4.2 HASIL PENELITIAN
4.2.1 Data Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 3(tiga) kali pertemuan pada pokok bahasan yaitu pada pertemuan pertama tentang usaha-usaha persiapan kemerdekaan, pertemuan kedua tentang perumusan pancasila dan pertemuan ke tiga tentang peristiwa menjelang proklamasi.Penelitian dilaksanakan pada dua kelas yakni kelas VA berfungsi sebagai kelas eksperimen I menggunakan model pembelajaran STAD (Student Team Achivement Devision) dan kelas VB sebagai kelas eksperimen II menggunakan model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) . Penelitian ini melibatkan guru kelas V berperansebagai pengajar dalam pembelajaran di kelas V SDN Wates 01 Semarang dengan menerapkan model pembelajaran.
Data yang dikumpulkan peneliti dalam penelitian ini yaitu berupa data hasil belajar aspek kognitif siswa yang pada pelajaran IPS menggunakan instrumen tes hasil belajar yang diberikan sebagai tes kemampuan awal (pretest) dan tes kemampuan akhir (posttest). Penelitian ini juga didukung dengan lembar observasi untuk mengamati aktivitas setiap siswa selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung.
4.2.1.1 Aktivitas Belajar Siswa
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang menimbulkan kemampuan dapat berupa hasil utama pengajaran (instructional effect) maupun hasil sampingan pengiring (nurturant effect) (Purwanto, 2013:49). Setiap kegiatan belajar diperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar yang diperoleh siswa untuk menguji kemampuan siswa tehadap materi yang dipelajari. Pada dasarnya hasil belajar dipandang sebagai perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami kegiatan belajar mengajar.
Dalam penelitian ini observasi aktivitas siswa dilakukan sesuai dengan instrumenaktivitas siswa yang telah direncanakan dan berdasarkan hasil pengamatan langsung pada saat proses pembelajaran di kelas V SDN Wates 01 Semarang.
Penilaian aktivitas belajar siswa dalam penelitian dilakukan pada kedua kelas, yaitu kelas eksperimen I dengan menerapkan model pembelajaran STAD dan kelompok eksperimen II dengan menerapkan model pembelajaran PBL. Aktivitas belajar siswa dinilai berdasarkan instrumen lembar aktivitas belajar siswa dengan berpedoman pada lembar deskriptor pedoman observasi aktivitas belajar siswa. Pada lembar pengamatan aktivitas belajar siswa, terdapat 10 aspek yang diamati. Setiap aspek dinilai dengan skor berskala 1 sampai 4, sehingga skor maksimal yang diperoleh 40. Dari hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II dapat dibuatkan tabel-tabel sebagai berikut:
Tabel 4.1
Nilai Aktivitas Siswa kelas eksperimen I dengan model Pembelajaran STAD Pertemuan
Aspek yang diamati
Jumlah Nilai % Katagori 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2,9 2,4 2,1 2,7 2,4 2,5 2,1 2,0 3,2 2,3 24,6 61,4 Baik 2 3,7 3,1 2,7 2,9 3,2 3,1 2,9 2,1 3,3 3,0 30,0 75,1 Baik 3 4,0 3,0 3,0 3,0 3,4 3,6 3,4 3,0 3,7 3,0 33,0 82,6 Sangat baik Rata-Rata 29,2 73,0 Baik Keterangan:
1. Kesiapan dalam belajar
2. Menanggapi apersepsi sesuai dengan materi
3. Aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan 4. Memperhatikan penjelasan materi pembelajaran
5. Melaksanakan kegiatan belajar kelompok 6. Menyusun Laporan kelompok
7. Mempresentasikan hasil kerja kelompok 8. Menanggapi hasil diskusi kelompok lain. 9. Antusias siswa dalam mengerjakan kuis.
Hasil pengamatan secara keseluruhan tiga kali pertemuan aktivitas siswa pada kelas eksperimen I dalam pembelajaran IPS melalui model pembelajaran STAD menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada ptemuan I dengan jumlah skor rata-rata adalah 29,2 dalam pembelajaran masuk dalam kategori baik. Aspek yang diamati sebagai berikut:
a. Kesiapan dalam belajar
Indikator kesiapan dalam belajar pada kelas eksperimen I pertemuan pertama mencapai rata-rata 2,9 pada pertemuan kedua mencapai rata-rata 3,7 dan pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 4,0. Selisih rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,8. Hal ini membuktikan bahwa terdapat peningkatan dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua. Pada pertemuan ketiga mencapai rata-rata 4,0. Selisih rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan ketiga dan kedua sebesara 0,3. Hal ini menunjuka adanya peningkatan aktivitas siswa pada indikator kesiapan dalam belajar.
b. Menanggapi apersepsi sesuai dengan materi
Indikator Menanggapi apersepsi sesuai dengan materi pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata 2,4 pertemuan kedua memperoleh rata-rata 3,1 dan pertemuan ketiga memperoleh rata-rata 3,0. Selisih rata-rata aktivits siswa pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,7. Artinya terdapat peningkatan rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan kedua meningkat sebesar 0,7. Pada pertemuan ketiga rata-rata aktivitas siswa menurun sebesar 0,1 hal ini disebabkan siswa belum menguasai materi yang diajarkan.
Indikator aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan memperoleh rata-rata 2,1 pada pertemuan pertama, memperoleh rata-rata 2,7 pada pertemuan kedua, dan memperoleh rata-rata 3,0 pada pertemuan ketiga. Selisih pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,6. Hal ini menunjukan bahwa pada pertemuan kedua peningkatan aktivitas siswa yaitu sebesar 0,6. Sementara itu, selisih rata-rata pada pertemuan kedua dan ketiga sebesara 0,3. Arinya pada pembelajaran ketiga aktivitas siswa pada indikator aktif bertanya dan menjawab pertanyaan mengalami peningkatan.
d. Memperhatikan penjelasan materi pembelajaran
Pada indikator Memperhatikan penjelasan materi pembelajaran pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata 2,7 pada pertemuan pertama, 2,9 pada pertemuan kedua dan 3,0 pada pertemuan ketiga. Selisih pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,2. Artinya pada pembelajaran kedua rata-rata aktivitas siswa meningat. Sementara itu, selisih pada pertemuan kedua dan ketiga sebesar 0,1. Artinya pada pembelajaran ketiga aktiviras siswa mengalami peningkatan
e. Melaksanakan kegiatan belajar kelompok
Indikator Melaksanakan kegiatan belajar kelompok pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata 2,3, pada pertemuan kedua memperoleh rata-rata 3,2 dan pertemuan ketiga memperoleh rata-rata 3,4. Selisih rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 1,1. Selisih rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan kedua dan ketiga sebesar 0,2. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan rata-rata dari pertemuan
pertama, kedua dan ketiga setelah memperoleh pembelajaran dengan menggunakan model STAD.
f. Menyusun Laporan kelompok
Indikator menyusun laporan kelompok mengalami peningkatan pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga. Hal ditunjukan dengan rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan pertama sebesar 2,5 pertemuan kedua sebesar 3,1 dan pertemuan ketiga 3,6. Selisih pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,6. Artinya pada pertemuan kedua rata-rata aktivitas siswa mengalami pengkatan. Selisih pertemuan ketiga dan kedua sebesar 0,5. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan rata-rata dari pertemuan pertama, kedua dan ketiga
g. Mempresentasikan hasil kerja kelompok
Pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata sebesar 2,1 pada pertemuan kedua meningkat sebesar 2,9. Selisih pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,8. Artinya pada pertemuan kedua rata-rata aktivitas siswa mengalami pengkatan. Pertemuan ketiga memperoleh rata-rata sebesar 3,4. Selisih pertemuan ketiga dan kedua sebesar 0,5. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan rata-rata dari pertemuan pertama, kedua dan ketiga. h. Menanggapi hasil diskusi kelompok lain.
Pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata sebesar 2,0 pada pertemuan kedua meningkat sebesar 2,1. Selisih pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,1. Artinya pada pertemuan kedua rata-rata aktivitas siswa mengalami pengkatan. Pertemuan ketiga memperoleh rata-rata sebesar 3,0. Selisih pertemuan ketiga dan
kedua sebesar 0,9. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan rata-rata dari pertemuan pertama, kedua dan ketiga. i. Antusias siswa dalam mengerjakan kuis.
Pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata sebesar 3,2 pada pertemuan kedua meningkat sebesar 3,3. Selisih pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,1. Artinya pada pertemuan kedua rata-rata aktivitas siswa mengalami pengkatan. Pertemuan ketiga memperoleh rata-rata sebesar 3,7. Selisih pertemuan ketiga dan kedua sebesar 0,4. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan rata-rata dari pertemuan pertama, kedua dan ketiga. j. Menyimpulkan hasil pembelajaran
Pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata sebesar 2,3 pada pertemuan kedua meningkat sebesar 3,0. Selisih pada pertemuan pertama dan kedua sebesar 0,7. Artinya pada pertemuan kedua rata-rata aktivitas siswa mengalami pengkatan. Pertemuan ketiga memperoleh rata-rata sebesar 3,0. Selisih pertemuan ketiga dan kedua sebesar 0,0. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan rata-rata dari pertemuan pertama dan kedua dan ketiga tidak mengalami peningkatan.
Pengolahan data nilai aktivitas siswa pada kelas eksperimen I berbentuk tabel tersebut, selanjutnya dikaji kembali bersama guru kelas untuk kemudian diolah dalam bentuk diagram batang dengan tujuan untuk lebih memperjelas data nilai aktivitas siswa pada kelas eksperimen Ipada pembelajaran pertama, pembelajaran kedua dan pembelajaran ketiga. Dari tabel 4.1 selengkapnya disajikan dalam diagram berikut:
Gambar 4.1: Diagram Batang Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen I
Diagram batang di atas menjelaskan bahwa aktivitas siswa kelas eksperimen I dengan menerapkan model STAD pada pertemuan 1 berjumlah 24,6 dengan kriteria baik, pada pertemuan 2 berjumlah 30 dengan kriteria baik dan pada pertemuan 3 meningkat menjadi 33 dengan kriteria sangat baik.
Tabel 4.2
Nilai Aktivitas Belajar Siswa Kelas Eksperimen II Dengan Model Pembelajaran PBL
Perte muan
Aspek yang diamati
Jumlah Nilai % Kategori 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2,2 2,4 2,1 2,4 2,6 2,5 3,2 2,1 2,4 2,1 24,0 59,9 Baik 2 3,5 2,4 2,4 3,0 3,1 3,1 3,0 2,7 2,7 2,3 28,2 70,5 Baik 3 3,9 2,8 2,6 3,3 3,1 3,3 3,1 3,0 3,1 2,5 30,6 76,6 Baik Sekali Rata-Rata 27,6 69 Baik 24.6 30 33 0 5 10 15 20 25 30 35
pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3