• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dilakukan pada depertemen/Instalasi Patologi Klinik FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan. Pada penelitian ini didapatkan 29 subjek penelitian yang diduga menderita demam tifoid berdasarkan Nelwan score, dilakukan pemeriksaan serologi menggunakan typhidot rapid IgM yang bertujuan untuk mendeteksi keberadaan antibodi IgM melalui antigen spesifik yang berasal dari Outer Membrane Protein (OMP) 50k-Da S.typhi, kemudian dilakukan pemeriksaan kultur darah. Karakteristik subjek penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1. Karakteristik dari subjek penelitian

Karakteristik n (%) Rerata ±SD

Tabel 4.1. menunjukkan tabel karakteristik subyek penelitian berdasarkan usia, jenis kelamin dan kategori demam. Dari 29 sampel sangkaan demam tifoid berdasarkan Nelwan score pada penelitian ini ditemukan responden dengan usia paling muda adalah 18 tahun sebanyak 5 orang (17,24%) dan usia paling tua

adalah 70 tahun ditemukan 1 orang (3,44%), dengan usia rata-rata yang didapatkan pada penelitian ini adalah 29,79 tahun. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, perempuan lebih banyak ditemukan menderita demam typoid dibandingkan laki-laki dengan diperolehan hasil sebanyak 18 subjek (62,1%) perempuan dan 11 subjek (37,9%) laki-laki. Berdasarkan katagori lamanya demam secara keseluruhan, kategori demam ≤ 1 minggu sebanyak : 8 subjek (27,6 %) dan demam ≥ 1 minggu sebanyak : 21 orang ( 72,4 %)

Tabel 4.2. Karakteristik demam dibandingkan dengan typhidot rapid IgM dan kultur darah.

Tabel 4.2. menggambarkan karakteristik demam yang dibagi menjadi demam < 1 minggu dan demam > 1minggu. Dari hasil penelitian ini didapatkan yang menderita demam < 1 minggu sebanyak 8 subjek (27,5%) dan yang menderita demam >1 minggu sebanyak 21(72,4%). Dari 8 subjek yang menderita demam < 1 minggu menggunakan typhidot IgM didapat 7 subjek (87,5%) yang positif dan 1 subjek (12,5%) negatif. namun hanya 1 subjek (12,5%) yang positif ditemukan kuman S.typhi pada kultur darah, dan 7 Subjek (87,% %)

dengan kultur yang negatif. Dengan karakteristik demam > 1 minggu ditemukan sebanyak 21subjek (72,4%) dengan menggunakan typhidot IgM 18 subjek (85,7%) positif dan 3 subjek (14,3%) negatif, 10 subjek (47,6%) kultur darahnya positif dan 11 subjek (52,4%) kultur darahnya negatif

Tabel 4.3. Karakteristik Nelwan score dibandingkan Typhidot rapid IgM dan Kultur darah.

Pada tabel 4.3. Berdasarkan karakteristik Nelwan score yang memberi nilai pada masing-masing gejala pada demam tifoid, dari 29 subjek yang diteliti ditemukan dalam penelitian ini Nelwan score 8-12 sebanyak 28 subjek (96,5%) dan Nelwan score > 13 ditemukan 1 subjek (3,5%). Dari 28 subjek dengan Nelwan score 8-13 dengan menggunakan typhidot IgM sebanyak 24 subjek (86%) positif dan 4 subjek (14%) negatif dengan 10 subjek (36%) kultur darahnya positif dan 18 subjek (64%) kultur darahnya negatif. Dengan Nelwan score >13 yang dijumpai pada penelitian ini hanya 1 subjek (3,5%) dengan menggunakan typhidot

Tabel 4.4. Hasil pemeriksaan menggunakan typhidot rapid IgM

Dari tabel 4.4. hasil yang positif secara serologi menggunakan typhidot rapid IgM sebanyak 25 subjek (86,2%) dan sebanyak 4 subjek (13,8%) negatif, dengan subjek yang positif menggunakan typhidot rapid IgM dan ditemukan kuman S. typhi dengan kultur darah sebanyak 11 subjek (38%) dan hasil yang positif menggunakan typhidot rapid IgM tetapi tidak ditemukan kuman S.typhi dengan kultur darah sebanyak 14 subjek (48%). Pada hasil yang negatif dengan menggunakan typhidot rapid IgM tetapi positif ditemukan kuman S. typhi tidak ditemukan dalam penelitian ini. Pada hasil yang negatif menggunakan typhidot rapid igM ditemukan sebanyak 4 subjek, (13,79%) dan ke 4 subjek tersebut juga tidak ditemukan kuman S.typhi dengan menggunakan kultur darah.

Berdasarkan perhitungan rumus yang membandingkan typhidot rapid IgM dengan kultur darah diperoleh sensitivitas 100% , Spesifsitas 22%, NDP 45% dan NDN 100%

BAB V PEMBAHASAN

Demam tifoid merupakan penyakit yang sampai saat ini merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan didunia, khususnya di Indonesia yang merupakan negara tropis yang sedang berkembang yang masih cukup banyak ditemukan kejadian demam tifoid. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan hygiene, sanitasi sumber air dan kebersihan lingkungan tempat umum serta prilaku masyarakat yang mendukung untuk hidup sehat, karena penularan penyakit ini sebagian besar melalui transmisi kuman yang berkembang melalui air dan makanan yang terkontaminasi1,2,3,4 Penyakit ini merupakan penyakit infeksi sistemik akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) dengan gejala demam yang disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.7

Standart baku emas untuk diagnosa pasti demam tifoid ditegakkan apabila ditemukannya kuman S.typhi pada biakan darah, urin,feces, aspirasi sumsum tulang, cairan deudonum, dan rose sport. Namun pemeriksaan dengan biakan memerlukan waktu yang cukup lama, memerlukan peralatan yang memadai untuk identifikasi bakteri, sehingga penegakan diagnosa dan therapy yang diberikan terlambat.3

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak ditemukan dan dikembangkan beberapa pemeriksaan serologi yang dapat membantu menegakkan diagnosa demam tifoid dengan metode yang lebih sederhana, lebih mudah dilakukan dengan hasil yang lebih cepat. Salah satu

parameter baru yang digunakan adalah Uji serologi teknologi rapid Immunochromatographic dalam format kaset untuk mendeteksi keberadaan antibodi IgM melalui antigen spesifik yang berasal dari (OMP) dinding sel bakteri S.typhi dengan berat molekul 50 k-Da. Antigen S.typhi seberat 50 k-Da ini diletakkan pada kertas strip nitroselulosa. Pita 50k-Da secara spesifik hanya dikenali oleh serum tifoid. Pita 5ok-Da ini terletak pada membrane luar yang merupakan protein alami dan bukan merupakan antigen Vi (kapsul) H (flagellar) atau O (somatik) dari S.typhi.40

Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 29 subjek penelitian dengan gejala klinis berdasarkan Nelwan score yang kemudian diuji secara serologi menggunakan typhidot rapid IgM dan dikonfirmasi dengan gold standart kultur darah. Pada hasil penelitian dengan karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia, persentase terbesar pada usia 18 tahun sebanyak 5 subjek (17,24 %) dengan usia paling tua 70 tahun 1 subjek (3,44%) dimana usia 24 tahun, 4 subjek (13,79

%) usia 27 tahun, 29 tahun, 34 tahun dan 37 tahun masing masing 2 subjek (6,89%) usia 19 tahun, 20 tahun, 22 tahun, 23 tahun, 25 tahun, 26 tahun, 30 tahun, 36 tahun, 38 tahun, 52 tahun, 63 tahun,1 subjek (3,44%) Sehingga diperoleh usia rata-rata pada penelitian ini adalah usia 29,79 tahun. Hal ini sesuai penelitian yang dilakukan oleh Hayat 2011 yang menemukan usia rata-rata subjek penelitiannya berumur 26,3 tahun.14 Hal yang sama juga ditemukan dalam penelitian Siba 2012, dengan umur rata-rata pada subjek penelitiannya 38,5 tahun.16 Berdasarkan Pedoman pengendalian demam tifoid Kemenkes RI 2006 menyatakan bahwa 75 % insidens demam tifoid dilaporkan pada umur kurang dari 30 tahun.3 Hal yang sama juga dikemukakan Nasroudin dalam tulisannya yang

menyatakan demam tifoid umumnya menyerang usia 5-30 tahun, jarang pada anak umur dibawah 2 tahun maupun diatas 60 tahun. Hal ini mungkin disebabkan pola dan kebiasaan makan orang dewasa khususnya dewasa muda lebih sering makan diluar lebih dibandingkan pada anak dan usia lanjut.

Berdasarkan karakteristik jenis kelamin didapatkan pada penelitian ini bahwa kejadian demam tifoid lebih banyak terjadi pada perempuan sebanyak 18 subjek ( 62,1 %) dan laki-laki sebanyak 11 subjek ( 37,9 %) Hal ini sesuai dengan penelitian Hatta dan Ratnawati tahun 2008 yang menyatakan bahwa bahwa rasio penderita demam tifoid antara laki-laki dan peempuan adalah 1:1,2. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian oleh Siba 2012 mendapatkan dalam penelitiannya perempuan ditemukan 51% dan laki-laki 49%.17 Berbeda dengan hasil yang didapatkan pada penelitian yang dilakukan Hayat 2011 yang mendapatkan hasil dalam penelitianya laki–laki 75% dan perempuan 25%.6 Perbedaan perbandinganangka kejadianantara laki-laki dan perempuan pada beberapa penelitian ini mungkin disebabkan karena perbedaan tempat penelitian dan perbedaan perbandingan banyaknya jumlah sampel antara laki-laki dan perempuan yang didapat pada masing masing penelitian berbeda. Namun berdasarkan pedoman pengendalian demam tifoid kemenkes menyatakan bahwa insidens demam tifoid tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan.3 Hal yang sama juga dikemukan oleh Nasronuddin dalam tulisannya bahwa tidak terdapat perbedaan penderita demam tifoid antara laki-laki dan perempuan.6

Berdasarkan karakteristik demam yang didapat pada penelitian ini secara keseluruhan demam > 1minggu lebih banyak ditemukan sebanyak 21subjek (72,4%)bila dibandingkan dengan demam < 1minggu sebanyak 8 subjek (27,5%)

Dengan menggunakan typhidot IgM ditemukan sebanyak 85,7 % dengan demam

> 1 minggu dan sebanyak 87,5% yang < 1 minggu. Penggunaan Typhidot IgM tidak berpengaruh terhadap lamanya demam. Hal ini sesuai denga penelitian yang dilakukan oleh Siba 2012 yang dalam penelitiannya mendapatkan demam dalam 2 hari dengan kultur darah yang positif ditemukan kuman S.typhi. dengan menggunakan kultur darah demam > 1minggu sebanyak 47,6% dan demam < 1 minggu sebanyak 12,5%. Lamanya demam masih berpengaruh terhadap penggunaan kultur darah, Semakin lama demam kemungkinan untuk didapatkan hasil yang positip pada kultur darah akan semakin besar, sesuai dengan beberapa literature yang mengatakan semakin lama demam, kemungkinan untuk terdeteksinya demam tifoid akan semakin besar, pasien dengan riwayat demam selama 7 sampai 10 hari menjadi lebih mungkin memiliki kultur darah positif.

Karakteristik Nelwan Score pada penelitian inin didapatkan score nelwan 8-3 ditemukan 86% dan Nelwan score >13 hanya ditemukan 3,5%. Rata-rata subjek dalam penelitian ini memiliki score 8-13. Dengan menggunakan typhidot IgM score nelwan 8-13 dapat ditemukan 86% meskipun menggunakan kultur darah hanya 36% yang dapat ditemukan S.typhi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Surya tahun 2006 yang melakukan penelitian denganmembandingkan tubex dengan Nelwan score ≥ 8 mendapatkan sensitivitas 100%, spesifisitas 90%, PVP 94%, NPV 100%51. Nelwan menyatakan dengan score >13 adalah demam typoid.

Dari 29 subjek penelitian yang positif menggunakan typhidot rapid IgM yang juga positif ditemukan kuman S. typhi pada pemeriksaan kultur darah hanya sebanyak 11 subjek (38,%), Pada hasil yang negatif menggunakan typhidot IgM,

kultur darahnya juga negatif, tidak ada yang subjek yang positif dengan kultur darah tapi dinyatakan negatif dengan typhidot IgM artinya typhidot IgM dapat dengan baik menilai subjek yang benar benar negatif. Ini dapat dilihat pada 4 subjek (13,8%) yang negatif menggunakan typhidot IgM ke 4 subjek (13,8%) tersebut dengan kultur darah juga yang negatif. .Hossain MS menyatakan bahwa rendahnya sensitivitas kultur darah dalam mendiagnosa demam tifoid disebabkan karena pemakaian antibiotik.51 Nilai sensitivitas, spesifisitas NDP, NDP yang didapatkan pada penelitian ini tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Khoharo tahun 2011, melakukan penelitian terhadap 76 kasus yang positif dengan kultur darah mendapatkan 74 kasus yang positip dengan typhidot memiliki nilai sensitivitas 96%, spesifitas 89,5 % dengan PPV 95%19. Beig.K.Farjana memperoleh sensitivitas, spesifisitas, PPV dan NPV dari typhidot IgM masing- masing 74,4%, 100%, 100% dan 92,1%16 .Hossain MS menyatakan bahwa rendahnya sensitivitas kultur darah dalam mendiagnosa demam tifoid disebabkan karena pemakaian antibiotik 51 Hal yang sama juga dikemukan oleh Retnosari dalam penelitiannya dari 10 subjek yang positif menggunakan antibiotik pada penderita demam typoid sebanyak 7 subjek negatif kultur darhnya hanya 3 subjek yang positif.52

BAB VI

Dokumen terkait