• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SEMIOTIKA LIRIK LAGU PAYUNG TEDUH KARYA MOHAMMAD ISTIQAMAH DJAMAD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS SEMIOTIKA LIRIK LAGU PAYUNG TEDUH KARYA MOHAMMAD ISTIQAMAH DJAMAD"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

NUR RAHMI BUDIMAN P.

10533 06701 11

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

2015

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Skiipsi atas Naita Nur Rahmi Budimaii

P, l.lih{:

1C53367Ci11 diierin:a dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi berdasarkan Surai Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Nomor: 080 'Iahun 1435 H12015, Tanggal 05-06 Oktc-ber 2015 M, sebagai salah satu s)'arat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fal;ultas Kegurua* dan llnru Pendidikan Universltas Muhatnn:adi.vah L{akassar pada hari Kamis tanggal 15 Oktober 2015.

Makassar, 16

Dzulhiiiah

1a36 H

30 SePtember 2015 M

1.

Pengar+.as Urnum

2.

Ketua

L SeL-erfaric

4.

Penguji

PANITIA UJ}AN

Dr" H.Irrry-a* Akih. l'4. Pd.

Dr. H.Andi Sukri Syarnsuri, M" F{um.

tshaeruddin. S. FC.. ir,{. P'J"

t.

Prof. Dr. Muh. RaPiTang, M. Si.

2.

Drs. Kamaruddin \'{oha, i\4. Pd.

3.

Dr. St. Suwadah Rimang, M. Hum-

4.

Iskandar, S. Pd..

ll.

Pd.

Makassar

',ilY.rs

[:rffi Ku*

\.r't"i"

M. Hum

\

"1#

(3)

FAKULTAS KEGURUAN DAFI

ILMU

PENDIDIKA}T

Judul skripsi

Nama Nim

Program Studi Fakultas

PERStr TUJUAN PEftIBIMBIITG

Analisis Semeotika

Lirik

Lagu "Payung Teduh" Karya

Mohammad !stiqamah Djamad Nur Rahmi Budiman P

7n<)arnA1 11

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kegirruan dan IlmLl Pendirlil:ari

Setelah diperiksa dan diteliti, skripsi ini teiah memenuhi persyaratan untuk diujikan.

Makassar, 25 Oktober 2015 Disetujui *leh

Prof. Dr. Muh. Rapi Tang, M. Si.

Diketahui oleh

Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra lndonesia

Pernbimbing I imbing II

yamsulA

DekanE

upirouh

fl

ffi

suri" M. Hum.

E-

(4)

iv

Menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.

Tindakan lebih bermakna dari pada kata-kata

Kesuksesan bukan hanya milik orang lain, Kesuksesan juga adalah milikku.

Kupersembahkan karya sederhana ini untuk

Kedua orang tuaku tercinta dan terkasih Ketiga saudaraku yang tersayang, keluarga besarku, sahabat-sahabatku tercinta, Bahasa dan Sastra Indonesia kelas A FKIP 2011, serta orang-orang yang senantiasa melekat dalam hati dan doa atas dukungan dan motivasi yang telah diberikan selama ini…

untuk Anugerah-Mu ya Allah kubersujud di Ribaan-Mu

(5)

viii

Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I M. Rapi Tang, dan pembimbing II A. Syamsul Alam.

Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research). Jenis penelitian ini diolah secara deskriptif, yaitu suatu penelitian yang menganalisis dan menggambarkan objeknya secara apa adanya.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis semiotika yang terdapat dalam lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad.

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa, berdasarkan hasil analisis semiotika terhadap lirik lagu tersebut pada trikotomi pertama yang sering muncul adalah pemaknaan secara Indeks dan juga Simbol, pada trikotomi kedua makna keseluruhan dapat dijelaskan bahwa masih banyak kata yang telah menjadi representamen hanya saja belum mampu menjadi tanda dikarenakan tidak teraplikasikannya representamen tersebut, serta pada trikotomi ketiga makna yang menonjol adalah makna menunjukkan bahwa tanda yang merupakan preposisi dan berfungsi sebagai pengantar. Secara keseluruhan lirik lagu tersebut secara semiotic bermakna cinta dan kerinduan yang dirasakan oleh dua insane manusia.

Kata kunci : analisis, semiotika, ground, denotatum, interpretant

Saran : 1. Khususnya mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diharapkan dapat lebih meningkatkan penelitian karya sastra yang lebih baik, khususnya dalam menganalisis semiotika (teori Charles Sanders Peirce).

2. Pembaca, agar dapat mengambil suatu pelajaran dalam setiap kalimat serta lirik yang kita baca ataupun dengar, sehingga kita dapat memilah mana yang baik dan benar untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Diharapkan juga, pembaca memperoleh manfaat dari hasil penelitian ini.

(6)

Assalamualaikum wr.wb

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah swt atas rahmat dan hidayah- Nya sehingga penyusunan skripsi dengan judul Analisis semiotika dalam lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad ini dapat terselesaikan sesuai dengan yang diharapkan, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Hal yang tidak dapat terlupakan bahwa dalam penyususnan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak yaitu Ibunda Djuhaeni, S.Pd.i tercinta yang dengan tulus mengasuh,memberiku kasih sayang, cinta kasih mereka, memberiku perhatian, membesarkan, mendidik, dan mendoakan setiap langkah penulis serta bantuan berbentuk moril dan materi yang tidak dapat terbalaskan. Demikian pula penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada keluargaku yang senang tiasa memberiku saran, nasehat, semangat dan dukungan. Kepada Prof. Dr. M. Rapi Tang, M.S. sebagai pembimbing I dan Andi Syamsul Alam, S.Pd.,M.Pd sebagai pembimbing II yang senang tiasa memberi saran dan masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Makassar Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. Rektor, Dekan Fakultas

(7)

Syekh Adiwijaya Latief, S.Pd.,M.Pd., Mustaqim Muallim S.Ag. Penasihat Akademik selama empat tahun lebih serta para dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya tidak lupa penulis ucapkan kepada teman-teman seperjuangan di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unismuh Makassar, terkhusus Angkatan 2011 Kelas A. Terima kasih atas kebersamaan dan kekompakan selama ini yang penuh keceriaan, dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak sempat disebutkan satu-persatu, terima kasih atas bantuannya.

Semoga Allah swt, membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan, karena itu kritik dan saran yang membangun masih penulis harapkan guna kesempurnaan pada penulisan selanjutnya.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. Apabila terdapat kesalahan dalam skripsi ini mohon dimaklumi karena kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan sudah pasti milik manusia. Wassalamualaikum wr.wb

Makassar, Agustus 2015 Penulis

(8)

ix

HALAMAN JUDUL ……… i

HALAMAN PERSETUJUAN ……… ii

HALAMAN PENGESAHAN ………. iii

MOTTO ……… iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ……… viii

DAFTAR ISI... ix

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. LatarBelakang ... 1

B. RumusanMasalah ... 5

C. TujuanPenelitian ... 5

D. ManfaatPenelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. KajianPenelitian ... 8

B. KerangkaPikir ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

A. RancanganPenelitian ... 32

B. Data danSumber Data ... 33

C. TeknikPengumpulan Data... 33

D. TeknikAnalisis Data... 34

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ……… A. HasilAnalisis ……… 36

B. Pembahasan ……….. 62

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ……… 64

B. Saran ……….. 65

(9)

x RIWAYAT HIDUP

(10)

Lirik lagu Payung Teduh

Karya : Mohammad Istiqamah Djamad

“untuk perempuan yang sedang dalam pelukan “

Tak terasa gelap pun jatuh

Diujung malam menuju pagi yang dingin Hanya ada sedikit bintang mala mini

Mungkin karena kau sednag cantik-cantiknya

Lalu mataku merasa malu Semakin dalam dia malu kali ini Kadang juga ia takut

Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya

Reff :

Dimalam hari Menuju pagi Sedikit cemas Banyak rindunya

(11)

dalam hujan dan malam gelap tapi aku tak bisa melihat matamu

aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

aku menunggu dengan sabar di atas sini, melayang-layang

tergoyang angin, menantikan tubuh itu

aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

(12)

Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya Mungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinya Kita berdua diantara kata Yang tak terucap

Berharap waktu membawa keberanian Untuk datang membawa jawaban

Mungkinkah kita ada kesempatan

Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

(13)

menusuk hingga ke dalam sukma

yang menjadi tumpuan rindu cinta bersama di sore itu menuju senja

bersama hati yang terluka

tertusuk pilu menganga luka itu

diantara senyum yang menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan

bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian

ada yang mati saat itu dalam kerinduaan yang tak terobati

Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu ada yang mati menunggu sore menuju senja bersama

harum mawar di taman

menusuk hingga ke dalam sukma

(14)
(15)

1 A. Latar Belakang

Perkembangan seni musik di Indonesia mempunyai sisi kemajuan yang sangat pesat dan saat ini perindustrian music di Indonesia sudah mampu menunjukkan keberhasilannya untuk menampilkan musik-musik yang lebih dekat dengan masyarakat Indonesia.Oleh karena itu seni music merupakan salah satu karya sastra yang sangat popular dikalangan masyarakat. Lirik-lirik lagu merupakan salah satu cara seseorang untuk menyampaikan isi hati, aspirasi dan menuangkan kreativitas, sehingga lirik lagu merupakan karya sastra yang menarik untuk dibahas dalam ilmu semiotika menurut Charles Sanders Pierce. Menurut Pierce semiotika didasarkan pada logika, karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar, sedangkan penalaran menurut Pierce dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta serta segala sesuatu yang memiliki tanda. Ada atau tidaknya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan semua itu dapat disebut tanda.

Karya sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.Sastra memberikan wawasan yang umum tentang

(16)

masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas.Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.Bahasa pada karya sastra mempunyai sifat khusus yang berbeda.Keistimewaan di dalam bahasa sastra banyak muncul penafsiran.Salah satu karya sastra yang memiliki banyak penafsiran adalah lirik lagu.

Pengolahan lirik lagu melalui analisis struktural akan lebih jelas makna yang diperoleh apabila dilanjutkan dengan analisis semiotik. Karena ide yang ingin disampaikan melalui lirik lagu dapat diwujudkan dalam bentuk tanda, baik itu berupa Ikon, Indeks, Simbol dan bentuk tanda yang lain. Dengan tanda-tanda tersebut pembaca dapat memahami makna lirik lagu yang didalamnya telah ditanam ide tertentu oleh pencipta lagu tersebut.

Semiotik berasal dari kata Yunani Kuno “semeton” yang berarti tanda atau

“sign” dalam bahasa inggris. Jadi semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang

tanda, bagaimana meneliti dan bagaimana cara kerja suatu tanda dalam membentuk suatu kesatuan arti atau suatu kesatuan makna baru saat ia digunakan. Ilmu tentang tanda ini menganggap bahwa fenomena masyarakat/social dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.Ilmu semiotic mempelajari system, aturan, dan konvensi yang memungkinkan tanda-tanda yang memiliki arti.

Lirik lagu dapat dimasukkan ke dalam genre puisi dalam karya sastra.Perluasan makna puisi yang meliputi lirik lagu didasarkan pada pemahaman Riffaterre (dalam, Pradopo 2005:3) yang mengutarakan bahwa puisi selalu berubah-

(17)

ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetikanya.Saat ini orang lebih banyak memilih kata-kata lalu memadukannya dengan lagu sehingga lebih mudah untuk dinikmanti dan mempunyai pengaruh estetis selain dari pada pilihan diksi, yakni irama dan nada.

Kemiripan unsur-unsur antara puisi dengan lirik lagu juga dapat menyatakan bahwa lirik lagu dapat disebut sebagai puisi. Pada puisi terdapat kadar kepadatan dan konsentrasi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan prosa (Pradopo, 1995:11).

Dan pada lirik lagu juga memiliki hal yang sama yakni kadar kepadatan dan konsentrasi yang tinggi. Menurut Pradopo (1995:7) puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Dengan persamaan antara unsur-unsur puisi dan lirik lagu maka dapat dipahami bahwa lirik lagu disebut juga sebagai puisi, sebagaimana Teeuw (dalam Pradopo, 2005:5) bahwa pembaca berhak menentukan karya sastra itu puisi atau bukan berdasarkan ciri-ciri yang diamatinya. Dengan demikian lirik lagu dapat dikaji menggunakan teori dan metode yang sama dengan puisi.

Lirik lagu sebagai genre puisi dengan kandungan gagasan yang dikombinasikan dengan estetika dan irama dalam pelantunannya. Gagasan yang akan disampaikan dalam lirik lagu memiliki keistiwewaan tersendiri. Hal tersebut dikarenakan lirik lagu memiliki beragam fungsi didalamnya, antara lain (a) fungsi pengungkapan emosi, (b) fungsi pengungkapan rasa estetik (c) fungsi hiburan (d) fungsi reaksi jasmani (g) fungsi penyelenggara norma-norma sosial (h) fungsi pengesahan lembaga sosial dan (i) fungsi pengintegrasian sosial (Eriam, dalam

(18)

Susanto 2008:2). Keistimewaan tersebut bisa dijelaskan bahwa penyampaian gagasan dalam lirik lagu akan lebih berpengaruh karena didukung oleh fungsi-fungsi di dalamnya.

Lirik lagu senantiasa terkait dengan gagasan yang ingin disampaikan oleh penuturnya untuk mempengaruhi pembaca.Hal tersebut dikarenakan dalam melakukan komunikasi manusia memiliki tujuan yang diinginkannya.Begitu halnya dengan lirik lagu Payung Teduh merupakan media untuk untuk mengusung ide dari pengarang dalam interaksinya dengan kehidupan percintaan.Gagasan dan juga makna unsur-unsur karya sastra hanya dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra (Pradopo, 2005:141).Pemahaman secara utuh tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.Dalam lirik lagu Payung Teduh antara bait satu dengan bait yang lainnya tentu tidak hanya dikaji berdasarkan nadanya atau pemilihan kata saja, namun lebih pada pemahaman unsur yang satu dengan unsur yang lainnya menjadi jalinan yang utuh. Pemahaman secara struktural dari lirik lagu Payung teduh digapai dengan pembacaan secara heuristik dan retroaktif yang akan mengantarkan kita pada penemuan makna dalam lirik lagu tersebut.

Pengolahan puisi melalui analisis deskriftif kualitatifakan lebih jelas makna yang diperoleh apabila dilanjutkan dengan analisis semiotik. Karena ide yang ingin disampaikan melalui lirik lagu dapat diwujudkan dalam bentuk tanda, baik itu berupa Ikon, Indeks, Simbol dan bentuk tanda yang lain. Dengan tanda-tanda tersebut

(19)

pembaca dapat memahami makna lirik lagu yang didalamnya telah ditanam ide tertentu oleh pencipta lagu tersebut.

Dari penunjukan argumen dan poin pendukung tersebut, maka peneliti menetapkan judul dalam penelitian ini dengan analisis semiotika menurut Charles Sanders Peirce pada lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad diharapkan mampu mengupas makna yang terkandung dalam lirik lagu tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka peneliti merumuskan masalah penelitian tersebut antara lain:

a) Bagaimanakah makna lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad berdasarkan trikotomi (Denotatum) pertama Charles Sanders Peirce yang diuraikan melalui Ikon, Indeks dan Simbol?

b) Bagaimanakah makna lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad berdasarkan trikotomi kedua (Ground) Charles Sanders Peirce yang diuraikan melalui Qualisign, Sinsign dan Legisgn?

c) Bagaimanakah makna lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad berdasarkan trikotomi ketiga (Interpretant) Charles Sanders Peirce yang diuraikan melalui Rheme, Discent dan Argument?

C. Tujuan Penelitian

Memahami permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah:

(20)

a) Memperoleh deskripsi makna lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad berdasarkan trikotomi pertama (Denotatum) Charles Sanders Peirce yang diuraikan melalui Ikon, Indeks dan Simbol.

b) Memperoleh deskripsi makna lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad berdasarkan trikotomi kedua (Ground) Charles Sanders Peirce yang diuraikan melalui Qualisign, Sinsign dan Legisgn.

c) Memperoleh deskripsi makna lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad berdasarkan trikotomi ketiga (Interpretant) Charles Sanders Peirce yang diuraikan melalui Rheme, Discent dan Argument.

D. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoretis

Penelitian ini memberikan manfaat dalam pengembangan teori semiotik.

Aplikasi teori semiotik dalam penelitian ini akan memperkaya contoh-contoh penerapannya, terutama pada trikotomi tanda (Kajian Peirce) terhadap lirik lagu.

b. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi pengembangan kerja para praktisi semiotik yakni dosen dan mahasiswa.Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai contoh aplikasi semiotik Charles Sanders Peirce yang berkaitan dengan trikotomi tanda oleh dosen. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan oleh mahasiswa dalam memahami teori semiotik Charles Sanders Peirce dan mengetahui cara penerapannya dalam karya sastra serta bisa digunakan sebagai acuan penelitian selanjutnya dalam sudut pandang yang lain.

(21)

E. Defenisi Istilah

Agar lebih mengarah dan memfokuskan pada permasalahn yang akan dibahas sekaligus menghindari persepsi yang lain mengenai istilah-istilah yang ada, perlu adanya penyelarasan mengenai definisi istilah. Adapun definisi istilah yang berkaitan dengan judul dalam penelitian untuk proposasl ini adalah sebagai berikut:

1. Ilmu Sastra adalah ilmu yang menyelidiki tentang karya sastra secara ilmiah dengan berbagai gejala dan masalah sastra;

2. Puisi merupakan Puisi sebagai bagian dalam karya sastra pada dasarnya merupakan sarana ekspresi seseorang dari alam batinnya.;

3. Lirik adalah bentuk karangan dalam sastra yang isinya bersifat curahan hati.

Dalam hal ini pengarang mengemukakan pujaan, kegembiraan, kecintaan, dan kebencian tentang sesuatu;

4. Semiotika dalam ilmu linguistik adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk yang terjadi dengan sarana signs dan berdasarkan pada sign system;

5. Charles Sanders Peirce adalah salah satu tokoh yang turut mengembangkan ilmu semiotika. Konsepnya mengenai tanda seringkali dijadikan rujukan dalam menginterpretasikan semua tanda yang ada didunia ini. Menurut Peirce, Semiotika bersinonim dengan logika, manusia hanya berpikir dalam tanda.

Tanda dapat dimaknai sebagai tanda hanya apabila ia berfungsi sebagai tanda.

(22)

8

A. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini yakni penelitian yang dilakukan oleh Mansurudin berjudul “perlawanan dalam lirik pengamen jalanan;

kajian semiotik”, sebuah tesis. Teori semiotik Charles Sanders Peirce digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian tersebut. Teori semiotik Charles Sanders Peirce yang digunakan ditekankan pada konsep representamen yang mengerucut pada Ikon, Indeks dan Simbol. Teori Marx yakni teori perlawanan, digunakan untuk mengkaji representasi lirik pengamen. Dan didukung pula dengan kajian teori perlawanan, yang merujuk pada konsep “ekonomi politik” yang gagas oleh Poplin serta “perlawanan kelas” yang dikembangkan oleh Scott.

Kesamaan yang terdapat dalam penelitian Mansurudin dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang lirik dalam semiotika, sedangkan yang membedakan dengan penelitian ini adalah objek kajiannya. Peneliti sebelumnya menjadikan lirik pengamen jalanan sebagai objek kajiannya sedangkan pada penelitian ini peneliti menjadikan lirik lagu payung teduh yang berjudul “untuk perempuan yang sedang dalam pelukan” sebagai objek kajiannya.

(23)

Pembanding kedua yang relevan adalah penelitian yang dilakukan oleh Rendra Siswoyo berjudul “semiotic dalam lirik lagu shoutul khilafah” sebuah skripsi.

Teori yang digunakan dalam mengkaji lirik lagu tersebut menggunakan teori Charles Sanders Peirce agar lebih terarah dalam mengupas pembahasan lirik lagu tersebut.

Kesamaan yang terdapat dalam penelitian Rendra dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang lirik dalam semiotika, sedangkan yang membedakan dengan penelitian ini adalah objek kajiannya. Peneliti sebelumnya menjadikan lirik lagu shoutul khilafah sebagai objek kajiannya sedangkan pada penelitian ini peneliti menjadikan lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad sebagai objek kajiannya.

Akan tetapi, dari sejumlah penelitian yang disebutkan di atas belum ditemukan penelitian yang relevan mendekati dengan penelitian ini, karena penelitian ini mengupas tentang semiotika dalam lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad dan menggunakan kajian Charles sanders pierce.

Penelitan selanjutnya untuk mendapatkan relevansi penelitian semiotik maka diambil penelitian sebelumnya dengan judul Struktur Puisi dan Makna tanda dalam Kumpulan Puisi Negeri Daging Karya Mustofa Bisri (Kajian Struktural Semiotik) yang dilakukan oleh Tsalis Abdul Azis Alfarizy (2010). Penelitian yang dilakukan Azis ini memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yakni sama-sama menggunakan pisau analisis semiotik dan struktural dalam mengupas makna dari puisi. Rumusan masalah yang dikemukakan oleh Azis (2010) tersebut difokuskan pada dua hal yakni struktur puisi dan makna tanda yang terdapat dalam kumpulan puisi Negeri Daging.

(24)

Fokus masalah yang dikemukakan pada Penelitian Azis tersebut nampak bahwa teori yang digunakan kental kaitannya dengan Semiotik dan Strukturalisme atau disebut oleh Teeuw (dalam Pradopo, 1995:146) sebagai strukturalisme dinamik.

Kesamaan yang terdapat dalam penelitian Azis dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang semiotika, sedangkan yang membedakan dengan penelitian ini adalah objek kajiannya. Peneliti sebelumnya menjadikan struktur puisi dan makna sebagai objek kajiannya sedangkan pada penelitian ini peneliti menjadikan lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad istiqamah Djamad sebagai objek kajiannya.

2. Pengertian Sastra

Karya sastra sudah diciptakan orang jauh sebelum orang memikirkan apa hakikat sastra dan apa nilai serta makna yang terkandung dalam sastra. Sebaliknya, penelitian terhadap sastra baru dimulai sesudah orang bertanya apa dan dimana nilai dan makna karya sastra yang dihadapinya. Biasanya mereka berusaha menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan apa hakikat sastra. Sastra sebagai ungkapan Baku dari apa yang disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah dipermenungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang menarik minat secara langsung.

Sastra (Sansekerta, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang

(25)

memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

Istilah tersebut kemudian mengalami perkembangan. Kesusastraan tidak hanya berupa tulisan, tetapi ada pula yang berbentuk lisan. Karya semacam itu di namakan dengan sastra lisan. Oleh karena itu, sekarang yang dinamakan dengan kesusastraan meliputi karya sastra lisan dan tertulis dengan ciri khas nya terdapat pada keindahan bahasanya

Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks.

Sama halnya yang diungkapkan Rahmanto (1986: 125) Teks-teks sastra merupakan sebuah modul kebudayaan dan mengungkapkan nilai-nilai dan norma-normanya.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral).

Menurut Plato seorang ahli filsafat sebelum masehi, Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan.

Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide..

(ahmad badrun, 1983: 16) Akhir-akhir ini dijumpai bermacam-macam definisi seni sastra dan kesusastraan. Definisi-definisi itu antara lain :

a. Sastra ialah segala sesuatu yang ditulis.

b. Sastra ialah segala yang ditulis dan menjadi buku yang terkenal baik dari segi isi maupun bentuk sastranya.

(26)

c. Kesusastraan ialah kumpulan buku yang indah bahasa dan baik isinya.

Berdasarkan defenisi tersebut, beberapa ahli kemudian menyebutkan ciri-ciri karya sastra sebagai berikut:

1. Sastra adalah sebuah ciptaan atau kreasi. Karena sastra adalah kreasi, maka sastra bukanlah imitasi atau tiruan. Penciptanya disebut dengan seniman lantaran menciptakan sebuah dunia baru.

2. Bahasanya indah atau tertata dengan baik.

3. Sastra bersifat otonom , berarti tidak mengacu pada sesuatu yang lain.

Sastra tidak bersifat komunikatif. Sang penyair hanya mencari keselarasan di dalam karyanya sendiri. Dalil ini masih digunakan dalam setiap pendeketan sastra.

4. Sastra berisi tentang sintesis atau unsure-unsur yang selama ini dianggap bertentangan. Pertentangan tersebut terdiri atas berbagai bentuk. Ada pertentangan yang disadari, tanpa disadari, antara ruh dan benda, pria dan wanita, dan seterusnya.

5. Sastra berisi ungkapan-ungkapan yang “tidak bias terungkapkan”. Penyair menghasilkan kata-kata untuk memotret sebuah fakta actual dan imajinatif yang tidak bias digambarkan oleh orang lain.

6. Isinya menggambarkan manusia dengan berbagai persoalannya.

7. Gaya penyajian nyamenarik sehingga berkesan di hati pembacanya.

Wellek dan Waren (26) menjelaskan bahwa fungsi sastra sebagai berikut :

(27)

1. Sebagai hiburan. Karya sastra adalah “pemanis” dalam kehidupan masyarakat sebab memberikan fantasi-fantasi yang menyenangkan bagi pembaca. Karena sebagai hiburan, dampak yang diperoleh adalah rasa senang.

2. Sebagai renungan. Karya sastra difungsikan sebagai media untuk merenungkan nilai-nilai terdalam dari pembaca. Karena karya sastra berisi pengalaman-pengalaman manusia, maka pengalaman itu diungkapkan sedemikian rupa untuk memperoleh sari pati yang diinginkan.

3. Sebagai bahasan pelajaran. Karya sastra difungsikan ditengah-tengah masyarakat sebagai media pembelajaran bagi masyarakat. Karya sastra menuntun individu untuk menemukan nilai yang diungkapkan sebagai benar dan salah. Karya sastra dikatakan sebagai “indah dan berguna” atau dulce et utile.

4. Sebagai media komunikasi simbolik. Luxemburg menyatakan bahwa karya seni adalah sebuah media yang dipergunakan manusia untuk menjalin hubungan dengan dunia sekitarnya (Luxemburg, 1994:47).

Karena ini komunikasi simbolik, maka para penerima tidak bias langsung menerjemahkan kata-kata sebagai arti denotative, tetapi harus menggunkan instrument konotatif.

5. Sebagai pembuka paradigma berpikir. Sastra menurut Bronowski (1973:282) dijadikan sebagai media untuk membuka cakrawala masyarakat yang terkungkung oleh zaman yang tidak disadarinya. Sastra

(28)

menyadarkan masyarakat yang selama ini merasa berada dalam kenyataan yang sesungguhnya padahal sebetulnya hanya berada pada entitas yang mirip dengan kenyataan (kuasi-kenyataan).

Selanjutnya kasya satra harus dibedakan terlebih dahulu antara sastra sebagai seni dan satra sebagai ilmu pengetahuan (ilmu sastra). Sastra sebagai seni meupakan kegiatan kreatif menghasilkan sesuatu berupa : puisi, novel, cerita pendek. Sedangkan sastra sebagai ilmu adalah menyelidiki sastra secara ilmiah. Sastra berakar dari kesadaran, kesadaran melahirkan gagasan.

Sebuah karya sastra, selain menajadi sebuah cerminan dari kehidupan nyata, juga berfungsi sebagai media penciptaan dunia baru. Pernytaan tersebut menjadi popular karena sastra mengubah dunia ini menjadi serba baru melalui kata-kata, baik sebagai gambaran dari kehidupan nyata maupun sebagai imajinasi khyal belaka. Oleh sebab itu, kehadiran karya sastra ada kalanya dapat mewakili dunia nyata dan adakalanya pula menjadi khayalan semata. Namun, keduanya tidak mengubah citra dan nilai-nilai yang dikandungnya.

3. Pengertian Puisi dan Lirik Lagu

Puisi berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Puisi sebagai salah satu karya sastra merupakan pernyataan sastra yang paling inti. Segala jenis seni kesastraan mengental dalam puisi. Puisi dari waktu ke waktu merupakan sebuah kenikmatan seni yang khusus, bahkan merupakan puncak

(29)

kenikmatan seni sastra, oleh karena itu, sejak dahulu hingga sekarang puisi selalu diciptakan dan selalu dibaca, dideklamasikan untuk lebih merasakan kenikmatan seninya dan nilai kejiwaannya yang tinggi. Itulah sebabnya puisi digemari oleh semua lapisan masyarakat. Karena kemajuan masyarakat dari waktu ke waktu selalu meningkat, corak, sifat, dan bentuk puisi pun selalu berubah, mengikuti perkembangan selera, konsep estetika yang selalu berubah, dan kemajuan intelektual yang selalu meningkat. Karena iu pada saat ini, wujud puisi semakin kompleks dan semakin terasa sulit sehingga lebih menyulitkan pemahamannya.

Puisi dalam pengertian visual berarti lebih mementingkan bunyi serta kata- kata lebih bersifat sugestif. Sedangkan puisi dalam pengertian structural merupakan kesatuan akuistik, bersifat ekspresif sebagai akibat kesatuan akuistik, bersifat lirik, bersifat sugestif dan asosiatif, mudah berhubungan dengan intuisi, serta merupakan ungkapan yang lebih padat.

Puisi sebagai bagian dalam karya sastra pada dasarnya merupakan sarana ekspresi seseorang dari alam batinnya. Perwujudan ekspresi pengarang lewat puisi selanjutnya difasilitasi melalui bahasa yang bertujuan memberi kesan dan suasana emotif tertentu untuk mempengaruhi perasaan/pikiran penikmat puisi. Pradopo (2002:7) menyimpulkan bahwa puisi memiliki unsur-unsur berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan dan perasaan pengarang semua hal tersebut terungkap dalam media bahasa.

Pada perkembangannya, bahasa puisi diapresiasikan oleh sarana kesenian salah satunya lirik lagu dalam seni musik Seni musik yang awalnya merupakan kegiatan

(30)

mengolah nada dan irama untuk menghasilkan komposisi suara yangharmonis (instrumentalia) memerlukan media bahasa untuk menyampaikan ide dan gagasan.

Maka hal inilah yang melatari kehadiran lirik dalam suatu lagu.

Bahasa lirik lagu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bahasa puisi. Hal ini sesuai dengan pengertian lirik lagu menurut Semi (1988:106) yang mengatakan,

“Lirik adalah puisi yang pendek yang mengekspresikan emosi”. Hal ini juga diperkuat pada definisi lain mengenai lirik lagu terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:528), yaitu lirik lagu adalah karya puisi yang dinyanyikan.

Lirik Lagu merupakan ekspresi seseorang tentang suatu hal yang sudah dilihat, didengar maupun dialaminya. Dalam mengekspresikan pengalamannya, penyair atau pencipta Lagu melakukan permainan kata-kata dan bahasa untuk menciptakan daya tarik dan kekhasan terhadap lirik atau syairnya.

Permainan bahasa ini dapat berupa permainan vokal, gaya bahasa maupun penyimpangan makna kata dan diperkuat dengan penggunaan melodi dan notasi musik yang disesuaikan dengan lirik lagunya sehingga pendengar semakin terbawa dengan apa yang dipikirkan pengarangnya.

Definisi lirik atau syair Lagu dapat dianggap sebagai puisi begitu pula sebaliknya. Hal serupa juga dikatakan oleh Jan van Luxemburg (1989) yaitu definisi mengenai teks-teks puisi tidak hanya mencakup jenis-jenis sastra melainkan juga ungkapan yang bersifat pepatah, pesan iklan, semboyan-semboyan politik, syair-syair lagu pop dan doa-doa.

(31)

Jika definisi lirik lagu dianggap sama dengan puisi, maka harus diketahui apa yang dimaksud dengan puisi. Puisi menurut Rachmat Djoko Pradopo (1990) merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting dan digubah dalam wujud yang berkesan. Sedangkan menurut Herman J. Waluyo (1987) mengatakan puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa pada struktur fisik dan struktur batinnya.

Dari definisi diatas, sebuah karya sastra merupakan karya imajinatif yang menggunakan bahasa sastra. Maksudnya bahasa yang digunakan harus dibedakan dengan bahasa sehari-hari atau bahkan bahasa ilmiah. Bahasa sastra merupakan bahasa yang penuh ambiguitas dan memiliki segi ekspresif yang justru dihindari oleh ragam bahasa ilmiah dan bahasa sehari-hari (Awe, 2003, p. 49). Karena sifat yang ambigu dan penuh ekspresi ini menyebabkan bahasa sastra cenderung untuk mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca (Wellek &

Warren, 1989, p. 14-15).

Lagu yang terbentuk dari hubungan antara unsur musik dengan unsur syair atau lirik lagu merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Pada kondisi ini, lagu sekaligus merupakan media penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dalam jumlah yang besar melalui media massa.

Pesan dapat memiliki berbagai macam bentuk, baik lisan maupun tulisan.

Lirik lagu memiliki bentuk pesan berupa tulisan kata-kata dan kalimat yang dapat

(32)

digunakan untukmenciptakan suasana dan gambaran imajinasi tertentu kepada pendengarnya sehingga dapat pula menciptakan makna-makna yang beragam.

Dalam fungsinya sebagai media komunikasi, lagu juga sering digunakan sebagai sarana untuk mengajak bersimpati tentang realitas yang sedang terjadi maupun atas cerita-cerita imajinatif. Dengan demikian lagu juga dapat digunakan untuk bebagai tujuan, misalnya menyatukan perbedaan, pengobar semangat seperti pada masa perjuangan, bahkan lagu dapat digunakan untuk memprovokasi atau sarana propaganda untuk mendapatkan dukungan serta mempermainkan emosi dan perasaan seseorang dengan tujuan menanamkan sikap atau nilai yang kemudian dapat dirasakan orang sebagai hal yang wajar, benar dan tepat

Propaganda melalui maupun tidak melalui lirik lagu tetap memiliki efek yang kompleks. Contohnya Jika pesan dalam lirik lagu oleh propagandis diketengahkan tentang ketidakadilan dan ketimpangan-ketimpangan sosial dan secara tidak langsung menempatkan pemerintah sebagai pihak yang harusnya bertanggung jawab pada keadaan itu, bukan tidak mungkin hanya melalui lagu , khalayak menjadi marah, menuntut bahkan melawan pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab dengan berbagai bentuk.

Oleh karena bahasa dalam hal ini kata-kata, khususnya yang digunakan dalam lirik lagu tidak seperti bahasa sehari-hari dan memiliki sifat yang ambigu dan penuh ekspresi ini menyebabkan bahasa cenderung untuk mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca (Wellek & Warren, 1989, 14-15).

(33)

Menurut Muliono (Ed) (2007: 678) lirik mempunyai dua pengertian yaitu (1) karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi, (2) susunan sebuah nyanyian. Dalam menggunakan lirik seorang penyair/pencipta lagu itu harus benar- benar pandai dalam mengolah kata. Menurut Noor (2004: 24) lirik adalah ungkapan perasaan pengarang. Lirik inilah yang sekarang dikenal sebagai puisi atau sajak, yakni karya sastra yang berisi ekspresi (curahan) perasaan pribadi yang lebih mengutamakan cara mengekspresikannya. Sedangkan kesenian, khususnya lagu, merupakan bagian dari kebudayaan. Melalui lagu, manusia mengekspresikan perasaan, harapan, aspirasi, dan cita-cita, yang merepresentasikan pandangan hidup dan semangat zamannya. Oleh karena itu, melalui kesenian, kita juga bisa menangkap ide-ide dan semangat yang mewarnai pergulatan zaman bersangkutan.

Indonesia sendiri adalah suatu negeri yang kaya dengan berbagai karya seni, khususnya seni musik, yang mewakili pandangan hidup dan semangat zamannya.

Menurut Moeliono (Ed) (2007: 624) lagu adalah ragam suara yang berirama. Lagu (nyanyian) merupakan hasil karya seni hubungan dari seni suara dan seni bahasa, sebagai karya seni suara melibatkan melodi dan warna suara penyanyi. Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa lirik lagu merupakan ekspresi seorang penyair dari dalam batinnya tentang sesuatu yang sudah dilihat, didengar maupun dialami. Lirik lagu mempunyai kesamaan dengan sajak hanya saja dalam lirik lagu juga mempunyai kekhususan tersendiri karena penuangan ide lewat lirik lagu diperkuat dengan melodi dan jenis irama yang disesuaikan dengan lirik lagu dan warna suara penyanyinya.

Melodi yang menghentak dan suara vokal yang kuat membuat penyampaian makna

(34)

dalam lirik lagu semakin mengena. Jeritan vokal penyanyi dan musik yang menghentak melambangkan penolakan terhadap sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan keadilan. Suara vokal yang kuat dan melodi yang menghentak juga bisa menjadi penyemangat untuk terus menegakkan keadilan. Teknik penyampaian isi dalam lirik lagu yang seperti itu sesuai dengan lirik lagu yang bergenre punk.Tidak hanya mementingkan melodi dan suara vokal, lirik lagu punk juga sarat dengan makna. Dengan pilihan kata yang cukup mudah untuk dipahami namun mempunyai makna yang tajam. Setiap lirik lagu punk mempunyai tujuan tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat sebagai pendengarnya, seperti tujuan lirik lagu pada umumnya.

Lirik adalah bentuk karangan dalam sastra yang isinya bersifat curahan hati.

Dalam hal ini pengarang mengemukakan pujaan, kegembiraan, kecintaan, dan kebencian tentang sesuatu. Oleh sebab itu lirik bersifat subyektif.

Adapun karangan yang bersifat lirik antara lain sebagai berikut : 1. Lagu atau dendang :

nyanyian atau sajak yang timbul secara spontan. Isinya bebas dan biasanya menggambarkan kegembiraan.

2. Himne :

Nyanyian atau puisi untuk memuji kebesaran tuhan atau suatu kepercayaan yang dipersatukan dengan Tuhan.

3. Ode :

Puisi atau nyanyian pujaan kepada pahlawan, Negara, seni.

(35)

4. Eligi :

Puisi yang berisi ratapan.

5. Satir :

Puisi yang berisi kecaman terhadap suatu perbuatan.

6. Epigram :

Puisi singkat yang berisi pandangan hidup, agama, etika dan sebagainya.

7. Balada :

Puisi yang menceritakan sesuatu dengan romantic.

8. Romans :

Puisi yang berisi curahan perasaan pada kekasih.

9. Idile :

Puisi yang berisi gambaran kehidupan sentosa.

Adapun lirik menurut isinya sebagai berikut : 1. Lirik Masyarakat :

Lirik yang dinyanyikan bersama-sama dalam rangka melakukan kepentingan bersama. Adapun contohnya lagu kerja, lagu tari, lagu anak, lagu sejarah, lagu cinta kasih.

2. Lirik Kematian :

Lirik yang dilagukan waktu kematian. Lirik ini banyak terdapat di Toraja.

3. Lirik Agama :

Lirik yang melagukan kepercayaan orang terhadap Tuhan atau yang disamakan dengan Tuhan.

(36)

4. Lirik Alam :

Lirik yang menggambarkan keadaan atau kejadian alam.

Maka untuk menemukan makna dari pesan yang ada pada lirik lagu, digunakanlah metode semiotika yang notabene merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang sistim tanda. Mulai dari bagaimana tanda itu diartikan,dipengaruhi oleh persepsi dan budaya, serta bagaimana tanda membantu manusia memaknai keadaan sekitarnya.

4. Biografi Band Payung Teduh

Payung Teduh lahir dari dua orang sahabat yang berprofesi sebagai pemusik di Teater Pagupon yang senang nongkrong bersama di kantin FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, mereka adalah Is dan Comi yang senang bermain musik bersama di kantin, selasar gedung kampus, tepi danau hingga event – event di luar kampus. Secara tidak sadar kebersamaan mereka dalam bermain musik telah menguatkan karakter bermusik mereka dan telah disadari bagi orang-orang sekitar yang sering menyaksikan mereka bermain musik bersama.

Payung Teduh terbentuk pada akhir 2007 dengan formasi awal Is dan Comi, sadar akan eksplorasi bunyi dan performa panggung pada tahun 2008 Payung teduh mengajak Cito untuk bergabung bersama sebagai drummer lalu mengajak Ivan sebagai guitalele player pada tahun 2010. Angin Pujaan Hujan ialah lagu pertama yang memunculkan warna mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu tercipta pula lagu-lagu lainnya seperti Kucari Kamu, Amy, Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan, juga termasuk karya-karya dari pementasan teater bersama Catur Ari

(37)

Wibowo seperti Resah, Cerita Tentang Gunung dan Laut, serta karya Amalia Puri yang berjudul Tidurlah dan Malam. Dan pada akhirnya Payung Teduh memutuskan untuk membuat album indie pertamanya yang dirilis dipenghujung 2010.

Mohammad Istiqamah Djamad lahir di Makassar, 24 Januari 1984. Is telah memainkan musik sejak ia masih kecil. Ia kuliah di PNJ-UI jurusan Teknik Elektro tapi tidak lulus. Dia kemudian mendapat beasiswa dari Yamaha Master Course Academy. Is sekarang menjadi instruktur vokal serta instruktur gitar di Yamaha, sambil tetap aktif di teater Pagupon dan drama. Dia juga mengajarkan akting, menari, musik, dan vokal untuk siswa 28 SMA serta mengarahkan pementasan drama tahunan untuk mereka. Is mendapat pengaruh bermusik dari Cake, Antonio Carlos Jobim, dan Chris Cornell. Selain bermusik, Is juga hobi berolahraga sepakbola, basket, berenang, dan juga penggemar berat mie instan.

“ Comi “ Aziz Kariko lahir pada 24 Februari 1984. Comi-nama panggilan

ketika kecilnya-adalah alumnus Bina Nusantara University Indonesia. Ketika belajar di UI, Comi juga aktif di Teater Pagupon sebagai musisi pendukung di mana dia bertemu Is. Setelah menyelesaikan gelar masternya, Comi kembali ke Universitas pertamanya untuk menjadi dosen di sana dan mengajar bahasa Inggris di Binus sejak itu. Ketika ia tidak mengajar, dia mengisi waktu luangnya sebagai instruktur bass di Sekolah Musik Willy Sumantri.Comi adalah penggemar dari jiu-jitsu Brasil dan praktek secara teratur di sebuah dojo lokal di dekat rumahnya. Dia bermain basket bersama dengan Is dan juga telah menjadi videogamer hardcore sejak dia masih kecil.

(38)

Ivan Penwyn lahir pada 31 Desember 1985, Ivan adlaah mantan mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Filsafat, Ivan adalah anggota Payung Teduh yang paling pemalu.

Alejandro “ Cito “ Saksakame lahir 2 April 1984, Cito mencintai hewan,

terutama reptil seperti ular dan dinosaurus (jika mereka tidak punah). Ia memiliki pengetahuan lebih tentang kerajaan hewan selain tentang musik. Perjalanannya dengan Payung Teduh dimulai ketika dia bertemu Is pada tahun 2002, di mana mereka membentuk sebuah band untuk beberapa waktu.Saat ini Cito adalah mahasiswa Universitas Padjajaran dan juga desainer grafis. Dia penggemar berat dari band rock progresif Dream Theater (bertentangan dengan cara dia bermain di Payung Teduh). Dari minat tersebut Cito membentuk sebuah band rock progresif dengan Is bersama dengan beberapa teman lain, band ini bernama 'Mirror'. Dia berpikir bahwa tantangan terbesar dalam bermain musik adalah ketika dia perlu beradaptasi gaya bermain drumnya dengan music Payung Teduh.

Musik yang dimainkan oleh Payung Teduh tidak memiliki batasan tersendiri, musik yang dimainkan oleh Payung Teduh yaitu musik Payung Teduh itu sendiri.

Pada album pertama ini bisa dibilang karakter musik yang dibawakan seperti musik di era golden 60’s dengan balutan keroncong dan jazz. Dan jika ditanya jenis musik apa yang diusung oleh Payung Teduh, maka Payung Teduh menyerahkan sepenuhnya kepada pendengar. Dalam pengertian bahwa payung teduh tidak akan hanya berhenti di satu gendre tertentu, namun yang pasti tetap bermusik dengan ciri yang sudah

(39)

mereka miliki. Berlapis makna dan bertapis sekian arti yang harus disikapi. Sebuah pesan yang begitu implicit dan harus dimaknai dengan begitu dalam.

“…Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik- cantiknya….”

-Payung Teduh-

Hal-hal kekaguman yang tersirat begitu nyata tersurat dengan puitik lewat lirik lagu yang begitu lekat. Ciri dari mas Is mungkin, lirik-lirik yang puitik dan begitu dalam mengandung arti, tapi tetap mudah dipahami dan dinikmati. Begitulah mungkin cirri khas lirik dari Mohamad Istiqamah Djamad, nama panjang mas Is vokalis dari Payung Teduh ini. Bersinergi dengan kata dan musiknya menjadi kekuatan yang sangat bisa dibilang “strong” untuk mempengaruhi penikmatnya hingga mampu larut dalam setiap musik dan liriknya. Semacam musik puisi mungkin bisa saya bilang tapi mereka berani dan mampu menduniakannya. Semoga mereka mampu menjadi pemantik, penginspirasi dan pembangkit para pecinta musik puisi atau musik berlirik puitik untuk lebih muncul di pasar musik di negeri ini. Agar varian dan pilihan musik bisa lebih dipilih dan dipilah sampai lelah. Serta mampu memberi setiap insan yang menikmatinya menjadi lebih bergairah dalam hidup.

5. Pengertian Semiotika a. Sejarah Semiotika

Dalam sejarahnya semiotik telah lama dikenal. Dalam Handbook Of Semeotics Karya Winfried Noth, ada beberapa pembagian zaman dalam

(40)

pengenalan istilah semiotik, yaitu zaman kuno, abad pertengahan, zaman renaissance, dan zaman modern.

Pada zaman kuno ada beberapa ahli semiotika yang dikenal, antara lain Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), kaum Stoic (300-200 SM), dan kaum Epicureans (300 SM-abad pertama Masehi). Menurut Plato, semiotika adalah tanda-tanda verbal alami atau yang bersifat konvensional di antara masyarakat tertentu, hanyalah berupa representasi tidak sempurna dari sebuah ide, kajian tentang kata-kata tidak mengungkap hakikat objek yang sebenarnya karena dunia gagasan tidak berkaitan erat dari representasinya yang berbentuk kata-kata, dan pengetahuan yang dimediasi oleh tanda-tanda bersifat tidak langsung dan lebih rendaah mutunya dari pengetahuan yang langsung. Semiotika menurut Aristoteles adalah tanda-tanda yang ditulis berupa lambang dari apa yang diucapkan, bunyi yang diucapkan adalah tanda dan lambang dari gambaran atau impresi mental. Gambaran atau impresi mental adalah kemiripan dari objek yang sebenarnya, dan gambaran mental tentang kejadian atau objek sama bagi semua manusia tetapi ujaran tidak.

Pada abad pertengahan, perkembangan filsafat bahasa menuju pada dua arah, yaitu dengan ditentukannya gramatika sebagai pilar pendidikan bahasa Latin serta bahasa Latin sebagai titik pusat seluruh pendidikan; sistem pemikiran dan pendidikan filosofis pada saat itu sangat akrab dengan Teologi, maka analisis filosofis diungkapkan melalui analisis bahasa. Ciri utama pada zaman abad pertengahan adalah masa keemasannya filusuf Kristiani, terutama Kaum Patristik

(41)

dan Skolastik. Pendidikan abad pertengahan dibangun dalam tujuh sistem sebagai pilar utamanya dan bersifat liberal.Ketujuh dasar pendidikan liberal tersebut dibedakan atas Trivium (tata bahasa, logika, serta retorik) dan Quadrivium (aritmatika, geometrika, astronomi, dan musik).

Pada masa Renaissance keberadaan teori mengenai tanda tidak mengalami inovasi yang berarti.Hal ini dikarenakan bahwa sebagian besar penelitian mengenai semiotika masih merupakan bagian dari perkembangan linguistik pada masa sebelumnya.

Pada zaman modern, menurut Zoest dalam Wijaya (online) ada dua tokoh yang dikenal sebagai bapak semiotik modern, yaitu Charles Sanders Peirce (1839- 1914) dan Ferdinand de Saussure (1857-1913). Keduanya berlatar belakang berbeda. Peirce adalah ahli filsafat, sedangkan Saussure adalah ahli Linguistik.

Ketidaksamaan latar belakang itulah yang menyebabkan adanya perbedaan- perbedaan penting, terutama dalam penerapan konsep-konsep. Hal itu menjadikan ada dua kubu di kalangan pakar dengan pemahaman serta konsep yang berbeda.

Pertama, yang bergabung dengan Peirce dan tidak mengambil contoh dari ilmu bahasa; dan kedua, yang bergabung dengan Saussure dan menganggap ilmu bahasa sebagai pemandu.

b. Semiotika (Charles Sanders Pierce)

Charles Sanders Pierce lahir pada 10 September 1839 di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia adalah seorang ilmuwan, filsuf yang berperan besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan baik ilmu eksakta

(42)

maupun ilmu sosial. Teori-teori dan konsep-konsep yang ia gagas banyak dijadikan rujukan bagi para akademisi untuk menganalisis berbagai fenomena yang ada di masyarakat.

Dalam ilmu sosial sendiri, Peirce adalah salah satu tokoh yang turut mengembangkan ilmu semiotika. Konsepnya mengenai tanda seringkali dijadikan rujukan dalam menginterpretasikan semua tanda yang ada didunia ini. Menurut Peirce, Semiotika bersinonim dengan logika, manusia hanya berpikir dalam tanda.

Tanda dapat dimaknai sebagai tanda hanya apabila ia berfungsi sebagai tanda.

Fungsi esensial tanda menjadikan relasi yang tidak efisien menjadi efisien baik dalam komunikasi orang dengan orang lain dalam pemikiran dan pemahaman manusia tentang dunia. Tanda menurut Pierce kemudian adalah sesuatu yang dapat ditangkap, representatif, dan interpretatif.

Theori dari Peirce menjadi grand theory dalam semiotik. Gagasannya bersifat menyeluruh, deskripsi structural dari semua sistem penandaan. Peirce ingin mengidentifikasi partikel dasar dari tanda dan menggabungkan kembali semua komponen dalam struktur tunggal. Semiotik ingin membongkar bahasa secara keseluruhan seperti ahli fisika membongkar suatu zat dan kemudian menyediakan model teoritis untuk menunjukkan bagaimana semuanya bertemu dalam sebuah struktur.

Pemahaman akan struktur semiosis menjadi dasar yang tidak bisa ditiadakan bagi penafsir dalam upaya mengembangkan pragmatisme. Seorang penafsir adalah yang berkedudukan sebagai peneliti, pengamat, dan pengkaji

(43)

objek yang dipahaminya. Dalam mengkaji objek yang dipahaminya, seorang penafsir yang jeli dan cermat, segala sesuatunya akan dilihat dari jalur logika.

Ada beberapa konsep menarik yang dikemukakan oleh Pierce terkait dengan tanda dan interpretasi terhadap tanda yang selalu dihubungkannya dengan logika. Yakni segitiga tanda antara ground, denotatum, dan interpretant. Ground adalah dasar atau latar dari tanda, umumnya berbentuk sebuah kata. Denotatum adalah unsur kenyataan tanda. Interpretant adalah interpretasi terhadap kenyataan yang ada dalam tanda. Dimana dari ketiga konsep tersebut dilogikakan lagi kedalam beberapa bagian yang masing-masing pemaknaannya syarat akan logika.

Dalam Ground terdapat konsep mengenai Qualisigns, Sinsigns, dan Legisigns. Qualisigns adalah penanda yang bertalian dengan kualitas, Sinsigns adalah penanda yang bertalian dengan kenyataan dan legisigns adalah penanda yang bertalian dengan kaidah. Qualisigns adalah tanda yang dapat ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda tersebut. Contoh dalan kata ‘merah’

terdapat suatu qualisigns karena merupakan tanda pada suatu bidang yang mungkin. Kata merah apabila dikaitkan dengan bunga mawar merah bermakan perasaan cinta terhadap seseorang. Sinsign adalah tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan. Semua pernyataan individual makhluk hidup (manusia, hewan, dll) yang tidak dilembagakan merupakan suatu sinsign.

Contoh: suara jeritan, suara tawa. Legisign adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah

(44)

kode. Contoh : tanda-tanda lalu lintas. Tanda-tanda yang bersifat tradisional (sudah menjadi sebuah tradisi).

Dalam Denotatum terdapat konsep berupa icon, index, symbol. Icon adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya (terlihat pada gambar atau lukisan), Index adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya. Simbol adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah secara konvensi telah lazim digunakan dalam masyarakat.

Dalam interpretant terdapat konsep berupa Rheme, decisign, dan argument. Rheme adalah penanda yang bertalian dengan mungkin terpahaminya objek petanda bagi penafsir. Decisign adalah penanda yang menampilkan informasi tentang petandanya. Argument adalah penanda yang petandanya akhir bukan suatu benda tetapi kaidah.

Semua konsep-konsep mengenai tanda yang dikemukakan oleh Peirce sangat penting dipelajari dan dipahami oleh semua mahasiswa yang mempelajari bidang semiotika. Semua tanda yang ada didunia ini apabila pemaknaannya salah tentu akan mengakibatkan kesimpulan yang salah pula.

(45)

B. Kerangka Pikir

Dalam karya sastra lirik lagu merupakan bagian dari puisi karena meupakan sekumpulan kata-kata yang memiliki makna dan maksud yang tersirat. Oleh karena itu lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad akan dikaji dengan menggunakan kajian semiotika menurut Charles Sanders Peirce. Adapun kerangka pikir analisis semiotika dalam lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad digambarkan sebagai berikut :

BAGAN KERANGKA PIKIR

Denotatum

Ground Interpretant

Karya Sastra

Temuan

Lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad

Semiotika

Analisis

Hasil

(46)

32

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

1. Desain Penelitian

Bentuk penelitian ini termasuk penelitian pustaka (library research) yang di olah secara deskriptif, yaitu suatu penelitian yang menggambarkan objeknya secara apa adanya.

Adapun desain yang peneliti susun dalam pelaksanaan ini adalah sebagai berikut. Langkah awal dengan pemahaman mengenal hasil-hasil penelitian yang relevan dengan judul. Dengan maksud agar penelitian ini dapat dilaksanakan secara maksimal, dilanjutkan dengan mengadakan studi kepustakaan, guna mengidentifikasi pemilihan dan perumusan masalah penelitian, menyususn dan memberikan definisi istilah, sedangkan langkah berikutnya ialah metode penelitian.

Penggunaan metode ini diartikan sebagai prosedur untuk menyelidiki masalah dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang menyertainya.

(47)

B. Data dan Sumber Data 1. Data

Data dalam penelitian ini yaitu keterangan semiotika serta lirik lagu

“payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad.

2. Sumber Data

Menurut Lofland (dalam Moleong dalam Usman 12:31) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan sepeti dokumen dan lain-lain.

Berdasarkan definisi di atas, dapat dirumuskan bahwa sumber data dalam penelitian ini adalah lirik lagu dari “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan penelitian pustaka (library research), yakni mengumpulkan data dari refernsi yang dianggap relevan dengan orientasi penelitian. Selain itu, pengumpulan data penelitian ini juga menggunakan teknik baca simak, invertarisasi, identifikasi, dan klasifikasi.

1. Teknik Baca Simak

Teknik ini dilakukan dengan membaca dan menyimak dengan seksama lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad. Teknik ini dilakukan dengan berulang-ulang untuk memperoleh data yang akurat.

2. Teknik Inventarisasi

(48)

Teknik Inventarisasi dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan sejumlah data berupa semiotika dan lirik lagu “Payung Teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad.

3. Identifikasi

Identifikasi dilakukan setelah melakukan teknik baca simak dan inventarisasi. Hasil yang diperoleh dibaca, lalu didentifikasi berdasarkan semiotika dan makna yang terkandung dalam lirik lagu tersebut.

4. Teknik Klasifikasi

Data berupa semiotika dan lirik lagu yang ditemukan diklasifikasikan.

Tujuannya adalah memudahkan dalam menganalisis lirik lagu tersebut.

D. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini, yaitu deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi semiotika dan makna dalam lirik lagu.

2. Mengklasifikasi semiotika dan makna dalam lirik lagu.

3. Menganalisis semiotika dan makna dalam lirik lagu menurut Charles Sander Pierce.

4. Mendeskripsikan secara umum semiotika dan makna lirik lagu untuk dijadikan sebagai temuan dan kesimpulan penelitian ini.

(49)

36

A. Hasil Penelitian

Dalam hasil penelitian ini, akan dideskripsikan system semiotika menurut Charles Sanders Peirce yang terdapat dalam lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad, berdasarkan segitiga tanda yang dikemukakan oleh Peirce yaitu :

1. Denotatum : ikon, indeks, dan symbol.

2. Ground : qualisigns, sinsign, legisign 3. Interpretant : rheme, decisign, argument

Untuk lebih jelasnya beberapa lirik lagu payung teduh dapat dilihat sebagai berikut :

“Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan “

Tak terasa gelap pun jatuh

Diujung malam menuju pagi yang dingin Hanya ada sedikit bintang mala mini

Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Lalu mataku merasa malu

(50)

Semakin dalam dia malu kali ini Kadang juga ia takut

Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya

Reff :

Dimalam hari Menuju pagi Sedikit cemas Banyak rindunya

“Resah”

aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap tapi aku tak bisa melihat matamu

aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

(51)

aku menunggu dengan sabar di atas sini, melayang-layang

tergoyang angin, menantikan tubuh itu

aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

ingin berdua denganmu di antara daun gugur aku ingin berdua denganmu

tapi aku hanya melihat keresahanmu

“Berdua saja”

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya Mungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinya Kita berdua diantara kata Yang tak terucap

(52)

Berharap waktu membawa keberanian Untuk datang membawa jawaban

Mungkinkah kita ada kesempatan

Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

“Menuju senja”

harum mawar di taman

menusuk hingga ke dalam sukma

yang menjadi tumpuan rindu cinta bersama di sore itu menuju senja

bersama hati yang terluka

tertusuk pilu menganga luka itu

diantara senyum yang menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan

bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian

ada yang mati saat itu dalam kerinduaan yang tak terobati

(53)

Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu ada yang mati menunggu sore menuju senja bersama

harum mawar di taman

menusuk hingga ke dalam sukma

yang menjadi tumpuan rindu cinta bersama di sore itu menuju senja

Penelitian dilakukan pada pilihan kata yang terdapat dalam lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad. Secara umum lagu-lagu yang dimainkan oleh payung teduh merupakan gambaran hati, emosi, serta hal-hal yang sering terjadi pada remaja atau orang-orang yang sudah mengerti arti percintaan itu sendiri.

Adapun analisis makna lirik lagu “payung teduh” karya Mohammad Istiqamah Djamad diatas berdasarkan trikotomi Peirce adalah sebagai berikut :

“Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan”

1. Trikotomi pertama (Denotatum)

a. Ikon : sesuatu yang melaksanakan funsi sebagai penanda yang serupa dengan obyeknya.

Tidak ada (-)

(54)

Penjelasan : dikatakan tidak ada ikon yeng terkandung dalam lirik lagu

“untuk perempuan yang sedang dalam pelukan” Karena keberadaan Ikon tidak seharusnya terletak pada kata namun pada bentuk utuh kemiripan pada suatu bendamisalnya gambar atau lukisan.

b. Index : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan pertandanya atau yang menghasilkan hubungan sebab akibat.

“untuk perempuan yang sedang dalam pelukan”

Penjelasan : mengapa dikatakan judul lagu dari payung teduh yaitu

“untuk perempuan yang sedang dalam pelukan” termasuk dalam index dikarenakan, penulis lagu yang mengalami kisah seperti lagu diatas sehingga menjadi inspirasi bagi penulis lagu itu sendiri.

“ Diujung malam menuju pagi…”

Penjelasan : dalam lirik ini juga mengandung unsure sebab akibat dimana di ujung malam menandakan bahwa malam akan segera tergantikan oleh pagi.

“Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya”

Penjelasan : dalam lirik diatas juga mengandung unsure index yang lebih menekankan sebab akibat dimana dijelaskan diatas bahwa

(55)

“hanya ada sedikit bintang malam ini..” untuk merayu sang kekasih atau membandingkannya dengan bintang, sehingga seakan akan bintang malu untuk menampakkan wujudnya karena terkalahkan oleh cantiknya wajah sang pujaan hati pada saat itu.

c. Simbol : sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah dan secara konvensional telah lazim digunakan dalam masyarakat.

“tak terasa gelap pun jatuh”

Penjelasan : di dalam lirik tersebut terdapat kata gelap, yang berarti suatu keadaan yang tidak terlalu terang, tidak terlalu banyak cahaya ataupun kelam. istilah ini sendiri akhirnya menjadi symbol yang dimaknai secara bersama dalam keadaan tertentu secara umum.

“kadang juga ia takut”

Penjelasan : kita tahu bahwa takut adalah sebuah perasan dimana kita merasa gemetar, atau ngeri, tidak berani, gelisah ataupun khawatir. Dimana saat seperti itulah kita diterpa rasa ragu, bimbang dan semacamnya, istilah tersebutlah yang akhirnya dimaknai bersama secara umum ketika kita mengalami kondisi “takut”.

“lalu mataku merasa malu, semakin dalam ia malu kali ini”

(56)

Penjelasan : dalam lirik diatas terdapat kata “malu”, yang merupakan sebuah tingkah laku yang segan, merasa tidak enak hati, atau takut melakukan sesuatu yang sifatnya kurang nyaman untuk dilakukan. Istilah tersebut juga merupakan kesepakatan yang diambil secara umum yang akhirnya menjadikan symbol yang kemudian dimaknai secara umum.

“menuju pagi, sedikit cemas banyak rindunya”

Penjelasan : kata cemas dalam lirik diatas termasuk symbol, karena kita ketahui bahwa cemas merupakan suatu keadaan hati yang gusar, tidak tenang, sangat gelisah serta merasa takut akan sesuatu hal, sedangkan rindu rindu dalam lirik diatas dapat diartikan sebagai pengharapan, sangat ingin terjadi, memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu. Biasanya keadaan rindu tersebut dialami oleh sepasang kekasih yang jarang bertemu sehingga memilki keinginan yang cukup kuat untuk segera bertemu dan melepas kerinduan mereka.

Istilah ini sendiri akhirnya menjadi simbol yang dimaknai secara bersama serta diakui secara umum.

2. Trikotomi kedua (Ground)

a. Qualisign : penanda yang bertalian dengan kualitas / tanda yang dapat ditandai berdasarkan sifat yang ada dalam tanda tersebut.

“lalu mataku merasa malu”

Referensi

Dokumen terkait

Dalam mitos juga terdapat tiga pola dimensi yaitu penanda, petanda dan tanda namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rangkai pemaknaan yang

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa bentuk campur kode yang terdapat pada lirik lagu pop Indonesia adalah campur kode kata benda, campur kode kata verba, campur kode kata sifat

Penelitian ini dilakukan dengan cara memaknai setiap kata yang terdapat dalam baris kalimat yang terdapat dalam bait, serta setiap bait dalam keseluruhan lirik lagu “Dari

Hasil penelitian ini ada empat (1) majas yang paling banyak dimanfaatkan dalam lirik lagu album Dunia Batas karya Payung Teduh adalah majas personifikasi; (2) citraan yang

Hasil penelitian ini ada empat (1) majas yang paling banyak dimanfaatkan dalam lirik lagu album Dunia Batas karya Payung Teduh adalah majas personifikasi, (2) citraan yang

Dipilihnya lirik lagu dalam album Dunia Batas karya Payung Teduh sebagai. objek penelitian ini dilandasi beberapa alasan yang dinyatakan

Berdasarkan analisis qualisign di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam lirik lagu karya Hyde terdapat tiga frase yang memiliki kualitas sebagai tanda anti

Dari keseluruhan hasil analisis data diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa lirik lagu Garuda di Dadaku terdapat beberapa lirik yang termasuk dalam aspek permanensi,