BAB IV PEMBAHASAN
4.3 Hasil Penelititan
4.3.1 Hasil Penelitian Majalah Tempo
Peneliti akan menganalisis teks berita yang dimuat oleh majalah Tempo terkait vonis Ahok atas kasus penodaan agama. Teks yang dianalisis berjumlah tiga berita.
Frame Berita 1 Tempo
Judul: Vonis Kejutan Untuk Basuki
Edisi: 15-21 Mei 2017
Tabel 4.3
Frame Berita 1 Tempo
Frame Utama
- Vonis hakim atas Ahok dianggap janggal dan mengejutkan.
Define Problems
(Pendefinisian Masalah)
- Vonis hakim dianggap tidak lazim karena lebih berat dari tuntutan jaksa pada sidang sebelumnya.
Diagnose Causes
(Memperkirakan masalah atau sumber masalah)
- Pengadilan kasus Ahok berlangsung di bawah tekanan massa.
Make Moral Judgement
(Membuat keputusan moral)
- Menurut jaksa Ahok tidak terbukti menodai agama.
Treatment Recommendation
(Menekankan penyelesaian)
- Tim kuasa hukum mengajukan banding - Hasil tim kuasa hukum untuk
Pendefinisian Masalah ( Define Problems )
Peneliti melihat Tempo menganggap keputusan hakim adalah janggal dan tidak lazim karena lebih berat dari tuntutan jaksa, hal tersebut mengejutkan Ahok dan tim pengacaranya.
Hakim memvonis Basuki Tjahaja Purama Bersalah dalam kasus penodaan agama. Mendapat hukuman lebih berat dari tuntutan jaksa, Gubernur Jakarta itu langsung pula ditahan. Drama menjelang dan setelah vonis Janggal itu diketuk.
Kalimat yang terdapat pada sub judul artikel majalah Tempo tersebut menunjukkan bagaimana putusan hakim dianggap janggal karena lebih berat dari tuntutan jaksa dan Ahok langsung ditahan. Tempo menganggap hal tersebut ibarat sebuah drama, baik sebelum maupun sesudah vonis dibacakan.
Dalam paragraf kedua paragraf berita tersebut tim kuasa hukum Ahok tak menduga kliennya akan segera ditahan di rumah tahanan Cipinang.
Tim pengacara tak menyangka Basuki akan dibawa secepat itu. Hanya Sirra Prayuna, satu dari belasan pengcara, yang menyadari kliennya „tiba-tiba‟ menghilang. Ia berhasil mengejar dan masuk ke mobil barracuda. Sirra bahkan sempat mencecar jaksa, “Mestinya tunggu dulu, Bos. Secara Administrasi kan belum bisa ditahan.” Tapi tim jaksa berkukuh membawa
Ahok. “Kami sudah ada petikan putusan ini,” kata seorang jaksa. Pengacara lain tak sempat menyusul karena Basuki langsung dilarikan ke Cipinang.
Pada paragraf lima dan enam, Basuki dan tim pengacaranya menganggap vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim tidak lazim, karena lebih berat dari tuntutan jaksa yang pada sidang sebelumnya menyatakan Basuki tidak terbukti menistakan agama.
Vonis ini mengejutkan Basuki dan pengacaranya. Berbeda dengan kelaziman, vonis hakim lebih berat dari tuntutan jaksa. Dalam sidang 20 April lalu, jaksa penuntut umum yang dipimpin Ali Mukartono menyatakan Basuki tidak terbukti menodai agama seperti diatur pasal 156-a KUHP. Basuki hanya dianggap memusuhi golongan tertentu, seperti diatur pasal 156 KUHP. Kala itu jaksa menuntut hakim menuntut Basuki satu tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Dengan tuntutan seperti itu, Basuki tak harus mendekam di penjara. Dengan syarat, selama dua tahun masa percobaan, Basuki tidak melakukan tindak pidana apapun. Ternyata putusan hakim berbicara lain.
Dari sejumlah teks tersebut dapat dilihat jelas bahwa Tempo menilai vonis hakim adalah janggal dan tak lazim, karena lebih berat dari tuntutan jaksa. Bahkan secara administrasi, seharusnya Ahok belum bisa ditahan.
Diagnose Cause ( Memperkirakan masalah atau sumber masalah )
Pendefinsian masalah yang diangkat oleh Tempo antara lain adalah pengadilan kasus Ahok berlangsung di bawah tekanan massa. Seperti dalam paragraf 8, Basuki atau Ahok yakin bahwa pengadilan kasusnya berada di bawah tekanan massa.
Menurut Basuki, ia dijadikan tersangka dalam waktu yang terbilang cepat. Jaksa pun bergegas melimpahkan berkas ke pengadilan. Itu semakin menguatkan keyakinan Basuki bahwa pengadilannya berlangsung di bawah tekanan massa. “Ini politik saja. Yang penting kan Basuki kan enggak jadi gubernur lagi,” ujarnya. Setelah kalah dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, masa tugas Basuki akan berakhir Oktober Mendatang.
Dari kutipan teks tersebut penulis menyimpulkan Tempo ingin menyampaikan bahwa pendefinisian masalahnya adalah sejak awal, kasus ini janggal karena Ahok dijadikan tersangka dalam waktu yang terbilang cepat, serta kasus ini berlangsung di bawah tekanan massa yang tidak ingin Ahok memimpin DKI Jakarta.
Make Moral Judgement ( Membuat keputusan moral ).
Pada paragraf lima dan enam, Basuki dan tim pengacaranya menganggap vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim tidak lazim, karena lebih berat dari tuntutan
jaksa yang pada sidang sebelumnya menyatakan Basuki tidak terbukti menistakan agama, hanya dianggap memusuhi golongan tertentu.
Vonis ini mengejutkan Basuki dan pengacaranya. Berbeda dengan kelaziman, vonis hakim lebih berat dari tuntutan jaksa. Dalam sidang 20 April lalu, jaksa penuntut umum yang dipimpin Ali Mukartono menyatakan Basuki tidak terbukti menodai agama seperti diatur pasal 156-a KUHP. Basuki hanya dianggap memusuhi golongan tertentu, seperti diatur pasal 156 KUHP.” Kala itu jaksa menuntut hakim menuntut Basuki satu tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Dengan tuntutan seperti itu, Basuki tak harus mendekam di penjara. Dengan syarat, selama dua tahun masa percobaan, Basuki tidak melakukan tindak pidana apapun. Ternyata putusan hakim berbicara lain.
Dari kutipan teks tersebut, peneliti berpendapat keputusan moral yang ingin disampaikan Tempo antara lain bahwa Ahok tidak terbukti melakukan penodaan agama, dan tidak seharusnya divonis dengan pasal 156-a KUHP.
Treatment Recommendation ( Menekankan Penyelesaian )
Dalam paragraf 14,dan paragraf 16 kalimat kedua, tim kuasa hukum memprotes langkah jaksa yang langsung menahan Ahok dan berupaya mengajukan banding atas penahanan kliennya.
Tim pengacara Basuki memprotes langkah jaksa yang langsung menahan kliennya. Pengacara merujuk pada pasal 238 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. “Penetapan yang dibuat pengadilan negeri tidak berlaku jika terdakwa melakukan banding,” ujar Darwin.
Di pengadilan, Darwin juga meminta petikan putusan melalui surat yang ditulis tangan. “Surat permohonan banding akan dipakai untuk membebaskan Pak Basuki. Sedangkan surat permintaan petikan untuk menyusun memori banding,” ujar Darwin. Setelah urusan administrasi di pengadilan selesai, Darwin segera menyusul ke Cipinang.
Pada paragraf 15, 17, dan 18, tim pengacara Ahok membuat dan mengajukan permohonan banding secara lisan serta tulisan untuk menangguhkan penahanan kliennya. Permohonan banding secara tulisan diajukan agar tim kuasa hukum telah melaksanakan administrasi sesuai prosedur secara resmi agar tidak diperdebatkan lagi nantinya.
Tak mau kalah cepat oleh jaksa, pada hari yang sama, tim pengacara mempercepat upaya banding dengan mengajukan permohonan resmi. Darwin bersama seorang koleganya bergegas ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara. “Kalau pemohonan lisan saja, kami khawatir akan diperdebatkan,” kata Darwin, yang mengantar surat resmi permohonan banding.
Rombongan Jaksa yang membawa Basuki telah tiba di Cipinang sekitar pukul 13.00. Awalnya, Basuki dibawa ke ruang administrasi Rumah Tahanan Cipinang. Di tempat ini Basuki dicek identitasnya, dicocokkan orangnya, dan dibuatkan berita acara. Seusai pemeriksaan administrasi, Basuki tak lantas masuk sel tahanan.
Ketika Darwin tiba di Cipinang, sekitar pukul 16.00, Basuki sudah ditemani anggota keluarga, termasuk istrinya, Veronika Tan. Mereka berada di ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang kepala rumah tahanan. Darwin menemui Basuki dan menyampaikan tanda register permohonan banding dari pengadilan negeri. Tim pengacara juga menjelaskan bahwa Basuki
semestinya tak ditahan begitu dia resmi mengajukan permohonan banding. “Kalau tak ada alasan, kita di luar saja,” kata Basuki kala itu. “Nanti masuk lagi kalau sudah ada suratnya.”
Pada paragraf 37 dan 38, Tempo ingin menyampaikan seharusnya Ahok tak bisa langsung ditahan apabila telah resmi mengajukan banding. Oleh karena itu, tim kuasa hukum bergerak cepat agar penangguhan penahanan Ahok dapat segera dilakukan.
Sambil menyiapkan memori banding, tim pengacara memohon penangguhan penahanan Basuki. Surat permohonan penangguhan penahanan disampaikan ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Selasa pekan lalu. Setidaknya ada empat tokoh yang menjaminkan diri untuk membebaskan Basuki. Mereka adalah Djan Faridz, Djarot S. Hidayat, Ketua Dewan Perwakilan Daerah DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi, dan pengacara senior Todung Mulya Lubis. Jumat pekan lalu, I Wayan Sudirta dan tim pengacara Basuki Mendatangi Pengadilan Tinggi DKI Jakarta untuk menanyakan nasib permohonan penangguhan penahanan. Mereka diterima kepala Humas Johanes Suhadi dan wakilnya, James Butar-butar. Tapi Wayan dan kawan-kawan pulang dengan tangan hampa. “Pengadilan Tinggi mengatakan penangguhan penahanan merupakan kewenangan Majelis,” ujar Darwin. Dimintai konfirmasi, Johanes mengatakan majelis hakim banding perkara Basuki belum dibentuk.
Dari teks tersebut, penulis menyimpulkan Tempo ingin menyampaikan secara administrasi seharusnya Ahok tidak dapat langsung ditahan. Oleh karena itu tim kuasa hukum Ahok bergerak cepat untuk banding, serta mencoba melakukan penangguhan penahanan Ahok, namun upaya tim kuasa hukum Ahok tak membuahkan hasil.
Frame Berita 2 Tempo
Judul: Tukar Kulit Pasal Karet
Edisi: 15-21 Mei 2017
Tabel 4.4
Frame Berita 2 Tempo
Frame Utama
Ahok menjadi korban terbaru pasal penodaan agama.
Define Problems
(Pendefinisian Masalah)
Pasal Penodaan agama dianggap pasal karet.
Diagnose Causes
(Memperkirakan masalah atau sumber masalah)
Pasal penodaan Agama bisa ditafsirkan sebagai pasal yang mulur-mengkeret.
Make Moral Judgement
(Membuat keputusan moral)
Penetapan pasal penodaan agama tak sesuai dengan tuntutan zaman.
Treatment Recommendation
(Menekankan penyelesaian)
Peninjauan kembali pasal penodaan terhadap agama.
Define Problems ( Pendefinisian masalah)
Tempo menganggap pasal penistaan atau penodaan atas agama dianggap pasal karet seperti dikutip dalam paragraf 5.
Menurut peneliti Institute for Criminal Justice Reform (IJCR), Anggara Suwahju, dalam KUHP warisan Belanda sebelumnya tak ada pasal khusus penodaan agama. “Jika terjadi kasus penodaan agama, tersangka umumnya dijerat pasal kejahatan terhadap ketertiban umum,” Anggara menyebut pasal penodaan agama sebagai aturan karet yang penafsirannya bisa mulur
mengkeret. “ Pasal itu dikenal dengan haatzaai artikelen.
Pada teks tersebut Tempo ingin menyampaikan kepada khalayak bahwa sebelumnya dalam hukum pidana warisan Belanda, tak ada pasal khusus tentang penodaan agama, hanya pasal kejahatan terhadap ketertiban umum. Oleh karena itu pasal penodaan agama dianggap pasal karet.
Diagnose Causes (Memperkirakan masalah atau sumber masalah)
Seperti halnya dalam pendefinisian masalah, Tempo mempermasalahkan pasal penodaan agama yang dianggap pasal karet sebagai sumber masalah pada artikel ini.
Menurut peneliti Institute for Criminal Justice Reform (IJCR), Anggara Suwahju, dalam KUHP warisan Belanda sebelumnya tak ada pasal khusus penodaan agama, pasal penodaan agama yang dianggap pasal karet, penafsirannya bisa mulur-mengkeret. “Jika terjadi kasus penodaan agama, tersangka umumnya dijerat pasal kejahatan terhadap ketertiban umum,” Anggara menyebut pasal penodaan agama sebagai aturan karet yang penafsirannya bisa mulur mengkeret. “ Pasal itu dikenal dengan haatzaai artikelen.
Akan tetapi peneliti menganggap masalah atau sumber masalah yang ingin disampaikan Tempo adalah penggunaan pasal karet yang penafsirannya bisa mulur mengkeret, seperti halnya sifat alami manusia yang tidak pernah puas dengan keinginannya, dapat bertambah juga berkurang.
Make Moral Judgement (Membuat keputusan moral)
Penerapan pasal penodaan agama tidak sesuai dengan zaman, karena penerapaannya selal dapat mengancam kebebasan individu. Seperti dikutip di paragraf 6.
Sejumlah tokoh, termasuk presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid, menguji PNPS Nomor 1 Tahun 1965 ke Mahkamah Konstitusi pada Oktober 2009. Mereka berdalil, penetapan tersebut tak sesuai dengan tuntutan zaman, karena dilahirkan di masa darurat. Penerapannya pun selu mengancam kebebasan individu. Namun Mahkamah Konstitusi menolak uji materi itu pada 12 April 2010, antara lain dengan alasan pasal penodaan masih dibutuhkan.
Peneliti menilai Tempo ingin menunjukkan bahwa pasal penodaan agama sudah tidak lagi relevan di zaman modern ini. Penerapan pasal tersebut juga mengancam kebebasan individu untuk mengutarakan pendapat, terlebih di era ini kebebasan atas hak asasi manusia sangat dijunjung tinggi.
Treatment Recommendation (Menekankan penyelesaian)
Pasal penodaan terhadap agama harus ditinjau kembali agar tidak mudah menjadi alat ktiminalisasi. Seperti dikutip di paragraf 10.
Anggota Panitia Kerja RUU KUHP, Masinton Pasaribu, mengatakan DPR masih mendalami substansi pasal penghinaan agama. Menurut dia, pasal tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi sosial politik saat ini. “Supaya tidak mudah menjadi alat kriminalisasi,” ujar politikus PDI Perjuangan itu.
Peneliti melihat Tempo ingin agar pasal penodaan terhadap agama ditinjau kembali dan disesuaikan dengan kondisi sosial politik di Indonesia saat ini agar tidak mudah menjadi alat kriminalisasi, untuk menjerat seseorang, atau lembaga, atau sebagainya. Bila perlu, pasal tersebut diubah oleh DPR sebagai lembaga tinggi negara yang salah satu tugasnya merancang, mengajukan dan memberikan persetujuan atas Rancangan Undang Undang.
Frame Berita 3 Tempo
Judul : Perkara Perdana Penodaan Agama Edisi : 15 – 21 Mei 2017
Tabel 4.5
Frame Berita 3 Tempo
Frame Utama
Hakim dianggap kurang kompeten karena baru pertama kali menangani kasus penodaan Agama.
Define Problems
(Pendefinisian Masalah)
Putusan hakim yang memerintahkan penahanan Ahok dipertanyakan.
Diagnose Causes
(Memperkirakan masalah atau sumber masalah)
Hakim dianggap tidak kompeten dalam menangani kasus Ahok karena latar belakang pendidikannya.
Make Moral Judgement
(Membuat keputusan moral)
Hakim yang memimpin kasus Ahok belum berpengalaman dalam menangani kasus penodaan agama.
Treatment Recommendation
(Menekankan penyelesaian)
Majelis hakim yang memimpin sidang sebaiknya yang telah memiliki
pengalaman menangani kasus penodaan agama.
Define Problems ( Pendefinisian masalah )
Keputusan Hakim Dwiarso yang membacakan vonis dua tahun penjara untuk ahok dipertanyakan, seperti dalam paragraf 6.
Dwiarso yang mengucapkan putusan majelis agar jaksa langsung menahan Basuki. Putusan berisi perintah penahanan ini dipersoalkan tim pengacara Basuki karena sebelumnya majelis hakim tak memerintahkan jaksa menahan terdakwa. Sewaktu kasus ini berada di kepolisian dan kejaksaan, Ahok juga tidak ditahan.
Peneliti melihat Tempo mempersoalkan dan mempermasalahkan putusan Dwiarso yang langsung memerintahkan jaksa untuk segera menahan Ahok. Padahal sebelumnya majelis hakim tak memerintahkan jaksa menahan sang terdakwa.
Diagnose Causes ( Memperkirakan masalah atau sumber masalah )
Latar belakang pendidikan Hakim Dwiarso tak sesuai dengan kasus yang ia tangani, seperti yang dikutip pada paragraf 7.
Bagi Dwiarso, Kasus Ahok merupakan perkara penodaan agama yang ia tangani. Sebelumnya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Ia lebih banyak menangani kasus perdata. Itu sesuai dengan latar belakang pendidikannya
ketika kuliah di Universitas Airlangga. Kala itu Dwiarso berkonsentrasi mendalami ilmu hukum perdata. Ketika menempuh jenjang magister di Universitas Gajah Mada, pria yang menjadi hakim sejak 1991 ini mengambil hukum bisnis.
Peneliti melihat Tempo mendefinisikan masalah dari teks ini antara lain latar belakang pendidikan hakim Dwiarso kurang cocok untuk memimpin kasus penodaan agama sekaliber kasus Ahok.
Make Moral Judgement ( Membuat keputusan moral )
Hakim yang memimpin kasus tersebut belum memiliki pengalaman dalam memimpin sidang terkait penodaan agama, seperti yang dikatakan sang hakim sendiri pada paragraf 12.
Menurut Dwiarso, kasus Ahok merupakan pengalaman pertama dia menangani perkara penodaan agama. Sebagai ketua pengadilan, dwiarso menunjuk dirinya sebagai ketua merangkap anggota majelis hakim kasus itu. “Ini kan terdakwanya orang terkenal, seorang pejabat,” kata Dwiarso menjelaskan alasan memimpin majelis tersebut.
Dalam hal ini peneliti melihat Tempo ingin menekankan bahwa hakim Dwiarso kurang kompeten dalam memimpin kasus penodaan agama karena kasus penodaan agama oleh Ahok ini merupakan pengalaman pertama Dwiarso. Tempo juga menegaskan hal ini dengan pernyataan langsung dari Dwiarso sendiri.
Treatment Recommendation ( Menekankan penyelesaian )
Peneliti melihat Tempo ingin menunjukkan bahwa sebaiknya kasus penodaan agama seperti kasus ahok, dipimpin oleh hakim yang sudah berpengalaman. Hal tersebut ditunjukkan Tempo dengan mengungkit sejumlah kasus yang pernah dipimpin oleh Dwiarso. Dwiarso juga pernah menjadi anggota majelis hakim kala Tempo kalah dalam persidangan kasus dari buntut laporan tempo “Ada TW di Tenabang”. Seperti dikutip pada paragraf, 11, 12 dan 13.
Pengacara Rina pernah melaporkan Dwiarso ke Komisi Yudisial. Alasannya Dwiarso memerintahkan penahanan Rina ketika sidang sudah memasuki pemeriksaan saksi. Di Awal persidangan, Dwiarso tak memerintahkan jksa menahan Rina. Begitu tahu akan ditahan, Rina langsung pingsan. Pengacara menuding Dwiarso sewenang-wenang karena menahan Rina yang selalu kooperatif di persidangan.
Di Pengadilan yang sama, Dwiarso juga memegang perkara suap hakim Asmadinata. Sang terdakwa merupakan kolega Dwiarso di Pengadilan Tinggi Tindak Pidana Korupsi Semarang. Hakim ad-hoc itu didakwa menerima hadiah ketika menangani perkara suap pengaturan vonis bekas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Grobogan, Jawa Tengah, M. Yaeni. Majelis yang dipimpin Dwiarso menghukum Yaeni lima tahun penjara-dari tuntutan sebelas tahun yang diminta jaksa.
Sewaktu bertugas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada 2003, Dwiarso menjadi anggota majelis hakim dalam kasus perbuatan tak menyenangkan terhadap pemimpin redaksi majalah Tempo, Babang Harymurti. Terdakwa kasus ini adalah David Tjiu alias A Miaw, yang ikut bersama massa penggeruduk kantor Tempo di Jalan Proklamasi 72, Jakarta Pusat. Aksi itu buntut laporan utama Tempo, “Ada Tomy di Tenabang”. Majelis hakim memvonis bebas David.
Dari tiga paragraf tersebut, peneliti menyimpulkan Tempo ingin mengatakan bahwa hakim Dwiarso kurang kompeten karena belum pernah menangani sidang penistaan agama. Selain itu, keputusan yang diambil Dwiarso kadang menjadi sorotan, seperti memerintahkan penahanan Rina ketika sidang memasuki pemeriksaan saksi, padahal, Rina selalu kooperatif. Selain itu, di ia memvonis Yaeni lima tahun penjara dari 11 tahun penjara, lebih ringan hampir setengahnya dari tuntutan jaksa, yakni enam tahun.
Tempo juga mengungkit Dwiarso yang menjadi anggota persidangan penyerangan kantor redaksi Tempo, dimana kala itu Tempo kalah, dan terdakwa David Tjiu alias A Miaw divonis bebas. Mungkin ada alasan tersendiri dibalik Tempo menyinggung kasus ini diantara vonis kasus yang seringkali dipimpin dwiarso. Yang jelas, menurut Tempo, Dwiarso tidak berpengalaman memimpin kasus penistaan agama.