i KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT.yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, yang merupakan dasar atau acuan untuk melakukan penelitian sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan Program Pendidikan S1 Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada dr. Jan S. Panigoro,Skm dan Wahida Mokoagow,SE, serta Jelita Nurariani Panigoro, Triyanto Wijaya Panigoro, Rizky Panigoro Mokoagow , Nur Agoan, Tante dan Paman selaku keluarga yang selalu mendukung dan mendoakan penulis sehingga skripsi ini bisa selesai.
Dengan selesainya skripsi ini, penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setingi-tingginya kepada pembimbing, dr.A.Tenri Padad, M.Med.Ed, yang dengan sepenuh hati telah mendukung, membimbing, dan mengarahkan penulis mulai dari perencanaan penulisan sampai selesainya skripsi ini.
ii Selanjutnya penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. dr. Machmud Gaznawi Sp.PA (K) selaku Dekan Program Studi Pendidikan dokter Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Dosen dan staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar yang ikut mendukung dan memperlancar urusan skripsi ini.
3. Teman-teman kelompok pembimbingan : Sukma Sucianti, Risma Ayu Soraya, dan Riswanda
4. Sahabat Aktura Makassar selaku keluarga kedua di tempat perantauan : Vidya Avianti Hadju , Masira Suci Syukriah, Sitti Masita Mokoagow, Afnita Dasinsingon.
5. Teman-teman GTS dan sekitarnya : Siti Fathiyah, Ajnihah M.F, Ayu Wulandari, Nikmatul Husna.P, Amanda Dyna.F, Sri Rahayu A.N, Arli Harfiani, Arum Puspita N.W
6. Saudaraku Astrocyte angkatan 2011 yang selalu mendukung penulis 7. Teman-teman penulis dan pihak yang tidak sempat ditulis namanya yang
sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Seperti kata pepatah, “Tak ada gading yang tak retak”, penulis menyadar iskripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharap kankritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan skripsi ini.
Makassar, Maret 2015
Widiyarsih Handayani Panigoro
iii FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi, March 2015 WIDIYARSIH HANDAYANI PANIGORO (10542 0338 11)
dr. A. Tenri Padad, M.Med.Ed
"THE RELATIONSHIP BETWEEN SLEEP DISORDERS TO STUDENTS’
STUDY CONCENTRATION IN MEDICAL FACULTY
MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF MAKASSAR BATCH 2013"
(Xii + 52 pages + 4 attachment)
ABSTRACT Background:
Sleep is a basic human need that is physiological or most basic needs or the bottom of the pyramid of basic needs. Disruption of sleep patterns is a condition in which a person runs the risk of changes in the number and quality of rest patterns that cause discomfort. Classification of sleep disorders according to the International Classification of Sleep Disorder is dissomnia, parasomnias, sleep disorders associated with psychiatric disorders or health, sleep disorders are not cassified.
Objective:
To determine the relationship between sleep disorders to students’ study concentration in medical faculty muhammadiyah university of makassar batch 2013
Methods: This study used a cross-sectional design with a number of research subjects are 59 students. Determination of sleep disorders by studying the concentration obtained based on the calculation of the questionnaire.
Results: The number of samples involved in this study were 59 students. Most of the samples were female with a number of 39 persons (66.1%), aged 18 years 2 people (3.4%), aged 19 years 31 persons (52.5%), and 20 years of 26 people (44.1% ). Over the 59 respondents, the pattern of sleep disorders are the most widely accepted that severe insomnia (26-33) as many as 20 people (33.9%), insomnia moderate (19-25) as many as 16 people (27.1%), mild insomnia ( 15-18) as many as 11 people (18.6%), normal (0-14) accounted for 7 people (11.9%) and only 5 (8.5%) with the sleep disorder insomnia so severe category (> 34 ). In within the 59 respondents, there were 47 people (79.7%) did not concentrate in the study and only 12 people (20.3%) did concentrated in the study.
Conclusion: In this study, the results of statistical tests with values Keywords: sleep disorders, sleep patterns, concentration, speed, and accuracy
iv FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi, Maret 2015 WIDIYARSIH HANDAYANI PANIGORO (10542 0338 11)
dr. A. Tenri Padad, M.Med.Ed
“HUBUNGAN GANGGUAN TIDUR TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR ANGKATAN 2013”
(xii+ 52 halaman + 4 lampiran)
ABSTRAK
Latar belakang: Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisiologis atau kebutuhan paling dasar atau paling bawah dari piramida kebutuhan dasar. Gangguan pola tidur adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami resiko perubahan jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan. Klasifikasi gangguan tidur menurut International Classification of Sleep Disorder yaitu dissomnia, parasomnia, gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan atau psikiatri, gangguan tidur yang tidak terklasifikasi.
Tujuan:Dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara Gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa Fakultas Kedokteran Unismuh angkatan 2013
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 59 mahasiswa. Penentuan gangguan tidur dengan konsentrasi belajar diperoleh berdasarkan hasil perhitungan kuisioner.
Hasil: Jumlah sampel yang terlibat dalam penelitian ini adalah 59 mahasiswa.
Kebanyakan sampel berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 39 orang (66,1%), berumur 18 tahun 2 orang (3,4%) , umur 19 tahun 31 orang (52,5%), dan 20 tahun 26 orang (44,1%). Dari 59 responden, pola gangguan tidur yang paling banyak diterima yaitu Insomnia berat (26-33) yaitu sebanyak 20 orang (33,9%), insomnia sedang (19 – 25) sebanyak 16 orang (27,1%), insomnia ringan (15-18) sebanyak 11 orang (18,6%), normal (0-14) berjumlah 7 orang (11,9%) dan hanya 5 orang (8,5%) yang mengalami gangguan tidur kategori insomnia sangat berat (>34). Dari 59 responden, terdapat 47 orang (79,7%) yang tidak konsentrasi dalam belajar dan hanya 12 orang (20,3%) yang memiliki konsentrasi dalam belajar.
Kesimpulan: Pada penelitian ini didapatkan hasil uji statistic dengan nilai Kata kunci:Gangguan tidur , pola tidur, konsentrasi, kecepatan, dan ketelitian
v DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING…………..………... i
LEMBAR PANITIA SIDANG UJIAN………....…... ii
KATA PENGANTAR………..……... iii
DAFTAR ISI………...……... iv
DAFTAR TABEL ……….… v
DAFTAR GAMBAR………..…... vi
DAFTAR LAMPIRAN ………...……... vii
BAB I PENDAHULUAN ……….………... 1
A. Latar Belakang………..………... 1
B. Rumusan Masalah………..………... 3
C. Tujuan Penelitian………..………...………... 4
D. Manfaat Penelitian ………..…..…………... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA…….………...……….. 6
A. Pola Tidur...………... 6
B. Gangguan Pola Tidur...…………... 9
C. Efek Gangguan Tidur ...………... 19
D. Faktor-Faktor berhubungan Gangguan Tidur………....……… 21
E. Konsentrasi belajar ………... 23
F. Kerangka teori ………... 24
BAB III KERANGKA KONSEP ………... 25
A. Kerangka Konsep penelitian ………...…………... 25
B. Defenisi Operasional ……….…... 26
vi
C. Hipotesis penelitian... 26
BAB IV METODE PENELITIAN ...………...…………... 27
A. Desain Penelitian………... 27
B. Lokasi dan Waktu Penelitian………... 27
C. Populasi dan sampel ...………... 27
D. Besar sampel dan rumus besar sampel... 27
E. Manajemen Data... 28
F. Analisis data ...………... 29
G. Etika Penelitian... 30
BAB V HASIL PENELITIAN ...………... 32
A. Hasil Penelitian... 32
B. Analisis Univariat ……….. 32
C. Analisis Bivariat... 35
BAB VI PEMBAHASAN…………..……….………. 37
A. Pembahasan ...…………..…………..……….. 37
BAB VII TINJAUAN KEISLAMAN... 40
BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN... 41
A . Kesimpulan ... 49
B. Saran …………..…………...………...………... 50
DAFTAR PUSTAKA ………..………... 51 DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR LAMPIRAN
vii DAFTAR TABEL
NO JUDUL HALAMAN
1 Distribusi frekuensi responden menurut karakteristik umur. 32
2 Distribusi frekuensi responden menurut Jenis Kelamin 33
2 Distribusi frekuensi responden menurut Pola Gangguan Tidur
33
4 Distribusi frekuensi responden menurut Kualitas Tidur 34
5
6
7
Distribusi frekuensi responden menurut Tingkat Ketelitian
Distribusi frekuensi responden menurut Konsentrasi Belajar
Hubungan Gangguan Tidur Terhadap Konsentrasi Belajar
34
35
35
viii DAFTAR GAMBAR
NO JUDUL HALAMAN
1 2
Kerangka Teori Kerangka Konsep
24 25
ix DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Lembar pernyataan kesediaan menjadi Responden dan Daftar Tilik Pertanyaan
LAMPIRAN 2 Lembar Bourdon Wiersma Test
LAMPIRAN 3 Output SPSS 21 (Statistical Package for Service Solutions)
LAMPIRAN 4 Output Master Table
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisiologis atau kebutuhan paling dasar atau paling bawah dari piramida kebutuhan dasar.
Kesempatan untuk istirahat atau tidur sama pentingnya dengan kebutuhan makan, aktivitas maupun kebutuhan lainnya untuk memulihkan kembali kesehatannya 1
Keteraturan dan lamanya tidur dari masing-masing orang seperti halnya dengan masa sakit tidur merupakan persoalan yang bersifat pribadi. Ada orang yang memerlukan lebih banyak tidur dibandingkan yang lain. Ada orang yang mudah tidur dan sulit tidur, ada tidur yang tidak tenang dengan tidur yang tenang.
Kebiasaan-kebiasaan agaknya memegang peranan dalam pola-pola tidur dan tidur akan lebih mudah jika kebiasaan-kebiasaan itu tetap diikuti 2
Tidur adalah kondisi organisme yang sedang istirahat secara regular, berulang, dan reversibel dalam keadaan dimana ambang rangsang terhadap rangsangan dari luar lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan sadar/jaga.12 Pola tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu tipe REM (Rapid Eye Movement) dan tipe NREM (Non Rapid Eye Movement). Gangguan pola tidur adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami resiko perubahan jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan. Klasifikasi gangguan tidur menurut International Classification
2 of Sleep Disorder yaitu dissomnia, parasomnia, gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan atau psikiatri, gangguan tidur yang tidak terklasifikasi 3 Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius 3
Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol 3
Menurut data internasional of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65). Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2- 5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%) 4
Menurut NSF (National Sleep Foundation) 4 gangguan tidur dapat menimbulkan beberapa efek pada manusia. Ketika kurang tidur seseorangakan berpikir dan bekerja lebih lambat, membuat banyak kesalahan, dan sulit untuk mengingat sesuatu. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan dapat menyebabkan keelakaan. Efek lainnya pada pekerja yaitu pekerja menjadi lebih cepat mara, tidak sabar, gelisah dan depresi.Masalah ini dapat menggaggu
3 pekerjaan dan hubungan keluarga, serta mengurangi aktivitas sosial. Kurang tidur pada pekerja merupakan penyebab utama terjadinya penurunan produktivitas, ketidakhadiran pekerja (absentisme), dan kecelakaan di tempat kerja 5
Banyak sekali yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur seseorang, antara lain kepulasan atau mutu tidur dan lama waktu tidur seseorang. Mahasiswa cenderung terganggu tidurnya yang menimbulkan kegaduhan sehingga sering mengalami insomnia sehingga sering terlambat ke kampus dan tidak mengikuti pembelajaran pada perkulihan jam pertama. Seperti halnnya di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar mahasiswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar mengajar untuk mencapai Indeks Prestasi (IP) dan Indek Prestasi Kumulatif (IPK), namun ada beberapa kegiatan kemahasiswaan yang mempengaruhi kualitas tidur dari mahasiswa.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2013 merupakan mahasiswa yang masih aktif dalam proses perkuliahan, dan mempunyai Indeks Prestasi yang bervariatif, oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti hubungan gangguan tidur dengan konsentrasi belajar mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan gangguan tidur dengan tingkat konsentrasi belajar mahasiswa Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2013 ?
4 C. Tujuan Penelitian
I. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiya Makassar angkatan 2013.
II. Tujuan Khusus
a. Teridentifikasinya tingkat konsentrasi belajar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar 2013
b. Teridentifikasinya mahasiswa yang sering mengalami gangguan tidur mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar 2013
c. Mengetahui hubungan tingkat konsentrasi belajar dan gangguan tidur mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar 2013
D. Manfaat penelitian
I. Bagi Universitas Muhammadiyah Makassar dan Institusi pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan saran dalam mengambil kebijakan dari sudut pandang gangguan tidur yang berpengaruh terhadap konsentrasi belajar
II. Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan atau materi dalam meningkatkan cara belajar-mengajar di Fk Unismuh
2. Hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai referensi penelitian terkait hubungan antara gangguan tidur dengan konsentrasi belajar.
5 III. Bagi Mahasiswa dan Masyarakat
1. Hasil penelitian ini dapat di jadikan referensi untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang gangguan tidur yang sering di alami oleh mahasiswa dengan konsentrasi belajar
2. Hasil penelitian ini dapat di jadikan bahan informasi dan referensi bagi masyarakat mengenai gangguan tidur dengan konsentrasi belajar
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gangguan Pola Tidur a. Pola Tidur
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi 3
Kebutuhan tidur seseorang dapat digolongkan menjadi dua kelompok, hal ini dikarenakan kebutuhan tidur pada setiap orang tidaklah sama .Kelompok pertama disebut short sleepers, yaitu kelompok manusia yang membutuhkan tidur kurang dari enam jam per hari. Biasanya mereka memiliki sifat efisien, ambisius, pandai bergaul, bersikap tidak peduli terhadap masalah-masalah umum, memiliki rasa puas diri, dan dapat dikatakan terbebas dari gangguan psikologis. Kelompok kedua disebut long sleepers, yaitu kelompok manusia yang membutuhkan tidur lebih dari sembilan jam per hari. Umumnya kelompok ini memiliki sifat pemalu, mudah khawatir, banyak berpikir tentang masa depan, diri sendiri, dan masalah-masalah umum yang sebenarnya tidak perlu dirisaukan. Biasanya mereka mengalami gangguan psikologis ringan seperti anxietas dan depresi ringan 5
Dalam sebuah penelitian Handayani 2008, menjelaskan apabila dilihat dari usia individu seorang bayi normal membutuhkan waktu untuk tidur selama 16 – 18 jam sehari. Sedangkan manusia dewasa normal rata-rata membutuhkan waktu tidur
7 antara 7 – 8 jam sehari. Pada orang yang berusia diatas 60 tahun,kebutuhan tidurnya akan berkurang antara 4 – 6 jam dalam seharinya. Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa kualitas tidur seseorang tidak selamanya tergantung dari lamanya waktu yang dihabiskan untuk tidur, akan tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi fisik dan emosional. Tidur yang berkualitas tinggi adalah tidur yang nyenyak, tidak terlalu sering terbangun di tengah malam, dan apabila terbangun akan mudah untuk tertidur kembali serta tidak mengalami gangguan-gangguan yang berarti 4
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Pusat kontrol irama sirkadian terletak pada bagian ventral anterior hypothalamus. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis medulo oblongata yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral medulo oblogata disebut sebagai pusat penggugah atau aurosal state 3
Menurut teori dalam penelitian Japri Iskandar menyebutkan tipe tidur di bagi menjadi dua , yaitu :
I. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
Pada waktu REM jam pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih intens dan panjang saat menjelang pagi atau bangun. Pola tidur REM ditandai dengan adanya gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang sangat rendah 3 II. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)
8 Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16-20 jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang dewasa 3
Tipe NREM dibagi dalam 4 stadium yaitu:
I. Tidur stadium Satu
Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur. Fase ini didapatkan kelopak mata tertutup, tonus otot berkurang dan tampak gerakan bola mata kekanan dan kekiri. Fase ini hanya berlangsung 3-5 menit dan mudah sekali dibangunkan.
Gambaran EEG biasanya terdiri dari gelombang campuran alfa, betha dan kadang gelombang theta dengan amplitudo yang rendah. Tidak didapatkan adanya gelombang sleep spindle dan kompleks K 3
II. Tidur stadium dua
Pada fase ini didapatkan bola mata berhenti bergerak, tonus otot masih berkurang, tidur lebih dalam dari pada fase pertama. Gambaran EEG terdiri dari gelombang theta simetris. Terlihat adanya gelombang sleep spindle, gelombang verteks dan komplek 3
III. Tidur stadium tiga
Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya. Gambaran EEG terdapat lebih banyak gelombang delta simetris antara 25%-50% serta tampak gelombang sleep spindle 3
9 IV. Tidur stadium empat
Merupakan tidur yang dalam serta sukar dibangunkan. Gambaran EEG didominasi oleh gelombang delta sampai 50% tampak gelombang sleep spindle. Fase tidur NREM, ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih insten dan panjang saat menjelang pagi atau bangun.
Pola tidur REM ditandai adanya gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang sangat rendah, apabila dibangunkan hampir semua organ akan dapat menceritakan mimpinya, denyut nadi bertambah dan pada laki-laki terjadi eraksi penis, tonus otot menunjukkan relaksasi yang dalam 3
b. Gangguan Pola Tidur
Adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami resiko perubahan jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan 3. Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada penderita yang berkunjung ke praktek. Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang paling sering ditemukan pada usia lanjut 3
Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur biologiknya, menurun daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain. Menurut beberapa peneliti gangguan tidur yang berkepanjangan didapatkan 2,5 kali lebih sering mengalami kecelakaan mobil dibandingkan pada
10 orang yang tidurnya cukup 3. Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius .3
Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cendrung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol 3
Menurut data internasional of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65). Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2- 5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%) 3
Klasifikasi gangguan tidur menurut Internasional Classification of Sleep Disorders:
a. Dissomnia
• Gangguan tidur intrisik merupakan Narkolepsi, gerakan anggota gerak periodik, sindroma kaki gelisah, obstruksi saluran nafas, hipoventilasi, post traumatik kepala, tidur berlebihan (hipersomnia), idiopatik 3
11
• Gangguan tidur ekstrinsik adalah Tidur yang tidak sehat, lingkungan, perubahan posisi tidur, toksik, ketergantungan alkohol, obat hipnotik atau stimulant 3
• Gangguan tidur irama sirkadian adalah ganguan seperti Jet-lag sindroma, perubahan jadwal kerja, sindroma fase terlambat tidur, sindroma fase tidur belum waktunya, bangun tidur tidak teratur, tidak tidur selama 24 jam 3
b. Parasomnia
• Gangguan aurosal adalah gangguan tidur berjalan, gangguan tidur teror, aurosal konfusional 3
• Gangguan antara bangun-tidur adalah gerak tiba-tiba, tidur berbicara,kramkaki, gangguan gerak berirama 3
• Berhubungan dengan fase REM seperti gangguan mimpi buruk, gangguan tingkah laku, gangguan sinus arrest 3
• Parasomnia lain-lainnya seperti bruxism (otot rahang mengeram), mengompol, sukar menelan, distonia paroksismal 3.
c. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan/psikiatri:
• Gangguan mental seperti psikosis, anxietas, gangguan afektif, panik (nyeri hebat), alkohol 3
• Berhubungan dengan kondisi kesehatan seperti : Penyakit degeneratif (demensia, parkinson, multiple sklerosis), epilepsi, status epilepsi, nyeri kepala, Huntington, post traumatik kepala, stroke, Gilles de-la tourette sindroma 3
12
• Berhubungan dengan kondisi kesehatan seperti : Penyakit asma,penyakit jantung, ulkus peptikus, sindroma fibrositis, refluks gastrointestinal, penyakit paru kronik (PPOK)3
d. Gangguan tidur yang tidak terklassifikasi 1. Dissomnia
Adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesukaran menjadi jatuh tidur (failling as sleep), mengalami gangguan selama tidur (difficulty in staying as sleep), bangun terlalu dini atau kombinasi diantaranya 3
2. Gangguan tidur spesifik
a. Narkolepsi ditandai oleh serangan mendadak tidur yang tidak dapat dihindari pada siang hari, biasanya hanya berlangsung 10-20 menit atau selalu kurang dari 1 jam, setelah itu pasien akan segar kembali dan terulang kembali 2-3 jam berikutnya.Gambaran tidurnya menunjukkan penurunan fase REM 30-70%. Pada serangan tidur dimulai dengan fase REM 3
Berbagai bentuk narkolepsi:
- Narkolepsi kataplesia, adalah kehilangan tonus otot yang sementara baik sebagian atau seluruh otot tubuh seperti jaw drop, head drop 3
- Hypnagogic halusinasi auditorik/visual adalah halusinasi pada saat jatuh tidur sehingga pasien dalam keadaan jaga, kemudian ke kerangka pikiran normal 3
- Sleep paralis adalah otot volunter mengalami paralis pada saat masuk tidur sehingga pasien sadar ia tidak mampu menggerakkan ototnya 3
Gangguan ini merupakan kelainan heriditer, kelainannya terletak pada lokus kromoson 6 didapatkan pada orang-orang Caucasian white dengan populasi lebih
13 dari 90%, sedangkan pada bangsa Jepang 20-25%, dan bangsa Israel 1:500.000.
Tidak ada perbedaan antara jenis kelamin laki dan wanita. Kelainan ini diduga terletak antara batang otak bagian atas dan kronik pada malam harinya serta tidak rstorasi seperti terputusnya fase REM 3
b. Gangguan gerakan anggota gerak badan secara periodik (periodik limb movement disorders)/mioklonus nokturnal. Ditandai adanya gerakan anggota gerak badan secara streotipik, berulang selama tidur. Paling sering terjadi pada anggota gerak kaki baik satu atau kedua kaki. Bentuknya berupa sktensi ibu jari kaki dan fleksi sebagian pada sendi lutut dan tumit. Gerak itu berlangsung antara 0,5-5 detik, berulang dalam waktu 20-60 detik atau mungkin berlangsung terusmenerus dalam beberapa menit atau jam. Bentuk tonik lebih sering dari pada mioklonus 3 Sering timbul pada fase NREM atau saat onset tidur sehingga menyebabkan gangguan tidur kronik yang terputus. Lesi pada pusat kontrol pacemaker batang otak.
Insidensi 5% dari orang normal antara usia 30-50 tahun dan 29% pada usia lebih dari 50 tahun. Berat ringan gangguan ini sangat tergantung dari jumlah gerakan yang terjadi selama tidur, bila 5-25 gerakan/jam: ringan, 25-50 gerakan/jam:
sedang, danlebih dari 50 kali/jam : berat. Didapatkan pada penyakit seperti mielopati kronik, neuropati, gangguan ginjal kronik, PPOK, rhematoid arteritis, sleep apnea, ketergantungan obat, anemia 3
c. Sindroma kaki gelisah (Restless legs syndrome) /Ekboms syndrome
Ditandai oleh rasa sensasi pada kaki/kaku, yang terjadi sebelum onset tidur.
Gangguan ini sangat berhubungan dengan mioklonus nokturnal. Pergerakan kaki secara periodik disertai dengan rasa nyeri akibat kejang otot M. tibialis kiri dan
14 kanan sehingga penderita selalu mendorongdorong kakinya. Ditemukan pada penyakit gangguan ginjal stadium akut, parkinson, wanita hamil. Lokasi kelainan ini diduga diantara lesi batang otak hipotalamus 3
d. Gangguan bernafas saat tidur (sleep apnea)
Terdapat tiga jenis sleep apnea yaitu central sleep apnea, upper airway obstructive apnea dan bentuk campuran dari keduanya. Apnea tidur adalah gangguan pernafasan yang terjadi saat tidur, yang berlangsung selama lebih dari 10 detik.
Dikatakan apnea tidur patologis jika penderita mengalami episode apnea sekurang kurang lima kali dalam satu jam atau 30 episode apnea selama semalam. Selama periodik ini gerakan dada dan dinding perut sangat dominan. Apnea sentral sering terjadi pada usia lanjut, yang ditandai dengan intermiten penurunan kemampuan respirasi akibat penurunan saturasi oksigen. Apnea sentral ditandai oleh terhentinya aliran udara dan usaha pernafasan secara periodik selama tidur, sehingga pergerakan dada dan dinding perut menghilang. Hal ini kemungkinan kerusakan pada batang otak atau hiperkapnia 3
Gangguan saluran nafas (upper airway obstructive) pada saat tidur ditandai dengan peningkatan pernafasan selama apnea, peningkatan usaha otot dada dan dinding perut dengan tujuan memaksa udara masuk melalui obstruksi. Gangguan ini semakin berat bila memasuki fase REM. Gangguan saluran nafas ini ditandai dengan nafas megap-megap atau mendengkur pada saat tidur. Mendengkur ini berlangsung 3-6 kali bersuara kemudian menghilang dan berulang setiap 20-50 detik 3.. Serangan apnea pada saat pasien tidak mendengkur. Akibat hipoksia atau hipercapnea, menyebabkan respirasi lebih aktif yang diaktifkan oleh formasi
15 retikularis dan pusat respirasi medula, dengan akibat pasien terjaga danrespirasi kembali normal secara reflek. Baik pada sentral atau obstruksi apnea, pasien sering terbangun berulang kali di malam hari, yang kadang-kadang sulit kembali untuk jatuh tidur. Gangguan ini sering ditandai dengan nyeri kepala atau tidak enak perasaan pada pagi hari. Pada anak-anak sering berhubungan dengan gangguan kongenital saluran nafas, dysotonomi syndrome, adenotonsilar hypertropi. Pada orang dewasa obstruksi saluran nafas septal defek, hipotiroid, atau bradikardi, gangguan jantung, PPOK, hipertensi, stroke, GBS, arnord chiari malformation 3 e. Paska trauma kepala
Sebagian besar pasien dengan paska trauma kepala sering mengeluh gangguan tidur. Jarak waktu antara trauma kepala dengan timbulnya keluhan gangguan tidur setelah 2-3 tahun kemudian 3. Pada gambaran polysomnography tampak penurunan fase REM dan peningkatan sejumlah fase jaga. Hal ini juga menunjukkan bahwa fase koma (trauma kepala) sangat berperan dalam penentuan kelainan tidur 3. Pada penelitian terakhir menunjukkan pasien tampak selalu mengantuk berlebih sepanjang hari tanpa diikuti oleh fase onset REM. Penanganan dengan proses program rehabilitasi seperti sleep hygine. Litium carbonat dapat menurunkan angka frekwensi gangguan tidur akibat trauma kepala3.
F. Gangguan tidur irama sirkadian
Sleep wake schedule disorders (gangguan jadwal tidur) yaitu gangguan dimana penderita tidak dapat tidur dan bangun pada waktu yang dikehendaki,walaupun jumlah tidurnya tatap. Gangguan ini sangat berhubungan dengan irama tidur sirkadian normal 3. Bagian-bagian yang berfungsi dalam pengaturan sirkadian
16 antara lain temperatur badan,plasma darah, urine, fungsi ginjal dan psikologi.
Dalam keadan normal fungsi irama sirkadian mengatur siklus biologi irama tidurbangun, dimana sepertiga waktu untuk tidur dan dua pertiga untuk bangun/aktivitas. Siklus irama sirkadian ini dapat mengalami gangguan, apabila irama tersebut mengalami peregseran. Menurut beberapa penelitian terjadi pergeseran irama sirkadian antara onset waktu tidur reguler dengan waktu tidur yang irreguler (bringing irama sirkadian) 3
Perubahan yang jelas secara organik yang mengalami gangguan irama sirkadian adalah tumor pineal. Gangguan irama sirkadian dapat dikategorikan dua bagian:
1. dan terjaga lebih lambat yang diinginkan. Gangguan ini sering ditemukan dewasa muda, anak sekolah atau pekerja sosial. Orang tersebut sering tertidur (kesulitan jatuh tidur) dan mengantuk pada siang hari (insomnia sekunder) 3
b. Tipe Jet lag
Ialah mengantuk dan terjaga pada waktu yang tidak tepat menurut jam setempat, hal ini terjadi setelah berpergian melewati lebih dari satu zone waktu. Gambaran tidur menunjukkan sleep latensnya panjang dengan tidur yang terputus-putus 3
c. Tipe pergeseran kerja (shift work type)
Pergeseran kerja terjadi pada orang yang secara teratur dan cepat mengubah jadwal kerja sehingga akan mempengaruhi jadwal tidur. Gejala ini sering timbul bersama- sama dengan gangguan somatik seperti ulkus peptikum. Gambarannya berupa pola irreguler atau mungkin pola tidur normal dengan onset tidur fase REM 3
d. Tipe fase terlalu cepat tidur (advanced sleep phase syndrome)
17 Tipe ini sangat jarang, lebih sering ditemukan pada pasien usia lanjut,dimana onset tidur pada pukul 6-8 malam dan terbangun antara pukul 1-3 pagi. Walaupun pasien ini merasa cukup ubtuk waktu tidurnya. Gambaran tidur tampak normal tetapi penempatan jadwal irama tidur sirkadian yang tidak sesuai 3
e. Tipe bangun-tidur beraturan
f. Tipe tidak tidur-bangun dalam 24 jam 3. Lesi susunan saraf pusat (neurologis)
Sangat jarang. Lesi batang otak atau bulber dapat mengganggu awal atau memelihara selama tidur, ini merupakan gangguan tidur organik. Feldman dan wilkus et al menemukan fase tidur pada lesi atau trauma daerah ventral pons, yang mana fase 1 dan 2 menetap tetapi fase REM berkurang atau tidak ada sama sekali. Penderita chroea ditandai dengan gangguan tidur yang berat, yang diakibatkan kerusakan pada raphe batang otak. Penyakit seperti Gilles de la Tourettes syndrome, parkinson, khorea, dystonia, gerakan-gerakan penyakit lebih sering timbul pada saat pasien tidur. Gerakan ini lebih sering terjadi pada fase awal dan fase 1 dan jarang terjadi pada fase dalam. Pada dememsia sinilis gangguan tidur pada malam hari, mungkin akibat diorganisasi siklus sirkadian, terutama perubahan suhu tubuh.
Pada penderita stroke dapat mengalami gangguan tidur, bila terjadi gangguan vaskuler didaerah batang otak epilepsi seringkali terjadi pada saat tidur terutama pada fase NREM (stadium ½) jarang terjadi pada fase REM 3
4. Gangguan kesehatan, toksik
Seperti neuritis, carpal tunnel sindroma, distessia, miopati distropi, low back pain, gangguan metabolik seperti hipo/hipertiroid, gangguan ginjal akut/kronik, asma,
18 penyakit, ulkus peptikus, gangguan saluran nafas obstruksi sering menyebabkan gangguan tidur seperti yang ditunjukkan mioklonus nortuknal 3
5. Obat-obatan
Gangguan tidur dapat disebabkan oleh obat-obatan seperti penggunaan obat stimulan yang kronik (amphetamine, kaffein, nikotine), antihipertensi, antidepresan, antiparkinson, antihistamin, antikholinergik. Obat ini dapat menimbulkan terputus- outus fase tidur REM 3
- Gangguan tidur berjalan (sleep walking)/somnabulisme
Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat komplek termasuk adanya automatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, menutup pintu, duduk ditempat tidur, menabrak kursi, berjalan kaki, berbicara. Tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan kembali tidur. Gambaran tipikal gangguan tingkah laku ini didapat dengan gelombang tidur yang rendah, berlangsung 1/3 bagian pertama malam selama tidur NREM pada stadium 3 dan 4. Selama serangan, relatif tidak memberikan respon terhadap usaha orang lain untuk berkomunikasi dengannya dan dapat dibangunkan susah payah. Pada gambaran EEG menunjukkan iram acampuran terutama theta dengan gelombang rendah. Bahkan tidak didapatkan adanya gelombang alpha 3.
- Gangguan teror tidur (sleep teror)
Ditandai dengan pasien mendadak berteriak, suara tangisan dan berdiri ditempat tidur yang tampak seperti ketakutan dan bergerak-gerak. Serangan ini terjadi sepertiga malam yang berlangsung selama tidur NREM pada stadium 3 dan 4.
Kadang-kadang penderita tetap terjaga dalam keadaan terdisorientasi, atau sering
19 diikuti tidur berjalan. Gambaran teror tidur mirip dengan teror berjalan baik secara klinis maupun dalam pemeriksaan polisomnografy. Teror tidur mungkin mencerminkan suatu kelainan neurologis minor pada lobus temporalis 3. Pada kasus ini sering kali terjadi perubahan sistem otonomnya seperti takhicardi, keringat dingin, pupil dilatasi, dan sesak nafas 3
- Gangguan tidur berhubungan dengan fase REM
Ini meliputi gangguan tingkah laku, mimpi buruk dan gangguan sinus arrest.
Gangguan tingkah laku ini ditandai dengan atonia selama tidur (EMG) dan selanjutnya terjadi aktifitas motorik yang keras, episode ini sering terjadi pada larut malam (1/2 dari larut malam) yang disertai dengan ingat mimpi yang jelas.
c. Efek Gangguan Tidur
Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa gangguan tidur dapat menimbulkan beberapa efek pada manusia. Ketika kurang tidur seseorang akan berpikir dan bekerja lebih lambat, membuat banyak kesalahan, dan sulit untuk mengingat sesuatu. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan dapat menyebabkan kecelakaan. Selanjutnya, di Amerika kerugian akibat hal di atas diperkirakan mencapai 18 milyar dollar per tahun. Efek lainnya pada pekerja yaitu pekerja menjadi lebih cepat marah, tidak sabar, gelisah, dan depresi. Masalah ini dapat mengganggu pekerjaan dan hubungan keluarga, serta mengurangi aktivitas sosial 6
Gangguan tidur dapat menyebabkan beberapa efek pada mahasiswa , gangguan tidur dapat mempengaruhi penurunan semangat belajar, serta hubungan dalam memperhatikan pelajaran ketika di kelas. Tanpa tidur yang cukup mahasiswa
20 menjadi lebih sulit untuk berkonsentrasi, memahami sesuatu, dan dalam berkomunikasi. Selain itu Bell menjelaskan akibat dari gangguan tidur sebagai berikut :
a. Kurang tidur pada pekerja menyebabkan penurunan yang signifikan pada performance kerja dan kewaspadaan mencapai 32% 7
b. Penurunan kewaspadaan dan tidur yang berlebihan berpengaruh pada kemampuan kognitif dalam berpikir dan memproses informasi 7
c. Tidur yang berlebihan juga meningkatkan risiko 2 kali lipat terjadinya kesakitan akibat kerja secara terus-menerus 7
Hal di atas diperkuat dengan pernyataan penelitian Klein bahwa gangguan tidur dapat mengakibatkan kelelahan yang merupakan keluhan kesehatan yang serius pada mahasiswa. Kurang tidur pada mahasiswa merupakan sebab utama penurunan produktivitas, ketidak hadiran mahasiswa (absentisme), dan keterlambatan pada mahasiswa ketika kuliah pagi .
Dalam sumber lain disebutkan bahwa gangguan tidur yang tidak segera diatasi dalam jangka waktu yang lama akan berhubungan dengan penyakit-penyakit serius seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, gangguan jantung, stroke, kegemukan, dan luka akibat kecelakaan. Selain itu gangguan tidur juga dapat berpengaruh terhadap masalah kesehatan psikis seperti depresi, gangguan jiwa, kerusakan mental, mempengaruhi pertumbuhan janin dan anak-anak, serta terjadinya penurunan kualitas hidup. Menurut penelitian Doghramji, penanganan yang tidak segera dilakukan pada orang yang mengalami insomnia atau gangguan tidur lainnya dapat menyebabkan kerusakan fungsional tubuh sehingga memerlukan
21 biaya perawatan yang mahal. Dikatakan pula bahwa tidur yang berlebih tanpa diiringi kualitas tidur yang baik juga dapat berhubungan dengan meningkatnya angka kematian, kesakitan, dan kecelakaan yang dapat mengancam jiwa 4
d. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Tidur 1. Konsumsi Alkohol dan Kafein
Mengkonsumsi alkohol dan kafein merupakan salah satu penyebab gangguan tidur yang diakibatkan oleh faktor gaya hidup 5
Kafein adalah stimulan yang dapat membantu seseorang untuk tetap terjaga dan mungkin dapat membantu orang tersebut untuk bekerja lebih baik. Kafein telah banyak digunakan oleh semua orang di seluruh dunia. Kandungan alaminya biasa terdapat dalam kopi dan teh, dan ada pula yang ditambahkan ke dalam minuman ringan (soft drinks) seperti minuman bersoda. Minuman berkafein sudah menjadi bagian dalam pola makan sehari-hari dan mudah untuk didapat.
Oleh karena itu, kafein banyak digunakan untuk menjaga kewaspadaan dan performance, atau untuk membantu menyingkirkan rasa kantuk 4.
2. Konsumsi Obat Tidur
Obat tidur terbagi menjadi dua macam yaitu obat tidur yang diperoleh berdasarkan resep dokter dan obat todur yang dijual bebas. Obat tidur yang dijual bebas sering kali membuat seseorang mengantuk dan menolong mereka untuk tertidur. Hal ini akan berlangsung lama, artinya orang yang mengkonsumsi obat ini akan tetap merasakan kantuk setelah mereka terbangun dari tidur 4
22 3. Status Kesehatan
Salah satu faktor pencetus gangguan tidur yang berasal dari individu adalah suatu penakit yang diderita. Dalam sumber lain disebutkan pula bahwa sakit fisik dapat menjadi penyebab gangguan tidur, seperti sesak napas pada orang yang terserang asma, sinus dan influenza sehingga hidung yang tersumbat dapat menyebabkan gangguan tidur. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa gangguan tidur akan tetap terjadi selama penyakit tersebut belum dapat ditanggulangi dengan baik 5
4. Jenis Kelamin
Gangguan tidur lebih sering dialami oleh perempuan dibandingkan dengan laki- laki. Penyebab gangguan tidur pada perempuan antara lainStres psikis, secara statistik 34% kaum perempuan lebih sering mengalami gangguan tidur jika dibandingkan dengan laki-laki yang hanya sekitar 22% yang mengalaminya.
23 B Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar siswa adalah seorang siswa mengenali pikirannya dan sejalan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-gurunya dan kemampuan mengalihkan perhatiannya dari pelajaran pertama ke pelajaran berikutnya. Anak tidak mudah mengalihkan perhatian pada masalah lain di luar yang dipelajarinya.
Semakin banyak informasi yang harus diserap oleh siswa maka kemampuan berkonsentrasi mutlak dimiliki dalam mengikuti proses belajar. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku, suatu hasil dari pengalaman motivasi dan penyesuaian daripada situasi dan lingkungan. Tingkah laku dapat bersifat jasmaniah dan intelek yang tidak mudah dilihat. Proses belajar dapat bersifat formal dan informal.Keadaan pengelihatan dan lapar dapat menyebabkan otak kekurangan glukose dan oksigen sehingga terjadi gangguan kualitas kesadaran yang meliputi:
gangguan daya berorientasi, gangguan daya intelek seperti: pengetahuan, pengertian, berhitung, dan menulis. Keadaan seperti itu mengganggu konsentrasi belajar (Susanto, 2006). Kelelahan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar para siswa, keadaan lelah akan berakibat kurang waspada dan kurang siap siaga dalam mengerjakan pekerjaannya dan khususnya pada siswa akan menyebabkan makin kurang terserapnya materi pelajaran yang diberikan oleh guru.
Seorang guru harus tanggap terhadap keadaan anak didiknya, sehingga tidak terjadi gejala-gejala melelahkan yang disebabkan oleh proses pembelajaran (Aisyah, 2008). Salah satu alat untuk mengukur konsentrasi belajar adalah Bourdon Wiersma Test, meliputi kecepatan, ketelitian dan konstansi. Hasil pengukuran dikategorikan golongan konsentrasi dengan menggunakan nilai norma standar Wieghted Scores
24 (WS). Tingkat kecepatan adalah kualitas atensi yang dimanifestasikan oleh angka kumulatif satuan detik dalam menyelesaikan materi tes. Kemampuan persepsi adalah menggambarkan ketelitian mencoret kelompok titik yang ditentukan.
Tingkat kewaspadaan yang direkam berdasakan angka terpendek dan terpanjang penyelesaian tes, digunakan sebagai penentuan konstansi penyelesaian pekerjaan.
Perubahan gerakan juga dapat dipakai sebagai acuan melihat keadaan konsentrasi.
Perubahan gerakan dicatat selama berlangsungnya penelitian , gerakan yang berubah meliputi gerakan kepala, bahu, badan, tangan, pantat, kaki dan lainnya khususnya pergeseran bangku, setiap subjek memiliki jumlah gerakan yang bervariasi. Makin banyak perubahan gerakan, maka diasumsikan konsentrasi semakin menurun dan sebaliknya .(Cognitif Research Scandinavia, 2004)
C. Kerangka Teori
Gambar 2.1 Menggambarkan kerangka teori yang menjadi dasar penyusunan kerangka konsep dalam penelitian ini.
Gambar 2.1 Kerangka teori modifikasi dari: Iskandar (2002), Dion (2004), Susanto (2006)
Gangguan tidur Konsentrasi
Belajar Berhubungan
dengan fase REM
Dissosmnia, Parosmia
Obat-obatan Gangguan
kesehatan
Kurang teliti, kurang cepat
25 BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
Dari kerangka teori diketahui banyak faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar pada mahasiswa . Dalam penelitian ini tidak semua faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar pada mahasiswa, hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu. Maka dari itu yang akan diteliti adalah hubungan antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa FK Unismuh angkatan 2013.
Gambar 3.1Kerangka Konsep Penelitian
Gangguan Tidur
Status Kesehatan
Kafein/obat-obatan
Konsentrasi Belajar
26 B. Definisi Operasional
1. Variabel independen dalam penelitian ini adalah gangguan tidur Alat Ukur : Kuisioner
Skala : Ordinal
Hasil ukur : Tidur normal dengan skor 0- 14
Insomnia ringan dengan skor 15- 18 Insomnia sedang dengan skor 19- 25 Insomnia berat dengan skor 26- 33 Insomnia sangat berat dengan skor ≥ 34
2. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah konsentrasi yang dapat didefinisikan sebagai pemusatan perhatian atau pikiran suatu hal.
Alat ukur : Bourdon wiersman test Skala : Ordinal
Hasil Ukur :
- Berkonsentrasi jika terdapat minimal dua golongan atau interpretasi di atas garis batas antara kecepatan, ketelitian dan konstansi
-Tidak berkonsentrasi jika terdapat minimal dua golongan atau interpretasi di bawah garis batas antara kecepatan, ketelitian, dan konstansi
C. Hipotesis Penelitian
1. Hipotesis alternatif (Ha) yaitu ada pengaruh antara gangguan tidur dengan konsentrasi belajar mahasiswa FK Unismuha angkatan 2013
2. Hipotesis nol (Ho) yaitu tidak ada pengaruh antara gangguan tidur dengan konsentrasi mahasiswa FK Unismuh
27 BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain penelitian
Adapun desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian cross sectional, karena pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan pengamatan hanya dilakukan satu kali selama penelitian.
B. Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober – November 2014 pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2013
C. Populasi dan sampel
Jumlah sampel yang saya gunakan dalam penelitian ini sebanyak 98 orang dengan mengambil seluruh sampel mahsiswa fakultas kedokteran angkatan 2013.
D. Besar sampel dan rumus besar sampel
Menurut M. Sopiyuddin Dahlan (2010) rumus besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumus penelitian analitik kategorik tidak berpasangan dengan desain cross sectional, yaitu:
√ √
Kesalahan tipe I = 20%, hipotesis dua arah, Z = 1,282 Kesalahan tipe II = 20%, maka Zβ = 1,842
P2 = Proporsi pajanan pada kelompok kasus sebesar 0,5
28 Q2 = (1-0,5) = 0,5
P1-P2 = selisih proporsi pajanan yang dianggap bermakna, ditetapkan sebesar 0,1 P1 = P2 + 0,2 = 0,5 + 0,2 = 0,7
Q1 = (1-P1) = (1- 0,7) = 0,3
P = (P1 + P2)/2 = ( 0,7 + 0,5 )/2 = 0,6 Q = (1 – P ) = ( 1 – 0,6 ) = 0,4
√ √
√ √
52,56 = 53
Jadi besar sampel yang diperlukan minimal 53 mahasiswa.
E. Manajemen Data
Untuk pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer, melalui tahapan sebagai berikut :
1. Editing (penyuntingan data)
Pada tahap ini dilakukan pengecekan data primer (daftar tilik pertanyaan) untuk melihat kelengkapan jawaban, kejelasan dan kesesuaian dengan pertanyaan dalam penelitian.
2. Coding (Pengkodean data)
Setelah proses editing dianggap cukup, maka proses selanjutnya adalah coding.
Dalam proses ini akan dilakukan pengklasifikasian jawaban dari keterangan yang
29 didapatkan dari ibu yang tercantum dalam daftar tilik pertanyaan dengan memberi kode-kode untuk mempermudah proses pengolahan data.
3. Entry (Peng-inputan data)
Pada tahap ini dilakukan pemasukan data-data yang sudah dikumpulkan kedalam program komputer untuk proses analisis.
4. Cleaning (pembersihan data)
Pada tahap ini dilakukan proses pembersihan data untuk mengidentifikasi dan menghindari kesalahan sebelum data di analisa. Proses cleaning diawali dengan menghilangkan data yang tidak lengkap dari lembar daftar tilik setiap responden dan data yang mempunyai nilai ekstrim seperti data anak dengan IMT/U.
F. Analisis Data
Data yang diperoleh melalui penelitian ini akan diolah menggunakan program SPSS21 (Statistical Package for Service Solutions 21) dan analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat
G. Analisis data
Data yang diperoleh melalui penelitian ini akan diolah menggunakan program SPSS dan analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat.
1. Analisis Univariat
Data yang diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi berdasarkan masing-masing variabel untuk presentase dan disertai dengan penjelasan meliputi data gangguan tidur.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel dependen (konsentrasi belajar) dengan variabel independen (gangguan tidur). Analisis bivariat akan digunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara variabel bebas
30 ( variabel independen) dengan variabel terikat (variabel dependen). Uji statistik yang digunakan yaitu Chi-Square, karena variabel independen dan dependennya termasuk dalam jenis variabel kategorik.Keputusan uji statistik dalam uji Chi- Square adalah p-value ≤ 0,05 maka hasil perhitungan statistik signifikan. Artinya ada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Sedangkan p- value > 0,05 berarti tidak ada hubungan antara variabel independen dan variabel dependennya.
Etika Penelitian
Masalah etika penelitian kedokteran merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut :
a. Lembar Persetujuan ( Informed consent)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden peneliti dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya.
b. Tanpa Nama ( Anomity)
Masalah etika penelitian merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam menggunakan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau tidak
31 mencamtumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
c. Kerahasiaan ( Confidentiality)
Masalah penelitian merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan dalam kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil.
32 BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
a Analisis Univariat
Tahap pertama dari analisis data adalah analisis univariat. Analisis univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel yang diteliti yaitu variabel konsentrasi belajar, gangguan tidur berupa waktu tidur dan pola tidur.
Tabel 1. Distribusi frekuensi responden menurut karakteristik umur
Umur Jumlah (n) Persen (%)
18 Tahun 19 Tahun 20 Tahun
2 31 26
3,4 52,5 44,1
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 1 di atas tentang distribusi umur responden penelitian. Dimana responden yang banyak berumur 19 tahun berjumlah 31 orang (52,5%), yang berusia 20 tahun berjumlah 26 orang (44,1%) dan sisanya 2 orang (3,4%) berumur 18 tahun.
33 Tabel 2. Distribusi frekuensi responden menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah (n) Persen (%) Laki – laki
Perempuan
20 39
33,9 66,1
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 2 menggambarkan tentang karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin. Dimana dari 59 orang, responden perempuan yang mendominasi yaitu berjumlah 30 orang (66,1%) dan laki- laki berjumlah 20 orang (33,9%).
Tabel 3. Distribusi frekuensi responden menurut Pola Gangguan Tidur Gangguan Tidur Jumlah (n) Persen (%) Normal (0 -14 )
Insomnia Ringan (15 – 18 ) Insomnia Sedang (19 – 25) Insomnia Berat (26- 33 ) Insomnia Sangat Berat (>34)
7 11 16 20 5
11,9 18,6 27,1 33 8,5
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 3 diatas menggambarkan distribusi pola tidur yang dialami responden. Dari 59 responden, pola gangguan tidur yang paling banyak diterima yaitu Insomnia berat (26-33) yaitu sebanyak 20 orang (33,9%), insomnia sedang (19 – 25) sebanyak 16 orang (27,1%), insomnia ringan (15-18) sebanyak 11 orang (18,6%), normal (0-14) berjumlah 7 orang (11,9%) dan hanya 5 orang (8,5%) yang mengalami gangguan tidur kategori insomnia sangat berat (>34).
34 Tabel 4. Distribusi frekuensi responden menurut Kualitas Tidur
Kualitas Tidur Jumlah (n) Persen (%) Baik
Buruk
34 25
57,6%
43,4%
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 4 di atas menggambarkan kualitas tidur dari responden penelitian. Dari 59 responden, kualitas tidur baik sebanyak 34 orang (57,6%) dan 25 orang (43,4%) dengan kualitas tidur yang buruk.
Tabel 5. Distribusi frekuensi responden menurut Tingkat Ketelitian
Tingkat Ketelitian Jumlah (n) Persen (%)
Baik
Cukup Baik Cukup Ragu- Ragu Kurang
2 10 42 3 2
3,4 16,9 71,2 5,1 3,4
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 5 di atas menggambarkan tingkat ketelitian dari responden penelitian. Dari 59 responden, Tingkat ketelitian yang terbanyak yaitu kategori cukup 42 orang (71,2), cukup baik 10 orang (16,9%).
35 Tabel 6. Distribusi frekuensi responden menurut Konsentrasi Belajar
Konsentrasi Belajar Jumlah (n) Persen (%)
Konsentrasi Tidak Konsentrasi
12 47
20,3 79
Total 59 100
Sumber : Data Primer, 2014
Tabel 6 di atas menggambarkan konsentrasi belajar responden.Dari 59 responden, terdapat 47 orang (79,7%) yang tidak konsentrasi dalam belajar dan hanya 12 orang (20,3%) yang memiliki konsentrasi dalam belajar.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariate dimaksudkan untuk melihat hubungan antara gangguan tidur dengan konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH secara statistik. Uji yang digunanakan adalah uji Chi Square. Berikut tabel hasil uji secara statistika
Tabel 7. Hubungan Gangguan Tidur Terhadap Konsentrasi Belajar
Gangguan Tidur
Konsentrasi Belajar Total P Value
N (%) Konsentrasi
N (%)
Tidak Konsentrasi
N (%) Insomnia (>18)
Tidur Normal (≤18 )
8 (19,5%) 4 (22,2%)
33 (88,5%) 14 (77,8%)
18 (100%) 0,812 41 (100%)
36 Tabel 7 diatas menggambarkan hubungan gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH. Diperoleh dari 18 orang dengan pola tidur normal (≤18), 4 orang (22,2%) memiliki konsentrasi belajar, dan 14 orang (77,8%) tidak memiliki konsentrasi dalam belajar. Sedangakan dari 41 orang dengan insomnia (>18) paling banyakyang tidak konsentrasi dalam belajar yaitu 33 orang orang (88,5%) dan hanya 8 orang (19,5%) yang konsentrasi dalam belajar. Uji statistik hubungan antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajarmahasiswa, dimana diperoleh nilai P value = 0,812 > = 0,05 yang artinya Ho diterima dan Ha ditolak. Berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH. Nilai Odd Ratio (OR) 0,878 (0,303 – 2,546 (yang artinya mahasiswa dengan gangguan tidur (insomnia), hanya 0,878kali untuk dapat berkonsetrasi dalam belajar dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki gangguan tidur (normal).
37 BAB VI
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas terhadap 59 responden yang telah bersedia menjadi sampel pada penelitian tentang hubungan gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa. Responden terdiri atas 39 orang perempuan dan 20 orang laki- laki, dengan usia sebagian besar 19 tahun.
Penelitian ini dilakukan dengan cara membagikan kuisioner yang bertujuan untuk menilai kualitas tidur, gannguan tidur serta tingkat konsentrasi yang dimiliki oleh responden, dimana kuisioner ini yang telah divalidasi setiap pertanyaanya dan telah diujikan oleh peneliti sebelumnya.
Distribusi responden berdasarkan kualitas tidur, terdapat 34 orang (57,6%) responden yang memiliki kualitas tidur baik, dan 25 orang (43,4%) yang memiliki kualitas tidur buruk. Kualitas tidur yang buruk merupakan salah satu penyebab ketidakmampuan atau kurang optimalnya prestasi belajar karena kurang mampu berkosentrasi.
Hampir semua orang pernah mangalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%- 40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Distribusi kejadian gangguan tidur dari penelitian ini, didapatkan tingkat gangguan tidur terbanyak berupa insomnia berat dengan nilai skoring pada kuisioner 26-33 sebanyak 33,9%. Responden dengan gangguan tidur berupa insomnia sedang 27,1% dan yang tidak memiliki gangguan tidur (normal) hanya 11,9%. Menurut
38 data Internasional of sleep disoreder, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti penyakit asma (61-74%), gangguan pernapasan (40-50%), psychophysiologival (15%), sindrom terlambat tidur (5-10%) dan keadaan depresi (65%).
Distribusi konsentrasi belajar responden berdasarkan hasil ketelitian dan konstansi responden terhadap instrument tes bourdon diperolah sebanyak 47 orang (79,7%) tidak konsetrasi dan hanya 12 orang (20,3%) yang konsentrasi dalam mengikuti tes tersebut. Menurut Slameto (2010), seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi dapat disebabkan kerana : kurang berminat terhadap apa yang dipelajari, terganggu oleh keadaan lingkungan (bising, keadaan yang semrawut dan lain- lain), pikiran kacau/ masalah- masalah kesehatan lain dan lain sebagainya. 14
Hasil analisa bivariate hubungan antara kualitas tidur terhadap konsentrasi belajar menggunakan uji statistik. Diperoleh dari 18 orang dengan pola tidur normal (≤18), 4 orang (22,2%) memiliki konsentrasi belajar, dan 14 orang (77,8%) tidak memiliki konsentrasi dalam belajar.
Sedangakan dari 41 orang dengan insomnia (>18) paling banyak yang tidak konsentrasi dalam belajar yaitu 33 orang orang (88,5%) dan hanya 8 orang (19,5%) yang konsentrasi dalam belajar.
Uji statistik hubungan antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa, dimana diperoleh nilai P value = 0,812 > = 0,05 yang artinya Ho diterima dan Ha ditolak. Berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan tidur terhadap konsentrasi belajar mahasiswa FK UNISMUH. Nilai Odd
39 Ratio (OR) 0,878 (0,303 – 2,546 ( yang artinya mahasiswa dengan gangguan tidur (insomnia), hanya 0,878 kali untuk dapat berkonsetrasi dalam belajar dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki gangguan tidur (normal).
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa secara statistik kualitas tidur bukan masalah utama yang mempengaruhi konsentrasi belajar seseorang walaupun pada umumnya orang dengan kualitas tidur buruk juga memberikan efek terhadap konsentrasi dalam belajar. Dibutuhkan penelitian lanjutan yang lebih luas untuk mengetahui lebih jauh tentang faktor- faktor lain yang mungkin memperberat tingkat konsentrasi seseorang seperti gangguan psikiatrik, pola makan dan minum, ataupun penyakit keganasan yang tidak diketahui. 15
Banyaknya mahasiswa yang tidak berkonsentrasi dikarenakan pada saat peneliti melakukan penelitian saat itu responden sedang menunggu ujian maka kemungkinan itu yang menyebabkan banyak responden kurang berkonsentrasi.
40 BAB VII
TINJAUAN KEISLAMAN
Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan ( habl min Allah ), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia ( habl min al-nas) yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dimana Tidur sudah menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan. Karena dengan tidur tubuh yang lelah, dan otot-otot yang tegang setelah dipakai beraktivitas seharian dapat kembali mejadi lebih segar. Meski demikian, kita perlu mengetahui adab-adab tidur menurut tuntunan Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah dituliskan dalam
"Kitabul Adab" karya Syaikh Fu'ad bin Abdul Aziz As-Syalhub.
I. Tidur Sebuah Tanda Kekuasaan Allah SWT.
Allah berfirman:
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Ruum:
23).
41 Allah juga berfirman:
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. An-Naba': 9).
Imam Ibnu Katsir berkata:
"Yaitu termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya Allah menjadikan sifat tidur bagi kalian diwaktu malam dan siang, dengan tidur, ketenangan dan rasa lapang dapat tercapai dan rasa lelah serta kepenatan dapat hilang".
II. Adab Tidur
1. Anjuran Qoyluulah
Berkata Ibnu Atsir: "Qoyluulah adalah istirahat di pertengahan siang walaupun tidak tidur".
Berdasarkan hadits Dari Sahl Bin Sa'd dia berkata: "Tidaklah kami qoyluulah dan makan siang kecuali setelah shalat jum'at".
Anas bin Malik radhiyallahu „anhu juga mengabarkan kebiasaan para sahabat Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dahulunya:
“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum‟at, kemudian istirahat siang.”