HUBUNGAN POSTUR KEPALA DENGAN OVERJET DAN OVERBITE PADA PASIEN ANAK
USIA TUMBUH KEMBANG DI RSGM USU
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
DINDA TRI YULIANA NIM: 160600037
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2020
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ortodonsia
Tahun 2020
Dinda Tri Yuliana
Hubungan Postur Kepala dengan Overjet dan Overbite pada Anak Usia Tumbuh Kembang di RSGM USU
xi + 43 halaman
Postur kepala merupakan ciri khas atau karakteristik tertentu dari masing- masing individu. Analisis sefalometri merupakan pengukuran atau penilaian postur kepala yang dapat menggambarkan pola pertumbuhan kraniofasial, kelainan dentofasial dan pertumbuhan wajah seseorang yang berguna dalam menentukan rencana perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan postur kepala dengan overjet dan overbite pada pasien anak tumbuh kembang di RSGM USU.
Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penelitian sebanyak 90 sampel yang terdiri dari sefalogram lateral, model studi, dan data pasien RSGM USU. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Sampel yang sudah dipilih dilakukan pengukuran postur kepala dengan memindai hasil gambar sefalogram lateral kemudian diukur menggunakan aplikasi Corel Draw. Pengukuran postur kepala diukur melalui sudut kranioservikal NSL/CVT. Selanjutnya dilakukan pengukuran overjet dan overbite pada model studi dengan menggunakan kaliper digital. Kemudian dilakukan pengolahan data dengan program statistik secara komputerisasi.
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dengan overjet karena memiliki nilai p=0,334 (p<0,05) dan overbite karena memiliki nilai p=0,07 (p<0,05). Hal ini menyimpulkan bahwa hipotesis dari penelitian ini ditolak karena postur kepala tidak berkaitan secara langsung dengan overjet dan overbite.
Daftar Rujukan: 33 (1972-2018)
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi penelitian
Medan, 31 Maret 2020
Pembimbing TandaTangan
Aditya Rachmawati, drg., Sp.Ort.(K) ...
NIP: 19840301 200912 2 003
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 31 Maret 2020
TIM PENGUJI
KETUA : Aditya Rachmawati, drg., Sp.Ort.(K) ANGGOTA : 1. Muslim Yusuf, drg., Sp.Ort.(K)
2. Erliera, drg., Sp.Ort (K)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Postur Kepala dengan Overjet dan Overbite pada Anak Usia Tumbuh Kembang di RSGM USU” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak menerima bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati dan penghargaan yang tulus, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Dr. Trelia Boel, drg., MKes., Sp.RKG.(K). selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Siti Bahirrah, drg., Sp.Ort.(K). selaku Kepala Departemen Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Sumatera Utara.
3. Aditya Rachmawati, drg., Sp.Ort.(K). selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
4. Muslim Yusuf, drg., Sp.Ort.(K). dan Erliera, drg., Sp.Ort (K). selaku dosen penguji skripsi yang telah meluangkan waktu dan memberikan saran serta masukan kepada penulis.
5. Seluruh staf pengajar dan pegawai Departemen Ortodonsia FKG Universitas Sumatera Utara atas bantuan dan motivasinya.
6. Aditya Rachmawati, drg., Sp.Ort.(K). selaku dosen pembimbing akademik atas motivasi dan bantuannya kepada penulis selama masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
7. Rasa terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada Ayahanda Sutikno dan Ibunda Nurhayati br. Tambunan atas segala kasih sayang, doa, dan dukungan serta bantuan, baik berupa moral maupun materi kepada penulis.
8. Eka Frisnarany, Ery Kurniawan, dan Dimas Rizky Ezi Wijaya selaku saudara kandung yang selalu memberikan dorongan, hiburan, dan semangat kepada penulis.
9. Rio Hadiantoro, Siti Aminah, Annisa Putri Mutia Harahap, Fitri Ramadhani Munthe, Putri Armadhani Harahap, Dini Aulia selaku sahabat yang selalu menghibur penulis dan sahabat seperjuangan skripsi di Departemen Ortodonsia yaitu Novi Olmari Siregar, Maryam Nabillah, Kristanto, Nurul Maulydina, Jasver Fulvian, Lea, Haliza Nanda Asti, Christine serta teman berbagi kisah yaitu Juli Hafriyanti, Widya Nurul, Aurellia Gema Reska, Fitri Jms, Meutia Salsadina, Della Andriyani, Sella Haryani, seluruh teman-teman angkatan 2016, senior, dan junior yang tidak disebutkan satu per satu atas doa, bantuan, semangat dan dukungannya dalam segala hal kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.
Akhir kata penulis mengharapkan skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, khususnya di Departemen Ortodonsia.
Medan, 31 Maret 2020 Penulis,
Dinda Tri Yuliana NIM: 160600037
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN ...
HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Hipotesis Penelitian ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
1.5.1 Manfaat Teoritis ... 4
1.5.2 Manfaat Praktis ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Postur Tubuh ... 5
2.2 Postur Kepala ... 7
2.2.1 Metode Pengukuran Postur Kepala ... 8
2.3 Oklusi ... 12
2.4 Maloklusi ... 13
2.4.1 Klasifikasi Maloklusi ... 13
2.4.2 Etiologi Maloklusi ... 14
2.4.3 Karakteristik Maloklusi ... 15
2.4.4 Overjet ……… ... 16
2.4.5 Overbite ... 17
2.5 Hubungan Postur Kepala dan Maloklusi ... 18
2.6 Kerangka Teori ... 20
2.7 Kerangka Konsep ... 21
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN... 22
3.1 Desain Penelitian ... 22
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 22
3.3 Populasi Penelitian ... 22
3.4 Sampel Penelitian ... 22
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 22
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 23
3.4.3 Besar Sampel ... 23
3.5 Variabel Penelitian ... 24
3.5.1 Variabel Bebas ... 24
3.5.2 Variabel Terikat ... 24
3.5.3 Variabel Terkendali ... 24
3.5.4 Variabel Tidak Terkendali ... 25
3.6 Definisi Operasional ... 25
3.7 Sarana Penelitian ... 27
3.7.1 Alat ... 27
3.7.2 Bahan... 28
3.8 Prosedur Penelitian ... 28
3.9 Pengolahan dan Analisis Data ... 31
3.9.1 Pengolahan Data... 31
3.9.2 Analisis Data ... 31
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 33
BAB 5 PEMBAHASAN ... 36
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 39
6.1 Kesimpulan ... 39
6.2 Saran ... 39
DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Titik garis referensi pengukuran postur kepala ... 9 2. .Garis referensi pengukuran postur kepala ... 10 3. Sudut pada pengukuran postur kepala ... 10 4. Distribusi frekuensi hubungan overjet dengan postur kepala normal
dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU ... 33 5. Distribusi frekuensi hubungan overbite dengan postur kepala
normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM
USU... 34
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Postur tubuh pandangan lateral ... 6
2. Postur tubuh pandangan frontal ... 6
3. Foto sefalogram lateral postur kepala ... 8
4. Sudut postur kepala menurut Solow dan Tallgren ... 9
5. Titik, garis dan sudut referensi untuk pengukuran postur kepala ... 11
6. Oklusi normal... 12
7. Overjet... 17
8. Overbite... 18
9. Alat penelitian ... 28
10. Bahan penelitian ... 28
11. Tracing foto sefalometri ... 29
12. Hasil tracing paper yang telah disimpan dalam format gambar ... 29
13. Penarikan garis NSL dan CVT ... 30
14. Perhitungan sudut NSL/CVT... 30
15. Pengukuran overjet dan overjet ... 31
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar Riwayat Hidup Peneliti 2. Surat Ethical Clearance
3. Hasil Pengukuran Overjet, Overbite dan Postur Kepala pada Pasien Anak Tumbuh Kembang di RSGM USU
4. Karakteristik Umum Sampel Menurut Postur Kepala, Overjet dan Overbite pada Pasien Anak Tumbuh Kembang di RSGM USU
5. Hasil Pengukuran Distribusi Frekuensi dan Hasil Uji Chi-Square Antara Postur Kepala dengan Overjet pada Pasien Anak Tumbuh Kembang di RSGM USU 6. Hasil Pengukuran Distribusi Frekuensi dan Hasil Uji Chi-Square Antara Postur
Kepala dengan Overbitet pada Pasien Anak Tumbuh Kembang di RSGM USU
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem belajar anak sekolah di Indonesia menghabiskan waktu sekitar 7 jam setiap harinya. Anak yang seharian berada di sekolah menyebabkan tidak memiliki waktu luang di luar sekolah sehingga anak kurang berinteraksi dengan lingkungan luar sekolah dan memilih untuk bermain gawai disela-sela waktu luangnya.1
Menurut hasil penelitian yang diungkapkan oleh Legiran pada tahun 2009, di Indonesia ditemukan kelainan muskuloskeletal pada anak usia sekolah karena adanya kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi pertumbuhan.2 Salah satu kelainan muskuloskeletal pada anak usia tumbuh kembang diakibatkan oleh sistem belajar anak di sekolah yang membutuhkan waktu lama berkisar antara 4-7 jam dalam sehari sehingga posisi duduk anak yang cenderung menunduk dalam aktivitas belajarnya.1 Anak juga diwajibkan oleh sekolah untuk membawa buku pelajaran setiap hari sehingga kebanyakan anak membawa tas dengan berat yang berlebihan. Menurut American Chiropratic Association (ACA), batas berat beban tas punggung yang diperbolehkan untuk dibawa yaitu tidak lebih dari 10-15% berat badan.2-4 Kebanyakan anak saat istirahat lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan bermain gawai. Gawai dengan layar yang kecil mengakibatkan pengguna gawai kesulitan untuk menjaga postur tubuh yang benar sehingga lebih sering menundukkan kepala dalam waktu yang lama.5
Pertumbuhan tulang belakang seorang anak pada fase critical stage dimulai pada umur 10-14 tahun sehingga semua keluhan muskuloskeletal akan dirasakan sebagai nyeri dan rasa tidak nyaman.2 Sikap tubuh yang salah ketika duduk, berdiri, tidur, atau ketika membawa beban yang terlalu berat dapat menyebabkan gangguan pada tulang belakang dan persendian. Posisi ergonomi tubuh adalah faktor yang sangat memengaruhi, salah satunya postur duduk yang dilakukan setiap hari dalam durasi berjam-jam. Posisi duduk berkaitan dengan jaringan otot leher yang
dipaksakan untuk menegakkan tulang leher dengan menahan berat kepala sehingga sistem jaringan otot leher mengalami ketegangan karena harus menahan berat kepala.1 Beban berlebihan yang ditopang bahu saat anak membawa tas punggung mengakibatkan postur kepala condong ke arah depan ketika berjalan sehingga dapat menimbulkan ketegangan otot.3,4
Postur kepala adalah posisi standar kepala terhadap postur tubuh ketika seorang berdiri tegak dan menghadap ke depan. Variasi posisi kepala yaitu, posisi normal (flexed) dan posisi condong ke depan (extended). Postur kepala berhubungan dengan morfologi kraniofasial dan dentofasial.6 Beberapa aspek kondisi perubahan postur kepala, yaitu posisi rahang bawah, gangguan sendi temporomandibular, dan maloklusi dental atau skeletal.7 Maloklusi adalah ketidakseimbangan ukuran dan posisi gigi, tulang wajah dan jaringan lunak (bibir, pipi, dan lidah) sehingga dapat mengganggu kesehatan gigi, estetika, dan fungsional dalam pengunyahan, penelanan, berbicara, serta bernafas.8 Maloklusi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar akibat tingkat kesadaran perawatan gigi yang masih rendah dan adanya kebiasaan buruk dengan prevalensi sebesar 80% di Indonesia.9
Menurut Solow dan Sonnesen, pada maloklusi terdapat postur leher yang cenderung lebih maju. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa overbite, dan overjet berhubungan dengan postur kepala yang dikaitkan dengan sudut kranioservikal yang besar. (cit. Solow dan Sonnesen1998).10 Untuk menganalisis hubungan antara postur kepala dengan overjet dan overbite dapat menggunakan sefalogram lateral melalui titik referensi garis kranium dan tulang servikal kedua dan keempat dengan menggunakan sudut kranioservikal NSL/CVT.11
Alkofide dkk., juga melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara overjet dan postur kepala dengan menggunakan sudut kraniovertikal. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara postur kepala dengan overjet, sehingga Alkofide dkk., menyimpulkan semakin parah overjet, maka semakin kuat hubungan antara keduanya.11
Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sumatera Utara (RSGM USU) merupakan pusat rujukan untuk kasus anak dengan masalah maloklusi pada usia
tumbuh kembang, tepatnya di Departemen Ortodonti. Kesenjangan hasil penelitian antara Solow dan Alkofide mengenai hubungan postur kepala dengan maloklusi menjadi hal yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian mengenai hubungan postur kepala dengan maloklusi pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana distribusi frekuensi hubungan overjet dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU?
2. Bagaimana distribusi frekuensi hubungan overbite dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU?
3. Apakah terdapat hubungan antara overjet dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU?
4. Apakah terdapat hubungan antara overbite dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi hubungan overjet dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU
2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi hubungan overbite dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM
3. Untuk mengetahui adanya hubungan antara overjet dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU
4. Untuk mengetahui adanya hubungan antara overbite dengan postur kepala normal dan extended pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU
1.4 Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan antara postur kepala dengan overjet dan overbite pada pasien anak tumbuh kembang di RSGM USU
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan kedokteran gigi dan penerapannya, khususnya di bidang ilmu Ortodonsia dapat memberikan informasi mengenai hubungan postur kepala dengan overjet dan overbite pada anak usia tumbuh kembang.
2. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu acuan untuk penelitian- penelitian selanjutnya mengenai hubungan postur kepala dengan overjet dan overbite.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Penelitian ini diharapkan dapat membantu ortodontis untuk mengevaluasi postur kepala extended melalui sefalogram lateral.
2. Penelitian ini diharapkan dapat membantu ortodontis untuk mengedukasi pasien mengenai kebiasaan-kebiasaan yang dapat memengaruhi postur kepala.
3. Penelitian ini diharapkan dapat membantu ortodontis untuk menyarankan kepada pasien dengan postur kepala extended agar melakukan pilates untuk mengurangi kelainan pada postur.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Postur Tubuh
Postur tubuh dapat didefinisikan sebagai sikap tubuh yang menggambarkan kebiasaan motorik yang menyertai aktivitas sehari-hari.12 Sikap tubuh merupakan bentuk postur yang diatur oleh sendi secara tepat dengan penyelarasan postur yang berkaitan dengan posisi sendi dan tubuh.13 Postur yang baik adalah bagian tubuh, otot, dan tulang selaras dalam bekerja bersama secara harmonis melindungi tubuh dari cedera atau kelainan yang abnormal.14
Pemeriksaan klinis postur tubuh dapat dilakukan dengan foto pandangan lateral dan frontal. Foto pandangan lateral posisi tubuh berdiri tegak, berkontak dengan dinding, tanpa memakai alas kaki, dan menghadap lurus ke depan dengan posisi bahu dan tangan rileks di samping tubuh untuk mendapatkan posisi kepala dan tubuh yang natural (Gambar 1).15 Postur dievaluasi sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh Kendall yaitu dalam bentuk penyelarasan garis tegak lurus yang ideal dari bidang posterior dan lateral. Penggunaan garis tegak lurus merupakan metode yang sangat umum dilakukan karena caranya yang sederhana dan biaya yang tidak mahal. Metode ini menggunakan label perekat putih untuk menandai letak otot paha yang terbesar, bagian belakang panggul, tulang lutut, dan bahu sebelum dilakukannya perhitungan postur tubuh.16
Postur tubuh ideal yaitu posisi tubuh saat telinga berada sekitar 1 cm di depan garis tegak lurus, tulang belikat dan pinggul berada pada garis yang sama (Gambar 1a). Postur tubuh forward hanya bagian pinggul yang menyentuh dinding dan telinga berada lebih dari 1 cm di depan garis tegak lurus (Gambar 1b). Postur backward hanya tulang belikat dan kepala yang menyentuh dinding sedangkan telinga kurang dari 1 cm di depan garis tegak lurus (Gambar 1c).15
Pemeriksaan frontal dapat digunakan untuk melihat simetrisitas sisi kiri dan kanan tubuh (Gambar 2). Garis tegak lurus dengan lantai digunakan untuk menandai garis tengah tubuh pada foto dan lima garis horizontal yang terdiri dari tiga untuk menggambarkan postur kepala dan dua untuk menggambarkan postur tubuh. Posisi kepala dinilai dengan menarik garis horizontal melalui tragus telinga. Postur kepala yang kurang tepat yaitu saat garis horizontal pada telinga tidak tegak lurus terhadap garis vertikal. Postur tubuh dinilai melalui dua garis yang ditarik dari bahu dan tulang
Gambar 1. Postur tubuh pandangan lateral (A. Postur tubuh ideal; B. Postur tubuh forward; C.
Postur tubuh Backward) 15 A B C
A
Gambar 2. Postur tubuh pandangan frontal15
pinggul. Postur tubuh yang asimetris ketika salah satu garis ini tidak tegak lurus terhadap garis vertikal.15
2.2 Postur Kepala
Postur kepala dan leher adalah bagian dari unit biomekanika fungsional yang disebut sistem mandibula-servikal. Sistem ini terdiri dari tiga struktur utama yaitu sendi temporomandibular, artikulasi aksis oksipital, dan tulang hyoid dengan sistem suspensornya. Ketiga struktur ini berkaitan dengan bagian tubuh lainnya yaitu otot dan ligamen.17
Postur kepala berhubungan dengan morfologi kraniofasial dan dentofasial sehingga posisi natural kepala yang standart dapat dihasilkan saat seseorang berdiri tegak.6 Hal ini dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus, seperti adanya anomali dari tulang belakang, jaringan keloid, komponen saraf. Adaptasi postur kepala yang salah dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan perubahan pada pertumbuhan dan perkembangan dentokraniofasial normal, terutama pertumbuhan dan perkembangan mandibula karena pertumbuhan mandibula masih terjadi hingga akhir masa pertumbuhan walaupun pertumbuhan maksila telah berhenti. Beberapa hasil penelitian menyatakan bawa subjek dengan penyimpangan postur kepala juga mengalami penyimpangan dentokraniofasial. Postur kepala yang menengadah sering dihubungkan dengan wajah anterior tinggi dan wajah posterior yang pendek, besarnya inklinasi mandibula, wajah yang retrognatism, mandibula ke arah bawah dan belakang serta kecilnya lebar antero-posterior kraniofasial.18
Postur kepala terdiri dari postur kepala normal dan postur kepala extended (maju ke depan) (Gambar 3). Postur kepala normal yaitu tinggi wajah anterior yang lebih pendek, dimensi rahang sagital lebih besar dan bidang mandibula lebih rata.
Postur kepala extended sering dihubungkan dengan peningkatan tinggi wajah anterior, penurunan dimensi rahang sagital, dan retrognasi rahang bawah.17, 19, 20, 21
Berbagai macam faktor yang memengaruhi postur kepala extended, misalnya kebiasaan buruk dalam beraktivitas seperti duduk dengan posisi menunduk dalam waktu yang lama, membawa tas ransel dengan berat yang berlebihan, bermain gawai
dengan posisi menunduk dalam waktu yang lama, dan sebagainya. Posisi tubuh yang salah dalam waktu yang lama akan menimbulkan stress yang berkepanjangan pada otot leher dan bahu sehingga dapat mengakibatkan ketegangan pada otot. Obstruksi saluran nafas atas juga biasanya memiliki postur kepala extended, dimana postur kepala yang menengadah akan mempermudah bernafas sehingga posisi mandibula dan lidah akan terletak lebih ke bawah, oleh karena itu pertumbuhan mandibula yang normalnya ke bawah dan ke depan akan cenderung lebih vertikal (ke bawah dan ke belakang) sehingga menimbulkan penyimpangan dentokraniofasial dengan wajah yang hiperdivergen, maloklusi skeletal kelas II Angle dengan profil fasial yang cembung.18
2.2.1 Metode Pengukuran Postur Kepala
Sefalogram lateral diperlukan sebagai alat diagnostik dan evaluatif. Sefalogram lateral memiliki dua tujuan, yaitu untuk menjelaskan rincian hubungan skeletal dan gigi yang tidak dapat diamati dengan cara lain dan untuk mengevaluasi rencana Gambar 3. A. Foto sefalogram lateral postur kepala normal; B. Foto sefalogram
lateral postur kepala extended17
A B
perawatan yang tepat. Postur kepala dan leher dapat diukur dengan menggunakan sefalogram lateral.11,17,19
Menurut Solow dan Tallgren untuk menganalisis postur kepala dapat menggunakan sudut kranioservikal (NSL/OPT, NSL/CVT, NL/CVT, NL/OPT), sudut kraniohorizontal (OPT/HOR dan CVT/HOR) dan sudut kraniovertikal (NSL/VER dan NL/VER) (Gambar 4).12,17,18 Sudut kranioservikal NSL/CVT lebih menunjukkan adanya hubungan yang signifikan terhadap morfologi kraniofasial.20,21
Pengukuran postur kepala dengan menggunakan sudut kranioservikal NSL/CVT memiliki klasifikasi, yaitu: (1) Postur kepala normal adalah postur kepala dengan sudut NSL/CVT yang kurang dari 106º. (2) Postur kepala extended adalah postur kepala dengan sudut NSL/CVT 106º atau lebih.22 Titik, garis, dan sudut kranioservikal akan dijelaskan pada Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3 dan Gambar 5.
Tabel 1. Titik referensi pengukuran postur kepala11,17,19
Titik Referensi Definisi
S (Sella Tursica) Titik tengah dari Sella Tursica
Gambar 4. Sudut postur kepala menurut Solow dan Tallgren20
N Nasion Titik paling depan dari sutura frontonasal ANS – Anterior
nasal spine
Ujung spina nasal anterior yang terlihat pada radiografi
PNS – Posterior nasal spine
Titik tangen dari OPT pada prosesus odontoid di vertebra servikal kedua
Cv2tg Titik singgung OPT pada prosesus odontoid vertebra servikal kedua
Cv2ip Titik paling posterior inferior pada korpus vertebra servikal kedua
Cv4ip Titik paling posterior inferior pada korpus vertebra servikal keempat
Tabel 2. Garis referensi pengukuran postur kepala11,17,19
Garis Referensi Definisi
NSL Garis yang menghubungkan Nasion dan Sella
NL Garis yang menghubungkan ANS dan PNS
OPT Tangen prosesus odontoid (tangen posterior ke prosesus odontoid melalui Cv2ip)
CVT Tangen vertebra servikal (tangen posterior ke prosesus odontoid melalui Cv4ip)
VER Garis vertikal yang diproyeksikan pada film
HOR Garis horizontal yang tegak lurus terhadap garis vertikal
Tabel 3. Sudut referensi pengukuran postur kepala11,17,19,22
Sudut Postur Kepala
Sudut
Referensi Definisi
Kraniovertikal
NSL/VER Garis Nasion-Sella ke garis vertikal NL/VER Garis dasar hidung (ANS-PNS) ke garis
vertikal
Kranioservikal
NSL/OPT Garis Nasion-Sella ke garis singgung Prosesus Odontoid yaitu dari titik Posterosuperior pada vertebra servikal kedua ke titik Posteroinferior pada vertebra servikal kedua
NSL/CVT Garis Nasion-Sella ke garis singgung vertebra servikal yaitu dari titik posterosuperior pada vertebra servikal kedua ke titik posteroinferior pada vertebra servikal keempat
NL/OPT Garis dasar hidung (ANS-PNS) ke garis singgung prosesus odontoid
NL/CVT Garis dasar hidung (ANS-PNS) hingga tangen vertebra servikal
Kraniohorizontal
OPT/HOR Prosesus odontoid yang bersinggungan dengan garis horizontal
CVT/HOR Vertebra servikal dengan garis horisontal
Gambar 5. Titik, garis dan sudut referensi untuk pengukuran postur kepala11,17,19,22
2.3 Oklusi
Oklusi merupakan suatu kondisi gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah pada saat mengatup. Konsep awal oklusi yang ideal pertama kali didefinisikan sebagai pertemuan antara gigi-geligi. Status oklusal umumnya digambarkan berdasarkan dua karakteristik utama, yaitu hubungan intra lengkung rahang berupa hubungan antar gigi dengan garis oklusi dan hubungan inter lengkung rahang berupa kontak oklusi antara gigi rahang atas dan gigi rahang bawah.14,23
Edward Hartley Angle mendefinisikan oklusi sebagai hubungan yang harmonis antara gigi-geligi rahang atas dengan rahang bawah, dengan interdigitasi yang baik dari tiap tonjol gigi-geligi atas dengan bawah dan memiliki bidang inklinasi oklusal gigi-geligi yang dapat mencegah pergeseran gigi-geligi dari posisinya saat kedua rahang menutup.23,24
Menurut kamus kedokteran gigi, ada dua istilah yang dapat digunakan untuk oklusi, yaitu oklusi ideal dan oklusi normal, yaitu:23,24
a. Oklusi ideal adalah keadaan beroklusinya setiap gigi dengan lengkung antagonisnya tanpa mengalami kerusakan.
b. Oklusi normal adalah oklusi yang memenuhi persyaratan fungsi dan estetik walau disertai adanya ketidakteraturan pada gigi secara individu. Terjadi jika gigi atas dan bawah tersusun dengan baik dan cusp gigi posterior pas kedudukannya dengan gigi bawah antagonisnya (Gambar 6).
000000
Gambar 6. Oklusi normal24
2.4 Maloklusi
Maloklusi merupakan suatu penyimpangan dalam pertumbuhan dentofasial yang dapat mengganggu fungsi pengunyahan, penelanan, bicara, dan kesimetrisan wajah. Maloklusi termasuk masalah yang cukup besar yang berada pada urutan ke tiga setelah karies gigi, serta penyakit periodontal, biasanya ditandai dengan kondisi yang tidak seimbang dalam ukuran dan posisi gigi, tulang wajah dan jaringan lunak pada bibir, pipi, serta lidah.28,29 Beberapa peneliti di bidang ortodonti mengatakan bahwa prevalensi maloklusi pada remaja Indonesia sebesar 89%.30
2.4.1 Klasifikasi Maloklusi
Klasifikasi maloklusi menurut Angle berdasarkan hubungan gigi molar pertama permanen atas dengan bawah sebagai kunci oklusi. Klasifikasi Angle terbagi atas tiga klas sebagai berikut :28
1). Klas I
Gigi geligi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang, ujung gigi kaninus berada pada bidang vertikal yang sama seperti ujung distal gigi kaninus bawah. Gigi premolar atas berinterdigitasi dengan gigi premolar bawah, dan tonjol mesio-bukal dari molar pertama atas berada pada buccal groove dari molar pertama bawah.
2). Klas II
Cusp disto-bukal dari molar pertama atas berada pada buccal groove molar pertama bawah. Klas II umumnya dikelompokkan menjadi dua divisi, yaitu : - Klas II divisi 1, gigi insisivus sentralis dan lateralis atas proklinasi dan
overjet insisal lebih besar.
- Klas II divisi 2, gigi insisivus sentralis atas yang proklinasi dengan overbite insisal yang besar. Gigi insisivus lateralis atas bias proklinasi atau retroklinasi.
3). Klas III
Hubungan lengkung gigi bawah terletak lebih ke anterior dari lengkung gigi atas.
2.4.2 Etiologi Maloklusi
Menurut Graber, faktor etiologi maloklusi dibagi atas faktor umum dan faktor lokal. Faktor umum adalah faktor yang tidak berpengaruh langsung pada gigi, sedangkan faktor lokal adalah faktor yang berpengaruh langsung pada gigi.31
A. Faktor Umum
Faktor umum yang menjadi etiologi maloklusi sebagai berikut :
a. Herediter, pengaruh herediter dapat bermanifestasi dalam dua hal, yaitu disproporsi ukuran gigi dan ukuran rahang yang menghasilkan maloklusi berupa gigi berdesakan atau maloklusi berupa diastema multipel serta disproporsi ukuran, posisi dan bentuk rahang atas dan rahang bawah yang menghasilkan relasi rahang yang tidak harmonis.
b. Kongenital c. Lingkungan
d. Keadaan dan penyakit metabolik
e. Defisiensi nutrisi dapat terjadi karena kegagalan pemanfaatan makanan yang dicerna, kekurangan asupan, hormonal, dan ketidakseimbangan enzimatik. Keadaan tersebut sangat merugikan jaringan yang sedang berkembang karena nutrisi juga merupakan factor yang memengaruhi erupsi gigi.
f. Kebiasaan buruk yang berdurasi minimal 6 jam per hari, berfrekuensi cukup tinggi dengan intensitas yang cukup dapat menyebabkan maloklusi.
Kebiasaan mengisap jari atau benda-benda lain dalam waktu yang berkepanjangan dapat menyebabkan maloklusi.
g. Postur yang abnormal akan menghasilkan tekanan yang abnormal dan ketidakseimbangan otot sehingga meningkatkan resiko maloklusi.
h. Trauma yang mengenai gigi sulung dapat menggeser benih gigi permanen.
B. Faktor Lokal
Faktor lokal yang menjadi etiologi maloklusi sebagai berikut :
a. Prematur loss gigi desidui, yaitu gigi desidui tanggal lebih cepat dapat berdampak pada susunan gigi permanen. Semakin muda umur pasien pada saat gigi sulung tanggal maka semakin besar akibatnya pada gigi permanen.
b. Persistensi gigi desidui yang berkepanjangan berarti gigi desidui yang sudah melewati waktu tanggal tetapi tidak tanggal.
c. Erupsi gigi permanen yang terlambat d. Arah erupsi yang abnormal
e. Ankilosis, karies dan restorasi yang tidak baik
2.4.3 Karakteristik Maloklusi
Pemeriksaan pada karakteristik maloklusi secara berurutan memberikan kemudahan dalam menyusun informasi diagnostik dan rencana perawatan :29,30
1. Hubungan Transversal
Pada hubungan transversal digunakan untuk mengevaluasi bentuk lengkung, simetris lengkung dan crowding dan non crowding. Lengkung rahang atas dan rahang bawah berbentuk elips dengan sedikit asimetri segmen anterior rahang atas. Pada langkah ini dilakukan dengan memeriksa lengkung gigi dari pandangan oklusal untuk mengevaluasi simetrisitas dalam setiap lengkung gigi dan jumlah crowding atau jarak yang ada. Analisis ruang untuk perkiraan crowding atau spacing. Periksa ada atau tidak tonjolan gigi insisivus yang berlebihan sehingga tidak dapat dievaluasi tanpa pemisahan bibir saat istirahat.
2. Hubungan Sagital
Pada hubungan sagital digunakan untuk mengevaluasi maloklusi klas II divisi 1 dengan overjet 4 mm, adanya retroklinasi gigi anterior rahang atas melalui crowding gigi anterior rahang atas. Untuk mengevaluasi hubungan sagital periksa model studi dalam keadaan oklusi untuk mengetahui penyebab anteroposterior dalam oklusi bukal atau dalam hubungan anterior. Berdasarkan Klasifikasi Angle untuk mengetahui hubungan lengkung rahang dan gigi pada keadaan end-to-end, Kelas II atau Kelas III,
atau overjet yang berlebihan atau overjet yang terbalik dari gigi insisivus yang disebabkan oleh ketidakselarasan rahang.
3. Hubungan Vertikal
Pada hubungan vertikal digunakan untuk mengevaluasi adanya anterior deep bite (60% overbite). Model studi dapat digunakan utnuk mengevaluasi masalah pada hubungan vertikal yang digambarkan sebagai gigitan terbuka anterior (kegagalan gigi insisivus untuk tumpang tindih), gigitan dalam anterior (tumpang tindih berlebihan gigi anterior), atau gigitan terbuka posterior (kegagalan gigi posterior untuk menutup, secara sepihak atau secara bilateral).
2.4.4 Overjet
Overjet adalah jarak horizontal antara permukaan labial mahkota insisivus sentralis rahang bawah dengan permukaan labial mahkota insisivus sentralis rahang atas dalam satuan milimeter. Overjet normal berkisar antara 2 - 3 mm. Biasanya, tepi insisal gigi insisivus rahang bawah berkontak dengan 1/3 singulum gigi insisivus rahang atas (Gambar 7).28,32,33
Overjet yang berlebihan pada usia tumbuh kembang dikaitkan dengan efek dari kebiasaan buruk seperti mengisap jari atau dot dan sebagainya. Selain itu, overjet yang berlebihan juga bisa disebabkan oleh perbedaan jumlah gigi atau panjang lengkung rahang, dan premature loss. Overjet dapat dievaluasi pada model studi dengan mengukur jarak horizontal dari tepi labio insisal gigi insisivus sentralis rahang atas ke permukaan labial gigi insisivus sentralis rahang bawah dengan menggunakan kaliper digital.28,32,33
Klasifikasi overjet menurut Profitt, yaitu: 28 1. Overjet terbalik: < 0
2. Overjet kecil: 0 – 1,99 mm 3. Overjet normal: 2 - 3 mm 4. Overjet besar: > 3 mm 2.4.5 Overbite
Overbite adalah jarak vertikal antara tepi insisal dari insisivus sentral atas dan bawah. Overbite dipengaruhi oleh derajat perkembangan vertikal dari segmen dento- alveolar anterior. Idealnya pada keadaan oklusi, gigi-gigi insisivus bawah harus berkontak dengan sepertiga permukaan palatal dari insisivus atas (Gambar 8). Ukuran overbite normal berkisar antara 1-2 mm. Overbite yang berlebihan pada usia tumbuh kembang dikaitkan dengan efek dari kebiasaan buruk seperti mengisap jari atau dot dan sebagainya. Overbite dapat dievaluasi pada model studi dengan mengukur jarak vertikal antara tepi labio insisal gigi insivus sentralis rahang atas dan rahang bawah.
Kemudian diberi tanda dengan pensil pada permukaan labial gigi insisivus rahang bawah dan di bawah insisal gigi insisivus rahang atas dan diukur dengan menggunakan kaliper digital.28,32,33
Gambar 7. Overjet28
Gambar 8. Overbite28
Klasifikasi overbite menurut Profitt, yaitu:28 1. Open bite: < 0
2. Overbite kecil: 0 - 0,99 mm 3. Overbite normal: 1 – 2 mm 4. Deep bite: > 2mm
2.5 Hubungan Postur Kepala dan Maloklusi
Perubahan pada lengkung rahang sangat ditentukan oleh aktivitas neuromuskular dalam jangka waktu yang lama oleh tekanan-tekanan dari bibir, pipi dan lidah. Korelasi yang signifikan antara posisi rahang bawah dan postur kepala, yaitu orang dengan profil wajah yang cekung menunjukkan kecenderungan untuk menundukkan kepala, sementara orang dengan profil cembung menunjukkan kecenderungan untuk mendongakkan kepala ke atas.17
Peregangan jaringan lunak saat aktivitas otot sedang istirahat tergantung pada postur kepala dan servikal. Lapisan jaringan lunak (kulit, otot, dan fasial) yang menutupi kepala dan leher akan meregang dan rileks sendirinya sehubungan dengan tingkat postur kepala yang mendongak (extended). Dalam kasus postur kepala yang extended dalam jangka waktu yang lama, jaringan lunak ini meregang sehingga menciptakan kekuatan pada gigi dan servikal. Jika kekuatan ini tidak seimbang oleh peningkatan aktivitas otot tersebut akibatnya perkembangan wajah dan retrognasi gigi insisivus akan menghilangkan keselarasan menjadi tidak tepat. Postur kepala yang
normal dapat menghasilkan jaringan lunak yang rileks dengan perkembangan sagital, proklinasi pada gigi insisivus, dan posisi lidah yang jatuh ke dasar mulut.17
Selain itu, tekanan anterior dan posterior pada lidah berhubungan dengan postur kepala maloklusi kelas I yang menunjukkan bahwa tekanan anterior lidah pada lengkung rahang bawah menurun secara signifikan ketika subjek bergerak dari flexed ke posisi kepala extended. Dalam kasus postur kranioservikal, keseimbangan antara bibir, pipi, dan lidah pada gigi insisivus rahang bawah berubah. Postur kepala extended menimbulkan tarikan pada jaringan lunak mulut yang mengakibatkan peningkatan tekanan bibir dan penurunan tekanan pada bagian anterior lidah pada gigi insisivus rahang bawah. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat mengubah inklinasi gigi insisivus rahang bawah yang cenderung ke arah lingual.17
2.6 Kerangka Teori
Oklusi Postur
Kepala
Postur Kepala Extended Postur Kepala
Normal
Sudut Kraniovertikal
Sudut Kranioservikal
11
Sudut Kraniohorizontal
NSL/CVT NSL/OVT NL/CVT NL/OVT
Maloklusi Oklusi normal
Oklusi ideal
Karakteristik Maloklusi
Hubungan Vertikal Hubungan
Sagital Hubungan
Transversal
Overbite Klasifikasi
Angle
Overjet Crowding dan Dll
Noncrowding Simetris
Lengkung Bentuk
Lengkung
Etiologi Maloklusi
Umum Lokal
Postur Kepala
Herediter Nutrisi Dll
Hubungan Postur Kepala dan Maloklusi pada Pasien Anak Tumbuh Kembang di RSGM USU
2.7 Kerangka Konsep
Variabel Bebas
Postur Kepala (Sudut Kranioservikal
NSL/CVT):
1. Postur kepala normal 2. Postur kepala exteded
Variabel Terkendali 1. Usia
2. Periode gigi bercampur 3. Prosedur pengambilan
foto sefalometri dengan postur kepala natural 4. Relasi skeletal klas I, II,
dan III
Variabel Terikat
1. Overjet 2. Overbite
Variabel Tidak Terkendali 1. Status sosial ekonomi 2. Status gizi
3. Hubungan oklusi
4. Bite record pada trimming model
5. Apel gigi pada masa gigi bercampur
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan data penelitian yang diolah secara analitik, yaitu menganalisis hubungan postur kepala dengan maloklusi pada anak usia tumbuh kembang di RSGM USU. Desain penelitian ini adalah cross sectional yang dilakukan dengan data pra-perawatan ortodonti dari pasien yang mengunjungi RSGM USU.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di RSGM USU dan waktu penelitian dimulai sejak penyusunan proposal bulan Agustus 2019.
3.3 Populasi Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah model studi, sefalogram lateral, dan data pasien RSGM USU yang berusia 7-12 tahun.
3.4 Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling, yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan esklusi yang telah ditentukan.
3.4.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi penelitian ini sebagai berikut:
a. Pasien anak tumbuh kembang di RSGM USU b. Berusia 7-12 tahun
c. Periode gigi bercampur
d. Model studi dan sefalogram lateral dalam keadaan baik, terutama pada regio yang diteliti
e. Memiliki prosedur pengambilan sefalogram lateral dengan postur kepala natural
3.4.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi penelitian ini sebagai berikut:
a. Sampel menolak berpartisipasi
b. Memiliki riwayat perawatan ortodonsia sebelumnya c. Memiliki riwayat trauma kepala dan leher
d. Memiliki kebiasaan buruk oral
e. Terdapat kondisi anomali bentuk anatomis gigi f. Terdapat kondisi gigi dengan premature loss g. Terdapat karies pada gigi
3.4.3 Besar Sampel
Rumus besar sampel yang digunakan adalah uji hipotesis beda dua proporsi, yaitu:
Keterangan:
n = besar sampel minimum
Z1-α = Tingkat kemaknaan yang ditetapkan oleh peneliti adalah 90% = 1,64 Z1- β = Power yang ditetapkan oleh peneliti adalah 0,84
P1 = perkiraan proporsi pada kelompok 1 (postur kepala extended = 0,6) P2 = perkiraan proporsi pada kelompok 2 (postur kepala normal = 0,33)
= rata-rata proporsi =
=
0,465 Sehingga :n =
n = 40,76 41 sampel
Besar sampel minimum yang didapatkan melalui perhitungan rumus tersebut adalah sebanyak 41 sampel. Peneliti menambahkan 10% dari jumlah sampel untuk menghindari hal yang tak terduga, maka total sampel per kelompok adalah 45 orang.
Jumlah sampel dikalikan 2 karena terdapat 2 kelompok (sampel dengan postur kepala normal dan postur kepala extended). Sehingga total keseluruhan sampel yang diperlukan untuk penelitian ini adalah 90 sampel yang terdiri dari 35 klas I skeletal, 35 klas II skeletal, dan 20 klas III skeletal.
3.5 Variabel Penelitian
Variabel-variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
3.5.1 Variabel Bebas
Variabel bebas pada penelitian ini adalah postur kepala yang terdiri dari postur kepala normal dan postur kepala extended.
3.5.2 Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah overjet, dan overbite.
3.5.3 Variabel Terkendali
Variabel terkendali pada penelitian ini, yaitu : 1. Usia pasien
2. Periode gigi bercampur
3. Prosedur pengambilan sefalogram lateral dengan postur kepala natural 4. Relasi skeletal klas I, II, dan III.
3.5.4 Variabel Tidak Terkendali
Variabel tidak terkendali pada penelitian ini, yaitu : 1. Status sosial ekonomi pasien
2. Status gizi pasien 3. Hubungan oklusi
4. Bite record pada trimming model 5. Apel gigi pada masa gigi bercampur.
3.6 Definisi Operasional Variabel
Bebas Definisi Cara dan
alat ukur Kategori Skala ukur Postur kepala
- Titik Sella tursica (S)
-Titik Nasion (N)
- Titik Cv2tg
Posisi natural kepala terhadap postur tubuh ketika seorang berdiri tegak dan menghadap ke depan yang diukur menggunakan foto sefalometri dengan sudut kranioservikal NSL/CVT
Titik tengah dari Sella Tursica
Titik paling depan dari sutura frontonasal
Titik singgung OPT pada prosesus odontoid vertebra
Sefalogram lateral dan hasil
dianalisis dengan menggunakan Corel Draw
Postur kepala normal:
NSL/CVT < 106º
Postur kepala extended:
NSL/CVT > 106º
Ordinal
- Titik Cv4ip
- Garis NSL
- Garis CVT
- Sudut NSL/CVT
servikal kedua
Titik paling posterior inferior pada korpus vertebra servikal keempat
Garis yang menghubungkan Nasion dan Sella
Tangen vertebra servikal (tangen posterior ke prosesus odontoid melalui Cv4ip)
Garis Nasion-Sella ke garis singgung
vertebra servikal yaitu dari titik
posterosuperior pada vertebra servikal kedua ke titik posteroinferior pada vertebra servikal keempat
Variabel
Terikat Definisi Cara dan
alat ukur Kategori Skala ukur Overjet Jarak horizontal
antara permukaan labial mahkota insisivus sentral
bawah dengan
permukaan labial mahkota insisivus sentralis atas
Model studi Overjet terbalik:
< 0 mm Overjet kecil:
0 – 1,99 mm Overjet normal:
2 - 3 mm Overjet besar:
> 3 mm
Ordinal
Overbite Jarak vertikal antara tepi insisal dari insisivus sentral atas dan bawah
Model studi Open bite:
< 0 mm Overbite kecil:
0 – 0,99 mm Overbite normal:
1 – 2 mm
Deep bite: > 2mm
Ordinal
3.7 Sarana Penelitian 3.7.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Kaliper digital
2. Alat tulis (pensil, penghapus, penggaris, dan spidol) 3. Corel Draw
4. Tracing Box
3.7.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Model gigi
2. Data pasien sefalogram lateral 3. Kertas tracing
3.8 Prosedur Penelitian
1. Pengumpulan data pasien sefalogram lateral dan model studi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
2. Tracing foto sefalometri dengan menggunakan kertas tracing dan pensil di atas pencahayaan tracing box. Menentukan titik referensi S (sella tursica), N (nasion), titik referensi Cv2tg dan Cv4ip.
(1) (2) (3)
Gambar 10. Model gigi (1), Data pasien sefalogram lateral (2), Kertas tracing (3)
(1) (2) (3) (4)
Gambar 9. Kaliper digital (1), Alat tulis (pensil, penghapus, penggaris, dan spidol) (2), Corel Draw (3), Tracing Box (4)
3. Scan kertas tracing yang sudah ditracing dan disimpan dengan format gambar jpeg.
4. Buka gambar hasil scan melalui aplikasi komputer (CorelDraw). Gambar diorientasikan tegak lurus dengan ukuran kertas 20 cm × 30 cm. Tarik garis dari titik S (Sella Tursica) ke titik N (Nasion) untuk menghasilkan garis NSL, kemudian tarik garis dari titik Cv2tg ke titik Cv4ip untuk menghasilkan garis CVT.
Gambar 12. Hasil tracing paper yang telah disimpan dalam format gambar j.peg
Gambar 11. Tracing foto sefalometri dan penentuan titik S, N, Cv2tg dan Cv4ip
5. Hitung besar sudut NSL/CVT dengan titik pusat sudut adalah titik perpotongan dari perpanjangan garis NSL dan CVT. Sudut NSL/CVT yang kurang dari 106º akan menjadi sampel kelompok postur kepala. Sedangkan sudut NSL/CVT yang sama dengan atau lebih dari 106º akan menjadi sampel kelompok postur kepala extended.
6. Melakukan pengukuran model studi pada setiap kelompok postur kepala normal dan postur kepala extended yang meliputi pengukuran overjet dan overbite.
7. Pengukuran overjet dilakukan dengan mengukur model studi dalam keadaan oklusi sentrik dengan menggunakan kaliper digital. Kemudian ukur jarak horizontal
Gambar 14. Perhitungan sudut NSL/CVT menggunakan aplikasi CorelDraw program ‘Angular Dimension Tool’
Gambar 13. Penarikan garis NSL dan CVT menggunakan aplikasi CorelDraw X7 program ‘pen tool’
antara labio insisivus rahang bawah dengan insisal gigi insisivus rahang atas dengan menggunakan kaliper digital.
8. Pengukuran overbite dilakukan dengan mengukur model studi dalam keadaan oklusi sentrik dengan menggunakan kaliper digital. Beri tanda dengan menggunakan spidol pada jarak vertikal antara tepi labio insisal gigi insivus rahang bawah dan insisal gigi insisivus rahang atas. Kemudian ukur jarak tersebut dengan menggunakan kaliper digital.
3.9 Pengolahan dan Analisis Data 3.9.1 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan program statistik secara komputerisasi.
3.9.2 Analisis Data
1. Perhitungan distribusi frekuensi pengaruh overjet pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU.
(a) (b)
(c)
Gambar 15. Pengukuran overjet (a), pemberian tanda untuk mengukur overbite (b), pengukuran overbite (c)
2. Perhitungan distribusi frekuensi pengaruh overbite pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU.
3. Analisis ada tidaknya hubungan antara overjet dengan postur kepala pada pasien anak tumbuh kembang di RSGM USU.
4. Analisis ada tidaknya hubungan antara overbite dengan postur kepala pada pasien anak tumbuh kembang di RSGM USU.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Peneliti melakukan penelitian tentang hubungan postur kepala dengan overjet dan overbite pada pasien anak di RSGM USU. Sampel penelitian berjumlah 90 sefalogram lateral dan model studi. Pengukuran overjet dan overbite dilakukan dengan menggunakan kaliper digital pada masing-masing model studi. Pengukuran postur kepala dilakukan dengan memindai hasil sefalogram lateral kemudian diukur menggunakan aplikasi Corel Draw. Pengukuran postur kepala diukur melalui sudut kranioservikal NSL/CVT. Sudut NSL/CVT ditentukan dari garis Nasion-Sella ke garis singgung vertebra servikal yaitu dari titik posterosuperior pada vertebra servikal kedua ke titik posteroinferior pada vertebra servikal keempat. Perhitungan distribusi frekuensi pengaruh overjet pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dapat dilihat di Tabel 4.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Hubungan Overjet dengan Postur Kepala Normal dan Extended pada Anak Usia Tumbuh Kembang di RSGM USU
Postur Kepala
Overjet
Total P Terbalik Kecil Normal Besar
Normal 8 (17,8%) 4 (8,9%) 9 (20,0%) 24 (53.3%)
45 (100%)
0.334 Extended 3 (6,7%) 4 (8,9%) 14
(31,1%)
24 (53,3%)
45 (100%)
Pengukuran overjet dilakukan dengan mengukur jarak horizontal antara permukaan labial mahkota insisivus sentral bawah dengan permukaan labial mahkota insisivus sentralis atas dengan menggunakan kaliper digital pada model studi.
Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4, terdapat 45 sampel dengan postur
kepala normal, 8 sampel (17,8%) dengan overjet terbalik, 4 sampel (8,9%) dengan overjet kecil, 9 sampel (20,0%) dengan overjet normal dan 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar. Kemudian terdapat 45 sampel dengan postur kepala extended, 3 sampel (6,7%) dengan overjet terbalik, 4 sampel (8,9%) dengan overjet kecil, 14 sampel (31,1%) dengan overjet normal dan 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar.
Perhitungan distribusi frekuensi overjet pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square untuk menguji apakah tedapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet. Berdasarkan hasil uji Chi-Square postur kepala dengan overjet pada Tabel 4 diperoleh nilai p untuk overjet adalah 0,334 >
0,05 maka disimpulkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet. Selanjutnya perhitungan distribusi frekuensi overbite pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dapat dilihat di Tabel 5.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Hubungan Overbite dengan Postur Kepala Normal dan Extended pada Anak Usia Tumbuh Kembang di RSGM USU
Postur Kepala
Overbite
Total P
Open bite Kecil Normal Deep bite
Normal 8 (17,8%) 2 (4,4%) 3 (6.7%) 32
(71,1%) 45 (100%)
0.07 Extended 3 (6,7%) 1 (2,2%) 10
(22,2%)
31
(68,9%) 45 (100%)
Pengukuran overbite dilakukan dengan mengukur jarak vertikal antara permukaan labial mahkota insisivus sentral bawah dengan permukaan labial mahkota insisivus sentralis atas menggunakan kaliper digital pada model studi. Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 5, terdapat 45 sampel dengan postur kepala normal, 8 sampel (17,8%) dengan open bite, 2 sampel (4,4%) dengan overbite kecil, 3
sampel (6,7%) dengan overbite normal dan 32 sampel (71,1%) dengan deep bite.
Kemudian terdapat 45 sampel dengan postur kepala extended, 3 sampel (6,7%) dengan open bite, 1 sampel (2,2%) dengan overbite kecil, 10 sampel (22,2%) dengan overbite normal dan 31 sampel (68,9%) deep bite.
Perhitungan distribusi frekuensi overbite pada pasien anak tumbuh kembang dengan postur kepala normal dan extended di RSGM USU dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square untuk menguji apakah tedapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overbite. Berdasarkan hasil uji Chi-Square postur kepala dengan overbite pada Tabel 5 diperoleh nilai p untuk overbite adalah 0,07>0,05 maka disimpulkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet.
BAB 5 PEMBAHASAN
Postur kepala merupakan ciri khas atau karakteristik tertentu dari masing- masing individu. Analisis sefalometri merupakan pengukuran atau penilaian postur kepala yang dapat menggambarkan pola pertumbuhan kraniofasial, kelainan dentofasial dan pertumbuhan wajah seseorang yang berguna dalam menentukan rencana perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan postur kepala dengan overjet dan overbite pada pasien anak tumbuh kembang di RSGM USU. Data penelitian ini diperoleh dengan cara menganalisis sefalogram lateral dengan menggunakan program komputer Corel Draw dan mengukur model studi dengan menggunakan kaliper digital.
Tabel 4 menunjukkan distribusi frekuensi overjet pada sampel postur kepala normal dan extended. Tabel tersebut menunjukkan bahwa sampel postur kepala extended dan postur kepala normal memiliki distribusi frekuensi overjet besar yang sama. Hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square menunjukkan pada postur kepala normal terdapat 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar dan pada postur kepala extended terdapat 24 sampel (53,3%) dengan overjet besar. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overjet karena nilai p=0,334 (p<0,05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alkofide dkk., pada tahun 2007 (pada 180 subjek di Saudi Arabia) dengan hasil yang tidak signifikan antara overjet dengan postur kepala. Berdasarkan hasil penelitian Alkofide dkk., postur kepala extended lebih banyak ditemukan pada maloklusi skeletal klas II. Sampel yang digunakan pada penelitian tersebut dibedakan berdasarkan jenis kelamin, ras, dan klas skeletal yang diambil secara tidak homogen, sehingga menimbulkan perbedaan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Alkofide., dkk dan peneliti, peneliti juga menemukan postur kepala extended lebih banyak terjadi pada maloklusi skeletal klas II dengan pengklasifikasian klas skeletal secara homogen.11
Hasil yang ditunjukkan pada tabel 4 bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Tankhiwale dkk., pada tahun 2018 (pada 60 subjek di India) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara postur kepala extended dengan overjet, pada sampel postur kepala extended memiliki overjet lebih besar 1,3 mm dibandingkan dengan sampel postur kepala normal. Hal ini dikarenakan pada postur kepala extended, terjadi tekanan pada perkembangan wajah yang menyebabkan retrognasi mandibula dan retroklinasi dari insisivus bawah sehingga menyebabkan jarak horizontal antara insisivus atas dan bawah menjadi semakin besar dan menyebabkan peningkatan overjet.22 Schwartz menyatakan bahwa postur kepala berhubungan dengan maloklusi skeletal, dimana postur kepala extended lebih banyak terjadi pada maloklusi skeletal klas II (cit. Schwartz 1926).6
Tabel 5 menunjukkan distribusi frekuensi overbite pada sampel postur kepala normal dan extended. Tabel tersebut menunjukkan bahwa sampel postur kepala normal memiliki distribusi frekuensi deepbite lebih besar daripada sampel postur kepala extended. Hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square menunjukkan pada postur kepala normal terdapat 32 sampel (71,1%) dengan deep bite dan pada postur kepala extended terdapat 31 sampel (68,9%) dengan deep bite. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur kepala dan overbite karena nilai p=0,07 (p<0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alkofide dkk., pada tahun 2007 (pada 180 subjek di Saudi Arabia) dengan hasil yang signifikan antara postur kepala dengan overbite.11 Hasil yang sama juga dikemukankan oleh Tankhiwale dkk., pada tahun 2018 (pada 60 subjek di India) bahwa sampel postur kepala extended memiliki overbite lebih besar 1,2 mm dibandingkan sampel postur kepala normal. Tankhiwale dkk., menyatakan bahwa hubungan antara postur kepala dengan overbite tersebut karena terdapat overbite yang lebih besar pada pasien klas II skeletal, dimana pada pasien klas II skeletal sering dijumpai postur kepala extended.22
Perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh Alkofide dkk., Tankhiwale dkk., dan peneliti karena pada anak usia tumbuh kembang secara alami memiliki postur yang baik dan apabila terdapat kelainan postur akan terlihat saat memasuki
usia dewasa yang disebabkan oleh beberapa faktor yang memengaruhi, salah satunya durasi waktu.22 Hal ini membuktikan bahwa maloklusi pada anak usia tumbuh kembang tidak hanya dipengaruhi oleh adanya kelainan postur, tetapi adanya faktor kompleks lain yang berperan seperti faktor waktu, jenis kelamin, ditribusi rentang usia, ras/suku, kebiasaan buruk, dan aktivitas sehari-hari yang dilakukan terus menerus secara bersamaan dengan faktor lainnya sehingga dapat menimbulkan terjadinya maloklusi, malposisi, malpostur, dan sebagainya.18
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Distribusi frekuensi overjet pada postur kepala normal yaitu, 17,8% dengan overjet terbalik, 8,9% dengan overjet kecil, 20,0% dengan overjet normal dan 53,3%
dengan overjet besar.
2. Distribusi frekuensi overjet pada postur kepala extended yaitu, 6,7% dengan overjet terbalik, 8,9% dengan overjet kecil, 31,1% dengan overjet normal dan 53,3%
dengan overjet besar.
3. Distribusi frekuensi overbite pada postur kepala normal yaitu, 17,8% dengan open bite, 4,4% dengan overbite kecil, 6,7% dengan overbite normal dan 71,1%
dengan deep bite.
4. Distribusi frekuensi overbite pada postur kepala extended yaitu, 6,7%
dengan open bite, 2,2% dengan overbite kecil, 22,2% dengan overbite normal dan 68,9% deep bite.
5. Hipotesis dari penelitian ini ditolak. Postur kepala tidak berkaitan secara langsung dengan overjet dan overbite.
6. Overjet dan overbite bisa saja memiliki postur kepala extended ataupun normal. Hal ini membuktikan bahwa overjet dan overbite tidak semata dipengaruhi oleh postur kepala, tetapi banyak faktor kompleks lain yang berperan dalam memengaruhi overjet dan overbite.
6.2 Saran
Saran yang disampaikan pada penelitian ini adalah:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan membandingkan suku, ras, dan jenis kelamin yang berbeda.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan distribusi rentang usia yang lebih bervariasi dengan memperhatikan usia tumbuh kembang pasien dan kebiasaaan buruk oral sehingga didapat hasil penelitian yang akurat.
3. Perlu dilakukan sosialisasi pada masyarakat melalui penyuluhan dan pertemuan ilmiah mengenai pentingnya deteksi dini sebagai usaha pencegahan perawatan dentokraniofasial terhadap kelainan postur kepala akibat kebiasaan buruk.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nilamsari N, Soebijanto, Lientje S.M, Setokoesoemo.B.R. Prototype Bangku Ergonomis Untuk Memperbaiki Posisi Duduk Siswa Sman Di Kabupaten Gresik. Jl Ners 2015;10(1): 87-103.
2. Legiran, Suciati T, Pratiwi MR. Hubungan Antara Penggunaan Tas Sekolah dan Keluhan Muskuloskeletal Pada Siswa Sekolah Dasar. JKK 2018;5(1):1-9
3. Lisanti, Martini, Widjasena B. Hubungan Penggunaan Tas Punggung dengan Keluhan Muskuloskeletal pada Siswa Mi Nashrul Fajar Meteseh Kecamatan Tembalang Kota Semarang. JKM 2017;5(4):409-14.
4. Bauer DH, Freivalds A. Backpack Load Limit Recommendation for Middle School Student Based on Physiological and Psychophysical Measurement.
Work 2009; 32 (3):339-50.
5. Yong- Soo Kong, Yu- Mi Kim, Je-myung Shim. The effect of modified cervical exercise on smartphone users with forward head posture. J. Phys. Ther. Sci 2017; 29:328–331.
6. Dhiman I. Association of Head Posture with Inclination of Incisors and Dental Arch Crowding. International Journal of Current Research 2018;10(12):76629- 34.
7. Leonard A, Sabina M. The Body Posture and Its Imbalances in Children and Adolescents. J. Movement and Health 2014;16(2):354-8.
8. Hassan R, Rahimah AK. Occlusion, Malocclusion and Method of Measurements - An Overview. Archives of Orofacial Sciences 2007; 2:3-9.
9. Laguhi VA, Anindita PS, Gunawan PN. Gambaran Maloklusi Dengan Menggunakan Hmar Pada Pasien Di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Manado. J.e-Gigi 2014;2(2).
10. Sahin Sag˘lam AM, Uydas NE. Relationship Between Head Posture and Hyoid Position in Adult Females and Males. J Craniomaxillofac Surg. 2006; 34:85–
92.
11. AlKofide EA, AlNamankani E. The Association Between Posture of the Head and Malocclusion in Saudi Subjects. J. Craniomandibular Practice 2007;25(2):98-103.
12. D’Attilio M, Caputi S, Epifania E, Festa F, Tecco S. Evaluation of Cervical Posture of Children in Skeletal Class I, II, And III. J Craniomandib Pract 2005;
23:219-228.
13. Stolinski L, Kozinoga M, Czaprowski D, Tyrakowski M, Cerny P, Suzuki N, et al. Two-Dimensional Digital Photography for Child Body Posture Evaluation:
Standardized Technique, Reliable Parameters and Normative Data for Age 7-10 Years. J. Scoliosis and Spinal Disorders 2017; 12:38.
14. Bergamini M, Pierleoni F, Gizdulich A, Bergamini C. Dental Occlusion and Body Posture: A Surface EMG Study. J. Craniomandibular & Sleep Practice 2008;26(1):25-32.
15. Perillo L, Signoriello G, Ferro F, Baccetti T, Masucci C, Apicella D, et al.
Dental Occlusion and Body Posture in Growing Subjects. A Population- deBased Study in 12-Year- Old Italian Adolescents. J. Int Dent 2008;10(6):46- 51.
16. Singla D, Veqar Z. Methods of Postural Assessment Used for Sports Persons. J.
Clin and Diagnostic Research 2014;8(4):1.
17. Pachı F, Turla R, Checchib AP. Head Posture and Lower Arch Dental Crowding. Angle Orthodontist 2009; 79(5):873-8.
18. Erliera, Miesje K P, Krisnawaty. Hubungan Postur Kepala Dengan Tumbuh Kembang Mandibula Pada Penderita Obstruksi Saluran Napas Atas Dengan Kebiasaan Buruk Napas Mulut. Indonesian Journal of Dentistry 2008; 15(1): 8- 14.
19. Solow B, Sonnesen L. Head Postures and Malocclusions. J. European Orthodontics 1998; 20:685-693.
20. Solow B, Tallgren A. Dentoalveolar Morphology in Relation to Craniocervical Posture. Med. Reasearch 1977;47(3):154.