Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik (E-Procurement) di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

94  18  Download (2)

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA Buku:

Adi, Rianto. 2004. Metode Penelitian Sosial dan Hukum. Jakarta: Granit.

Arikunto,1996, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Dunn, William N. 2000. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Gadjahmada University Press.

Effendi Sofian.2012.Metode Penelitian Survei.Jakarta:LP3ES

Harsono, Hanifah. (2002). Implementasi Kebijakan dan Politik. Bandung: PT. Mutiara Sumber Widya.

Indrajit, Richardus Eko (2002). Membangun Aplikasi E-Government. Jakarta:PT Elek Media Komputindo.

Indiahono, Dwiyanto. 2009. Kebijakan Publik Berbasis Dynamic PolicyAnalysis. Yogyakarta: Gava Media.

Nawawi, Hadari. 1993. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Nugroho, Riant. 2008. Public Policy: Teori Kebijakan – Analisis Kebijakan –

Proses. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi

danPendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Samodra, Wibawa., Yuyun . P dan Agus P. (1994). Evaluasi Kebijakan

(2)

Ramli, Samsul. 2013. Bacaan Wajib Para Praktisi Pengadaan

Barang/JasaPemerintah, Visimedia; Jakarta.

Setiawan, Guntur .2004. Implementasi Dalam Birokrasi

PembangunanJakarta:Cipta

Dunia

Subarsono. (2005). Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tangkilisan, Hessel Nogi S. 2003. Kebijakan Publik yang Membumi. Yogyakarta:Yayasan Pembaruan Aministrasi Publik Indonesia (YPAPI) & Lukman Offset.

Usman, Nurdin. (2004). Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum.Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.

Willem, Siahaya. 2012. Manajemen Pengadaan, Procurement Management. Bandung. Alfabeta

Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo

Sumber Perundangan-undangan:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

(3)

Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Inpres No 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012.

Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2013 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasa Korupsi tahun 2013.

Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintaha (LKPP) No.2 Tahun 2010 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah No.1 Tahun 2011 Tentang Tata Cara E-Tendering.

Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 8 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Secara Elektronik di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Peraturan Walikota Medan No 38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

Sumber Jurnal:

(4)

Sumber Lainnya:

http://www.lkpp.go.id/v3

(5)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang memusatkan perhatian terhadap masalah-masalah atau fenomena yang ada pada saat penelitian dilakukan atau bersifat aktual, kemudian menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interpretasi rasional yang akurat (Nawawi, 1990:64). Dengan metode deskriptif diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang implementasi kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah secara elektronik di kantor layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) kota Medan.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kantor layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) kota Medan di Jl. Kapten Maulana Lubis No.2 Medan, Sumatera Utara.

3.3 Informan Penelitian

(6)

informan utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang sedang diteliti.

Dalam penelitian ini yang menjadi:

A.Informan Kunci yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan oleh penelitian. Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala LPSE Kota Medan, Sekretaris LPSE Kota Medan

B. Informan Utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Adapun yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah pegawai/staf LPSE Kota Medan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data/keterangan/informasi yang diperlukan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Teknik pengumpulan data primer yaitu data yang diperoleh langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pengumpulan data primer dilakukan melalui:

A.Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakuakn denagn tanya jawab secara langsung dan mendalam untuk memperoleh data yang lengkap dan mendalam kepada pihak – pihak yang terkait.

(7)

Teknik pengumpulan data sekunder, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh melalui pengumpulan kepustakaan yang dapat mendukung data primer. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut: A.Studi dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan

catatan catatan atau dokumen yang ada di lokasi penelitian atau sumber – sumber lain yang relevan dengan objek penelitian.

B.Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku – buku, karya ilmiah serta pendapat para ahli yang berkompetensi serta memiliki relevansi dengan masalah dengan masalah yang akan diteliti.

3.5 Teknik Analisis Data

(8)

BAB 4

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Kota Medan

Kota Medan terletak di bagian utara Pulau Sumatera. Posisi koordinatnya adalah 3°35′LU dan 98°40′BT. Kota Medan berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara dan Kabupaten Deli Serdang di sebelah barat, timur, dan utara.Medan menjadi tempat yang strategis sebab berada di jalur pelayaran Selat Malaka. Dengan demikian, kota ini menjadi pintu gerbang kegiatan ekonomi domestik dan mancanegara yang melalui Selat Malaka. Selain itu, Medan juga berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan juga beberapa daerah kaya sumber daya alam, mempengaruhi kemampuan Medan dalam hal ekonomi sehingga memiliki hubungan kerjasama yang saling memperkuat dengan daerah sekitarnya.

Luas Kota Medan adalah sekitar 26.510 hektar atau setara dengan 265,10 km². Dengan kata lain, Kota Medan memiliki wilayah 3,6% dari

keseluruha

(9)

adalah agama yang dominan di kota ini. Setelahnya, secara berurutan adalah agama Katholik, Budha dan Hindu. Dan untuk jumlah penduduk kota Medan

selama 5 tahun terakhir dari tahun 2009-2015 menurut jenis kelamin digambarkan melalui tabel sebagai berikut:

Tabel 4.1. Statistik Penduduk Kota Medan Menurut Jenis kelamin

Sumber

4.2 Visi dan Misi Kota Medan

Visi pembangunan Kota Medan Tahun 2011–2015 adalah: Kota Medan menjadi kota metropolitan yang berdaya saing, nyaman, peduli dan sejahtera. Makna utama visi pembangunan kota tahun 2011-2015 dapat dijelaskan sebagai berikut:

A.Kota Metropolitan

Bermakna bahwa Kota Medan menjadi kota yang berfungsi sebagai pusat kegiatan nasional terutama pusat penyelengaraan pemerintahan; pusat kehidupan politik lokal; pusat pertumbuhan kegiatan perdagangan dan jasa; pusat kegiatan sosial, seni dan budaya masyarakat; serta pusat permukiman maju yang ditandai

TAHUN 2013 2012 2011 2010 2009

Jumlah Pria (jiwa)

1.048.451 1.047.875 1.046.560 1.036.926 1.049.457 Jumlah Wanita

(jiwa)

1.074.759 1.074.929 1.070.664 1.060.684 1.071.596

(10)

oleh semakin terpadunya kegiatan sosial ekonomi; terciptanya ketenteraman, ketertiban dan kenyamanan; tersedianya prasarana dan sarana yang maju, bermutu, dan terpadu; tertatanya ruang dan lingkungan hidup, sebagai ciri utama kota metropolitan baru.

B.Berdaya saing

Bermakna bahwa Kota Medan mempunyai keunggulan kompetitif, komparatif dan koperatif secara regional, nasional dan global yang ditandai oleh tingginya produktivitas sumberdaya manusia; berkembangnya industri, perdagangan dan jasa keuangan; tersedianya infrastruktur sosial ekonomi yang lengkap; terjaganya stabilitas keamanan, sosial, dan politik; terwujudnya tata pemerintahan yang profesional; serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

C.Nyaman

Bermakna bahwa Kota Medan menjadi kota layak huni bagi seluruh warga kota dan warga asing dalam mengekspresikan dan menjalankan kegiatan sosial, ekonomi dan budaya yang ditandai oleh suasana aman, tenang, damai, tertib, beradab, bersahaja, serta bebas dari rasa takut dan khawatir.

D.Peduli

Bermakna bahwa Kota Medan menjadi kota yang memberikan pelayanan dan perhatian yang tulus, empati, adil, dan merata bagi seluruh warga kota tanpa membedakan suku, ras, agama, asal-usul, dan golongan yang ditandai oleh sikap warga kota yang disiplin, suka bekerja keras, terbuka, toleran, berpikir positif, kebersamaan, keteladanan dan kearifan.

(11)

Bermakna utama bahwa Kota Medan menjadi kota dengan masyarakat yang terpenuhi dan terfasilitasi hak-hak dasarnya, baik hak atas pendidikan, kesehatan, sandang, pangan, lingkungan, perumahan, kehidupan keagamaan, keamanan, berkurangnya angka kemiskinan absolut dan pengangguran serta semakin meningkatnya pendapatan masyarakat.

Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan kota yang ditetapkan dan sekaligus mempertegas tugas, fungsi dan dan tanggungjawab seluruh pelaku pembangunan, baik oleh penyelenggara pemerintahan daerah maupun masyarakat selama lima tahun ke depan, maka misi pembangunan kota tahun 2011-2015 adalah sebagai berikut:

A.Meningkatkan kualitas kepemerintahan yang demokratis, berkeadilan, transparan dan akuntabel.

Meningkatkan kualitas kepemerintahan yang demokratis, berkeadilan, transparan dan akuntabel berarti dan dimaknai membangun suatu pemerintahan yang beretos kerja memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan prinsip-prinsip pokok 10 kepemerintahan yang baik. Pemerintahan daerah yang baik merupakan dasar bagi pelaksanaan pembangunan kota yang berdaya guna dan berhasil guna serta memiliki daya saing. Oleh karena itu, membangun pemerintahan daerah yang baik merupakan misi utama yang dijalankan 5 tahun ke depan.

(12)

Hal ini dimaknai sebagai membangun dalam rangka kegiatan masyarakat yang bersifat sosial maupun ekonomi. Pembangunan dilakukan secara serasi dan seimbang berarti tetap memperhatikan prinsip efisiensi dalam rangka meningkatkan produktivitas, juga tetap memperhatikan keserasian antara kawasan misalnya kawasan pusat kota dan kawasan lingkar luar maupun kawasan lainnya yang tertinggal. Daya saing ekonomi kota akan sangat berarti bila didukung oleh sarana dan prasarana kota yang modern. Hadirnya sarana dan prasarana kota yang modern, handal dan asri merupakan syarat perlu bagi pembangunan kota secara keseluruhan.

C.Meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi kota yang merata dan berkelanjutan.

Meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi kota dimaknai sebagai percepatan pertumbuhan perekonomian kota yang memiliki kualitas dan mampu menciptakan kesempatan kerja sekaligus mengentaskan kemiskinan kota secara berkelanjutan, serta upaya memberikan perkuatan terhadap sektor unggulan ekonomi kota, terutama UKMK.

D.Mewujudkan penataan lingkungan perkotaan yang bersih, sehat, nyaman dan religius.

(13)

E. Meningkatkan kualitas masyarakat kota.

Misi ini dimaknai untuk membangun masyarakat yang sejahtera melalui upaya peningkatan derajat pendidikan dan kesehatan masyarakat, penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelayanan publik, keamanan dan ketertiban, religius dan partisipatif serta dalam suasana kehidupan yang harmonis dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing, serta peningkatan kualitas sumber daya masyarakat.

4.3 Struktur Organisasi Pemerintahan Kota Medan

(14)

Gambar 4.5 Struktur Organisasi Pemerintah Kota Medan

Sumber: Pemerintah Kota Medan, 2014 A. Sekretariat Daerah

(15)

perumusan kebijakan Pemerintah Daerah, (2) penyelenggaraan administrasi pemerintahan, (3) pengelolaan sumber daya aparatur; keuangan; prasarana dan sarana Pemerintah Daerah serta (4) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan fungsinya. Susunan organisasi Sekretariat Daerah terdiri dari 1 orang Sekretaris Daerah, 4 orang Asisten dan 11 orang Kepala Bagian, 1 Sekretaris Dewan dan 3 Bagian.

B.Dinas Daerah

Dinas Daerah dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 35 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Perda Kota Medan No. 4 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Medan yang terdiri dari 21 Dinas. Dinas Daerah merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Dinas Daerah ini melaksanakan tugas dan fungsi operasional untuk bidang-bidang tertentu seperti pendidikan, pariwisata dan kebudayaan, kesehatan, perhubungan, informasi, telekomunikasi dan pengolahan data elektronik, pertanian dan lain-lain.

C.Lembaga Teknis Daerah

(16)

Daerah Nomor 36 Tahun 2002 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Medan yang terdiri dari 8 Badan dan 5 Kantor. Beberapa lembaga teknis yang terdapat dalam pemerintah Kota Medan antara lain Badan Pengawas, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Kepegawaian Daerah, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, Kantor Polisi Pamong Praja dan Kantor Penanaman Modal Daerah, dan lain-lain.

D.Unit Pelaksana Daerah

Unit Pelaksana Daerah berkedudukan sebagai pelaksana daerah yang membantu Walikota di bidang tertentu, dipimpin oleh Kepala Unit yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. E.Kecamatan

Pemerintah Kecamatan merupakan perangkat daerah yang dipimpin oleh seorang camat yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Organisasi Kecamatan terdiri dari camat, sekretariat kecamatan, dan 5 seksi. Pemerintah Kota Medan dibantu oleh 21 Kecamatan, 151 Kelurahan dan 105 Seksi.

4.4 Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

Pembentukan lembaga pelaksana e-procurement kota Medan didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah dimana didalamnya perlu salah satunya adalah sistem e-procurement. Untuk mengimplementasikan kebijakan ini maka LPSE Kota Medan resmi

launching pada tanggal 7 Desember 2011. Berdasarkan Peraturan Walikota

(17)

A.Pembina B.Pengarah C.Ketua D.Sekretaris

E. Bidang administrasi sistem informasi F. Bidang Registrasi dan Verifikasi G.Bidang layanan pengguna H.Bidang pelatihan dan sosialisasi

Gambar 4.6Struktur Organisasi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

Pembina

Walikota dan Wakil Walikota

Pengarah

Sekretaris Daerah dan Asisten Ekbang

Ketua

Kasubbag Budaya dan Pariwisata

(18)

4.4.1 Susunan Kepegawaian

Tabel 4.2 Susunan Kepegawaian Menurut Strata Pendidikan NO STRATA PENDIDIKAN JUMLAH/ORANG

1 S2 2

2 S1 9

3 D3 1

4 SMA 3

JUMLAH 15

Sumber: Layanan Pengadaan Secara Elektronik

Tabel 4.3 Susunan Kepegawaian Menurut Jabatan Struktural

NO JABATAN JUMLAH/ORANG

1 KETUA 1

2 SEKRETARIS 1

3 STAF 13

JUMLAH 15

(19)

TABEL 4.4 Susunan Kepegawaian Menurut Golongan

NO GOLONGAN JUMLAH

1 IV/B 1

2 III/D 1

3 III/C 2

4 III/B 6

5 III/A 3

6 II/D 1

7 II/B 1

JUMLAH 15

Sumber: Layanan Pengadaan Secara Elektronik

4.4.2 Tugas Pokok dan Fungsi

Tugas LPSE adalah melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik dan proses pengadaan barang/jasa secara elektronik. Untuk melaksanakan tugas tersebut fungsi dari LPSE adalah sebagai berikut:

A.Administrator secara elektronik

B.Unit registrasi dan verifikasi penggunaan C.Unit layanan pengguna

D.Mengoperasionalkan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik E. Melakukan registrasi dan verifikasi penyedia barang/jasa untuk memastikan

(20)

F. Melakukan pelatihan/training kepada panitia lelang dan penyedia barang/jasa untuk menguasai aplikasi sistem pelelangan secara elektronik

G.Sebagai Helpdesk yang menyediakan layanan sistem pengadaan barang/jasa secara elektronik pada penyedia barang/jasa yang memerlukan panduan untuk mengikuti tahapan lelang secara elektronik

Masing-masing jabatan mempunyai tugas sebagai berikut: A. Pengarah mempunyai tugas sebagai berikut:

1. Mengarahkan dan memantau pelaksanaan tugas LPSE 2. Memberikan petunjuk teknis dan pedoman kerja bagi LPSE 3. Memantau dan mengevaluasi program kerja LPSE

4. Memberikan arah kebijakan untuk pelaksanaan tugas kebijakan

B. Ketua LPSE mempunyai tugas memimpin LPSE dalam menjalankan tugas dan fungsi LPSE.

C.Sekretaris mempunyai tugas melaksanakan kordinasi, ketatausahaan, pembinaan dan pengendalian terhadap program, kegiatan administrasi dan sumber daya di lingkungan kerja LPSE.

D. Bidang administrasi sistem informasi mempunyai tugas:

1. Penyiapan dan pemeliharaan perangkat lunak, perangkat keras dan jaringan 2. Penanganan permasalahan teknis yang terjadi untuk menjamin kehandalan

dan ketersedian layanan

(21)

4. Pelaksanaan instruksi teknis dari LKPP

E. Bidang registrasi dan verifikasi mempunyai tugas dan fungsi: 1. Pelayanan pendaftaran pengguna SPSE

2. Penyampaian informasi kepada calon pengguna LPSE tentang kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan

3. Verifikasi seluruh dokumen dan informasi sebagai syarat pendaftaran penggunaan SPSE

4. Menyetujui dan menolak permohonan pendafatran pengguna unit LPSE berdasarkan hasil verifikasi

5. Melakukan konfirmasi kepada unit pengguna LPSE tentang persetujuan dan penolakan pendaftaran berdasarkan hasil verifikasi

6. Pengelolaan arsip dan dokumen pengguna SPSE F. Bidang layanan Pengguna

1. Pemberian layanan konsultasi mengenai proses pengadaan barang/jasa secara elektronik baik melalui internet, telepon maupun hadir langsung di LPSE

2. Pemberian informasi tentang fasilitas dan fitur aplikasi SPSE 3. Penanganan keluhan tentang pelayanan LPSE

4. Pelayanan pelatihan pengguna aplikasi SPSE G. Bidang pelatihan dan sosialisasi

1. Memberikan pelatihan bagi pengguna LPSE

(22)

BAB V

PENYAJIAN DATA

Bentuk penelitian yang digunaan oleh peneliti yaitu deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode wawancara secara terbuka dan mendalam kepada pihak yang berhubungan dengan judul penelitian ini. Adapun informan yang di wawancara yakni ketua LPSE Drs. Ahmad Basaruddin, M.Si, sekretaris LPSE Maisarah Nasution, SE, M.Si, Staf Bidang administrasi LPSE Foni Sanjaya, S. Kom, Staf Bidang Traning LPSE Doddy Faisal Hasibuan, SE.

Pemilihan informan tersebut ditentukan berdasarkan peran yang dimiliki dalam mendukung terlaksananya Peraturan Walikota Medan No 38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Selain metode wawancara, data yang diperoleh oleh peneliti yakni berupa data sekunder yang dianggap perlu dalam penelitian ini.

5.1 Hasil Wawancara 5.1.1 Komunikasi

(23)

A.Transmisi (Penyaluran Komunikasi Kepada Implementor tentang pelaksanaan Layanan Pengadaan Barang dan Jasa atau E-Procurement). Sebelum pelaksanaan kebijakan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik (E-Procurement), perlu adanya transmisi atau penyaluran komunikasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam melaksanakan kebijakan ini. Penyaluran komunikasi ini sangat lah penting untuk dilaksanakan, sehingga dalam pelaksanaan kebijakan nantinya diharapkan semua pihak yang berkepentingan baik itu pelaksana kebijakan atau pun penyedia jasa sudah mengerti akan setiap proses yang harus dikerjakan. Penyaluran komunikasi ini dapat berupa sosialisasi.

Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) selaku salah satu pelaksana kebijakan perlu mengadakan sosialisasi. Sesuai wawancara yang peneliti lakukan dengan Bapak Drs. Ahmad Basaruddin, M.Si selaku Ketua Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) membenarkan akan hal itu:

“ya sangat benar, sosialisasi memang sangat perlu kita laksanakan. Karena

sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik ini kan tergolong masih

baru. Banyak orang atau penyedia jasa yang masih belum mengerti bagaimana

sistem ini berjalan, apalagi semua nya memakai internet. Jangankan penyedia

jasa, kami pun yang melaksanakan sistem ini perlu banyak belajar. Nah, oleh

karena itu kita sebagai pelaksana sudah melakukan sosialisasi pada awal

kebijakan ini berjalan” ”(wawancara pada hari senin tanggal 20 Juni 2016).

(24)

“kalau untuk sosialisasi kepada para pegawai itu langsung dilaksanakan

dibawah bimbingan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa

Pemerintah) dan itu sudah terlaksana, sedangkan yang bertanggung jawab

melakukakan sosialisasi kepada para penyedia jasa adalah LPSE, dan itu juga

sudah terlaksana pada awal kebijakan ini dimulai. Walaupun pada akhirnya

sosialisasi secara langsung tersebut sudah mulai jarang dilakukan lagi, namun

kita tetap memberikan informasi kepada setiap penyedia jasa maupun masyarakat

yang membutuhkan melalui website LPSE Kota Medan”(wawancara pada hari

selasa tanggal 21 Juni 2016).

Gambar 5.7 Tampilan Website LPSE Kota Medan (Informasi Lelang)

(25)

Gambar 5.8 Tampilan Website LPSE Kota Medan (Informasi Pemenang Lelang)

Sumber:

Walaupun sosialisasi sudah sangat jarang dilaksanakan, namun tidak menutup kemungkinan bagi siapa pun penyedia jasa yang mau belajar tentang sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik ini, Layanan Pengadaan Secara Elektronik tetap membuka akses untuk bisa belajar atau pun bertanya. Hal ini diungkapkan oleh bapak Doddy Faisal Hasibuan, SE selaku Staf di Bidang Trainer.

“sosialiasi sudah jarang dilaksanakan, tidak seperti di awal. Namun bagi

siapapun penyedia jasa yang mau bertanya bisa memberikan pertanyaan di

website LPSE atau pun bisa langsung datang ke kantor LPSE untuk di ajari atau

di training mengenai sistem pengadaan barang dan jasa secara Elektronik”

(26)

Gambar 5.9 Tampilan Halaman Pengajuan Pertanyaan

Sumber: B.Kejelasan (Pengetahuan Implementor Tentang Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik)

Melalui wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa pemahaman pegawai Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) akan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Peraturan Walikota Medan No 38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sebagai dasar hukum pelaksanaan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik sudah jelas.

Demikian penuturan ibu Maisarah Nasution, SE, M.Si selaku Sekretaris Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) ketika ditanya mengenai pemahaman pegawai dalam melaksanakan kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik:

“kalau soal pemahaman, semua pegawai sudah paham lah menganai sistem

ini. Mereka semua sudah tau apa-apa saja yang menjadi tugas dan fungsi mereka.

(27)

dilakukan. Baik itu yang telah selesai atau pun yang sedang di proses untuk

menentukan pemenang lelang. Jadi tanpa ada nya pemahaman yang baik dari

setiap pegawai, mungkin sampai sekarang pelaksanaannya tidak selancar seperti

sekarang ini” (wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

Hal yang senada juga disampaikan oleh bapak Doddy Faisal Hasibuan, SE, selaku Staf Bidang Trainer Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“pemahaman pegawai dalam melaksanakan kebijakan ini menurut saya sudah

baik. Apalagi seluruh staf disini mendapat training terlebih dahulu yang langsung

di fasilitasi oleh Lembaga Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Jadi

saya kira dalam segi pemahaman sudah semua nya baik lah” (wawancara pada

hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

C. Konsistensi (Ketepatan Dalam Pelaksanaan Pengimplementasian Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik)

(28)

Gambar 5.10 Tampilan Website LPSE

Sumber: Gambar 5.11 Tampilan Website LPSE

(29)

Dari kedua gambar tersebut dapat kita lihat perbedaan ketika diakses pada tanggal 11 juli 2016 dan pada tanggal 19 juli 2016. Hal ini membuktikan bahwa Layanan Pengadaan Secara Elektronik selalu konsisten dalam memberikan informasi. Sejalan dengan prinsip dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik itu sendiri yang bersifat transparan, artinya semua semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh penyedia barang/jasa yang berminat serta oleh masyarakat pada umumnya. Berikut penjelasan dari bapak Foni Sanjaya, S. Kom selaku Staf bidang Administrator Layanan Pengadaan Secara Elektronik:

“LPSE sebagai salah satu pelaksana kebijakan harus lah konsisten, apalagi

LPSE ini lebih berfungsi sebagai media publikasi yang berperan mengumumkan

adanya lelang juga mengumumkan siapa yang menjadi pemenang dalam

pengadaan yang dibuat oleh SKPD. Sehingga menuntut kita untuk lebih cepat

dalam memberikan informasi terbaru dengan waktu yang tepat. Agar setiap

pengumuman dapat diketahui oleh penyedia jasa ataupun masyarakat luas, baik

itu pengadaan lelang maupun hal-hal lain yang dirasa penting dalam pengadaan

barang dan jasa” (wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

5.1.2 Sumber Daya

Sumber daya adalah faktor yang paling penting dalam implementasi kebijakan agar efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, sumber daya modal (finansial) dan fasilitas yang mendukung.

(30)

Berdasarkan sumber penelitian dari Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (LPSE), jumlah tenaga kerja atau pegawai di LPSE yaitu sebanyak 15 orang. Jika dilihat dari kuantitas untuk beban kerja yang ditanggung oleh Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (LPSE) Kota Medan sudah sesuai dengan kapasitasnya. Hal tersebut dilihat penulis ketika melakukan penelitian, bahwasannya seluruh pegawai sibuk bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Selain itu, jika ditinjau dari segi kualitas berdasarkan tingkat pendidikan, pegawai di Layanan Pengadaan Secara Elektronik sudah memenuhi syarat dengan komposisi S2 berjumlah 2 orang, S1 berjumlah 9 orang, D3 berjumlah 1 orang, dan SMA berjumlah 3 orang.

Seperti yang diungkapkan oleh ibu Maisarah Nasution, SE, M.Si selaku Sekretaris Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“Jumlah pegawai di LPSE ini sudah sangat cukup, dan itu dibarengi dengan

pendidikan yang baik juga. Untuk apa kita punya banyak pegawai tapi tidak tau

mau mengerjakan apa. Pegawai di LPSE kebanyak S1 walau pun masih ada yang

tamatan SMA, tapi mereka mampu bekerja dengan baik disini. Jadi untuk Sumber

Daya Manusia di LPSE saya rasa sudah sangat baik” (wawancara pada hari

(31)

Tabel 5.5 Daftar Pegawai Layanan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

NO NAMA PENDIDIKAN GOL JABATAN

1 Drs. Ahmad Basaruddin,

M.Si S2 IV/b K E T U A

2 Maisarah Nasution, SE,

M.Si S2 III/c

S E K R E T A R I S

3 Dian Mayasari Manurung,

S.Si S1 III/b HELP-DESK

4 Nanda Lestari, S.Si S1 III/b HELP-DESK 5 Lely Meliana Nst, SH S1 III/b HELP-DESK 6 Ramadani Sinulingga,

S,STP S1 III/d VERIFIKATOR

11 Jaka Priatama Ginting, S.

Kom S1 III/a ADMINISTRATOR

12 Doddy Faisal Hasibuan,

SE S1 III/a TRAINER Sumber: Layanan Pengadaan Secara Elektronik

(32)

Seperti yang disampaikan oleh bapak Doddy Faisal Hasibuan, SE, selaku Staf Bidang Trainer Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“ Pendidikan dan pelatihan untuk setiap pegawai tetap kita laksanakan, walau

sekarang sudah sangat jarang. Kecuali ada perubahan baik itu dari regulasi yang

menjadi patokan pelaksanaan maupun perubahan dari sistem pengadaan barang

dan jasa secara elektronik. Karena tidak menutup kemungkinan akan ada

perbaikan maupun perubahan dari pusat atau LKPP untuk membuat sistem yang

lebih baik lagi” (wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

B.Penyediaan Finansial (Keuangan)

Sumber daya finansial adalah kecukupan modal investasi atas sebuah program atau kebijakan. Dengan adanya sumber daya finansial juga akan mendukung segala fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung terlaksananya kebijakan atau program.

Menurut bapak Drs. Ahmad Basaruddin, M.Si selaku Ketua Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“Pendanaan untuk Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) kan berasal

dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) kota Medan, jadi untuk

sampai saat ini mencukupi. Namun jika boleh ditambah lagi, untuk melengkapi

fasilitas yang masih dirasa perlu untuk mendukung pelaksanaan E-Procurment

ini”(wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

C.Fasilitas

(33)

dengan fasilitas pendukung (Sarana dan Prasarana) makan implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil.

Sarana dan Prasaran yang terdapat di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan bisa dikatakan sudah mencukupi. Hal ini disampaikan oleh bapak Doddy Faisal Hasibuan, SE, selaku Staf Bidang Trainer Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“Fasilitas di kantor kita ini sudah sangat mencukupi, adek bisa liad sendiri

kan sudah ada ruangan khusus untuk administrator dan verifikasi, ada ruang

server, ada ruang tamu juga, ada juga ruang bidding. Ruang bidding digunakan

untuk mengakses aplikasi Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik

(SPSE), dimana ruangan ini di fasilitasi dengan komputer dan jaringan Local

Area Network (LAN)” (wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

Tabel 5.6 Sarana di kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

No Sarana Jumlah

1 Server kapasitas 2 (dua) Terrabyte 2 (dua) unit

2 UPS Server 2 (dua) unit

3 PC Unit (Komputer) 16 (enam belas) unit

4 Printer 2 (dua) unit

5 Printer Multifungsi 2 (dua) unit

6 Meja Partisi 5 (lima) unit 13 Pendingin Ruangan 6 (enam) unit

(34)

Tabel 5.7 Prasarana di kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

No Prasarana

1 Ruang Server

2 Ruang Tamu

3 Ruang Bidding 4 Ruang Admin dan Verifikasi 5 Internet kapasitas 7 Mbps 6 Jaringan Wifi 7 Jaringan Listrik

Sumber: Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

Foto 5.1 Ruang Bidding Layanan Pengadaan Secara Elektronik

Sumber: Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

(35)

Sumber: Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

Foto 5.3 Ruang Tamu Layanan Pengadaan Secara Elektronik

(36)

Meski didukung dengan fasilitas yang cukup memadai tidak menjamin bahwa pelaksanaan kebijakan pengadaan barang dan jasa tetap berjalan dengan baik tanpa ada masalah. Seperti penuturan oleh bapak Foni Sanjaya, S. Kom selaku Staf bidang Administrator Layanan Pengadaan Secara Elektronik:

“Dalam pelaksanaan kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik

ini tetap menemui kendala secara teknis. Misalnya gangguan yang diakibatkan

oleh pemadaman listrik, terganggu nya server yang menghambat proses

penyelenggaraan E-procurement, bahkan jaringan internet yang tidak stabil”

(wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

Salah satu contoh gambar dimana website resmi dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan mengalami gangguan.

Gambar 5.12 Tampilan Website LPSE

(37)

5.1.3 Disposisi

Disposisi implementor adalah kecenderungan sikap maupun pemahaman yang dimiliki oleh implementor yang akan mempengaruhi pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan. Terkadang pemahaman dari pegawai atau implementor berbeda dengan apa yang harus dikehendaki oleh para pembuat kebijakan. Ketika hal ini terjadi akan sulit melaksanakan kebijakan tersebut.

Namun sesuai penjelasan informan, peneliti tidak menemukan masalah yang signifikan dari segi pemahaman para implementor. Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, setiap pegawai di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan sudah mandapat Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) sehingga mereka paham betul mengani tugas yang akan mereka kerjakan. Seperti yang di sampaikan oleh ibu Maisarah Nasution, SE, M.Si selaku Sekretaris Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“selama saya bekerja disini, saya tidak pernah menemukan pegawai yang

melakukan kesalahan yang fatal apalagi jika tidak melakukan sesuai dengan

Standart Operasional Prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan. Walau terkadang

ada juga pegawai yang masih bertanya kepada saya mungkin karena kurang

yakin, namun saya rasa itu masih hal yang wajar. Pegawai juga manusia kan,

pasti seiring berjalan waktu ada yang lupa” (wawancara pada hari selasa

tanggal 21 Juni 2016).

5.1.4 Struktur Birokrasi

(38)

Dalam mengimplementasikan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik (E-Procurment) ini, Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sudah memiliki Standar Operasional Prosedur yang resmi dan jelas. Seperti yang tertera pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Peraturan Walikota Medan No 38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

Seperti di jelaskan oleh ibu Maisarah Nasution, SE, M.Si selaku Sekretaris Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“Standart Operasional Prosedur kita kan sudah jelas, sudah ada di Perpres

No.54 Tahun 2010 dan Perwal No.38 thun 2011, walaupun sekarang sudah

banyak perubahan yang dilakukan namun kita masih tetap berpedoman pada

kedua peraturan ini”(wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni 2016).

B.Fragmentasi

Fragmentasi atau penyebaran tanggung jawab kepada setiap bidang yang ada di Layanan Pengadaan Secara Elektronik sudah sesuai dengan Peraturan Walikota Medan No.38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Sehingga setiap bidang lebih maksimal dalam melaksanakan tugas dan fungsi mereka masing-masing.

Seperti yang di sampaikan oleh bapak Foni Sanjaya, S. Kom selaku Staf bidang Administrator Layanan Pengadaan Secara Elektronik:

“setiap bidang di LPSE ini kan sudah ada tugas nya masing-masing, dan tugas

(39)

bekerja semakin lebih cepat” (wawancara pada hari selasa tanggal 21 Juni

2016).

Hal ini juga di dukung oleh pernyataan dari bapak Doddy Faisal Hasibuan, SE, selaku Staf Bidang Trainer Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE):

“pembagian tugas dan beban kerja kita disini kan semua sudah diatur dan

semua sudah jelas. Jadi tidak ada salah satu bidang yang terlalu banyak kerjaan

atau pun sebaliknya terlalu sedikit beban kerjanya. Semuanya sudah dibagi

sesuai dengan bidangnya masing-masing” (wawancara pada hari selasa tanggal

(40)

BAB VI ANALISIS DATA

Dalam bab ini penulis menyajikan analisis data, yaitu penyusunan secara sistematis data yang telah diperoleh dari wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkannya ke dalam unit-unit dan menyusunnya ke dalam pola sehingga dapat dipahami baik oleh peneliti sendiri maupun orang lain sampai akhirnya melahirkan kesimpulan akan fenomena yang sedang diamati.

Pada penelitian ini penulis melihat pelaksanaan sistem pengadaan barang dan jasa secera elektronik di kantor Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (LPSE) Kota Medan dari 4 (empat) variabel yang menjadi sorotan, antara lain : komunikasi, sumber daya, struktur organisasi, serta disposisi. Variabel-variabel ini memberikan dampak yang sangat berpengaruh terhadap efektifitas suatu implementasi kebijakan publik.

6.1 Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (E-Procurment) Di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

(41)

implementasi adalah untuk dapat mengindentifikasi variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan sebuah implementasi kebijakan. Maka, akan ditemukan fenomena-fenomena yang berhubungan dengan implementasi, pada gilirannya akan sangat membantu dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan proses implementasi kebijakan kedepannya.

George C.Edward mengemukakan bahwa implementasi merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu keputusan kebijakan. Akan tetapi pemerintah dalam membuat kebijakan juga harus mengkaji terlebih dahulu apakah kebijakan tersebut dapat memberikan dampak yang buruk atau tidak bagi masyarakat.

Hal tersebut bertujuan agar suatu kebijakan tidak bertentangan dengan masyarakat apalagi sampai merugikan masyarakat. Dalam mengkaji implementasi kebijakan, Edwards memiliki 4 (empat) variabel yang merupakan faktor untuk mempengaruhi implementasi kebijakan, yakni komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. 4 (Empat) Variabel tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

A.Komunikasi

(42)

secara elektronik, kejelasan informasi dan konsistensi kebijakan yang dipahami oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan.

Dari wawancara yang telah dilakukan, menurut informan proses komunikasi di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sudah berjalan dengan baik mulai dari transmisi atau penyampaian informasi, kejelasan informasi, bahkan konsistensi implementor.

Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sesuai dengan penuturan dari informan sudah melakukan sosialisasi walaupun sosialiasi secara langsung yang dilakukan sekarang ini tidak sering seperti pada awal ketika kebijakan ini mulai dilaksanakan. Meski demikian, pihak Layanan Pengadaaan Barang dan Jasa (LPSE) tetap memberikan informasi yang penting kepada penyedia jasa maupun masyarakat yang membutuhkan informasi melalu website resmi LPSE Kota medan.

Selain itu, Layanan Pengadaan Barang dan Jasa selalu membuka pintu kepada setiap orang atau pun penyedia jasa jika ingin belajar mengenai hal-hal yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa secara elektronik secara langung di kantor LPSE.

(43)

Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang selalu menampilkan informasi yang terbaru.

Dari website tersebut dapatlah kita menilai, bukan hanya komunikasi yang baik saja tetapi prinsip transparansi yang selalu mereka terapkan sudah berhasil. Artinya dalam pemberian informasi tidak ada lagi yang kesannya disembunyikan. Sehingga tujuan yang ingin dicapai dengan dibentuknya Layanan Pengadaan Secara Elektronik ini bisa dicapai.

B.Sumber Daya

Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya menunjukkan setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia, fasilitas, dan finansial. Ketersediaan sumber daya mempengaruhi efektifitas implementasi suatu program kebijakan tertutama dalam proses implementasi Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Peraturan Walikota Medan No.38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

1. Sumber Daya Manusia

(44)

Layanan Pengadaan Secara Elektronik menurut informan memiliki pegawai berjumlah 15 orang, dan rata-rata berpendidikan S1. Walau terdapat juga yang tamatan SMA, namun kemampuan mereka dalam bekerja sangat lah membantu LPSE.

Berdasarkan analisis, dapat diketahui bahwa sumber daya manusia di Layanan Pengadaan Secara Elektronik sudah cukup baik untuk melaksanakan kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik ini. Hal itu juga di dukung dengan dilaksanakannya Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) kepada setiap pegawai, sehingga kinerja pegawai di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan dapat ditingkatkan.

2. Finansial

Sumber daya finansial adalah kecukupan modal investasi atas sebuah program atau kebijakan. Dengan adanya sumber daya finansial juga akan mendukung segala fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung terlaksananya kebijakan atau program.

Menurut informan, kecukupan finansial atau dana untuk mendukung pelaksanaan pengadan barang dan jasa secara elektronik (E-procurment) sudah mencukupi untuk mendukung pelaksanaan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik.

(45)

yang masih kurang atau memperbaiki fasilitas yang tidak layak pakai. Sehingga dapat mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut.

3. Fasilitas

Menurut masing-masing informan, fasilitas yang terdapat di KantorLayanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan sudah cukup memadai untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Di LPSE Kota Medan sudah memiliki ruangan khusus untuk administrator dan verifikasi, ruang server, ruang tamu, dan juga ruang bidding. Dan setiap ruangan sudah dilengkapi sarana yang memadai seperti komputer, pendingin ruangan, meja, sampai jaringan internet.

Walaupun fasilitas di Layanan Pengadaan Secara Elektronik sudah memadai, namun masih memerlukan penambahan fasilitas berupa server. Karena banyak terdapat masalah teknis dari gangguan serveryang mengakibatkan website LPSE susah untuk di akses.

C.Disposisi

(46)

implementor ini berbeda dari para pembuat keputusan, proses mengimplementasikan sebuah kebijakan menjadi secara pasti lebih sulit”.

Menurut informan, pemahaman setiap pegawai di ruang lingkup Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sudah baik, pernyataan ini didukung oleh kinerja pegawai yang sampai saat ini berjalan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.

Menurut analisis, dapat diketahui bahwa memang pemahaman pegawai bisa dikatakan baik, namun masih sangat diperlukan Pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) kepada para pegawai agar kinerja mereka dalam bekerja semakin baik. D.Struktur Birokrasi

.Implementasi kebijakan yang bersifat kompleks menuntut adanya kerjasama banyak pihak. Ketika struktur birokrasi tidak kondusif terhadap implementasi suatu kebijakan, maka hal ini akan menyebabkan ketidakefektivan dan menghambat jalannya pelaksanaan kebijakan. Struktur organisasi yang mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan dalam proses implementasi.

Salah satu dari aspek struktur organisasi peling mendasar dari organisasi adalah

Standard Operational Procedure (SOP). Dengan adanya SOP dapat menjadi

(47)

Dalam pengimplementasian kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik di kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan sudah memiliki Standard Operational Procedure (SOP). Kejelasan dari Standard

Operational Procedure (SOP) dapat dilihata pada Peraturan Presiden Nomor 54

Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Peraturan Walikota Medan No.38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

(48)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan

Layanan Pengadaan Secara Elektronik yang berdiri pada tanggal 7 Desember 2011, untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (E-Procurement) sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Peraturan Walikota Medan No 38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan dalam bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan pengadaan barang dan jasa secar elektronik (E-Procurement) pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan telah dikerjakan dengan baik dilihat dari empat faktor yang mempengaruhi implementasi sesuai dengan teori George Edward III, yaitu :

A.Komunikasi

(49)

Layanan Pengadaan Secara Elektronik karena dianggap terlalu lama dan tidak efektif.

B.Sumber Daya

Dari aspek sumber daya, dibagi menjadi 3 (tiga) yakni sumber daya manusia, fasilitas, dan finansial. Semua sudah sepenuhnya diperhatikan dalam implementasi kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan Peraturan Walikota Medan No 38 Tahun 2011 tentang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE).

Kualitas sumber daya manusia, fasilitas, dan finansial yang dimiliki pemerintah daerah sudah cukup baik. Namun masih perlu adanya penambahan fasilitas yang lebih baik, agar mampu memberikan pelayanan yang lebih maksimal kepada para penyedia jasa ataupun masyarakat.

C.Disposisi

Dari aspek disposisi di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan juga sudah cukup baik dari segi pelaksanaan dan tanggung jawab. Para pegawai LPSE memiliki sikap setuju dan mendukung kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (E-Procurment).

D.Struktur Birokrasi

(50)

7.2 Saran

Dalam pelaksanaan kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik ini ini pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota medan diharapkan dapat berjalan dengan baik dan lebih maksimal lagi, khususnya dalam hal koordinasi dan kerjasama antar setiap komponen yang terlibat di dalamnya. Selain itu, berikut ini juga beberapa saran untuk perbaikan pelaksanaan kebijakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik ke depannya, antara lain :

A.Perlu adanya sosialisasi secara langsung, sehingga implementor dapat lebih memahami akan setiap kendala yang di alami oleh para penyedia jasa

B.Perlunya peningkatan kualitas pegawai Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dengan pengadaan pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) secara teratur guna peningkatan kinerja pegawai.

(51)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1Kerangka Teori

Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang adanya hubungan diantara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah fenomena. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu teori adalah suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya.

Menurut Kerlinger yang dikutip dari Effendy (2012:35), teori adalah serangkaian konsep, konstruk, defenisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara mengonstruksi hubungan antara konsep dan proposisi dengan menggunakan asumsi dan logika tertentu.

Dengan adanya teori, peneliti dapat memahami secara jelas masalah yang akan diteliti. Adapun kerangka teori dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:

2.1.1 Kebijakan Publik

Secara etimologis, istilah kebijakan atau policy berasal dari bahasa yunani “polis” berarti Negara. Akhirnya masuk ke dalam bahasa inggris “policie” yang artinya berkenaan dengan pengendalian masalah-masalah publik atau administrasi pemerintahan (Dunn, 2000:22)

(52)

orang mengartikan sebagai Negara. Namun demikian publik merupakan konsep tersendiri yang mempunyai arti dan defenisi khusus akademik.

Menurut Anderson (Winarno 2012), kebijakan publik merupakan arah tindakan yang mempun yai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau suatu persoalan. Konsep kebijakan ini dianggap tepat karena memusatkan perhatian pada apa yang sebenarnya dilakukan atau bukan pada apa yang diusulkan atau dimaksudkan

Menurut Easton, 1969 (dalam Tangkilisan, 2003:2), kebijakan publik adalah sebagai pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaanya mengikat. Sehingga cukup pemerintah yang mendapat suatu tindakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan bentuk pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat. menurut Carl Friedrich (dalam Winarno 2002:19) mendefinisikan kebijakan publik sebagai arah tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang memberikan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan terhadap kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan suatu sasaran dan maksud tertentu.

(53)

Adapun kebijakan publik memiliki tahap-tahap yang cukup kompleks karena memiliki banyak proses dan variabel yang harus dikaji. Menurut Willam Dunn (dalam Winarno,2002:28), tahap-tahap kebijakan publik adalah sebagai berikut: A.Penyusunan Agenda (Agenda Setting)

Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. Sebelumnya masalah-masalah ini berkompetensi terlebih dahulu untuk dapat masuk ke dalam agenda kebijakan. Pada akhirnya, beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan pada perumusan kebijakan. Pada tahap ini suatu masalah mungkin tidak tersentuh sama sekali dan beberapa yang lain pembahasan untuk masalah tersebut ditunda untuk waktu yang lama.

B.Formulasi kebijakan (Policy Formulation)

Masalah yang telah masuk ke agenda kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefenisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasalah dari berbagai alternatif yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk ke dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk memecahkan masalah.

C.Adopsi Kebijakan (Policy Adoption)

(54)

D.Implementasi Kebijakan (Policy Implementation)

Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan elit, jika program tersebut tidak diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun agen-agen pemerintahan di tingkat bawah. Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia. Pada tahap implementasi ini berbagai kepentingan akan saling bersaing. Beberapa implementasi kebijakan mendapat dukungan para pelaksana, namun beberapa yang lain mungkin akan ditentang oleh para pelaksana.

E.Evaluasi kebijakan (Policy Evaluation)

Pada tahap ini, kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang telah mampu memecahkan masalah. Kebijakan publik yang pada dasarnya dibuat meraih dampak yang diinginkan. Dalam hal ini memperbaiki masalah yang dihadapi masyarakat. oleh karena itu, ditentukanlah krteria-kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan publik telah meriah dampak yang diinginkan.

(55)

Gambar 2.1 Tahapan Kebijakan Publik, William Dunn,1994. Penyusunan kebijakan ( Agenda Setting)

Formulasi kebijakan (Policy Formulation)

Adopsi kebijakan (Policy Adoption)

Implemantasi kebijakan (Policy Implementation)

Evaluasi kebijakan (Policy Assassment) 2.1.2 Implementasi Kebijakan Publik

Studi implementasi kebijakan publik merupakan usaha untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan kebijakan publik serta variabel-variabel yang mempengaruhinya. Implementasi kebijakan merupakan proses atau tahapan yang penting dalam sebuah siklus kebijakan. Bagaimanapun, sebuah kebijakan yang telah dihasilkan apabila tidak dilaksanakan akan akan sia-sia atau tidak dapat mengatasi suatu permasalahan. Implementasi juga penting karena menentukan berhasil atau tidaknya suatu kebijakan dibuat guna memecahkan suatu masalah.

(56)

proram. Akhirnya, pada tingkat abstraksi yang paling tinggi, dampak implementasi mempunyai makna bahwa telah ada perubahan yang bisa diukur ke dalam masalah.

Menurut Nurdin Usman Implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan”(Usman, 2002:70). Pengertian implementasi yang dikemukakan di atas, dapat dikatakan bahwa implementasi adalah bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu implementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya.

Menurut Setiawan (2004:39), Implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif. Artinya bahwa implementasi yaitu merupakan proses untuk melaksanakan ide, proses atau seperangkat aktivitas baru dengan harapan orang lain dapat menerima dan melakukan penyesuaian dalam tubuh birokrasi demi terciptanya suatu tujuan yang bisa tercapai dengan jaringan pelaksana yang bisa dipercaya.

(57)

Implementasi kebijakan di lapangan tidaklah mudah, karena banyak masalah-masalah yang mungkin tidak dijumpai dalam konsep bisa muncul dilapangan. Oleh karena itu, ada banyak variabel atau model yang dikembangkan untuk membantu sehingga suatu kebijakan dapat berhasil ketika diimplementasikan. Ada pun beberapa model implementasi kebijakan yaitu:

A.Model George Edwards III

Menurut Edwards (dalam Indahono, 2009:32), studi implementasi kebijakan adalah krusial bagi public administration dan public policy. Implementasi kebijakan adalah pembuatan kebijakan antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak dapat mempengaruhi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka kebijakan itu mungkin akan mengalami kegagalan sekali pun kebijakan itu di implementasikan dengan sangat baik, sementara kegagalan jika kebijakan tersebut kurang di implemntasikan dengan baik oleh para pelaksana kebijakan. Menurut Edwards, terdapat empat faktor atau variabel dalam implementasi kebijakan publik, yaitu:

1. Komunikasi

(58)

cermat. Secara umum, Edwards membahas tiga indikator penting dalam proses komunikasi kebijakan, yaitu:

a) Transmisi, yatu penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Seringkali terjadi masalah dalam penyaluran komunikasi, yaitu adanya salah pengertian yang disebabkan banyaknya tingkatan birokrasi yang harus dilalui dalam proses komunikasi sehingga apa yang diharapkan terdistorsi di tengah jalan.

b) Kejelasan, yaitu komunikasi yang diterima oleh pelaksana kebijakan harus jelas dan tidak membingungkan atau tidak ambigu.

c) Konsistensi, yaitu perintah yang diberikan dalam pelaksanaan suatu komunikasi harus konsisten dan jelas untuk ditetapkan atau dijalankan. Jika perintah yang diberikan sering berubah-ubah, maka dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana di lapangan.

2. Sumber daya

Sumber daya adalah faktor yang paling penting dalam implementasi kebijakan agar efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yaitu kompetensi implementor dan sumber daya finansial. Tanpa adanya sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja. Indikator-indikator yang digunakan untuk melihat sejauh mana sumber daya mempengaruhi implementasi kebijakan adalah:

(59)

disebabkan oleh staf/pegawai yang tidak cukup memadai, tidak mencukupi ataupun tidak kompeten dalam bidangnya.

b) Penyediaan Finansial, sumber daya finansial adalah kecukupan modal investasi atas sebuah program atau kebijakan. Dengan adanya sumber daya finansial juga akan mendukung segala fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung terlaksananya kebijakan atau program.

c) Fasilitas, fasilitas fisik merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan. Implementor mungkin mempunyai staf yang mencukupi, kapabel dan kompeten tetapi tanpa adanya fasilitas pendukung (sarana dan prasarana), maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil.

3. Disposisi

Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang implementor, seperti komitmen, kejujuran dan sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalanakan kebijakan dengan baik pula, seperti yang dinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sifat atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijikan juga menjadi tidak efektif.

(60)

kebijakan di hadapan anggota kelompok sasaran. Sikap ini menurunkan resistensi dari masyarakat dan menumbuhkan rasa percaya dan kepedulian kelompok sasaran terhadap implementor dan program atau kebijakan.

4. Struktur birokrasi

Struktur birokrasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satunya adalah adanya rincian tugas dan prosedur pelayanan menjadi pedoman bagi impelementor dalam bertindak. Selain itu, struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red-tape, yaitu prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Pada akhirnya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.

Menurut Edwards, ada dua karakteristik utama birokrasi, yaitu prosedur-prosedur kerja ukuran-ukuran dasar atau sering disebut dengan Standard

Operating Procedures (SOP) dan fragmentasi, yaitu:

a. Berkembang sebagai tanggapan internal terhadap waktu yang terbatas dan sumber-sumber dari pada pelaksana serta keinginan untuk keseragaman dalam bekerjanya organisasi yang kompleks dan tersabar.

b. Berasal terutama dari tekanan luar unit-unit birokrasi, seperti komite-komite legislatif , kelompok kepentingan, pejabat eksekutif, konstitusi Negara dan sifat kebijakan yang mempengaruhi organisasi birokrasi pemerintah.

(61)

Sumber : George C. Edwards III, 1980

B.Model Van Meter dan Van Horn (1975)

Model pendekatan impelementasi kebijakan yang dirumuskan Van Meter dan Van Horn, model ini menjelaskan bahwa kebijakan dipengaruhi oleh beberapa variabel yang saling berkaitan (Subarsono, 2005:19). Variabel-Variabel tersebut, yaitu:

1. Standar dan sasaran kebijakan

(62)

2. Sumber Daya

Implementasi kebijkan perlu dukungan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya finansial. Keberhasilan implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Setiap tahap implementasi menuntut adanya sumber daya mausia berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara apolitik. Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial dan waktu menjadi perhitungan penting dalam keberhasilan implementasi kebijakan.

3. Komunikasi dan penguatan aktivitas

Dalam implementasi program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain agar tujuan kebijakan dapat tercapai.

4. Karakterisik Agen Pelaksana

Mencakup struktur birokrasi, norma-norma dan pola-pola yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya akan mempengeruhi implementasi suatu program. 5. Kondisi sosial, Ekonomi dan Politik

(63)

6. Disposisi Implementor

Disposisi impelementor ini mencakup 3 (tiga) hal penting, yaitu:

a) Respon implementor terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan.

b) Kognisi, yakni pemahamannya terhadap kebijakan.

c) Intensitas disposisi implementor, yakni preferensi nilai yang dimiliki implementor.

Gambar 2.3 Model Implementasi Van Meter dan Van Horn, 1975

d)

C.Model Merilee S.Grindle

Merilee S.Grindle,1980 (Dalam Samodra Wibawa 1994:22), memberi pemahaman bahwa studi implementasi kebijakan ditentukan oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Grindle juga menyatakan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh derajat implementability dari kebijakan tersebut. Keunikan model Grindle terletak pada pemahaman yang komprehensif

(64)

akan konteks kebijakan khusus yang menyangkut implementori, penerima implementasi dan arena konflik yang mungkin terjadi serta sumber daya yang akan diperlukan selama proses implementasi. Secara konsep dijelaskan bahwa model implementasi kebijakan publik yang dikemukakan Grindle menetukan bahwa keberhasilan proses implementasi kebijakan sampai kepada tercapainya hasil tergantung kepada kegiatan program yang telah dirancang dan pembiayaan yang cukup, selain dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Isi kebijakan yang dimaksud meliputi:

A.Kepentingan yang dipengaruhi oleh kebijakan. B.Jenis manfaat yang akan dihasilkan.

C.Derajat perubahan yang diinginkan. D.Kedudukan pembuat kebijakan. E. Siapa pelaksana program. F. Sumber daya yang dilibatkan.

Isi sebuah kebijakan akan menunjukkan posisi pengambilan keputusan oleh sejumlah besar pengambilan keputusan, sebaliknya ada kebijakan tertentu yang lainnya hanya ditentukan sejumlah kecil unit pengambilan kebijakan. Selanjutnya pengaruh dalam konteks lingkungan yang terdiri dari:

A.Kekuasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat. B.Karakteristik lembaga dan penguasa.

C.Kepatuhan dan daya tanggap pelaksana.

(65)

Sumber : Grindle, 1980

2.1.3 Model Implementasi Yang Digunakan

Dalam penelitian ini penulis memilih beberapa variabel yang dianggap mempengaruhi, antara lain :

A.Komunikasi

Komunikasi merupakan salah satu urat nadi dari sebuah organisasi agar program-programnya tersebut dapat direalisasikan dengan tujuan serta sasarannya.Komunikasi ialah sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik dari atas kebawah maupun sebaliknya. Komunikasi dilakukan untuk menghindari distorsi implementasi. Sementara itu koordinasi menyangkut persoalan bagaimana praktik pelaksanaan kekuasaan. Koordinasi berarti adanya kerjasama yang saling terkait dan saling mendukung antar pelaksana kebijakan dalam guna pencapaian tujuan implementasi kebijakan.

(66)

Sumber daya Manusia (SDM) yang tidak memadai (Jumlah dan kemampuan) berakibat tidak dapat dilaksanakannya program secara sempurna karena mereka tidak bias melakukan pengawasan dengan baik. Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya menunjukkan setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia, fasilitas, dan financial. Ketersediaan sumber daya mempengaruhi efektifitas implementasi suatu program kebijakan. Oleh karena itu, dinas-dinas yang memiliki tugas dalam mempertimbangkan sumber daya yang sudah tersedia sebelumnya.

C.Disposisi

Salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas implementasi kebijakan adalah sikap implementator. Jika implementator setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan maka mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak masalah. Ada tiga bentuk sikap atau respon implementator terhadap kebijakan, yaitu:

1. Kesadaran pelaksana.

2. petunjuk atau arahan pelaksana untuk merespon program kearah penerimaan atau penolakan.

3. Intensitas dari respon tersebut.

(67)

mereka menolak tujuan yang ada didalamnya sehinggasecara sembunyi mengalihkan dan menghindari implementasi program.

D.Struktur Birokrasi

Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu aspek struktur yang penting dari organisasi adalah adanya Standard Operating

Procedures (SOP). Standard Operating Procedures (SOP) menjadi pedoman bagi

implementator untuk bertindak struktur organisasi yang prosedur birokrasi cukup rumit dan kompleks.

2.1.4 Pengertian Electronic Government

E-government, sebagai sebuah konsep memiliki prinsip-prinsip dasar yang

universal, tetapi pengertian maupun penerapannya di sebuah negara tidak dapat dipisahkan dari sejarah, budaya, pendidikan, pandangan politik, kondisi ekonomi masing-masing negara. E-government didefinisikan sebagai suatu mekanisme interaksi baru antara pemerintah dengan masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, dimana pemanfaatan teknologi informasi dan teknologi komunikasi dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan publik (Indrajit,2002).

Electronic Government di Indonesia telah diperkenalkan melalui Instruksi

(68)

menggunakan teknologi telematika untuk mendukung Good Governance dan mempercepat proses demokrasi. Lebih jauh lagi, Electronic Government wajib diperkenalkan untuk tujuan yang berbeda di kantor-kantor pemerintahan. Administrasi publik adalah salah satu area dimana internet dapat digunakan untuk menyediakan akses bagi semua masyarakat yang berupa pelayanan yang mendasar dan mensimplifikasi hubungan antar masyarakat dan pemerintah.

Menurut Keppres Nomor 20 Tahun 2006 E-Government adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pemerintahan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan. Peranan IT dalam proses bisnis membuat organisasi berusaha untuk mengimplementasikan IT untuk proses terintegrasi.

World Bank Group (2001) menyatakan .E-Government refers to the use by

government agencies of information technologies (such as Wide Area Networks,

the Internet, and mobile computing) that have the ability to transform relations

with citizens, businesses, and other arms of government. These technologies can

serve a variety of different ends: better delivery of government services to citizens,

improve interactions with business and industry, citizen empowerment throught

access to information, or more efficient government management.. Artinya

(69)

pemberdayaan warganegara melalui informasi atau menjadikan manajemen pemerintahan yang efektif danefisien.

2.1.5 Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik (E-Procurement)

Pengadaan barang dan jasa pemerintah secara elektronik atau E-Procurement adalah sistem pengadaan barang dan jasa yang proses pelaksanaannya dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi. Sistem aplikasi serta layanan pengadaan elektronik disediakan oleh LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektonik) Nasional, yang bertindak sebagai koordinator.

2.1.5.1Pengertian pengadaan barang dan jasa Pemerintah secara elektronik (E-Procurement)

A. Menurut Croom dan Jones (2007) menjelaskan bahwa e-procurement merujuk pada penggunaan penggabungan sistem teknologi informasi untuk fungsi pengadaan meliputi pencarian sumber daya, negosisasi, pemesanan, dan pembelian.

B. Menurut Willem (2012:80) pengadaan secara elektronik (e-Proc) merupakan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan menggunakan jaringan elektronik (jaringan internet atau intranet) atau electronic data interchange (EDI).

Figur

Tabel 4.1.  Statistik Penduduk Kota Medan Menurut Jenis kelamin

Tabel 4.1.

Statistik Penduduk Kota Medan Menurut Jenis kelamin p.9
Gambar 4.5 Struktur Organisasi Pemerintah Kota Medan

Gambar 4.5

Struktur Organisasi Pemerintah Kota Medan p.14
Gambar 4.6Struktur Organisasi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

Gambar 4.6Struktur

Organisasi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan p.17
Tabel 4.2 Susunan Kepegawaian Menurut Strata Pendidikan NO STRATA PENDIDIKAN JUMLAH/ORANG

Tabel 4.2

Susunan Kepegawaian Menurut Strata Pendidikan NO STRATA PENDIDIKAN JUMLAH/ORANG p.18
Tabel 4.3 Susunan Kepegawaian Menurut Jabatan Struktural

Tabel 4.3

Susunan Kepegawaian Menurut Jabatan Struktural p.18
TABEL 4.4 Susunan Kepegawaian Menurut Golongan

TABEL 4.4

Susunan Kepegawaian Menurut Golongan p.19
Gambar 5.7 Tampilan Website LPSE Kota Medan (Informasi Lelang)

Gambar 5.7

Tampilan Website LPSE Kota Medan (Informasi Lelang) p.24
Gambar 5.8 Tampilan Website LPSE Kota Medan (Informasi Pemenang Lelang)

Gambar 5.8

Tampilan Website LPSE Kota Medan (Informasi Pemenang Lelang) p.25
Gambar 5.9 Tampilan Halaman Pengajuan Pertanyaan

Gambar 5.9

Tampilan Halaman Pengajuan Pertanyaan p.26
Gambar 5.11 Tampilan Website LPSE

Gambar 5.11

Tampilan Website LPSE p.28
Gambar 5.10 Tampilan Website LPSE

Gambar 5.10

Tampilan Website LPSE p.28
Tabel 5.5 Daftar Pegawai Layanan Secara Elektronik (LPSE) Kota

Tabel 5.5

Daftar Pegawai Layanan Secara Elektronik (LPSE) Kota p.31
Tabel 5.6 Sarana di kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

Tabel 5.6

Sarana di kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan p.33
Tabel 5.7 Prasarana di kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan

Tabel 5.7

Prasarana di kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan p.34
Gambar 2.1 Tahapan Kebijakan Publik, William Dunn,1994.

Gambar 2.1

Tahapan Kebijakan Publik, William Dunn,1994. p.55
Gambar 2.3  Model Implementasi Van Meter dan Van Horn, 1975

Gambar 2.3

Model Implementasi Van Meter dan Van Horn, 1975 p.63

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik (E-Procurement) di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan Bentuk Penelitian Lokasi Penelitian Informan Penelitian Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Gambaran Umum Kota Medan Visi dan Misi Kota Medan Sekretariat Daerah Dinas Daerah Lembaga Teknis Daerah Layanan Pengadaan Secara Elektronik LPSE Kota Medan Sumber Daya Manusia StafPegawai Disposisi Struktur Birokrasi A. Standart Operasional Prosedur SOP Penyediaan Finansial Keuangan Fragmentasi Komunikasi Hasil Wawancara .1 Komunikasi Disposisi Struktur Birokrasi Hasil Wawancara .1 Komunikasi Kesimpulan Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik (E-Procurement) di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan Komunikasi Sumber daya Implementasi Kebijakan Publik Disposisi Struktur birokrasi Implementasi Kebijakan Publik Formulasi kebijakan Policy Formulation Adopsi Kebijakan Policy Adoption Implementasi Kebijakan Policy Implementation Model Van Meter dan Van Horn 1975 Komunikasi Sumber Daya Disposisi Pengertian Electronic Government Struktur Birokrasi Saran Defenisi Konsep Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik (E-Procurement) di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan Defenisi Operasional Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Secara Elektronik (E-Procurement) di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan Sistematika Penulisan Latar Belakang