KERANGKA KONSEP PENELITAN
HASIL PENELITIAN
5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja UPT Payangan yang berlokasi di Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali. UPT Payangan memiliki cakupan wilayah seluas 75,88 km2dengan jumlah penduduk pada tahun 2015 tercatat sebanyak 43.216 jiwa. Batas wilayah kerja UPT Payangan sebelah utara merupakan Kabupaten Bangli, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Ubud, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Tegalalang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Badung. Wilayah kerja UPT Payangan terdiri dari 9 desa dan 59 dusun yaitu Desa Melinggih Kelod 6 dusun, Desa Melinggih 5 dusun, Desa Kelusa 6 dusun, Desa Bukian 11 dusun, Desa Puhu 7 dusun, Desa Kerta 8 dusun, Desa Buahan 5 dusun, Desa Buahan Kaja 8 dusun, Desa Bersela 3 dusun dan dr. I Gede Gusti Ngurah Putra sebagai Kepala UPT Payangan.
Jumlah kasus DBD di UPT Payangan berdasarkan data dari pemegang Program Pencegahan Penyakit Menular UPT Payangan pada tahun 2015 tercatat 62 kasus DBD yang dirawat inap di UPT Payangan dan pada tahun 2016 dari bulan Januari sampai Mei tercatat sebanyak 302 kasus DBD yang dirawat inap di UPT Payangan. Kejadian DBD paling banyak terdapat di Desa Melinggih yang tersebar secara rata pada keenam dusunnya. Program Pencegahan Penyakit Menular UPT Payangan memiliki beberapa program dalam penanganan penyakit DBD meliputi fogging, larvadisasi, dan promosi kesehatan dengan penyuluhan secara komunitas maupun ketika kunjungan puskesmas keliling.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas usaha preventif terutama pada program penyuluhan secara individu yang dirangkum secara komunitas untuk memastikan letak permasalahan kesenjangan antara usaha penyuluhan dengan tingginya angka penderita penyakit. Penelitian ini dilakukan di Desa Melinggih melihat tingginya angka kejadian DBD di wilayah ini. Penelitian ini
melibatkan total 74 sampel yang berasal dari Dusun Payangandesa, Desa Melinggih.
5.2 Karakteristik Responden Penelitian
Karakteristik responden dalam penelitian ini dideskripsikan berdasarkan umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Karakteristik responden disajikan pada table 5.1 dibawah ini.
Tabel 5.1 Deskripsi Karakteristik Responden
Deskripsi Frekuensi (n = 74) Percent (%) Usia Mean ± SD 35,42 ± 15,06
Kanak-kanak hingga remaja 21 28,4%
Dewasa 34 45,9%
Lansia Awal & Akhir 19 25,7%
Jenis Kelamin Laki - Laki 38 51,4% Perempuan 36 48,6% Pekerjaan Wiraswasta 27 36,5% pelajar 19 25,7% PNS 7 9,5% Swasta 7 9,5%
Ibu Rumah Tangga 6 8,1%
Tidak Berkerja 8 10,8% Pendidikan Tidak tamat SD 5 6,8% SD 17 23,0% SMP 17 23,0% SMA 29 39,2% S1 6 8,1%
Riwayat Demam Berdarah
Pribadi 8 10,8%
Saudara 7 9,5%
Karakteristik responden penelitian berdasarkan umur didapatkan rata-rata umur responden adalah 35,42 tahun dengan standar deviasi 15,06. Usia termuda adalah 10 tahun dan usia tertua adalah 65 tahun. Mayoritas usia responden berusia dewasa yaitu sebanyak 45,9%. Berdasarkan jenis kelamin diperoleh responden laki-laki sebanyak 38 orang (51,4%) dan perempuan sebanyak 36 orang (48,6%). Berdasarkan jenis pekerjaan diperoleh responden sebagai wiraswasta sebanyak 27 orang (36,5%), pelajar sebanyak 19 orang (25,7%), PNS sebanyak 7 orang (9,5%), bekerja di perusahaan swasta sebanyak 7 orang (9,5%), Ibu rumah tangga sebanyak 6 orang (8,1%), dan tidak pekerja sebanyak 8 orang (10,8%). Berdasarkan pendidikanya didapatkan responden yang tidak tamat SD sebanyak 5 orang (6,8%), tamat SD sebanyak 17 orang (23,0%), tamat SMP sebanyak 17 orang (23,0%), tamat SMA sebanyak 29 orang (39,2%), dan tamat perguruan tinggi sebanyak 6 orang (8,1%). Berdasarkan riwayat DBD yang menjalani rawat inap yang dialami oleh responden sendiri sebanyak 8 orang (10,8%), responden yang keluarganya pernah mengalami DBD sebanyak 7 orang (9,5%), dan yang tidak memiliki riwayat DBD sebanyak 59 orang (79,7%).
5.3 Hasil Penelitian
5.3.1 Angka Pengetahuan Responden
Angka pengetahuan responden adalah skor yang diukur berdasarkan pertanyaan yang diajukan kepada responden terkait DBD. Terdapat 9 pertanyaan untuk mengukur pengetahuan responden dengan skor jawaban benar bernilai 1 dan skor jawaban salah bernilai 0. Kategoi pengetahuan baik dengan skor 8-10, sedang dengan skor 5-7, dan buruk dengan skor 1-4. Angka Pengetahuan Responden dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut.
Tabel 5.2 Angka Pengetahuan Responden
Variabel Jumlah (n = 74) Percent (%) Pengetahuan Baik 21 28,4 Sedang 22 29,7 Buruk 31 41,9
Berdasarkan tabel diatas didapatkan responden yang memiliki pengetahuan baik sebesar 21 orang (28,4%), pengetahuan sedang sebesar 22 orang (29,7%), pengetahuan kurang sebesar 31 orang (41,9%).
5.3.2 Distribusi Sikap Responden dalam Pencegahan DBD
Hasil penelitian mengenai variabel sikap masyarakat dalam mencegah terjadinya penyakit DBD, di Desa Melinggih wilayah kerja Puskesmas Payangan akan disajikan dalam tabel 5.4 berikut.
Tabel 5.3 Distribusi Sikap Responden dalam Pencegahan DBD
Variable Jumlah (n = 74) Persen (%) Sikap Baik 38 51.4 Buruk 36 48.6
Berdasarkan Tabel 5.4 tersebut, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai sikap yang cukup baik dalam mencegah terjadinya penyakit DBD, dan hanya sebagian responden mempunyai sikap yang masih kurang dalam mencegah terjadinya penyakit demam berdarah dengue. Didapatkan bahwa kepala keluarga dengan sikap pencegahan yang baik sebanyak 38 orang (51,4%) dan yang berperilaku tidak baik dalam pencegahan sebanyak 36 orang (48,6%).
5.3.3 Distribusi Perilaku Responden dalam Pencegahan DBD
Hasil penelitian mengenai variabel perilaku masyarakat dalam mencegah terjadinya penyakit demam berdarah dengue, di Desa Melinggih wilayah kerja Puskesmas Payangan akan disajikan dalam tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.4 Distribusi Perilaku Responden dalam Pencegahan DBD
Variable Jumlah (n = 74) Persen (%) Perilaku Baik 38 51.4 Buruk 36 48.6
Berdasarkan Tabel 5.3 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai perilaku yang cukup baik dalam mencegah terjadinya penyakit demam berdarah dengue, dan hanya sebagian responden mempunyai perilaku yang kurang dalam mencegah terjadinya penyakit DBD. Didapatkan bahwa responden dengan perilaku pencegahan yang baik sebanyak 38 orang (51,4%) dan yang berperilaku buruk dalam pencegahan sebanyak 36 orang (48,6%).
5.4 Tabulasi Silang
5.4.1 Tabulasi Silang Pengetahuan dan Sikap Responden
Tabel 5.5 Tabulasi Silang Pengetahuan dan Sikap Responden Sikap
Baik Buruk Total
Baik 14 (66,7%) 7 (33,3%) 21 (100%) Pengetahuan Sedang 14 (63,6%) 8 (36,4%) 22 (100%) Buruk 10 (32,3%) 21 (67,7%) 31 (100%) Total 38 (51,4%) 36 (48,%) 74 (100%)
Berdasarkan tabel persilangan pengetahuan dan perilaku, dapat diketahui bahwa seiring meningkatnya sikap responden ke arah yang lebih baik, terdapat tren peningkatan sikap ke arah lebih baik. Seiring menurunnya pengetahuan responden ke arah yang lebih buruk, terdapat tren penurunan sikap ke arah lebih buruk.
5.4.2 Tabulasi Silang Pengetahuan dan Perilaku Responden
Tabel 5.6 Tabulasi Silang Pengetahuan dan Perilaku Responden Sikap
Baik Buruk Total
Baik 13 (61,9%) 8 (38,1%) 21 (100%) Pengetahuan Sedang 13 (59,1%) 9 (40,9%) 22 (100%)
Buruk 12 (38,7%) 19 (61,3%) 31 (100%) Total 38 (51,4%) 36 (48,6%) 74 (100%)
Berdasarkan tabel persilangan pengetahuan dan perilaku, dapat diketahui bahwa seiring meningkatnya perilaku responden ke arah yang lebih baik, terdapat tren
peningkatan perilaku ke arah lebih baik. Seiring menurunnya perilaku responden ke arah yang lebih buruk, terdapat tren penurunan perilaku ke arah lebih buruk.
5.4.3 Tabulasi Silang Sikap dan Perilaku Responden
Tabel 5.7 Tabulasi Silang Sikap dan Perilaku Responden
Berdasarkan tabel persilangan sikap dan perilaku, dapat diketahui bahwa seiring meningkatnya sikap responden ke arah yang lebih baik, terdapat tren peningkatan perilaku ke arah lebih baik. Seiring menurunnya sikap responden ke arah yang lebih buruk, terdapat tren penurunan perilaku ke arah lebih buruk.
Perilaku
Baik Buruk Total
Baik 29 (76,3%) 9 (23,7%) 38 (100%) Sikap Buruk 9 (25,0%) 27 (75%) 36 (100%) Total 38 (51,4%) 36 (48,6%) 74 (100%)
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Responden Terhadap Pencegahan DBD
Penelitian ini memperlihatkan mayoritas usia responden merupakan usia dewasa sebesar 45,9%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nyoman (2014) di Banjar Badung, Desa Melinggih dengan mayoritas responden merupakan usia dewasa sebesar 80%. Melihat dari hal tersebut, responden dinilai mampu memberikan gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku melalui kemampuan berpikir yang lebih matang karena usia yang semakin matang. Dengan semakin matangnya usia membuat mereka dapat memiliki perilaku yang terbaik untuk mencapai tujuan yang baik.
Tingkat pengetahuan responden terhadap DBD dalam penelitian ini terlihat masih kurang. Rata-rata angka pengetahuan responden sebesar 6,61 dari nilai maksimal 9. Data ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Nyoman di Desa Melinggih tepatnya di Banjar Badung dengan 84,1% responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap DBD. Pengetahuan responden yang terlihat masih kurang dipengaruhi oleh intensitas, perhatian, dan persepsi responden terhadap pencegahan DBD. Hal ini sesuai menurut teori bloom dimana pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya yang dipengaruhi oleh intensitas, perhatian, dan persepsi terhadap objek.
Dalam penelitian ini memperlihatkan 51,4% responden memilik sikap yang baik terhadap pencegahan DBD. Rata-rata nilai sikap responden sebesar 43,73 dengan nilai maksimal 50. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Nyoman (2014) di Banjar Badung Desa Melinggih bahwa lebih dari 50% responden memiliki sikap yang baik terhadap pencegahan DBD. Sikap menurut Notoatmodjo merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Berdasarkan teori ini dapat dikatakan meskipun responden memiliki pengetahuan yang kurang terhadap pencegahan DBD, akan tetapi responden memiliki sikap yang baik karena
memiliki persepsi bahwa mereka berpeluang terkena penyakit DBD melihat angka kejadian DBD yang tinggi di daerah tersebut dan apabila mereka melakukan upaya pencegahan dapat menghindarkan mereka dari penyakit DBD.
Perilaku merupakan suatu kegiatan dari manusia itu sendiri. Dalam penelitian ini menunjukan sebesar 51,4% responden memiliki perilaku yang baik dalam upaya pencegahan DBD. Rata-rata nilai perilaku responden dalam pencegahan DBD sebesar 43,14 dengan nilai maksimal sebesar 50. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Nyoman (2014) di Banjar Badung Desa Melinggih bahwa hampir semua responden yang memiliki sikap yang baik terhadap pencegahan DBD akan memberikan suatu perilaku yang baik pula terhadap pencegahan DBD.
Pada penelitian ini, diteliti tiga variabel yaitu pengetahuan, sikap dan perilaku yang berhubungan dengan penerapan upaya kesehatan. Penelitian ini mendapatkan bahwa terdapat tren positif antara pengetahuan terhadap sikap, sikap terhadap perilaku, dan begitupula dengan pengetahuan terhadap perilaku. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, sikap dan perilakunya juga membaik. Hasil yang didapat pada penelitian ini memberikan asumsi bahwa variabel tersebut saling berhubungan dan pengetahuan serta sikap merupakan predisposisi seseorang untuk berperilaku positif.
Pada penelitian tahun 1993 oleh Freeman R mengenai hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap kesehatan gigi pada remaja, didapatkan hasil yang serupa dimana remaja dengan pengetahuan yang tinggi memiliki perilaku kesehatan dan sikap yang baik dibandingkan remaja dengan pengetahuan yang rendah. Hal ini disebabkan oleh karena remaja yang memiliki pengetahuan yang benar kemudian dapat mengetahui langkah selanjutnya untuk melaksanakan upaya menjaga kesehatan gigi yang benar.
Penelitian pada tahun 2014 oleh Nyoman di Desa Melinggih mendapatkan hasil yang serupa dengan penelitian ini dimana sikap yang semakin mendukung dan pengetahuan yang semakin baik memiliki tren peningkatan perilaku pemberantasan sarang nyamuk dengan benar.
6.2 Kelemahan Penelitian
Penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Dusun Payangan Desa dalam upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue” ini tidak lepas dari beberapa hambatan dan kelemahan, yaitu:
1. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan kuesioner tanpa melakukan observasi langsung secara detail di rumah-rumah responden. Sehingga jawaban yang diberikan responden terkadang tidak sesuai dengan keadaan yang ada.
2. Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang cukup singkat sehingga tidak memberikan gambaran yang utuh tentang dampak dari proses intervensi yang diberikan oleh peneliti terhadap perubahan perilaku dan sikap masyarakat khususnya dalam upaya pencegahan penyakit DBD.
3. Terdapat beberapa orang diminta untuk menjadi responden penilitian tetapi ada yang menolak untuk menjadi salah satu responden penelitian.