BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
B. Hasil Penelitian
sehingga dapat membantu dalam pencapaian identitas.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan sebagai arahan bagi remaja tunanetra non genetik dalam pembentukan status identitas. b. Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada orangtua
ataupun pihak sekolah dalam memberikan pendampingan kepada remaja tunanetra non genetik.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. IDENTITAS DIRI
1. Definisi Identitas Diri
Identitas diri adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuart & Sundeen, 1991). Menurut Erikson, Identitas vs Kebingungan Identitas adalah tahap kelima dalam delapan tahap siklus kehidupan. Pada tahap ini, remaja mulai menentukan siapakah mereka, apa keunikannya, mencari tahu siapa dirinya, bagaimana dirinya, dan kemana ia menuju dalam kehidupannya.
Selama masa remaja, pandangan-pandangan dunia menjadi penting bagi individu yang memasuki Psychological Moratorium, yaitu kesenjangan antara keamanan masa anak-anak dan otonomi masa dewasa. Namun, selama remaja mau aktif memilih pilihan-pilihan akan mencerminkan keinginan untuk meraih identitas yang bermakna dan berusaha menjadi diri sendiri yang sebenarnya, dibandingkan berusaha menutupi identitas dirinya agar dapat diterima sosial dan dapat mengikuti keinginan sosial.
Di dalam proses mengeksplorasi dan mencari identitas, remaja seringkali bereksperimen dengan berbagai peran. Remaja yang berhasil mengatasi dan menerima peran yang saling berkonflik satu sama lain ini
memiliki identifikasi penghayatan mengenai diri yang baru yang menyegarkan, dapat diterima dan memiliki sifat yang fleksibel dan adaptif, terbuka terhadap perubahan yang berlangsung di dalam masyarakat, dalam relasi dan karier (Adam, Gulotta & Montemayor, 1992). Keterbukaan ini menjamin adanya sejumlah reorganisasi identitas sepanjang kehidupan seseorang. Sementara remaja yang tidak berhasil mengatasi krisis identitas akan mengalami kebingungan identitas. Mereka akan cenderung menarik diri, mengisolasi diri dari sosial, atau membenamkan diri dalam dunia sosial, dan kehilangan identitasnya sendiri di dalam sosialnya. Erickson (Santrock, 2007).
Dapat disimpulkan bahwa identitas diri adalah suatu tugas perkembangan pada masa remaja untuk memiliki kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian sebagai suatu kesatuan yang utuh. Identitas diri penting untuk dicapai karena remaja yang tidak berhasil mengatasi krisis identitas untuk mencapai identitas diri cenderung menarik diri, mengisolasi diri dari sosial, atau membenamkan diri dalam dunia sosial, dan kehilangan identitasnya sendiri di dalam sosialnya.
2. Aspek-aspek pembentukan Identitas
Menurut Erikson (dalam Santrock, 2002), aspek-aspek dalam pembentukan identitas :
a. Eksplorasi
Eksplorasi adalah usaha untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait alternatif pilihan dalam rangka pembentukan identitas. Semakin banyak remaja menentukan alternatif pilihan dan mengetahui masing-masing kelebihan dan kekurangannya, maka tingkat eksplorasi semakin tinggi. Pada aspek ini, terdapat dua indikator yang menunjukkan adanya eksplorasi, yaitu :
1) Penguasaan Pengetahuan
Kemampuan untuk memahami berbagai alternatif pilihan. 2) Pertimbangan Alternatif
Usaha untuk membandingkan alternatif pilihan berdasarkan kelebihan dan kekurangannya.
b. Komitmen
Komitmen adalah sebagai sesuatu sikap yang cenderung menetap dan memberikan kesetiaan terhadap alternatif yang telah dipilih dan diyakini sebagai paling baik dan berguna bagi masa depannya. Semakin banyak indikator yang muncul, maka tingkat komitmen remaja juga semakin tinggi. Indikator yang menunjukkan adanya komitmen yaitu :
1) Mengarahkan kegiatan
Usaha mengarahkan kegiatan yang sesuai dengan pilihan yang telah dipilihnya.
2) Identifikasi model
Usaha mengidentifikasi model yang dianggap sukses yang pilihan yang sama dengan dirinya.
3) Proyeksi ke masa depan
Kemampuan membuat gambaran dirinya di masa depan dengan pilihan yang dipilihnya.
4) Daya tahan terhadap goncangan
Daya tahan terhadap pilihan yang dipilihnya walaupun selama proses mengalami banyak tantangan.
3. Status Identitas
Status identitas merupakan istilah yang digunakan Marcia untuk kondisi perkembangan ego yang tergantung pada ada tidaknya krisis dan komitmen. Krisis adalah suatu periode perkembangan identitas bagi individu untuk berusaha melakukan eksplorasi terhadap berbagai alternatif untuk mengambil keputusan yang disadari berkaitan dengan pembentukan identitas (Papalia, 2008). Dan komitmen adalah sebagai suatu sikap yang cenderung menetap dan memberikan kesetiaan terhadap alternatif yang telah dipilih dan diyakini sebagai paling baik dan berguna bagi masa depannya. Menurut James Marcia, teori perkembangan identitas dari Erickson dibagi menjadi 4 status identitas :
a. Identity Diffusion
Kondisi remaja yang belum pernah mengalami krisis sehingga belum pernah mengeksplorasi berbagai pilihan alternatif ataupun membuat komitmen apapun.
b. Identity Foreclosure
Kondisi remaja yang telah membuat komitmen namun tidak mengeksplorasi pilihan.
c. Identity Moratorium
Kondisi remaja yang sudah mengalami krisis dan mengeksplorasi pilihan alternatif dari krisis tersebut namun belum memiliki komitmen yang jelas terhadap pilihannya.
d. Identity Achievement
Kondisi remaja yang telah mengatasi krisis identitas sehingga mampu mengeksplorasi dan membuat komitmen akan pilihannya.
Tabel 2.1 Status Identi tas Diri
Tabel 2.1 Status Identitas Diri
Komitmen Tidak berkomitmen
Eksplorasi Identity Achievement Identity Moratorium
4. Domain Identitas Diri
Pembentukan identitas ini akan semakin mengalami perubahan dan terus berkembang karena eksplorasi dan komitmen akan semakin meningkat. Pembentukan identitas tidak hanya dilihat dari aspek dan indikator-indikatornya, tetapi tidak terlepas dari domain yang ada di masyarakat. Domain merupakan area yang mewakili tingkat eksplorasi dan komitmen pada identitas remaja.
Menurut Erikson (dalam Santrock, 2012), domain tersebut dilihat dari alternatif pilihan identitas yang dibagi dengan cakupan dari identitas terdiri dari :
a. Vokasional/ pekerjaan
Pilihan karir/ pekerjaan saat ini atau yang diingkan di masa depan. Pilihan-pilihan pekerjaan yang ditawarkan di masyarakat mampu mendukung remaja untuk mengeksplorasi diri.
b. Politis
Keyakinan yang terkait dengan sikap dan nilai politik yang dianut dan ideal bagi dirinya jika digunakan di masyarakat.
c. Spiritual
Sikap percaya pada kekuatan yang besar dan dapat menghubungkan dirinya dengan Tuhan (Hudori, 2008). Keyakinan dan sikap terhadap agama, praktik dan perilaku yang menunjukan moralnya (Upton, 2012).
d. Relasi
Hubungan dekat dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda dibandingkan dirinya. Relasi remaja identik dengan teman sebaya (Santrock, 2012). Teman sebaya memberikan pengaruh dalam kehidupan remaja seperti mengeksplorasi banyak hal baru.
e. Prestasi
Tingkat remaja termotivasi untuk berprestasi. Kebutuhan untuk diakui dan diterima sangat penting bagi remaja, sehingga mereka ingin menunjukkan eksistensinya dengan cara mencapai prestasi.
f. Seksual
Orientasi seksual remaja cenderung mengarah pada heteroseksual, homoseksual, atau biseksual. Domain ini terlihat ketika remaja lebih berorientasi dengan lawan jenisnya.
g. Minat
Aktivitas yang disukai remaja dan membuat mereka menemukan hal-hal baru.
h. Etnis/ budaya
Latarbelakang budaya yang dimiliki remaja. Domain ini nampak jelas pada remaja dengan budaya barat dibandingkan pada remaja dengan budaya timur karena adanya mayoritas dan minoritas dari etnis tertentu (Santrock, 2012).
i. Fisik
Remaja mulai memikirkan penampilan fisiknya untuk menunjang relasinya dengan oranglain atau untuk menarik simpati lawan jenis. Remaja yang memiliki gambaran ideal tentang dirinya sendiri sejauh mana perkembangan fisiknya saat ini.
j. Kepribadian
Karakteriktik-karakteristik individual yang menentukan pola tertentu seperti, pemalu, pemarah, ramah, pencemas dan sebagainya.
Identitas diri dapat disimpulkan sebagai suatu tugas perkembangan pada masa remaja untuk memiliki kesadaran diri. Aspek identitas diri yakni eksplorasi dan komitmen, ada dan tidaknya eksplorasi dan komitmen tersebut menentukan suatu status identitas diri dari empat status pada kesepuluh domain yang dimiliki oleh identitas diri.
B. TUNANETRA
1. Pengertian Tunanetra
Tunanetra adalah istilah yang digunakan tidak hanya untuk mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup, dimana indera tersebut berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari (Soemantri, 2006).
2. Faktor - faktor Penyebab Ketunanetraan
Menurut Soemantri (2006), ketunanetraan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
a. Faktor dari dalam (internal/ genetik). Faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan. Kemungkinan karena faktor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat dan sebagainya.
b. Faktor dari luar (eksternal/ non genetik). Faktor-faktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Misalnya kecelakaan, terkena penyakit yang mengenai mata, pengaruh alat medis (tang) saat dilahirkan sehingga sistem persyarafan rusak, kurang gizi, terkena racun dan virus.
Menurut Soekini & Suharto (1977) faktor-faktor ketunanetraan tidak jauh berbeda dengan yang telah dikemukakan oleh Soemantri (2006), faktor-faktor tersebut adalah faktor endogen dan faktor exogen. Faktor endogen yaitu faktor yang erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan. Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan ini, dapat dilihat pada sifat-sifat keturunan yang mempunyai hubungan pada garis lurus, silsilah dan hubungan sedarah.
3. Klasifikasi Tunanetra
Tunanetra dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu (Soemantri, 2006) :
a. Buta (Total Blind)
Seseorang dapat dikatakan buta jika seseorang tersebut sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0). b. Low Vision
Dapat dikatakan low vision apabila masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21 atau jarak individu tersebut hanya mampu membaca headline atau judul pada surat kabar.
Dapat disimpulkan bahwa tunanetra adalah istilah yang digunakan tidak hanya untuk mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas. Tunanetra disebabkan oleh dua faktor yakni faktor genetik dan non genetik. Tunanetra juga terbagi menjadi dua jenis, yakni total
blind dan low vision.
C. REMAJA
1. Pengertian Remaja
Istilah remaja atau Adolesence berasal dari kata Latin, Adolescence (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Rice, 1996). Santrock (1996) mendefinisikan remaja sebagai tahap perkembangan dari transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa; secara biologis, kognitif, dan perubahan sosioemosional. Sedangkan menurut Hurlock (1996)
mendefinisikan remaja sebagai suatu tahap transisi ketika individu berubah secara fisik dan psikologis dari anak-anak menjadi dewasa.
Santrock (2002) mengemukakan pada umumnya masa remaja berawal pada usia 12 sampai 16 tahun dan berakhir pada usia 17 sampai 22 tahun. Masa remaja dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Masa remaja awal (12-16 tahun) yang terjadi pada masa sekolah lanjutan tingkat pertama mencakup kebanyakan perubahan pubertas. b. Masa remaja akhir (17-21 tahun untuk wanita dan 18-22 tahun untuk
laki-laki). Pada masa ini seringkali lebih nyata mencakup minat pada karier, pacaran, dan eksplorasi identitas dibandingkan dengan masa remaja awal.
Selama masa remaja, transisi untuk keluar dari masa kanak-kanak, menawarkan peluang untuk tumbuh, bukan hanya dimensi fisik melainkan juga dalam kompetensi kognitif dan sosial. Sebagian besar anak remaja mengalami kesulitan dalam menangani begitu banyak perubahan yang terjadi dalam suatu waktu (Papalia, 2008).
Disimpulkan bahwa remaja merupakan suatu tahapan perkembangan dimana terjadi transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa; yang meliputi aspek fisiologis (perubahan biologis) dan psikologis (kognitif dan sosioemosional) sehingga sebagian besar anak remaja mengalami kesulitan dalam menangani begitu banyak perubahan yang terjadi dalam suatu waktu. Masa remaja dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir.
2. Aspek-aspek masa Remaja
Dalam memandang dampak masa pubertas, seorang anak remaja mengalami perubahan sosial, kognitif, dan perubahan fisik.
a. Perkembangan Fisik
Menarche adalah awal dari masa pubertas pada anak-anak
perempuan. Sedangkan pada anak-anak laki-laki, pubertas ditandai dengan tumbuhnya kumis dan mimpi basah. Pubertas adalah suatu periode di mana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Pada periode ini anak-anak perempuan juga mulai ada pertumbuhan secara fisik seperti pada melebarnya pinggul dan munculnya kumis pada anak-anak laki-laki. Selama masa pubertas, estradiol pada wanita akan semakin meningkat hingga dua kali lipat. Estradiol akan memacu perubahan hormonal pada anak-anak perempuan yang akan menyebabkan bertambah tinggi, menarche, tumbuh buah dada dan rambut kemaluan. Sedangkan, testosterone akan meningkat 8 kali lebih banyak pada anak laki-laki yang akan menyebabkan anak laki-laki semakin bertambah tinggi dan pertumbuhan penis, testis, dan rambut kemaluan.
Perubahan-perubahan yang sangat kompleks pada masa remaja ini akan mempengaruhi aspek-aspek psikologis seorang remaja. Suatu hal yang pasti tentang aspek-aspek psikologi dari perubahan fisik pada masa remaja adalah bahwa remaja disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh mereka.
Selain itu, banyaknya perubahan fisik pada masa ini menimbulkan dampak psikologis yang tidak diinginkan akan membuat mayoritas remaja lebih banyak memperhatikan penampilan mereka ketimbang aspek lain dalam diri mereka, dan banyak diantara mereka yang tidak suka melihat apa yang mereka lihat pada dirinya. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Ketidakpuasan akan tubuhnya menjadi salah satu penyebab timbulnya konsep diri yang kurang baik dan kurangnya harga diri selama masa remaja.
Penampilan fisik seseorang dan identitas seksual merupakan ciri pribadi yang paling jelas dan paling mudah dikenali oleh oranglain dalam interaksi sosial. Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap berbagai bentuk tubuh menyebabkan remaja semakin takut bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan standart.
b. Perkembangan Kognitif
Kekuatan pemikiran remaja yang sedang berkembang membuka cakrawala kognitif dan cakrawala sosial yang baru. Pemikiran mereka semakin abstrak, logis, dan idealistis, lebih mampu menguji pemikiran diri sendiri, pemikiran oranglain, dan apa yang oranglain pikirkan tentang diri mereka serta cenderung menginterpretasikan dan memantau dunia sosial.
Piaget yakin bahwa pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman konkret aktual sebagai dasar pemikiran. Sebaliknya,
mereka dapat membangkitkan situasi-situasi khayalan, kemungkinan hipotesis, atau dalil-dalil dan penalaran yang benar-benar abstrak.
Selain abstrak, pemikiran remaja juga idealistis. Remaja mulai berpikir tentang ciri-ciri ideal bagi mereka sendiri dan oranglain dan membandingkan diri mereka sendiri dan ornglain dengan standart-standart ideal. Selama masa remaja, pemikiran-pemikiran sering berupa fantasi yang mengarah ke masa depan. Pada saat yang sama, ketika remaja berpikir lebih abstrak dan idealistis, mereka juga berpikir lebih logis (Kuh, 1991). Remaja mulai berpikir dengan menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan-pemecahan masalah secara sistematis. Selain itu, pada saat remaja adalah masa dimana anak mulai mengambil keputusan sendiri.
Pemikiran remaja bersifat egosentris yakni memiliki dua bagian (David Elkind, 1976) yaitu, penonton khayalan dan dongeng pribadi. Penonton khayalan adalah keyakinan remaja bahwa oranglain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Dongeng pribadi adalah bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan unik seorang anak remaja. Rasa unik pribadi remaja membuat mereka merasa bahwa tidak seorangpun dapat mengerti bagaimana perasaan mereka sebenarnya.
c. Perkembangan sosio emosional
Pada masa remaja, remaja mulai ingin melepaskan diri dari orangtua dan meminta otonomi bagi dirinya. Meningginya emosi remaja
karena berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru. Remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian dari pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru.
Semakin meningginya emosi dan tekanan sosial dapat di reduksi dengan rasa nyaman yang diberikan lingkungan sosial kepada remaja. Selain itu, remaja yang memiliki relasi yang nyaman dan adanya kelekatan (attachment) dengan orangtuanya akan memiliki harga diri dan kesejahteraan emosional yang lebih baik.
Attatchment yang kokoh dengan orangtua dapat menyangga
remaja dari kecemasan dan potensi perasaan-perasaan depresi atau tekanan emosional yang berkaitan dengan transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Selain itu, attatchment yang kokoh dengan orangtua juga akan meningkatkan relasi teman sebaya yang kompeten dan relasi erat yang positif di luar keluarga.
Aspek pada masa remaja dapat disimpulkan bahwa masa remaja memiliki 3 aspek yakni perkembangan fisik dimana seorang remaja akan mengalami perubahan yang komplek seperti terjadinya pubertas yang mempengaruhi aspek psikologisnya, perkembangan kognitif dimana seorang remaja sudah mampu menguji pemikiran diri sendiri, pemikiran oranglain, apa yang oranglain pikirkan tentang diri sendiri karena diusia remaja seorang individu sudah memiliki pemikiran operasional formal, dan perkembangan sosio-emosional yakni berkaitan
dengan keinginan otonomi bagi dirinya sendiri da nada tidaknya kelekatan yang mempengaruhi perkembangannya.
3. Tugas-tugas Perkembangan dalam Masa Remaja
Hurlock (1996) menjabarkan beberapa tugas perkembangan yang dilewati remaja. Menurut Hurlock, semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada penanggulangan sikap dan pola perilaku kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan Desmita (2006) yang menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap ini sangat menentukan perkembangan kepribadian masa dewasa.
Tugas perkembangan yang paling penting pada masa remaja, yaitu pencapaian identitas diri. Erikson menyatakan bahwa salah satu proses sentral pada remaja adalah pembentukan identitas diri. Apabila remaja tidak berhasil membentuk identitas dirinya, maka ia akan mengalami krisis identitas. Remaja yang tidak berhasil mengatasi krisis identitas akan mengalami kebingungan identitas yang dapat mengakibatkan individu menarik diri, memisahkan diri dari teman-teman sebaya dan keluarga, atau kehilangan identitas mereka dalam kelompok. Selain itu, Jones & Hartmann, 1988 dalam Desmita (2006) juga menyatakan bahwa pembentukan identitas selama masa remaja ini sangat penting karena memberikan suatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa.
Dapat disimpulkan tugas perkembangan remaja yang paling penting pada masa remaja, yaitu pencapaian identitas diri. Dengan pencapaian identitas diri, remaja berusaha mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa karena pada tahap ini sangat menentukan perkembangan kepribadian pada masa dewasa.
Remaja disimpulkan menjadi suatu tahapan perkembangan dimana terjadi transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa; yang meliputi aspek fisiologis (perubahan biologis) dan psikologis (kognitif dan sosioemosional) sehingga sebagian besar anak remaja mengalami kesulitan dalam menangani begitu banyak perubahan yang terjadi dalam suatu waktu. Masa remaja dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Tugas perkembangan remaja yang paling penting pada masa remaja, yaitu pencapaian identitas diri. Dengan pencapaian identitas diri, remaja berusaha mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa
D. REMAJA TUNANETRA
Semua manusia pasti menginginkan fisik yang sempurna dan memiliki diri idealnya masing-masing, tidak terkecuali para remaja. Bahkan, pada masa remaja, keindahan fisik sangatlah penting karena pada masa ini para remaja sedang mencoba mengenalkan diri pada sosial. Semua remaja mencoba segala cara agar dirinya dapat diterima dengan baik oleh lingkungan sosial. Namun, pada kenyataannya tidak semua hal yang remaja inginkan berjalan dengan
lancar. Kecelakaan dapat terjadi kapan saja, dimana saja, bahkan kepada siapa saja. Kecelakaan dapat menyebabkan banyak sekali dampak, salah satunya adalah mengalami tunanetra. Individu yang mengalami tunanetra akan memilik perbedaan dari apa yang dinilai mengenai dirinya. Mereka memiliki stigma atau pandangan-pandangan tidak produktif, tidak sempurna dan tidak berguna. Identitas yang dimiliki remaja karena disabilitasnya dapat mengganggu integritasnya (Burns, 1993).
Pernyataan diatas didukung dengan hasil wawancara dari beberapa remaja tunanetra non genetik. Pada wawancara tersebut, mereka menyatakan bahwa mereka merasa kaget dan butuh waktu yang cukup lama untuk menerima keadaan baru yang ada pada dirinya. Hal tersebut akan lebih berat dan dapat menjadi masa yang rentan bagi remaja karena pada masa remaja mereka harus mulai berani mengalami adaptasi dengan lingkungan sosialnya dan mulai berani mencari identitas dirinya dengan keadaan tunanetra yang dialaminya.
Sama seperti remaja yang tidak mengalami tunanetra, remaja tunanetra mengharapkan sedapat mungkin kepastian mengenai masa depannya. Tetapi kesempatan itu menjadi sempit dan terbatas karena adanya keadaan baru yang harus remaja tunanetra dan sosialnya terima. Apabila remaja tunanetra berusaha mengatur kembali persepsi dirinya, remaja tunanetra akan harus menghadapi terlebih dahulu ketidakpastian yang didapatkannya dari statusnya sebagai penyandang disabilitas. Remaja tunanetra akan berusaha menunjukkan pada dirinya dan oranglain tanda-tanda kemajuan dan perbaikan fungsinya, dan mungkin ia tidak dapat melihat keadaan negatif dari kondisinya, tetapi ada
sebagian remaja tunanetra yang tidak melakukan apa-apa dan selalu menyalahkan keadaan dan kekurangan yang terjadi pada dirinya dan mengalami keterpurukan karena persepsi yang dimilikinya. Hal tersebut sebagian besar tergantung pada bagaimana persepsinya pada masa lalu, dan membuat penilaian bahwa tidak mempunyai masa depan karena disabilitas yang dimilikinya (Martaniah, 2006).
E. STATUS IDENTITAS DIRI PADA REMAJA TUNANETRA NON GENETIK
Seorang remaja memasuki masa remaja berarti akan melewati suatu periode transisi, dimana secara fisik maupun psikologis individu akan berubah dari seorang anak menjadi orang dewasa. Salah satu tugas perkembangan pada masa remaja ini adalah menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif untuk mempersiapkan karir ekonomi (Hurlock, 1980).
Pada masa remaja, remaja sedang mencoba mengenalkan diri pada sosial. Semua remaja mencoba segala cara agar dirinya dapat diterima dengan