• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

Dalam hasil penelitian ini, akan dideskripsikan system semiotika menurut Charles Sanders Peirce yang terdapat dalam lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad, berdasarkan segitiga tanda yang dikemukakan oleh Peirce yaitu :

1. Denotatum : ikon, indeks, dan symbol.

2. Ground : qualisigns, sinsign, legisign 3. Interpretant : rheme, decisign, argument

Untuk lebih jelasnya beberapa lirik lagu payung teduh dapat dilihat sebagai berikut :

“Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan “

Tak terasa gelap pun jatuh

Diujung malam menuju pagi yang dingin Hanya ada sedikit bintang mala mini

Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Lalu mataku merasa malu

Semakin dalam dia malu kali ini Kadang juga ia takut

Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya

Reff :

Dimalam hari Menuju pagi Sedikit cemas Banyak rindunya

“Resah”

aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap tapi aku tak bisa melihat matamu

aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

aku menunggu dengan sabar di atas sini, melayang-layang

tergoyang angin, menantikan tubuh itu

aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

“Berdua saja”

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya Mungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinya Kita berdua diantara kata Yang tak terucap

Berharap waktu membawa keberanian Untuk datang membawa jawaban

Mungkinkah kita ada kesempatan

Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

“Menuju senja”

harum mawar di taman

menusuk hingga ke dalam sukma

yang menjadi tumpuan rindu cinta bersama di sore itu menuju senja

bersama hati yang terluka

tertusuk pilu menganga luka itu

diantara senyum yang menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan

bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian

ada yang mati saat itu dalam kerinduaan yang tak terobati

Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu ada yang mati menunggu sore menuju senja bersama

harum mawar di taman

menusuk hingga ke dalam sukma

yang menjadi tumpuan rindu cinta bersama di sore itu menuju senja

Penelitian dilakukan pada pilihan kata yang terdapat dalam lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad. Secara umum lagu-lagu yang dimainkan oleh payung teduh merupakan gambaran hati, emosi, serta hal-hal yang sering terjadi pada remaja atau orang-orang yang sudah mengerti arti percintaan itu sendiri.

Adapun analisis makna lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad diatas berdasarkan trikotomi Peirce adalah sebagai berikut :

“Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan”

1. Trikotomi pertama (Denotatum)

a. Ikon : sesuatu yang melaksanakan funsi sebagai penanda yang serupa dengan obyeknya.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak ada ikon yeng terkandung dalam lirik lagu

“untuk perempuan yang sedang dalam pelukan” Karena keberadaan Ikon tidak seharusnya terletak pada kata namun pada bentuk utuh kemiripan pada suatu bendamisalnya gambar atau lukisan.

b. Index : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan pertandanya atau yang menghasilkan hubungan sebab akibat.

“untuk perempuan yang sedang dalam pelukan”

Penjelasan : mengapa dikatakan judul lagu dari payung teduh yaitu

“untuk perempuan yang sedang dalam pelukan” termasuk dalam index dikarenakan, penulis lagu yang mengalami kisah seperti lagu diatas sehingga menjadi inspirasi bagi penulis lagu itu sendiri.

“ Diujung malam menuju pagi…”

Penjelasan : dalam lirik ini juga mengandung unsure sebab akibat dimana di ujung malam menandakan bahwa malam akan segera tergantikan oleh pagi.

“Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya”

Penjelasan : dalam lirik diatas juga mengandung unsure index yang lebih menekankan sebab akibat dimana dijelaskan diatas bahwa

“hanya ada sedikit bintang malam ini..” untuk merayu sang kekasih atau membandingkannya dengan bintang, sehingga seakan akan bintang malu untuk menampakkan wujudnya karena terkalahkan oleh cantiknya wajah sang pujaan hati pada saat itu.

c. Simbol : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah dan secara konvensional telah lazim digunakan dalam masyarakat.

“tak terasa gelap pun jatuh”

Penjelasan : di dalam lirik tersebut terdapat kata gelap, yang berarti suatu keadaan yang tidak terlalu terang, tidak terlalu banyak cahaya ataupun kelam. istilah ini sendiri akhirnya menjadi symbol yang dimaknai secara bersama dalam keadaan tertentu secara umum.

“kadang juga ia takut”

Penjelasan : kita tahu bahwa takut adalah sebuah perasan dimana kita merasa gemetar, atau ngeri, tidak berani, gelisah ataupun khawatir. Dimana saat seperti itulah kita diterpa rasa ragu, bimbang dan semacamnya, istilah tersebutlah yang akhirnya dimaknai bersama secara umum ketika kita mengalami kondisi “takut”.

“lalu mataku merasa malu, semakin dalam ia malu kali ini”

Penjelasan : dalam lirik diatas terdapat kata “malu”, yang merupakan sebuah tingkah laku yang segan, merasa tidak enak hati, atau takut melakukan sesuatu yang sifatnya kurang nyaman untuk dilakukan. Istilah tersebut juga merupakan kesepakatan yang diambil secara umum yang akhirnya menjadikan symbol yang kemudian dimaknai secara umum.

“menuju pagi, sedikit cemas banyak rindunya”

Penjelasan : kata cemas dalam lirik diatas termasuk symbol, karena kita ketahui bahwa cemas merupakan suatu keadaan hati yang gusar, tidak tenang, sangat gelisah serta merasa takut akan sesuatu hal, sedangkan rindu rindu dalam lirik diatas dapat diartikan sebagai pengharapan, sangat ingin terjadi, memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu. Biasanya keadaan rindu tersebut dialami oleh sepasang kekasih yang jarang bertemu sehingga memilki keinginan yang cukup kuat untuk segera bertemu dan melepas kerinduan mereka.

Istilah ini sendiri akhirnya menjadi simbol yang dimaknai secara bersama serta diakui secara umum.

2. Trikotomi kedua (Ground)

a. Qualisign : penanda yang bertalian dengan kualitas / tanda yang dapat ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda tersebut.

“lalu mataku merasa malu”

Penjelasan : terdapat kata mata dalam lirik diatas, dimana mata tersebut jika ditambahkan suatu kata dapat dimaknai sebagai tanda yang memiliki sifat yang memang ada dalam tanda tersebut. Misalnya saja dikaitkan dengan mata hati merupakan makna dari suatu perasaan yang amat dalam, lalu bisa juga menjadi mata kuliah yang dapat diartikan satuan mata pelajaran yang diangkat di perguruan tinggi.

“tak terasa gelap pun jatuh”

Penjelasan : terdapat kata jatuh dalam lirik di atas, dan apabila kata jatuh tersbut dikaitkan dengan tambahan kata lain dakan dapat dimaknai sebagai tanda yang memiliki sifat yang memang ada dalam tanda tersebut. Misalnya jatuh hati yang bermakna menaruh kasih, menyimpan rasa ataupun cinta terhadap seseorang ataupun terhadap sesuatu. Contoh lainnya jatuh tempo yang bermakna suatu batas pembayaran yang telah lewat batas waktunya.

b. Sinsign : merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan semua pernyataan individual makhluk hidup yang tidak dilembagakan atau belum berfungsi sebagai tanda.

“semakin dalam dia malu kali ini”

Penjelasan : dalam lirik di atas kata malu merupakan tanda atas dasar tampilan dalam kenyataan, karena dari kata “malu” tersebut kita dapat mengenali seseorang dari tingkahnya salah satunya dengan tingkahnya yang suka malu.

c. Legisigns : merupakan tanda – tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi atau kode yang sudah menjadi tradisi.

Tidak ada

Penjelasan : dikatakan tidak ada karena dalam lirik “untuk perempuan yang sedang dalam pelukan tidak terdapat suatu tanda yang berlaku secara konvensional atau menjadi kode dari sebuah tradisi misalnya tanda lalu-lintas, menganggukkan kepala yang berarti “iya”, mengerutkan alis, cara berjabat tangan dsb. Semua tanda bahasa merupakan legisigns karena bahasa merupakan kode yang aturannya disepakati bersama

3. Trikotomi ketiga (Interpretant)

a. Rheme : penanda yang bertalian dengan mungkin terpahaminya objek pertanda sebagai penafsir.

“dimalam hari menuju pagi, sedikit cemas banyak rindunya”

Penjelasan : lirik diatas dapat bermakna seseorang yang merindukan pujaan hatinya pada waktu malam yang semakin larut sehingga terbawa perasaannya dengan waktu yang terus berjalan. Sehingga dapat dikatan terpahaminya objek tanda dan dapat ditafsirkan tanda yang terdapat dalam makna lirik tersebut.

“tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya”

Penjelasan : terdapat kata pelarian atau kata dasar dari lari dalam lirik diatas, sehingga dapat dimaknai dari kata tersebut seseorang yang berlari dikarenakan seseorang tersebut takut, atau bergeser/berpindah untuk menyelamatkan diri.

Kata tersebut dapat dipahami objeknya serta dapat ditafsirkan tanda yang terdapat dalam makna lirik tersebut.

b. Decisign : merupakan penanda yang menampilkan informasi tentang pertanda.

“ di ujung malam menuju pagi yang dingin”

Penjelasan : pemaknaan tanda dalam lirik diatas dapat ditandai dengan terdapatnya lirik “diujung malam menuju pagi yang dingin” dapat terlihat jelas penanda kata malam menuju pagi yang dingin merupakan informasi bahwa malam

akan segera berakhir dan digantikan oleh pagi sehingga penanda dalam lirik diatas menampilkan informasi tentang pertanda.

c. Argument : penanda yang pertanda akhir bukan suatu benda tetapi kaidah atau tanda yang memberikan alas an untuk sesuatu yan berlaku umum.

“tak terasa gelap pun jatuh, diujung malam menuju pagi yang dingin”

Penjelasan : terdapat dua buah kalimat di atas yaitu :

“tak terasa gelap pun jatuh”

“diujung malam menuju pagi yang dingin”

Kesimpulan logisnya : gelap merupakan malam yang akan digantikan oleh datangnya pagi. Dalam penjelasan di atas dapat dimaknai bahwa tanda dalam lirik tersebut memberikan alasan untuk sesutau yang umum terjadi.

“Resah”

1. Trikotomi pertama (Denotatum)

a. Ikon : sesuatu yang melaksanakan funsi sebagai penanda yang serupa dengan obyeknya.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak ada ikon yeng terkandung dalam lirik lagu

“Resah” Karena keberadaan Ikon tidak seharusnya terletak pada kata namun pada bentuk utuh kemiripan pada suatu bendamisalnya gambar atau lukisan.

b. Index : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan pertandanya atau yang menghasilkan hubungan sebab akibat.

“ aku ingin berjalan bersamamu, dalam hujan dan malam gelap, tapi aku hanya melihat keresahanmu”

Penjelasan : dalam lirik ini juga mengandung unsure sebab akibat dikarenakan dalam lirik lagu diatas menceritakan pujaan hati yang dikenalinya, mengapa ia tak dapat melihat matanya? mata bisa diartikan tatapan, pandangan, perspektif, atau sesuatu yang dikenali dari karakter manusia.

Bisa jadi mata menyiratkan apa yang sesungguhnya akan disampaikan atau dipendam. Perspektif adalah dunia manusia, dan kita tahu mengapa manusia menjadi begitu beragam. katakanlah ini tentang kekasih, kekasih bersifat universal, bisa hal yang tak bisa dijabarkan tapi begitu akrab. kekasih bisa saja Tuhan, suami, atau entah yang lainnya. bait yang menyuratkan keinginan berjalan dalam

gelap dan hujan buka hal besar bagi mereka yang mau melakukannya demi kekasih.

c. Simbol : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah dan secara konvensional telah lazim digunakan dalam masyarakat.

“aku menunggu dengan sabar”

Penjelasan : di dalam lirik tersebut terdapat kata sabar, yang berarti suatu keadaan tahan menghadapi segala situasi, ataupun bersikap tenan. Istilah ini sendiri akhirnya menjadi symbol yang dimaknai secara bersama dalam keadaan tertentu secara umum.

2. Trikotomi kedua (Ground)

a. Qualisign : penanda yang bertalian dengan kualitas / tanda yang dapat ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda tersebut.

“aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu”

Penjelasan : dalam lirik di atas terdapat kata “resah” yang berarti hanya resah yang ia mampu lihat, bukan bagaimana resah itu terjadi. resah bisa jadi kondisi yang misteri bagi si pihak pertama ini. resah dapat sebagai pintu penjabaran bahwa ada juga dalam diri manusia yang tak terjangkau oleh orang lain. resah adalah ketidakterjangkauan. tokoh utama hanya melihat resah milik sang kekasih, tapi dari sana ia

menunjukkan bahwa ia tak dapat menggapai kekasihnya itu.

b. Sinsign : merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan semua pernyataan individual makhluk hidup yang tidak dilembagakan atau belum berfungsi sebagai tanda.

“aku menunggumu dengan sabar, di atas sini, melayang-layang”

Penjelasan : dalam lirik di atas kata malu merupakan tanda atas dasar tampilan dalam kenyataan, karena dari kata “sabar” dan

“melayang-layang” tersebut kita dapat mengenali seseorang dari tingkahnya yang selalu tahan menghadapi situasi apapun, serta perasaan “melayang-layang”

merupakan ungkapan yang berarti seseorang yang pikirannya tidak karuan.

c. Legisigns : merupakan tanda – tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi atau kode yang sudah menjadi tradisi.

Tidak ada

Penjelasan : dikatakan tidak ada karena dalam lirik “Resah” tidak terdapat suatu tanda yang berlaku secara konvensional atau menjadi kode dari sebuah tradisi misalnya tanda

lalu-lintas, menganggukkan kepala yang berarti “iya”, mengerutkan alis, cara berjabat tangan dsb. Semua tanda bahasa merupakan legisigns karena bahasa merupakan kode yang aturannya disepakati bersama.

3. Trikotomi ketiga (Interpretant)

a. Rheme : penanda yang bertalian dengan mungkin terpahaminya objek pertanda sebagai penafsir.

“aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu”

Penjelasan : lirik diatas dapat bermakna seorang kekasih yang merasakan gelisah, tidak tenang hati terhadap pasangannya. Sehingga dapat dikatan terpahaminya objek tanda dan dapat ditafsirkan tanda yang terdapat dalam makna lirik tersebut.

b. Decisign : merupakan penanda yang menampilkan informasi tentang pertanda.

“ di atas sini, melayang-layang, tergoyang angin, menantikan tubuh itu”

Penjelasan : pemaknaan tanda dalam lirik diatas dapat ditandai dengan terdapatnya lirik “di atas sini, melayang-layang, tergoyang angin, menantikan tubuh itu” yang berarti

dalam lirik tersebut seseorang yang sudah lama menunggu kekasih hatinya sampai sampai iya telah melayang-layang atau tidak tenang pikirannya. sehingga penanda dalam lirik diatas menampilkan informasi tentang pertanda.

c. Argument : penanda yang pertanda akhir bukan suatu benda tetapi kaidah atau tanda yang memberikan alasan untuk sesuatu yan berlaku umum.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak terdapat argument dalam lagu “Resah”

karena tidak adanya tanda yang memberikan penjelasan yang memberikan alasan u tuk sesuatu yang berlaku umum.

“Berdua Saja”

1. Trikotomi pertama (Denotatum)

a. Ikon : sesuatu yang melaksanakan funsi sebagai penanda yang serupa dengan obyeknya.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak ada ikon yeng terkandung dalam lirik lagu

“Berdua Saja” Karena keberadaan Ikon tidak seharusnya

terletak pada kata namun pada bentuk utuh kemiripan pada suatu bendamisalnya gambar atau lukisan.

b. Index : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan pertandanya atau yang menghasilkan hubungan sebab akibat.

“berharap waktu membawa keberanian, untuk datang membawa jawabnya”

Penjelasan : dalam lirik ini mengandung unsure sebab akibat karena lirik diatas menceritakan seseorang berharap jawaban dari sang kekasih tapi dia tidak bisa berbuat banyak, sampai waktu yang bisa membantunya menemukan jawaban yang ia inginkan.

c. Simbol : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah dan secara konvensional telah lazim digunakan dalam masyarakat.

“ketika kita berdua”

Penjelasan : di dalam lirik tersebut terdapat kata berdua, yang menjelaskan bahwa berdua merupakan terdapat dua orang bersama. Istilah ini sendiri akhirnya menjadi symbol yang dimaknai secara bersama dalam keadaan tertentu secara umum.

2. Trikotomi kedua (Ground)

a. Qualisign : penanda yang bertalian dengan kualitas / tanda yang dapat ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda tersebut.

“kita berdua diantara kata yang tak terucap”

Penjelasan : dapat disimpulkan bahwa dalam lirik di atas menceritakan tentang sepasang kekasih yang sama-sama mengharapkan kejelasan dari suatu keadaan yang mereka inginkan.

“malam jadi saksinya”

Penjelasan : dalam lirik diatas dapat dimaknai bahwa sepasang kekasih menikmati kebersamaan mereka dan malam menjadi saksinya, misalnya saja jalan bersama dan makan malam.

b. Sinsign : merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan semua pernyataan individual makhluk hidup yang tidak dilembagakan atau belum berfungsi sebagai tanda.

“ucapkan janji takkan berpisah selamanya”

Penjelasan : dalam lirik di atas terdapat kata “janji” yaitu ucapan yang menyatakan kesediaan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu hal.

c. Legisigns : merupakan tanda – tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi atau kode yang sudah menjadi tradisi.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak ada karena dalam lirik “Berdua saja” tidak terdapat suatu tanda yang berlaku secara konvensional atau menjadi kode dari sebuah tradisi misalnya tanda lalu-lintas, menganggukkan kepala yang berarti “iya”, mengerutkan alis, cara berjabat tangan dsb. Semua tanda bahasa merupakan legisigns karena bahasa merupakan kode yang aturannya disepakati bersama.

3. Trikotomi ketiga (Interpretant)

a. Rheme : penanda yang bertalian dengan mungkin terpahaminya objek pertanda sebagai penafsir.

“mungkinkah kita ada kesempatan”

Penjelasan : lirik diatas menceritakan tentang sebuah pengharapan ataupun peluang yang besar. Sehingga dapat dikatan terpahaminya objek tanda dan dapat ditafsirkan tanda yang terdapat dalam makna lirik tersebut.

b. Decisign : merupakan penanda yang menampilkan informasi tentang pertanda.

“malam jadi saksinya…”

Penjelasan : pemaknaan lirik diatas yaitu sepasang kekasih yang sedang melakukan sesuatu dimalam hari misalnya jalan berdua ataupun makan malam. sehingga penanda dalam lirik diatas menampilkan informasi tentang pertanda.

c. Argument : penanda yang pertanda akhir bukan suatu benda tetapi kaidah atau tanda yang memberikan alasan untuk sesuatu yan berlaku umum.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak terdapat argument dalam lagu “Berdua Saja” karena tidak adanya tanda yang memberikan penjelasan yang memberikan alasan untuk sesuatu yang berlaku umum.

“Menuju Senja”

1. Trikotomi pertama (Denotatum)

a. Ikon : sesuatu yang melaksanakan funsi sebagai penanda yang serupa dengan obyeknya.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak ada ikon yeng terkandung dalam lirik lagu

“Menuju Senja” Karena keberadaan Ikon tidak seharusnya terletak pada kata namun pada bentuk utuh kemiripan pada suatu bendamisalnya gambar atau lukisan.

b. Index : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan pertandanya atau yang menghasilkan hubungan sebab akibat.

“harum mawar ditaman, menusuk hingga kedalam sukma”

Penjelasan : dalam lirik ini mengandung unsure sebab akibat karena lirik diatas menceritakan seseorang yang rindu akan cinta dan kekasihnya entah ini merupakan cinta yang tak terbalas atau cinta yang meninggalkannya begitu saja di ujung senja sehingga ia menyerah, rindu yang tak terobati membunuh cintanya atau mematikan satu bagian yang menyempurnakan cintanya.

c. Simbol : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah dan secara konvensional telah lazim digunakan dalam masyarakat.

“di sore itu menuju senja”

Penjelasan : di dalam lirik tersebut terdapat kata sore yang berarti akan datangnya senja yaitu waktu atau hari setengah gelap sesudah matahari terbenam. Istilah ini sendiri akhirnya menjadi symbol yang dimaknai secara bersama dalam keadaan tertentu secara umum.

2. Trikotomi kedua (Ground)

a. Qualisign : penanda yang bertalian dengan kualitas / tanda yang dapat ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda tersebut.

“bersama hati yang luka, tertusuk pilu”

Penjelasan : dapat disimpulkan bahwa dalam lirik di atas menceritakan tentang cinta seseorang yang telah berakhir dan tidak memiliki harapan lagi, sehingga dapat ditandai dalam keadaan tersebut sudah pasti hatinya akan terluka dan mearasa sedih dan pilu.

“menganga luka itu diantara senyum”

Penjelasan : dalam lirik diatas menjelaskan bahwa luka yang dirasakan oleh seseorang tersebut masih terasa walaupun dia sedang tertawa bahagia, sulit untuk melupakan luka yang telah dia rasakan.

b. Sinsign : merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan semua pernyataan individual makhluk hidup yang tidak dilembagakan atau belum berfungsi sebagai tanda.

“ada yang mati menunggu sore, menuju senja bersama…”

Penjelasan : dalam lirik di atas dapat dimaknai bahwa ada perasaan yang harus direlakan pergi seperti halnya sore yang akan dibawah atau digantikan oleh senja, sehingga dapat dikatakan bahwa perasaan seseorang telah mati. Yang mana kita ketahui mati merupakan sesuatu yang sudah hilang dan tidak ada lagi.

c. Legisigns : merupakan tanda – tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi atau kode yang sudah menjadi tradisi.

Tidak ada (-)

Penjelasan : dikatakan tidak ada karena dalam lirik “Menuju Senja”

tidak terdapat suatu tanda yang berlaku secara konvensional atau menjadi kode dari sebuah tradisi misalnya tanda lalu-lintas, menganggukkan kepala yang berarti “iya”, mengerutkan alis, cara berjabat tangan dsb.

Semua tanda bahasa merupakan legisigns karena bahasa merupakan kode yang aturannya disepakati bersama.

3. Trikotomi ketiga (Interpretant)

a. Rheme : penanda yang bertalian dengan mungkin terpahaminya objek pertanda sebagai penafsir.

“dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan, bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian”

Penjelasan : lirik diatas menceritakan tentang sebuah penyesalan yang

Penjelasan : lirik diatas menceritakan tentang sebuah penyesalan yang

Dokumen terkait