• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.7. Hubungan Jenis Operasi Mata dengan Anestesi Umum dengan Prevalensi PONV

Hubungan jenis operasi mata dengan anestesi umum prevalensi atau diagnosis PONV secara rinci dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 5.19 Hubungan Jenis Operasi Mata dengan Anestesi Umum dengan Prevalensi PONV

Berdasarkan hasil uji Fisher’s Exact Test pada tabel 5.19, dapat dilihat bahwa nilai p untuk variabel jenis operasi mata terhadap diagnosis atau prevalensi PONV sebesar 0,336 (p>0,05) yang artinya tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis operasi mata dengan anestesi umum dengan prevalensi PONV.

Jenis Operasi Mata

Prevalensi PONV

Total

Nilai p Ada Tidak Ada

n % n % n %

Intraokular 4 80,0 45 93,8 49 92,5

0,336

Ekstraokular 1 20,0 3 6,3 4 7,5

5.2. Pembahasan

PONV merupakan salah satu keluhan utama pasien yang paling menyulitkan pasca operasi dan bersifat rekuren di bidang anestesi (Rother, 2012). Dengan demikian, perlu adanya penelitian yang berkelanjutan untuk melihat dan membuktikan berbagai faktor risiko yang berperan dalam kejadian PONV sehingga dapat ditetapkan pengobatan yang paling tepat untuk menghindarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan prevalensi Postoperative Nausea and Vomiting (PONV) dengan jenis operasi mata dengan anestesi umum, yang merupakan salah satu faktor risiko dari PONV, yaitu jenis operasi, di Rumah Sakit Mata SMEC Medan. Sebagai hasilnya, tepatsebanyak 5 orang (9,4%) dari 53 orang sampel menderita PONV (mual dan/atau muntah setelah menjalani operasi mata dengan anestesi umum). Angka ini jauh lebih sedikit dari angka hasil penelitian oleh Doubravska et al. (2010), dimana ia mendapati insidensi keseluruhan dari PONV pada pasien yang menjalani pembedahan adalah 25-30%. Demikian juga pada hasil penelitian Aftab (2008), didapatkan sebanyak 15% pasien yang menjalani operasi mata mengalami PONV. Yavuz et al. (2013), mengatakan bahwa pada literatur lain, insidensi dari PONV yang dilaporkan adalah sekitar 10%, yang hampir serupa dengan angka insidensi penelitian ini namun masih lebih tinggi. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya upaya menurunkan risiko mual dan muntah pada pasien dengan pendekatan multimodal, yang dimulai dari sebelum operasi, saat operasi, pemilihan agen anestestik dan cara anestesi, serta ditambahkan dengan penggunaan antiemetik profilaksis yang sebaik mungkin pasca operasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa insidensi PONV lebih tinggi pada laki-laki yaitu sebanyak 4 orang (80%) dibandingkan dengan perempuan yang sebanyak 1 orang (20%). Hal ini berbeda dengan penelitian dari Aftab (2008), dimana pada studinya mengonfirmasikan bahwa insidensi PONV lebih tinggi pada perempuan dibandingkan pria, yaitu masing-masing sebanyak 20% dan 10% dan hal tersebut dihubungkan dengan kadar serum gonadotropin serta kadar hormon lainnya (terutama hormon wanita). Hal serupa juga terjadi pada penelitian

Doubravska et al. (2010), yang menyatakan bahwa perempuan 4,6 kali lebih mungkin untuk mengalami PONV daripada laki-laki. Perbedaan ini diperkirakan disebabkan oleh insidensi PONV yang didapatkan tidak banyak pada penelitian ini.

Pada hasil penelitian ini pula kelompok usia yang paling rentan menderita PONV adalah kelompok usia 18-24 tahun, 32-38 tahun, 39-45 tahun, 46-52 tahun, dan 53-60 tahun yaitu masing-masing berjumlah 1 orang (20%). Menurut Tinsley dan Barone (2012), pasien antara usia 3-50 tahun adalah yang paling berisiko untuk menderita PONV. Hal yang serupa juga didapatkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Aftab (2008), dimana pasien diantara umur 18-49 tahun (24%) memiliki insidensi lebih tinggi dibandingkan dengan pasien antara umur 49-79 (6%). Keadaan ini mungkin disebabkan oleh semakin bertambah usia seseorang, semakin berkurang kemampuan untuk membersihkan zat anestetik, sesuai pernyataan dari Tinsley dan Barone (2012). Namun, pada penelitian Doubravska (2010), didapati bahwa usia tidak mempengaruhi insidensi PONV. Usia telah diketahui tidak mempengaruhi secara kuat terhadap insidensi (Choi et al, 2005). Pada penelitian ini, hasil yang menunjukkan pula tidak ada hubungan usia dengan kejadian PONV mungkin disebabkan juga oleh rendahnya insidensi PONV, sehingga kurang terlihat keterkaitannya.

Tinsley dan Barone (2012) menyatakan, obesitas, dengan berat badan sebagai salah satu variabelnya, memiliki korelasi dengan kejadian PONV dimana semakin berat badan sesorang, maka semakin tinggi risiko untuk mengalami PONV. Pada penelitian ini pun didapatkan kejadian PONV yang semakin tinggi seiring bertambahnya berat badan, dan tertinggi pada rentang 60-69 kilogram sebanyak 3 orang (60%). Salah satu alasan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan ini adalah bahwa jaringan adiposa berperan sebagai reservoir untuk agen anestesi sehingga memperpanjang waktu paruh obat tersebut untuk terus dilepaskan kedalam aliran darah selama masa pemulihan atau dikarenakan kelebihan produksi esterogen akibat jaringan adiposa tersebut (Tinsley dan Barone, 2012; Islam dan Jain, 2004). Tetapi menurut Synder dan

Keegan (2011), sebuah penelitian systematic review telah gagal menunjukkan pengaruh siknifikan dari berat badan terhadap PONV dan dari hasil uji non-paramerik penelitian ini sendiri, tidak didapatkan adanya hubungan antara berat badan dengan kejadian PONV.

Onset terjadinya PONV pada sampel penelitian ini paling banyak terdapat pada 8 jam pertama sebanyak 4 orang (7,5%) dan diikuti 1 orang (1,9%) pada 8 jam kedua. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Pierre dan Whelan (2013), bahwa PONV terjadiselama24-48 jampertamasetelah operasi. Pernyataan serupa juga dikemukakan McCracken (2008), yaitu PONV merupakan mualdan/ataumuntahterjadidalam waktu 24 jamsetelah operasi. Selain itu, Amponsah (2007), mendapatkan sebanyak 49% pasien menderita PONV antara 2-6 jam setelah operasi dan 35,8% di antara 2-6-24 jam. Craigo (1992-6) juga berpendapat kejadian nausea vomitus tertinggi terjadi pada 2 jam pertama postoperasi. Ini mungkin disebabkan oleh efek dari agen anestesi yang masih bekerja setelah operasi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, semua sampel menderita mual sebagai keluhan, yaitu sebanyak 5 orang (9,4%) dengan sisanya sebanyak 48 orang (90,6%) tidak mengalami keluhan mual ataupun muntah. Insidensi mual menurut Chandrakantan (2011) adalah berkisar antara 22% sampai 38%. Press (2013) mengemukakan bahwa frekuensi gejala yang sering dikeluhkan terkait anestesi setelah menjalani operasi adalah mual sebanyak 10-40%, sedangkan muntah sebanyak 10-20%. Gan et al. (2014) juga mengatakan bahwa insidensi mual dari PONV sendiri sekitar 50%. Ini cukup berbeda dengan yang didapatkan dari hasil penelitian ini, dan hal ini dapat dijelaskan karena adanya pemberian obat antiemetik setelah operasi yang telah membantu menekan reaksi mual dan muntah dengan obat golongan antagonis serotonin, yaitu ondansetron. Sedikitnya kejadian PONV yang terlihat dapat memberikan kesimpulan bahwa pengobatan antiemetik yang diberikan telah cukup baik dan efektif.

Berdasarkan hasil dari kebanyakan studi yang dilakukan, operasi oftalmologi dikaitkan dengan frekuensi yang tinggi dari PONV. Dari jenis operasi mata yang dilakukan, didapatkan bahwa operasi intraokular mengakibatkan kejadian PONV paling banyak yaitu sebanyak 4 orang (80%). Operasi vitrektomi (operasi mata intraokular) menyebabkan kejadian PONV yang paling banyak yaitu 2 orang (40%), diikuti oleh operasi katarak (intraokular), trabekulektomi (ekstraokular), dan eviscerasi (intraokular) dengan jumlah masing-masing sebanyak 1 orang (20%). Terlihat insidensinya dua kali lebih tinggi pada operasi vitrektomi dibandingkan dengan operasi lainnya. Pada penelitian Aftab (2008), hal yang didapatkan adalah sangat berbeda, dimana operasi strabismus, yang merupakan operasi ekstraokular, menunjukkan insidensi yang lebih tinggi hingga dua kali dibandingkan dengan operasi lainnya seperti retinal detachment

(termasuk dalam vitrektomi) dan katarak, yang merupakan operasi intraokular. Dalam pembahasannya, ia menduga hal tersebut mungkin disebabkan oleh

oculocardiac reflex vagal yang dipicu oleh manipulasi otot mata. Ada kemungkinan hasil yang berbeda ini lebih disebabkan oleh kurang setaranya jumlah pasien yang menjalani masing-masing operasi mata, dimana operasi vitrektomi dan katarak lebih mendominasi, sehingga kejadian mual dan/muntah kurang dapat ditemui pada operasi lainnya. Tetapi pada penelitian terdahulu oleh Koivuranta (1997), hasil yang didapatkan sejalan dengan hasil penelitian ini dimana operasi intraokular didapatkan insidensinya paling tinggi dibandingkan dengan operasi strabismus dan operasi kornea. Hal ini diperkirakan berhubungan dengan adanya peningkatan tekanan intraokular mata. Disatu sisi, Pierre dan Whelan (2012) juga menyatakan bahwa secara umum jenis operasi tidak dapat menyediakan informasi yang relevan, dapat direproduksi dan relevan secara klinis untuk mengkaji risiko PONV pada pasien. Gan et al. (2014) juga menyatakan jenis operasi sebagai faktor risiko masih diperdebatkan. Jadi, seperti yang telah pernah dikemukakan dan berdasarkan hasil penelitian kali ini yang menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis operasi mata dengan PONV, semua ini masih belum jelas mengenai apakah operasi merupakan penyebab pasti dari PONV.

Masih belum bisa didapatkan pernyataan yang pasti, berhubungan dengan ketidakkonsistennya hasil penelitian yang didapatkan.

Terdapat beberapa keterbatasan pada penelitian ini. Peneliti tidak meneliti keterkaitan antara faktor risiko PONV yang lain seperti riwayat motion sickness,

riwayat merokok maupun riwayat nyeri dengan angka kejadian PONV. Tetapi hal ini dimaksudkan untuk memfokuskan penelitian ini terhadap hubungan jenis operasi mata dengan kejadian PONV. Selain itu peneliti juga tidak dapat secara pasti memperkirakan jumlah pasien yang akan menjalani masing-masing jenis operasi mata, yang mungkin menyebabkan kurang siknifikannya hasil penelitian.

BAB 6

Dokumen terkait