• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

C. Pembahasan

Hasil penelitian membuktikan bahwa kedua subjek memiliki perbedaan status identitas pada domain relasi sosial, prestasi, minat, fisik, dan spiritual meskipun mengalami kecelakaan yang serupa pada usia sekolah yang mengakibatkan kedua matanya mengalami tunanetra. Secara keseluruhan, status identitas identitas diri pada subjek pertama cenderung foreclosure

identity, yakni membuat komitmen tetapi tidak melakukan eksplorasi. Berbeda

dengan subjek kedua. Pada subjek kedua memiliki status identitas diri cenderung moratorium identity, yakni melakukan eksplorasi namun tidak membuat komitmen akan pilihannya.

Perbedaan status identitas dari kedua subjek ini berdasarkan dari eksplorasi/ krisis dan komitmen pada setiap domainnya. Seperti yang dijelaskan oleh James Marcia (1994), hal-hal yang ada pada krisis dan komitmen remaja digunakan untuk mengklasifikasikan seorang individu berdasarkan salah satu dari empat status identitas. Selain itu, usia subjek juga mempengaruhi. Subjek 1 kini berusia 12 tahun dan subjek 2 berusi 16 tahun. Penelitian Damon & Hart (1988) menemukan bahwa remaja berusia 14 hingga 16 tahun tidak hanya bisa mendeteksi ketidakkonsistenan yang terjadi di antara berbagai macam peran-perannya, tetapi juga lebih mengalami kesulitan dalam menghadapi kontradiksi ini dibandingkan remaja yang lebih muda (11 hingga 12 tahun) dan yang lebih tua (17 hingga 18 tahun).

Perbedaan status identitas dari kedua subjek juga dipengaruhi oleh rentaang lama kejadian. Lama kejadian dengan waktu wawancara juga dapat

mempengaruhi kondisi subjek karena lamanya kejadian dapat mempengaruhi proses mengolahan diri subjek sehingga subjek dengan rentang waktu lebih lama dapat menerima keadaannya sekarang dibandingkan dengan subjek yang mengalami kejadian dalam rantang waktu yang lebih pendek. Dalam hasil penelitian ini menghasilkan rentang waktu kejadian tidak berpengaruh dengan penerimaan keadaan dirinya sekarang sehingga hal ini juga tidak mempengaruhi pembentukan status identitas diri pada kedua subjek. Status identitas kedua subjek lebih dipengaruhi oleh kepribadian yang ada pada kedua subjek. Subjek 1 memiliki kepatuhan yang cukup pada figur otoritas dalam pemilihan keputusan dan takut akan hal baru, sedangkan subjek 2 memiliki kepatuhan yang rendah pada figur otoritas yang terlihat dari keinginan subjek yang selalu ingin merasa bebas dan memilih untuk menghindar dari tuntutan figur otoritas, sehingga subjek 2 lebih luas dalam mengeksplorasi hal-hal baru yang menarik bagi dirinya. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian Weilbre (2007) yang menyatakan bahwa couriousity padalaki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.

Dalam relasi sosial, subjek 1 dan 2 sama-sama memiliki status identitas moratorium. Moratorium adalah istilah yang digunakan Marcia untuk remaja yang berada dalam krisis, namun tidak memiliki komitmen sama sekali ataupun memiliki komitmen yang tidak jelas (Santrock, 2003). Pola asuh pada keluarga subjek 1 adalah pola asuh autoritatif, yakni mendorong remaja untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan mengendalikan tindakan-tindakan mereka. Berbeda dengan subjek 2, pola asuh pada keluarga subjek 2 adalah

pola asuh autoritarian yakni gaya yang membatasi dan bersifat mendesak remaja unutk mengikuti petunjuk orangtua dan membuat batasan terhadap tingkah laku remaja (Diana Baumrind, 1999). Gjerde, Block, & Block (dalam Santrock, 2003), menyatakan bahwa hubungan yang dekat dengan orangtua juga penting dalam perkembangan remaja karena hubungan ini berfungsi sebagai contoh atau cetakan yang akan dibawa terus dari waktu ke waktu untuk mempengaruhi pembentukan hubungan baru. Subjek 1 memiliki hubungan yang dekat orangtua dan kakaknya terlebih dengan ibunya. Berbeda dengan subjek 2 yang tidak memiliki hubungan dekat dengan orangtua maupun saudaranya. Salah satu penyebab kedekatan subjek 1 dengan ibunya adalah ibu subjek 1 seorang yang tidak bekerja dan lebih banyak meluangkan waktu untuk di rumah menemani segala aktivitas subjek 1. Ibu subjek juga mengatakan bahwa dirinya tidak dapat jauh dengan subjek 1 karena semenjak kecil subjek 1 selalu bersama dengan dirinya. Berbeda dengan subjek 2, subjek 2 tinggal bersama dengan kakek neneknya ketika siang hari karena kedua orangtuanya bekerja hingga malam hari. Seorang anak akan lebih memiliki kesempatan mendapatkan waktu lama untuk menjalin kedekatan secara emosional dengan ibunya yang tidak bekerja dibandingkan yang berkerja (Santrock, 2003). Pernyataan tersebut sejalan dengan penyataan ibunya yang mengatakan bahwa ibunya tidak memiliki waktu yang cukup bagi anak-anaknya karena ketika berangkat kerja, anak-anak masih tertidur dan ketika pulang, anak-anak sudah dengan kesibukkannya masing-masing.

Kedua subjek memang memiliki status identitas yang sama dalam domain relasi sosial, tetapi perbedaan pola asuh dan kedekatan dengan orangtua yang membuat kedua subjek memiliki perbedaan perilaku dalam menghadapi krisis. Subjek 1 tetap merasa nyaman dan terima oleh keluarganya dengan keadaan fisiknya sekarang sehingga subjek 1 tidak peduli dengan penolakan sosial yang diterimanya terlebih dari teman sebayanya. Sepertinya dijelaskan oleh Piaget (dalam Santrock 2003), hubungan orangtua-anak berbeda sekali dengan hubungan teman sebayanya karena hubungan teman sebaya bersifat sukarela tidak seperti dengan keluarga. Di dalam keluarga, subjek 1 mendapatkan tuntutan sosial yakni mencapai prestasi. Subjek 1 berusaha mencapai prestasinya karena ia takut jika keluarga yang menjadi zona nyamannya menjadi kecewa dengan dirinya dan tidak lagi mendapatkan reward dari orangtuanya, oleh karena itu subjek berusaha menggapai prestasinya bahkan ia menjalin relasi dengan teman sebayanya agar subjek 1 dapat dibantu oleh lingkungannya dalam pencapaian prestasinya. Subjek 1 juga mengarahkan diri lebih berelasi dengan teman-temannya yang tunanetra agar ia tidak diejek sehingga tidak mengganggu pikirannya dalam mencapai prestasi. Subjek 1 mendapatkan penolakan dari teman sebayanya dan lingkungannya yang terlihat dari anggapan lingkungan bahwa subjek 1 tidak dapat melakukan apa-apa lagi dan diremehkan dalam hal prestasi. Penolakan yang diterima oleh subjek 1 membuat dirinya tidak ingin bersosialisasi dengan lingkungannya. Pernyataan tersebut membuktikan bahwa subjek 1 melakukan eksplorasi namun tidak berkomitmen dalam domain relasi sosial.

Berbeda dengan subjek 2, subjek 2 lebih mendekatkan diri dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orangtuanya. Subjek 2 merasa dirinya tidak dimengerti oleh keluarganya dan selalu merasa orangtua salah menilai tetang keadaan dirinya. Menurut Elkind (2003), remaja mengalami peningkatan kesadaran diri yang tewujud pada keyakiyan mereka bahwa oranglain memiliki perhatian amat besar sebesar perhatian mereka kepada dirinya, dan terhadap perasaan akan keunikan pribadi mereka yang disebut egosentrime remaja. Salah satu bagian egosentrisme remaja berkenaan dengan perasaan keunikan pribadi yang dimilikinya dan merasa tidak ada seorangpun yang dapat memahami mereka. Egosentrisme remaja yang dialami subjek 2 tersebut membuat subjek 2 menjadi lebih berani dan mempercayai hal baru yang akan ia pilih sehingga membuat subjek 2 berani mengekplorasi dunia luarnya, termasuk dalam hal mencari pertemanan. Dalam mengeksplorasi domain relasi sosial, subjek 2 mendapatkan penerimaan dari lingkungannya bahkan teman-teman sebayanya bersedia membantu subjek 2 untuk bermain bersama, akan tetapi subjek 2 merasa minder dengan keadaan dirinya sehingga subjek 2 memilih untuk menghindari teman-teman sebayanya yang non-tunanetra. Harter (1999) mengatakan bahwa penampilan fisik secara konsisten berkorelasi paling kuat dengan rasa percaya diri pada remaja. Sikap subjek 2 menghindari pertemanan adalah salah satu bentuk subjek 2 tidak berkomitmen dalam domain relasi sosial.

Dalam domain prestasi, subjek 1 memiliki status identitas achievement. Identitas achievement adalah istilah Marcia untuk remaja yang telah melewati

krisis dan telah membuat komitmen (Santrock, 2003). Hampir sama dengan penjelasan sebelumnya bahwa subjek 1 mendapatkan tuntutan sosial yakni mencapai prestasi. Subjek 1 berusaha mencapai prestasinya karena ia takut jika keluarga yang menjadi zona nyamannya menjadi kecewa dengan dirinya dan tidak lagi mendapatkan reward dari orangtuanya. Pola asuh yang diterima oleh subjek 1 juga mempengaruhi pencapaian prestasinya. Pola asuh yang autoritatif memiliki hubungan dengan nilai yang lebih baik (Dornbusch dalam Santrock, 2003). Selain itu, ibu subjek 1 juga mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Ibu subjek tidak mengingkan anaknya seperti dirinya, sehingga ia menuntut subjek 1 untuk terus berprestasi. Bagi ibu subjek, kepintaran alah bekal yang abadi untuk anak-anaknya. Di sisi lain, subjek 1 mendapatkan penolakan dari teman sebayanya dan lingkungannya yang terlihat dari anggapan lingkungan bahwa subjek 1 tidak dapat melakukan apa-apa lagi dan diremehkan dalam hal prestasi. Subjek 1 berpikir bahwa jika dirinya dapat meraih prestasi dengan baik maka lingkungan yang menolak akan menjadi kagum dengan dirinya. Sehingga subjek 1 mau berusaha dan berkomitmen untuk mencapai prestasinya.

Pada subjek 2, status identitas yang dimiliki di domain prestasi adalah identitas moratorium. Identitas moratorium adalah istilah yang digunakan Marcia untuk remaja yang berada dalam krisis, namun tidak memiliki komitmen sama sekali ataupun memiliki komitmen yang tidak jelas (Santrock, 2003). Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa egosentrisme remaja yang dialami subjek 2 tersebut membuat subjek 2 menjadi lebih berani dan

mempercayai hal baru yang akan ia pilih sehingga membuat subjek 2 berani mengekplorasi dunia luarnya (Elkind, 2003). Subjek 2 memiliki kemauan untuk eksplorasi diri yang terlihat dari kemampuannya mengarahkan dirinya dalam pencapaian prestasi tetapi tidak ada suatu tuntutan sosial yang menuntut subjek 2 dalam domain prestasi.

Subjek 1 memiliki status identitas diffusion pada domain minat. Identitas diffusion adalah istilah yang digunakan oleh Marcia untuk remaja yang belum pernah mengalami krisis atau membuat suatu komitmen. Subjek 1 tidak memperdulikan minatnya karena bagi subjek 1, minat tidak penting dan ia tidak ada tuntutan pada domain minat sehingga memilih untuk lebih fokus dan mengarahkan tenaga untuk pencapaian prestasinya. Pada subjek 2, status identitas di domain minat adalah moratorium. Dengan dasar kemauan subjek 2 dalam mengekplorasi, subjek 2 memiliki kemauan untuk mencari dan mencoba hal-hal baru yang menjadi ketertarikannya dalam minat. Subjek 2 dengan teman sebayanya juga saling mempengaruhi dalam domain ini. Subjek 2 mengikuti sosialnya dalam mengarahkan minatnya sejalan dengan pernyataan Harter (1999) bahwa remaja merasa lebih percaya diri dalam memilih pilihan jika mendapatkan dukungan teman sebayanya, namun subjek 2 merasa malas bertahan sebab dirinya cepat bosan dan tidak mendapatkan tuntutan dari sosialnya. Subjek 2 mengalami proses eksplorasi, namun tidak memiliki komitmen sama sekali ataupun memiliki komitmen yang tidak jelas.

Pada domain fisik, subjek 1 memiliki status identitas foreclosure, yaitu telah membuat suatu komitmen namun tidak melalui eksplorasi (Santrock,

2003). Hampir sama pada domain minat, subjek 1 lebih mementingkan pencapaian identitasnya karena ia merasa akan membuang waktu jika memikirkan atau mencari pengobatan. Subjek 1 lebih memilih waktunya dipakai untuk belajar karena adanya tunutan dari zona nyamannya dan mendapatkan reward dari pencapaian identitas. Sedangkan subjek 1 tidak mendapatkan tuntutan untuk kesembuhan pada dirinya, subjek 1 diterima dengan baik oleh keluarganya yang menjadi zona nyamannya. Selain itu, subjek 1 juga merasa menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan dahulu sebelum tunanetra. Pada domain ini, subjek terlihat tidak bersemangat ketika peneliti menanyakan mengenai ekstakulikuler dan minat yang menjadi ketertarikannya. Subjek cenderung mengulangi jawaban-jawaban yang sama.

Berbeda dengan subjek 2. Subjek 2 cukup antusias ketika peneliti menanyakan tentang minatnya. Subjek 2 juga terlihat bersemangat ketika menceritakan persiapan lomba yang ia pilih untuk diikutinya. Subjek 2 memiliki status identitas moratorium pada domain fisik. Adanya egosentrime remaja (Elkind, 2003) yang dialami subjek 2 sehingga tidak mempercayai nasehat orangtuanya dan mempercayai hal baru yang akan ia pilih sehingga membuat subjek 2 lebih memilih menanyakan keadaan fisiknya kepada teman sesama tunanetra karena subjek 2 berpikir bahwa teman tunanetra lebih memiliki perasaan yang sama dibandingkan orangtuanya dan rasa tidak ingin dibatasi oleh orangtuanya jika bercerita tentang keadaan dirinya. Stenberg (1988) menyatakan bahwa salah satu sebab dari perubahan pada remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orangtua dan remaja adalah adanya pergerakan

menuju kebebasan. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya eksplorasi dalam domain ini. Ketidakmauan subjek menceritakan keadaan fisiknya kepada orangtuanya membuat subjek 2 menjadi tidak memiliki daya dalam pengambilan keputusan karena pengobatan subjek 2 berkaitan dengan biaya dan persetujuan dari orangtuanya. Dalam keadaan tersebut, subjek 2 berada dalam krisis antara keinginan untuk berobat karena merasa cemas dan tidak nyaman jika berada di teman-teman dan lingkungannya non-tunanetra tetapi ia tidak ingin dibatasi oleh orangtuanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya komitmen dalam domain ini.

Subjek 1 juga memiliki status identitas foreclosure pada domain spiritual. Subjek 1 tumbuh di lingkungan dengan keyakinan spiritual yang sama dengan dirinya, yakni keyakinan akan agama Islam, sehingga subjek 1 belum memiliki kesempatan mengeksplorasi keyakinan lain. Subjek 1 tumbuh dengan pengajaran yang diberikan oleh orangtuanya dan merasa nyaman dan aman di dalam keyakinannya sehingga tidak mengalami adanya krisis. Dalam proses wawancara, subjek 1 menjadi pendiam. Subjek 1 hanya menjawab beberapa patah kata, berbeda pada domain lainnya. Subjek 1 juga beberapa kali menunduk dan memperlihatkan mimic muka seakan takut untuk menjawab.

Subjek 1 memiliki tuntutan dari zona nyamannya, yakni orangtuanya agar menjadi anak yang beragama baik sesuai dengan ajaran keyakinannya. Kedekatan antara orangtua dan subjek membuat keberhasilan internalisasi dari orangtua kepada subjek sehingga subjek dapat langsung berkomitmen dengan keluarganya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas yakni hubungan yang dekat

dengan orangtua juga penting dalam perkembangan remaja karena hubungan ini berfungsi sebagai contoh atau cetakan yang akan dibawa terus dari waktu ke waktu untuk mempengaruhi pembentukan hubungan baru (Gjerde, Block, & Block dalam Santrock, 2003). Berbeda dengan subjek 2, subjek 2 mendapatkan kesempatan untuk berelasi dengan lingkungan yang memiliki keyakinan lain dengan dirinya, selain itu subjek 2 juga memiliki rasa keingintahuan yang cukup akan hal baru. Selain dapat mengeksplorasi dalam domain ini, subjek 2 juga sudah paham dengan keyakinan yang dianutnya dan mempercayai bahwa keyakinannya menjadi landasannya dalam menghadapi kehidupannya.

93

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait