Hasil Penelitian Uji Asumsi
Uji asumsi ini dilakukan sebagai syarat untuk dapat menggunakan analisis teknik korelasi Product Moment. Uji asumsi terdiri dari uji normalitas sebaran dan uji liniearitas hubungan. Uji normalitas sebaran dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran skor atau variabel bebas dan variabel terikat (Syofian, 2012). Uji liniearitas dilakukan untuk melihat apakah hubungan ke dua variabel linier atau tidak. Perhitungan data menggunakan program SPSS for Windows Release16.0.
1. Uji Normalitas
Pada tabel 4.1 variabel penelitian diuji normalitas sebarannya dengan menggunakan uji Kolmogorov-smirnov. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data yang diperoleh untuk variabel Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja dengan nilai K-S Z = 0.195 dengan p= 0.000 dimana p<0.05 yang berarti sebarannya tidak berdistribusi normal.
Tabel 4.1 Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
perilaku seks .195 171 .000 .821 171 .000
a. Lilliefors Significance Correction
Sedangkan hasil uji normalitas untuk Komunikasi Orangtua-Anak Mengenai Seks dengan nilai K-S Z = 0.067 dengan p= 0.059 dimana p>0.05 yang berarti sebarannya berdistribusi normal.
Tabel 4.2 Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
komunikasi
orang-tua .067 171 .059 .982 171 .024
a. Lilliefors Significance Correction
2. Uji Linieritas
Hubungan antara Komunikasi Orangtua-Anak Mengenai Seks dan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja, menunjukkan nilai Flinier = 1.787 dengan nilai signifikan sebesar 0.006 dimana p<0.05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bersifat linier antara Komunikasi Orangtua-Anak Mengenai Seks dan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja.
Tabel 4.3 ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. perilaku seks * komunikasi orangtua Between Groups (Combine d) 576.788 46 12.539 1.753 .008 Linearity 1.580 1 1.580 .221 .639 Deviation from Linearity 575.208 45 12.782 1.787 .006 Within Groups 886.838 124 7.152 Total 1463.626 170
Berdasarkan uji normalitas diketahui distribusi data variabel terikat yang digunakan terbukti tidak berdistribusi normal sedangkan data variabel bebas yang digunakan terbukti berdistribusi normal. Pada uji linearitas menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bersifat linier antara Komunikasi Orangtua-Anak Mengenai Seks dan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja. Oleh karena itu uji korelasi Product Moment Karl Pearson tidak dapat digunakan dan sebagai
alternatif digunakan uji korelasi non parametrik, dalam hal ini uji korelasi Spearman Rho. Perhitungan dilakukan dengan bantuan SPSS 16. Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi Spearman Rho (tabel 4.4) diperoleh koefisien korelasi sebesar -0.113 dengan nilai signifikan 0.071 (p>0.05). Oleh karena nilai signifikan seharusnya p< 0.05, maka hasil uji dinyatakan tidak signifikan. Hasil uji tersebut menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel komunikasi orangtua-anak mengenai seks dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di
pedesaan. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan “ada hubungan negatif
antara komunikasi orangtua-anak mengenai seks dengan perilaku seksual pranikah
pada remaja di pedesaan” ditolak.
Tabel 4.4 Correlations
perilaku seks
komunikasi orangtua-anak
Spearman's rho perilaku seks Correlation Coefficient 1.000 -.113
Sig. (1-tailed) . .071 N 171 171 komunikasi orangtua-anak Correlation Coefficient -.113 1.000 Sig. (1-tailed) .071 . N 171 171
Hasil penelitian secara deskriptif menunjukkan bahwa 27 orang subjek (15.8%) berada pada kategori tinggi, sedangkan 44 orang subjek (25.7%) berada pada kategori sedang dan sebanyak 100 orang subjek (58.5%) berada pada kategori rendah.
Tabel 4.5 Kategorisasi Hasil Pengukuran Skala Komunikasi Orangtua-Anak Mengenai Seks
Kategori Interval N (Jumlah) Prosentase Nilai Mean
Tinggi 59 ≥ 70 27 15.8%
Sedang 48 ≥ 59 44 25.7%
Rendah 37 ≥48 100 58.5% 38.58
Selain itu, pada tabel 4.6 diketahui hasil pengukuran perilaku seksual pranikah di pedesaan, diukur dengan melihat berapa banyak subjek yang telah melakukan perilaku seksual hingga batasan tertentu pada tiap tahapan perilaku seksual.
Tabel 4.6 Kategorisasi Hasil Pengukuran Perilaku Seksual Pranikah
Tahap Perilaku Seksual Banyaknya
Subjek
Prosentase (%)
0 - 26 15.2%
1 Berpegangan Tangan 44 25.7%
2 Memeluk/ dipeluk di bahu 27 15.8%
3 Memeluk/ dipeluk di pinggang 18 10.5%
4 Ciuman bibir 17 9.9%
5 Ciuman bibir sambil berpelukan 17 9.9% 6 Meraba/ di raba daerah erogen (alat kelamin/
payudara) dalam keadaan berpakaian
3 1.8%
7 Menciumi/ di cium daerah erogen (alat kelamin/ payudara) dalam keadaan berpakaian
6 3.5%
8 Saling menempellan alat kelamin dalam keadaan berpakaian
2 1.2%
9 Menciumi/ di cium daerah erogen (alat kelamin/ payudara) dalam keadaan tanpa berpakaian
2 1.2%
10 Menciumi/ di cium daerah erogen (alat kelamin/ payudara) dalam keadaan tanpa berpakaian
1 0.6%
11 Saling menempellan alat kelamin dalam keadaan tanpa berpakaian
0 0%
Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian terhadap hipotesis penelitian, diperoleh hasil bahwa hipotesis yang diajukan ditolak. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) = -0.113 dengan p= 0.071 (p> 0.05), artinya tidak terdapat hubungan antara komunikasi orangtua-anak mengenai seks dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di pedesaan.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Evidanika (2013), bahwa komunikasi orangtua yang berdampak pada pengetahuan remaja mengenai seksual dapat mempengaruhi terhindarnya perilaku seksual pranikah sebesar 35, 1%. Selain itu, penelitian ini juga tidak mendukung penelitian yang dilakukan di Amerika Latin (Trejos-Castillo & Vazonyi, 2009) menjelaskan tentang komunikasi orangtua-anak mengenai seks (misalnya komunikasi yang baik dari ibu kepada remajanya mengenai hubungan seks dan dampak negatif yang mungkin terjadi) maka akan mengurangi perilaku seksual oleh remaja. Namun, hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Kus Wulandari (2006) dan Lianna (2007) yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara kualitas komunikasi orangtua-anak dan perilaku seksual pranikah.
Pada masa remaja tidak hanya dicirikan dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang signifikan. Remaja memiliki rasa ingin tahu dan seksualitas yang hampir tidak dapat dipuaskan. Remaja memikirkan apakah dirinya secara seksual menarik, bagaimana cara melakukan hubungan seks, dan bagaimanakah nasib kehidupan seksualitas mereka (Santrock, 2012). Informasi mengenai seks yang didapatkan remaja lebih banyak melalui media, seperti data yang diperoleh Zhou (2005), remaja di Beijing mendapatkan informasi mengenai seks dari majalah atau koran (56%) dan informasi dari televisi (53%), sedangkan berdasarkan data yang diperoleh Soetjiningsih (2008) pada remaja yang berada di daerah Yogyakarta, sebanyak 60% remaja mendapatkan informasi mengenai seks dari media. Hal ini kemungkinan dikarenakan pembicaraan mengenai seks merupakan hal yang tabu untuk didiskusikan dalam keluarga terlebih bagi keluarga yang berada di pedesaan. Dapat dilihat dari hasil penelitian yang telah
dilakukan, bahwa komunikasi orangtua-anak mengenai seks di pedesaan cenderung rendah.
Tidak adanya hubungan antara komunikasi orangtua-anak mengenai seks dengan perilaku seksual pranikah remaja di pedesaan dalam penelitian ini, kemungkinan disebabkan karena informasi bahwa seharusnya keluarga berfungsi sebagai tempat awal pembelajaran seks dan nilai yang memberikan pandangan bahwa pembicaraan mengenai seks itu penting di dalam keluarga masih cukup tabu di pedesaan. Karena dalam penelitian ini ditemukan sebanyak 8 orang dari remaja di pedesaan yang telah mencapai 12 tahap perilaku seksual pranikah sehingga sebenarnya infomasi mengenai seks diperlukan bagi remaja. Kemungkinan lain dalam penelitian ini tidak terdapat hubungan antara komunikasi orangtua-anak dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di pedesaan juga dikarenakan faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual, seperti yang disimpulkan oleh Soetjiningsih (2008) dalam penelitiannya mengatakan bahwa, faktor yang mempengaruhi perilaku seks pranikah remaja yaitu faktor Individual (self-esteem dan religiusitas), faktor keluarga (hubungan orangtua-remaja), faktor di luar keluarga (tekanan negatif teman sebaya, eksposur media pornografi).
Penelitian ini juga dapat dijelaskan secara deskriptif dengan melihat kategorisasi hasil pengukuran komunikasi orangtua-anak mengenai seks pada tabel 4.5 dalam hasil penelitian, menunjukkan bahwa 27 orang subjek (15.8%) berada pada kategori tinggi, sedangkan 44 orang subjek (25.7%) berada pada kategori sedang dan sebanyak 100 orang subjek (58.5%) berada pada kategori rendah.
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata komunikasi orangtua-anak mengenai seks di pedesaan dengan nilai 38.58 (dalam tabel 4.7), tergolong dalam kategori rendah yang artinya bahwa komunikasi orangtua-anak mengenai seks di pedesaan merupakan topik pembicaraan yang belum diprioritaskan dalam keluarga.
Tabel 4.7 Statistik Deskriptif Skala Komunikasi Orangtua-Anak Mengenai Seks di Pedesaan
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Komunikasi
Orangtua-Anak 171 15 70 38.58 11.989
Valid N (listwise) 171
Berikutnya pada tabel 4.6 dalam hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari 12 tahapan perilaku seksual pranikah, subjek paling banyak melakukan sampai pada tahapan pertama yaitu berpegangan tangan 44 orang (25.7%), kemudian pada tahapan ke-2 yaitu memeluk/ di peluk di bahu 27 orang (15.8%), subjek yang sama sekali tidak melakukan 12 tahapan perilaku seksual sebanyak 26 orang (15.2%) dan 8 orang (4.7%) remaja di pedesaan ini sudah sampai tahap hubungan seksual.
Masa remaja adalah masa seseorang mencari jati diri, dimana remaja mengalami masa eksplorasi seksual serta mengintegrasikan seksualitas kedalam identitas seseorang (Santrock 2003, 2007). Oleh sebab itu, walaupun pengaruh komunikasi orangtua-anak mengenai seksualitas cukup tinggi, bisa saja remaja tetap melakukan perilaku seksual. Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian yang telah dilakukan, menjelaskan bahwa tidak ada hubungan komunikasi orangtua-anak mengenai seks dengan perilaku seksual remaja.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini, diantaranya yaitu: 1. Tidak ada hubungan antara komunikasi orangtua-anak mengenai seks dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di pedesaan, dengan koefisien korelasi sebesar -0.113 dengan nilai signifikan 0.071 (p>0.05).
2. Komunikasi orangtua-anak mengenai seks pada subjek dalam penelitian ini tergolong dalam kategori yang rendah dengan prosentase sebesar 58.5%.
3. Pada skala perilaku seksual pranikah menunjukkan bahwa dari ke-12 tahapan perilaku seksual pranikah, subjek paling banyak melakukan sampai pada tahapan pertama yaitu berpegangan tangan (25.7%), kemudian pada tahapan ke-2 yaitu memeluk/ di peluk di bahu (15.8%), subjek yang sama sekali tidak melakukan 12 tahapan perilaku seksual (15.2%) dan 8 orang (4.7%) remaja di pedesaan ini sudah sampai tahap hubungan seksual.
Saran
1. Dalam penelitian ini ditemukan 8 orang remaja yang sudah melakukan perilaku seksual pranikah sampai pada tahap hubungan seksual, artinya perlu adanya peran orangtua untuk memantau aktifitas remaja baik di dalam maupun luar sekolah, dan mengenal lingkungan pergaulan anak-anak mereka.
2. Bagi peneliti selanjutnya lebih memperhatikan teknik pengambilan sampel serta penggunaan bahasa/kalimat yang lebih dapat dimengerti oleh subyek sehingga menghasilkan data yang lebih representatif dan lebih baik.
3. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat melihat perilaku seksual tidak hanya dari faktor komunikasi orangtua-anak mengenai seks, tetapi dari beberapa faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual remaja, terkait muncul perilaku seksual ini tidak hanya pada remaja yang berada di kota tetapi juga di pedesaan sehingga dapat menambah wawasan mengenai perilaku seksual dalam dunia psikologi remaja.
Lampiran 1
Validitas dan Reliabilitas Perilaku Seksual Pranikah
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha Part 1 Value .864
N of Items 6a
Part 2 Value .955
N of Items 6b
Total N of Items 12
Correlation Between Forms .509
Spearman-Brown Coefficient
Equal Length .674
Unequal Length .674
Guttman Split-Half Coefficient .640
a. The items are: item1, item2, item3, item4, item5, item6. b. The items are: item7, item8, item9, item10, item11, item12.
Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Item1 2.11 7.836 .319 .907 Item2 2.36 6.938 .550 .900 Item3 2.52 6.639 .673 .892 Item4 2.63 6.624 .728 .887 Item5 2.73 6.789 .750 .885 Item6 2.82 7.134 .760 .886 Item7 2.84 7.228 .757 .887 Item8 2.88 7.485 .725 .890 Item9 2.89 7.593 .705 .891 Item10 2.90 7.725 .670 .893 Item11 2.91 7.803 .644 .895 Item12 2.91 7.803 .644 .895
Lampiran 2
Validitas dan Reliabilitas Komunikasi Orangtua-Anak Mengenai Seks
Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .911 14 Tahap 1: Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Item1 43.44 122.566 .656 .846 Item2 43.57 121.447 .750 .842 Item3 43.86 126.980 .625 .849 Item4 43.57 128.623 .488 .854 Item5 43.68 126.114 .617 .848 Item6 43.93 128.830 .574 .851 Item7 43.84 123.785 .585 .849 Item8 44.11 124.111 .721 .844 Item9 43.48 149.945 -.225 .882 Item10 44.05 139.356 .140 .868 Item11 44.25 127.645 .673 .848 Item12 44.11 133.723 .451 .856 Item13 43.84 141.522 .057 .872 Item14 43.77 136.259 .290 .862 Item15 43.53 129.474 .493 .854 Item16 43.63 130.493 .384 .859 Item17 44.06 127.013 .621 .849 Item18 44.04 124.799 .685 .846
Tahap 2: Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Item1 35.63 121.836 .649 .895 Item2 35.75 119.707 .781 .890 Item3 36.04 125.475 .648 .896 Item4 35.75 127.754 .486 .902 Item5 35.86 123.486 .683 .894 Item6 36.11 127.029 .610 .897 Item7 36.02 122.017 .614 .897 Item8 36.29 122.502 .749 .892 Item11 36.43 126.258 .693 .895 Item12 36.29 131.832 .494 .901 Item14 35.95 138.151 .174 .911 Item15 35.71 126.653 .564 .898 Item16 35.81 130.800 .343 .908 Item17 36.25 124.739 .676 .895 Item18 36.22 122.865 .726 .893 Tahap 3: Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Item1 33.00 116.706 .648 .903 Item2 33.12 114.544 .783 .898 Item3 33.42 119.797 .667 .903 Item4 33.12 122.979 .467 .910 Item5 33.23 118.098 .691 .902 Item6 33.49 121.428 .624 .904 Item7 33.39 116.428 .628 .904 Item8 33.67 117.153 .756 .899 Item11 33.80 120.772 .704 .902 Item12 33.67 126.294 .503 .908 Item15 33.09 121.375 .565 .906 Item16 33.19 126.294 .315 .917 Item17 33.62 119.425 .680 .902 Item18 33.59 117.843 .720 .901
Daftar Pustaka
Santrock. (2007). Remaja (Ed. 11). Jakarta: Erlangga.
Southard, Helen. (1967). Sex Before 20. New York: E. P. Dutton & Co,. Inc, New York. Sarwono. (2000). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Santrock. (2003). Adolescence, Perkembangan Remaja (Ed. 6). Jakarta: Erlangga
Rice& Dolgin. (2008). The Adolescent. Development, Relationship, and Culture (Ed. 12). USA: Pearson International Edition.
Terri D. Fisher, et al. (2013). Handbook of Sexuality-Related Measure Routledge. http: //google.buku.com
Olson, David H.L &John Defrain. (2006). Marriages and Families: Intimacy, Diversity, and Strengths. America, New York: McGraw-Hill, Inc.
Degenova, Mary Kay. 2005. Intimate Relationship, Marriages and Family. America, New York: McGraw.-Hill Companies, Inc
Joseph A. Devito. (2011). Komunikasi Antar Manusia (Ed 5). Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.
Kompasiana. (2013). Seks Bebas di Kalangan Remaja Makin Mengkhawatirkan. http://google.com pada tanggal 30 Agustus 2014
Kompasiana. (2012). Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Bias Gender. http://google.com pada tanggal 30 Agustus 2014
Raffaell & Crockett. (2003). Sexual Risk Taking in Adolescence: The Role of Self-Regulation and Attraction to Risk (Vol. 39, No. 6). American Psychological Association.
Lehr ST, Dilorio C, Dudley Wn, Lipana JA. (2000). The Relationship Between Parent-Adolescent Communication and Safer Behaviours in College Students.
Clay Warren and Michael Neer. (1986). Family Sex Communication Orientation. Journal Of Applied Communication Research.
Soetjiningsih. (2008). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja.
Iindarda. (2010). Hubungan Antara Komunikasi Orangtua-Remaja Tentang Seksualitas Dengan Perilaku Seksual Pranikah Remaja Tengah. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana.
Lianna. (2007). Perilaku Seksual Pada Remaja Ditinjau Dari Komunikasi Orangtua dan Anak Tentang Seksualitas. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.
Laily & Matulessy. (2004). Pola Komunikasi Orangtua dan Anak. Fakultas Psikologi Universitas 17 agustus 1945
Kus Wulandari. (2006). Vol.No.2 Fakultas Psikologi Univarsitas Muhamadiyah Surakarta
Prihartini, Titi . (2002). Vol.No.2, hal 124-139. Hubungan Antara Komunikasi Efektif Tentang Seksualitas Dalam Keluarga Dengan Sikap Remaja Awal Terhadap Pergaulan Bebas Antar Lawan.
Evidanika, Nifa. (2013). Hubungan Antara Pengetahuan Seksualitas dan Kualitas Komunikasi Orangtua dan Anak Dengan Perilaku Seks Bebas Remaja Siswa-Siswi MAN GondangRejo KarangAnyar.
Munawaroh, Faizatul. (2012). Vol.1.N.2, hal 105-113. Konsep Diri, Intensitas Komunikasi Orang Tua-Anak, dan Kecenderungan Perilaku Seks Pranikah
Sugiyono. (2011). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Azwar. (2012). Reliabilitas dan Validitas (Ed IV). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Syofian. (2012). Statistika Deskriptif Untuk Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers. Wikimedia. 2014. Pengertian Desa. http//google.com pada tanggal 3 November 2014