BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
4.4. Hasil Penelitian
4.4.1. Keeksistensian Punk di Medan
Medan sebagai kota besar ketiga di Indonesia, pasti tidak lepas dari banyaknya aliran gaya hidup yang masuk ke dalamnya. Komunitas punk di Kota Medan muncul di awali dengan adanya komunitas underground. Komunitas underground merupakan komunitas dari band-band yang memiliki aliran musik rock. Di dalam hal ini musik punk merupakan bagian dari musik rock. Oleh karena itu sekumpulan orang yang menyukai musik punk merupakan bagian dari komunitas underground. Pada komunitas underground, penyuka musik punk disebut punker. Para punker yang merupakan pendahulu kota medan sering disebut pioneer. Pada awalnya poneer memiliki satu sekretariat dan sejak tahun 2001 sekretariat sudah tidak digunakan. Hal ini disebabkan karena jumlah para punker yang meningkat, sehingga membuat scene masing-masing.
Scene merupakan tempat berkumpul bagi para punker, scene merupakan kelompok-kelompok kecil dari keseluruhan komunitas punk di kota Medan. Keberadaan komunitas anak punk Medan adalah salah satu bukti betapa banyaknya gaya hidup yang mulai berkembang di kota Medan. Tidak bisa dipungkiri memang keberadaan komunitas anak punk di Medan yang sudah sejak lama tumbuh. Mereka memiliki beberapa komunitas dengan berbagai nama tapi dengan tujuan yang sama yaitu menjunjung tinggi gaya hidup punk entah itu gaya berpakaian ataupun selera musik cadasnya.
Pada awalnya komunitas Punk di Kota Medan memiliki satu scene, yaitu di Jalan Abdullah Lubis. Sejalan dengan semakin bertambah jumlah Punk di Kota Medan, tempat berkumpulnya para punker tersebut semakin menyebar, seperti di pringgan, Dr. Mansyur, dan lainnya. Dari hasil observasi saat ini terdapat tujuh scene di Kota Medan, yaitu di simpang aksara, Titi Kuning, Juanda, Brayan, Setia Budi, Simpang Pemda dan Cemara Asri. Scene dibentuk sebagai tempat berkumpul para punker pada masing-masing bagian di daerah Kota Medan. Scene juga dijadikan sebagai tempat bertemu dan berinteraksi antara punker di dalam scene maupun dengan punker yang berasal dari scene lain bahkan dari kota atau negeri lain.
Gaya berpakaian mereka yang identik dengan gaya urakan, sering kali membuat masyarakat resah. Mereka sering dianggap sampah masyarakat yang tidak berguna dan hidupnya hanya untuk foya-foya saja. Padahal selain sisi negatif yang terlihat dari luar, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pembelajaran dari mereka.Keberadaan anak punk Medan bisa dikatakan sudah memiliki umur yang tidak muda lagi. Perkembangan gaya hidup yang memiliki ciri khas tersendiri ini sudah sejak lama mulai menampakkan geliatnya.
Tercatat ada beberapa komunitas anak punk di Medan seperti Freedom Fighter Collective, Juanda Squad, Sutomo Crew, Padang Bulan Squad, Griya Squad, Ayahanda Crew, Aksara Squad, Titikuning Squad, Helvet Squad dan masih banyak yang lainnya dan belum menampakkan dirinya. Beberapa komunitas ini keberadaannya menyebar di seluruh
penjuru kota Medan. Rata-rata mereka memiliki markas tersendiri untuk berkumpul dan melakukan aktivitas lainnya.
Awalnya pembentukan komunitas “Punk” tersebut terdapat prinsip dan aturan yang dibuat dan tidak ada satu orangpun yang menjadi pemimpin karena prinsip mereka adalah kebersamaan atau persamaan hak diantara anggotanya. Dengan kata lain, “Punk” berusaha menyamakan status yang ada sehingga tidak ada yang bisa mengekang mereka. Sebenarnya anak “Punk” adalah bebas tetapi bertanggung jawab. Artinya mereka juga berani bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang telah dilakukannya. Karena aliran dan gaya hidup yang dijalani para “Punkers” memang sangat aneh, maka pandangan miring dari masyarakat selalu ditujukan pada mereka. Padahal banyak diantara “Punkers” yang mempunyai kepedulian sosial.
Komunitas anak “Punk” mempunyai aturan sendiri yang menegaskan untuk tidak terlibat tawuran, tidak saja dalam segi musikalitas saja, tetapi juga pada aspek kehidupan lainnya. Dan juga komunitas anak “Punk” mempunyai landasan etika ”kita dapat melakukan sendiri”, beberapa komunitas “Punk” di Titi Kuning kecamatan Medan Johor. Komunitas tersebut membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian berkembang menjadi semacam toko kecil yang disebut distro. Tak hanya CD dan kaset, mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Produk yang dijual seluruhnya terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau.,Kemudian hasil yang didapatkan dari penjualan tersebut, sebagian dipergunakan untuk membantu dalam bidang sosial, seperti membantu anak-anak panti asuhan.
Saya mewawancarai seorang punker yang bernama Tulank lelaki berusia 30 tahun, Lahir di kota Kabanjahe. Tulank mengenal Punk pertama kali melalui seniornya ketika berada di bangku SMP. Kira-kira umur 14 tahun, pria asli bernama Persma Maha mulai jatuh
cinta dengan punk pada saat itu. Tulank mempunyai dua putri yang memiliki usaha kreatif sablonan dan segala macam karya yang dibuat dengan hasil karya tangan Tulank sendiri. Usaha sablon dijalaninya hampir 7 tahun berawal dari usaha kecil. Setelah menjadi kepala rumah tangga tidak mungkin bergantung hidup di musik saja untuk memenuhi kebutuhan keluargannya.
“kita punya keterampilan lain, bisa buka usaha, ya kenapa gak kita manfaatkan aja. Kayak aku ini buka usaha sablo, ya selama gak bertentangan sama semangat punk itu ya gak masalah. Masak mentang-mentang punk, jadi harus mati-mati di punk aja. Apalagi kayak aku udah berkeluarga, ya harus kreatif nyari tambahan duit”
Saya juga mewawancarai tulank tentang keeksitensian komunitas-komunitas dan juga perkembangan punk yang ada di medan, Tulank menceritakan bagaimana seseorang yang menjadi anak punk Medan seperti berikut:
“Punk itu dimana saja pun bisa, karena punk adalah sesuatu yang fleksibel,tapi juga ada hal yang serius, jadi di mana pun berada, punk pasti bisa dan jalanan bisa menjadi salah satu tempat untuk punk dalam melakukan counter coulture (budaya perlawanan), terhadap budaya mainstream (kapitalisme), sedangkan jalanan belum tentu bisa dikatakan punk, karena banyak hal yang bisa terjadi dijalanan, dan itu gak mungkin semua dilakukan atas nama punk atau counter coulture, dan jalanan pasti bisa merubah pemikiran sikap serta kehidupan seseorang, tapi tergantung individunya, kalau dia hanya menjadikan jalanansebagai pelarian maka itu takkan lama, karena cepat atau lambat orang itu akan merasa bosan dan tak mendapatkan apa pun hanya sekedar happy happy saja, dan ditambah lagitidak adanya keinginan untuk tau atau mau belajar tentang apasih itu punk dan keraasnya hidup ini maka orang itu hanya terlena dalam hedonisme jalanan saja”.
Sambil mengerjakan baju yg sedang disablonnya Tulank meneruskan ceritanya sambil sesekali mengeluarkan candaan yng membuat kami yang ada di rumah Tulank tertawa, dan sambil terus melanjutkan ceritanya tentang punk. Seperti berikut ini :
“Ya punk bisa dikatakan juga sebagai pelarian dimasa muda saja, tapi sebaliknya kalau kita menjadikan jalanan itu sebagai musisi cadas musisi jahanam wadah atau tempat kita untuk belajar, pasti banyak hal-hal positif yang bisa kita dapatkan, jalanan adalah tempat kita berbagi, merasakan, atau pun mencari apapun yang kita inginkan tapi tetap, haruslah tetap dalam etos punk, jalanan adalah tempat yang sangat luas dan terdiri dari berbagai macam ragam tipe manusia yang ada didalamnya jadi buat teman-teman punk yang sudah lama ataupun baru saja turun kejalanan mungkin sudah uambisa untuk saling membagi apa yang kita ketahui bersama dan mencari tahu apa saja yang belum kita ketahui punk bukan OKP (organisasi kepemudaan) yang dibuat untuk melancarkan kepentingan penguasa dan dibangun dalam karakter yang
militeristik dan kekerasan pun di jadikan cara untuk menyelesaikan permasalahan, jalanan adalah tempat kita untuk menumpahkan segala keresahan yang ada didalam jiwa dan pikiran kita tempta kita mengekspresikan segala bentuk perlawanan kita, terhadap musuh yang harus kita ketahui bukan kita malah membuat konflik sesama kita, street punk bukan pelarian atau sekedar penampilan yang ekstrim saja. Street punk adalah budaya perlawanan terhadap rusaknya tatanan kehidupan yang diterapkan oleh penguasa untuk menindas rakyatnya, street punk takkan pernah mampus berontak.. melawan...mandiri... bertahan”.
Sambil sibuk dengan alat-alat sablonannya, Tulank juga sedikit bercerita tentang pertama kali punk muncul di Medan, seperti berikut:
“Sedikit cerita tentang scenes punk (Scene merupakan tempat berkumpul bagi para punker, scene merupakan kelompok-kelompok kecil dari keseluruhan komunitas punk) di Medan tapi mungkin tidak secara lengkap atau detail bisa ku ceritakan maklumlah, aku juga bukan generasi prtama dari scenes punk Medan ini, jadi mungkin tidak terlalu detail yang bisa aku paparkan, Kalau enggak salah scene punk Medan pertama kali muncul sekitar awal atau pertengahan tahun 90’an dibawa oleh anak-anak medan yang sekolah atau pun berkunjung dari pulau Jawa. Dan meluas sampai kepinggiran kota Medan, Tanjung Morawa adalah salah satu kota yang scenenya juga sudah cukup lama ada. Scene awal dikota ini ada namanya Inalum Brother Hood tapi sekarang sudah tidak ada lagi, tapi orang-orangnya masih ada yang beratahan sampai sekarang, ada juga namanya Mcp (Medan City Punk) ini juga sudah tida ada lagi sekarang, ada juga scene didekat rumah sakit Malahayati, yang konon mereka mengatakan dirinya Nazi punk sebuah ketololan atau kegoblokkan pada waktu itu, ya tapi itulah pada waktu itu, punk di kota medan ini tak ubahnya hanya sekedar musik dan fashion saja ditambah lagi pada waktu itu sifat senioritas yang masih sangat kental di setiap scene yang ada dan punk seperti militer saja pada waktu itu karena biala ada yang mau masuk ke komunitas atau scene punk dia harus melewati seperti ospek pelonco dari seniornya dan hal sangat menggelikan dan pasti membuat kalian tertawa”.
Tulank melanjutkan ceritanya sambil mengambil sebatang roko dari kantongnya dan menghidupkannya. Seperti berikut ini cerita yang tulang sampaikan :
“ waktu itu ada beberapa punk’s yang ada disetiap scene wajib pakai kartu tanda pengenal punk alias KTP punk jadi yang tidak memiliki itu belum sah jadi punk ada scene yang namanya RASCAL scene ini juga sudah tidak ada lagi sekarang mungkin memang karena pada waktu itu arus informasi tentang punk sangat kurang di kota ini jadi banyak sekali kekurangan yang terjadi disini tapi pada waktu itu zines juga sudah ada, kalau enggak salah namanya SIAMBALANGAN ZINES, ini pun sudah tak ada lagi sekarang, BRONTAK ZINES dan masih ada sampai sekarang recordnya juga sudah ada pada waktu itu namanya SIB BABAMI Record tapi sekarang aku tak tau lagi bagaimana kabarnya soalnya tidak ada rilisan yan mereka buat lagi. Pada akhir 90 an sampai awal 2000 an muncullah scene atau kolektif SARAFS (satu rakyat anti racis facis), dari komunitas inilah punk di Medan agak mengalami perubahan dan perkembangan, di mana scene ini mencoba untuk menjadikan punk bukan sekedar musik atau fashion saja, mereka sering melakukan kegiatan di luar musik, misalnya
mereka sering membuat diskusi rutin untuk menggali dan lebih mempelajari lagi apa itu punk yang seharusnya di jalankan, mereka juga sering terlibat dalam aksi untuk turun ke jalan, atau berdemonstrasi, menuntut apa yang seharusnya kita perjuangkan bersama, sarafs juga memiliki zines, namanya KEBEBASAN ZINE, dikolektif itu juga sudah ada yang nyablon dan membuat barang-barang lokal, tapi sekarang kolektif ini sudah vakum, tapi orang-orangnya masih ada yang bertahan sampai sekarang”.
Dari paparan dan hasil wawancara dengan punker yang bernama Presma Maha (Tulank) peneliti dapat mengetahui asal mula masuknya scene punk pertama kali di kota Medan.
4.4.2. Keeksistensian Punk di kelurahan Titi Kuning kecamatan Medan Johor Keeksistensian punk di Medan berkembang keseluruh daerah-daerah yang ada di Medan terutama di kelurahan Titi Kuning kecamatan Medan Johor Komunitas punk didaerah ini rupanya tetap menjunjung tinggi motto hidup anak punk di seluruh dunia yaitu DIY yang memiliki kepanjangan arti “Do It Yourself”. Arti dari motto itu bukan hanya mengerjakan semuanya sendiri dalam artian mandiri atau kebebasan, tapi lebih luas ke arti memiliki kebebasan dalam berpelilaku tapi memiliki tanggung jawab. Rasa tanggung jawab di sini diartikan sebagai tanggung jawab untuk persatuan semua golongan anak punk dan tidak membuatnya terkotak-kotak karena perbedaan. Semua setara dan tidak ada yang membedakan mereka satu sama lainnya.
Ada banyak kegiatan komunitas punk dikelurahan Titi Kuning kecamatan Medan Johor yang dilakukan. Kegiatan itu kebanyakan memang dilakukan untuk mencari uang sebagai bekal agar komunitas mereka tetap bergerak. Yang lebih salut lagi mereka tidak meminta-minta kepada pemerintah atau orang lain. Mereka berusaha sendiri untuk mendatangkan uang, sama seperti motto mereka yaitu do it yourself. Setiap dari komunitas itu biasanya memiliki band dengan genre punk. Untuk menyebarluaskan lagu-lagu yang mereka ciptakan, dilakukan dengan merekamnya tanpa bantuan orang lain alias dari komunitas mereka sendiri. Setelah tercipta, mereka biasanya menjualnya di dalam distro khusus anak
punk yang mereka bentuk sendiri juga. Di distro itu mereka menjual berbagai aksesoris punk untuk para penggemarnya.
4.4.3. Faktor yang Mempengaruhi Seseorang Ikut dalam Komunitas Punk Banyak faktor mengapa seseorang ikut dalam sebuah komunitas punk. Antara lain karena mereka mempunyai sebuah tujuan dan ideologi yang sama. Sehingga mereka mudah menerima sebuah golongan yang dianggap sebagai sesuatu yang sama, yaitu tujuan yang ingin di capai. Ada juga yang tertarik dari motto komunitas punk, yaitu Equality atau persamaan hak. “Aliran Punk lahir karena adanya persamaan terhadap jenis aliran musik Punk dan adanya gejala perasaan yang tidak puas dalam diri masing-masing. Sehingga mereka mengubah gaya hidup dengan gaya hidup Punk. Di sisi lain ada juga komunitas punk ini yang mempunyai kegiatan positif.
Misalnya Tulank dan ogex adalah contoh kecil kenapa mereka harus memilih punk sebagai prinsip hidup mereka yang berlandaskan DIY (do it yourself ). Mereka besar di masyarakat yang mengkulturkan penyeragaman selera. Masyarakat yang terlalu munafik untuk hal-hal yang dianggap ” tabu “. Mereka memberontak dengan setiap kekuatan yang mereka miliki yaitu memilih etika punk sebagai jalan hidup mereka. Penampilan mereka dan cara hidup mereka sebagai counter cultur terhadap penyeragaman selera. Sebagai manusia biasa dan makhluk sosial yang punya perasaan, mereka memilih punk bukan untuk pelarian semata tapi self difennce mereka terhadap serangan-serangan pengekangan ekspresi diri ( offence of cultur mainstream ) , penyeragaman selera, dan cultur budaya ” mapan “yang di ciptakan oleh mayoritas masyarakat. Tulank dan ogex bukanlah pemuda-pemuda yang lari dari tanggung jawab. Pemuda yang cengeng atau masih menjadi benalu bagi orang tua mereka. Dengan etika DIY ( do it yourself / berdikari) dan prinsip yang mereka miliki memberikan sesuatu yang berarti dalam hidup mereka.Tulank adalah ayah dari dua orang
putri, tulank sering bermain musik dan membuka usaha sablon. Sedangkan ogex adalah seorang pemuda berusia 22 Tahun.
Mereka memilih punk bukan karena terpaksa atau sekedar ikut-ikutan saja, punk bagi mereka cara menyikapi hidup dengan tidak tergantung kepada orang lain dengan terjemahan yang sangat sederhana yaitu mandiri. Hari-hari mereka pun tidak selalu berpenampilan punk saja. Hari biasa mereka berpenampilan layaknya orang normal lainnya. Mereka mempunyai jadwal yang rutin seminggu sekali, untuk melepas kepenatan dan bercanda tawa di pinggiran trotoar.
Disaat anak-anak muda yang lain lebih memilih diskotik atau tempat hiburan lainnya. Mereka memilih jalanan sebagai tempat mereka berbaur bersama dengan kawan-kawan street punk simpang Titi Kuning yang juga masing-masing dari anak-anak punk ini mempunyai profesi yang berbeda di keseharian mereka. Ada yang bekerja sebagai karyawan swasta, mahasiswa, tukang sablon, tukang parkir, pelajar dll. Berdasarkan pengalaman penulis ke lokasi dimana mereka sering nongkrong, ternyata mereka adalah sosok-sosok yang sangat humoris bersahabat dan cerdas, sangat beda dengan kesan dari luar yang terlihat sangar dan menyeramkan, perasaan mereka lebih lembut dari yang dapat kita banyangkan.
Ogex seorang pemuda berusia 22 Tahun menggukapkan penyebab mengapa dia masuk kedalam komunitas punk. Berikut ini pernyataan ogex:
“aku masuk komunitas punk udah ada 7 tahunanlah, pertama kali aku masuk komunitas punk aku mencari jati diri ku di punk ini. Ya pertama-pertama memang ikut-ikutan tapi disinilah aku temukan jati diriku. Di punk ini aku bisa bebas jadi diriku sendiri”.
Sedangkan ilham pemuda berusia 23 Tahun juga bercerita tentang mengapa dia masuk kedalam komunitas punk. Berikut ini pernyataan ilham ketka saya wawancarai:
“aku dari tahun 2004 udah ada di komunitas punk. Aku masuk komunitas punk karena kemauan jiwa ku yang menuntun ku ke komunitas punk. Kayaknya memang udah panggilan jiwa kali ya. Kulihat dan kudengar banyak pemuda yang menemukan jati diri mereka setelah masuk dalam komunitas punk. Aku alami sendiri setelah masuk kedalam komunitas punk aku jadi lebih peduli terhadap orang lain, banyak kali ku
lihat masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Banyaklah wawasan yang kudapat setelah aku masuk komunitas punk. Bukan kayak yang dibilang masyarakat kalok punk ini Cuma negatif aja.
Namun ketika hantaman labelisasi dan pencitraan tak berimbang oleh media juga golongan masyarakat yang mempunyai ideologi ” mapan ” . Mereka di jadikan tumbal dari “kegagalan” sistem penerapan budaya normal yang di dengungkan masyarakat umum dan pemerintah. Sehingga membuat golongan ini ( punk ) sebagai budaya yang tidak di inginkan karena merupakan budaya impor dari luar. Hal ini menjadikan mereka menjadi pribadi-pribadi yang terkekang kebebasan ekspresinya dalam berpenampilan. oleh masyarakat yang menjunjung norma dan adat istiadat ketimuran. Padahal menjadi punk bukan bagaimana kamu harus mirip menjadi punk rock star, tapi bagaimana kamu menghilhami diri, menggali potensi yang ada, percaya dengan do it your self yang di pegang. Dan jika di ambil benang merah dari ” kegagalan ” budaya normal tadi, indikatornya bukan terletak pada bagiamana cara berpakaian anak-anak ini. Tapi kemampuan generasi muda itu memahami dan menyerap setiap budaya dari luar, dan di terjemahkan ke dalam ruang berpikir yang luas. Tapi akhirnya kemunafikan masyarakatlah yang tidak memberikan ruang untuk memberi kebebasan berekspresi. Berpenampilan aneh, seronok = sesuatu yang tidak baik dan akan di cap sebagai minor personal. Jika kita berpikir tenang dan mau terbuka dengan lapang dada. Bukankah ” kemandirian ” generasi muda yang menjadi modal awal suatu bangsa, selain faktor yang lain.
4.4.4. Keterkaitan Punk dengan Teori yang dipakai untuk menganalisis
Telah dijelaskan pada bagian sebelumnya tentang awal mula munculnya ideologi punk. Kelahiran punk yang dijelaskan tadi membawa banyak perubahan sosial yang ternyata tidak hanya di Inggris saja. Ideologi ini menyebar keseluruh belahan dunia dari barat sampai ke belahan timur dunia. Ideologi punk terbentuk secara tidak langsung akibat dari aksi komunitas street punk yang sangat frontal terhadap pemerintahan di negara bagian eropa.
Aksi punkers ( sebutan untuk anak punk) menolak adanya pemberlakuan pajak yang tinggi, anti kapitalis, menginginkan adanya chaos, menolak dan mengecam paham Nazisme dan Fasisme dalam pemerintahan Inggris. Menentang keras Imprealism beserta politik
Apartheid, menolak adanya paham Feodalism, tidak menginginkan dipakainya paham Neoliberalism sebagai paham ekonomi di seluruh negara sebagai bentuk dari perdagangan
bebas, serta tidak menginginkan pemerintahan yang me”marjinal”kan masyarakatnya. Aksi komunitas punk yang turun ke jalan bersama dengan kaum skinhead (kaum dari kalangan pekerja dan buruh ) pada akhirnya membuahkan hasil di mana adanya penghapusan pahamFasisme dan Nazisme di Eropa. Ikut melawan rezim militer di Rusia, ikut melatar belakangi penghancuran tembok berlin di Jerman sebagai bentuk penghapusan kedua paham tadi di Eropa dan masih banyak aksi – aksi lainnya pada masa sekarang ini seperti melawan lembaga dunia WTO ( World Trade Organization ) yang merupakan lembaga pengelola perdagangan bebas. Kemudian pada perkembangan selanjutnya banyak aktivis, kaum cendikiawan dan terpelajar, buruh, tani, nelayan, serta kaum dari golongan masyarakat kalangan menengah ke bawah yang ikut bergabung dalam perjuangan kaum punk dan Skinheads ini seperti organisasi Black Bloc. Dalam sejarahnya, aksi ini mempunyai jumlah massa terbesar di dunia.
Pada masa sekarang muncul berbagai macam komunitas punk. Ada yang melanjutkan cita – cita para pendahulunya dengan tetap membawa ideologi punk yang mereka pahami dan ada pula sebagian yang tidak mengetahui arti dari ideologi punk tersebut dan baginya hanya