• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

JENIS KELAMIN

IV.3 Hasil Penelitian

1. Interaksi dalam Komunitas

Interaksi merupakan suatu hal yang dilakukan dalam sebuah hubungan, baik itu dalam hubungan antarpribadi, kelompok kecil atau kelompok besar sekalipun. Karena setiap komunikasi dalam ranah komunikasi manusia, pastilah menyangkut hubungan antara dua orang atau lebih. Dan setiap komunikasi yang terjadi pastilah mensyaratkan adanya hubungan timbal balik dari pihak-pihak yang berkomunikasi di mana hal tersebut terjadi karena adanya pemahaman bersama akan suatu hal.

Interaksi itu sendiri pastilah menyangkut bagaimana pihak-pihak dalam sebuah hubungan berkomunikasi. Dan hal itu menyangkut bagaimana mereka dalam mencari dan berbagi informasi yang mereka miliki dan hal itu pastilah dipengaruhi oleh dimensi ruang dan waktu di mana komunikasi itu dilakukan.

Mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan memiliki derajat komunikasi yang kuat satu dengan yang lain, hal itu dibuktikan melalui pengenalan mereka satu dengan yang lain. Suatu hubungan dalam bentuk apa pun

pasti diawali oleh pengenalan satu dengan yang lain, yang kemudian berlanjut dalam hal lain yang lebih dalam. Bukti sederhana adalah tidak ada satu pun mahasiswa yang tidak mengetahui identitas umum mahasiswa lainnya yang berada dalam satu angkatan, yaitu mencakup alamat dan nomor telepon. Selain itu hal lain yang membuktikan hal tersebut adalah tidak ada seorang pun mahasiswa yang tidak pernah berinteraksi dengan mahasiswa lainnya. Hal itu dinyatakan oleh semua informan yang peneliti wawancarai. Ressi salah seorang yang menjadi informan menyatakan “ Hampir semua kami kenal satu dengan yang lain mengetahui identitas masing-masing, minimal alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.”, hal yang sama juga dinyatakan oleh Gloria, informan yang lain “hubungan kami dekat satu dengan yang lain, dan semuanya saling kenal satu dengan yang lain.” Rani dan Isabella yang diwawawancarai juga menyatakan hal yang sama “kami semua saling kenal dan tidak canggung untuk berkomunikasi.”

Nelly dan Nena mengatakan “ kami pada awalnya tidak begitu dekat, ada gap-gap di antara kami seperti layaknya komunitas lainnya, bahkan ada yang tidak saling mengenal di antara kami. Kondisi tersebut terjadi pada semester-semester awal mereka, yaitu di semester satu sampai semester dua. Dulu kami sangat jarang untuk bersama-sama, dan ketika ada tugas pun kami berusaha mengerjakannya sendiri-sendiri. Sampai suatu hari pernah kami disuruh mengerjakan tugas oleh asisten laboratorium, namun hanya beberapa orang yang tugasnya selesai. Para asisten tersebut marah dan mengumpulkan kami dan mempertanyakan di mana rasa kesetiakawanan kami”

Tetapi kondisi itu mulai berubah ketika di angkatan mereka dilakukan inisiasi oleh para senior. Pada saat inisiasi tersebut diadakan berbagai acara dimana mereka dituntut untuk saling mengenal, bekerja sama, dan saling membantu satu dengan yang lain. Pengenalan ini kemudian berlanjut kepada kehidupan kampus. Pernyataan ini diungkapkan oleh Ressi, “ di inisiasi kami mulai dituntut untuk saling kenal”.

Kalau inisiasi sangat membantu mereka untuk saling mengenal satu dengan yang lain, dari orang-orang yang asing satu dengan yang lain menjadi orang-orang yang mulai peduli dengan orang lain, tugas yang diberikan hampir tiap minggu oleh dosen atau asisten laboratorium lebih lagi mengharuskan mereka untuk saling berinteraksi terus-menerus, dan pada akhirnya menghasilkan hubungan yang dekat satu dengan yang lain.

Begitu juga halnya dalam hal praktikum secara khusus dalam pengerjaaan tugas-tugas yang diberikan oleh asisten laboratorium atau oleh dosen, “tidak ada seorang pun yang tidak mendapatkan teman dalam praktikum” demikian diungkapkan oleh Ressi, bahkan lebih dari sekadar mengetahui identitas dan tidak mengalami kecanggungan dalam berkomunikasi dengan teman yang lain, Almanah, salah seorang informan menyatakan “ kalau disuruh milih teman-teman kelompok untuk mengerjakan tugas, aku biasanya memilih orang-orang yang dekat dengan posisi duduk, sekalipun itu bukan teman satu geng denganku,” hal ini adalah bukti nyata dari kedekatan interaksi di kalangan mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan angkatan 2005, di mana mereka

tidak lagi mempersoalkan siapakah yang akan menjadi teman mereka untuk mengerjakan tugas.

Kedekatan yang terjadi di kalangan mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan angkatan 2005 ini bukan hanya terjadi antara individu individu dalam komunitas ini, tetapi terjadi juga antar kelompok-kelompok sosial, demikian juga antara kelompok tugas yang satu dengan kelompok tugas lainnya. Tidak berbeda dengan komunitas mana pun, ketika ada sejumlah besar orang dalam suatu komunitas yang sama dengan tujuan yang sama, maka individu-individu tersebut cenderung akan membentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil yang terdiri dari dua sampai sepuluh orang (2-10) untuk dijadikan tempat untuk berbagi lebih intens dan dalam. Demikian juga halnya terjadi di mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan ini, terdapat sebelas (11) kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua orang sampai yang paling besar terdiri dari 10 (sepuluh) orang. Sekalipun demikian kelompok-kelompok sosial tersebut tetap dekat satu dengan yang lain dan tidak memiliki gap. Nelly dan Nena yang menjadi informan dari kelompok bermain, menyatakan “ tidak ada gap antar geng, semuanya pada gabung, dan biasanya itu kami lakukan di ruangan insectarium”, hal senada juga diutarakan oleh Rani dan Isabella “kami mau berhubungan dengan kelompok lain, baik dalam hal tugas praktikum, atau sekadar untuk bercengkrama satu dengan yang lain sembari menunggu jadwal mata kuliah atau praktikum selanjutnya”.

Kedekatan antarpribadi dari anggota komunitas mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan ini, serta perasaan tidak canggung yang

dirasakan antara kelompok sosial yang satu dengan yang lain ini juga disebabkan karena pada dasarnya pembentukan kelompok-kelompok sosial itu sendiri bukan karena persamaan-persamaan tertentu, baik itu tingkat sosial-ekonomi, budaya.

Namun tidak dapat disangkal pembentukan kelompok sosial di dalam komunitas mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan penyakit Tumbuhan angkatan 2005 masih dipengaruhi oleh faktor gender dan agama, sekalipun ada juga yang tidak dipengaruhi oleh faktor agama seperti kelompok sosial pertama yang terdiri dari 11 (sebelas) orang pria, dan kelompok sosial 2 (dua) dan 6 (enam), yang anggotanya berasal dari gender yang berbeda.

Tabel IV.4

Data Kelompok-Kelompok Sosial Mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Angkatan 2005

NO NAMA ANGGOTA JENIS