Setelah melakukan interview dengan ketiga informan terkait, peneliti mendapatkan hasil penelitian terkait manajemen konflik dan pola interaksi konflik dalam komunikasi organisasi di media NET sebagai berikut;
4.2.1 Gaya Manajemen Konflik
Konflik kerap ditemukan dan merupakan suatu hal yang wajar terjadi dalam komunikasi organisasi NET program Indonesia Bagus. Peneliti menemukan bahwa konflik memang sering ditemukan dan bahkan suatu hal yang wajar terjadi. Setidaknya menurut informan dalam seminggu ditemukan konflik
sekali atau dua kali. Namun informan menganggap konflik merupakan suatu perkembangan dari organisasinya sendiri.
“Ya tentative lah ya gak bisa aku rata – rata, setiap hari ada konflik atau nggak, gak bisa lah ya. Tapi ya seminggu itu ada lah satu atau dua kali gitu, biasa.” (Febry, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Konflik itu.. kalo menurut saya sih sesuatu yang gak bisa dihindarin ya.. dimanapun. Saya sebelumnya kerja di TRANS7 ada konflik juga, pindah ke sini sama juga ada konfliknya. Beda sih konfliknya, tapi sama – sama punya.. suatu hal yang wajar kalo kita juga bisa memanage konflik itu dengan baik, gak bisa dihindarkan soalnya” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Kalau konflik pasti sih ya, kalau misalkan ditanya ada apa nggak ya banyak.” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17) “Komunikasi ada konflik ya pasti, jadi menurut aku wajar sih.. malah justru kalau gak ada konflik berarti gak berkembang. Organisasi kita juga harus berkembang” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Konflik lebih sering terjadi antara atasan dengan bawahan, terkait mengenai hal teknis dan salah paham berkomunikasi dalam produksi sebuah tayangan. Peneliti menemukan bahwa konflik yang terjadi lebih mudah ditemukan dalam divisi atau program sendiri dan kerap terjadi dalam hubungan vertikal antara atasan dengan bawahan. Konflik tersebut lebih sering menyangkut hal – hal teknis dan salah paham dalam komunikasi. Kedua faktor konflik tersebut dikarenakan adanya perbedaan pendapat, pemahaman, juga selera atau ide antara ketiga informan terkait mengenai sebuah produksi tayangan Indonesia Bagus. Selain itu menurut informan adanya perbedaan karakteristik dalam setiap individu di organisasi yang memungkinkan konflik itu timbul.
“Ya namanya organisasi itu kan bertemu dengan begitu banyak karakter. Secara horizontal itu mungkin dengan sesama produser,
masing-masing itu kan punya karakteristik beda – beda ya. Dan ya namanya beda karakter ya pasti itulah memungkinkan adanya namanya mis-komunikasi, atau beda pemahaman gitu kan.
Misscom satu sama lain biasa itu lah, dalam scoop yang kecil
tentunya kan” (Febry, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17) “Kalo paling sering frekuensinya lebih ke atasan saya sih (Senior
Produser), tapi biasanya karena beda selera. Jadi kalo saya basicnya magazine, nah kebetulan atasan saya ini basicnya daily hardnews, jadi dia tastenya beda. Ketika dia lihat satu tayangan
dia akan perhatiin soal – soal kayak penulisan namanya, credit
title, soal – soal yang lebih detil dan kaku gitu loh..” (Rizki,
Transkrip Wawancara Tatap Muka, 2/6/17)
“Yang paling sering ya, yang paling rutin sampe sekarang masih sering terjadi itu.. konfliknya komunikasi sama tim. Kenapa? Karena mereka gak ngerti teknis, sementara Asisten Produksi itu lebih ke administrasi dan teknis kan yang kita urusin. Nah kadang mereka itu kurang memahami apa soal teknisnya itu gitu, jadi selalu ada mis-komunikasi di situ.” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Salah satu contoh konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan atau dalam komunikasi organisasi disebut dengan komunikasi vertikal, ialah adanya perbedaan pendapat, ide atau selera akan sebuah tayangan Indonesia Bagus. Perbedaan ide atau selera ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang pengalaman dalam dunia broadcasting yang dimiliki antara produser dengan asisten produksi. Salah satu contoh perbedaan selera atau ide tersebut dipaparkan dengan kasus pemilihan narasumber dalam sebuah produksi tayangan.
“Jadi misal nih, konkretnya ketika ada pitching tim liputan. Saya mau ngangkat narasumber ini nih si A, kemudian yang lain kalau menurut saya lebih bagus si B. Nah terus gimana? Caranya seorang produser menengahi ya carilah norma organisasinya tuh kayak apa sih? Televisi Masa Kini. Oh televisi masa kini itu televisinya anak muda, milenial gitu kan, itu kita menengahi. Saya kira dari pendapat sumber A dan B ini, mana yang lebih memenuhi kriteria NET. Jadi patokan-nya bukan lagi subjektifitas, kita harus
ngikutin pakem organisasi NET gitu.” (Febry, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Dalam pernyataan produser di atas menegaskan bahwa produser tetap berusaha menjaga objektifitasnya dalam bekerja dan menjalankan tanggung jawab sebagai produser. Menurut beliau norma dari organisasi merupakan standart yang dapat diikuti untuk mencari keluaran konflik.
“Beda era, beda gaya, beda selera sih.. Seperti tadi yang gue bilang dari awal, gue kan basicnya magazine, kalau Bapak atasan saya lama di hardnews bulletin. Jadi pola pikirnya update, cepet, segala macem.. gak yang mencondong ke arah estetika gitu” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Bagi junior produser, Senior Produser merupakan orang yang berbeda karakter dan latar belakang dengan dirinya. Hal tersebutlah yang menyebabkan timbulnya perbedaan ide, selera, dan pendapat.
Produser terbuka dalam menerima serta menanggapi pendapat yang diberikan oleh bawahannya (junior produser dan asisten produksi). Hanya saja untuk suatu hal yang bersifat memiliki keuntungan untuk program dan organisasi, produser bersikap tegas. Peneliti meminta asisten produksi memberikan salah satu contoh konflik yang terjadi dengan atasan dan bagaimana atasan menanggapi pendapat atau ide dari bawahannya. Pada jawaban yang telah diberikan dinyatakan bahwa produser merupakan termasuk orang yang memiliki kerjasama yang baik dan terbuka atau open
mind dalam mendengar maupun menerima pendapat dalam situasi konflik.
“Kalau produser yang ini (Senior Produser).. sebenernya soal kerjaan enak, dan dia sering mendengarkan pendapat aku, lebih
open dan terbuka ya.” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap
Muka 2/6/17)
“Kecuali soal blocking-an ya, soal itu iya dia strict, blocking-an itu sponsoran. Kalau ada sponsor yang masuk atau apapun istilahnya yang menghasilkan uang, dia (atasan Senior Produser) udah gak mau denger yang bawah pokoknya. Kalau misalkan
sponsornya minta ini minta itu, terus aku bilang ‘mas ini gak bisa blabla’ pasti dia akan ‘ya gak mau tau teh gimana caranya’ nah udah kalau soal sponsoran itu dia strict.” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Junior produser pun memiliki tanggapan yang sama terhadap senior
produser terkait bagaimana beliau mendengarkan pendapatnya ketika berhadapan dengan konflik yang menurutnya lebih sering mengenai tayangan.
“Sering sering, tapi soal tayangan, tapi beliau open mind juga sih cuma dingin dan kaku. Jadi kalau kita gak berani nanya atau mempertahankan ide kita ya.. mental” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Melihat jawaban yang sesuai antara kedua informan tersebut, peneliti berusaha meyakinkan lagi dengan menanyakan langsung kepada informan utama yakni Febry Arifmawan selaku senior produser. Peneliti menanyakan tentang bagaimana beliau bersikap dalam menghadapi konflik dan mendengarkan pendapat pihak lawan konflik. Dan hasil jawaban menyatakan bahwa produser memang terbuka dalam mendengarkan pendapat pihak lawan dan bijaksana dalam menemukan solusi.
“Oh iya semua harus didengarlah, dalam hal mediasi semua harus didengarkan kemudian dengan kebijaksanaan yang kita punya kita putuskan untuk mencari titik temu solusi” (Febry, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Tidak hanya Produser, Junior Produser dan Asisten Produksi pun mampu terbuka mendengarkan pendapat pihak lawan konflik dan menganalisis masukan dengan baik. Bagi mereka kepentingan organisasi merupakan hal utama yang harus diperhatikan ketika mencari keluaran atau solusi konflik. Mendengarkan masukan pendapat lawan, menganalisis, kemudian berdiskusi adalah hal – hal yang dilakukan oleh Junior Produser dan Asisten Produksi untuk menemukan solusi.
“Kalau misalnya terjadi hal soal mengutamakan kepentingan, jadi kita dengerin dulu nih apa tanggapannya dia, apa masukkan dari dia, masih bisa seiring ngga sama kepentingan organisasi. Kalau emang gak seiring ya.. ‘yaudah ini gak bisa’. Tapi bukan berarti saya gak dengerin ya.. saya bilang sama dia, saya jelasin ‘jadi gue buat keputusan ini karena A’ gitu misalnya. Kalau dia gak sejalan dengan A yaudah.. gitu.. harus bisa menerima. Karena tujuan utama kan untuk organisasi, gak ada yang sifatnya personal sih” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Kalau aku sih tetep dengerin pendapat pihak lain dulu ya, istilahnya itu kan diskusi kan.. tetep dengerin apa yang dia pingin. Tapi, aku tetep lihat.. walaupun misalkan dia ngomong apa.. tapi ketika solusi itu memang tidak bisa diterapkan yaudah gitu.. gausah maksain gitu” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Produser, Junior Produser, dan Asisten Produksi menganggap bahwa negosiasi merupakan hal penting yang harus dilakukan ketika menghadapi konflik. Setiap program yang ada di NET juga memiliki ketergantungan antar program lain dan terutama antar divisi atau bidang kerja lainnya. Hal ini membuat sebuah tim dalam produksi harus dapat memiliki kemampuan untuk bernegosiasi dan bekerjasama. Proses negosiasi konflik dilakukan bukan hanya dalam tim sendiri namun juga dilakukan ketika konflik terjadi antar program bahkan antar divisi. Konflik antar divisi terjadi karena antara satu divisi dengan yang lain masih memiliki keterkaitan satu sama lain. Maka dari itu negosiasi ini berguna ketika dihadapkan pada konflik dengan situasi mendesak. Kondisi yang mengharuskan informan untuk mengatasi konflik dengan fleksibel namun tetap mengikuti prosedur organisasi yang ada. Orientasi dari proses negosiasi ini adalah tetap untuk mendapatkan solusi, dimana solusi yang dihasilkan merupakan hasil titik temu antara dua pendapat berbeda, tetapi tetap dengan tujuan yang sama, yaitu kepentingan organisasi.
“Penting banget (negosiasi), apalagi kalau itu udah menyangkut beda divisi ya. Sebuah tayangan itu kan sebenernya gak cuma.. walaupun di produksi sama news, tapi dia kan punya keterkaitan dengan divisi lain juga gitu. Jadi kalau misalkan kita gak bernegosiasi kan.. yang tadi aku bilang, kan sesuai prosedur tapi kita harus fleksibel juga gitu. Ketika situasinya tidak memungkinkan untuk sesuai prosedur strict kayak gitu, ya kita harus fleksibel.. Nah tetep berarti, ketika kita butuh fleksibelnya itu kita harus bernegosiasi. Gimana sih caranya gak terlalu banyak melenceng dari prosedur, tapi kita juga tetep bisa tayang sesuai dengan tayangan yang seharusnya gitu sih” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Penting sih, soalnya yang namanya konflik kan itu tujuannya yang akan dicari itu solusi, dan itu pasti perlu negosiasi. Kalau sama-sama gak mau negosiasi yaa.. gak ketemu-ketemu solusinya sih. Apalagi kerjaan kayak gini ya..(media)” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Jadi kalau dalam teori organisasi itu kan ada namanya.. ee negosiasi ya kan. Menegosiasikan antara dua pendapat yang berbeda untuk mungkin bisa menemukan titik temunya. Yang dicari itu kan titik temunya ya.. titik temunya apa? Kepentingan organisasi atau norma organisasi kah, makanya harus ngikutin pakem organisasi NET gitu” (Febry, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Junior Produser dapat mengidentifikasi pendapat lawan konflik dan menangani dengan baik. Dalam hal mengidentifikasi pendapat lawan konflik
Junior Produser menjelaskan bahwa mendengarkan bukan hanya untuk
didengar. Tetapi pendapat pihak lawan konflik juga disaring dan dipertimbangkan keselarasannya dengan tujuan atau kepentingan utama organisasi. Ketika pendapat lawan dirasa tidak memiliki selaras dengan kepentingan bersama, maka pendapat tersebut tidak bisa diterima dengan memberikan alasan kepada pihak lawan terkait.
“Oke, jadi kalau misalnya terjadi hal soal mengutamakan kepentingan, kita dengerin dulu nih.. apa tanggapannya dia, apa masukkan dari dia, masih bisa seiring ngga sama kepentingan organisasi. Kalau emang gak seiring ya.. saya gak dengerin
‘yaudah ini gak bisa’. Tapi bukan berarti saya gak dengerin ya.. saya bilang sama dia saya jelasin, jadi gue buat keputusan ini karena A gitu misalnya. Kalau dia gak sejalan dengan A yaudah gitu.. lu harus bisa menerima, karena tujuan utama untuk organisasi, gak ada yang sifatnya personal sih” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Memiliki kemampuan dalam menganalisis masukan dari pihak lawan konflik. Tidak hanya dapat mengidentifikasi pendapat lawan konflik dengan baik, peneliti ingin mengetahui bagaimana informan menganalisis masukan dari pihak lawan konflik. Hal pertama yang dilakukan oleh informan ialah memahami latar belakang atau dasar permasalahan (konflik) untuk kemudian mendengar dan menerima masukan dari pihak lawan. Selain itu menilai apakah solusi yang diberikan memiliki dampak dan resolusi yang baik di akhir atau tidak. Karena setiap solusi yang diambil diharapkan dapat menyelesaikan konflik dengan baik dan tidak memiliki dampak buruk untuk ke depannya.
“Nah aku biasanya, ngedengerin dia ngomongnya apa dulu solusinya.. terus aku bilang, ‘sebenernya gak kaya gitu, kalau misalkan pake solusi kamu prosedurnya nanti akan berantakan atau gimana’ gitu. Jadi aku jelasin dulu latar belakangnya gimana, kalau misalkan emang gak cocok ya aku jelasin lagi ‘kamu gak cocoknya di sebelah mana, karena solusi yang kamu kasih gak cocok, karena nanti akan berantakan ke sini, sini, sini”
“Jadi sistemnya jelasin dulu latar belakangnya, mendengarkan dia dulu, menerima masukannya tapi abis itu memberitahu kalau solusinya terasa sesuai apa nggak, dampak ke depannya gimana. Soalnya kalau aku, ketika dia jelasin nih solusinya, aku tuh sambil mikir ‘oh kalau dia kasih solusi gini gimana ya ntar ke depan – depannya’ kalau misalkan emang itu kira – kira gak bagus ya aku jelasin mungkin ke depannya nanti akan begini begini” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Nilai dari sebuah konflik berpengaruh dan memiliki peran penting dalam menemukan solusi konflik bagi ketiga informan. Bagi Senior Produser,
pembelajaran konflik. Ketika nilai dari sebuah konflik itu rendah maka secara otomatis tidak akan menjadi prioritas informan dalam menghadapi masalah atau konflik tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi nilai konflik tersebut semakin tinggi pula skala prioritas konflik tersebut untuk diselesaikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai konflik berfungsi dan berperan penting bagi para informan untuk menentukan skala prioritas konflik dalam menemukan resolusinya.
“Oh iya berpengaruhlah, mana yang gak terlalu prinsip, yang tidak terlalu mengganggu kinerja kerja ya gak usah dimasukkan dalam skala prioritas lah. Kan konflik itu inilah.. Intinyan gini, kalo kita kan kerja atas nama profesionalitas berbasis kinerja, yakan,
outputnya adalah program. Yang ada kaitannya dengan itu saja
yang kita urus.” (Febry, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Oh iya, sangat berpengaruh.. soalnya kalau misalnya itu.. gak penting, akan cepet.. misalnya ‘kak Iki ini gimana? Jadi mau ditarik videonya format apa?’ gue paling jawabnya ‘aduh gapenting udah terserah, yang penting bisa kebaca’ gitu.. pokoknya yang kurang penting ya itu bisa langsung diselesaiin sih itu kan gampang. Nah kalau yang lebih penting itu perlu dipikirin, duduk bareng dan pelan-pelan diselesaikan. At least harus tek-tok an dulu sih, tatap muka gitu..” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Ee.. nilai konfliknya penting atau nggak tetep diselesaiin tapi.. emang nilai itu berpengaruh untuk prioritasnya. Jadi ketika emang ada dua konflik nih yang sedang terjadi, aku akan milih misalkan konfliknya yang satu yaa.. masih so – so lah, masih bisa ntar – ntar gitu. Yang satu itu harus urgent bener – bener harus diberesin gitu, nah itu sih.. menurut aku berpengaruh buat akunya di situ gitu. Ketika emang ee.. dua konflik ini mana yang lebih tinggi konfliknya, aku akan beresin yang lebih tinggi dulu. Yang lebih rendah nilai konfliknya yaudah ntar ajalah gitu..” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
4.2.2 Pola Interaksi Konflik
Dalam hal menciptakan negosiasi untuk mendapatkan solusi atau keluaran konflik bersama, subjek penelitian atau informan telah memiliki kemampuan untuk bernegosiasi. Dimana bernegosiasi pun dianggap penting agar menemukan titik temu dari sebuah perbedaan dengan pihak lawan konflik, sehingga mendapatkan keluaran konflik yang sudah disepakati bersama.
“Jadi kalau dalam organisasi itu ada kan namanya.. ee teori negosiasi ya kan. Menegosiasikan antara dua pendapat yang
berbeda untuk mungkin bisa menemukan titik temunya. Yang
dicari itu kan titik temunya bersama ya” (Febry, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Penting sih, soalnya yang namanya konflik kan itu tujuannya yang akan dicari itu solusi, dan itu pasti perlu negosiasi. Kalau sama-sama gak mau negosiasi yaa.. gak ketemu-ketemu solusinya sih. Apalagi kerjaan kayak gini ya..(media)” (Rizki, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Ketika menghadapi konflik, bagi informan konflik merupakan hal yang wajar karena adanya perbedaan karakteristik setiap orang. Tetapi, yang terpenting adalah untuk menciptakan kolaborasi dengan give and take yang dimaksud di sini ialah kadang dapat mengalah kemudian kadang harus tegas juga.
“Ya konflik itu menunjukkan adanya dinamika, dinamis, kemudian menunjukkan ya organisasi ini bergerak, ada kemudian fungsi – fungsi yang semuanya bergerak. Tentu suatu yang wajar,
namanya kerja dalam organisasi selalu bertemu karakteristik orang yang berbeda. Orang dengan pemahaman yang berbeda
pula ya.. tujuan kita kan bukan kemudian mau menang sendiri kan,
tapi menciptakan kolaborasi. Nah kadang kala itu kita bisa mengalah, kadang harus tegas, ya kita harus lihat situasinya lah”
Dalam mengembangkan alternative – alternative solusi konflik, informan juga berpikir secara divergen atau luas yang hasilnya dapat diterima bersama. Dari hasil interview yang ada ketika dihadapkan dengan pencarian solusi yang
divergen atau luas, informan dapat mengambangkan solusi alternatif yang
kreatif dan tidak hanya terpaku pada keinginan pribadi masing – masing pihak konflik. Jika solusi yang sifatnya adil dan berimbang dapat diwujudkan, informan akan mengusahakan hal tersebut. Tetapi informan juga berusaha untuk menemukan solusi alternatif lain yang sifatnya jalan tengah atau solusi ketiga. Sehingga mungkin tidak menguntungkan kedua belah pihak yang terlibat konflik, namun dapat diterima bersama keputusannya. Selain itu informan juga berusaha mencari referensi atau pelajaran pencarian solusi melalui pengalaman yang pernah dialami sendiri maupun melalui pengalaman orang lain, juga bertanya kepada divisi – divisi terkait.
“Tergantung konfliknya apa ya.. kalau udah ngotot – ngototan nih ya, aku punya solusi apa, orang lain punya solusi apa, kita gak nemu ee.. hasilnya gak bisa menguntungkan kedua belah pihak, ya aku akan mengambil solusi yang menguntungkan tayangannya. Jadi pasti akan ada solusi ketiga” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Iya kalau misalkan memang solusi alternatif itu yang lebih bagus untuk tujuan organisasi yaudah alternatif itu yang dipake” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Aku banyak liat referensi sih, kalaupun misalkan konflik itu belum terjadi di aku tapi ada di orang gitu.. makanya kata orang ‘seneng gosip ya teh Nini, dengerin cerita orang’. Aku tuh dengerin cerita orang bukan cuman sekedar gosip sih tapi kan lebih ke.. misalkan ada orang lain punya konflik begini begini, ooh oke jadi ketika aku nanti punya konflik yang sama solusinya kayak gini nih. Karena orang itu sudah mencoba, solusinya seperti apa cocok apa nggak gitu, kan aku tinggal menelaah nanti ‘ah ini cocok apa nggak nih diterapin di program aku’” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
“Selain itu aku juga sering bertanya sih, ee.. bertanya dengan divisi – divisi terkait. Maksudnya kayak prosedurnya seperti apa sih kalau misalkan ada konflik” (Halimah, Transkrip Wawancara Tatap Muka 2/6/17)
Mediasi atau mencari solusi alternatif dengan bantuan penengah merupakan suatu hal yang positif ketika jalan tengah tidak dapat ditemukan oleh masing – masing pihak yang terlibat konflik. Hal inilah yang dilakukan oleh informan, mediasi ini akan membantu menemukan solusi dengan melihat konflik dari kacamata luar atau umum. Seperti yang dilakukan informan ketika memilih mediasi atau orang lain yang posisi atau jabatannya lebih tinggi, agar bisa mengambil kebijakan dan tanggung jawab atas keputusan atau solusi yang ditemukan.
“Jadi ketika emang solusi aku itu lebih cocok dan lebih diterapkan itu akan lebih baik, aku pasti akan ngotot gitu. Cuma kalau misalkan dua – duanya sama – sama ngotot kan kita gak akan nemuin jalan tengah nih, nah aku akan narik orang ketiga.. orang ketiga yang memang jabatannya lebih tinggi di atas kita. Jadi pengambil kebijakannya akan aku tarik, ketika pengambil kebijakannya aku tarik aku tawarin solusinya. ‘Ini solusi aku, ini solusi dia’ ya kan, nanti yang si pengambil kebijakannya itu akan berpikir yang mana yang lebih