BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
informasi dan data dalam penelitian lanjutan.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbungsi pemikiran dalam upaya peningkatan efektivitas e-procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik) di Kabupaten Bone.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dalam mendukung penelitian ini, diantaranya :
1. Arsyad et al. (2016), yang melakukan penelitian pada Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Kendari dengan metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif memberikan gambaran atau penjelasan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement) yang dijalankan oleh LPSE kendari dengan menggunakan data primer berupa data yang diperoleh langsung dari kontraktor, konsultan, dan kelompok kerja unit pengadaan jasa (POKJA ULP) dengan menggunakan kuesioner untk mendapatkan informasi yang diperlukan. Menunjukkan bahwa implementasi
e-procurement di kota kendari pada bulan Oktober-Desmber 2014 berjalan
dengan efisien dari segi biaya dan waktu. Hal ini ditunjukkan yang dapat menghemat biaya dalam anggaran daerah kota kendari dan pengadaan barang dan jasa dapat diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan oleh ULP. Selain itu e-procurement juga meningkatkan efektifitasnya dengan dimana nilai rata-ratanya berdasarkan skala likert yang didasarkan pada tanggapan dari kontraktor, konsultan dan e-procurement yang disetujui WG ULP untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan akses ke pasar dan persaingan dengan beberapa masukan di setiap variabel.
2. Swadesi (2017), yang melakukan penelitian pada Kantor Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (E-Procurement) LPSE Kota Pekanbaru dengan metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan penilaian data deskriptif. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi, dan doumentasi. Dengan menggunakan kunci informan sebagai sumber informasi dan teknik tringulasi sebagai sumber dalam pengujian data keabsahan. Hasil penelitiannya awalnya melihat dari fenomena masih sering terjadinya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) barang dan jasa oleh pemerintah. Sehingga e-procurement dapat menjadi instrument untuk mencegah dan mengurangi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) karena melalui program e-procurement, pengadaan barang dan jasa dapat lebih meningkatkan transaparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan usaha yang sehat. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektifitas pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement) di LPSE pekanbaru serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengruhi efektifitas pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement) di LPSE Pekanbaru. Dan hasilnya adalah dengan menggunakan program
e-procurement dalam pengadaan barang dan pelayanan di lingkungan
pemerintahan kota pekanbaru belum terlaksana secara efektif. Karena hal ini disebabkan keterbatasan sumber daya manusia (SDM), kesulitan teknis dan terbatas pendanaan. Yang mana semua faktor tersebut sangat mempengaruhi efektifitas pengadaan barang dan layanan elektronik (e-procurement) di LPSE pekanbaru.
3. Habibi (2017), yang melakukan penelitian pada kantor pengadaan barang dan jasa di kota Malang. Adapun tujuan penelitiannya yaitu untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan e-procurement dalam pengadaan barang dan jasa di pemerintah kota Malang, serta menganalisis hambatana pelaksanaannya. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi, observasi dan wawancara. Model interaktif digunakan dalam analisis data . Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan e-procurement di Pemerintah Kota Malang berjalan efektif terbukti dengan pelaksanaan tender yang transparan dan akuntabel sehingga memungkinkan untuk setiap perusahaan mengikuti tender tersebut, selain itu pelaksanaan tender juga sangat mudah dengan memanfaatkan sistem aplikasi. Adapun hambatan dalam pelaksanaan e-procurement yaitu adanya rangkap jabatan, sumber daya manusia yang kurang memenuhi dan prasarana yang kurang mendukung.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No. Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil 1. Analisis Pengadaan Barang Dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Kendari. Arsyad et al., (2016) Penelitian Kuantitatif
Implementasi e-procurement di kota kendari pada bulan oktober-desember 2014 berjalan dengan efisien dari segi biaya dan waktu. Hal ini ditunjukkan yang dapat menghemat biaya dalam anggaran daerah kota kendari dan pengadaan barang dan jasa dapat diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan oleh ULP. Selain itu
e-procurement juga meningkatkan efektivitasnya dengan dimana nilai rata-ratanya berdasarkan skala likert yang didasarkan pada tanggapan dari kontraktor, konsultan dan e-procurement yang disetujui WG ULP untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan akses ke pasar dan persaingan dengan beberapa masukan di setiap variabel. 2. Efektivitas Pengadaan Barang Dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Pekanbaru. Swadesi (2017) Penelitian Kualitatif
Melihat dari fenomena yang masih sering terjadinya praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) barang dan jasa oleh pemerintah. Sehingga e-procurement dapat menjadi instrument untuk mencegah dan mengurangi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) karena melalui program e-procurement, pengadaan barang dan jasa
dapat lebih meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan usaha yang sehat. Dan hasilnya adalah dengan menggunakan program e-procurement dalam pengadaan barang dan
pelayanan di lingkungan pemerintah kota pekanbaru belum terlaksana secara efektif. Karena hal ini disebabkan keterbatasan sumber daya manusia (SDM), kesulitan teknis dan terbatas pendanaan. Yang mana semua faktor tersebut sangat mempengaruhi efektivitas pengadaan barang dan layanan elektronik (e-procurement) di LPSE pekanbaru.
3. Efektivitas Pelaksanaan E-procurement Dalam Pengadaan Barang Dan Jasa. Habibi (2017) Penelitian Kualitatif
Secara umum pelaksanaan e-procurement di pemerintah Kota Malang berjalan efektif terbukti dengan pelaksanaan tender yang transparan dan akuntabel sehingga memungkinkan untuk setiap perusahaan mengikuti tender tersebut, selain itu pelaksanaan tender juga sangat mudah dengan memanfaatkan sistem aplikasi. Adapun hambatan dalam pelaksanaan
e-procurement yaitu adanya rangkap jabatan,
sumber daya manusia yang kurang memenuhi dan prasarana yang kurang mendukung.
Sumber data: Dari berbagai sumber (jurnal)
Dalam melakukan penelitian ini, penulis tidak terlepas dari penelitian-penelitian sebelumnya yang juga membahas tentang pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Penelitian-penelitian sebelumnya merupakan acuan bagi penulis untuk melakukan dan membuat penelitian ini. Dimana penelitian-penelitian sebelumnya merupakan bahan perbandingan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan serta mengetahui dan membandingkan metode-metode yang digunakan dalam dalam penelitian sebelumnya. Dan hasil perbandingan tersebut, maka penulis dapat mengetahui metode yang tepat dalam penelitian ini serta pengguna dapat menyempurnakan kekerangan-kekurangan penelitian sebelumnya.
Pada penelitian ini penulis menggunakan tiga buah hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian tentang pengadaan barang dan jasa secara elektronik, antara lain adalah (1) Arsyad dengan judul penelitian “Analisis Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Kendari”, (2) Swadesi dengan judul oenelitian “Efektivitas Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (E-procurement) Pada LPSE Kota Pekanbaru, dan (3)
Habibi dengan judul penelitian “Efektivitas Pelaksanaan e-procurement Dalam Pengadaan Barang dan Jasa”.
Dan yang menjadi kekurangan dan kelebihan diantara tiga penelitian terdahulu ini adalah pertama yang menjadi kelebihannya adalah dua diantara penelitian terdahulu mengatakan bahwa penerapan e-procurement (pengadaan barang dan jasa secara elektronik) terlaksana secara efektif. Dikarenakan, yang pertama mengatakan bahwa dengan penerapan e-procurement ini berjalan dengan efisien dari segi biaya dan waktu karena dapat menghemat biaya dalam anggaran daerah dan diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan. Dan ada juga yang mengatakan efektif karena pelaksanaan tender yang dilakukan itu berjalan dengan transparan dan akuntabel sehingga memungkinkan setiap perusahaan bisa mengikutinya.
Sedangkan yang menjadi kekurangannya yaitu ada juga penelitian yang mengatakan dengan adanya penerapan e-procurement ini belum bisa dikatakan efektif dikarenakan terbatas akan adanya sumber daya manusia (SDM), kesulitan teknis dan terbatas akan pendanaannya. Dan juga ada yang mengatakan bahwa dengan adanya penerapan e-procurement ini masih terdapat hambatan diantaranya adanya rangkap jabatan dalam kantor. Sehingga peneliti juga tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui apakah di kantor LPSE kabupaten Bone, apakah penerapan e-procurement sudah bisa dikatakan efektif atau belum.
B. Teori dan Konsep
1. Konsep Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata dasar efektif, kata efektif mempunyai arti efek, pengaruh, akibat atau dapat membawa hasil. Jadi, efektivitas adalah keaktifan, daya guna, adanya kesesuaian dalam suatu kegiatan orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju.
Badrudin (2014) mengatakan efektif adalah kemampuan mengerjakan sesuatu dengan benar. Efektivitas banyak berkaitan dengan tujuan karena semakin dekat organisasi kepada tujuannya, semakin efektif organisasi tersebut.
Sadad (2014) mengatakan bahwa konsep efektivitas merupakan konsep yang luas mencakup berbagai faktor dan dari sudut pandang mana kita melihatnya. Pada umumnya efektifitas dihubungkan dengan berbagai cara pencapaian tujuan baik dari segi proses atau pun dari segi waktu.
Winardi (2004) beranggapan efektivitas adalah hubungan suatu organisasi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Handoko (2007:7) berpendapat bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, seorang manajer efektif dalam memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metoda (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan.
Amirullah et al. (2004) efektivitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam mencapai sasaran-sasaran (hasil-akhir) yang telah ditetapkan secara tepat. Pencapaian hasil akhir yang sesuai dengan target waktu yang telah
ditetapkan dan ukuran maupun standar yang berlaku mencerminkan suatu perusahaan tersebut telah memperhatikan efektivitas operasionalnya.
Danim (2004) beranggapan bahwa efektif merujuk pada hasil guna dan efisien merujuk pada hasil kerja. Sedangkan menurut Solihin (2009:4) mengatakan bahwa efektivitas menunjukkan tercapainya tujuan yang diinginkan melalui serangkaian tindakan yang dilakukan oleh perusahaan.
Winardi (2004) beranggapan bahwa efektivitas diperbaiki dengan jalan mencapai sumber-sumber yang tepat, dan pengorganisasian manajemen dan para karyawan untuk bekerja sama guna mencapai sasaran-sasaran keorganisasian. Efektivitas keorganisasian dapat dianggap sebagai alat pengukur kualitas hubungan sebuah organisasi dengan lingkungannya. Secara paradoksal dapat dikatakan bahwa sebuah organisasi mungkin efektif (suatu hubungan langgeng dengan lingkungannya) tetapi tidak efisien (secara intern ia penuh pemborosan).
Wiludjeng (2007) mengatakan efektif adalah kemampuan untuk menetapkan tujuan yang tepat untuk kemampuan melakukan pekerjaan yang benar (doing the
thight things). Efektif dapat dinilai dari pemenuhan atau realisasi tujuan atau dari output suatu tugas.
Mahmudi (2005) mendefinisikan efektivitas merupakan hubungan antara
output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap
pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa efektivitas mempunyai hubungan timbal balik antara output dengan tujuan. Efektifitas berfokus pada outcome (hasil), program, atau kegiatan yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat
memenuhi tujuan yang diharapkan atau dikatakan spending wisely. Output merupakan segala sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berwujud (intangible) dan outcome merupakan segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah yang mempunyai efek langsung.
Adapun kriteria atau indikator efektivitas menurut Hasibuan (2012:194), diantaranya sebagai berikut:
a. Pencapaian target
Maksud dari pencapaian target disini adalah bagaimana suatu organisasi dapat dikatakan menetapkan suatu target kemudian merealisasikannya dengan baik. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil pelaksanaan suatu tujuan organisasi dalam mencapai target berdasarkan tujuan yang telah di tetapka sebelumnya. b. Kemampuan adaptasi
Kemampuan dalam beradaptasi sangat diperlukan dalam suatu organisasi karena keberhasilan suatu organisasi dapat pula dilihat dari sejauh mana suatu organisasi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu perubahan yang didapatkan dari dalam organisasi (internal) maupun dari luar organisasi (eksternal).
c. Kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seluruh anggota organisasi ataupun pegawai dalam sebuah instansi yang mampu memberikan rasa nyaman dan motivasi terhadap peningkatan kinerja organisasi atau pun instansi.
d. Tanggung jawab
Organisasi dapat melaksanakan tugas dan kewenangan yang telah diberikan sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat selanjutnya, serta mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dalam pekerjaannya.
Adapun indikator lain mengenai efektivitas menurut Prawirosentono (2008:27), yaitu (1) adanya kejelasan tujuan program, (2) adanya kejelasan mengenai strategi pencapaian tujuan program, (3) adanya perumusan suatu kebijakan program yang baik, (4) adanya penyusunan program yang tepat, (5) penyediaan sarana dan prasarana, (6) efektivitas operasional program, (7) efektivitas fungsional program, (8) efektivitas tujuan program, (9) efektivitas sasaran program, (10) efektivitas individu dalam pelaksanaan kebijakan suatu program, dan (11) efektivitas unit kerja dalam pelaksanaan kebijakan suatu program.
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi adalah sebagai berikut (1) adanya tujuan yang jelas, (2) struktur organisasi, (3) adanya dukungan atau partisipasi masyarakat, (4) adanya sistem nilai yang dianut.
Organisasi akan berjalan terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Dengan adanya tujuan akan memberikan motivasi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Tujuan organisasi adalah memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan yang akan datang yang senantiasa dikejar dan diwujudkan oleh organisasi. Struktur dapat mempengaruhi efektifitas dikarenakan struktur yang akan menjalankan suatu organisasi itu. Struktur yang baik adalah
struktur yang kaya akan fungsi dan sederhana. Kemudian, tanpa adanya dukungan dan partisipasi serta sistem nilai yang ada maka akan sulit untuk mewujudkan organisasi yang efektif.
Richard M Steers (1995:86) menyebutkan 5 faktor yang mempengaruhi efektivitas, yaitu (1) karakteristik Organisasi, (2) karakteristik pekerjaan, (3) prestasi kerja, (4) karakteristik lingkungan, dan (5) kebijakan dan praktek manajemen
Dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis dan menguji indikator efektivitas yang dikemukakan oleh Hasibuan (2012:194), yaitu (1) pencapaian target, (2) kemampuan adaptasi, (3) kepuasan kerja, dan (4) tanggung jawab, terkait dengan efektivitas e-procurement dalam pengadaan barang/jasa pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kabupaten Bone, dikarenakan keempat indikator tersebut sangat relevan dengan penelitian ini.
2. Konsep Pengadaan Barang Dan Jasa
Pengadaan barang dan jasa atau yang sering dikenal dengan istilah lelang, banyak dilakukan oleh instansi pemerintah maupun dalam sektor swasta. Kegiatan ini sering kali dilakukan untuk memperoleh barang dan oleh suatu instansi/lembaga yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai dengan diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang dan jasa tersebut.
Pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan komponen fundamental dari tata kelola pemerintah yang baik. Pengadaan barang/jasa pemerintah memiliki
tujuan antara lain untuk memperoleh barang/jasa dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan dengan jumlah dan mutu yang sesuai dan tepat pada waktunya (tepat jumlah, tepat mutu dan tepat waktu).
Berdasarkan keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.
Berdasarkan peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 Pengadaan barang dan jasa merupakan kegiatan untuk memperoleh barang atau jasa oleh Kementerian / Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah / Institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Pengadaan barang dan jasa pemerintah yang selanjutnya disebut dengan pengadaan barang/jasa adalah kegiatan untuk memperoleh barang/jasa oleh Kementerian / Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah / Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.
Menurut Subagya, pengadaan ialah segala kegiatan dan usaha untuk menambah dan memenuhi kebutuhan barang dan jasa berdasarkan peraturan yang berlaku dengan menciptakan sesuatu yang tadinya belum ada menjadi ada.
Menurut Suherman (2010:2) kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah ditinjau dari perspektif Hukum Indonesia:
a. Pengadaan barang dan jasa pemerintah memiliki arti strategis dalam proteksi dan preferensi bagi pelaku usaha negeri;
b. Pengadaan barang dan jasa pemerintah merupakan sektor signifikan dalam upaya pertumbuhan ekonomi;
c. Sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah yang mampu menerapkan prinsip tata pemerintahan yang baik akan mendorong efisiensi dan efektivitas belanja publik sekaligus menkondisikan perilaku 3 pilar pemerintahan, swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan Good Governance;
d. Bahwa ruang lingkup pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi berbagai sektor dalam berbagai aspek dalam pembangunan bangsa.
Dari pengertian yang ada, muncul pengertian bahwa terdapat dua pihak yang berkepentingan. Pihak pertama adalah instansi pemerintah, BUMN atau sektor swasta yang mengadakan penawaran pengadaan barang dan jasa. Pihak kedua adalah personal maupun perusahaan kontraktor yang menawarkan diri untuk memenuhi permintaan akan barang dan jasa tersebut.
Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 Pasal 3 tentang pengadaan barang/jasa bahwa pelaksanaan barang/jasa dilakukan melalui (a) swakelola, dan (b) pemilihan penyedia barang/jasa.
Pada pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi (a) barang, (b) pekerjaan konstruksi, (c) jasa konsultasi, dan (d) jasa lainnya.
Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 menyebutkan jenis-jenis pengadaan barang dan jasa yang dilakukan untuk menentukan penyedia barang dan jasa dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Pengadaan barang/Jasa Umum
Adalah metode pemilihan penyedia barang / pekerjaan konstruksi / Jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia barang / pekerjaan konstruksi / jasa lainnya yang memenuhi syarat. Pengadaan barang/jasa umum dengan nilai diatas RP. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah); b. Pengadaan barang/jasa terbatas
Adalah metode pemilihan penyedia barang / pekerjaan konstruksi dengan jumlah penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks;
c. Pemilihan Langsung
Metode pemilihan penyedia pekerjaan konstruksi untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 5.000.000.000,- (Lima miliar rupiah);
d. Pengadaan Langsung
Pengadaan barang/jasa langsung kepada penyedia barang/jasa tanpa melalui pengadaan barang/jasa / seleksi / penunjukan langsung dengan nilai sampai dengan Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah);
e. Penunjukkan Langsung
Metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) penyedia barang/jasa.
Pada Pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang etika pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika sebagai berikut:
a. Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran, kelancaran dan ketetapan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa; b. Bekerja secara profesional dan mandiri, serta menjaga keberhasilan dokumen
pengadaan barang/jasa yang menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa;
c. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak lang yang berakibat terjadinya persaingan tidak sehat;
d. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan tertulis para pihak;
e. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa;
f. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.
g. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara; dan
h. Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan, komisi, rabat dan berupa apa saja dari atau kepada siapapun yang diketahui atau patut diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.
Keppres Nomor 80/2003, pasal 3 tentang prinsip dasar (Dalam Maman Adde, 2010:241) menyebutkan prinsip pengadaan barang dan jasa itu sebagai berikut :
1. Efisiensi, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana, daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggung jawabkan;
2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang besar sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;
3. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat diantara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat dan kriteria.
4. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara, evaluasi, hasil evaluasi penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;
5. Adil/tidak deskriminasi, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu dengan cara dan alsan apapun;
6. Akuntabilitas, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.
3. Konsep E-Procurement
Sistem e-procurement di indonesia lebih dikenal dengan istilah LPSE atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik, LKPP (2016). Menurut LPSE nasional , Layanan Pengadaan Secara Elektronik (khususnya di dalam institusi pemerintahan indonesia) merupakan unit kerja yang dibentuk di seluruh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi Lainnya (K/L/D/I) untuk menyelenggarakan sistem pelayanan pengadaan barang atau jasa secara elektronik serta memfasilitasi ULP (Unit Layanan Pengadaan) dalam melaksanakan pengadaan barang barang atau jasa secara elektronik.
Pengadaan barang dan jasa secara elektronik selain akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, serta memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan, tentu secara tidak langsung juga akan mendukung proses monitoring dan audit dan memenuhi kebutuhan akses informasi yang real-time guna mewujudkan clean and good
government dalam pengadaan barang dan jasa pemerintahan.
E-procurement adalah proses pengadaan barang/jasa yang pelaksanaannya
dilakukan secara elektronik yang berbasis web/internet dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang meliputi pelelangan umum, prakualifikasi dan sourcing secara elektronik dengan menggunakan modul berbasis website. Dukungan Teknologi informasi ini dapat meningkatkan
kapabilitas government dalam memberikan kontribusi bagi penciptaan nilai tambah, serta mencapai efektifitas dan efisiensi.
Sutedi (2012) e-procurement adalah sebuah sistem lelang dalam pengadaan barang/jasa pemerintah dengan memanfaatkan teknologi, informasi, dan