BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Teori dan Konsep
Efektivitas berasal dari kata dasar efektif, kata efektif mempunyai arti efek, pengaruh, akibat atau dapat membawa hasil. Jadi, efektivitas adalah keaktifan, daya guna, adanya kesesuaian dalam suatu kegiatan orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju.
Badrudin (2014) mengatakan efektif adalah kemampuan mengerjakan sesuatu dengan benar. Efektivitas banyak berkaitan dengan tujuan karena semakin dekat organisasi kepada tujuannya, semakin efektif organisasi tersebut.
Sadad (2014) mengatakan bahwa konsep efektivitas merupakan konsep yang luas mencakup berbagai faktor dan dari sudut pandang mana kita melihatnya. Pada umumnya efektifitas dihubungkan dengan berbagai cara pencapaian tujuan baik dari segi proses atau pun dari segi waktu.
Winardi (2004) beranggapan efektivitas adalah hubungan suatu organisasi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Handoko (2007:7) berpendapat bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, seorang manajer efektif dalam memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metoda (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan.
Amirullah et al. (2004) efektivitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam mencapai sasaran-sasaran (hasil-akhir) yang telah ditetapkan secara tepat. Pencapaian hasil akhir yang sesuai dengan target waktu yang telah
ditetapkan dan ukuran maupun standar yang berlaku mencerminkan suatu perusahaan tersebut telah memperhatikan efektivitas operasionalnya.
Danim (2004) beranggapan bahwa efektif merujuk pada hasil guna dan efisien merujuk pada hasil kerja. Sedangkan menurut Solihin (2009:4) mengatakan bahwa efektivitas menunjukkan tercapainya tujuan yang diinginkan melalui serangkaian tindakan yang dilakukan oleh perusahaan.
Winardi (2004) beranggapan bahwa efektivitas diperbaiki dengan jalan mencapai sumber-sumber yang tepat, dan pengorganisasian manajemen dan para karyawan untuk bekerja sama guna mencapai sasaran-sasaran keorganisasian. Efektivitas keorganisasian dapat dianggap sebagai alat pengukur kualitas hubungan sebuah organisasi dengan lingkungannya. Secara paradoksal dapat dikatakan bahwa sebuah organisasi mungkin efektif (suatu hubungan langgeng dengan lingkungannya) tetapi tidak efisien (secara intern ia penuh pemborosan).
Wiludjeng (2007) mengatakan efektif adalah kemampuan untuk menetapkan tujuan yang tepat untuk kemampuan melakukan pekerjaan yang benar (doing the
thight things). Efektif dapat dinilai dari pemenuhan atau realisasi tujuan atau dari output suatu tugas.
Mahmudi (2005) mendefinisikan efektivitas merupakan hubungan antara
output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap
pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa efektivitas mempunyai hubungan timbal balik antara output dengan tujuan. Efektifitas berfokus pada outcome (hasil), program, atau kegiatan yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat
memenuhi tujuan yang diharapkan atau dikatakan spending wisely. Output merupakan segala sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berwujud (intangible) dan outcome merupakan segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah yang mempunyai efek langsung.
Adapun kriteria atau indikator efektivitas menurut Hasibuan (2012:194), diantaranya sebagai berikut:
a. Pencapaian target
Maksud dari pencapaian target disini adalah bagaimana suatu organisasi dapat dikatakan menetapkan suatu target kemudian merealisasikannya dengan baik. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil pelaksanaan suatu tujuan organisasi dalam mencapai target berdasarkan tujuan yang telah di tetapka sebelumnya. b. Kemampuan adaptasi
Kemampuan dalam beradaptasi sangat diperlukan dalam suatu organisasi karena keberhasilan suatu organisasi dapat pula dilihat dari sejauh mana suatu organisasi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu perubahan yang didapatkan dari dalam organisasi (internal) maupun dari luar organisasi (eksternal).
c. Kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seluruh anggota organisasi ataupun pegawai dalam sebuah instansi yang mampu memberikan rasa nyaman dan motivasi terhadap peningkatan kinerja organisasi atau pun instansi.
d. Tanggung jawab
Organisasi dapat melaksanakan tugas dan kewenangan yang telah diberikan sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat selanjutnya, serta mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dalam pekerjaannya.
Adapun indikator lain mengenai efektivitas menurut Prawirosentono (2008:27), yaitu (1) adanya kejelasan tujuan program, (2) adanya kejelasan mengenai strategi pencapaian tujuan program, (3) adanya perumusan suatu kebijakan program yang baik, (4) adanya penyusunan program yang tepat, (5) penyediaan sarana dan prasarana, (6) efektivitas operasional program, (7) efektivitas fungsional program, (8) efektivitas tujuan program, (9) efektivitas sasaran program, (10) efektivitas individu dalam pelaksanaan kebijakan suatu program, dan (11) efektivitas unit kerja dalam pelaksanaan kebijakan suatu program.
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi adalah sebagai berikut (1) adanya tujuan yang jelas, (2) struktur organisasi, (3) adanya dukungan atau partisipasi masyarakat, (4) adanya sistem nilai yang dianut.
Organisasi akan berjalan terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Dengan adanya tujuan akan memberikan motivasi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Tujuan organisasi adalah memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan yang akan datang yang senantiasa dikejar dan diwujudkan oleh organisasi. Struktur dapat mempengaruhi efektifitas dikarenakan struktur yang akan menjalankan suatu organisasi itu. Struktur yang baik adalah
struktur yang kaya akan fungsi dan sederhana. Kemudian, tanpa adanya dukungan dan partisipasi serta sistem nilai yang ada maka akan sulit untuk mewujudkan organisasi yang efektif.
Richard M Steers (1995:86) menyebutkan 5 faktor yang mempengaruhi efektivitas, yaitu (1) karakteristik Organisasi, (2) karakteristik pekerjaan, (3) prestasi kerja, (4) karakteristik lingkungan, dan (5) kebijakan dan praktek manajemen
Dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis dan menguji indikator efektivitas yang dikemukakan oleh Hasibuan (2012:194), yaitu (1) pencapaian target, (2) kemampuan adaptasi, (3) kepuasan kerja, dan (4) tanggung jawab, terkait dengan efektivitas e-procurement dalam pengadaan barang/jasa pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kabupaten Bone, dikarenakan keempat indikator tersebut sangat relevan dengan penelitian ini.
2. Konsep Pengadaan Barang Dan Jasa
Pengadaan barang dan jasa atau yang sering dikenal dengan istilah lelang, banyak dilakukan oleh instansi pemerintah maupun dalam sektor swasta. Kegiatan ini sering kali dilakukan untuk memperoleh barang dan oleh suatu instansi/lembaga yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai dengan diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang dan jasa tersebut.
Pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan komponen fundamental dari tata kelola pemerintah yang baik. Pengadaan barang/jasa pemerintah memiliki
tujuan antara lain untuk memperoleh barang/jasa dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan dengan jumlah dan mutu yang sesuai dan tepat pada waktunya (tepat jumlah, tepat mutu dan tepat waktu).
Berdasarkan keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.
Berdasarkan peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 Pengadaan barang dan jasa merupakan kegiatan untuk memperoleh barang atau jasa oleh Kementerian / Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah / Institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Pengadaan barang dan jasa pemerintah yang selanjutnya disebut dengan pengadaan barang/jasa adalah kegiatan untuk memperoleh barang/jasa oleh Kementerian / Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah / Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.
Menurut Subagya, pengadaan ialah segala kegiatan dan usaha untuk menambah dan memenuhi kebutuhan barang dan jasa berdasarkan peraturan yang berlaku dengan menciptakan sesuatu yang tadinya belum ada menjadi ada.
Menurut Suherman (2010:2) kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah ditinjau dari perspektif Hukum Indonesia:
a. Pengadaan barang dan jasa pemerintah memiliki arti strategis dalam proteksi dan preferensi bagi pelaku usaha negeri;
b. Pengadaan barang dan jasa pemerintah merupakan sektor signifikan dalam upaya pertumbuhan ekonomi;
c. Sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah yang mampu menerapkan prinsip tata pemerintahan yang baik akan mendorong efisiensi dan efektivitas belanja publik sekaligus menkondisikan perilaku 3 pilar pemerintahan, swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan Good Governance;
d. Bahwa ruang lingkup pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi berbagai sektor dalam berbagai aspek dalam pembangunan bangsa.
Dari pengertian yang ada, muncul pengertian bahwa terdapat dua pihak yang berkepentingan. Pihak pertama adalah instansi pemerintah, BUMN atau sektor swasta yang mengadakan penawaran pengadaan barang dan jasa. Pihak kedua adalah personal maupun perusahaan kontraktor yang menawarkan diri untuk memenuhi permintaan akan barang dan jasa tersebut.
Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 Pasal 3 tentang pengadaan barang/jasa bahwa pelaksanaan barang/jasa dilakukan melalui (a) swakelola, dan (b) pemilihan penyedia barang/jasa.
Pada pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi (a) barang, (b) pekerjaan konstruksi, (c) jasa konsultasi, dan (d) jasa lainnya.
Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 menyebutkan jenis-jenis pengadaan barang dan jasa yang dilakukan untuk menentukan penyedia barang dan jasa dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Pengadaan barang/Jasa Umum
Adalah metode pemilihan penyedia barang / pekerjaan konstruksi / Jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia barang / pekerjaan konstruksi / jasa lainnya yang memenuhi syarat. Pengadaan barang/jasa umum dengan nilai diatas RP. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah); b. Pengadaan barang/jasa terbatas
Adalah metode pemilihan penyedia barang / pekerjaan konstruksi dengan jumlah penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks;
c. Pemilihan Langsung
Metode pemilihan penyedia pekerjaan konstruksi untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 5.000.000.000,- (Lima miliar rupiah);
d. Pengadaan Langsung
Pengadaan barang/jasa langsung kepada penyedia barang/jasa tanpa melalui pengadaan barang/jasa / seleksi / penunjukan langsung dengan nilai sampai dengan Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah);
e. Penunjukkan Langsung
Metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) penyedia barang/jasa.
Pada Pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang etika pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika sebagai berikut:
a. Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran, kelancaran dan ketetapan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa; b. Bekerja secara profesional dan mandiri, serta menjaga keberhasilan dokumen
pengadaan barang/jasa yang menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa;
c. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak lang yang berakibat terjadinya persaingan tidak sehat;
d. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan tertulis para pihak;
e. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa;
f. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.
g. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara; dan
h. Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan, komisi, rabat dan berupa apa saja dari atau kepada siapapun yang diketahui atau patut diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.
Keppres Nomor 80/2003, pasal 3 tentang prinsip dasar (Dalam Maman Adde, 2010:241) menyebutkan prinsip pengadaan barang dan jasa itu sebagai berikut :
1. Efisiensi, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana, daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggung jawabkan;
2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang besar sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;
3. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat diantara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat dan kriteria.
4. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara, evaluasi, hasil evaluasi penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;
5. Adil/tidak deskriminasi, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu dengan cara dan alsan apapun;
6. Akuntabilitas, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.
3. Konsep E-Procurement
Sistem e-procurement di indonesia lebih dikenal dengan istilah LPSE atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik, LKPP (2016). Menurut LPSE nasional , Layanan Pengadaan Secara Elektronik (khususnya di dalam institusi pemerintahan indonesia) merupakan unit kerja yang dibentuk di seluruh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi Lainnya (K/L/D/I) untuk menyelenggarakan sistem pelayanan pengadaan barang atau jasa secara elektronik serta memfasilitasi ULP (Unit Layanan Pengadaan) dalam melaksanakan pengadaan barang barang atau jasa secara elektronik.
Pengadaan barang dan jasa secara elektronik selain akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, serta memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan, tentu secara tidak langsung juga akan mendukung proses monitoring dan audit dan memenuhi kebutuhan akses informasi yang real-time guna mewujudkan clean and good
government dalam pengadaan barang dan jasa pemerintahan.
E-procurement adalah proses pengadaan barang/jasa yang pelaksanaannya
dilakukan secara elektronik yang berbasis web/internet dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang meliputi pelelangan umum, prakualifikasi dan sourcing secara elektronik dengan menggunakan modul berbasis website. Dukungan Teknologi informasi ini dapat meningkatkan
kapabilitas government dalam memberikan kontribusi bagi penciptaan nilai tambah, serta mencapai efektifitas dan efisiensi.
Sutedi (2012) e-procurement adalah sebuah sistem lelang dalam pengadaan barang/jasa pemerintah dengan memanfaatkan teknologi, informasi, dan komunikasi berbasis internet, agar dapat berlangsung secara efektif, efisien, terbuka, dan akuntabel. Sedangkan menurut Indrajit et al. (2003) “E-procurement adalah pembelian yang dilakukan dengan menggunakan internet”. Kemudian dikutip kembali oleh Andrianto (2007) bahwa e-procurement diartikan sebagai sebuah proses digitalisasi tender/lelang pengadaan barang/jasa pemerintah berbantuan internet.
Andrianto (2007), bahwa e-procurement adalah proses pengadaan barang/jasa yang dilakukan melalui lelang secara elektronik. Sistem
e-procurement dalam pengadaan barang/jasa bertujuan untuk menciptakan
transparansi, efisiensi, dan efektifitas serta akuntabilitas dalam pengadaan barang/jasa melalui media elektronik antara panitia dan penyedia jasa.
Menurut Suprianto et al. (2019) Secara umum tujuan dari diterapkannya
e-procurement adalah untuk menciptakan transparansi, efisiensi, dan efektivitas
serta akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa melalui media elektronik antara pengguna jasa dan penyedia jasa. E-procurement dapat memperbaiki tingkat layanan kepada para user, mengefektifkan penggunaan sumber daya manusia dalam proses pengadaan, memenuhi kebutuhan akses informasi yang real
Dari penerapan e-procurement, manfaat yang dapat diperoleh antara lain sebagai berikut :
1. Keuntungan langsung: meningkatkan akurasi data, meningkatkan efisiensi dalam operasi, proses aplikasi yang lebih cepat, mengurangi biaya administrasi, mengurangi biaya operasi, dan mengurangi supply cost, dan
2. Keuntungan tidak langsung: membuat pengadaan lebih kompetitif, meningkatkan layanan kepada konsumen, meningkatkan hubungan mitra kerja, mempersingkat birokrasi, standarisasi proses, dan dokumentasi.
Penerapan e-procurement sebagai sistem sistem pengadaan barang dan jasa memiliki prinsip, sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010, prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang minimum untuk mencapai kualitas dan sasaran dalam waktu yang ditetapkan atau menggunakan dana yang telah ditetapkan untuk mencapai hasil dan sasaran dengan kualitas yang maksimum
2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan sasaran yang telah ditetapkan serta memberikan manfaat yang sebesar besarnya 3. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh penyedia barang/jasa yang berminat serta oleh masyarakat pada umumnya
4. Terbuka, berarti pengadaan barang/jasa dapat diikuti oleh semua penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas
5. Bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus dilakukan melalui persaingan yang sehat diantara sebanyak mungkin penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi persyaratan, sehingga dapat diperoleh barang/jasa yang ditawarkan secara kompetitif dan tidak ad intervensi yang mengganggu terciptanya mekanisme pasar dalam pengadaan barang/jasa.
6. Adil/tidak deskriminasi, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan tahap memperhatikan kepentingan nasional. 7. Akuntabilitas, berarti harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang terkait
dengan pengadaan barang/jasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan e-procurement ini diharapkan akan menjadi suatu proses yang akan mempermudah kinerja panitia, penyedia maupun masyarakat pada umumnya, dan meminimalkan pengadaan barang/jasa yang tidak sehat seperti mengintimidasi panitia pengadaan barang/jasa dan berkolusinya panitia dengan penyedia seperti yang sudah atau sering terjadi sebelumnya juga menghindarkan berkumpulnya peserta penyedia dari hal-hal yang tidak diinginkan.
1. Fungsi e-procurement, yaitu (a) mewujudkan prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa secara lebih nyata, (b) penawaran yang masuk lebih banyak, (c) lebih aman (termasuk jaminan keamanan data), (d) mengurangi benturan dan hambatan fisik.
2. Fungsi e-procurement bagi panitia, yaitu (a) mendapatkan penawaran yang lebih banyak, (b) mempermudah proses administrasi, (c) mempermudah PPK/Panitia pengadaan dalam mempertanggungjawabkan proses pengadaan,
(d) fungsi e-procurement bagi penyedia, (e) menciptakan persaingan usaha yang sehat, (f) memperluas peluang usaha yang sehat, (g) membuka kesempatan pelaku usaha, (h) membuka kesempatan pelaku usaha mengikuti lelang, (i) mengurangi biaya transportasi untuk mengikuti lelang.
3. Fungsi e-procurement bagi masyarakat, yaitu (a) memberi kesempatan masyarakat luas untuk mengetahui proses pengadaan.