HASIL PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan desain case series dimana pengambilan data dari data klinis di Bagian Rekam Medik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher FK USU/ RSUP H. Adam Malik Medan. Data penelitiannya adalah seluruh kasus Rinosinusitis Kronis yang berobat di RSUP H. Adam Malik sejak Januari 2008 sampai dengan Desember 2008.
4.1 Analisis Data Univariat
4.1.1 Proporsi penderita rinosinusitis kronis menurut kelompok umur tercatat yang berobat ke RSUP H Adam Malik tahun 2008
Kelompok Umur (Tahun) f (%)
12 – 19 34 (14,86) 20 – 27 48 (12,84) 28 – 35 61 (20,61) 36 – 43 45 (15,20) 44 – 51 49 (16,55) 52 – 59 40 (13,51) 60 – 67 12 (4,05) 68 – 75 7 (2,36) Total 296 (100)
Proporsi tertinggi penderita rinosinusitis kronis terdapat pada kelompok umur 28 – 35 tahun sebanyak 61 penderita (20,61%) dan kelompok umur 44 – 51 tahun sebanyak 49 penderita (16,55%).
4.1.2 Proporsi penderita rinosinusitis kronis berdasarkan umur tercatat
Umur f (%)
≤ 18 tahun 35 (11,82)
Proporsi tertinggi penderita rinosinusitis kronis terdapat pada umur > 18 tahun sebanyak 261 penderita (88,18%) dan terendah pada kelompok umur < 18 tahun sebanyak 35 penderita (11,82).
4.1.3 Proporsi penderita rinosinusitis kronis berdasarkan jenis kelamin tercatat yang berobat ke RSUP H Adam Malik tahun 2008
Jenis Kelamin f (%)
Laki-laki 127 (42,91)
Perempuan 169 (57,09)
Jumlah (%) 296 (100)
Jenis kelamin terbanyak menderita rinosinusitis kronis adalah perempuan sebanyak 169 penderita (57,09%) diikuti laki-laki sebanyak 127 penderita (42,91%).
4.1.4 Proporsi penderita rinosinusitis kronis berdasarkan pekerjaan yang tercatat yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008
Pekerjaan f (%) IRT 85 (28,7) PNS/Pensiunan PNS 63 (21,3) Wiraswasta 41 (13,9) Pelajar 37 (12,5) Mahasiswa/i 32 (10,8) Petani 25 (8,4) Peg. Swasta 13 (4,4) Jumlah (%) 296 (100)
Proporsi pekerjaan penderita rinosinusitis kronis terbanyak dijumpai pada IRT (Ibu Rumah Tangga) dengan 85 penderita (28,7%), dan terendah adalah Pegawai Swasta dengan 13 penderita (4,4 %).
4.1.5 Proporsi penderita rinosinusitis kronis berdasarkan keluhan utama tarcatat yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008
Keluhan Utama f (%) Hidung Tersumbat 223 (75,3) Sakit Kepala 54 (18,2) Hidung Berbau 13 (4,4) Nyeri Pipi/Wajah 6 (2) Jumlah (%) 296 (100)
Proporsi keluhan utama terbanyak pada penderita rinosinusitis kronis adalah hidung tersumbat sebanyak 223 penderita (75,3% ), diikuti sakit kepala sebanyak 54 penderita (18,2%).
4.1.6 Proporsi jumlah sinus yang terlibat berdasarkan foto polos SPN pada penderita rinosinusitis kronis yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008 Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan Foto Polos SPN f (%) Single Rinosinusitis 252 (87,8)
Multisinusitis 34 (11,8)
Pansinusitis 1 (0,4)
Jumlah (%) 287 (100)
Pada pemeriksaan foto SPN dijumpai jumlah sinus yang paling banyak terlibat pada penderita rinosinusitis kronis adalah single rinosinusitis sebanyak 252 penderita (87,8%) dan terendah adalah pansinusitis sebanyak 1 penderita (0,4%).
4.1.7 Proporsi jumlah sinus yang terlibat berdasarkan CT Scan SPN pada penderita rinosinusitis kronis yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008 Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan CT Scan SPN f (%) Single Rinosinusitis 17 (23,6)
Multisinusitis 32 (44,4)
Pansinusitis 23 (32)
Jumlah (%) 72 (100)
Pemeriksaan CT Scan SPN dijumpai jumlah sinus yang paling banyak terlibat adalah multisinusitis sebesar 32 penderita (44,4%) dan paling rendah adalah single rinosinusitis sebesar 17 penderita (23,6%).
4.1.8 Proporsi penatalaksanaan pada penderita rinosinusitis kronis di RSUP H. Adam Malik-Medan tahun 2008
Penatalaksanaan f (%)
Medikamentosa 229 (77,36)
Operasi 67 (22,64)
Jumlah (%) 296 (100)
Proporsi penatalaksanaan pada penderita rinosinusitis kronis adalah dengan medikamentosa sebanyak 229 penderita (77,36% ) dan operasi 67 penderita (22,64%).
4.1.9 Proporsi operasi pada penderita rinosinusitis kronis di RSUP H. Adam Malik-Medan tahun 2008
Operasi f (%)
Antrostomi Meatus Inferior (Kak Spooling) 8 (11,94)
CWL (Caldwel-Luc) 4 (5,97)
Trepanasi Sinus Frontal 1 (1,49)
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) 54 (80,60)
Jumlah (%) 67 (100)
Tindakan operasi yang paling sering dilakukan untuk penatalaksanaan rinosinusitis kronis adalah BSEF (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional) sebanyak 54 penderita (80,6%) dan terendah adalah trepanasi sinus frontal sebanyak 1 penderita (1,49%).
4.2 Analisis Data Bivariat
4.2.1 Proporsi penderita rinosinusitis kronis berdasarkan umur dan jenis kelamin tercatat yang berobat ke RSUP H Adam Malik tahun 2008
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Kelompok Umur f (%) f (%) Total 12-19 21 (7,09) 23 (7,77) 44 (14,86) 20-27 13 (4,39) 25 (8,45) 38 (12,84) 28-35 23 (7,77) 38 (12,84) 61 (20,61) 36-43 21 (7,09) 24 (8,11) 45 (15,20) 44-51 21 (7,09) 28 (9,46) 49 (16,55) 52-59 22 (7,43) 18 (6,08) 40 (13,51) 60-67 4 (1,35) 8 (2,70) 12 (4,05) 68-75 2 (0,68) 5 (1,69) 7 (2,36) Total 127 (42,91) 169 (57,09) 296 (100)
Proporsi tertinggi penderita rinosinusitis kronis terdapat pada kelompok umur 28 – 35 tahun 20,61% (laki-laki 7,77% dan perempuan 12,84%) dan terendah pada kelompok umur 68-75 tahun 2,36% (laki-laki 0,68% dan
perempuan 1,69%) proporsi jenis kelamin adalah perempuan 57,09% dan laki-laki 42,91%.
4.2.2 Proporsi umur berdasarkan jumlah sinus yang terlibat melalui pemeriksaan foto polos SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Umur (Tahun) ≤ 18 > 18 Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan Foto Polos SPN
f (%) f (%)
Jumlah (%) Single Rinosinusitis 30 (11,9) 222(88,1) 252 (100)
Multisinusitis 3 (8,8) 31 (91,2) 34 (100)
Pansinusitis 0 (0) 1 (100) 1 (100)
Dari tabel 4.2.2 dapat diketahui proporsi penderita single rinosinusitis, lebih tinggi pada umur diatas 18 tahun 88,1% daripada umur ≤ 18 tahun 11,9%. Proporsi penderita multisinusitis paling tinggi pada umur diatas 18 tahun 91,2% daripada umur ≤ 18 tahun 8,8% dan proporsi pansinusitis paling tinggi pada umur diatas 18 tahun yaitu 100%.
Pada umur >18 tahun didapati penderita terbanyak adalah single rinosinusitis sebesar 222 penderita (77,4%) dan terendah adalah pansinusitis sebanyak 1 penderita (0,3%).
Analisis statistik dengan uji Chi-Square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 3 sel (50%) expected count yang besarnya kurang dari 5.
4.2.3 Proporsi umur berdasarkan jumlah sinus yang terlibat melalui pemeriksaan CT Scan SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Umur (Tahun) ≤ 18 > 18 Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan CT Scan SPN f (%) f (%) Jumlah (%) Single Rinosinusitis 2 (11,8) 15 (88,2) 17 (100) Multisinusitis 2 (6,3) 30 (93,7) 32 (100) Pansinusitis 2 (8,7) 21 (91,3) 23 (100)
Dari gambar diatas dapat diketahui proporsi penderita single rinosinusitis, lebih tinggi pada umur diatas 18 tahun 88,2% daripada umur ≤ 18 tahun 11,8%. Proporsi penderita multisinusitis paling tinggi pada umur diatas 18 tahun 93,7% daripada umur ≤ 18 tahun 6,3% dan proporsi pansinusitis paling tinggi pada umur diatas 18 tahun yaitu 91,3% daripada umur ≤ 18 tahun 8,7%.
Analisis statistik dengan uji Chi-Square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 3 sel (50%) expected count yang besarnya kurang dari 5.
4.2.4 Proporsi jenis kelamin berdasarkan jumah sinus yang terlibat melalui pemeriksaan foto polos SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan Foto Polos SPN
f (%) f (%)
Jumlah (%) Single Rinosinusitis 110 (43,7) 142 (56,3) 252 (100)
Multisinusitis 13 (38,2) 21 (61,8) 34 (100)
Pansinusitis 1 (100) 0 (0%) 1 (100)
Dari tabel 4.2.4 diatas dapat diketahui proporsi penderita single rinosinusitis, lebih tinggi pada perempuan 56,3% daripada laki-laki 43,7%. Proporsi penderita multisinusitis paling tinggi pada perempuan 61,8% daripada laki-laki 38,2% dan proporsi pansinusitis paling tinggi pada laki-laki yaitu
Analisis statistik dengan uji Chi-Square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 2 sel (33,3%) expected count yang besarnya kurang dari 5.
4.2.5 Proporsi jenis kelamin berdasarkan jumlah sinus yang terlibat melalui pemeriksaan CT Scan SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan CT Scan SPN f (%) f (%) Jumlah (%) Single Rinosinusitis 7 (41,2) 10 (58,8) 17 (100) Multisinusitis 13 (40,6) 19 (59,4) 32 (100) Pansinusitis 15 (65,2) 8 (34,8) 23 (100) X2= 3,732 df = 2 p = 0,155
Dari tabel 4.2.5 diatas dapat diketahui proporsi penderita single rinosinusitis, lebih tinggi pada perempuan 58,8% daripada laki-laki 41,2%. Proporsi penderita multisinusitis paling tinggi pada perempuan 59,4% daripada laki-laki 40,6% dan proporsi pansinusitis paling tinggi pada laki-laki yaitu 65,2% dan perempuan 34,8%.
Dari uji Chi-Square diperoleh nilai p > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna antara jenis kelamin berdasarkan jumlah sinus yang terlibat yang dilakukan dengan pemeriksaan CT Scan SPN.
4.2.6 Proporsi pekerjaan berdasarkan jumlah sinus yang terlibat melalui pemeriksaan foto polos SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Pekerjaan
IRT Bukan IRT Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan Foto Polos SPN
f (%) f (%)
Jumlah (%) Single Rinosinusitis 75 (29,8) 177 (70,2) 252 (100)
Multisinusitis 8 (23,5) 26 (76,5) 34 (100)
Dari tabel 4.2.6 diatas dapat diketahui proporsi penderita single rinosinusitis, lebih tinggi pada profesi bukan IRT 70,2% daripada IRT 29,8%. Proporsi penderita multisinusitis paling tinggi pada profesi bukan IRT 76,5% daripada IRT 23,5% dan proporsi pansinusitis paling tinggi pada profesi bukan IRT yaitu 100%.
Analisis statistik dengan uji Chi-Square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 2 sel (33,3%) expected count yang besarnya kurang dari 5.
4.2.7 Proporsi pekerjaan berdasarkan jumlah sinus yang terlibat melalui pemeriksaan CT Scan SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Pekerjaan
IRT Bukan IRT Jumlah Sinus yang Terlibat
Berdasarkan CT Scan SPN f (%) f (%) Jumlah (%) Single Rinosinusitis 2 (11,8) 15 (88,2) 17 (100) Multisinusitis 7 (21,9) 25 (78,1) 32 (100) Pansinusitis 9 (39,1) 14 (60,9) 23 (100) X2=4,204 df = 2 p = 0,122
Pada tabel 4.2.7 diatas dapat diketahui proporsi penderita single rinosinusitis, lebih tinggi pada profesi bukan IRT 88,2% daripada IRT 11,8%. Proporsi penderita multisinusitis paling tinggi pada profesi bukan IRT 78,1% daripada IRT 21,9% dan proporsi pansinusitis paling tinggi pada profesi bukan IRT yaitu 60,9% daripada IRT 39,1%.
Dari uji Chi-Square diperoleh nilai p > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna antara jenis pekerjaan berdasarkan jumlah sinus yang terlibat yang dilakukan dengan pemeriksaan CT Scan SPN.
4.2.8 Proporsi jumlah sinus yang terlibat berdasarkan keluhan utama melalui pemeriksaan foto polos SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Jumlah Sinus yang Terlibat Berdasarkan Foto Polos SPN Single
Rinosinusitis Multisinusitis Pansinusitis Keluhan Utama f (%) f (%) f (%) Jumlah (%) Hidung Tersumbat 192 (88,5) 24 (11) 1 (0,5) 217 (100) Bukan Hidung Tersumbat 60 (85,7) 10 (14,3) 0 (0) 70 (100)
Dari tabel 4.2.8 diatas dapat diketahui proporsi keluhan hidung tersumbat, lebih tinggi pada single rinosinusitis 88,5% daripada multisinusitis 11% dan pansinusitis 0,5%. Keluhan bukan hidung tersumbat juga paling tinggi dijumpai pada single rinosinusitis 85,7% daripada multisinusitis 14,3% dan pansinusitis.
Analisis statistik dengan uji Chi-Square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 2 sel (33,3%) expected count yang besarnya kurang dari 5.
4.2.9 Proporsi jumlah sinus yang terlibat berdasarkan keluhan utama melalui pemeriksaan CT Scan SPN pada penderita rinosinusitis kronis
Jumlah Sinus yang Terlibat Berdasarkan CT Scan SPN Single
Rinosinusitis Multisinusitis Pansinusitis Keluhan Utama f (%) f (%) f (%) Jumlah (%) Hidung Tersumbat 14 (23,7) 24 (40,7) 21 (35,6) 59 (100) Bukan Hidung Tersumbat 3 (23,1) 8 (61,5) 2 (15,4) 13 (100)
Dari tabel 4.2.9 diatas, proporsi keluhan hidung tersumbat, lebih tinggi pada multisinusitis 40,7% daripada pansinusitis 35,6% dan terendah adalah
single rinosinusitis 23,7%. Keluhan bukan hidung tersumbat juga paling tinggi dijumpai pada multisinusitis 61,5% daripada single rinosinusitis dan pansinusitis.
Analisis statistik dengan uji Chi-Square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 2 sel (33,3%) expected count yang besarnya kurang dari 5.
4.2.10 Proporsi jumlah sinus yang terlibat pada penderita rinosinusitis kronis yang sama-sama dilakukan pemeriksaan foto polos SPN dan CT Scan SPN.
Pemeriksaan Radiologi Foto Polos SPN CT Scan SPN Jumlah Sinus yang
Terlibat f (%) f (%) Jumlah (%) Single Rinosinusitis 54 (79,4) 14 (20,6) 68 (100) Multisinusitis 10 (26,3) 28 (73,7) 38 (100) Pansinusitis 1 (4,2) 23 (95,8) 24 (100) X2=52,222 df = 2 p = 0,000
Dari gambar diatas dapat diketahui proporsi penderita single rinosinusitis, lebih tinggi pada pemeriksaan foto polos SPN 79,4% daripada pemeriksaan CT Scan SPN 20,6%. Proporsi penderita multisinusitis paling tinggi pada pemeriksaan CT Scan SPN 73,7% daripada foto polos SPN 26,3% dan proporsi pansinusitis paling tinggi pada pemeriksaan CT Scan SPN 95,8% daripada foto polos SPN 4,2%.
Dari uji Chi-Square diperoleh nilai p < 0,05, hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan proporsi yang bermakna antara jumlah sinus yang terlibat pada penderita rinosinusitis kronis yang dilakukan pemeriksaan foto polos SPN dan CT Scan SPN.