SKRIPSI TRANSPARANSI PENGADAAN BARANG/JASA DI KANTOR LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK KOTA MAKASSAR

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

TRANSPARANSI PENGADAAN BARANG/JASA DI KANTOR LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK

KOTA MAKASSAR

Oleh:

CAKRA MANDALA PUTRA Nomor Induk Mahasiswa : 105610551115

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

(2)

ii SKRIPSI

TRANSPARANSI PENGADAAN BARANG/JASA DI KANTOR LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK

KOTA MAKASSAR

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi dan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara (ADN)

Disusun dan Diajukan Oleh:

CAKRA MANDALA PUTRA Nomor Stambuk: 105610551115

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Cakra Mandala Putra

Nomor Induk Mahasiswa : 105610551115

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar, 10 September 2020 Yang Menyatakan,

(6)

vi ABSTRAK

CAKRA MANDALA PUTRA. Transparansi Pengadaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar (dibimbing oleh Muhammadiah dan Abdi)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi pelayanan pengaduan warga berbasis online kepuasan dan ketepatan sasaran dalam pelaksanaannya serta pelayanan publik yang diterima oleh masyarakat. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan informan sebanyak 11 orang.

Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi langsung, dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hal yang sangat pokok dalam pelayanan pengaduan warga adalah Pemerintah desa dan pemerintah daerah seharusnya memberikan anggaran yang cukup untuk melaksanakan program inovasi sebab hal ini menjadi bukti inovasi pelayanan publik yang memudahkan masyarakat melakukan pengaduan serta masyarakat sebagai pelanggan seharusnya mulai menyadari dan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini dalam menjalani aktivitas sehari-hari, sehingga dengan demikian program inovasi pelayanan pengaduan yang berbasis online dapat dimaksimalkan secara menyeluruh.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah AWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Transparansi Pengadaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak terutama Bapak Dr. H. Muhammadiah, MM selaku Pembimbing I dan Bapak Dr.Abdi, M.Pd selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini pula penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Dr. Ihyani Malik S.Sos M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

2. Bapak Nasrul Haq, S.Sos., MPA selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak/Ibu Dosen Fisipol Unismuh Makassar yang telah membekali penulis dengan berbagai konsep keilmuan selama dalam proses perkuliahan.

4. Kepala Tata Usaha dan staf pegawai Fisipol Unismuh Makassar yang telah memberikan pelayanan administrasi dan akademik.

5. Kedua orang tua dan segenap keluarga yang senantiasa memberikan semangat dan bantuan, baik moral maupun materil.

6. Para teman seperjuangan mahasiswa Fisipol Unismuh Makassar Angkatan satu angkatan yang selalu memberikan motivasi dan masukan mulai awal sampai akhir studi.

(8)

viii

Demikian kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 10 September 2020

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ……… v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ………... x DAFTAR GAMBAR ………... xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………... 1 B. Rumusan Masalah ... 7 C. Tujuan Masalah ... 8 D. Kegunaan Penelitian... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Transparansi ... 9

B. Pengertian Pengadaan Barang/Jasa ... 15

C. Pihak yang Terlibat dalam Pengadaan Barang/Jasa ... 25

D. Kerangka Pikir ... 32

E. Fokus Penelitian ... 35

F. Deskripsi Fokus Penelitian ... 35

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 37

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 37

C. Sumber Data ... 38

D. Informan Penelitian ... 38

E. Teknik Pengumpulan Data ... 40

F. Teknik Analisis Data ... 41

G. Teknik Keabsahan Data ... 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian ... 44

(10)

x

B. Deskripsi Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 47

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 66

B. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(11)

xi

DAFTAR TABEL

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 34 2.2 Stuktur Organisasi ... 47

(13)

xiii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Transparansi pada hakikatnya adalah terbukanya akses bagi masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai akses pada informasi yang akurat, tepat waktu (accurate & timely), aturan, prosedur yang “simple, straight, forward and easy to apply”, pelaporan, pengawasan dan pertanggung jawaban.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2008, yang mengacu pada keterbukaan informasi publik adalah kebijakan pemerintah Indonesia yang diamandemenkan pada tanggal 30 April 2008 dan diimplementasikan pada tahun 2010. Pasal 1 ayat 2 menjelaskan bahwa Informasi Publik adalah data yang diterima oleh pemerintah yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk masyarakat.

Menurut Didjaja (2003:261), Transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan sehingga dapat diketahui oleh masyarakat. Transparansi pada akhirnya akan menciptakan akuntabilitas antara pemerintah dengan rakyat.

Dalam Pasal 1 angka 1 Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dijelaskan bahwa kegiatan untuk memperoleh barang/jasa oleh Lembaga Pemerintahan dan prosedurnya mulai dari pendataan kebutuhan seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa. Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah telah diamandemenkan dengan PP No. 95 Tahun 2007 dinyatakan tidak berlaku

(14)

xiv

sejak tanggal 1 juni 2011. Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 Bab XIII tentang pengadaan secara elektronik bertujuan untuk; (a) Meningkatkan transparansi akuntabilitas, (b) Meningkatkan ekonomi masyarakat dan kesejahteraan. (c) Memperbaiki tingkat efesiensi proses pengadaan. (d) Mendukung proses monitoring dan audit, (d) Memenuhi akses informasi yang akurat.

Sebuah proses lelang dari barang dan/atau jasa dalam biaya total yang ditentukan oleh pemilik, ketepatan kuantitas dan kualitas, ditempat dan waktu yang pasti dan terencana serta sumber yang tepat untuk tujuan mendapatkan keuntungan langsung dari sebuah korporasi atau individu dan biasanya melalui sebuah kontrak dan dapat juga disebut sebagai E-procurement (Wikipedia, 2008).

Pengertian umum E-Procurement adalah suatu sistem data base yang terintegrasi secara luas berbasis internet tentang proses lelang, pembelian barang dan jasa. Menurut Oliviera dkk (2001:43) menjelaskan bahwa E-Procurement adalah proses pembelian barang dan jasa yang diperlukan bagi kebutuhan operasional organisasi secara elektronik. Proses E-Procurement dimulai dari adanya pembelian berjangka waktu pembayaran, dengan membuat dokumen pertanggungjawaban antara pembeli dan penjual yang melalui proses pelelangan. Tender adalah proses pengajuan penawaran yang dilakukan oleh pihak penyedia sesuai dengan dokumen Tender. Tujuan tender adalah untuk menyeleksi dan menetapkan pengajuan penawaran oleh para pihak penyedia setelah menetapkan pihak penyedia, pemerintah melakukan perjanjian pengadaan barang/jasa dengan pihak penyedia untuk memenuhi kebutuhan rakyat.

(15)

Pengadaan barang/jasa Pemerintah Kota Makassar menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang bersumber dari pinjaman atau hibah dalam negeri yang diterima Pemerintah Daerah. Cara yang digunakan oleh Pemerintah Kota Makassar dalam pengadaan barang/jasa yaitu melalui: (1) Swakelola adalah pengadaan dalam bentuk pekerjaan konstruksi seperti membuat jembatan atau melaksanakan kegiatan. Unsur penting dalam pengadaan swakelola adalah proses pelaksanaan pekerjaan kegiatan pemerintah dalam bentuk pekerjaan konstruksi. (2) Lelang yaitu Metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa Lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/ Jasa Lainnya yang telah memenuhi persyaratan. (3) Langsung, Pasal 1 ayat 32 menyebutkan bahwa Pengadaan Langsung adalah Pengadaan Barang/Jasa langsung kepada Penyedia Barang/Jasa, tanpa melalui proses pelelangan. Pasal 39 ayat 1 berbunyi Pengadaan Langsung dapat dilakukan terhadap Pengadaan Barang/Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah).

Berdasarkan alur pengadaan barang/jasa melalui pengadaan langsung menurut Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) unit mengajukan pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). (2) KPA menyetujui pengadaan tersebut dan memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk melakukan proses pengadaan barang/jasa kepada para pihak penyedia. (3) PPK memerintahkan Pejabat Pengadaan untuk melakukan proses pengadaan barang/jasa. (4) (PP) melakukan pengadaan barang/jasa memilih penyedia barang/jasa yang menyediakan barang/jasa yang

(16)

diminta oleh unit hingga proses transaksi. (5) Penyedia barang/jasa menyerahkan barang/jasa beserta daftar barang/jasa yang dibutuhkan lalu dikirim kepada Pejabat/Panitia Penerima Hasil Pengadaan (PPHP). (6) PPHP memeriksa barang/jasa yang dikirim oleh pihak penyedia barang/jasa dan menyesuaikan barang/jasa tersebut dengan daftar barang kemudian PPHP menyerahkan barang kepada unit yang mengajukan pengadaan barang tersebut.

Pengadaan Barang/Jasa ini untuk memberikan pedoman prosedur mengenai prosedur Pengadaan Barang/Jasa yang efisien, terbuka, dan kompetitif yang sangat diperlukan bagi ketersediaan barang/jasa yang terjangkau dan berkualitas, sehingga akan berdampak pada peningkatan pelayanan publik, sesuai dengan tata kelola yang baik, meskipun dalam praktik pengadaan barang/jasa diatur oleh beberapa peraturan pemerintah mengenai pengadaan barang/jasa ialah Kepres No 80 Tahun 2008, Perpres No 54 Tahun 2010, Perpres No 70 Tahun 2012, didalam peraturan tersebut membahas bagaimana prosedur dan tata kelola pengadaan/jasa yang baik dan benar, walaupun sudah diatur dalam Kepres dan Perpres mengenai pengadaan barang/jasa marak terjadi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme didalam proses pengadaan barang/jasa yang dilakukan oleh Instansi pemerintah. (Sumber: Warta BPK edisi 02 Vol IV (2014:11))

Pengadaan Barang/Jasa masih menjadi faktor yang rentan terhadap korupsi, meskipun pemerintah melalui Kepres No. 80/2003 sudah mengatur agar pelaksanaan proses pengadaan barang/jasa dapat berjalan dengan transparan dan akuntabel, ada berbagai macam fraud telah terjadi dilingkungan Instansi Pemerintah dan berlangsung terus-menerus dan menjadi salah satu sumber

(17)

kebocoran keuangan yang paling besar dalam bidang Pengadaan Barang/Jasa. Kasus fraud yang terjadi dalam pengadaan barang/jasa dibutuhkan adanya evolusi pada proses pelaksanaan pengadaan barang/jasa dengan prosedur meningkatkan dan mengoptimalkan layanan publik terhadap masyarakat. Prinsip dasar yang harus dianut dalam proses pengadaan adalah Transparansi, non-diskriminatif, efektivitas dan efisiensi. Untuk mencegah fraud dalam proses pengadaan barang/jasa dimulai dari internal birokrasi serta dibutuhkan suatu sistem pengadaan/jasa yang dilakukan secara elektronik yang saat ini terdiri dari e-Tendering, e-Selection, dan e-Purchasing.

Pelaksanaan Sistem Pengadaan Barang/Jasa secara Elektronik (SPSE) dapat dilakukan melalui internet dan mempermudah pihak penyedia untuk melakukan pengadaan sehingga mengurangi risiko terjadinya korupsi. Menurut Warta BPK edisi 02 Vol IV (2014:11) disebutkan tujuan utama dari e-Audit yaitu: “Tujuan e-Audit untuk mengantisipasi permasalahan dasar yang dihadapi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan mengikuti perkembangan zaman, sejak era reformasi dimulai dengan perubahan konstitusi dan peraturan perundang-undangan terkait BPK dengan keuangan negaranya, BPK menjadi lembaga negara yang besar dan vital”.

Salah satu kasus korupsi dalam bidang Pengadaan Barang/Jasa yang terjadi di Makassar pada tahun 2016 adalaah kasus dugaan korupsi pengadaan barang persediaan sanggar kerajinan lorong-lorong yang tercatat oleh Tribun Timur yaitu Mantan Kepala Dinas Koperasi Pemerintah Kota Makassar Gani Dirman dituntut bersalah, Gani dianggap melawan hukum dengan melakukan

(18)

pembayaran atas beban APBN/APBD yang seharusnya tidak boleh dilakukan sebelum barang/jasa diterima, sebagaimana diatur dalam Pasal 21 Ayat 1 Undang-Undang RI No.1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara. Terdakwa juga tidak mematuhi etika pengadaan yang harus dipatuhi oleh seorang pengguna anggaran atau pejabat pembuat komitmen (PPK) maupun pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang diatur dalam Pasal 6 huruf A,C,E,F,G, dan H Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Kasus tersebut merugikan Negara sebesar Rp. 380.128.801 berdasarkan hasil audit BPKP, adapun rincian anggarannya yakni realisasi pembayaran barang persediaan Rp. 873.275.929, nilai barang yang diterima sanggar setelah Pajak Rp. 493.147.127,26.

Terdapat tiga permasalahan dalam proses pengadaan pemerintah yang harus diatasi berdasarkan uraian di atas. (1) Lambatnya proses pengadaan mengakibatkan lambatnya penyerapan anggaran, (2) fraud dan kelalaian mengakibatkan kerugian negara di sektor pengadaan, (3) akses pasar pengadaan yang masih eksklusif.

E-purchasing adalah inovasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk

mengatasi ketiga masalah di atas, e-purchasing merupakan metode pengadaan barang/jasa yang prosesnya menyerupai sistem belanja online yang marak pada saat ini seperti lazada.com, bukalapak.com, elevenia.com, dan lain-lain. E-purchasing melengkapi metode pengadaan barang/jasa pemerintah yang

(19)

pelelangan sederhana, penunjukan langsung, pengadaan langsung, kontes dan sayembara.

Transparansi diperlukan agar para birokrat maupun swasta dapat mengetahui kondisi dari instansi tersebut, khususnya jika menyangkut masalah keuangan yang merupakan hal yang sensitif. Transparansi diperlukan agar masyarakat dapat turut menilai dan mengkritisi apabila terjadi kecurangan atau hal yang dianggap tidak wajar, hal itu dapat menjadi tindakan preventif bagi oknum-oknum dan juga bisa menjadi tindakan represif ketika kecurangan telah terdeteksi dengan adanya transparansi dari pihak instansi.

Berdasarkan data di atas, maka penulis tertarik untuk melihat bagaimana Transparansi Pengelolaan Pengadaaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar yang telah berjalan dan mendorong penulis untuk melakukan penelitiannya yang berjudul “Transparansi Pengadaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar”.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah transparansi pengadaan barang/jasa di kantor layanan pengadaan secara elektronik Kota Makassar?

2. Apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pengadaan barang/jasa di kantor layanan pengadaan secara elektronik Kota Makassar?

(20)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana transparansi pengadaan barang/jasa di kantor layanan pengadaan secara elektronik Kota Makassar.

2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat yang dihadapi dalam proses pengadaan barang/jasa di kantor layanan pengadaan secara elektronik Kota Makassar.

D. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis

Melalui hasil penelitian ini, peneliti berharap dapat dijadikan referensi bagi dunia perguruan tinggi khususnya jurusan ilmu administrasi negara guna mengembangkan lebih luas dan lebih mendalam mengenai transparansi pengadaan barang/jasa.

2. Kegunaan Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pemerintah dalam melakukan kinerjanya serta menumbuhkan kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat dengan skateholder.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Transparansi

Konsep Transparansi dalam penelitian ini adalah terbukanya akses bagi masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai pengadaan barang/jasa dikantor layanan pengadaan secara elektronik Kota Makassar, hal ini didasarkan pada pendapat beberapa ahli yaitu sebagai berikut.

Lalolo (2003:13) transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan serta hasil yang dicapai.

Mustopa Didjaja (2003:261) transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan sehingga dapat diketahui oleh masyarakat. Transparansi pada akhirnya akan menciptakan akuntabilitas antara pemerintah dengan rakyat.

Mardiasmo dalam Kristianten (2006:45) menyebutkan transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktifitas pengelolaan sumber daya publik kepada pihak yang membutuhkan yaitu masyarakat.

Menurut Kristianten (2006:31), transparansi mampu memberikan dampak positif dalam tata pemerintahan. Transparansi mampu meningkatkan

(22)

pertanggungjawaban para perumus kebijakan sehingga kontrol masyarakat terhadap para pemegang otoritas pembuat kebijakan akan berjalan efektif.

Krina (2003:13) mendefinisikan transparansi sebagai prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasitentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan proses pembuatan dan pelaksanaanya serta hasil-hasil yang dicapai.

Menurut Mardiasmo (2004:30), transparansi berarti keterbukaan (opennsess) pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan

aktivitas pengelolaan sumber daya publik kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi.

Menurut Dwiyanto, konsep transparansi pada pelayanan publik menunjuk pada suatu keadaan dimana segala aspek dari proses penyelenggaraan pelayanan bersifat terbuka dan dapat diketahui dengan mudah diketahui oleh para pengguna dan stakeholders yang membutuhkan (Dwiyanto, 2008:236). Menurut Mahsun, transparansi berarti bahwa individu, kelompok, atau organisasi dalam hubungan akuntabilitas diarahkan tanpa adanya kebohongan atau motivasi tersembunyi, dan bahwa seluruh informasi kinerja lengkap dan tidak memiliki tujuan menghilangkan data yang berhubungan dengan masalah tertentu (Mahsun, 2009:92).

Menurut Mardiasmo pelayanan publik yang transparan hendaknya meliputi unsur-unsur sebagai berikut (Mardiasmo, 2002:19): Informativeness (informatif), pemberian arus informasi, berita, penjelasan mekanisme, prosedur, data, fakta kepada stakeholders yang membutuhkan informasi secara jelas dan

(23)

akurat. Openess (keterbukaan), keterbukaan Informasi Publik memberi hak kepada setiap orang untuk memperoleh informasi dengan mengakses data yang ada di badan publik, dan menegaskan bahwa setiap informasi publik itu harus bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap pengguna informasi publik, selain dari informasi yang dikecualikan yang diatur oleh Undang-Undang. Disclosure (pengungkapan), pengungkapan kepada masyarakat atau publik (stakeholders) atas aktivitas dan kinerja finansial.

Menurut Dwiyanto, untuk mengetahui apakah suatu pelayanan publik sudah transparansi atau tidak, ada 3 hal yang perlu diperhatikan (Dwiyanto, 2008:236) yaitu:

a) Keterbukaan proses penyelenggaraan pelayanan publik.

b) Peraturan dan prosedur pelayanan yang mudah dan dapat dipahami.

c) Kemudahan untuk memperoleh informasi mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan publik.

Transparansi publik adalah suatu keterbukaan secara sungguh-sungguh, menyeluruh, dan memberi tempat bagi partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam proses pengelolaan sumber daya public (Andrianto, 2007:21). Berikut beberapa manfaat penting adanya transparansi anggaran adalah sebagai berikut (Andrianto, 2007:21):

a) Mencegah korupsi.

b) Lebih mudah mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan kebijakan.

c) Meningkatkan akuntabilitas pemerintah sehingga masyarakat akan lebih mampu mengukur kinerja pemerintah.

(24)

d) Meningkatkan kepercayaan terhadap komitmen pemerintah untuk merumuskan kebijakan tertentu.

e) Menguatkan kohesi sosial, karena kepercayaanpublik terhadap pemerintah akan terbentuk.

f) Menciptakan iklim investasi yang baik dan meningkatkan kepastian usaha. Setidaknya ada 6 prinsip transparansi yang dikemukakan oleh Humanitarian Forum Indonesia (HFI) yaitu:

a) Adanya informasi yang mudah dipahami dan diakses (dana, cara pelaksanaan, bentuk bantuan atau program).

b) Adanya publikasi dan media mengenai proses kegiatan dan detail keuangan. c) Adanya laporan berkala mengenai pendayagunaan sumber daya dalam

perkembangan proyek yang dapat diakses oleh umum. d) Laporan tahunan.

e) Website atau media publikasi organisasi. f) Pedoman dalam penyebaran informasi.

Mustopa Didjaja (2003:261), prinsip transparansi tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut keuangan, transparansi pemerintah dalam perencanaan juga meliputi 5 hal sebagai berikut:

a) Keterbukaan dalam hal Rapat-rapat. Para birokrat mestilah terbuka dalam melaksanakan rapat-rapat yang penting bagi masyarakat. Keterbukaan dalam hal rapat ini memungkinkan para birokrat serius memikirkan hal-hal yang dirapatkan, dan masyarakat dapat memberikan pendapatnya pula.

(25)

b) Keterbukaan Informasi. Keterbukaan informasi ini berhubungan dengan dokumen-dokumen yang perlu diketahui oleh masyarakat. Misalnya, informasi mengenai pelelangan atau tender.

c) Keterbukaan Prosedur. Keterbukaan prosedur ini berhubungan dengan prosedur pengambilan keputusan maupun prosedur penyusunan rencana. Keterbukaan prosedur ini merupakan tindak pemerintahan yang bersifat publik. Misalnya, keterbukaan rencana pembebasan tanah, rencana pembangunan Mall atau rencana tata ruang.

d) Keterbukaan Register. Register merupakan kegiatan pemerintahan. Register berisi fakta hukum, seperti catatan sipil, buku tanah, dan lain-lain. Register seperti itu memiliki sifat terbuka, artinya siapa saja berhak mengetahui fakta hukum dalam register tersebut. Keterbukaan register merupakan bentuk informasi pemerintahan.

e) Keterbukaan menerima peran serta masyarakat. Keterbukaan menerima peran serta masyarakat ini terjadi bila, adanya tersedia suatu kesempatan bagi masyarakat untuk mengemukakan pendapatnya terhadap pokok-pokok kebijakan pemerintah; adanya kesempatan masyarakat melakukan diskusi dengan pemerintah dan perencana; dan adanya pengaruh masyarakat dalam mempengaruhi pengambilan keputusan tersebut. Menerima peran serta masyarakat merupakan hak untuk ikut memutus. Hal ini, menjadi bentuk perlindungan hukum preventif. Peran serta ini dapat berupa pengajuan keberatan terhadap rancangan keputusan atau rencana pemerintah, dengar pendapat dengan pemerintah, dan lain-lain.

(26)

Selain itu, terdapat pula beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur transparansi menurut IDASA (Andrianto, 2007:21):

1. Ada tidaknya kerangka kerja hukum bagi transparansi.

a) Adanya peratuuran perundangan yang mengatur persoalan transparansi. b) Adanya kerangka kerja hukum yang memberi definisi yang jelas tentang

peran dan tanggungjawab bagi semua aspek kunci dari manajemen fiscal. c) Adanya basis legal untuk pajak.

d) Adanya basis legal untuk pertanggungjawaban belanja dan kekuasaan memungut pajak dari pemerintah daerah.

e) Adanya pembagian peran dan tanggungjawab yang jelas dari masing-masing tingkatan pemerintahan.

2. Adanya akses masyarakat terhadap transparansi anggaran.

a) Adanya keterbukaan dalam kerangka kerja anggaran (proses penganggaran).

b) Diumumkannya setiap kebijakan anggaran.

c) Dipublikasikannya hasil laporan anggaran (yang telah diaudit oleh lembaga yang berwenang [BPK-RI]).

d) Adanya dokumentasi anggaran yang baik yang mengandung beberapa indikasi fiscal.

e) Terbukanya informasi tentang pembelanjaan aktual. 3. Adanya audit yang independen dan efektif.

a) Adanya lembaga audit yang independen dan efektif. b) Adanya lembaga statistik yang akurat datanya berkualitas.

(27)

c) Adanya sistem peringatan dini (early warning system) dalam kasus buruknya eksekusi atau keputusan anggaran.

4. Adanya keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan anggaran. a) Adanya keterbukaan informasi selama proses penyusunan anggaran. b) Adanya kesempatan bagi masyarakat sipil untuk berpartisipasi dalam

proses penganggaran.

Berdasarkan penjelasan tersebut beberapa prinsip yang dimaksud dalam penelitian ini antara lain: adanya keterbukaan informasi yang mudah dipahami oleh masyarakat, adanya publikasi mengenai detail transparansi pengadaan barang/jasa dikantor layanan pengadaan secara elektronik (LPSE). Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan timbal balik antara masyarakat dan pemerintah melalui penyediaan informasi yang akurat dan memadai. Transparansi akan mengurangi tingkat ketidakpastian dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengelolaan, karena penyebarluasan berbagai informasi yang selama ini sangat minim dan hanya diketahui oleh sebagian masyarakat dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui transparansi pengadaan, misalnya dengan sosialisasi kepada masyarakat tentang kegunaan dari pengadaan barang/jasa atau pengumuman melalu media dan lain-lain.

B. Pengertian Pengadaan Barang/ Jasa 1. Pengadaan Barang

Barang adalah setiap benda baik terwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh pengguna barang. Pengadaan barang

(28)

tersebut dapat berupa bahan baku, barang setengah jadi atau peralatan dan termasuk makhluk hidup. Untuk mendapatkan informasi yang jelas dan tepat lembaga menyediakan link yang dapat di akses dengan mengklik link

https://Lpse.makassar.go.id/eproc4/lelang. semua informasi dapat diperoleh dengan baik dan jelas mulai dari proses lelang sampai pada pengumuman lelang barang/jasa.

Siahaya (2013:5) mengemukakan bahwa secara garis besar, barang dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu barang konsumsi, barang produksi dan barang modal. Ketiga jenis barang tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Barang konsumsi adalah barang hasil akhir produksi yang langsung digunakan seperti makanan, minuman, obat-obatan, dan suku cadang. b) Barang produksi adalah barang yang diperlukan untuk proses produksi

seperti bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi.

c) Barang modal adalah barang yang dapat dipakai beberapa kali dan mengalami penyusutan, seperti peralatan dan kendaraan.

Wardiyanto (2012:33), mendefinisikan barang/jasa publik adalah barang yang penggunaannya terkait dengan kepentingan masyarakat banyak baik secara berkelompok maupun secara umum, sedangkan barang/jasa privat merupakan barang yang hanya digunakan secara individual atau kelompok tertentu. Menurut Arrowsmith (2004), Nur Bahagia (2006), Christopher & Schooner (2007) dan sebagainya, pada prinsipnya, pengadaan adalah :

“kegiatan untuk mendapatkan barang, atau jasa secara transparan, efektif, dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan keinginan penggunanya. Yang dimaksud

(29)

barang disini meliputi peralatan dan juga bangunan baik untuk kepentingan publik maupun privat (Jurnal LKPP “Senarai Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah”, Vol. 1 No. 1, 2011 hal. 11)”.

Schiavo-Campo dan Sundaram (2000) dalam Sartono (2006) mendefinisikan pengadaan barang/jasa pemerintah (government procurement) sebagai:

“The acquisition of goods, services, and public works in a timely manner that

result in best value to the government and the people”. (perolehan barang, jasa

dan prasarana umum dalam waktu tertentu yang menghasilkan nilai terbaik bagi pemerintah maupun bagi masyarakat).

Lebih jauh Schiavo-Campo dan Sundaram (2000) dalam Sartono (2006) mengungkapkan adanya karakteristik pengadaan barang/jasa di sektor privat (swasta) yang tidak ada pada pengadaan di sektor pemerintah. Beberapa karakteristik pengadaan barang/jasa disektor swasta yang tidak ada pada pengadaan barang/jasa di sektor pemerintahan antara lain:

a) Tidak terlalu menekankan proses tender kompetitif secara formal, dokumentasi prosedur pengadaan dan konflik kepentingan yang mungkin terjadi.

b) Lebih menekankan untuk membeli barang yang memberikan high value sepadan dengan harganya, dan menunjuk kontraktor yang mampu memberikan kualitas jasa yang tinggi dengan harga yang kompetitif. c) Dimensi akuntabilitas yang dituntut lebih ditekankan pada hasil (result)

(30)

Dalam pengadaan barang/jasa di sektor pemerintah justru berlaku hal yang berbeda, dimana proses dan dokumentasi atas kegiatan menjadi hal yang diperhatikan dan diatur, demikian pula dengan adanya konflik kepentingan (sesuai dengan Teori Agensi) yang mungkin terjadi. Dalam hal, pekerjaan/barang yang diadakan, biasanya lebih menekankan pada harga terendah (lowest cost) dengan tetap memenuhi kualitas dan spesifikasi yang ditetapkan.

Pengadaan barang/jasa (Procurement) merupakan kegiatan yang penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan/ instansi, Procurement adalah proses untuk mendapatkan barang/jasa dengan kemungkinan pengeluaran yang terbaik, dalam kualitas dan kuantitas yang tepat, waktu yang tepat, dan pada tempat yang tepat untuk menghasilkan keuntungan atau kegunaan secara langsung bagi pemerintah, perusahaan atau bagi pribadi yang dilakukan melalui sebuah kontrak. (Wikipedia Bahasa Indonesia)

Pengadaan adalah perolehan barang atau jasa.Hal ini, menguntungkan bahwa barang/jasa yang tepat dan bahwa mereka yang dibeli dengan biaya terbaik untuk memenuhi kebutuhan pembeli dalam hal kualitas dan kuantitas, waktu dan lokasi. (Menurut Weele, 2010:4)

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan pengadaan Barang/jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/ Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah/ Institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa. (Perpres 54/2010 pasal 1 ayat 1)

(31)

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Perangkat Kerja Daerah/Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa. (Perpres 70/2012 pasal 1 ayat 1)

Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengadaan barang/jasa (procurement) adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan barang dan jasa yang diperlukan oleh instansi dilihat dari kebutuhan dan penggunaannnya. 2. Pengertian Barang

Barang atau komoditas dalam pengertian ekonomi adalah suatu objek atau jasa yang memiliki nilai. Nilai suatu barang akan ditentukan karena barang itu mempunyai kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan. Dalam makro ekonomi dan akuntansi, suatu barang sering dilawankan dengan suatu jasa. (Wikipedia Bahasa Indonesia)

3. Pengertian Jasa

Pengertian jasa yang dikutip oleh Ratih Hurriyati ialah setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip tidak berwujud dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan (Kotler, 2010:27).

Jasa ialah kegiatan atau manfaat yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. (Djaslim Saladin, 2007:71).

(32)

Jasa ialah produk yang tidak berwujud yang biasanya berupa pelayanan yang dibutuhkan oleh konsumen. (Indriyo Gitosudarmo, 2008:221)

Jadi dari beberapa pengertian di atas maka prosedur pengadaan barang/jasa adalah suatu urutan yang tersusun yang biasanya melibatkan beberapa instansi atau lebih, serta disusun untuk menjamin penanganan secara seragam terhadap transaksi-transaksi yang terjadi berulang-ulang untuk mendapatkan barang/jasa yang diperlukan oleh instansi dilihat dari kebutuhan dan penggunaannnya.

4. Prinsip Dalam (Procurement) Pengadaan Barang

Menurut BPSDMD Provinsi Jawa Tegah Tahun 2017 dalam Modul Pengembangan Pembekalan Pengadaan Barang/Jasa Bagi Pengguna Anggaran, pengadaan barang dan jasa harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip pengadaan yang dipraktekkan secara internasional efisiensi, efektifitas, persaingan sehat, keterbukaan, transpraransi, tidak diskriminasi dan akuntabilitas.

a) Efisiensi, Prinsip efisiensi dalam pengadaan barang dan jasa adalah dengan menggunakan sumber daya yang tersedia diperoleh barang dan jasa dalam jumlah, kualitas yang diharapkan, dan diperoleh dalam waktu yang optimal.

b) Efektif, Prinsip efektif dalam pengadaan barang dan jasa adalah dengan sumber daya yang tersedia diperoleh barang dan jasa yang mempunyai nilai manfaat setinggi-tingginya.

c) Persaingan, Sehat Prinsip persaingan yang sehat dalam pengadaan barang dan jasa adalah adanya persaingan antar calon penyedia barang dan jasa

(33)

berdasarkan etika dan norma pengadaan yang berlaku, tidak terjadi kecurangan dan praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

d) Terbuka, Prinsip terbuka dalam pengadaan barang dan jasa adalah memberikan kesempatan kepada semua penyedia barang dan jasa yang kompeten untuk mengikuti pengadaan.

e) Transparansi, Prinsip transparansi dalam pengadaan barang dan jasa adalah pemberian informasi yang lengkap tentang aturan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa kepada semua calon penyedia barang dan jasa yang berminat dan masyarakat.

f) Tidak Diskriminatif, Prinsip tidak diskriminatif dalam pengadaan barang dan jasa adalah pemberian perlakuan yang sama kepada semua calon penyedia barang dan jasa yang berminat mengikuti pengadaan barang dan jasa.

g) Akuntabilitas, Prinsip akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa adalah pertanggungjawaban pelaksanaan pengadaan barang dan jasa kepada para pihak yang terkait dan masyarakat berdasarkan etika, norma, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Tujuan Sistem Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Guna mencapai tujuan dalam sistem pengadaan barang/jasa, setiap negara pasti telah menetapkan tujuan yang hendak dicapai tersebut dalam ketentuan (landasan hukum) pengadaan barang/jasa yang berlaku di negaranya.Masingmasing negara menetapkan tujuan yang bervariasi sesuai dengan kondisi dan kepentingan masing-masing negara.

(34)

Menurut Keppres No. 80 Tahun 2003, Indonesia mengemukakan bahwa terdapat beberapa tujuan dalam sistem pengadaan barang/jasa pemerintah, yaitu:

a) Menghasilkan barang/jasa yang tepat dari setiap uang yang dibelanjakan, diukur dari aspek kualitas, jumlah, waktu, biaya, dan penyedia.

b) Meningkatkan penggunaan barang/jasa dalam Negeri.

c) Meningkatkan peran serta usaha mikro, kecil, dan menengah. d) Meningkatkan peran perusahaan Nasional.

e) Meningkatkan pemanfaatan barang/jasa hasil penelitian dan industri kreatif.

f) Mendorong pengadaan berkelanjutan.

Sedangkan Schiavo-Campo dan Sundaram (2000) dalam Sartono (2006) mengemukakan beberapa tujuan dalam sistem pengadaan barang/jasa pemerintah, yaitu:

a) Ekonomis (Economy), yaitu untuk memperoleh barang/jasa yang sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pada waktu yang tepat dan dengan harga paling murah (lowest cost).

b) Mendorong kompetisi (Fostering competition), yaitu memberikan kesempatan yang sama kepada supplier yang memenuhi kualifikasi untuk bersaing secara sehat untuk mendapatkan kontrak pengadaan. Dengan adanya kompetisi, diharapkan akan diperoleh manfaat dalam hal harga dan kualitas, serta diharapkan akan mendorong akuntabilitas dalam proses pengadaan itu sendiri.

(35)

c) Substitusi impor (Import substitution) Yaitu mendorong perusahaan lokal untuk menghasilkan barang/jasa yang semula haynya dapat diproduksi oleh perusahaan di luar negeri.

d) Penerapan Good Governance (Practicing Good Governance).

e) Melindungi kepentingan masyarakat (Protecting the interest of citizens). f) Melindungi lingkungan (protecting the Environment).

6. Prinsip Umum Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Jourdain dan Balgobin (2003) dalam Sartono (2006) mengemukakan bahwa prinsip umum pengadaan barang/jasa pemerintah antara lain:

a) Transparansi. b) Ekonomis.

c) Efisiensi dan tepat waktu (timelines). d) Keadilan (fairness and equity).

Kegagalan terpenuhinya prinsip seperti yang telah disebutkan di atas mengindikasikan kemungkinan terjadiya korupsi atau praktek kecurangan (fraudulent practices) yang biasanya didefinisikan sebagai penyalahgunaan atau

kesalahan dalam mengungkapkan fakta (misrepresentation of facts). Prinsip-prinsip pengadaan barang/jasa sebagaimana diatur dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 adalah:

a) Efisien Berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan.

(36)

b) Efektif Berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.

c) Terbuka dan Bersaing Berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan.

d) Transparan Berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya.

e) Adil dan tidak diskriminatif Berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun.

f) Akuntabel Berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.

(37)

Pengadaan barang/jasa mengandung pengertian adanya transaksi, sehingga diperlukan adanya persyaratan yaitu adanya identitas, kesepakatan, pertukaran dokumen dan pengesahan, untuk itu dalam transaksi elektronik diperlukan:

a) Identitas, mencakup user ID dan password.

b) Pengamanan sistem terhadap registered and authorized client, aplikasi dan kelancaran komunikasi transfer data.

c) Alat pengesahan administrasi, seperti materai digital dan tanda tangan digital

Dengan menerapkan prinsip-prinsip efisien, efektif, transparan, keterbukaan, bersaing, adil, tidak diskriminatif dan akuntabel mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap proses Pengadaan Barang/Jasa.Sebab, hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dari segi administrasi, teknis dan keuangan.

C. Pihak yang terlibat dalam Pengadaan Barang/Jasa

Sesuai dengan Perpres 54/2010 dan Perpres 70/2012 organisasi pengadaan barang/jasa pemerintah terdiri atas beberapa pihak dengan hubungan seperti pada gambar terlampir, dan pada Perpres 54/2010, ULP/PP hanya terlibat dalam sistem pengadaan melalui penyedia barang/jasa. Namun, pada Perpres 70/2012 aturan ini diubah sehingga pengadaan melalui swakelola pun melibatkan ULP/PP. Berikut keterangan tentang para pihak dalam pengadaan barang/jasa pemerintah:

a) PA (Pengguna Anggaran): Pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada Institusi lainnya Pengguna APBN/APBD.

(38)

b) KPA (Kuasa Pengguna Anggaran): pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD.

c) ULP (Unit Layanan Pengadaan): unit organisasi Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi yang berfungsi melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa yang bersifat permanen, dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang sudah ada. (Perpres 70/2012) d) PP (Pejabat Pengadaan): personil yang ditunjuk untuk melaksanakan

Pengadaan Langsung.

e) PPK (Pejabat Pembuat Komitmen): pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

f) PPHP (Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan): panitia/pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA yang bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan.

g) PBJ (Penyedia Barang/Jasa): badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/Jasa Lainnya. 1. Penunjukan Panitia Pengadaan Barang/Jasa

Berdasarkan Perpres 54/ 2010, pejabat pengadaan adalah personil yang memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa yang melaksanakan pengadaan barang/ jasa, sedangkan menurut Pepres 70/ 2012 pejabat pengadaan adalah personil yang ditunjuk untuk melaksanakan pengadaan langsung.Pengadaan langsung adalah pengadaan barang/jasa langsung kepada penyedia barang/jasa tanpa melalui pelelangan/seleksi/penunjukan langsung. Berdasarkan pasal 39

(39)

Perpres 70/2012, pengadaan langsung dapat dilakukan terhadap Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp200.000.000,00 dengan ketentuan:

a) Kebutuhan operasional Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi Lainnya;

b) Teknologi sederhana.

c) risiko kecil; dan/atau dilaksanakan oleh Penyedia Barang/Jasa usaha orang-perseorangan dan/atau badan usaha kecil serta koperasi kecil, kecuali untuk paket pekerjaan yang menuntut kompetensi teknis yang tidak dapat dipenuhi oleh Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan koperasi kecil. Sedangkan untuk pengadaan jasa konsultansi pengadaan langsung digunakan untuk nilai sampai dengan lima puluh juta rupiah.

Panitia Pengadaan Barang/Jasa mempunyai tugas:

a) Menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan;

b) Menyusun dan menyiapkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS); c) Menyiapkan dokumen pengadaan;

d) Mengumumkan pengadaan barang/jasa pemerintah di website pengadaan nasional;

e) Menilai kualifikasi penyedia barang/jasa;

f) Melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk; g) Mengusulkan calon pemenang;

(40)

h) Membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada PA/KPA/PPK;

i) Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai

2. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)

Berdasarkan Pasal 11 Perpres No. 54 Tahun 2010 dalam melaksanakan tugasnya PA dan KPA perlu menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen, dan Pejabat Pembuat Komitmen ini nantinya bertugas untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan rencana pengadaan, surat-menyurat, penandatanganan kontrak, dan beberapa hal berikut:

a) Menetapkan rencana yang berhubungan dengan pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi spesifikasi teknis barang dan jasa yang dimaksud, Harga Perkiraan Sendiri (HPS), dan rancangan kontrak dengan rekanan nantinya. b) Menerbitkan surat penunjukan kepada rekanan atau kontraktor penyedia

barang dan jasa yang dimaksud setelah terpilih.

c) Menandatangani kontrak apabila mewakili dan mendapat wewenang dari PA atau KPA.

d) Sebagai pelaksana kontrak dengan rekanan penyedia barang dan jasa pemerintah.

e) Bertugas mengendalikan pelaksanaan kontrak yang telah dibuat sehubungan terhadap pengadaan barang dan jasa tersebut.

f) Membuat laporan tentang pelaksanaan pengadaan barang dan jasa kepada PA atau KPA yang bertanggung jawab terhadap anggaran yang dipergunakan.

(41)

g) Setelah pekerjaan atau pengadaan barang selesai, PPK menyerahkan kepada PA dan KPA untuk kemudian dipergunakan sebagaimana mestinya.

h) Melaporkan setiap hasil yang diperoleh dalam pengerjaan pengadaan barang dan jasa, melaporkan kemajuan pekerjaan, serta kendala yang dihadapi di lapangan.

i) Bertugas menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen yang menjadi landasan terselenggaranya pengadaan barang dan jasa tersebut.

j) Apabila dirasa perlu, PPK bisa mengusulkan kepada PA dan KPA untuk mengubah paket pekerjaan dan mengubah jadwal atau waktu pengerjaan. k) PPK bisa menetapkan tim pendukung suksesnya pengadaan barang dan jasa

apabila memang kinerja dan keberadaan tim ini sangat diperlukan.

l) Menetapkan tim atau tenaga ahli apabila diperlukan untuk membantu pihakpihak terkait lainnya agar pekerjaan menjadi lancar dan berhasil dengan baik.

m) Menetapkan besaran uang muka yang akan dibayarkan kepada penyedia barang dan jasa pemerintah apabila memang diperlukan. Semua dilakukan demi lancarnya penyelenggaraan pengadaan barang dan jasa agar bisa dipergunakan sebagaimana mestinya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau pimpinan proyek pengadaan barang/jasa Pemerintah dilarang mengadakan ikatan perjanjian atau menandatangani kontrak dengan penyedia barang dan jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggaran yang dapat mengakibatkan dilampauinya batas anggaran yang tersedia untuk kegiatan yang dibiayai dari

(42)

APBN/APBD. PPK juga diwajibkan untuk menandatangani pakta integritas sebelum menjalankan tugasnya, pakta integritas adalah surat pernyataan yang berisi ikrar untuk mencegah dan tidak melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.

3. Unit Layanan Pengadaan (ULP)

Pihak ULP merupakan pihak yang dibentuk oleh instansi pemerintah pemberi lowongan pengadaan barang dan jasa kepada mereka yang akan terlibat langsung dalam proses pengadaan tersebut. Ketentuan pembentukan ULP ini diatur sedemikian rupa sehingga yang menjabat adalah mereka yang ditunjuk atau dibentuk langsung oleh pimpinan instansi pemerintahan yang akan mengadakan lelang pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Berdasarkan Pasal 15 dan 16 Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, ULP sebagai unit yang melayani pengadaan, keanggotaan kelompok kerja ULP wajib ditetapkan untuk:

a) Pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dengan nilai diatas 200 juta rupiah,

b) Pengadaan jasa konsultasi dengan nilai diatas 50 juta rupiah.

Pasal 17 Perpres No. 70 Tahun 2012 menyebutkan bahwa tugas serta kewenangan yang bisa dilakukan oleh ULP, antara lain:

a) Menyusun perencanaan pemilihan rekanan atau kontraktor yang akan melaksanakan pengadaan barang dan jasa pemerintah.

(43)

c) Menetapkan besaran nominal jaminan penawaran dari calon rekanan atau kontrakor yang mengajukan diri.

d) Mengadakan pengumuman baik melalui website resmi K/L/D/I maupun melalui papan-papan pengumuman di instansi terkait.

e) Menilai kualifikasi calon penyedia barang dan jasa melalui prakualifikasi dan pasca kualifikasi.

f) Melakukan evaluasi secara administratif, teknis, dan harga dari penawaran yang masuk.

g) Diharuskan menjawab sanggahan dan menetapkan penyedia barang dan jasa apabila dilakukan dengan metode pelelangan atau penunjukan langsung untuk paket pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang bernilai paling tinggi 100 miliar rupiah, dan untuk seleksi atau penunjukan langsung pada paket pengadaan jasa konsultansi yang bernilai paling tinggi 100 miliar rupiah.

h) Memberikan salinan dokumen pengadaan kepada PPK dan menyimpan aslinya.

i) Menyerahkan dokumen asli pemilihan penyedia kepada PA atau KPA.

j) Membuat laporan mengenai proses dan hasil dari pengadaan barang dan jasa kepada pemimpin instansi terkait.

k) Memberikan pertanggungjawaban atas kinerjanya kepada PA atau KPA. l) ULP bisa mengusulkan perubahan HPS atau teknis pekerjaan bila diperlukan.

Ruang lingkup pelaksanaan tugas ULP meliputi penyelenggaraan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dilaksanakan oleh penyedia barang

(44)

dan jasa melalui proses pelelangan atau seleksi, sedangkan pengadaan barang dan jasa di luar proses pelelangan/seleksi dilaksanakan oleh pejabat atau penitia pengadaan barang dan jasa informasi dapat diperoleh dari link Https://Lpse.makassar.go.id/eproc4/lelang. sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Panitia atau Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) merupakan seorang atau sekelompok orang dari lingkungan PNS atau BUMN dan instansi yang bersangkutan yang bertugas menerima hasil pekerjaan, pekerjaan yang dimaksud tentunya pengadaan barang/jasa pemerintah pada instansi masing-masing. Panitia atau pejabat penerima hasil pekerjaan juga memeriksa hasil pekerjaan rekanan dalam pengadaan barang dan jasa, menerima hasilnya setelah melalui pemeriksaan tersebut, lalu menandatangani berita acara serah terima hasil pekerjaan tersebut. Dalam memeriksa hasil pekerjaan, ada dua hal yang perlu dicermati oleh panitia atau pejabat penerima hasil pekerjaan, yaitu: a. Pemeriksaan kesesuaian hasil pekerjaan dengan kontrak yang telah disepakati meliputi jenis, spesifikasi teknis, jumlah, waktu, tempat fungsi dan ketentuan lain. b. Pemeriksaan kesesuain untuk para ahli dan jasa konsultan yang menjadi rekanan penyedia jasa di lingkungan pemerintahan tersebut.

D. Kerangka Pikir

Transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sumber daya publik kepada pihak yang membutuhkan yaitu masyarakat. Saat ini pengadaan barang/jasa telah berkembang menjadi suatu bidang usaha atau bisnis yang menarik dan mempunyai peranan yang tidak kecil dalam perkembangan

(45)

teknologi dan informasi, terutama dibidang pelelangan. Pengadaan barang/jasa artinya suatu kegiatan untuk mendapatkan barang dan jasa yang diperlukan oleh instansi dilihat dari kebutuhan dan penggunaannnya. Menurut Kristianten (2006:73) menyebutkan bahwa transparansi dapat diukur melalui beberapa indikator: a) Kesediaan dan aksesibilitas dokumen b) Kejelasan dan kelengkapan informasi c) Keterbukaan proses d) Kerangka regulasi yang menjamin transparansi.

(46)

Berdasarkan uraian-uraian di atas mengenai trasnparansi pengadaan barang/jasa pada kantor layanan pengadaan secara elektronik kota Makassar, maka peneliti membuat kerangka konseptual, yang dituangkan dalam skema sebagai berikut:

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Transparansi Pengadaan barang/Jasa secara Elektronik Kota Makassar

TRANSPARANSI 1. Kesediaan dan aksesibilitas dokumen pengadaan barang/jasa. 2. Kejelasan dan kelengkapan informasi pengadaan barang/jasa. 3. Keterbukaan proses pengadaan barang/jasa. 4. Kerangka regulasi yang menjamin transparansi.

Faktor Pendukung Faktor Penghambat

Transparansi pengadaan barang/jasa secara Elektronik di

(47)

E. Fokus Penelitian

Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah transparansi pengadaan barang/jasa di kantor layanan pengadaan secara elektronik Kota Makassar dan berdasarkan sketsa kerangka konseptual penelitian tersebut, yang menjadi fokus penelitian ini adalah:

a) Transparansi sebagai regulator

1. Kesediaan dan aksesibilitas dokumen. 2. Kejelasan dan kelengkapan informasi. 3. Keterbukaan Proses.

4. Kerangka regulasi yang menjamin transparansi. b) Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat transparansi.

F. Deskripsi Fokus Penelitian

Penelitian pada sasarannya memerlukan adanya batasan terhadap penelitian guna untuk menggambarkan fenomena yang hendak diteliti secara cepat, digunakan sebagai batasan-batasan agar penelitian dapat tepat pada sasarannya, dan berkenan dengan hal ini maka penulis mencoba merumuskan, yaitu Transparansi Pengadaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar sebagai tingkat seberapa jauh pengadaan barang/jasa dikantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar.

1) Kesediaan dan aksesibilitas dokumen adalah Penyediaan dan akses informasi yang akurat dan tepat waktu tentang perencanaan, prosedur pelaksanaan dan pertanggungjawaban oleh pemerintah untuk melakukan pengadaan barang/jasa

(48)

terhadap masyarakat yang melakukan pelelangan yang dijamin oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik.

2) Kejelasan dan kelengkapan informasi adalah Penyediaan informasi yang jelas tentang prosedur dan biaya yang disediakan pemerintah untuk masyarakat yang melakukan pelelangan secara transparan oleh Layanan Pengadaan secara Elektronik.

3) Keterbukaan Proses adalah Kemudahan akses informasi dan proses lelang untuk masyarakat yang disediakan oleh Layanan Pengadaan secara Elektronik. 4) Kerangka regulasi yang menjamin transparansi adalah Menyusun suatu

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan 2 bulan setelah ujian proposal, penelitian ini yang berlokasi di Kantor Walikota Unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik Jl. Ahmad Yani No. 2, Bulo Gading, Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan dari tanggal 22 juni 2020 sampai 22 agustus 2020.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah tipe penelitian kualitatif, yaitu untuk menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti atau penelitian yang dilakukan sehingga memudahkan penulis untuk mendapatkan data yang objektif dalam rangka mengetahui dan memahami seperti apa Pengadaaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar. 2. Tipe penelitian

Tipe penelitian yang digunakan adalah fenomenologi yaitu peneliti melakukan pengumpulan data dengan observasi partisipan untuk mengetahui fenomena esensial partisipan dalam pengalaman informan (Sugiyono, 2012).

(50)

C. Jenis dan Sumber Data

Sumber data dalam hal ini merupakan segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data berdasarkan sumbernya, adapun data yang dibedakan menjadi bagian yaitu sebagai berikut:

1. Data primer (data utama) merupakan data yang didapat langsung dari sumber asli, yaitu hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap informan mengenai bagaimana Pengadaaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar.

2. Data sekunder merupakan data penelitian yang didapat peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Adapun data sekunder yakni berupa data literature, artikel, jurnal, serta dari situs yang berkaitan di internet yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.

D. Informan Penelitian

Pemilihan informan dalam hal ini dilakukan secara proporsive atau sengaja dipilih yang didasarkan pertimbangan bahwa untuk memperoleh data yang akurat sesuai dengan keperluan peneliti maka dipilih orang-orang yang berkompeten untuk memberikan informasi serta data yang akurat dan akuntabel mengenai Pengadaaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar Informan dalam penelitian ini adalah:

(51)

TABEL 1.1

DATA INFORMAN PENELITIAN

NO Nama Inisial Jabatan

1 Dr. Ir. H. Muh. Fuad Azis DM, ST.M.SI MF Kepala bagian layanan pengadaan barang/jasa 2 Surahman Suriady, ST. MM SS Kepala sub bagian pelaksana pengadaan

3 Muhammad Jusriadi, S.Kom MJ Kepala sub bagian layanan pengadaan secara elektronik

4 Idham Umakaapa, SE, MM IU Kepala sub bagian monitoring dan evaluasi

5 Endang Nasriani, SE EN Pengguna LPSE

6 Dandi Ahmad DA Pengguna LPSE

7 Sandy Trisno ST Pengguna LPSE

Sumber. Informan Penelitian (2020)

Berdasarkan petunjuk dari informan awal seperti rancangan tabel informan di atas peneliti mengembangkan penelitian ke informan lainnya, begitu seterusnya sampai penelitian dianggap cukup mendapatkan informasi yang dibutuhkan, proses penelitian menggunakan teknik Purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan penilaian peneliti mengenai siapa-siapa saja yang pantas untuk dijadikan sampel, oleh karenanya agar tidak sangat subjektif, peneliti harus punya latar belakang pengetahuan tertentu mengenai sampel yang dimaksud agar benar-benar bisa mendapatkan sampel yang sesuai dengan persyaratan atau tujuan penelitian (memperoleh data yang akurat).

(52)

E. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti dalam hal ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu dengan triangulasi/gabungan Tringulasi dapat diartikan sebagai teknik dalam pengumpulan data yang bersifat menyatukan dari berbagai suatu sumber data yang telah ada dengan teknik pengumpuln data.

1. Observasi

Observasi dalam hal ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mendukung dan menyukseskan Pengadaaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk mengambil data yang akurat dan akuntabel di kantor regional 6 sulawesi, maluku dan papua. Dalam rangka mengumpulkan data pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar dapat melihat Pengadaaan Barang/Jasa di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kota Makassar.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mengumpulkan data dengan cara mengambil data-data dari catatan, arsip, administrasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Dalam hal ini dokumentasi merupakan hal yang penting dalam membuktikan validitas sebuah data ataupun hasil penelitian maka dianggap perlu oleh peneliti mengambil dokumentasi pada setiap

(53)

kegiatan penelitian yang dilakukan, dokumentasi yang akan diambil yaitu berbentuk rekaman atau foto.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data ialah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana data yang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan untuk sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Dalam model ini terdapat 3 (tiga) komponen pokok, menurut pendapat Miles dan Huberman (Sugiyono, 2012) ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Reduksi Data (data reduction)

Yakni Data yang di peroleh dilapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu sangat perlu dicatat dengan rinci dan teliti. Seperti yang telah di kemukakan, makin lama peneliti di lapangan maka jumlah data juga akan semakin banyak, kompleks dan rumit. untuk itu perlu juga segera dilakukan tindakan analisis data dan melalui reduksi data berarti merangkum dan memilih hal-hal yang pokok saja, memfokuskan pada hal-hal yang dianggap penting, dan dicari bentuk dan temanya serta membuang yang tidak terlalu diperlukan dalam hal ini yaitu data yg tidak begitu penting.

2. Penyajian Data (data display)

Dalam suatu penelitian kualitatif, penyajian data bisa dapat dilakukan dalam suatu bentuk uraian singkat dan bagan dan kaitan antara kategori dan sejenisnya.

(54)

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (conclusion drawing and verification). Merupakan suatu analisis data kualitatif seperti penarikan

kesimpulan dan pengecekan/verifikasi. Bentuk kesimpulan awal yang dibuat masih bersifat sementara, dapat berubah bila tidak ditemukan bukti yang kuat, yang dapat mendukung tahap pengumpulan data berikutnya.

Tetapi apabila kesimpulan data yang dikemukakan sebelumnya pada tahap pertama, didukung oleh suatu bukti yang valid, kuat dan konsisten saat peneliti telah kembali kelapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang sebelumnya di kemukakan harus merupakan kesimpulan yang kridibel.

G. Keabsahan Data

Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitas data adalah dengan triangulasi. Triangulasi dapat dikatakan sebagai pengecekan, pengujian data dari berbagai sumber-sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Lebih lanjut triangulasi dapat dibagi ke dalam tiga macam, yaitu:

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara memeriksa data/menguji data yang telah didapat melalui beberapa sumber, dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan data dan pengujian data yang sudah di dapat melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen yang ada, kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara dan membandingkan hasil dari wawancara dengan dokumen yang ada.

(55)

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara memeriksa data kepada Sumber-sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda, dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu di cek dengan observasi dan dokumen, apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya bisa benar karena mempunyai sudut pandang yang masing-masing berbeda-beda.

3. Triangulasi Waktu

Waktu dapat juga mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara pada saat di pagi hari, saat narasumber masih segar, belum banyak masalah dan akan memberikan data, yang lebih valid sehingga akan lebih kredibel. Untuk itu dalam hal ini bentuk pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan wawancara dan pengecekan, obsevasi atau menggunakan teknik lain dalam situasi dan waktu yang berbeda.

Jika hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka harus dilakukan secara berulang-ulang hingga dapat sampai ditemukan kepastian datanya. Triangulasi juga dapat dilakukan dengan cara memeriksa hasil penelitian, dari tim peneliti yang lain yang juga diberi tugas untuk melakukan pengumpulan data.

(56)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

a. Profil kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa E-Kota Makassar.

Dengan ditetapkannya UU No. 25 tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional (SPPN), diamanatkan bahwa setiap daerah harus menyusun rencana pembangunan daerah secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh dan tanggap terhadap perubahan, dengan jenjang perencanaan yaitu perencanaan jangka panjang, perencanaan jangka menengah maupun perencanaan tahunan. Untuk setiap daerah (kabupaten/kota) harus menetapkan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) daerah, rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) daerah dan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD).

Sementara itu paralel dengan pembuatan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD), sesuai dengan pasal 7 UU Nomor 25 tahun 2004 juga mewajibkan setiap SKPD membuat dan memiliki rencana kerja (Renja) SKPD, yang disusun dengan berpedoman kepada renstra SKPD dan mengacu kepada RKPD, sedangkan RKPD dijadikan dasar penyusunan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD), kebijakan umum anggaran (KUA) dan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS). Dasar hukum penyusunan rencana kerja Biro Bina Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014 adalah:

(57)

1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 125); 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang

Perimbangan Keuangan antar Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 No. 126, Tambahan Lembaran Negara No. 4438); 4. Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Permendagri

Nomor 13 Tahun 2006, tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 5. Permendagri Nomor 26 Tahun 2006 tanggal 1 September 2006, tentang

Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2007;

6. Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 Tanggal 21 Oktober 2010, tentang Pelaksanaan PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Buku IV) Tahapan dan Tata Cara Penyusunan Rencana Kerja Satuan Perangkat Daerah (RENJA);

7. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2008, tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan;

8. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 05 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok dan Rincian Tugas Jabatan Struktural pada Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan;

(58)

9. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 10 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2008 – 2028; 10. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2013

tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013 – 2018;

11. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2014 Buku I dan II sebagai Tindak Lanjut Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 20 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan 2014.

Figur

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Gambar 2.1

Bagan Kerangka Pikir p.46
Table 2.2  Kepala bagian layanan pengadaan barang

Table 2.2

Kepala bagian layanan pengadaan barang p.59
Related subjects :