Peneliti melakukan penelitian tentang hubungan postur kepala dengan overjet dan overbite pada pasien anak di RSGM USU. Sampel penelitian berjumlah 90 sefalogram lateral dan model studi. Pengukuran overjet dan overbite dilakukan dengan menggunakan kaliper digital pada masing-masing model studi. Pengukuran postur kepala dilakukan dengan memindai hasil sefalogram lateral kemudian diukur menggunakan aplikasi Corel Draw. Pengukuran postur kepala diukur melalui sudut kranioservikal NSL/CVT. Sudut NSL/CVT ditentukan dari garis Nasion-Sella ke garis singgung vertebra servikal yaitu dari titik posterosuperior pada vertebra servikal kedua ke titik posteroinferior pada vertebra servikal keempat. Perhitungan distribusi frekuensi pengaruh overjet pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dapat dilihat di Tabel 4.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Hubungan Overjet dengan Postur Kepala Normal dan Extended pada Anak Usia Tumbuh Kembang di RSGM USU
Postur Kepala
Overjet
Total P Terbalik Kecil Normal Besar
Normal 8 (17,8%) 4 (8,9%) 9 (20,0%) 24
Pengukuran overjet dilakukan dengan mengukur jarak horizontal antara permukaan labial mahkota insisivus sentral bawah dengan permukaan labial mahkota insisivus sentralis atas dengan menggunakan kaliper digital pada model studi.
Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4, terdapat 45 sampel dengan postur
kepala normal, 8 sampel (17,8%) dengan overjet terbalik, 4 sampel (8,9%) dengan overjet kecil, 9 sampel (20,0%) dengan overjet normal dan 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar. Kemudian terdapat 45 sampel dengan postur kepala extended, 3 sampel (6,7%) dengan overjet terbalik, 4 sampel (8,9%) dengan overjet kecil, 14 sampel (31,1%) dengan overjet normal dan 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar.
Perhitungan distribusi frekuensi overjet pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square untuk menguji apakah tedapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet. Berdasarkan hasil uji Chi-Square postur kepala dengan overjet pada Tabel 4 diperoleh nilai p untuk overjet adalah 0,334 >
0,05 maka disimpulkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet. Selanjutnya perhitungan distribusi frekuensi overbite pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dapat dilihat di Tabel 5.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Hubungan Overbite dengan Postur Kepala Normal dan Extended pada Anak Usia Tumbuh Kembang di RSGM USU
Postur
Pengukuran overbite dilakukan dengan mengukur jarak vertikal antara permukaan labial mahkota insisivus sentral bawah dengan permukaan labial mahkota insisivus sentralis atas menggunakan kaliper digital pada model studi. Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 5, terdapat 45 sampel dengan postur kepala normal, 8 sampel (17,8%) dengan open bite, 2 sampel (4,4%) dengan overbite kecil, 3
sampel (6,7%) dengan overbite normal dan 32 sampel (71,1%) dengan deep bite.
Kemudian terdapat 45 sampel dengan postur kepala extended, 3 sampel (6,7%) dengan open bite, 1 sampel (2,2%) dengan overbite kecil, 10 sampel (22,2%) dengan overbite normal dan 31 sampel (68,9%) deep bite.
Perhitungan distribusi frekuensi overbite pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square untuk menguji apakah tedapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overbite. Berdasarkan hasil uji Chi-Square postur kepala dengan overbite pada Tabel 5 diperoleh nilai p untuk overbite adalah 0,07>0,05 maka disimpulkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet.
BAB 5 PEMBAHASAN
Postur kepala merupakan ciri khas atau karakteristik tertentu dari masing-masing individu. Analisis sefalometri merupakan pengukuran atau penilaian postur kepala yang dapat menggambarkan pola pertumbuhan kraniofasial, kelainan dentofasial dan pertumbuhan wajah seseorang yang berguna dalam menentukan rencana perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan postur kepala dengan overjet dan overbite pada pasien anak tumbuh kembang di RSGM USU. Data penelitian ini diperoleh dengan cara menganalisis sefalogram lateral dengan menggunakan program komputer Corel Draw dan mengukur model studi dengan menggunakan kaliper digital.
Tabel 4 menunjukkan distribusi frekuensi overjet pada sampel postur kepala normal dan extended. Tabel tersebut menunjukkan bahwa sampel postur kepala extended dan postur kepala normal memiliki distribusi frekuensi overjet besar yang sama. Hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square menunjukkan pada postur kepala normal terdapat 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar dan pada postur kepala extended terdapat 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet karena nilai p=0,334 (p<0,05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alkofide dkk., pada tahun 2007 (pada 180 subjek di Saudi Arabia) dengan hasil yang tidak signifikan antara overjet dengan postur kepala. Berdasarkan hasil penelitian Alkofide dkk., postur kepala extended lebih banyak ditemukan pada maloklusi skeletal klas II. Sampel yang digunakan pada penelitian tersebut dibedakan berdasarkan jenis kelamin, ras, dan klas skeletal yang diambil secara tidak homogen, sehingga menimbulkan perbedaan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Alkofide., dkk dan peneliti, peneliti juga menemukan postur kepala extended lebih banyak terjadi pada maloklusi skeletal klas II dengan pengklasifikasian klas skeletal secara homogen.11
Hasil yang ditunjukkan pada tabel 4 bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Tankhiwale dkk., pada tahun 2018 (pada 60 subjek di India) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara postur kepala extended dengan overjet, pada sampel postur kepala extended memiliki overjet lebih besar 1,3 mm dibandingkan dengan sampel postur kepala normal. Hal ini dikarenakan pada postur kepala extended, terjadi tekanan pada perkembangan wajah yang menyebabkan retrognasi mandibula dan retroklinasi dari insisivus bawah sehingga menyebabkan jarak horizontal antara insisivus atas dan bawah menjadi semakin besar dan menyebabkan peningkatan overjet.22 Schwartz menyatakan bahwa postur kepala berhubungan dengan maloklusi skeletal, dimana postur kepala extended lebih banyak terjadi pada maloklusi skeletal klas II (cit. Schwartz 1926).6
Tabel 5 menunjukkan distribusi frekuensi overbite pada sampel postur kepala normal dan extended. Tabel tersebut menunjukkan bahwa sampel postur kepala normal memiliki distribusi frekuensi deepbite lebih besar daripada sampel postur kepala extended. Hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square menunjukkan pada postur kepala normal terdapat 32 sampel (71,1%) dengan deep bite dan pada postur kepala extended terdapat 31 sampel (68,9%) dengan deep bite. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overbite karena nilai p=0,07 (p<0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alkofide dkk., pada tahun 2007 (pada 180 subjek di Saudi Arabia) dengan hasil yang signifikan antara postur kepala dengan overbite.11 Hasil yang sama juga dikemukankan oleh Tankhiwale dkk., pada tahun 2018 (pada 60 subjek di India) bahwa sampel postur kepala extended memiliki overbite lebih besar 1,2 mm dibandingkan sampel postur kepala normal. Tankhiwale dkk., menyatakan bahwa hubungan antara postur kepala dengan overbite tersebut karena terdapat overbite yang lebih besar pada pasien klas II skeletal, dimana pada pasien klas II skeletal sering dijumpai postur kepala extended.22
Perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh Alkofide dkk., Tankhiwale dkk., dan peneliti karena pada anak usia tumbuh kembang secara alami memiliki postur yang baik dan apabila terdapat kelainan postur akan terlihat saat memasuki
usia dewasa yang disebabkan oleh beberapa faktor yang memengaruhi, salah satunya durasi waktu.22 Hal ini membuktikan bahwa maloklusi pada anak usia tumbuh kembang tidak hanya dipengaruhi oleh adanya kelainan postur, tetapi adanya faktor kompleks lain yang berperan seperti faktor waktu, jenis kelamin, ditribusi rentang usia, ras/suku, kebiasaan buruk, dan aktivitas sehari-hari yang dilakukan terus menerus secara bersamaan dengan faktor lainnya sehingga dapat menimbulkan terjadinya maloklusi, malposisi, malpostur, dan sebagainya.18
BAB 6