HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai efektivitas kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri pasien fraktur di Rindu B Rumah Sakit H. Adam Malik Medan.
1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan yaitu pada bulan Juni 2010. Jumlah seluruh responden pada penelitian ini adalah 16 orang yang terbagi menjadi 8 orang untuk setiap kelompok intervensi yang diberi perlakuan berupa kompres dingin selama 10 menit dan kelompok kontrol yang diberi kompres air biasa selama 10 menit. Pemberian kompres dingin dilakukan peneliti hanya pada responden yang mengalami nyeri sedang tidak pada nyeri akut, dan pada responden yang sudah lama dirawat di ruangan Rindu B3 Rumah Sakit H. Adam Malik Medan. Hasil penelitian ini akan menguraikan karakteristik demografi responden, analisis intensitas nyeri fraktur sebelum dan sesudah diberi kompres dingin pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol yang diberi kompres air biasa, serta analisis perbedaan penurunan intensitas nyeri fraktur antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah diberi kompres dingin.
Untuk mempermudah pemahaman, hasil penelitian tentang efektivitas kompres dingin terhadap penurunan intensitas nyeri pasien fraktur di Rindu B Rumah Sakit H. Adam Malik Medan, tergambar dalam tabel berikut ini :
1.1Karakteristik Demografi Responden
Deskripsi karakteristik demografi responden meliputi usia, suku, diagnosa, pendidikan dan pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian, pada kelompok intervensi rata-rata responden berusia 28 tahun (SD=10,72), seluruh responden berjenis kelamin laki-laki (100%), setengah dari total responden bersuku batak (50%), berdasarkan kategori diagnosa, lebih dari setengah responden terdiagnosa fraktur tertutup (62,5%), mayoritas pendidikan terakhir responden adalah SMA (87,5%), dan lebih dari setengah responden bekerja sebagai wiraswasta (62,5%).
Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata responden berusia 31 tahun (SD=9,7), mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (87,5%), dan sebagian besar responden bersuku batak (75%), berdasarkan kategori diagnosa, mayoritas responden terdiagnosa fraktur tertutup (75%), sebagian besar pendidikan terakhir adalah SMA (75%), sementara pekerjaan sebagai wiraswasta dan pelajar sama besar (37,5%).
Sebaran karakteristik demografi responden pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 3. Distribusi, frekuensi, dan persentase karakteristik demografi responden (N= 8)
Karakteristik Demografi Kelompok iIntervensi Kelompok Kontrol
Responden N % N % 1. Usia 15-24 tahun 4 50 2 25 25-34 tahun 2 25 3 37,5 35-44 tahun 1 12,5 2 25 45-54 tahun 1 12,5 1 12,5 Min= 17 Max= 46 Min=18 Max=45
Mean= 28,13 SD= 10,72 Mean=31,75 SD=9,7 2. Jenis Kelamin 8 100 7 87,5 3. Suku Batak Jawa Aceh 4 3 1 50 37,5 12,5 6 1 1 75 12,5 12,5 4. Diagnosa Fraktur Tertutup Fraktur Terbuka 5 3 62,5 37,5 6 2 75 25 5. Pendidikan SMA Perguruan Tinggi 7 1 87,5 12,5 6 2 75 25 6. Pekerjaan Pegawai Negeri Wiraswasta Pelajar
Ibu Rumah Tangga
- 5 3 - 62,5 37,5 - 1 3 3 1 12,5 37,5 37,5 12,5
1.2 Hasil uji perbandingan pengukuran skala intensitas nyeri pasien fraktur sebelum dan sesudah intervensi kompres dingin pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Intensitas nyeri fraktur pada kedua kelompok diukur dengan menggunakan skala pengukuran nyeri yaitu skala numerik (Numerical Rating
Scale) dengan rentang skala 0-10, dimana 0 berarti tidak ada nyeri dan 10 berarti
berpasangan, pada tabel 4 dapat dilihat kebermaknaan secara deskriptif yang menggambarkan penurunan skala intensitas nyeri fraktur. Terlihat pada tabel 4 bahwa penurunan skala intensitas nyeri yang terjadi pada kelompok intervensi, yaitu kelompok responden yang diberi kompres dingin diperoleh nilai rata-rata
(mean) intensitas nyeri fraktur sebelum intervensi sebesar 5,25 (SD= 1,04)
sedangkan sesudah intervensi 2,13 (SD=0,84).
Table 4. Distribusi rata-rata skala intensitas nyeri fraktur sebelum dan sesudah intervensi kompres dingin pada kelompok intervensi (N=8) Kelompok Intervensi Intensitas Nyeri Sebelum
Intervensi
Intensitas Nyeri Sesudah Intervensi
Mean SD Mean SD Kelompok I 5,25 1,04 2,13 0,84
Sedangkan untuk menguji kebermaknaannya agar diketahui perbedaan nyeri fraktur sebelum dan sesudah diberikan kompres dingin dilakukan uji statistik t berpasangan (paired t-test). Pada tabel 5 terlihat perbedaan nilai rata-rata antara pengukuran sebelum dan sesudah intervensi = 3,12 (SD= 0,83). Hasil ini menunjukkan bahwa intensitas nyeri fraktur pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah intervensi (setelah pemberian kompres dingin selama 10 menit) memiliki perbedaan yang signifikan/bermakna. Hal ini didukung oleh nilai p yang diperoleh sebesar 0.000 maka dapat disimpulkan bahwa nilai p<(0,05).
Dari hasil tersebut diketahui bahwa kompres dingin efektif terhadap penurunan intensitas nyeri pasien fraktur pada kelompok intervensi.
Table 5. Hasil uji paired t-test untuk perbedaan intensitas nyeri pasien fraktur sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi (N=8)
Variable Mean df T p value Intensitas nyeri
pasien fraktur sebelum dan sesudah intervensi
3,12 10,59 0,000
Pada tabel 6 terlihat skala intensitas nyeri pada kelompok kontrol dengan nilai rata-rata intensitas nyeri fraktur sebelum dan sesudah intervensi sebesar 4,75 (SD=0,89) sedangkan tanpa diberi intervensi (setelah 10 menit) 4,38 (SD=0,92).
Table 6. Distribusi rata-rata skala intensitas nyeri fraktur sebelum dan sesudah (diberi kompres air biasa) pada kelompok kontrol (N=8) Kelompo Kontrol Intensitas Nyeri
Sebelum Intervensi
Intensitas Nyeri Sesudah Intervensi Mean SD Mean SD Kelompok II 4,75 0,89 4,38 0,92
Pada tabel 7 terlihat perbedaan nilai rata-rata antara pengukuran sebelum dan sesudah (diberi kompres air biasa, setelah 10 menit ) 0,375 (SD= 0,51). Dari hasil uji paired t-test diperoleh nilai p sebesar 0,080 (p>0,05). Hasil ini
menunjukkan bahwa penurunan intensitas nyeri pasien fraktur pada kelompok kontrol tidak bermakna karena tidak diberikan kompres dingin.
Table 7. Hasil uji paired t-test untuk perbedaan nyeri fraktur sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol (N=8)
Variable Mean df T p value Intensitas nyeri
fraktur sebelum dan sesudah intervensi
0, 375 2,049 0,080
Untuk melihat perbedaan penurunan intensitas nyeri fraktur pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dilakukan dengan menggunakan uji statistik independent t-test.
Pada tabel 8 menunjukkan perbedaan penurunan intensitas nyeri fraktur antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Intensitas nyeri fraktur pada kelompok intervensi sebelum diberikan kompres dingin memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 5,25 (SD=1,04) dan kelompok kontrol nilai rata-rata-rata-rata sebesar 4,75 (SD=0,89) Dari hasil tersebut diketahui nilai p=0,317 sehingga dapat disimpulkan p>0,05 yang berarti bahwa intensitas nyeri fraktur pada saat sebelum diberikan intervensi menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna. Sedangkan rata-rata intensitas nyeri fraktur kelompok intervensi setelah diberikan kompres dingin selama 10 menit adalah 2,13 (SD=0,84) dan rata-rata intensitas nyeri fraktur kelompok kontrol dengan diberi kompres air biasa (sesudah 10 menit) adalah 4,38 (SD= 0,92). Dari hasil tersebut diketahui nilai p=0.000 sehingga dapat disimpulkan p<0,05, artinya terdapat perbedaan yang signifikan
antara intensitas nyeri fraktur antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah diberikan kompres dingin.
Tabel 8. Hasil uji independent t-test antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan kompres dingin (N=8)
Variabel Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol p value t
Mean SD Mean SD Intensitas nyeri fraktur - Sebelum intervensi - Sesudah intervensi 5,25 2,13 1,04 0,84 4,75 4,38 0,89 0,92 0,317 0,000 1,038 -5,135 2. Pembahasan 2.1 Karakteristik Demografi
Berdasarkan hasil penelitian karakteristik demografi responden yang berhubungan dengan usia dari kedua kelompok (intervensi dan kontrol), responden yang mengalami fraktur berusia rata-rata 28 tahun dan 31 tahun. Data demografi yang berhubungan dengan jenis kelamin pada kedua kelompok yang mengalami fraktur pada kelompok intervensi semua responden berjenis kelamin laki-laki (100%) sedangkan pada kelompok kontrol juga mayoritas berjenis kelamin laki-laki (87.5%). Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa keseluruhan jumlah responden yang mengalami fraktur berada pada usia dibawah 45 tahun dan fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan. Pernyataan ini mendukung pendapat Reeves, Roux, dan Lockhart (2001) yang mengatakan bahwa fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan
dengan umur dibawah 45 tahun yang sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau kecelakaan.
Berdasarkan hasil penelitian tingkat nyeri fraktur yang dialami responden sangat bervariasi mulai dari tingkat nyeri ringan, nyeri sedang dan sangat nyeri. Terlihat bahwa skala intensitas nyeri fraktur bervariasi dimulai dari skala 4 sampai skala 7. Perbedaan tinggi rendahnya skala intensitas nyeri fraktur dirasakan seseorang tidak bisa menjadi indikator bagi yang lainnya karena sifatnya yang sangat pribadi. Pernyataan ini mendukung pendapat dari Mahon (1994) dalam Potter & Perry (2005) yang mengatakan bahwa nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual dan berbeda pada setiap orang. Tingkat nyeri ini juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor psikis dimana nyeri dapat dibangkitkan atau diperberat oleh keadaan psikis penderita, dan tidak mendapat penerangan yang baik tentang fraktur dan cara mengatasi nyeri fraktur.
2.2 Uji Hipotesa
Berdasarkan hasil penelitian skala intensitas nyeri fraktur pada kelompok intervensi yaitu kelompok yang diberi kompres dingin selama 10 menit pada kondisi awal (pre test) didapat nilai rata-rata nyeri 5,25 (SD=1,04) dan setelah 10 menit diberi kompres dingin didapat nilai rata-rata nyeri berkurang menjadi 2,13 (SD=0,84), pernyataan ini berarti terjadi penurunan skala nyeri sebesar 3,12. Dari hasil uji paired t test terdapat nilai p=0,000 (p<0.05) artinya terdapat perbedaan yang bermakna/signifikan pada penurunan intensitas nyeri fraktur pada kelompok intervensi sebelum dan sudah diberi intervensi kompres dingin. Sedangkan pada
kelompok kontrol didapat nilai rata-rata nyeri 4,75 (SD=0,89) dan setelah 10 menit diberi kompres air biasa di dapat nilai rata-rata nyeri 4.38 (SD=0,92) pernyataan ini berarti terjadi penurunan skala nyeri sebesar 0,37. Dari hasil uji
paired t test diperoleh nilai p=0.080 (p>0,05) artinya penurunan intensitas nyeri
pada kelompok kontrol tidak bermakna karena tidak diberi kompres dingin. Berdasarkan hasil uji independent t-test intensitas nyeri fraktur antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum diberikan kompres dingin menunjukkan perbedaan yang bermakna diketahui dari nilai p=0,317 (p>0,05), yang berarti bahwa intensitas nyeri fraktur pada saat sebelum diberikan intervensi menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna karena dalam uji independent
t-test ini yang penting adalah adanya perbedaan penurunan intensitas nyeri fraktur
antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah diberi kompres dingin. Sesudah diberikan kompres dingin pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol diberikan kompres air biasa selama 10 menit diketahui nilai p=0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara intensitas nyeri fraktur antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah diberikan kompres dingin. Dari hasil uji kedua statistik yang tersebut di atas dapat dikatakan bahwa kompres dingin efektif terhadap penurunan intensitas nyeri fraktur pada pasien fraktur di Rindu B Rumah Sakit H. Adam Malik, Medan.
Pernyataan di atas mendukung pendapat dari Stevens (2000) yang mengatakan bahwa pemberian unsur dingin pada tempat tertentu membawa
Pada penelitian ini semua faktor yang dianggap berkontribusi terhadap nyeri diabaikan, Ini dikarnakan tidak semua faktor yang muncul bersamaan dengan nyeri fraktur dapat dihilangkan dengan kompres dingin. Semua responden pada penelitian ini sudah mendapat tindakan intervensi dari tenaga medis dan mengkonsumsi obat-obat penurun nyeri seperti analgesik sehingga semua responden berada pada intensitas nyeri sedang dan ringan bukan pada nyeri akut.
akibat penyempitan pada pembuluh-pembuluh darah. Dengan cara ini terjadi pengentalan darah, dan ini dapat menghalangi atau membatasi penyebaran darah keluar dari pembuluh bila terjadi suatu bekuan. Sebagai akibat dingin rasa sakit sangat berkurang. Maka pemberian unsur dingin ini harus dilakukan berulang-ulang (Stevens, 2000).