32 BAB V
HASIL PENELITIAN
33 Tabel 2. Distribusi frekuensi responden menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah (n) Persen (%) Laki – laki
Perempuan
20 39
33,9 66,1
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 2 menggambarkan tentang karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin. Dimana dari 59 orang, responden perempuan yang mendominasi yaitu berjumlah 30 orang (66,1%) dan laki- laki berjumlah 20 orang (33,9%).
Tabel 3. Distribusi frekuensi responden menurut Pola Gangguan Tidur Gangguan Tidur Jumlah (n) Persen (%) Normal (0 -14 )
Insomnia Ringan (15 – 18 ) Insomnia Sedang (19 – 25) Insomnia Berat (26- 33 ) Insomnia Sangat Berat (>34)
7 11 16 20 5
11,9 18,6 27,1 33 8,5
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 3 diatas menggambarkan distribusi pola tidur yang dialami responden. Dari 59 responden, pola gangguan tidur yang paling banyak diterima yaitu Insomnia berat (26-33) yaitu sebanyak 20 orang (33,9%), insomnia sedang (19 – 25) sebanyak 16 orang (27,1%), insomnia ringan (15-18) sebanyak 11 orang (18,6%), normal (0-14) berjumlah 7 orang (11,9%) dan hanya 5 orang (8,5%) yang mengalami gangguan tidur kategori insomnia sangat berat (>34).
34 Tabel 4. Distribusi frekuensi responden menurut Kualitas Tidur
Kualitas Tidur Jumlah (n) Persen (%) Baik
Buruk
34 25
57,6%
43,4%
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 4 di atas menggambarkan kualitas tidur dari responden penelitian. Dari 59 responden, kualitas tidur baik sebanyak 34 orang (57,6%) dan 25 orang (43,4%) dengan kualitas tidur yang buruk.
Tabel 5. Distribusi frekuensi responden menurut Tingkat Ketelitian
Tingkat Ketelitian Jumlah (n) Persen (%)
Baik
Cukup Baik Cukup Ragu- Ragu Kurang
2 10 42 3 2
3,4 16,9 71,2 5,1 3,4
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 5 di atas menggambarkan tingkat ketelitian dari responden penelitian. Dari 59 responden, Tingkat ketelitian yang terbanyak yaitu kategori cukup 42 orang (71,2), cukup baik 10 orang (16,9%).
35 Tabel 6. Distribusi frekuensi responden menurut Konsentrasi Belajar
Konsentrasi Belajar Jumlah (n) Persen (%)
Konsentrasi Tidak Konsentrasi
12 47
20,3 79
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 6 di atas menggambarkan konsentrasi belajar responden.Dari 59 responden, terdapat 47 orang (79,7%) yang tidak konsentrasi dalam belajar dan hanya 12 orang (20,3%) yang memiliki konsentrasi dalam belajar.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariate dimaksudkan untuk melihat hubungan antara gangguan tidur dengan konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH secara statistik. Uji yang digunanakan adalah uji Chi Square. Berikut tabel hasil uji secara statistika
Tabel 7. Hubungan Gangguan Tidur Terhadap Konsentrasi Belajar
Gangguan Tidur
Konsentrasi Belajar Total P Value
N (%) Konsentrasi
N (%)
Tidak Konsentrasi
N (%) Insomnia (>18)
Tidur Normal (≤18 )
8 (19,5%) 4 (22,2%)
33 (88,5%) 14 (77,8%)
18 (100%) 0,812 41 (100%)
36 Tabel 7 diatas menggambarkan hubungan gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH. Diperoleh dari 18 orang dengan pola tidur normal (≤18), 4 orang (22,2%) memiliki konsentrasi belajar, dan 14 orang (77,8%) tidak memiliki konsentrasi dalam belajar. Sedangakan dari 41 orang dengan insomnia (>18) paling banyakyang tidak konsentrasi dalam belajar yaitu 33 orang orang (88,5%) dan hanya 8 orang (19,5%) yang konsentrasi dalam belajar. Uji statistik hubungan antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajarmahasiswa, dimana diperoleh nilai P value = 0,812 > = 0,05 yang artinya Ho diterima dan Ha ditolak. Berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH. Nilai Odd Ratio (OR) 0,878 (0,303 – 2,546 (yang artinya mahasiswa dengan gangguan tidur (insomnia), hanya 0,878kali untuk dapat berkonsetrasi dalam belajar dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki gangguan tidur (normal).
37 BAB VI
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas terhadap 59 responden yang telah bersedia menjadi sampel pada penelitian tentang hubungan gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa. Responden terdiri atas 39 orang perempuan dan 20 orang laki- laki, dengan usia sebagian besar 19 tahun.
Penelitian ini dilakukan dengan cara membagikan kuisioner yang bertujuan untuk menilai kualitas tidur, gannguan tidur serta tingkat konsentrasi yang dimiliki oleh responden, dimana kuisioner ini yang telah divalidasi setiap pertanyaanya dan telah diujikan oleh peneliti sebelumnya.
Distribusi responden berdasarkan kualitas tidur, terdapat 34 orang (57,6%) responden yang memiliki kualitas tidur baik, dan 25 orang (43,4%) yang memiliki kualitas tidur buruk. Kualitas tidur yang buruk merupakan salah satu penyebab ketidakmampuan atau kurang optimalnya prestasi belajar karena kurang mampu berkosentrasi.
Hampir semua orang pernah mangalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%- 40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Distribusi kejadian gangguan tidur dari penelitian ini, didapatkan tingkat gangguan tidur terbanyak berupa insomnia berat dengan nilai skoring pada kuisioner 26-33 sebanyak 33,9%. Responden dengan gangguan tidur berupa insomnia sedang 27,1% dan yang tidak memiliki gangguan tidur (normal) hanya 11,9%. Menurut
38 data Internasional of sleep disoreder, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti penyakit asma (61-74%), gangguan pernapasan (40-50%), psychophysiologival (15%), sindrom terlambat tidur (5-10%) dan keadaan depresi (65%).
Distribusi konsentrasi belajar responden berdasarkan hasil ketelitian dan konstansi responden terhadap instrument tes bourdon diperolah sebanyak 47 orang (79,7%) tidak konsetrasi dan hanya 12 orang (20,3%) yang konsentrasi dalam mengikuti tes tersebut. Menurut Slameto (2010), seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi dapat disebabkan kerana : kurang berminat terhadap apa yang dipelajari, terganggu oleh keadaan lingkungan (bising, keadaan yang semrawut dan lain- lain), pikiran kacau/ masalah- masalah kesehatan lain dan lain sebagainya. 14
Hasil analisa bivariate hubungan antara kualitas tidur terhadap konsentrasi belajar menggunakan uji statistik. Diperoleh dari 18 orang dengan pola tidur normal (≤18), 4 orang (22,2%) memiliki konsentrasi belajar, dan 14 orang (77,8%) tidak memiliki konsentrasi dalam belajar.
Sedangakan dari 41 orang dengan insomnia (>18) paling banyak yang tidak konsentrasi dalam belajar yaitu 33 orang orang (88,5%) dan hanya 8 orang (19,5%) yang konsentrasi dalam belajar.
Uji statistik hubungan antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa, dimana diperoleh nilai P value = 0,812 > = 0,05 yang artinya Ho diterima dan Ha ditolak. Berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH. Nilai Odd
39 Ratio (OR) 0,878 (0,303 – 2,546 ( yang artinya mahasiswa dengan gangguan tidur (insomnia), hanya 0,878 kali untuk dapat berkonsetrasi dalam belajar dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki gangguan tidur (normal).
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa secara statistik kualitas tidur bukan masalah utama yang mempengaruhi konsentrasi belajar seseorang walaupun pada umumnya orang dengan kualitas tidur buruk juga memberikan efek terhadap konsentrasi dalam belajar. Dibutuhkan penelitian lanjutan yang lebih luas untuk mengetahui lebih jauh tentang faktor- faktor lain yang mungkin memperberat tingkat konsentrasi seseorang seperti gangguan psikiatrik, pola makan dan minum, ataupun penyakit keganasan yang tidak diketahui. 15
Banyaknya mahasiswa yang tidak berkonsentrasi dikarenakan pada saat peneliti melakukan penelitian saat itu responden sedang menunggu ujian maka kemungkinan itu yang menyebabkan banyak responden kurang berkonsentrasi.
40 BAB VII
TINJAUAN KEISLAMAN
Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan ( habl min Allah ), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia ( habl min al-nas) yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dimana Tidur sudah menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan. Karena dengan tidur tubuh yang lelah, dan otot-otot yang tegang setelah dipakai beraktivitas seharian dapat kembali mejadi lebih segar. Meski demikian, kita perlu mengetahui adab-adab tidur menurut tuntunan Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah dituliskan dalam
"Kitabul Adab" karya Syaikh Fu'ad bin Abdul Aziz As-Syalhub.
I. Tidur Sebuah Tanda Kekuasaan Allah SWT.
Allah berfirman:
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Ruum:
23).
41 Allah juga berfirman:
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. An-Naba': 9).
Imam Ibnu Katsir berkata:
"Yaitu termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya Allah menjadikan sifat tidur bagi kalian diwaktu malam dan siang, dengan tidur, ketenangan dan rasa lapang dapat tercapai dan rasa lelah serta kepenatan dapat hilang".
II. Adab Tidur
1. Anjuran Qoyluulah
Berkata Ibnu Atsir: "Qoyluulah adalah istirahat di pertengahan siang walaupun tidak tidur".
Berdasarkan hadits Dari Sahl Bin Sa'd dia berkata: "Tidaklah kami qoyluulah dan makan siang kecuali setelah shalat jum'at".
Anas bin Malik radhiyallahu „anhu juga mengabarkan kebiasaan para sahabat Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dahulunya:
“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum‟at, kemudian istirahat siang.”
42 2. Tidur di awal malam
Rasulullah adalah teladan bagi setiap muslim, maka barang siapa yang memperhatikan tidurnya, niscaya dia akan mendapati bahwa tidumya beliau paling sempurna dan paling bermanfaat bagi tubuh. Beliau tidur diawal malam dan bangun diawal sepertiga malam. Sahabat mulia Ibnu Abbas pernah bertutur:
"Suatu ketika aku pernah bermalam dirumah bibiku Muimunah untuk melihat bagaimana shalatnya Rusulullah, beliau berbincang sejenak bersama istrinya, kemudian tidur".
3. Dibencinya tidur sebelum lsya‟ dan ngobrol setelahnya.
Berdasarkan hadits:
Dari Abu Barzah bahwasanya Rasulullah membenci tidur sebelum isya' dan bercakap-cakap setelahnya.
Al-Hafizh lbnu Hajar berkata:
"Dibencinya tidur sebelum Isya' karena dapat melalaikan pelakunya dari shalat isya' hingga keluar waktunya, adapun bercakapcakap setelahnya yang tidak ada manfaatnya, dapat meyebabkan tidur hingga shalat shubuh dan luput dari shalat malam".
Kemudian Al-Hafizh menegaskan bahwa larangan bercakap-cakap setelah Isya' dikhususkan pada percakapan yang tidak ada manfaat dan kebaikan didalamnya. Adapun percakapan yang bermanfaat maka tidaklah termasuk dalam larangan ini, sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi bersama Abu Bakar pernah bercakap-cakap hingga larut malam karena urusan kaum muslimin.
43 4. Menutup pintu, mematikan api dan lampu
Berdasarkan hadits:
Dari Jabir Bin Abdullah bahwasanya Rasulullah bersabda:
"Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.
Juga berdasarkan hadits DariIbnuUmar :
bahwasanya Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian meningalkan api yang menyala ketika kalian tidur".
Imam Al-Qurthubi berkata:
"Berdasarkan hadits ini apabila seseorang tidur sendirian sedangkan api masih menyala di dalam rumahnya hendaklah ia mematikan terlebih dahu- lu sebelum tidur, demikian pula apabila di dalam rumah terdapat beberapa orang hendaklah orang yang terakhir yang melakukannya, makabarang siapa yang meremehkan hal ini sungguh dia telah menyelisihi sunnah!".
Ibnu Daqiq Al-`Ied berkata:
"Perintah menutup pintu sebelum tidur, di dalamnya terdapat kebaikan duniawi dan ukhrowi yaitu menjaga diri dan harta dari orang-orang yang hendak berbuat jahat, terlebih lagi dari syaithon".
Perhatian: Perintah mematikan api dan lampu sebelum tidur merupakan tindakan preventif sebelum terjadi kebakaran, apabila aman dan kebakaran seperti keadaan lampu-lampu masa kini, maka tidaklah mengapa menghidupkannya.
44 5. Berwudhu
Berdasarkan hadits:
Dari Baro' Bin 'Azib bahwasanya Rasulullah bersabda: "Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat".
Imam Nawawi berkata:
"Hadits ini berisi anjuran berwudhu ketika hendak tidur, apabila seseorang telah mempunyai wudhu maka hal itu telah mencukupinya, karena maksud dari itu semua adalah tidur dalam keadaan suci khawatir maut menjemput- nya seketika itu, maksud yang lain dengan berwudhu dapat menjauhkan diri dari gangguan syaithon dan perasaan takut ketika tidur".
6. Mengebuti tempat tidur Berdasarkan hadits:
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: "Apabila salah se- orang diantara kalian hendak tidur maka kebutilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpa padanya".
Faidah hadits:
a. Sunnahnya mengebuti tempat tidur sebelum tidur.
b. Hendaklah mengebutinya tiga kali.
c. Membaca 'Bismillah' ketika mengebutinya sebagaimana hadits riwayat Muslim no. 2714.
45 d. Bagi orang yang bangun dari tempat tidurnya kcmudian kembali lagi, maka
dian- jurkan untuk mengebutinya kembali.
7. Larangan tidur satu selimut Berdasarkan hadits:
Dari Abu Said Al-Khudri dari bapaknya bahwasanya Rasulullah bersabda:
"Janganlah pria melihat aurat pria yang lain dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita yang lain, dan janganlah pria berkumpul dengan pria lain dalam satu selimut, dan janganlah wanita berkumpul dengan wanita lain dalam satu selimut".
8. Berbaring Kesisi Kanan Imam Ibnul Qoyyim berkata:
"Adalah Nabi tidur dengan berbaring kekanan dan beliau meletakkan tan- gannya yang kanan dibawah pipinya yang kanan".
Rasulullah bersabda:
Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat kemudian berbaringlah kesisi kanan!
Sahabat Mulia Hudzaifah berkata:
"Adalah Nabi apabila tidur beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya".
Imam Ibnul Jauzy berkata:
"Keadaan tidur seperti ini sebagaimana ditegaskan oleh pakar kedokteran merupakan keadaan yang paling baik bagi tubuh".
46 9. Membaca Ayat AI-Qur‟an
Dianjurkan bagi setiap orang yang hendak tidur untuk membaca ayat-ayat AI-Qur'an terlebih dahulu, diantaranya:
a. Membaca Ayat kursi, berdasarkan hadits tentang kisah Abu Hurairah yang diajari oleh syaithon ayat kursi kemudian:
"Jika engkau membacanya, maka Allah senantiasa akan menjagamu dan syaithon tidak akan mendekatimu hingga pagi."
b. Membaca surat Al-lkhlas, AI-Falaq, An-Naas, berdasarkan hadits A'isyah dia berkata:
"Adalah Rasulullah apabila hendak tidur beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya seraya membaca surat Al-lkhlas, Al- Falaq, An-Naas, kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan- nya kebagian tubuh yang bisa diusap, dirnulai dari kepala, wajah dan bagian tubuh lainnya sebanyak tiga kali ".
c. Membaca Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, berdasarkan hadits:
DariAbuMas'ud AlBadriyyi bahwasanyaRasulullah SAW bersabda:
"Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah barang siapa yang membacanya di- waktu malam maka akan mencukupinya". 29
10. Membaca Do‟a
Banyak sekali do'a sebelum tidur yang telah diajarkan oleh Nabi diantaranya:
"Yaa Allah dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup". Yaa Allah aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku Mu karena mengharap dan takut
kepada-47 Mu, tidak ada tempat bersandar dan tempat menyelamatkan kecuali kepada-Mu, Yaa Allah aku beriman kepada kitabMu yang telah engkau turunkan dan kepada NabiMu yang telah engkau utus", maka jika engkau meninggal pada malam harinya sungguh engkau meniggal dalam keadaan fithroh dan jadikanlah do'a tersebut akhir yang engkau ucapkan.
11. Apa yang harus dilakukan jika bermimpi?
Dari Abdullah Bin Abu Qotadah bahwasanya Rasulullah bersabda:
"Mimpi yang baik adalah dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk dari syaithon, maka apabila salah seorang diantara kalian mimpi buruk hendak- lah ia meludah kearah kiri dan mohonlah perlindumgan kepada Allah dari kejelekannya, sesungguhnya hal itu tidak akan memadhorotinya".
Faidah hadits:
a. Mimpi ada dua macam: baik dan buruk, mimpi yang baik adalah dari Allah sedangkan mimpi yang buruk dari syaithon.
b. Apabila bermimpi baik hendaklah ia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang yang menyukai.
c. Sebalknya apabi Ia bermimpi burns maka hendaklah in memohon perlindungan kepada Allah, kemudian meludah kearah kiri sebanyak tiga kali, bepindah tempat, shalat dua rakaat dan janganlah ia menceritakan kepada seorangpun.
12. Dibencinya tidur telungkup Berdasarkan hadits:
Dari Tikhfah Al-Ghifari dia berkata:
48
“Suatu ketika tatkala aku tidur didalam mesjid, tiba-tiba ada seorang yang menghampiriku, sedangkan aku dalam keadaan tidur terlungkup, lalu dia membangunkanku dengan kakinya seraya berkata: “Bangunlah! Ini adalah bentuk tidur yang dibenci Allah, maka akupunmengangkat kepalaku terny-ata beliau adalah Nabi”.
Berkata Syaroful Haq 'Azhim Abadi:
"Berdasarkanhadits ini,bahwatidurtelungkupdiatasperutadalahdilarang, dan itu adalah bentuk tidurnya syaithon".
13. Dibencinya tidur diatas rumah tanpa penutup Berdasarkan hadits:
Dari Ali Bin Syaiban bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidur diatas rumah tanpa penutup/penghalang maka sungguh telah terlepas darinya penjagaan".
14. Do‟a ketika bangun tidur
Ketika bangun dari tidur hendaklah kita berdo'a:
"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah sebelumnya mematikan kami dan hanya kepadaNya kami akan dibangkitkan ".
49 BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN