SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh:
NUR IMAN NIM 10538 02084 11
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI 2015
Jangan Pernah Berhenti Berharap
Sebab Tanpa Harapan Hidup Tanpa Arah Jangan Pernah Menyesali Kegagalan
Karena Tak Ada Kesuksesan Tanpa Diawali Kegagalan
Raihlah Ilmu Setinggi Mungkin Akan Tetapi Dulukanlah
Akhlak Daripada Ilmu Dlam Mengarungi Hidupmu
Karya ini kuperuntukan sebagai tanda bukti dan cinta kasihku
kepada Ibunda dan Ayahandaku tercinta,
Saudaraku, Agama, almamater, bangsa dan
Negara
Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221
HALAMAN PENGESAHAN
Nama : Nur Iman
NIM : 10538 02084 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Pola Interaksi sosial penghuni Rumah susun sewa Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar
Setelah diteliti dan diperiksa ulang, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk dipertanggung jawabkan di depan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, Agustus 2015 Disetujui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. H.Abd.Rahman Rahim, M.M Jasmin Daud, SE.,M.Pd Mengetahui,
Dekan FKIP Unismuh Makassar Ketua Jurusan
Pendidikan Sosiologi
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum Dr. H. Nursalam, M.Si
NBM. 858 625 NBM. 951 829
Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Nama : Nur Iman
NIM : 10538 02084 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Pola Interaksi sosial penghuni Rumah susun sewa Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar
Setelah diperiksa dan diteliti, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk diujikan.
Makassar, Agustus 2015 Disetujui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Dr.H.Abd.Rahman Rahim,M.M Jasmin Daud, SE.,M.Pd
Mengetahui,
Dekan FKIP Unismuh Makassar Ketua Jurusan
Pendidikan Sosiologi
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum Dr. H. Nursalam, M.Si
NBM. 858 625 NBM. 951 829
Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Nur Iman
NIM : 10538 02084 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai skripsi ini, saya yang menyusun sendiri skripsi ini (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi ini.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Agustus 2015 Yang membuat perjanjian
Nur Iman
NIM. 10538 02084 11
Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Nur Iman
NIM : 10538 02084 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Judul Skripsi : Interaksi sosial penghuni rumah susun sewa mariso di kecamatan mariso kota makassar
Dengan ini menyatakan bahwa:
Skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri, bukan hasil jiplakan dan tidak dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya, dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Agustus 2015 Yang membuat pernyataan
Nur Iman
NIM. 10538 02084 11
ix AssalamuAlaikumWr. Wb.
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT.
Pemilik segala kesempurnaan, memiliki segala ilmu dan kekuatan yang tak terbatas, yang telah memberikan kami kekuatan, kesabaran, ketenangan, dan karunia selama ini sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pola interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun Sewa Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar”. Dan tak lupa pula penulis kirimkan salawat dan salam kepada baginda Rasulullah SAW, yang telah membawa penerapan dan menjadi penunjuk jalan kebenaran bagi umat manusia.
Dalam Proses penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah ikut menyumbangkan pikiran, tenaga dan inspirasi bagi penulis. Oleh karena itu, penulis dengan sangat berterima kasih atas pihak-pihak dibawah ini yang telah turut serta dalam membantu penulis hingga selesainya skripsi ini. Ucapan banyak terima kasih khususnya kepada kedua orang tua saya Ayahanda dan Ibunda telah membesarkan dan membimbing saya.
Selama penyusunan skripsi ini, penulis menghadapi berbagai hambatan dan tantangan namun berkat bimbingan, motivasi, dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak, segala hambatan dan tantangan yang di hadapi penulis dapat teratasi.
ix AssalamuAlaikumWr. Wb.
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT.
Pemilik segala kesempurnaan, memiliki segala ilmu dan kekuatan yang tak terbatas, yang telah memberikan kami kekuatan, kesabaran, ketenangan, dan karunia selama ini sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pola interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun Sewa Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar”. Dan tak lupa pula penulis kirimkan salawat dan salam kepada baginda Rasulullah SAW, yang telah membawa penerapan dan menjadi penunjuk jalan kebenaran bagi umat manusia.
Dalam Proses penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah ikut menyumbangkan pikiran, tenaga dan inspirasi bagi penulis. Oleh karena itu, penulis dengan sangat berterima kasih atas pihak-pihak dibawah ini yang telah turut serta dalam membantu penulis hingga selesainya skripsi ini. Ucapan banyak terima kasih khususnya kepada kedua orang tua saya Ayahanda dan Ibunda telah membesarkan dan membimbing saya.
Selama penyusunan skripsi ini, penulis menghadapi berbagai hambatan dan tantangan namun berkat bimbingan, motivasi, dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak, segala hambatan dan tantangan yang di hadapi penulis dapat teratasi.
ix AssalamuAlaikumWr. Wb.
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT.
Pemilik segala kesempurnaan, memiliki segala ilmu dan kekuatan yang tak terbatas, yang telah memberikan kami kekuatan, kesabaran, ketenangan, dan karunia selama ini sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pola interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun Sewa Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar”. Dan tak lupa pula penulis kirimkan salawat dan salam kepada baginda Rasulullah SAW, yang telah membawa penerapan dan menjadi penunjuk jalan kebenaran bagi umat manusia.
Dalam Proses penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah ikut menyumbangkan pikiran, tenaga dan inspirasi bagi penulis. Oleh karena itu, penulis dengan sangat berterima kasih atas pihak-pihak dibawah ini yang telah turut serta dalam membantu penulis hingga selesainya skripsi ini. Ucapan banyak terima kasih khususnya kepada kedua orang tua saya Ayahanda dan Ibunda telah membesarkan dan membimbing saya.
Selama penyusunan skripsi ini, penulis menghadapi berbagai hambatan dan tantangan namun berkat bimbingan, motivasi, dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak, segala hambatan dan tantangan yang di hadapi penulis dapat teratasi.
x
dan Jasmin Daud, SE.,M.Pd, Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal proposal hingga selesainya skripsi ini.
Selanjutnya dengan penuh rasa hormat penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada Dr. H. Irwan Akib, M. Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dr. H. Nursalam, M. Si, dan Muhammad Akhir S. Pd., M. Pd. Ketua jurusan dan sekertaris jurusan pendidikan sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan segenap dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Keluarga besar serta Saudaraku yang tulus mengorbankan waktu, tenaga, materi, do’a dan dukungan kepada penulis demi terselesainya skripsi ini demi meraih gelar Sarjana.
Sahabat-sahabat seperjuanganku di Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya Samsiyah (Cia), Herianto (Heri), Nurhayati (Aty), Sapriadi (sapri), Muh.Dahyar, Alimuddin, Samir, Irsan, Samsuriadi, Abd. Hadi Hasan, Masdin, Ati, Ibrahim, Nursiyah M, Febi, Dina, Julian, Angkatan 2011 kelas B serta teman PPL dan Teman- teman P2K SMAN 1 GALESONG terima kasih serta teman-teman seperjuangan
xi
Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak sempat disebutkan satu-persatu terima kasih atas bantuannya. Mengiringi penghargaan dan ucapan terima kasih penulis kepada semua pihak yang turut membantu secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis telah berusaha menyajikan skripsi ini dengan sebaik mungkin, namun disadari masih banyak kekurangan oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun agar kedepannya dapat lebih baik. Amin, Ya Rabbal Alamin!
Makassar, September 2015
Penulis
viii
Nur Iman 2015, Pola interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun Sewa Mariso Kecamatan Mariso Kota Makassar. Jurusan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Rahman Rahim dan Jasmin Daud.
Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kualitatif deskriftif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan kata- kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati selama melakukan penelitian ini, memberikan gambaran umum dan penjelasan dengan berdasarkan data-data dan informasi tentang apa yang ingin diteliti. Dasar penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, teknik dokumentasi dari hasil foto dan arsip yang dimiliki pemerintah setempat. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah informan diambil dari penghuni rumah susun dan pengelolahya serta pemerintah setempat yang dianggap bisa memberikan informasi atau data yang sesuai dengan penelitian.
Hasil penelitian, Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa apa yang diharapkan oleh pemerintah dengan banyaknya warga yang tinggal di rumah susun Mariso. Secara sosial, rumah susun dapat memberikan kepada masyarakat tempat tinggal yang layak untuk dihuni, sehingga masyarakat yang dulunya tinggal di tempat yang tidak layak untuk dihuni akan pindah kerumah susun, dengan adanya rumah susun Mariso membuat warga lebih layak untuk menempati tempat tinggal, tidak lagi ditempat kumuh, Sedangkan secara ekonomi, masyarakat mampu berwirausaha dengan berbagai macam usaha yang mereka lakukan sesuai keahlian mereka dan lingkungannya pun mendukung karena dekat dari Pantai Losari.
Kata Kunci : Interaksi Sosial, Rumah Susun
xii
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
SURAT PERNYATAAN ... v
SURAT PERJANJIAN ... vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vii
ABSTRAK ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 8
A. Kajian Pustaka... 8
1. Pengertian Pola... 8
xiii
4. Kebersamaan Masyarakat dalam Rumah Susun ... 27
5. Teori Interaksionisme Simbolik... 31
B. Kerangka Pikir ... 33
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
A. Jenis Penelitian... 35
B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 35
C. Instrumen Penelitian... 36
D. Fokus Penelitian ... 36
E. Data dan Sumber Data ... 37
F. Teknik pengumpulan Data ... 37
G. Teknik Analisis data... 39
H. Teknik keabsahan Data ... 40
BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41
A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian ... 41
B. Hasil Penelitian ... 49
C. Pembahasan ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69
A. Kesimpulan... 69
B. Saran... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 72 LAMPIRAN
xiv
xiv
Tabel 4.1 Keadaan Luas Wilayah Kecamatan Mariso ... 41
Tabel 4.2: Jumlah Penduduk Kecamatan Mariso... 42
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 43
Tabel 4.4 Sarana dan Prasarana Pendidikan di Kecamatan Mariso ... 44
Tabel 4.5 Sarana dan Prasarana Pendidikan di Kelurahan Lette ... 47
Tabel 4.6 Daftar Informan Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia... 49
xv
1.1. Bagan Kerangka Pikir ... 34
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sudah menjadi kenyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial, mahluk yang mempunyai keterbatasan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri, sebagai mahluk sosial manusia saling bergantung kehidupannya satu sama lain.
Dependensi manusia ini tidak saja terdapat pada awal kehidupannya, akan tetapi dialami oleh manusia seumur hidupnya. Karena itu manusia harus berinteraksi dengan manusia lainnya.
Interaksi merupakan syarat aktivitassosial. Interaksi sosial merupakan hubunganyang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok dengan kelompok, maupun antara perorangan dengan kelompok.
Adanya interaksi sosial sehingga muncullah penggolongan terhadap proses sosial yakni proses asosiatif dan disosiatif. Proses asosiatif ini mempunyai kecenderungan untuk membuat masyarakat bersatu dan meningkatkan solidaritas di antara anggota kelompok. Terdapat empat bentuk proses asosiatif, yaitu kerjasama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi. Sedangkan proses disosiatif merupakan sebuah proses yang cenderung membawa anggota masyarakat ke arah perpecahan dan merenggangkan solidaritas di antara anggota-anggotanya. Ada tiga bentuk proses disosiatif, yaitu persaingan, kontravensi, dan pertentangan.
Perilaku warga kota selalu terkait dengan lingkungan hunian dimana ia tinggal. Rumah tidak hanya sekedar tempat tinggal karena memiliki makna dan menjadi identitas hidup individu yang mampu menyatakan status
1
serta membentuk hubungan sosial. Rumah juga memiliki fungsi sosial sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya sebuah keluarga, untuk itu rumah merupakan kebutuhan dasar manusia seperti juga sandang dan pangan.
Pembangunan rumah susun merupakan respon terhadap kebutuhan rumah bagi masyarakat. Rumah susun menjadi alternatif pilihan untuk penyediaan hunian karena merupakan pilihan yang ideal bagi negara-negara berkembang.
Percepatan dalam penyediaan perumahan merupakan kebijakan strategis karena daerah yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk yang tinggi memiliki permasalahan pada kurangnya ketersediaan hunian, ketidaklayakan hunian dan keterbatasan lahan.
Peremajaan, merupakan salah satu cara yang ditempuh pemerintah, dalam menciptakan kotayang bersih, sehat, tertib, dan berwibawa yang alternatifnya dengan jalan memperbaiki kawasan-kawasan kumuh dan menempatkan penghuninya dari lokasi kumuh kedalam bangunan Rumah Susun,adalah sebagai salah satu pemecahan dalam hal penempatan warga “tergusur”tersebut. Definisi Rumah Susun adalah “Bangunan gedung bertingkat, yang dibangun dalam satu lingkungan, yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dan dalam arah horisontal maupun vertikal sebagai satuan-satuan yang dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama”(Data UU RI No.16 Tahun 1985, tentang Rumah Susun). Jadi, pengadaan Rumah Susun, adalah didasarkan alasan penghematan lahan dan kemampuan daya tampung dan kapasitas yang tinggi dari bangunannya yang peruntukannya bagi warga
masyarakat tergusur dan kalangan berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah pribadi. Kenyataandilapangan memperlihatkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah tadi, bisa mengadaptasi pola kehidupan vertikal dalam Rumah Susun. Sebagaimanadikatakan oleh Johan Silas, bahwa ”Budaya masyarakat, bukan bersifat mikro tapi makro yang dituduhkan seakan penduduk tak dapat menyesuaikan kehidupan diatas, karena biasa hidup dibawah, tidaklah sah. Ternyata dayapenyesuaian yang ditunjukkan penghuni RumahSusun berdampak cukup besar, hanya dalamsetahun menghuni”.
Penghuni rumah susun dengan perbedaan latar belakang perlu melakukan penyesuaian sosial dari perilaku kehidupan pola perumahan horizontal menuju pola perumahan vertikal. Penyesuaian ini dibutuhkan agar rumah susun dapat diterima menjadi pilihan perumahan masyarakat. Hubungan sosial ini merupakan salah satu hubungan yang harus dilaksanakan, karena di dalam hubungan sosial itu setiap individu menyadari tentang kehadirannya di samping kehadiran individu lain. Menurut Sarlito (Ratih, 2005) rumah merupakan tempat berlangsungnya proses sosialisasi dimana individu diperkenalkan pada norma dan adat kebiasaan yang berlaku di dalam suatu masyarakat.
Tujuan pemerintah menempatkanwarga masyarakat golongan berpenghasilanrendah dan tergusur di dalam Rumah Susun adalahagar mereka, dapat hidup secara layak dalamrumah yang sehat, manusiawi serta sekaligusmenjunjung kehidupannya. (Data UU RI No.16,Tahun 1985, Tentang
“Rumah Susun”).Sebagai studi banding, ditentukan rumah susunyang penghuninya cukup lama dan berasal darikalangan berpenghasilan rendah,
sehinggga inidapat mewakili keberadaan Rumah Susun yangsejenis ditempat lainnya.
Kegiatan sehari-hari yang dilakukan pada saat tinggal di rumah biasa (tidak susun) seringkali terbawa ke lingkungan rumah susun antara lain kurangnya kesadaran penghuni dalam memelihara fasilitas ruang publik yang ada seperti tidak menggunakan tempat untuk menjemur pakaian yang telah disediakan, penghuni terbiasa menjemur pakaian di jendela kamar sehingga merusak pemandangan dan dapat meneteskan air dari pakaian yang masih basah ke jendela kamar dibawahnya hal ini juga dikarenakan tersedianya ruang jemur pakaian yang biasanya tidak memadai. Selain itu tanpa disadari penghuni selalu membuang sampah atau barang tidak berharga lainnya ke luar jendela yang dapat mengganggu kenyamanan penghuni lainya khususnya yang berada dilantai bawah, hal ini juga dapat disebabkan kualitas bangunan yang serba standar sehingga mengurangi kenyamanan. Tinggal di rumah susun tidak sama dengan tinggal di rumah biasa (rumah individu), baik perilaku maupun suasana lingkungannya terlihat berbeda. Perubahan-perubahan gaya hidup, kebiasaan, dan adatistiadat sangat terasa jika seseorang berpindah dari rumah tinggal ke rumah susun. Tentunya setiap orang akan memiliki kemampuan yang berbeda dalam beradaptasi, dan tidak semua orang memiliki kemampuan melakukannya. Bagi golongan orang yang sudah erat dan tidak terpisahkan dengan tradisinya akan sulit melakukan adaptasi yang diinginkan.
Perilaku manusia pada hakikatnya mencerminkan proses interaksi individu sebagai makhluk hidup dengan lingkungannya. Rumah susun yang dibangun dan
disediakan bagi para pendatang dari berbagai daerah yang datang ke kota-kota besar. Sikap dan pola perilaku interaksi kehidupan sosial penghuni rumah susun dapat tercipta melalui proses penyesuaian lingkungan dengan cara memanfaatkan ruang publik yang disediakan secara optimal.
Menurut penulis rumah susun sewa Mariso merupakan salah satu pemecahan permasalahan akibat makin sempitnya lahan di perkotaan,tempat tinggal yang di Bangun oleh pemerintah kota Makassar untuk disediakan kepada masyarakat yang tinggal di pemukiman kumuh, masyarakat yang berpenghasilan rendah dan masyarakat pendatang dari berbagai daerah yang tidak memiliki rumah sendiri. Interaksi para penghuni rumah susun sewa di Mariso tidak terlalu baik dengan penghuni lainnya diakibatkan aktifitas pekerjaan dan kondisi rumah susun yang tidak nyama, Kondisi rumah susun yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan hadirnya fasilitas bersama, menimbulkan efek terhadap perubahan perilaku sosial penghuni rumah susun. Selain di unit huniannya, penghuni rumah susun memanfaatkan fasilitas bersama dengan mengubah setting lingkungannya menjadi ruang yang dapat mengakomodasi perilaku sosialnya. Dengan kondisi yang demikian, kemudian mereka beradaptasi agar bagaimana perilaku sosial budaya dapat diakomodasi dalam ruang- ruang interaksi yang tersedia di rumah susun tersebut. Salah satu proses adaptasi yang mereka lakukan salah satunya mengoptimalkan fungsi- fungsi selasar tiap lantai bangunan dan ruang - ruang terbuka di sekitar lantai dasar bangunan untuk berinteraksi antar penghuni. Optimalisasi fungsi-fungsi ruang telah menghasilkan ruang komunal dengan berbagai bentuk dan pola- polanya.
Sehingga pola interaksi antara penghuni rumah susun sewa masih tidak berjalan dengan baik dikarenakan karena tidak adanya tempat yang nyaman untuk bersosialisasi antara sesama penghuni, begitupun dengan keadaan ekonomi serta perilaku para penghuni rumah sususn masih perlu untuk diperbaiki.Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana “Pola Interaksi Sosial Penghuni Rumah Susun Sewa Mariso di Kecamatan MarisoKota Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini telah dirumuskan suatu masalah yaitu bagaimana pola interaksi sosial penghuni rumah susun sewa Mariso di kecamatan Mariso kota Makassar ?
C. Tujuan Penelitian
Melalui penelitian kualitatif deskriptif ini, bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola interaksi sosial penghuni rumah susun sewa Mariso di kecamatan Mariso kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber informasi untuk mengenal, memahami dan mendalami tentang pola kehidupan sosial
penghuni rumah susun sewa Mariso dan dapat menjadi bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Masyarakat
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangsi pengetahuan bagi masyarakat tentang pola kehidupan sosial penghuni rumah susun.
b. Bagi Pemerintah
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan, tambahan informasi dan pertimbangan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan serta kebijakan pada saat mendirikan rumah susun di masa yang akan datang untuk perbaikan dan pengembangan di masa depan.
c. Bagi Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta memberikan gambaran yang jelas mengenai pola kehidupan sosial penghuni rumah susun sewa Mariso.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Pola
Pengertianpola dijelaskan ensiklopediaadalah bentuk atau model (atau, lebih abstrak, suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat, yang mana sesuatu itu dikatakan memamerkan pola.
Menurut Priyatna (2013:136) pola yaitu suatu bentuk interaksi sosial pada masyarakat tertentu. Dalam kamus bahasa Indonesia (2008: 1088), pola artinya adalah “gambar, corak, model, sistem, cara kerja, bentuk, dan struktur”.Apabila kata tersebut dikaitkan dengan interaksi maka dapat diartikan pola interaksi adalah bentuk dasar cara komunikasi individu dengan individu atau individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok dengan memberikan timbal-balik antarapihak satu dengan yang lain dengan maksud atau hal-hal tertentu guna mencapai tujuan.
2. Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antar kelompok-kelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.
8
Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons. Setiadi dan Kolip (2011:64) mengemukakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan yang tertata dalam bentuk tindakan yang didasarkan pada nilaidan norma sosial yang berlaku dimasyarakat. Mustofa dan Elisa (2011:145) mengemukakan bahwa interaksi sosial adalah proses yang menyangkut interaksi antar pribadi, kelompok dan antara pribadi dengan kelompok.Murdiyatmokodan Handayani (dalam Sofiyani, 2013:13) mengemukakan bahwa
Interaksi sosial merupakan hubungan antar individu yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial antar individu, antar kelompok mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok maupun orang dengan kelompok manusia.
Interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lain, baik secara individu maupun dengan kelompok (Muslim 2013:485). Setiadi dan Kolip (2011:64) mengemukakan bahwa interaksi dikatakan normal jika interaksi tersebut berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Interaksi dikatakan tidak normal jika interaksi yang terjadi tidak berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Muslim (2013: 486) mengemukakan bahwa proses interaksi sosial dalam masyarakat memiliki ciri sebagai berikut :
a) Adanya dua orang pelaku atau lebih
b) Adanya hubungan timbale balik antar pelaku
c) Diawali dengan adanya kontak sosial, baik secara langsung.
d) Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas.
Dengan demikian, dapat diartikan bahwa didalam hubungan antara manusia dengan manusia lainnya akan melahirkan interaksi sosial. Sehingga interaksi sosial diposisikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial. Dikatakan demikian karena pada dasarnya interaksi merupakan hubungan sosial antar individu, antar kelompok, maupun antar individu dengan kelompok. Dimana interaksi antar manusia tumbuh sebagai suatu keharusan bio-psikologis manusia yang harus dipenuhi atau dengan kata lain segala tindakan manusia disebabkan karena dorongan organisasi maupun karena tuntutan lingkungan alam, hasrat- hasrat psikologis atau karena pengaruh masyarakat dan kebudayaan. Sejalan dengan hal ini E.B. Tylor (dalam Selo Sumarjan : 68) mendefenisikan kebudayaan bahwa :
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetauan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan kemampuan lain seperti kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan perkataan lain kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Senada dengan hal di atas, Selo Sumarjan dan Soelaeman (dalam Sawe 1979 : 41) mendefinisikan kebudayaan dan masyarakat bahwa :
Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar
kekuatan serta hasilnya dapat diabbdikan untuk masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas.
Didalamnya termasuk misalnya agama, ideologi, kebatinan, kesenian dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang- orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Sedangkan Masyarakat sendiri adalah sekelompok orang yang tinggal di suatu wilayah dan yang memakai suatu bahasa yang biasanya tidak dimengerti dan dimengerti oleh penduduk tetangganya.
Uraian konsep di atas dapat diartikan bahwa dalam setiap masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan sejumlah pola-pola budaya yang ideal, dimana pola-pola ini cenderung diperkuat dengan adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Dengan kata lain bahwa bertemunya berbagai masyarakat ataupun kelompok sosial pada suatu wilayah dapat menimbulkan terjadinya kemungkinan proses sosial yaitu hubungan sosial yang didasari oleh interaksi sosial yang terjadi baik yang sifatnya positif ataupun yang sifatnya negatif . Sehingga interaksi sosial diposisikan sebagai dasar atau bentuk utama dari proses sosial, karena tanpa interaksi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama, interaksi sosial juga dapat dianggap sebagai hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antara manusia sebagai anggota masyarakat. Sehingga kemudian dalam masyarakat akan menjalin sebuah hubungan yang akan berlangsung antara
anggota-anggota masyarakat baik dalam bentuk individu maupun dalam berkelompok dengan melalui proses-proses interaksi sosial masyarakat.
Untuk mencapai hal yang demikian makaTerdapat beberapa unsur dalam interaksi sosial, yakni tindakansosial,kontaksosial,komunikasi sosialdan proses sosial.
Muslim(2013:486)mengemukakan bahwa Proses interaksi sosial dalam masyarakat terjadi apabila terpenuhi dua syarat sebagai berikut:
a. Kontak sosial, yaitu hubungan sosial antara individu satu dengan individu lain yang bersifat langsung, seperti dengan sentuhan, percakapn, maupun tatap muka sebagai wujud aksi dan reaksi.
b. Komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain yang dilakukan secara langsung maupun dengan alat bantu agar orang lain memberikan tanggapan atau tindakan tertentu.
Muslim (2013:487) mengemukakan bahwa Interaksi sosial dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu asosiatif dan disosiatif. Yaitu Interaksi sosial bersifat asosiatif akan mengarah pada bentuk penyatuan. Interaksi sosial ini terdiri atas beberapa hal berikut :
1) Kerja sama(cooperation), Kerjasama terbentuk karena masyarakat menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama sehingga sepakat untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama.Berdasarkan pelaksanaannya terdapat empat bentuk kerjasama, yaitu bargaining (tawar-menawar), cooptation (kooptasi), koalisi dan joint- venture (usaha patungan).
2) Akomodasi, Akomodasi merupakan suatu proses penyesuaian antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengankelompok guna mengurangi, mencegah, atau mengatasi ketegangan dan kekacauan.Proses akomodasi dibedakan menjadi bebrapa bentuk antara lain :
(a) Coercion yaitu suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan.
(b) Kompromi yaitu, suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibatmasing-masing mengurangi tuntutannya agar dicapai suatu penyelesaian terhadap suatu konflik yang ada.
(c) Mediasi yaitu,cara menyelesaikan konflik dengan jalan meminta bantuan pihak ketiga yang netral.
(d) Arbitration yaitu,cara mencapai compromise dengan cara meminta bantuanpihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak atau oleh badan yang berkedudukannya lebih dari pihak-pihak yang bertikai.
(e) Adjudication(peradilan)yaitu, suatu bentuk penyelesaian konflik melalui pengadilan.
(f) Stalemate yaitu, Suatu keadaan dimana pihak-pihak yang bertentangan memilikikekuatanyangseimbangdan berhenti melakukanpertentangan padasuatu titik karena kedua belah pihak sudah tidak mungkin lagi maju atau mundur.
(g) Toleransi yaitu, suatu bentuk akomodasi tanpa adanya persetujuan formal.
(h) Consiliation yaitu, usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan pihak- pihak yang berselisih bagi tercapainya suatu persetujuan bersama.
3) Asimilasi , proses asimilasi menunjuk pada proses yang ditandai adanya usaha mengurangi perbedaan yang terdapat diantara beberapa orang atau kelompok dalam masyarakat serta usaha menyamakan sikap,mental,dan tindakan demitercapainya tujuan bersama. Asimilasi timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
4) Akulturasi,proses sosial yang timbul, apabilasuatukelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur- unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.
Secara teoritis, sekurang-kurangnya ada dua syarat bagi terjadinya interaksi sosial. Sebagaimana hal yang di ungkapkan oleh Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2004 : 16) bahwa :
Terjadinya Interaksi sosial dikarenakan adanya kontak sosial dan komunikasi. Dimana interaksi sosial merupakan salah satu wujud dari sifat manusia yang hidup bermasyarakat dan adapun ciri-ciri interaksi sosial yaitu :
1) ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang.
2) ada komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol.
3) ada dimensi waktu yang menentukan sifat-sifat aksi yang sedang berlangsung.
4) ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat.
Sedangkan bentuk-bentuk interaksi sosial yang paling dasar yaitu : persaingan (competition), akomodasi atau penyesuaian diri (accommodation), pertentangan dan pertikaian (conflict).
1) Persaingan dan kompetisi adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
2) Kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan seperti perbuatan menghalangi, menghasut, memfitnah, berkhianat, provokasi, dan intimidasi yang ditunjukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubahmenjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
3) Konflik adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanyasemacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.
Jadi dapat diartikan bahwa dari hubungan interaksi tersebut tingkah laku individu/masyarakat dalam hubungannya dengan individu/masyarakat lainnya maupun lingkungannya menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam berbagai faktor yang dapat menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.
Sehingga terdapat hubungan fungsional antara tingkah laku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan pelaku interaksi, yang lambat laun akan memunculkan pengaruh baik yang bersifat positif ataupun negatif. Dimana pengaruh yang sifatnya positif bisa saja bermuara pada pembentukan rasa kebersamaan/solidaritas diantara anggota masyarakat, yang mana ikatan kebersamaan/ solidaritas tersebut dapat dijadikan suatu kekuatan baik dalam menghadapi lingkungan pekerjaan maupun dalam menjalankan kehidupan sehari- hari sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain bahwa pada dasarnya interaksi sosial diposisikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial. Dimana hubungan antara manusia dengan manusia lainnya maupun masyarakat dengan masyarakat melalui hubungan sosial yang berdasar pada interaksi sosial dapat menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam berbagai faktor yang juga dapat menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.
Sehingga bentuk jalinan interaksi yang terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok bersifat dinamis dan mempunyai pola tertentu. Apabila interaksi sosial tersebut diulang menurut pola yang sama dan bertahan untuk jangka waktu yang lama, akan terwujud hubungan sosial yang relatif mapan.
Klasifikasi interaksi sosial. Berdasarkan bentuknya, interaksi sosial dapat diklasifikasikan menjadi tiga pola, yaitu sebagai berikut.
a. Pola Interaksi Individu dengan Individu
Dalam mekanismenya, interaksi ini dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan yang mengakibatkan munculnya beberapa fenomena, seperti jarak sosial, perasaan simpati dan antipati, intensitas, dan frekuensi interaksi. Jarak sosial sangat dipengaruhi oleh status dan peranan sosial. Artinya, semakin besar perbedaan status sosial, semakin besar pula jarak sosialnya, dan sebaliknya. Anda mungkin pernah menyaksikan “si kaya” (bersifat superior) yang suka menjaga jarak dengan
“si miskin” (bersifat inferior) dalam pergaulan sehari-hari karena adanya perbedaan status sosial di antara mereka. Apabila jarak sosial relatif besar, pola interaksi yang terjadi cenderung bersifat vertikal, sebaliknya apabila jarak sosialnya kecil (tidak tampak), hubungan sosialnya akan berlangsung secara horizontal.
Simpati seseorang didasari oleh adanya kesamaan perasaan dalam berbagai aspek kehidupan. Sikap ini dapat pula diartikan sebagai perasaan kagum atau senang terhadap orang lain ketika salah satu pihak melakukan sebuah tindakan ataupun terjadi interaksi di antara keduanya. Adapun antipati muncul
karena adanya perbedaan penafsiran terhadap sesuatu sehingga menimbulkan perasaan yang berbeda dengan pihak lain.
Dua orang saudara bisa saja tidak saling mengenal akibat intensitas dan frekuensi interaksi di antara keduanya tidak ada atau jarang sekali terjadi. Akan tetapi, dua orang yang baru berkenalan bisa saja menjadi sahabat bahkan saudara karena intensitas dan frekuensi interaksinya yang sering.
Pola interaksi individu dengan individu ditekankan pada aspek-aspek individual, yang setiap perilaku didasarkan pada keinginan dan tujuan pribadi, dipengaruhi oleh sosio-psikis pribadi, dan akibat dari hubungan menjadi tanggung jawabnya. Contohnya, seseorang sedang tawar menawar barang dengan pedagang di kaki lima; dua insan sedang berkasih-kasihan; orang-orang bertemu di jalan dan saling menyapa.
b. Pola Interaksi Individu dengan Kelompok
Pola ini merupakan bentuk hubungan antara individu dan individu sebagai anggota suatu kelompok yang menggambarkan mekanisme kegiatan kelompoknya. Dalam hal ini, setiap perilaku didasarikepentingan kelompok, diatur dengan tata cara yang ditentukan kelompoknya, dan segala akibat dari hubungan merupakan tanggung jawab bersama. Contohnya, hubungan antara ketua dengan anggotanya pada karang taruna tidak dikatakan sebagai hubungan antar individu, tetapi hubungan antar individu dengan kelompok sebab menggambarkan mekanisme kelompoknya.
c. Pola Interaksi Kelompok dengan Kelompok
Hubungan ini mempunyai ciri-ciri khusus berdasarkan pola yang tampak.
Pola interaksi antarkelompok dapat terjadi karena aspek etnis, ras, dan agama, termasuk juga di dalamnya perbedaan jenis kelamin dan usia, institusi, partai, organisasi, dan lainnya. Misalnya, kehidupan dalam masyarakat yang saling berbaur walaupun mereka berbeda agama, etnis atau ras; rapat antar fraksi di DPR yang membahas tentang RUU. Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan yang dikenal dengan nama interaksionisme simbolik. Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead.
Interaksi sosial merupakan suatu proses sosial. Dalam hal ini, terdapat tahapan yang bisa mendekatkan dan tahapan yang bisa merenggangkan orang- orang yang saling berinteraksi. Tahap yang mendekatkan di Rajawali dari tahap memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating), dan mempertalikan (bonding). kemudian menjajaki hubungan dengan orang lain melalui tegur sapa, saling berkenalan, dan bercerita. Hasil penjajakan ini dapat menjadi dasar untuk memutuskan apakah hubungan Anda akan ditingkatkan atau tidak dilanjutkan. Jika hubungan sudah semakin meningkat, biasanya muncul perasaan yang sama atau menyatu untuk kemudian menjalin tali persahabatan.
Pada tahap yang meregangkan, dimulai tahap membeda-bedakan (differentiating), membatasi (circumscribing), menahan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating). Contohnya, di antara dua orang yang dahulunya selalu bersama. Kemudian, mulai melakukan kegiatan sendiri-sendiri.
Oleh karena sering tidak bersama lagi, pembicaraan di antara mereka pun mulai dibatasi.Dalam hal ini, antarindividu mulai saling menahan sehingga tidak terjadi lagi komunikasi. Hubungan lebih mengarah pada terjadinya konflik sehingga walaupun ada komunikasi hanya dilakukan secara terpaksa.
Interaksi sosial dapat berjalan dengan baik ketika sistem sosial dapat dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, Sistem sosial yang dijelaskan oleh Parson melalui empat Sub sistem yang menjelaskan fungsi-fungsi utama di dalam kehidupan masyarakat yang sering disingkat dengan skema AGIL. Hal ini digunakan agar masyarakat dapat bertahan (resistance). AGIL yaitu :
(1. Adaptation (Adaptasi), sistem harus mengatasi kebutuhan situasional yang datang dari luar. Maksudya disini adalah menunjuk pada keharusan bagi sistem sistem sosial untuk menghadapi lingkunganya atau harus bisa menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan kebutuhanya.
(2. Goal attainment (pencapaian tujuan) sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya. Maksudya adalah ini merupakan persyaratan fungsional yang muncul dari tindakan yang diarahkan pada tujuan- tujuanya. Dan perhatian yang diutamakan disini bukanlah untuk tujuan pribadi, melainkan tujuan bersama para anggota dalam suatu sistem sosil.
(3. Integration (Integrasi) sebuah sistem harus mengatur antar hubungan yang menjadi komponen. Ini merupakan persyaratan atau hubungan dengan
integrasi dengan para anggota dalam sistem sosial itu agar sistem sosial itu berfungsi secara efektif sebagai satu satuan.
(4. Latency (Latensi atau pemeliharaan pola) sebuah sistem harusmemperlengkapi, memelihara dan memperbaiki baik motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi tersebut. Ini dilakukan untuk mengantisivasi bila suatu sistem itu suatu saat berantakan dan para anggotanya tidak lagi bertindak atau berinteraksi sebagai anggota sistem.(Ritzer, 2008: 121)
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tentang interaksi sosial dalam kehidupan. Interaksi yang sehat dan normal dalam masyarakat sangatlah penting untukdijaga. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan dan meminimalisir terjadinya konflik dalam masyarakat, khususnya para penghuni rumah susun rajawali di kecamatan mariso kota makassar, haruslah menjaga interaksi yang sehat satu sama lain dan hidup dalam keharmonisan untuk menjaga kestabilan dalam menghuni rumah susun maupun masyarakat sekitarya. Hal ini sangat penting dijaga dan diprhatikan oleh para penghuni rumah susun untuk bisa beradaptasi dan bertahan dalam menghuni rumah susun dalam waktu yang lama, karena dalam kehidupan sosial rumah susun sangatlah renta terjadi konflik antara sesama penghununya.
3. Rumah susun
Definisi Rumah Susun adalah “Bangunan gedung bertingkat , yang dibangun dalam satu lingkungan, yang terbagi dalam bagian-bagian yang
distrukturkan secara fungsional dan dalam arah horisontal maupun vertikal sebagai satuan-satuan yang dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama/benda bersama dan tanah bersama.”(Data UU RI No.16 Tahun 1985, tentang Rumah Susun).Jadi, pengadaan Rumah Susun, adalah didasarkan alasan penghematan lahan dan kemampuan daya tampung/kapasitas yang tinggi dari bangunannya; yang peruntukannya bagi warga masyarakat tergusur dan kalangan berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah pribadi. Kenyataan dilapangan memperlihatkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah tadi, bisa mengadaptasi pola kehidupan vertikal dalam Rumah Susun.
Sebagaimana dikatakan oleh Johan Silas dalam Darmiwati, Ratna (2000:
115-119), bahwa: ”Budaya masyarakat, bukan bersifat mikro tapi makro yang dituduhkan seakan penduduk tak dapat menyesuaikan kehidupan diatas, karena biasa hidup dibawah, tidaklah sah.
Selanjutnya bagi Rumah Susun yang warganya berasal dari lahan disekitar hunian tersebut, maka masih terdapat kesamaan lingkup sosial/budaya; sehingga penghuni hanya perlu beradaptasi untuk hidup dibangunan vertikal saja.
Sedangkan bagi Rumah susun, yang warganya berasal dari berbagai kawasan yang berbeda; terdapat perbedaan lingkup sosial/ budaya; sehingga penghuni perlu beradaptasi dalam beberapa hal, termasuk ekonominya (berkaitan dengan transportasi ketempat kerja semula, dan sebagainya).
Adapun tujuan pemerintah menempatkan warga masyarakat golongan berpenghasilan rendah/tergusur di dalam Rumah Susun adalah agar mereka, dapat
hidup secara layak dalam rumah yang sehat, manusiawi serta sekaligus menjunjung kehidupannya. (Data UU RI No. 16,Tahun 1985, Tentang “Rumah Susun”). Sebagai studi banding, ditentukan rumah susun yang penghuninya cukup lama dan berasal dari kalangan berpenghasilan rendah, sehinggga ini dapat mewakili keberadaan Rumah Susun yang sejenis ditempat lainnya.
Susunan progam ruang Rumah Susun meliputi : ”Unit Rumah Susun perlantai, selasar/ corridor, hall, ruang tangga, teras / balkon, dapur bersama, KM / WC bersama (untuk lantai II, III, IV), fasilitas/sarana penunjang kompleks Rumah Susun (sarana ibadah, pos kesehatan, ruang terbuka, telepon umum dan sarana air bersih PDAM)”. (Data “Perencanaan Pembangunan Rumah Susun Sewa”, Lab.
Perumahan dan Pemukiman ITS). Kenyataan dilapangan memperlihatkan, bahwa ruang- ruang tertentu diatas, sering dimanfaatkan untuk berkumpul warga Rumah Susun; sehingga timbul kendala-kendala yang lain; seperti kebisingan, kurang tertib dan sebagainya.
Dengan adanya dapur bersama perlantai Rumah Susun (untuk lantai II keatas), maka antar warga dapat saling mengontrol kemampuan menyajikan lauk pauk satu sama lain. Sehingga berawal dari “salah omong antar warga”, dapat menimbulkan pertengkaranpertengkaran penghuni.
Sebagai penghuni yang unit huniannya berdempetan satu sama lain, maka antar warga harus tenggang rasa yang tinggi dan dapat menekan perasaan.
Guna mewujudkan hal ini, memang sangat sulit, terlebih lagi karena warga memiliki tingkat pendidikan dan ekonomi yang relatif rendah, sehingga mudah sekali tersinggung dan wawasannya kurang luas.
Dalam hal menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan dan ruang-ruang yang dipakai bersama, memerlukan kerjasama dengan tenggang rasa yang tinggi karena menyangkut kebutuhan sehari-hari (KM/WC/Cuci/Dapur);
dan justru disinilah, awal kericuhan sering dimulai.
Semula (di kampung), rimah tinggal memiliki nilai ekonomis yang tinggi, karena hampir disetiap hunian yang dihuni banyak orang ternyata penghuninya dapat memanfaatkan space yang amat sempit tersebut untuk kegiatan usaha keluarga. Tetapi dalam unit Rumah Susun, suasana semacam ini sulit diujudkan kembali, karena kegiatan yang dilakukan akan mengganggu privasi tetangga yang saling berhimpitan huniannya, baik secara vertikal maupun horisontal.
Warga mengalami kesulitan, apabila akan mengembangkan fisik huniannya; karena mempengaruhi sistem struktur secara keseluruhan.
Adanya kendala-kendala diataslah, yang sering menyebabkan warga (setelah cukup mampu), akan mencari tempat tinggal lain didaerah pinggiran kota yang lebih menjamin masa depan keluarga.
Namun apapun alasannya, Rumah Susun sebagai alternatif peremajaan kota, telah banyak membantu terciptanya lingkungan yang bersih, tertib, berwibawa .
Selanjuntya Rumah susun dapat juga disebutsebagai permukiman dengankonsep “kampung vertikal”, meskipun demikian harus memenuhi persyaratan minimal seperti “rumah biasa”, yaitu sebagai tempat tinggal dan tempat bermukim, harus dapatmemberikan rasa aman, baik secara fisik maupun
psikologis, aman darigangguan, serta aman dalamfungsi kegiatanmenghuni, harus dapat menjadiwadah sosialisasiantara penghuni dengan penghuni lain dalam satu bangunan yang menjadi tetangganya, harusdapat memberikan suasana harmonis diantara penghuni sehingga mendukung tercapainya kehidupan yang sejahtera.
Konsep “kampungvertikal”diarahkanuntuk mempertahankankesatuan komunitas dalam bentuk “kampung asalnya”, dimana pembangunannya diprioritaskan pada
lokasidiataspermukiman kumuh perkotaan.Sasaran
utamanyaadalahpenghunikampung itu sendiri yangmayoritas pendudukyaberpenghasilanrendah (Budihardjo, 2006).Biladikaji lebih jauh,pembangunan rumah susun merupakansalahsatusistem pembangunanpermukiman fungsional yang memiliki kelebihan,antara laindapat mendukung: konsep tata ruang yangdikaitkandengan pengembangan wilayah perkotaan; peremajaan kota, yang dikaitkan denganusahapeningkatan efisiensi dan efektifitas wilayah kota; efisiensi penggunanaan lahan perkotaan.
Rumah susun menurut Undang-Undang nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun (UU No.20/2011) adalahbangunan gedung bertingkat yang di bangundalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagianyang distrukturkan secara fungsional baik dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakam satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama.
Dalam Rumah Susun (golongan berpenghasilan rendah) antar penghuninya (yang merupakan masyarakat heterogen) memiliki kecenderungan
untuk bersosialisasi satu sama lain didalam kebersamaan warga. Kebersamaan adalah suatu hubungan antar manuasia satu dengan lainnya, antar manusia dengan kelompok dan antar kelompok satu dengan kelompok lainnya; dimana hubungan ini berlangsung secara timbal balik, dan terjadi pada semua proses kehidupan.
Selanjutnya menurut Budihardjo, pembangunan rumah susun padahakekatnya merupakan jawabansebuah kebutuhan akan pemecahanmasalahperumahan di perkotaan. Disatu sisi pengadaan rumahsusun merupakan salah satu pemecahan permasalahan akibat makin sempitnya lahan di perkotaan, namun disisi lainnya pemecahan tersebut tidak selamanya dapat dikatakan berhasilterutama pada pemecahanmasalah-masalahsosial dan budayaperilakupenghuninya. Masalahsosial yangkerapkali muncul dirumah susun lebihberkaitan kepada persoalan perilakusosial budaya penghuninya.Sebelummenghuni rumah susun, calonpenghuni dihadapkan kepada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini sudah dijalaninya, misalnya berinteraksi antar tetangga denganmemanfaatkan halaman rumah atau dilorong-lorong jalan dan gang.Kebiasaan-kebiasaan itu nampaknya tidak akan dijumpai lagi saat bermukim di rumah susun.Mereka menghadapi kendala dalam saling berinteraksi, terutama karena tidak lagi dapat berinteraksi di halaman-halaman rumah.
Dengan kondisi yang demikian, kemudian mereka beradaptasi agar bagaimana perilaku sosial budaya dapatdiakomodasi dalam ruang-ruang interaksi yang tersedia di rumah susun tersebut.
4. Kebersamaan Masyarakat dalam Rumah Susun
Dari hasil survey yang pernah dilakukan, para pakar Ilmu Sosial Universitas Gajah Mada terhadap pola kehidupan sosial ekonomi golongan berpenghasilan rendah adalah munculnya suatu gambaran, yang sifatnya cukup konsisten, dimana masyarakat golongan berpenghasilan rendah ini tak pantas dikaatagorikan sebagai “gelandangan”. Istilah “gelandangan” seperti yang kita dapati di Indonesia membawa kesan seolah-olah anggotaanggota masyarakat ini memiliki sifat serba “tuna”, seperti “tuna karya”, “tuna wisma”, tuna tertib”, dan sebagainya pokoknya suatu masyarakat yang labil , yang seba tak menentu, dan yang sulit diatur. Survey-survey tadi menunjukkan betapa mereka ini umumnya punya pekerjaan, memiliki tempat bernaung, mempunyai aturan- aturan hidup bermasyarakat, dan yang terpenting, mempunyai aspirasi-aspirasi. Tentu saja semua ini dalam batasan-batasan pendapatan rendah dari pekerjaan kasar, tempat tinggal yang sangat sederhana, dan aspirasi yang alami. Artinya; dalam lingkungan keterbatasn semacam ini, suatu pola kehidupan yang sederhana tetap berlangsung dan terdapat suatu “system”, dengan kwalitas yang juga sederhana.
Sifat ini banyak membatasi arti dan kwalitas sisem kekeluargaan dan gotong royong yang ada didalamnya. Kampung kumuh yang merupakan asal mula daerah pembangunan Rumah Susun, terdapat kehidupan masyarakat kampung dengan berbagai karakteristiknya yang secara menyeluruh memperlihatkan adanya kebersamaan didalam kehidupan sehari-harinya. (Data “Urbanisasi Pembangunan dan Kerusakan Kota”, kutipan Herilianto dalam Darmiwati, Ratna dari hasil
survey pakar Ilmu Sosial UGM ). Didalam bangunan Rumah Susun inilah gaya hidup masyarakat kampung yang penuh kebersamaan, ikut terbawa masuk. Gaya hidup yang menyolok, antara lain ”guyub, komunal, dan kampungan”.
Pada awalnya, keguyuban dilakukan oleh masyarakat kampung yang bergerombol ditempat-tempat terbuka yang bersifat, “seadanya”seperti : gang gang sempit, emper-emper rumah, warung - warung, ruang-ruang terbuka dan dirumah masing- masing warga kampung. Sedangkan keguyuban yang positif, ditunjukkan pada kesediaan warga untuk bergotong royong dalam kegiatankegiatan tertentu seperti : perbaikan rumah, kenduri, khitanan, tahlilan, dan sebagainya.
Komunal, tampak pada padatnya rumah tinggal penduduk oleh beberapa Kepala Keluarga beserta anggotannya, yang masih memiliki ikatan persaudaraan; sehingga suasananya makin sesak, kotor dan tidak sehat.
Kampungan, tampak pada kebiasaankebiasaan warga yang sering bergunjing sambil lesehan (terkadang petan), dan dari cara berpakaiannya yang norak serta cara bergaulnya yang tidak intelek.Karakteristik warga yang sudah mendarah daging ini, memang tidak mudah untuk dihapuskan;
mengingat kebiasaan diatas sebesarnya menjadi matang setelah mereka hidup dikampung yang kebetulan letaknya di kota; sehingga dengan kepindahan penduduk menjadi warga Rumah Susun (yang lokasinya sama), maka seluruhnya akan juga diterapkan didalamnya. Dalam Rumah Susun, yang perencanaanya matang, kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang merupakan latar belakang kehidupannya, sengaja diantisipasi semaksimal
mungkin dan selanjutnya dituangkan kedalam tatanan dan kelengkapan ruang ruang didalam bangunan bertingkat tersebut. Jelaslah bahwa “Ruang Bersama” yang keberadaannya, tidak formal tersebut, besar menfaatnya bagi warga kampung, yang antara lain :
Tempat bersosialisasi antar warga (bernilai sosial ).
Tempat berjualan warga (bernilai ekonomi).
Tempat melangsungkan kebiasaan/tradisi setiap warga (bernilai budaya).
Suasana guyub lebih terasa lagi, bila salah satu penghuni memiliki hajat atau menerima pesanan makanan untuk kepentingan pesta, maka hampir seluruh penghuni dalam lantai tersebut akan membantu dengan sukarela; dan berlangsung dalam Ruang Bersama yang terdekat Penghuni merupakan aktor yang dominant sehingga harus bebas dalam membuat/
menentukan berbagai keputusan yang diinginkan, sesuai kebutuhannya termasuk kepentingan akan kebersamaan. Menurut Psikolog John S.
Nimpuno dikatakan : “Bahwa tingkah laku manusia tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan pada tiga sistem, yaitu sistem lingkungan hidup biofisik, sistem sosial dan sistem konsep/ orientasi budaya; dengan demikian bisa dimaklumi kalau para pendatang tersebut akan menjumpai suatu kondisi yang berbeda sekali kenyataannya dengan yang dialami sebelumnya (kaum Urbanis) didesa, dimana kebersamaan dan kesederhanaan mewarnai kehidupannya; sehingga mengalami kejutan yang berpengaruh terhadap perilaku sosialnya”
Dalam Rumah Susun (golongan berpenghasilan rendah) antar penghuninya (yang merupakan masyarakat heterogen) memiliki kecenderungan untuk bersosialisasi satu sama lain didalam kebersamaan warga. Kebersamaan adalah suatu hubungan antar manuasia satu dengan lainnya, antar manusia dengan kelompok dan antar kelompok satu dengan kelompok lainnya; dimana hubungan ini berlangsung secara timbal balik, dan terjadi pada semua proses kehidupan. Dalam artian harfiah, kebersamaan diatas, disebabkan oleh kondisi letak unit-unit Rumah Susun yang saling berdekatan satu sama lain dan adanya karakter penghuninya yang bersesuaian sehingga mudah membentuk kelompok dari yang terkecil (perlantai/ perblok Rumah Susun) hingga terbesar (komunitas warga Rumah Susun). Rumah Susun sebagai kelompok hunian, cenderung merupakan sesuatu yang fundamental keberadaannya bagi penghuninya, ditinjau dari segi fisik, psikologis, sosial dan kesejahteraan ekonomi warganya. Adanya keterbatasan warga, menyebabkan hunian dikelola dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebagai masyarakat yang punya latar belakang guyub, maka kebersamaan warga yang merupakan struktur sosial yang menonjol, dipandang perlu mendapatkan perhatian untuk dikembangkan lebih lanjut demi peningkatan kualitas kehidupan masingmasing warga.
5. Teori Interaksi Simbolik
Teori-teorisosiologi modern memiliki kecenderungan melakukan pendekatan analisis tentang masyarakat secara mikro, kurang berbentuk menyeluruh tetapi lebih mendalam dan personal. Teori interaksi simbolik itu memfokuskan kepada asal interaksi, yaitu aktivitas sosial yang bersifat dinamik dalam kehidupan para individu. Hakekat dinamik itu menunjukan bahwa segala sesuatu tentang manusia dianggap sebagai suatu proses yang selalu berubah.karena itu batasan interpretasi dan tindakannya seringkali berubah pula.
Dalam melakukan interaksi sosial. Seseorang itu akan melibatkan diri dengan orang lain, perspektif, simbol-simbol, pengalaman hidup, pikiran, dan kemampuan seseorang dalam menentukan peranannya.
Menurut george Herbet Mead (1863-1931) guru besar filsafat di university of Chicago yang memperkenalkan teori ini mengemukakan bahwa.
Teori interaksi simbolik dirangkum oleh tiga konsep yaitu pikiran, diri dan masyarakat. Dan semua mahkluk memilliki otak tetapi tidak semuanya memiliki pikiran yang muncul dari hasil manipulasi simbol-simbol melalui proses pembelajaran (sosialisasi) dan pembinaan diri.Proses interaksi pikiran manusia adalah dalam bentuk interaksi dengan dirinya sendiri, orang lain dan dengan lingkungannya yang semuanya itu dinyatakan dalam bentuk simbolik. Simbolik manusia mengungkapkan kata atau menyatakan perasaan adalah berdasarkan pada tafsiran serta pemahamannya.
Pikiran adalah interaksi simbolik dengan diri semua tindakan yang dilakukan oleh diri itu adalah tindakan pikiran. Karena itu memahami orang lain
dalam suatu keadaan tertentu akan berarti terlibat dengan aktifitas pikiran, sehingga niat, motif, tindakan dan sifat orang yang ditujukan kepada diri itu dapat dipertimbangkan serta ditafsirkan oleh pikiran.
Sedangkan herbert blumer mengemukakan, interaksionisme simbiolik sebagai suatu prespektif bertumpu pada tiga premis yang masing masing membentuk anatomi teoritik tersendiri dan terintegral dalam satu kajian yaitu;
a. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.
b. Makna tersebut bersal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain.
c. Makna makna tersebut disempurnakan disaat proses sosial sedang berlangsiung.
Makna berasal dari pikiran individu bukan melekat pada objek atau sesuatu yang interen dalam objek tetapi diciptakan oleh individu itu sendiri.
Dengan demikian, secara fundamental individu bertindak terhadap sesuatu berdasarkan pada makna yang diartikan sebagai hubungan antara lambang bunyi dengan acuanya.
B. Kerangka Pikir
Pada setiap jenis penelitian, selalu menggunakan kerangka berfikir sebagai alur dalam menentukan arah penelitian, hal ini untuk menghindari terjadinya perluasan pembahasan yang menjadikan penelitian tidak terarah atau terfokus.
Pada penelitian ini maka peneliti menyajikan kerangka pikir sebagai berikut :
Rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang di bangundalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagianyang distrukturkan secara
fungsional baik dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakam satuan- satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama.
Perilaku manusia pada hakikatnya mencerminkan proses interaksi individu sebagai makhluk hidup dengan lingkungannya. Rumah susun yang baru di bangun, disediakan bagi para pendatang dari berbagai daerah yang datang ke kotakota besar. Sikap dan pola perilaku interaksi sosial penghuni rumah susun dapat tercipta melalui proses penyesuaian lingkungan dengan cara memanfaatkan ruang publik yang disediakan secara optimal.
Kemudian interaksi yang terjadi akan membentuk proses-proses sosial yang akan terjadi pada penghuni rumah susun tersebut, proses sosial yang terjadi seperti :
a. Asimilasi yaitu proses yang dimana akan akan terjadi proses peleburan kebudayaan,sehingga pihak-pihak atau warga dari dua atau tiga kelompok yang tengah berasimilasi akan merasakan adanya kebudaayaan tunggal yang dirasakan sebagai milik bersama. Asimilasi benar-benar mengarah kepada lenyapnya perbedaan. Sehingga dengan demikian maka terbentuklah Akulturasi dalam masyarakat maupun para penghuni rumah susun tersebut.
b. Asosiatif yaitu proses yang mengindikasikan adanya gerak pendekatan atau penyatuan, sedangkan.
c. Disosiatif yaitu proses yang mengarah pada persaingan, konflik dan disatukan dengan kontravensi.
Sehingga dengan adanya interaksi dalam masyarakat tersebut melalui proses interaksi yang berupa proses asosiatif dan disosiatif dalam masyarakat maka akan membentuk sebuah pola hidup dalam masyarakat tersebut.
Gambar 1.1 Bagan kerangka pikir Rumah Susun
Interaksi Sosial
Akulturasi
Asimilasi Interaksi Asosiatif Disosiatif
Pola hidup
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif.
Faisal (2005:20) Penelitian deskriptif (descriptive research) yang biasa disebut juga penelitian taksonomik, seperti telah disebutkan sebelumnya, dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti. Penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah atau natural setting (Sugiyono, 2014: 8).
Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai di balik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada Generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna (Sugiyono, 2014: 9).
B. Waktu dan lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan, yakni bulan Juli sampai agustus 2015, di kecamatan mariso kota makassar.
35
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan dalam mengumpulkan data. Yang menjadi instrumen utama ( key instrument) dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, maka peneliti mulai tahap awal penelitian sampai pada hasil penelitian ini seluruhnya di lakukan oleh peneliti. Selain itu, untuk mendukung tercapainya hasil penelitian maka peneliti menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan.
D. Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian ini adalah pola interaksi sosial penghuni rumah sususn. Oleh karena itu peneliti menentukan informan yang dianggap bisa memberikan informasi tentang persoalan yang dimaksud, dimana informan diambil dari penghuni rumah susun dan pengelolahya serta pemerintah setempat.
Pada cara ini pertimbangan pengumpulan data yang didasarkan atas kesesuaian dengan tujuan dan maksud peneliti.
E. Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan melalui teknik wawancara terstruktur atau interview.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lanjut dan disajikan baik oleh pengumpul data primer atau oleh pihak lain. Misalnya dalam bentuk tabel atau diagram. Data sekunder dalam penelitian ini mengunakan Dokumentasi. Dokumentasi adalah proses pengambilan data dari dokumentasi yang ada di kecamatan mariso kota makassa.
Sumber data merupakan hal yang sangat penting bagi peneliti, karena ketepatan dalam memilih dan menentukan jenis sumber data akan menentukan kekayaan data dan ketepatan data atau informasi yang diperoleh. Adapun jenis sumber data secara menyeluruh dapat dikelompokan sebagi berikut :
a) Responden
Jenis sumber data yang berupa manusia dalam penelitian pada umumnya dikenal sebagai responden. Dalam penelitian ini yang menjadi responden terdiri dari beberapa informan yang meliputi: penghuni rumah sususn dan pemerintah yang ada di kecamatan marisok.
b) Dokumen dan arsip
Dokumen dan arsip merupakan bahan tertulis yang berkaitan dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu, di antaranya adalah deskripsi lokasi kecamatan
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memanfaatkan beberapa teknik, di antaranya: