BAB III PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
a. Penggolongan dan Bagian Ahli Waris Hukum Waris Perdata Barat:
Ahli waris menurut undang-undang dalam hukum waris perdata barat dibagi menjadi empat golongan berdasarkan azas penderajatan atau het naaste in het bloed erft het goed. Azas ini mengandung arti bahwa kerabat yang memiliki hubungan terdekat dengan ahli warislah yang akan mewaris dan menyingkirkan keluarga yang lebih jauh untuk mewaris. Disamping itu, seluruh pembagian ahli waris tiap-tiap golongan telah diatur dalam KUHPerdata. Selain ahli waris berdasarkan undang-undang atau ahli waris Ab-Intestato , dikenal juga ahli waris testamentaire di
mana ahli waris ini mendapatkan hak atas harta warisan berdasarkan testament yang dibuat oleh Pewaris dengan ketentuan tidak melanggar undang-undang mengenai pembatasan harta warisan yang dapat diberikan dalam hal ini undang-undang menyebutnya dengan istilah legitime portie guna melindungi kepentingan dan hak ahli waris ab intestato si Pewaris.
Hukum Waris Islam:
Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 174, membagi ahli waris menurut hubungan darah dan hubungan perkawinan. Ahli waris menurut hubungan darah dalam hal ini terbagi lagi menjadi golongan laki-laki yakni: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki dan kakek, sedangkan ahli waris menurut hubungan darah golongan perempuan adalah: ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek. Selanjutnya, menurut hubungan perkawinan ada janda dan duda.
Selain pengelompokan ahli waris seperti yang dijelaskan dalam Pasal 174 KHI tersebut, penggolongan ahli waris dalam hukum waris Islam menurut bagiannya terbagi menjadi tiga:
Dzawil Furudl/ dzul Faraidh, Ashabah dan Dzawil Arham. Dzawil Furudl/ dzul Faraidh untuk golongan ahli waris yang bagiannya telah ditentukan oleh Al-Qur’an, yang tergolong dzawil furudl/ dzul faraidh ini antara lain: ayah, ibu, anak perempuan, saudara laki-laki maupun saudara perempuan, janda dan duda. Adapun
Ashabah adalah golongan ahli waris yang tidak ditentukan bagiannya atau yang mendapatkan bagian sisa harta warisan setelah bagian Dzawil Furudl diperhitungkan, kelompok ini antara lain: Anak laki-laki dan keturunannya, anak perempuan dan keturunannya bila mewaris bersama anak laki, saudara laki-laki bersama saudara perempuan bila pewaris tidak meninggalkan keturunan dan ayah, kakek, paman yang ditarik dari pihak ayah atau laki-laki. Berbeda dengan KUHPerdata bahwa antara Dzawil Furudl dan Ashabah tidak saling menutupi, sebaliknya, Ashabah
bisa menarik Dzawil Furudl menjadi Ashabah Bil Ghair dengan tetap menggunakan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Dzawil Arham sendiri dalam KHI dilebur dalam pengaturan golongan pewaris pengganti / mawali karena KHI menganut sistem Bilateral.
Dalam hukum waris Islam, testament atau wasiat tidak dipandang sebagai dasar atau alasan dari sebuah pewarisan. Wasiat dianggap sama dengan hibah hanya saja waktu pelaksanaannya yang berbeda. Bagi pelaksanaan wasiat ditentukan peraturan yaitu tidak boleh melebihi 1/3 harta warisan si Pewaris.
b. Bagian Waris Anak Laki-laki dan Perempuan Hukum Waris Perdata Barat
Salah satu azas pewarisan dalam hukum waris perdata barat adalah azas tidak membedakan anak dari asal kelahiran dan jenis kelamin, maka dari azas ini hukum waris perdata barat mengatur bagian laki-laki sama dengan bagian perempuan ketika mereka mempunyai kedudukan atau kedekatan yang sama dengan pewaris. Misalnya, seorang anak laki-laki akan mendapatkan bagian yang sama dengan anak perempuan. Saudara laki-laki akan mendapatkan bagian yang sama dengan saudara perempuan dan seterusnya.
Hukum Waris Islam:
Berdasarkan atas azas keadilan berimbang, dimana azas ini berdasarkan Al-Qur’an yang mengatur bagian anak laki-laki sebesar dua kali bagian anak perempuan dengan latar belakang bahwa hak dan kewajiban sosial individu seorang laki-laki berbeda dengan kewajiban sosial seorang perempuan.
Dalam sistem waris Islam, harta yang diterima ahli waris merupakan kelanjutan tanggung jawab pewaris terhadap keluarganya. Oleh sebab itu bagian yang diterima ahli waris harus berimbang dengan perbedaan tanggung jawab masing-masing terhadap keluarganya1.
c. Kedudukan Anak Angkat2 Hukum Waris Perdata Barat
KUHPerdata tidak mengatur masalah pengangkatan anak, oleh karena itu pemerintah Hindia Belanda berusaha untuk membuat aturan tersendiri yaitu Staatsblad 1917 nomor 129 Pasal 5 sampai dengan Pasal 15 sebagai ketentuan tertulis yang mengatur pengangkatan anak dan merupakan kelengkapan dari KUHPerdata / BW yang khusus berlaku bagi masyarakat keturunan Tiong Hoa.
Pengangkatan anak dalam bahasa Belanda menurut kamus hukum berarti “pengangkatan seorang anak untuk (dijadikan) sebagai anak kandungnya sendiri”. Jadi disini penekanannya pada persamaan status anak angkat dari hasil pengangkatan anak sebagai anak kandung. Ini adalah pengertian secara leterlijk, yaitu adopsi diresap kedalam bahasa Indonesia berarti anak angkat atau mengangkat anak.
Pengangkatan anak berimplikasi memutus hubungan hukum si anak dengan orang tua kandungnya, konsekuensi yuridisnya, ia tidak mempunyai hak waris terhadap orang tua kandungnya, tetapi ia mempunyai hak waris yang sama dengan hak waris anak
2
Pasal 1 angka 9 Undang – Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengatakan bahwa:”Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan”. Dengan demikian sahnya pengangkatan anak menurut hukum apabila telah memperoleh putusan pengadilan.
kandung terhadap orang tua yang mengangkatnya. Berkembangnya hukum, dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pengangkatan Anak menyatakan bahwa pengangkatan anak tidak memutuskan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua kandungnya. Di berbagai daerah di Indonesia anak angkat mempunyai kedudukan hukum yang sama dengan anak keturunan sendiri, juga termasuk hak untuk dapat mewaris kekayaan yang ditinggalkan orang tua angkatnya pada waktu meninggal dunia.
Hukum Waris Islam:
Kedudukan anak angkat adalah sebagai seorang anak yang dalam pemeliharaannya kehidupannya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal ke orang tua angkat, berdasarkan putusan Pengadilan. Akibat hukumnya, anak angkat tidak bernasab dan tidak sebagai ahli waris dari orang tua angkatnya3, tetapi ia mewaris dengan jalan hak wasiat wajibah dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 dari harta warisan, namun pada hakekatnya bagian ini terlalu besar, sehingga dalam kenyataan ada yang memberinya sebesar 1/8 atau 1/10 saja4. Pada dasarnya, dalam Islam anak angkat tetap bernasab kepada kedua orangtua kandungnya, ia tetap bisa mewaris dari
3 Anak angkat yang tidak menjadi ahli waris dari orang tua angkatnya (Al‐Ahzaab (33) : 4,5)
4
Jiiy Ji’ronah Muayyanah, 2010, Tinjauan Hukum Terhadap Pengangkatan Anah dan Akibatat Hukumnya Dalam Pembagian Warisan Menurut Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam, Semarang: Universitas Diponogoro, hlm. Abstraksi
kedua orang tua kandungnya dan ia berhak atas wasiat wajibah dari orang tua yang mengangkatnya.
d. Kedudukan Anak Luar Kawin
Hukum Waris Perdata Barat:
Dalam konteks anak luar kawin, maka dengan kelahirannya saja sudah terjadi hubungan perdata dengan ibunya. Antara ayah dengan anak, hubungan keperdataan ini hanyalah terjadi dengan pengakuan5.
Pembagian bagian harta warisan antara anak sah dan anak luar kawin yang diakui adalah berbeda. Hal ini diatur dalam KUHPerdata
Pasal 863 KUHPerdata berbunyi:
jika yang meninggal meninggalkan keturunan yang sah atau seorang suami atau isteri, maka anak-anak luar kawin mewarisi 1/3 dari bagian yang harus mereka dapat, andaikata mereka anak-anak yang sah, jika si meninggal tak meninggalkan keturunan, suami atau isteri akan tetapi meninggalkan saudara laki-laki dan perempuan atau keturunan mereka mewaris ½ dari warisan dan jika hanya sanak saudara dalam derajat yang lebih jauh ¾ bagian.
Penjelasan atas pasal di atas adalah sebagai berikut:
Ketika anak luar kawin yang diakui mewaris bersama golongan 1, maka anak-anak luar kawin mewarisi 1/3 dari bagian yang harus mereka dapat, andaikata mereka anak-anak yang sah.
Mewaris Bersama Golongan 1
C____menikah sah____F+ --- G c1 c2 g1 (ALK)
maka ahli waris F adalah: C (istri sah), c1, c2 (anak sahnya) dan g1 (ALK), sehingga total ahli waris ada 4(empat) orang:
maka bagian g1: 1/3 x ¼ = 1/12
sisanya :1 – 1/12 = 11/12 Æ akan dibagi ke C, c1 dan c2
Gambar 1
Ketika anak luar kawin yang diakui mewaris bersama golongan 2 dan 3, maka anak-anak luar kawin mewarisi 1/2 dari harta warisan
Mewaris Bersama Golongan 2 K L
X---P+ Q
A (ALK) ½
Hitung bagian A terlebih dahulu : ½ x 1 = ½
Sisa ½ nya lagi untuk K, L dan Q, Jadi masing-masing mendapatkan = ½ x 1/3 = 1/6
X bukan ahli waris karena tidak memiliki hubungan perkawinan ataupun darah terhadap Pewaris.
Anak Luar Kawin Bersama Golongan III L______________M+ X______Y A+ _________________B+ P+ Q ALK (1/2) Gambar 3
Ketika anak luar kawin yang diakui mewaris bersama golongan 4, maka anak-anak luar kawin mewarisi ¾ dari harta warisan:
Anak Luar Kawin Bersama Golongan IV A+__________________B+
O K P+ I
OK ALK (3/4)
Keluarkan dulu ¾ bagian ALK, lalu sisanya dibagi sesuai ketentuan.
Gambar 4
Atas pengakuan si ayah ia menjadi anak luar kawin dari si ayah. Antara anak luar kawin dengan sanak keluarga sedarah orang tuanya pada azasnya tidak timbul hubungan perdata6.
Seorang anak luar kawin tidak dapat mewarisi dari sanak keluarga orang tuanya tersebut, begitupun sebaliknya7, hal ini ditegaskan juga dalam Pasal 872 yang menyebutkan bahwa undang-undang sama sekali tidak memberikan hak kepada seorang anak luar kawin terhadap barang-barang para keluarga sedarah dari keda orang tuanya, akan tetapi dalam Pasal 873 KUHPerdata memungkinkan terjadinya pewarisan yang semacam itu.
Hukum Waris Islam:
Dalam hukum Islam, melakukan hubungan seksual antara pria dan wanita tanpa ikatan perkawinan yang sah disebut zina. Hubungan seksual tersebut tidak dibedakan apakah pelakunya gadis, bersuami atau janda, beristri atau duda sebagaimana yang berlaku pada hukum perdata. Para ulama telah sepakat bahwa seorang tidak dapat dinasabkan kepada ayahnya sebagai anak yang sah.
Pasal 186 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan, “Anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.” Anak zina8 dan anak li’an. Syara’ telah menetapkan bahwa kedua-dua anak ini dinasabkan kepada ibunya dan tidak diakui hubungan darahnya dengan si ayah. Oleh karenanya, tidak ada hubungan
7 A. Pitlo, Op. Cit, hlm. 51
8
Dalam hukum Islam hubungan seksual suami‐istri antara perempuan dan laki‐laki yang tidak terikat dalam perkawinan yang sah disebut zina, tidak melihat status pelakunya; gadis, bersuami seperti dalam pengaturan KUHPerdata
kekerabatan antara anak itu dengan ayahnya. Dalam ‘urf modern dinamakan wa’ad ghairu syar’i (anak yang tidak diakui agama). Sebagaimana ayahnya dinamakan ayah ghairu syar’i. Oleh karena anak zina, baik lelaki ataupun perempuan, tidak diakui hubungan darah dengan ayahnya, maka dia tidak mewarisi ayahnya dan tidak pula seseorang kerabat ayah, sebagaimana ayahnya tidak mewarisinya. Lantaran tak ada sebab saling mewarisi antara keduanya, yaitu hubungan darah.
e. Kedudukan Ahli Waris Pengganti Hukum Waris Perdata Barat:
Azas pergantian tempat dikenal juga dengan sebutan azas
plaatsvervulling menunjuk kepada pemikiran dasar bahwa seseorang bertindak sebagai pengganti dalam derajat dan dalam segala hak orang yang diganti. Lembaga hukum waris penggantian tempat hadir untuk memberi perlindungan hukum kepada keturunan sah dari ahli waris yang telah meninggal lebih dulu, dengan cara menyerahkan hak ahli waris yang telah meninggal dunia kepada keturunan yang sah.
Penerimaan harta warisan oleh keturunan yang sah dari ahli waris yang telah meninggal tersebut bukan dalam kedudukan sebagai ahli waris melainkan sebagai pengganti dari ahli waris yang telah meninggal tersebut. Kedudukan sebagai ahli waris tetap
pada si yang meninggal, sedangkan keturunan sah berkedudukan sebagai ahli waris pengganti9.
Hukum Waris Islam:
Ahli waris pengganti adalah ahli waris yang diatur dalam Pasal 185 KHI, yaitu ahli waris pengganti/ keturunan dari ahli waris yang disebutkan dalam Pasal 174 KHI. Dalam Pasal 185 ayat 2 KHI mengatur bahwasanya bagian ahli waris pengganti tidak boleh lebih dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti, karena sesungguhnya pengganti ahli waris sebenarnya bukan ahli waris, tetapi mendapat waris karena keadaan atau pertimbangan tertentu. Pengaturan ini dianggap tepat agar ahli waris yang sesungguhnya tidak akan terlalu dirugikan.
f. Ahli Waris Beda Agama
Hukum Waris Perdata Barat
Perbedaan agama antara ahli waris dan Pewaris bukanlah alasan menghapus hak waris. Perbedaan agama ahli waris dengan Pewaris tidak disebutkan dalam Pasal 838 KUHPerdata tentang ahli waris yang tidak patut mewaris, maupun dalam Pasal 912 KUHPerdata mengenai larangan bagi ahli waris testamenter. Sehingga dapat dikatakan bahwa berbedanya agama antara Pewaris dan ahli waris bukanlah alasan hapusnya hak waris.
9
A. Amanat, 2003, Membagi Warisan Berdasarkan Pasal‐pasal Hukum Perdata BW. Jakarta: Rajawali Pers, hlm.61
Hukum Waris Islam
Pada dasarnya dalam hukum Islam dalam surat dan hadist
nabi menjelaskan bahwa ahli waris berbeda agama tidaklah mewaris dari Pewaris yang beragama Islam ataupun sebaliknya. Akan tetapi, atas perkembangan masyarakat dan kondisi-kondisi untuk melindungi keturunan ahli waris, Mahkamah Agung menegahkan azas egaliter. Azas ini menerangkan bahwasanya kerabat karena hubungan darah yang memeluk agama selain Islam mendapatkan wasiat wajibah maksimal 1/3 bagian, dan tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sederajat dengannya.10
g. Kedudukan Wasiat
Hukum Waris Perdata Barat:
Dalam hukum waris perdata barat, wasiat merupakan salah satu penyebab timbulnya hak waris. Orang yang mendapatkan warisan melalui wasiat disebut dengan ahli waris testamenter. Dikenalnya hukum waris karena wasiat karena dari segi pandangan barat seseorang mempunyai kebebasan atas harta yang ia miliki, namun kedepannya kebebasan ini dibatasi oleh undang-undang dengan hadirnya legitime portie sebagai pelindung atas hak waris ahli waris ab intestato si pewaris agar tidak terjadi hal-hal yang dinilai tidak etis. Berikut ketentuan mengenai legitime portie:
Pasal 914 KUHPerdata: Apabila pewaris hanya meninggalkan 1 (satu) orang anak sah dalam garis kebawah, maka legitime portie itu terdiri dari 1/2 (seperdua) dari harta peninggalan yang akan diterima anak itu pada pewarisan karena kematian. Apabila yang meninggal meninggalkan 2 (dua) orang anak, maka legitime portie untuk tiap-tiap anak yakni 2/3 (duapertiga) bagian dari apa yang akan diterima setiap anak pada pewarisan karena kematian. Dalam hal orang yang meninggal dunia meninggalkan 3 (tiga) orang anak atau lebih, maka legitime portie itu 3/4 (tigaperempat) bagian dari apa yang sedianya akan diterima tiap anak pada pewarisan karena kematian.
Pasal 915 KUHPerdata: Legitime Portie garis lurus ke atas. Pada garis ke atas legitime portie selalu sebesar separuh dari apa yang menurut undang-undang menjadi bagian tiap-tiap keluarga sedarah pada pewarisan karena kematian.
Pasal 916 KUHPerdata: Legitime Portie anak luar kawin. Legitime portie anak yang lahir di luar perkawinan tetapi telah diakui dengan sah, yakni 1/2 (seperdua) dari bagian yang diatur oleh undang-undang akan diberikan kepada anak di luar kawin itu pada pewarisan karena kematian.
Hukum Waris Islam:
Dalam hukum waris Islam, antara wasiat dan hibah tidaklah jauh berbeda, waktu pelaksanaannyalah yang membedakan antara hibah dan wasiat. Hibah dilaksanakan ketika pemberi hibah masih hidup sedangkan wasiat dilakukan pada saat pemberi wasiat telah meninggal. Kadar pemberian wasiatpun dibatasi, yaitu tidak boleh lebih dari 1/3 harta warisan.
h. Kemungkinan Menolak Warisan
Setiap ahli waris bebas menetukan pilihan11 apakah ia kan menerima secara murni suatu warisan, menerima secara beneficier, ataupun menolak. Pilihan ini bersifat definitive, ahli waris yang sudah menerima secara murni tidak dapat lagi menerima secara benefisier ataupun melakukan penolakan. Ahli waris yang sudah menolak tidak dapat lagi menerima, karena dengan menolak warisan ia telah melepas haknya untuk menerima. Beberapa pengecualian atas pengaturan ini adalah ketika pilihan itu dikemudian hari ketahui akibat suatu paksaan atau penipuan.12
Hukum Waris Islam:
Pertama, Hukum waris Islam tidak mengenal penolakan waris sebagaimana dikenal dalam hukum waris BW. Dalam hukum waris Islam mengenal azas Ijbari yang berarti peralihan harta seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut ketetapan Allah tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli waris, sehingga tidak ada suatu kekuasaan manusia yang dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain untuk menjadi ahli waris atau mengeluarkan orang yang berhak menjadi ahli waris. Hal ini dapat dilihat pula dengan telah ditentukannya kelompok ahli waris oleh Allah SWT sebagaimana diatur dalam Surat An-Nisa Ayat 11, 12, dan 176. Jika ahli waris yang ingin melepas haknya menerima
11
Pasal 1023 KUHPerdata
waris dan ingin memberikannya pada ahli waris lain, hukum waris Islam tidak mengenal penolakan waris, namun para ahli waris yang ingin melakukan pembagian waris menurut hukum Islam, masih berhak untuk tidak menerima bagian waris yang telah menjadi haknya, yang dilakukan melalui tashaluh13 dan takharuj14. Notaris dapat membuat suatu akta yang memuat tentang tashaluh dan takharuj dalam Akta Keterangan Hak Waris15.
Kedua, bahwa Notaris tidak berwenang membuat akta penolakan waris, karena Menurut Pasal 1057 BW, menolak suatu warisan harus terjadi dengan tegas dan harus dilakukan dengan suatu pernyataan yang dibuat di kepaniteraan Pengadilan Negeri, yang dalam daerah hukumnya telah terbuka warisan itu.