Metode pemilihan penyedia pekerjaan konstruksi untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 5.000.000.000,- (Lima miliar rupiah);

d. Pengadaan Langsung

Pengadaan barang/jasa langsung kepada penyedia barang/jasa tanpa melalui pengadaan barang/jasa / seleksi / penunjukan langsung dengan nilai sampai dengan Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah);

e. Penunjukkan Langsung

Metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) penyedia barang/jasa.

(35)

Pada Pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang etika pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika sebagai berikut:

a. Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran, kelancaran dan ketetapan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa; b. Bekerja secara profesional dan mandiri, serta menjaga keberhasilan dokumen

pengadaan barang/jasa yang menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa;

c. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak lang yang berakibat terjadinya persaingan tidak sehat;

d. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan tertulis para pihak;

e. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa;

f. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.

g. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara; dan

h. Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan, komisi, rabat dan berupa apa saja dari atau kepada siapapun yang diketahui atau patut diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.

(36)

Keppres Nomor 80/2003, pasal 3 tentang prinsip dasar (Dalam Maman Adde, 2010:241) menyebutkan prinsip pengadaan barang dan jasa itu sebagai berikut :

1. Efisiensi, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana, daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggung jawabkan;

2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang besar sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;

3. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat diantara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat dan kriteria.

4. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara, evaluasi, hasil evaluasi penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;

5. Adil/tidak deskriminasi, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu dengan cara dan alsan apapun;

(37)

6. Akuntabilitas, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.

3. Konsep E-Procurement

Sistem e-procurement di indonesia lebih dikenal dengan istilah LPSE atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik, LKPP (2016). Menurut LPSE nasional , Layanan Pengadaan Secara Elektronik (khususnya di dalam institusi pemerintahan indonesia) merupakan unit kerja yang dibentuk di seluruh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi Lainnya (K/L/D/I) untuk menyelenggarakan sistem pelayanan pengadaan barang atau jasa secara elektronik serta memfasilitasi ULP (Unit Layanan Pengadaan) dalam melaksanakan pengadaan barang barang atau jasa secara elektronik.

Pengadaan barang dan jasa secara elektronik selain akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, serta memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan, tentu secara tidak langsung juga akan mendukung proses monitoring dan audit dan memenuhi kebutuhan akses informasi yang real-time guna mewujudkan clean and good

government dalam pengadaan barang dan jasa pemerintahan.

E-procurement adalah proses pengadaan barang/jasa yang pelaksanaannya

dilakukan secara elektronik yang berbasis web/internet dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang meliputi pelelangan umum, prakualifikasi dan sourcing secara elektronik dengan menggunakan modul berbasis website. Dukungan Teknologi informasi ini dapat meningkatkan

(38)

kapabilitas government dalam memberikan kontribusi bagi penciptaan nilai tambah, serta mencapai efektifitas dan efisiensi.

Sutedi (2012) e-procurement adalah sebuah sistem lelang dalam pengadaan barang/jasa pemerintah dengan memanfaatkan teknologi, informasi, dan komunikasi berbasis internet, agar dapat berlangsung secara efektif, efisien, terbuka, dan akuntabel. Sedangkan menurut Indrajit et al. (2003) “E-procurement adalah pembelian yang dilakukan dengan menggunakan internet”. Kemudian dikutip kembali oleh Andrianto (2007) bahwa e-procurement diartikan sebagai sebuah proses digitalisasi tender/lelang pengadaan barang/jasa pemerintah berbantuan internet.

Andrianto (2007), bahwa e-procurement adalah proses pengadaan barang/jasa yang dilakukan melalui lelang secara elektronik. Sistem

e-procurement dalam pengadaan barang/jasa bertujuan untuk menciptakan

transparansi, efisiensi, dan efektifitas serta akuntabilitas dalam pengadaan barang/jasa melalui media elektronik antara panitia dan penyedia jasa.

Menurut Suprianto et al. (2019) Secara umum tujuan dari diterapkannya

e-procurement adalah untuk menciptakan transparansi, efisiensi, dan efektivitas

serta akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa melalui media elektronik antara pengguna jasa dan penyedia jasa. E-procurement dapat memperbaiki tingkat layanan kepada para user, mengefektifkan penggunaan sumber daya manusia dalam proses pengadaan, memenuhi kebutuhan akses informasi yang real

(39)

Dari penerapan e-procurement, manfaat yang dapat diperoleh antara lain sebagai berikut :

1. Keuntungan langsung: meningkatkan akurasi data, meningkatkan efisiensi dalam operasi, proses aplikasi yang lebih cepat, mengurangi biaya administrasi, mengurangi biaya operasi, dan mengurangi supply cost, dan

2. Keuntungan tidak langsung: membuat pengadaan lebih kompetitif, meningkatkan layanan kepada konsumen, meningkatkan hubungan mitra kerja, mempersingkat birokrasi, standarisasi proses, dan dokumentasi.

Penerapan e-procurement sebagai sistem sistem pengadaan barang dan jasa memiliki prinsip, sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010, prinsip-prinsip tersebut adalah:

1. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang minimum untuk mencapai kualitas dan sasaran dalam waktu yang ditetapkan atau menggunakan dana yang telah ditetapkan untuk mencapai hasil dan sasaran dengan kualitas yang maksimum

2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan sasaran yang telah ditetapkan serta memberikan manfaat yang sebesar besarnya 3. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh penyedia barang/jasa yang berminat serta oleh masyarakat pada umumnya

4. Terbuka, berarti pengadaan barang/jasa dapat diikuti oleh semua penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas

(40)

5. Bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus dilakukan melalui persaingan yang sehat diantara sebanyak mungkin penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi persyaratan, sehingga dapat diperoleh barang/jasa yang ditawarkan secara kompetitif dan tidak ad intervensi yang mengganggu terciptanya mekanisme pasar dalam pengadaan barang/jasa.

6. Adil/tidak deskriminasi, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan tahap memperhatikan kepentingan nasional. 7. Akuntabilitas, berarti harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang terkait

dengan pengadaan barang/jasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan e-procurement ini diharapkan akan menjadi suatu proses yang akan mempermudah kinerja panitia, penyedia maupun masyarakat pada umumnya, dan meminimalkan pengadaan barang/jasa yang tidak sehat seperti mengintimidasi panitia pengadaan barang/jasa dan berkolusinya panitia dengan penyedia seperti yang sudah atau sering terjadi sebelumnya juga menghindarkan berkumpulnya peserta penyedia dari hal-hal yang tidak diinginkan.

1. Fungsi e-procurement, yaitu (a) mewujudkan prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa secara lebih nyata, (b) penawaran yang masuk lebih banyak, (c) lebih aman (termasuk jaminan keamanan data), (d) mengurangi benturan dan hambatan fisik.

2. Fungsi e-procurement bagi panitia, yaitu (a) mendapatkan penawaran yang lebih banyak, (b) mempermudah proses administrasi, (c) mempermudah PPK/Panitia pengadaan dalam mempertanggungjawabkan proses pengadaan,

(41)

(d) fungsi e-procurement bagi penyedia, (e) menciptakan persaingan usaha yang sehat, (f) memperluas peluang usaha yang sehat, (g) membuka kesempatan pelaku usaha, (h) membuka kesempatan pelaku usaha mengikuti lelang, (i) mengurangi biaya transportasi untuk mengikuti lelang.

3. Fungsi e-procurement bagi masyarakat, yaitu (a) memberi kesempatan masyarakat luas untuk mengetahui proses pengadaan.

C. Kerangka Pikir

Penelitian ini dilakukan di Sekretariat LPSE Kabupaten Bone dengan tujuan guna menganalisis efektivitas e-procurement dalam pengadaan barang/jasa. Indikator efektivitas dalam penelitian ini yaitu (1) pencapaian target, (2) kemampuan adaptasi, (3) kepuasan kerja, (4) tanggung jawab.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka peneliti menyusun bagan kerangka pikir penelitian, sebagaimana yang terlihat pada Gambar 2.1:

Gambar 2.1

Bagan kerangka pikir penelitian Kantor Pengadaan Barang/Jasa Di

Kabupaten Bone Hasibuan (2012) 1. Pencapaian Target 2. Kemampuan Adaptasi 3. Kepuasan Kerja 4. Tanggung Jawab

(42)

D. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini diangkat dari latar belakang masalah, kemudian dirumuskan dalam rumusan masalah dan dikaji berdasarkan tinjauan pustaka . adapun fokus penelitian yang bersangkutan dari rumusan masalah adalah “Efektivitas e-procurement (pengadaan barang dan jasa secara elektronik) di Kabupaten Bone”.

Fokus penelitian ini yaitu : 1. Pencapaian target 2. Kemampuan adaptasi 3. Kepuasan kerja 4. Tanggung jawab

E. Deskripsi Fokus

1. Pencapaian target

Pencapaian target disini adalah bagaimana di kantor UKPBJ kabupaten Bone menetapkan suatu target kemudian mampu merealisasikannya dengan baik dan dapat mencapai target sesuai yang telah ditetapkan. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil pelaksanaan suatu tujuan pada kantor UKPBJ kabupaten bone dalam mencapai target berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya pada kantor tersebut.

2. Kemampuan adaptasi

Kemampuan dalam beradaptasi sangat diperlukan dalam suatu organisasi karena keberhasilan suatu organisasi dapat pula dilihat dari sejauh mana suatu organisasi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang

(43)

terjadi, baik itu perubahan yang didapatkan dari dalam organisasi (internal) maupun dari luar organisasi (eksternal). Baik antara bawahan dengan sesamanya maupun bawahan dengan atasannya sendiri harus memiliki kemampuan adaptasi dalam kantor tersebut agar terciptanya suasana yang baik. 3. Kepuasan kerja

Kepuasan kerja adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seluruh anggota organisasi ataupun pegawai dalam sebuah instansi yang mampu memberikan rasa nyaman dan motivasi terhadap peningkatan kinerja organisasi atau pun instansi. Misalnya seorang pegawai diberikan tugas oleh atasannya dan mampu untuk menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang diberikan kemudian seorang atasan memberikan kompensasi juga sesuai dengan pekerjaan bawahannya, maka dari itu kita merasakan yang namanya kepuasan kerja dalam suatu organisasi.

4. Tanggung jawab

Organisasi dapat melaksanakan tugas dan kewenangan yang telah diberikan sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat selanjutnya, serta mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dalam pekerjaannya. Misalnya masing-masing dalam suatu organisasi sangat diperlukan yang namanya tanggung jawab. Baik dengan pekerjaan yang diberikan oleh atasan terhadap bawahan maupun pekerjaan yang akan dikerjakan oleh bahawahan itu sendiri.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu yang dibutuhkan oleh penulis dalam penelitian ini yaitu dua (2) bulan setelah seminar proposal. Adapun lokasi atau tempat penelitian yaitu Bagian Pengadaan Barang/Jasa Setda Kabupaten Bone di JL. Ahmad Yani No.3 Watampone tentang Efektivitas E-Procurement (Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik) Di Kabupaten Bone.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian Kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang bagaimana efektivitas e-procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik) di Kabupaten Bone. Penelitian kualitatif ini berhubungan dengan ide, gagasan atau pendapat masyarakat mengenai masalah yang akan diteliti, akan tetapi penelitian ini tidak dapat diukur dengan angka-angka. Kemudian menggunakan teknik deskriptif karena untuk mengetahui dan menggambarkan tentang bagaimana Efektivitas E-Procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik) Di Kabupaten Bone.

2. Tipe Penelitian

Adapun tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif. Penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan terperinci mengenai suatu masalah yang akan diteliti, mengidentifikasi dan

(45)

menjelaskan data yang ada secara terstruktur. Tipe deskriptif didasarkan pada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat melakukan penelitian, kemudian menguraikan dan membandingkan kenyataan yang ada serta kemudian menarik kesimpulan.

C. Sumber Data

Menurut Sugiyono (2015) terdapat dua sumber data yaitu: a. Data Primer

Data primer yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data ini dapat diperoleh melalui Kata-kata dan tindakan, dimana kata-kata dan tindakan merupakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan cara mengamati atau melakukan wawancara untuk mendapatkan jawaban yang berkaitan dengan program Kelas Ibu Hamil pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bone.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data didapatkan melalui sumber bacaan dan berbagai macam lainnya yang terdiri dari jurnal, dan buku. Data ini juga dikumpulkan dari berbagai laporan atau dokumen-dokumen yang bersifat informasi tertulis.

D. Informan

Pemilihan informan ini diambil dengan pertimbangan tertentu, dengan memprtimbangkan bahwa orang yang dipilih sebagai informan ini merupakan orang yang mengetahui tentang efektivitas e-procurement dalam pengadaan barang/jasa pada layanan pengadaan secara elektronik (lpse) di kabupaten bone.

(46)

Sehingga peneliti dapat memperoleh informasi yang valid. Adapun informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Informan Penelitian

No Nama Inisial Jabatan Jumlah

1. 1 1

Andi Tenri Olle, S.T., M.Si AT Kepala Bagian Pengadaan Barang dan

Jasa

1

2. Andi Sugiawati, S.Sos., M.Si AS Kasubag Pengelolaan Pengadaan Barang dan

Jasa

1

3. Hasmi, S.Sos., M.Si H Kasubag Pembinaan dan Advokasi Pengadaan Barang dn

Jasa

1

4. Agus, S.E., M.Si A Kasubag Layanan

Pengadaan Secara Elektronik (LPSE)

1

5. A. Muh. Ridwan, S.T AMR Penyedia Barang dan Jasa

1

6. Randy Setiawan RS Pengguna Barang dan

Jasa

1

7. Sabri S Pengguna Barang dan

Jasa

1

8. Siska Rahayu, S.H SR Staff Layanan

Pengadaan Secara Elektronik

1

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan tahap yang paling menentukan dalam pelaksanaan penelitian ini untuk memperoleh data yang valid dan juga relevan di lapangan maka harus didukung oleh prosedur pengumpulan data yang benar maka digunakan teknik antara lain:

(47)

1. Wawancara

Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab sehingga dapat di konstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Esterberg, 2002). Wawancara ini sendiri memiliki tujuan yaitu untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dari pihak yang diwawancarai diminta pendapat dan juga ide-idenya.

2. Observasi

Observasi yaitu pengamatan atau kunjungan langsung ke lapangan untuk melakukan penelitian agar mendapatkan informasi yang lebih akurat. Agar dapat mengetahui dan menganalisis berbagai masalah yang berkaitan dengan efektivitas

e-procurement dalam pengadaan barang/jasa pada layanan pengadaan secara

elektronik (lpse). Adapun informasi yang dapat diperoleh dari hasil observasi adalah tempat, pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian dan perasaan.

3. Studi Dokumen

Studi dokumen merupakan kumpulan dokumen yang di anggap penting dan dapat menunjang permasalahan yang akan dinteliti seperti jurnal, buku, laporan, literature majalah dan peraturan perundang-undangan. Dengan teknik ini dapat memberikan peluang kepada peneliti agar dapat memperluas wawasan mengenai masalah yang akan diteliti.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengelompokkan ke dalam bentuk kategori kemudian menjabarkan ke dalam

(48)

unit-unit memilih mana yang penting dan sudah dipelajari serta membuat kesimpulan agar mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Dalam menganalisis data peneliti mengacu pada beberapa tahap antara lain sebagai berikut:

a. Pengumpulan data melalui wawancara. Wawancara yang dilakukan terhadap sumber informasi yang dapat memberikan informasi yang akurat terhadap studi kasus penelitian.

b. Reduksi data. Banyaknya jumlah data yang diperoleh dari data lapangan mengharuskan peneliti untuk mencatat lebih detail dan terperinci, untuk mendapatkan data yang lebih detail memerlukan reduksi data.

c. Uji Confitmanbality. Adapun arti dari uji confitmanbality yaitu menguji hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan maka penelitian tersebut telah masuk standar confirmability.

d. Penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan mencari arti pola-pola penjelasan. Sehingga dilakukan dengan teliti dan cermat dengan melakukan beberapa tinjauan ulang pada catatan lapangan sehingga data-data yang diperoleh akurat.

G. Teknik Pengabsahan Data

Pengabsahan data merupakan salah satu factor yang sangat penting. Karena tanpa pengabsahan data yang diperoleh dari lapangan akan sulit untuk dipertanggung jawabkan hasil penelitiannya. Menurut Sugiyono (2012), data penelitian yang dikumpulkan harap dapat menghasilkan penelitian yang bermutu

(49)

atau data kredibel. Oleh karena itu penelitian melakukan pengabsahan data dengan berbagai hal berikut:

a. Triangulasi

Menurut Sugiyono (2012; 273) menegaskan sebagai berikut : “Triangulasi dalam pengujian krediabilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu”.

Berdasarkan pernyataan diatas menjelaskan bahwa triangulasi merupakan salah satu cara pengujian kredibilitas data dimana triangulasi berfungsi sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.

1) Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber berfungsi untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber yang telah ditentukan oleh peneliti dimana dalam penentuannya berdasarkan keterkaitannya dengan penelitian.

(50)

Kepala dan Staff Penyedia Barang

UKPBJ dan jasa Kab.Bone

Pengguna Barang dan Jasa

Gambar 3.1 Triangulasi Sumber 2) Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kreadibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik berbeda, dimana teknik yang dimaksud diantaranya adalah wawancara, observasi, serta dokumentasi.

Wawancara Observasi

Dokumentasi Gambar 3.2 Triangulasi Teknik

(51)

3) Triangulasi Waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.

Siang Sore Pagi Gambar 3.3 Triangulasi Waktu

(52)

38 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokus Penelitian

1. Gambaran Umum Kabupaten Bone a) Letak Geografis

Sumber data: Bone.go.id

Gambar 4.1 Gambaran Umum Kabupaten Bone Peta wilayah Kabupaten Bone

Kabupaten Bone merupakan salah satu kabupaten yang terletak di pesisir Timur Provinsi Sulawesi Selatan dan berjarak dan berjarak sekitar 174 km dari kota Makassar. Luas wilayahnya sekitar 4.559 km2 atau 9,78 persen dari luas Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Bone mempunyai garis pantai sepanjang 138 km. Wilayah yang besar ini terbagi menjadi 27 kecamatan dan 372 desa atau kelurahan. Adapun Ibukota Kabupaten Bone adalah Watampone. Secara geografis, kabupaten Bone berbatasan dengan wilayah-wilayah sebagai berikut:

(53)

39

Utara : Kabupaten Wajo dan Soppeng Timur : Teluk Bone

Selatan : Kabupaten Sinjai dan Gowa

Barat : Kabupaten Maros, Pangkep, dan Barru.

Secara astronomis Kabupaten Bone terletak pada posisi 4°13’ – 5°6’ Lintang Selatan dan antara 119°42’-120°30’ Bujur Timur. Letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa menjadikan Kabupaten Bone beriklim tropis . Sepanjang tahun 2014, kelembaban udara berkisar antara 77–86 persen dengan suhu udara 24,4°C-27,6°C.

Wilayah Kabupaten Bone termasuk daerah beriklim sedang. Kelembapan udara berkisar antara 95%-99% dengan temperatur berkisar 26 °C – 34 °C. Selain kedua wilayah yang terkait dengan iklim tersebut, terdapat juga wilayah peralihan, yaitu Kecamatan Bontocani dan Kecamatan Libureng yang sebagian mengikuti wilayah barat dan sebagian lagi wilayah timur.

Pada wilayah Kabupatan Bone terdapat juga pengunungan dan perbukitan yang dari celah-celahnya terdapat aliran sungai. Disekitarnya terdapat lembah yang cukup dalam. Kondisinya sebagian ada yang berair pada musim hujan yang berjumlah sekitar 90 buah. Namun pada musim kemarau sebagian mengalami kekeringan, kecuali sungai yang cukup besar, seperti sungai Walenae, Cenrana, Palakka, Salomekko, Tobunne, Jaling, Bulu-bulu, dan Lekoballo.

b) Visi dan Misi Kabupaten Bone

(54)

40

Misi :

1. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

2. Mengembangkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

3. Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan, pendidikan dan sosial dasar lainnya.

4. Mengoptimalkan akselerasi pembangunan daerah berbasis desa dan kawasan pedesaan.

5. Mendorong penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk pengembangan usaha dan mengembangkan inovasi daerah dalam peningkatan pelayanan publik.

6. Meningkatkan budaya politik, penegakan hukum, dan seni budaya dalam kemajemukan mas yarakat.

c) Luas Wilayah Kabupaten Bone

Luas Wilayah Kabupaten Bone 4.559,00 km2 atau 9,78 persen dari luas Provinsi Sulawesi selatan. Wilayah yang besar ini terbagi menjadi 27 kecamatan dan 372 desa/kelurahan. Berikut rincian luas perkecamatan yaitu :

(55)

41

Tabel 4.1

Luas Wilayah Kabupaten Bone

No Nama Kecamatan Luas (km2) Persentase

1. Ajangale 139,00 3,05 2. Amali 119,13 2,61 3. Awangpone 110,70 2,43 4. Barebbo 114,20 2,50 5. Bengo 164,0 3,60 6. Bontocani 463,35 10,16 7 Cenrana 143,60 3,15 8. Cina 147,50 3,24 9. Dua Boccoe 144,90 3,18 10. Kahu 189,50 4,16 11. Kajuara 124,13 2,72 12. Libureng 344,25 7,55 13. Lamuru 208,00 4,56 14. Lappariaja 138,00 3,03 15. Mare 263,50 5,78 16. Palakka 115,32 2,53 17. Patimpeng 130,47 2,86 18. Ponre 293,00 6,43 19. Salomekko 84,91 1,86 20. Sibulue 155,80 3,42 21. Tanete riattang 23,79 0,52

22. Tante Riattang Timur 48,88 1,07 23. Tanete Riattang Barat 53,68 1,18

24. Tellu Limpoe 318,10 6,98

25. Tellu Siattinge 159,30 3,49

26. Tonra 200,32 4,39

27. Ulaweng 161,67 3,55

Kabupaten Bone 4.559,00 100,00

Sumber data: Bone.go.id

Dari tabel tersebut, kecamatan terluas yaitu Kecamatan Bontocani dengan luas wilayah 463,35 km2 , Kecamatan Libureng 344,25 km2, Tellu Limpoe 318,10 km2. Selain itu dapat dilihat Kecamatan dengan wilayah terkecil yaitu Kecamatan Tanete Riattang 23,79 km2 dan Tanete Riattang Timur 48,88 km2.

(56)

42

d) Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Bone pada tahun 2021 adalah sebanyak 806.889 jiwa yang terdiri atas 394.477 jiwa penduduk laki-laki dan 412.412 jiwa penduduk perempuan.

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Kabupaten Bone

No Nama Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Ulaweng 13.388 14.034 27.422 2. Palakka 12.435 13.332 25.767 3. Awangpone 16.348 17.795 34.143 4. Tellu Siattinge 22.167 23.666 45.833 5. Ajangale 13.783 14.901 28,684 6. Dua Boccoe 16.303 17.494 33.797 7. Cenrana 13.161 13.760 26.921 8. Tanete Riattang 25.938 27.591 53.529 9. Tanete Riattang Barat 24.326 25.220 49.546 10. Tanete Riattang Timur 22.652 22.979 45.631

11. Amali 10.248 11.338 21.586 12. Tellu Limpoe 8.424 8.000 16.424 13. Bengo 13.553 14.080 27.633 14. Patimpeng 8.824 9.214 17.038 15. Bontocani 9.042 8.869 17.911 16. Kahu 20.027 20.945 40.972 17.. Kajuara 18.064 18.570 36.634 18. Salomekko 8.315 8.345 16.660 19. Tonra 7.306 7.685 14.991 20. Libureng 15.638 16.021 31.659 21. Mare 14.406 14.761 29.167 22. Sibulue 17.207 18.455 35.662 23. Barebbo 14.574 15.496 30.070 24. Cina 13.981 14.568 28.549 25. Ponre 7.551 7.748 15.299 26. Lappariaja 13.702 13.916 27.618 27. Lamuru 13.114 13.629 26.743 Jumlah Total 394.477 412.412 806.889

(57)

43

Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa penyebaran penduduk di kabupaten Bone tidak terdistribusi secara merata. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Tanete Riattang 53.529 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Tonra sebanyak 14.991 jiwa.

e) kondisi pemerintah kabupaten Bone

Penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dilakukan oleh pemerintah daerah yaitu Kepala Daerah baik Gubernur maupun Bupati/Walikota yang dibantu oleh perangkat daerah sebagai unsur pembantu Gubernur atau Bupati/Walikota, serta DPRD Provinsi maupun Kabupaten dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Kabupaten Bone sebagai Pemerintahan Daerah di tingkat Kabupaten juga menata organisasi perangkat daerahnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Struktur organisasi di Kabupaten Bone dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.3

Struktur organisasi kabupaten Bone

No Nama Perangkat

I BUPATI BONE

II WAKIL BUPATI BONE 1. SEKRETARIAT DAERAH

Asisten Bidang Administrasi Umum 1. Bagian Organisasi

2. Bagian Keuangan

3. Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol 4. Bagian Umum

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan 1. Bagian Perekonomian

2. Bagian Pembangunan 3. Bagian Layanan Pengadaan 4. Bagian Kesejahteraan Rakyat

Gambar

Tabel 2.1   Penelitian Terdahulu  No.  Judul  Penelitian  Metode  Penelitian  Hasil  1
Tabel 3.1   Informan Penelitian
Gambar 3.1  Triangulasi Sumber  2) Triangulasi Teknik
Gambar 4.1 Gambaran Umum Kabupaten Bone  Peta wilayah Kabupaten Bone
+3

Referensi

Dokumen terkait

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PENYEDIA BARANG/ JASA TERHADAP SISTEM DAN PELAKSANAAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK ( E-PROCUREMENT ) PADA DINAS PEKERJAAN UMUM.. DI

Sementara itu pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus dengan penekanan pada kasus implementasi atau pelaksanaan pengadaan barang/jasa secara

a) Mekanisme pada pengadaan barang/jasa secara elektronik yaitu e-Procurement menggunakan tata cara yang efektif bagi para pegawai khususnya di Dinas Pendapatan,

DALAM PENGADAAN BARANG DAN JASA DI PEMERINTAH KOTA MALANG Pengadaan barang/jasa melalui sistem elektronik yaitu e-Procurement merupakan alat bantu dalam

Dari data yang ditemukan peneliti proses transparan dalam sistem pengadaan barang dan jasa secara online atau elektronik Procurement di Pemerintah Kota Denpasar yaitu paket

Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Departemen Pendidikan Nasional adalah pusat layanan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik yang melayani proses

Dari hasil wawancara dengan informan yang sudah ditentukan sebagai penulis dapat menarik kesimpulan bahwa keterbukaan proses pengadaan barang dan jasa sudah

Faktor ini dibentuk oleh variabel - variabel yaitu: tidak siap dengan pengadaan barang/jasa secara elektronik dengan loading factor sebesar 0,940, gagal upload