• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Hasil Penelitian

Pada profil informan ini oleh peneliti menyajikannya berdasarkan atas gambaran tentang identitas informan yang disesuaikan dengan kriteria-kriteria dalam penentuan subjek atau informan yang mendukung diperolehnya hasil penelitian yang sesuai dengan kenyataan pada kehidupan penghuni rumah susun Mariso. Adapun profil informan yaitu :

Berikut adalah beberapa daftar informan dalam penelitian berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Tabel 4.7 Daftar Informan Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia

No. Nama

Jenis Kelamin

L/P Pendidikan Usia

1. Andi Ahmad sp L _ 43 Tahun

2. Sudirman S L _ 38 Tahun

3. Nur Ana P _ 57 Tahun

4. M. Tahir L _ 66 Tahun

5. Rani P SMA 22 Tahun

6. Meri P SMK 36 Tahun

7. Rahmatia Daeng Baji P _ 67 Tahun

8. Andi Marlina P _ 29 Tahun

9. Nasir Dg. Nombong L _ 43 Tahun

10. Alamsyah L _ 27 Tahun

11. Listiono L _ 31 Tahun

Sumber: Hasil Wawancara 2015

Jumlah informan yakni 11 orang yang terdiri dari laki-laki berjumlah 6 orang informan sedangkan perempuan juga berjumlah 5 orang, informan yang tersebar di 6 Blok rumah susun yang berada di Rumah Susun sewa sederhana Mariso.

2. Pola Interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun sewa Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar.

Manusia dan lingkungan, merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dimana keduanya saling berinteraksi dalam membentuk tingkah laku tertentu. Perbedaan-perbedaan dalam hal kemampuan memanfaatkan sumber daya dari lingkungan hidup tersebut, berpengaruh pada tingkat kemampuan dan perkembangan dari pemenuhan kebutuhan manusia. Lebih lanjut, tingkat kemampuan tersebut berpengaruh pada corak kegiatan pemenuhan kebutuhan dan pada corak penataan ruang, sebagai wadah kegiatan-kegiatan masyarakat.

Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antar kelompok-kelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Bentuk pelaksanaan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang merupakan interaksi sosial. Artinya, berbagai bentuk pergaulan sosial menjadi bukti betapa manusia membutuhkan kebersamaan dengan orang lain. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa didalam hubungan antara manusia dengan manusia lainnya akan melahirkan interaksi sosial. Sehingga interaksi sosial diposisikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial. Dikatakan demikian karena pada dasarnya interaksi merupakan hubungan sosial antar individu, antar kelompok, maupun antar

individu dengan kelompok. Dimana interaksi antar manusia tumbuh sebagai suatu keharusan bio-psikologis manusia yang harus dipenuhi atau dengan kata lain segala tindakan manusia disebabkan karena dorongan organisme maupun karena tuntutan lingkungan alam, hasrat-hasrat psikologis atau karena pengaruh masyarakat dan kebudayaan.

Intinya, manusia cenderung untuk memilih suatu lingkungan yang sesuai dan memuaskan, sehingga dapat bermukim dengan baik, sambil mempersiapkan masa depan bagi keluarganya. Berbagai pilihan terhadap ruang-ruang dan komponennya, mengakibatkan suatu perilaku tertentu, yang seringkali antara ruang dan perilaku yang terwadahi tidak terdapat kesesuaian, sehingga timbul suasana yang tidak di inginkan bersama. Dikaitkan dengan penghuni dalam Rumah Susun, keputusan tindakan yang dipilih oleh warga, umumnya tercetus secara spontan dan merupakan gambaran dari karakternya; seperti: realisasi kebersamaan dalam space-space yang dianggap cocok bagi mereka, yang seringkali menimbulkan permasalahan yang lain (suasana bising dan tidak tertib);

namun kondisi yang demikian ternyata masih dapat diterima oleh penghuni dalam batas-batas tertentu (artinya disesuaikan dengan tingkatan toleransi yang dapat diberikan oleh golongan berpenghasilan rendah).

Seperti halnya yang diungkapkan oleh Sekcam Mariso (Muh.Lutfi.S.Sos), Bahwa:

“Penduduk yang datang ke perkotaan tersebut berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang pendidikan, pekerjaan, serta adat istiadat yang berbeda-beda. penghuni rumah susun dengan perbedaan latar belakang perlu melakukan penyesuaian sosial dari perilaku kehidupan pola perumahan horizontal menuju pola perumahan vertikal.

Penyesuaian ini dibutuhkan agar rumah susun dapat diterima menjadi

pilihan perumahan masyarakat. Hubungan sosial ini merupakan salah satu hubungan yang harus dilaksanakan, karena di dalam hubungan sosial itu setiap individu menyadari tentang kehadirannya di samping kehadiran individu lain.( wawancara 20 Agustus 2015 )

Hal serupa juga di ungkapkan oleh Lurah Lette (Andi Hairul Djamerro), bahwa:

Hal yang perlu penghuni rumah susun lakukan adalah beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya agar interaksinya dengan penghuni lama baik.Dengan kondisi yang demikian, kemudian mereka beradaptasi agar bagaimana perilaku sosial budaya dapat diakomodasi dalam ruang- ruang interaksi yang tersedia di rumah susun tersebut. Ruang-ruang interaksi atau Ruang-ruang publik yang disediakan kiranya dapat digunakan dengan baik.(wawancara 23 agustus 2015 )

Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa para penghuni rumah susun baik yang lama maupun yang baru harus saling menjalin hubungan sosial dalam berperilaku dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta memanfaatkan ruang-ruang publik yang disediakan.

Penyesuaianpun sangat di perlukan dalam kehidupan sosial karena sangat berhubungan dengan kepuasan atas hunian yang dimaksud penyesuaian sosial adalah kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan, berinteraksi dengan lingkungan dan mampu menjadi bagian dari lingkungan. Di wilayah perkotaan, penyesuaian sosial amat berperan untuk meningkatkan rasa bertetangga oleh para warganya. Hubungan sosial yang positif akan mempengaruhi jumlah frekuensi pertemuan dimana hal tersebut dapat menimbulkan rasa keakraban di antara para warga. Warga akan merasa senang dan terikat bila memiliki kepuasan atas lingkungannya dan secara tidak langsung membangun keakraban dengan tetangga di lingkungan tempat tinggalnya.

Terkadang ada penghuni rumah susun yang tidak dapat berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitarnya sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman untuk tinggal di tempat tersebut.Hubungan antara penduduk cenderung menjadi lebih terasing, mengalami perasaan isolasi dan kesepian, yang disebabkan karena kurangnya sosialisasi.Mengingat bahwa ikatan sosial dan paguyuban yang masih kuat dapat berfungsi sebagai wahana penyesuaian diri(coping behavior) dan penangkal kesumpekan yang dialami penghuni rumah susun tersebut.Untuk dapat melakukan penyesuaian sosial maka individu harus memelihara hubungan yang baik terhadap lingkungan sekitarnya.

3. Ruang-Ruang Publik rumah susun sewa Mariso kecematan Mariso Kota Makassar

Ruang publik merupakan ruang dimana para penghuni meakukan interaksi. Ada beberapa fasilitas yang disediakan di rumah susun itu seperti tangga, ruang tamu bersama dan tempat untuk menjemur pakaian pada tiap lantainya, sedangkan pada lantai bawah terdapat tempat parkir, ruang pengelola, dan bangku yang terletak pada halaman.

Ruang-ruang publik itu dapat digunakan oleh para penghuni rumah susun Mariso tanpa terkecuali untuk berinteraksi sosial dengan menggunakan tempat-tempat yang disediakan pada saat bertemu. Seperti halnya yang diungkapkan bapak SS (pengurus rumah susun Mariso), sebagai kepala pengurus rumah susun bahwa:

Ada beberapa fasilitas ruang publik pada rumah susun yaitu adanya ruang-ruang untuk usaha (berupa kios), WC umum, ruang pengelola, aula,tangga dan bordes, koridor, mushola, parkir mobil dan motor.

Pemanfaatan ruang publik itu sendiri jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadi tempat interaksi sosial yang baik.Dan tempat-tempat ini yang mereka serig gunakan untuk berkumpul baik dalam hal yang positif maupun yang negatif. (wawancara 24 Agustus 2015 )

Hal serupa juga diungkapkan oleh NA, bahwa:

Interaksi kami dengan para penghuni disini baik, karena kami serig ngumpul. Tempat yang serig kami gunakan yaitu koridor terkadang juga didpan kamar.Apalagi mereka sering ngumpul didepan kamar saya.Tahulah kalau ibu-ibu ngumpul pasti ngosipin orang hehehe.

(wawancara 25 Agustus 2015)

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkanbahwa hampir semua tempat digunakan untuk ngumpul. Bukan cuma koridor di jadikan tempat ngumpul, tempat rumpi, arisan dan masih banyak kegiatan yang lainnya .

Kondisi di permukiman Mariso yang akrab dengan tetangga-tetangganya yang cukup jauh sekalipun. Tempat melakukan aktivitas sosial oleh warga rumah susun memanfaatkan ruang-ruang kosong yang memungkinkan, seperti selasar dan area tangga utama. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak lebih banyak memanfaatkan area rumah susun sebagai area sosial mereka untuk bermain dengan teman sebanyanya, antara lain, selasar, tangga utama, tangga darurat, dan area bersama.

4. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun sewa Mariso a. Interaksi sosial asosiatif penghuni rumah susun Mariso

Menjalin komunikasi atau interaksi dengan masyarakat setempat atau penghuni rumah susun bukan hal yang susah bagi para penghuni yang berasal dari berbagai suku daerah, karena mereka sudah saling mengenal dengan baik.

Berikut akan dipaparkan lebih mendalam tentang pola interaksi sosial asosiatif para penhuni rusunawa mariso :

(1) Kerja sama antara penghuni rumah susun sewa sederhana Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar.

Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama merupakan interaksi yang paling penting karena pada hakikatnya manusia tidaklah bisa hidup sendiri tanpa orang lain sehingga ia senantiasa membutuhkan orang lain. Kerja sama dapat berlangsung manakala individu-individu yang bersangkutan memiliki kepentingan yang sama dan memiliki kesadaran untuk bekerja sama guna mencapai kepentingan mereka tersebut.

Sudah bertahun tahun penghuni tinggal di rumah susun, interaksi yang dilakukan dapat dilihat dengan berbagai usaha yang dilakukan seperti menggunakan rumahnya untuk menjual sembako, pop ice, gorengan dan lainya, yang dilihat dari beberapa tempat dirumah susun. Seperti yang di ungkapkan oleh AA penghuni rusunawa blok 1 yang membuat usaha dengan memaanfaatkan rumahya untuk menjual.

Kami melakukan interaksi disini dek, selain kami memanfaatkan tempat yang memang untuk cerita-cerita, bercanda bersama teman-teman disini sebagian dari kami juga melakukan kerjasamadengan cara memanfaatkan kamar kami untuk ditempati menjual, sehingga teman-teman yang tidak menjual, tidak lagi keluar dari rusunawa ini membeli. Pada saat itulah juga dek, kami melakukan interaksi sebentar, Apalagi saya menjual di lantai 2 sehingga teman-teman yang dari lantai diatas tidak jauh lagi turun ke lantai dasar untuk membeli begitulah yang kami lakukan disini adek,(wawancara taggal 27 agustus 2015).

Dari pernyataan bapak AA diatas dapat dilihat bahwa para penghuni rumah susun sudah lama dan melakukan interaksi di tempat-tempat yang sudah disediakan daninteraksi juga dilakukan dengan cara bekerjasama, kerjasama ini, selain berinteraksi mereka juga bekerja sama untuk mencari keuntungan bersama.

Penghuni rumah susun sewa Mariso terdiri dari bermacam-macam suku yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka tinggal di rumah susun karena adanya program pemerintah, dan mereka juga menganggap rumah susun Mariso bagus dan pembayarannya lumayan murah. Seperti yang di ungkapkan bapak SS (pengurus rusunawa), sebagai kepala pengurus rusunawa.

Saya memang baru beberapa tahun bekerja disini dek, tetapi kalau adek tanyaka begitu, saya jawab, selama saya bekerja disini adek saya lihat semua penghuni rusunawa yang ada disini melakukan interaksi dengan baik serta hubungan mereka dengan kami sebagai pengurus sangat akrab ,walaupun penghuni yang ada disini terdiri dari berbagai suku yang berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia, dan mereka berinteraksi dengan bermacam cara, ada yang menempati tempat khusus, seperti yang sudah memang di sediakan di setiap lantai, ada juga sebagian yang memanfaat tangga sebagai tempat berinteraksi, disinilah dek saya lihat hubungan mereka selama ini saya lihat baik danjarang saya lihat ada yang cekcok, walaupun biasa ada adumulut tetapi tidak terlalu, kamu bisadatang lihat-lihat penghuni disini pada hari minggu kamu bisa lihat kegiatan mereka dan kerja sama mereka ketika melakukan kerja bakti kalau boleh dibilang sangat senang karena mereka bisa saling mengenal antara penghuni rumah susun yang lama dengan yang baru.(wawancara taggal 28 agustus ).

Dari informan di atas sudah jelas bahwa para penghuni rumah susun sederhana sewa saling berinteraksi dan bekerja sama dengan baik, meraka berinteraksi tidak mengenal suku maupun golongan, orang yang sama sukunya

tidak hanya berinteraksi antara sesamasukunya saja akan tetapi mereka juga berinteraksi dengan suku yang berasal dari daerah lain.

Kerjasama dan Hubungan yang dilakukan dengan baik oleh penghuni rumah susun sewa sederhana Mariso akan membawa dampak baik bagi penghuninya untuk bisa bertahan lebih lama lagi di rumah susun tersebut. Seperti yang diungkapkan MT sebagai penghuni rumah susun.

Saya katakanpada teman yang ada disini, kalau memang kalian ingin lama tinggal disini,ingin nyaman tinggal disini, jagaki kerjasamata, perbaiki tingkahlakuta sama semua yang tinggal disini, jagaki hubunganta sama tetanggata, dan patuhilah peraturan yang ada. Itu yang sayakatakan nak, apalagi kalau adami lagi penghuni baru, saya langsung tanyaki begitu dek. (wawancara tanggal 29 Agustus)

Para penghuni rumah susun yang sudah lama tinggal disitu sudah paham betul cara berperilaku, bertindak dalam kehidupannya sehari-hari dalam menghuni rumah susun tersebut. Hal ini sangat mendukung akan terjadinya kerjasama dan hubungan yang sudah lama terjadi antara penghuni yang ada dirumah susun sehingga dengan berjalannya waktu mereka saling memahami antara satu dengan yang lainya.

(2) Akomodasi (Cara menyelesaikan pertentangan) antara penghuni rumah susun.

Akomodasi adalah cara menyelesaikan pertentangan antara dua pihak tanpa menghancurkan salah satu pihak, sehingga kepribadian masing-masing pihak tetap terpelihara. Tujuan dari akomodasi adalah untuk mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham ataupun suku dan mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer.

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak menutup kemungkinan terjadinya berbagai pertentangan yang disebabkan oleh persoalan-persoalan sepele. Apakah pertentangan individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Tidak dapat dipungkiri bahwa pertentangan yang cepat menimbulkan konflik adalah pertentangan antara tetangga penghuni rumah susun ataupun kepada para pengurus rumah susun.

Pertentangan yang muncul ini biasanya diselesaikan dengan cara yang bijaksana. Demikian halnya dengan para pengurus rumah susun sebagai atasan di rumah susun itu akan mengambil langkah-langkah yang sangat bijaksana agar tidak ada yang merasa dirugikan antara penghuni satu dengan yang lainnya.

Adapun cara yang dilakukan adalah mengadakan musyawarah. Sesuai pernyataan dari Bapak SS sebagai kepala pengurus rusunawa.

Dirumah susun ini memang pernah terjadi pertikain sesama penghuni dek, tapi saya tidak langsung bertindak untuk mengeluarkan, akan tetapi saya panggil penghuni yang bertikai tersebut untuk datang di kantor untuk dimusywarakan apa permasalahan mereka, begitulah peraturan pertama saya untuk persoalan begitu dek, saya panggil baru bersama teman-teman pengurus disini, kami tanyakan persoalan mereka dan memberikan solusi permasalahn mereka, begitu dek.( wawancara tanggal 30 agustus 2015 )

Pernyataan dari pengurus rusunawa tersebut sejalan yang dikemukakan oleh Nasir (Dg Nombong) salah satu penghuni rumah susun Mariso.

Biasanya adek kalau terjadi pertikain disini orang yang bertikai akan dipanggil pengurusi rusun untuk pergi di kantornya di lantai dasar, lalu pengurus berkumpul dan melakukan musyawarah dengan orang yang bertikai, ada tong ia sebagian dari kami yang dipanggil sebagai perwakilannya rusun untuk ikut dalam musyawarah nabilang ji jugapengurus ikutki banyak-banyak supaya ini bede jadi pelajaran

selanjutnya bagi penghuni lainya, bagus tong iya itu nabilang.(

wawancara tanggal 30 agustus 2015 )

Informasi tersebut diatas jelas menunjukkan bahwa pengurus rumah susun menyelesaikan setiap pertentangan yang terjadi dengan jalan musyawarah tanpa merugikan diantara kedua belah pihak yang saling terlibat pertentangan.

Walaupun ada perbedaan agama, suku dan budaya antara para penghuni atau yang terlibat pertikaian di rusunawa tersebut.

(3) Asimilasi (usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan) antara penghuni rusunawa yang berbeda suku.

Asimilasi adalah usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.

Rumah susun sewa Mariso memang tempat tinggal yang tidak membeda bedakan orang atau suku untuk masuk menghuni rumah susun tersebut dilihat dari berbagai macam penghuni yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan tentunya berbeda suku. Mereka berbaur, berinteraksi, kerja sama tidak hanya dengan yang sama sukunya akan tetapi mereka berinteraksi dengan suku yang lain dan hal seperti itu menjadi biasa bagi mereka.

Fenomena ini selain dapat dilihat secara langsung juga didukung oleh pernyataan yang disampaikan oleh salah satu penghuni rusunawa yaitu bapak Listiono penghuni rususnawa blok 3 bahwa:

Disini kami tinggal bukan hanya satu suku saja adek, tetapi dirusunawa ini banyak dari berbagai daerah maupun asli orang Makassar yang tinggal dirusunawa ini dan memiliki suku yang berbeda, seperti saya yang asli orang jawa, tapi adatommi sedikit saya tau bahasa Makassar hehehe, perbedaan suku diantara kami adek tidak menghalangi kami berinteraksi dengan suku lainya, kami hanya saling memahami saja, itulah yang saya lakukan selama ini adek memahami setiap perbedaan tinggal di rumah susunini. ( Wawancara tanggal 31 Agustus )

Pernyataan ini juga diperkuat oleh Ibu Andi Marlina penghuni lainya dirusunawa tersebut bahwa:

Sudah 9 tahunka tinggal disini, dan tinggalka bersama orang-orang yang datangki dari daerah yang berbeda suku dengan saya, ada yang dari papua, bugis, Jakarta tapi kami tetap tonji berbaur bersama mereka, tena jiki permasalahkanki perbedaan suku kami, saling kipahami ji saja.(wawancara 31 agustus 2015)

Dari informasi ini jelas bahwa tidak ada lagi perbedaan dari segi kehidupan yang ada dirusunawa ini, orang-orang yang ingin tinggal dan menghuni rusunawa tersebut tidak akan terhalang oleh perbedaan yang ada.

(4) Akulturasi

Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur-unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.

Seperti halnya yang diungkapkan Al selaku penghuni rumah susun Mariso bahwa:

Budaya yang sering kami lakukan itu sudah hilang disebabkan karena adanya budaya baru yang masuk dalam keluarga saya jadi

budaya-budaya atau kebiasaan yang sehari-hari dilakukan tergantikan dibudaya-budaya baru. (Wawancara tanggal 01 September 2015)

b. Interaksi disosiatif penghuni rumah susun Mariso 1) Persaingan antara penghuni rumah susun Mariso

Persaingan adalah proses sosial yang melibatkan individu atau kelompok yang saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu.

Persaingan dapat terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang terbatas atau sesuatu yang menajadi pusat perhatian umum. Persaingan berlangsung tanpa ancaman atau kekerasan. Persaingan yang wajar dengan mematuhi aturan main tertentu disebut persaingan sehat dan memberi dampak positif bagi pihak-pihak yang bersaing, yaitu adanya motivasi untuk lebih baik.

Namun jika persaingan sudah tidak sehat, maka persaingan akan memberi dampak buruk bagi kedua belah pihak.

Berdasarkan hasil penelitian yang menyangkut tentang persaingan, antara penghuni rumah susun sewa Mariso boleh dikatakan tidak ada, baik itu dalam bidang ekonomi, kebudayaan dan ras.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh bapak Al sebagai penghuni rumah susun bahwa:

Kalau dibilang persaingan tidak ada jie jenis persaingan di rusunawa ini karena orang disini hanya mencari tempat tinggal, dan

sehari-harisayabekerja diluar rumah susun ini sehingga saya tidak memikirkan yang namanya persaingan,( wawancaratanggal 1Sebtember 2015)

Hal tersebut sejalan apa yang diungkapkan oleh AM penghuni lainya bahwa:

Tidak ada jie persaingan kalau di sini antara penghuni satu dengan penghuni lainya lihatmaki saja, kebanyakan disini pekerjaanya diluar seperti menjual bakso, tukang parkir, buruh bangunan. Tidak ada jie yang dipersaingi, pekerjaan tidak jauh beda jie semua, paling bersaing jie untuk menjual sembako di kamar masing-masing.( wawancara tanggal 1 sebtember 2015 )

Dari pernyataan bapak A dan ibu AM diatas terlihat jelas bahwa persaingan yang ada di rumah susun tidak terlalu menonjol karena usaha merek berbeda-beda sehingga mereka hanya fokus pada pekeraan masing-masing.

Dari hubungan interaksi tersebut tingkah laku individu/masyarakat dalam hubungannya dengan individu/masyarakat lainnya maupun lingkungannya menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam berbagai faktor yang dapat menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku. Sehingga terdapat hubungan fungsional antara tingkah laku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan pelaku interaksi, yang lambat laun akan memunculkan pengaruh baik yang bersifat positif ataupun negatif. Dimana pengaruh yang sifatnya positif bisa saja bermuara pada pembentukan rasa kebersamaan/solidaritas diantara anggota masyarakat, yang mana ikatan kebersamaan dan solidaritas tersebut dapat dijadikan suatu kekuatan baik dalam menghadapi lingkungan pekerjaan maupun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain bahwa pada dasarnya interaksi sosial diposisikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial. Dimana hubungan antara manusia dengan manusia lainnya maupun masyarakat dengan masyarakat melalui hubungan sosial yang berdasar pada interaksi sosial dapat menghasilkan akibat-akibat atau perubahan

dalam berbagai faktor yang juga dapat menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.

Hadirnya ruang-ruang untuk mengakomodasi perilaku domestik di hunian rumah susun sewa Mariso secara langsung mengubah perilaku para penghuni yang baru bermukim, yang sebelumnya sebagian melakukan aktivitas domestik di luar unit huniannya seperti memasak, mencuci, mandi, dan buang air, setelah menghuni rumah susun aktivitas domestik tersebut dapat dilakukan di dalam unit

Hadirnya ruang-ruang untuk mengakomodasi perilaku domestik di hunian rumah susun sewa Mariso secara langsung mengubah perilaku para penghuni yang baru bermukim, yang sebelumnya sebagian melakukan aktivitas domestik di luar unit huniannya seperti memasak, mencuci, mandi, dan buang air, setelah menghuni rumah susun aktivitas domestik tersebut dapat dilakukan di dalam unit

Dokumen terkait