Hasil Penelitian
Partisipan dalam penelitian ini ialah keturunan Toraja asli yang tinggal di Kabupaten Toraja Utara. Semua partisipan sudah menikah dengan adat Rambu Tuka’
Toraja. P1 adalah seorang ibu rumah tangga, berumur 45 tahun dan memiliki dua orang anak. P2 juga seorang ibu rumah tangga berumur 28 tahun dan memiliki seorang anak. P3 adalah laki-laki berumur 54 tahun, seorang PNS dan memiliki tiga orang anak. P4 adalah seorang guru berusia 51 tahun dan memiliki tiga orang anak. Sedangkan P5 adalah seorang ibu rumah tangga berumur 40 tahun dan memiliki tiga orang anak.
Merasa Cemas Setelah Menikah
Sejak awal pernikahan sampai saat ini partisipan merasa cemas karena semakin banyak babi yang dibawakan saat menikah, partisipan akan semakin merasa cemas. Tujuan keluarga itu sendiri maupun kerabat yang datang membawa babi atau biasa juga
17 dalam bentuk materi “uang” kepada yang melaksanakan rambu tuka’ ialah untuk mempererat hubungan keluarga serta menjalin silahturahmi antar keluarga. Tradisi membawa babi bagi yang melaksanakan rambu tuka’ itu sendiri sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Toraja yang dilakukan secara turun temurun. Jadi yang akan melaksanakan rambu tuka’, para keluarga akan berdatangan membawa babi dan biasanya juga dalam bentuk uang. Hal itu merupakan bentuk ungkapan turut bersukacita dari keluarga yang memberi. Namun hal tersebut tidak berhenti sampai disitu, yang melaksanakan rambu tuka’ tadi akan mengembalikan kepada keluarga yang memberi babi tersebut jika keluarga yang membawa babi itu juga melangsungkan acara rambu
tuka’ dan akan dikembalikan sama seperti ukuran babi yang diberikan atau biasanya juga lebih daripada ukuran babi yang diberikan. Hal inilah yang sering diartikan oleh sebagian masyarakat Toraja sebagai “indan” atau “utang”.
Menurunnya Daya Konsentrasi
Dalam kesibukan setiap hari partisipan sering kali memikirkan indan yang masih banyak dan belum dikembalikan, dan hal tersebut menganggu dan menurunkan konsentrasi bagi P1, P2, dan P5. Walaupun P3 dan P4 sering juga memikirkan soal
indan, namun mereka tetap dapat berkonsentrasi saat bekerja. Pada saat ada indan yang
harus dikembalikan dan mereka tidak memiliki uang, pikiran-pikiran tentang indan tersebut membuat mereka sering memikirkannnya secara berulang-ulang hingga membuat mereka “stress”. Dengan beban indan yang dialami oleh P1, P2, dan P5 berpengaruh terhadap aspek fisologis individu terhadap ukuran, bentuk dan fungsi penampilan serta potensi tubuh saat ini yang membuat mereka sering merasa pusing,
kelelahan serta menurunnya berat badan. Sedangkan bagi P3 dan P4 meskipun biasanya mereka memikirkan soal indan, namun hal tersebut tidak terlalu memengaruhi aspek fisiologisnya seperti yang dialami oleh P1, P22, dan P5. Di usia yang tidak lagi muda P1 dan P5 memiliki keinginan untuk bekerja namun mereka merasa sudah tidak memiliki waktu untuk itu, karena banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, belum lagi nagi P5 harus mengurus dua anak kembarnya yang baru berusia 1 tahun, begitupun dengan P2 memiliki keinginan untuk bekerja tetapi ia menunggu sampai anaknya bisa ditinggal bekerja. Demi menambah penghasilan semua partisipan beternak babi atupun ayam, dan itu juga menjadi tabungan bagi mereka jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak.
Perubahan Nilai-Nilai Budaya Dalam Masyarakat Toraja
Yang membedakan menikah di tongkonan dan di hotel menurut semua partisipan adalah, menikah di hotel lebih praktis dan semua keperluan dalam acara sudah disiapkan oleh pihak hotel, calon pengantin yang akan menikah hanya perlu membayar dan terima bersih. Sedangkan menikah di tongkonan keluarga harus mempersiapkan segala keperluan untuk untuk acara mulai dari bergotong royong mencari “tallang” (bambu) untuk membuat “lantang” (tempat menerima tamu), membuat pelaminan bagi calon pengantin, mempersiapkan makanan bagi orang yang datang membantu, serta memasak berbagai macam hidangan untuk para tamu undangan. Menikah di tongkonan juga harus ikut berpartisipasi untuk membantu biaya perbaikan tongkonan jika suatu saat terjadi kerusakan pada tongkonan. Menikah di tongkonan dan di hotel sebenarnya sama-sama membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hanya saja saat ini banyak masyarakat Toraja
19 yang lebih memilih hotel sebagai tempat resepsi karena tidak ingin repot untuk mengurus perlengkapan-perlengkapan acara dan juga ingin lebih praktis, walaupun menikah di hotel juga meggunakan adat Toraja, tetapi suasananya juga berbeda karena menikah di tongkonan, lebih memperlihatkan tradisi dan suasana dari adat Toraja, lebih menghargai tradisi yang sudah diturunkan oleh para nenek moyang dan juga lebih mempererat hubungan antar keluarga, apalagi yang jauh-jauh datang untuk bergotong royong membantu mempersiapkan segala keperluan untuk keberlangsungan acara
rambu tuka’. Pernikahan dalam budaya Toraja mengenakan pakaian berwarna cerah seperti warna kuning keemasan, merah dan putih karena melambangkan sukacita dan kegembiraan. Sedangkan baju berwarna gelap seperti warna hitam sangat dilarang digunakan dalam acara rambu tuka’ karena warna hitam dalam budaya Toraja melambangkan kedukaan.
Selama acara rambu tuka’, mulai dari mempersiapkan segala macam keperluan acara, banyak keluarga yang mulai berdatangan membawa “babi” sebagai bentuk turut bersukacita atas menikahnya salah satu anggota keluarga. Namun ada juga yang memberikan tanda sukacitanya berupa “uang” kepada mempelai yang akan melangsungkan acara rambu tuka’. Setelah acara selesai pengantin yang telah melangsungkan acara akan menulis siapa saja yang telah memberikan mereka babi dan uang, karena itu sudah menjadi indan bagi mereka. Dan mereka akan membayar indan tersebut sesuai dengan harga babi yang diberikan dan bisa saja lebih daripada itu, saat ada dari keluarga yang membawa babi dan uang saat pernikahan mereka juga melangsungkan acara rambu tuka’. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa indan tersebut juga dapat mereka kembalikan pada saat acara rambu solo’. Disaat mereka
sudah tidak mampu lagi atau sudah meninggal, anaknya yang akan melanjutkan untuk mengembalikan indan tersebut, dan akan seperti itu seterusnya, bisa saja cucu hingga cicitnya yang akan mengembalikan indan tersebut. Hingga dapat dikatakan bahwa indan tersebut bisa sampai tujuh turunan, karena jika tidak di kembalikan, akan menimbulkan
malongko’ atau malu bagi pengantin yang sudah menerimanya.
Strategi Coping
Semua partisipan memiliki planning yang sama untuk mengambil tindakan dan menentukan penanganan terbaik untuk mengembalikan indan dengan cara beternak sbabi maupun ayam sebagai tabungan jika suatu saat nanti tiba-tiba ada indan yang harus dikembalikan. Mereka sudah mempersiapkan sejak dini untuk mengatasi hal-hal yang akan datang nantinya. Saat akan membayar indan juga ada keluarga, tetangga, maupun teman yang akan ikut dengan mereka dan biasanya memberi uang demi tanda ikut juga merasakan apa yang dirasakan oleh yang akan membayar utang tersebut. Dan tentunya hal itu juga akan menjadi indan lagi baginya dan menjadi pergumulan tersendiri lagi bagi individu tersebut. Pada saat akan mengembalikan indan, dan mereka tidak memiliki uang, mereka akan berusaha mencari dukungan sosial dari keluarga, sahabat, suami, istri untuk mencari solusi bersama dan menentukan langkah apa yang harus diambil untuk memecahkan masalah tersebut. Kadang mereka mencari pinjaman uang untuk dapat mengembalikan indan, karena merasa “malongko” (merasa tidak enak) jika tidak mengembalikan indan tersebut.
Ketika berada di dalam permasalahan dan mengalami stress yang dirasa mengganggu, semua partisipan percaya bahwa dengan beribadah dan menyerahkan
21 semua kepada Tuhan, mereka meyakini bahwa akan dibukakan jalan yang terbaik untuk pergumulan yang sedang dihadapi. Dan setelah menyerahkan semuanya kepada Tuhan mereka mengekspresikannya dengan bersemangat lagi dalam menjalankan aktifitas dengan perasaan lega. Disaat merasa stress partisipan biasanya mencari kesibukan seperti berkumpul bersama teman untuk bercerita, menonton tv, bermain bersama anak untuk melupakan sejenak masalah yang sedang dialami.
Pembahasan
Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran stress individu terhadap adat rambu tuka’ Toraja yang menimbulkan banyak “indan” setelah selesaianya acara tersebut. Selain itu juga menggambarkan aktivitas keseharian mereka, serta untuk memahami pandangan mereka tentang budaya toraja yang tidak pernah lepas dari indan dan reaksi mereka menghadapinya. Untuk memahami proses tersebut, penting untuk mengetahui terlebih dahulu tentang gambaran stress, dalam hal ini merujuk pada individu yang telah melaksanakan rambu tuka’. Menurut (Crider dkk, 1983) stress merupakan suatu pola tertentu yang diperoleh dari reaksi psikologis dan fisiologis yang mengganggu dan timbul dari stimulus-stimulus tertentu di lingkungan individu sehingga mengancam kebutuhan-kebutuhan utamanya dan memaksa individu untuk melakukan coping sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Hal ini tergambarkan pada individu yang telah melaksanakan rambu tuka’.
Membawa babi dalam acara rambu tuka’ dalam budaya Toraja sudah menjadi tradisi secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat Toraja. Bagi mereka membawa babi bagi yang melaksanakan acara rambu tuka’ ialah bentuk sukacita yang turut mereka rasakan, dan juga merupakan faktor kebersamaan, kekeluargaan, dan bentuk support dari keluarga yang turut merasakan kebahagiaan. Dengan adanya rambu tuka’ ini, biasanya keluarga yang ada di berbagai wilayah akan datang untuk berkumpul bersama dan turut berbahagia atas berlangsungnya acara rambu tuka’ tersebut, hal ini tentunya mempererat tali silahturahmi antar keluarga. Namun tradisi membawa babi tersebut merupakan beban tersendiri bagi yang melaksanakan rambu tuka’ karena semakin banyak babi yang dibawakan maka semakin banyak juga indan yang harus dibayar nantinya. Indan tersebut akan diturunkan kepada anak dan cucu pada saat mereka sudah tidak mampu lagi untuk membayarnya, dan akan seperti itu seterusnya.
Mempertahankan Kewajiban Mengembalikan Indan Dalam Budaya Toraja
Mempertahankan suatu kebudayaan bukanlah perkara mudah dilakukan terutama pada jaman modern saat ini. Meskipun sulit namun bagi masyarakat Toraja, mereka tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan, meskipun bagi sebagian orang Toraja, banyak yang menghindar dan tidak ingin melaksanakan pernikahan di Toraja, kerena adanya tradisi membawa babi yang kemudian menjadi “indan” bagi yang melaksanakan
rambu tuka’. Tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi membawa babi dalam budaya Toraja adalah suatu keunikan tersendiri. Mempertahankan indan dalam budaya toraja adalah suatu kebanggaan yang dirasakan oleh P1. “Karena itu adalah ajaran dari nenek
23 moyang kita, dan karena budaya kita jugalah yang membuat para wisatawan datang ke
Toraja, jadi itu harus dipertahankan”.
Pada dasarnya tata kehidupan dalam masyarakat tertentu merupakan cerminan yang konkrit dari nilai budaya yang diterapkan dalam dinamika kehidupan. (Koentjaraningrat, 1991) menjelaskan bahwa budaya atau kebudayaan merupakan keseluruhan hasil kreativitas manusia yang meliputi gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia melalui belajar, oleh karena itu hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan. Suatu corak kebudayaan terdiri dari kombinasi, unsur-unsur kultur, yaitu nilai-nilai, norma-norma, tujuan-tujuan dan harapan-harapan yang khusus diperuntukkan bagi suatu kelompok.
Indan Menjadi Faktor Utama Penyebab Stress
Indan menjadi beban tersendiri bagi pasangan yang telah melaksanakan rambu
tuka’, terutama pada saat akan membayar indan, namun tidak memiliki uang. Hardiman (dalam Rahmawati, 2006) mengemukakan bahwa stress sebagai suatu reaksi individu terhadap tuntutan lingkungan dapat bersumber dari berbagai aspek yaitu, aspek fisiologis, aspek psikologis, dan sosial seperti yang nampak pada P1. Individu merasa perubahan terhadap ukuran, bentuk serta potensi tubuh yang dirasakan saat ini, yang membuat individu sering merasa pusing, kelelahan, dan turunnya berat badan. “Ya
berpengaruh.. seperti jika saya memiliki utang, dimana lagi dapatkan uang jika
tiba-tiba datang, jadi bisa juga ketika saya tidak bisa mengendalikan pikiran saya, itu lagi
yang dapat menimbulkan sakit. Karena apa yang akan saya pakai bayar itu”. Sebagai ibu rumah tangga dan penghasilan suami yang tidak menentu, ditambah lagi kebutuhan
anak yang harus dipenuhi, dan biaya hidup yang lumayan mahal, juga membuatnya frustasi.
Selain itu gejala stress dapat terlihat pada menurunnya daya konsentrasi, pikiran menjadi kacau, serta pikiran yang berulang tentang indan. Memikirkan indan sudah menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan, seperti yang tampak pada P2 dan P5. “Iya
pastilah u.. terpikir terus, kadang tiba-tiba muncul baru tidak ada uang, mau
bagaimana, pasti stress, pusing memikirkannya”, “Ya dipikirkan tapi, akan seperti itu
terus kita sebagai orang Toraja, tapi jangan terlalu dipikirkan secara mendalam.”
Perasaan khawatir yang dirasakan pada saat akan mengembalikan indan namun tidak memiliki uang, hal ini membuat individu mengalami kecemasan, perasaan malu, dan juga marah. Individu merasa malu pada saat tidak dapat membayar indan, dan biasanya melampiaskan kemarahannya kepada anak, suami, ataupun keluarga yang lain, namun hanya sebentar saja dan ia kembali sadar untuk tidak melampiaskannya kepada keluarga, anak, ataupun suaminya. Hal tersebut nampak pada semua partisipan, seperti yang diungkapkan oleh P1. “Iya pasti, kalau ada utang yang muncul terus tidak ada
uang ditangan, pasti saya katakan bagaimana ini ada lagi utang yang harus dibayar,
apa yang mau dipakai bayar.. pasti ada kekhawatiran, secara kita sebagai manusia.”
Perbedaan Menikah Di Hotel dan Di Tongkonan
Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara
25 norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial, dengan penggunaan adat atau aturan tertentu yang saling berkaitan. Seperti halnya
rambu tuka’ yang dilaksanakan di tongkonan. (Oktoviandy, 2011) mengungkapkan bahwa tongkonan merupakan simbol yang berbentuk rumah (rumah adat orang Toraja) yang dibangun secara gotong royong atau melalui kerjasama serumpun keluarga seturut dengan falsafah hidup yang bernuansa kolektif (rapu tallang). Jadi kata tongkonan mengandung pengertian makna “kehadiran” atau “kebersamaan sama seperti yang terkandung dalam pemahaman bahwa rumah sebgai istana (tempat tinggal untuk berteduh), sebagai tempat berkumpul bersama dan bersatu bagi sebuah komunitas rumpun keluarga sampai generasi tak terhingga. Seiring berjalannya waktu banyak masyarakat Toraja lebih memilih hotel sebagai tempat melaksanakan rambu tuka’, dengan alasan lebih praktis dan tidak repot lagi mempersiapkan segala keperluan acara. Individu hanya perlu membayar dan semuanya sudah disiapkan oleh pihak hotel. Namun ada juga masyarakat yang sangat menghargai tradisi yang diturunkan oleh para leluhur dan lebih memilih menikah di tongkonan. Suasana adat, kekeluargaan, kebersamaan sangat terjalin erat disini karena keluarga datang membantu dan bergotong royong untuk mempersiapkan segala keperluan acara. Menikah di hotel maupun di tongkonan sebenarnya sama-sama membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hanya saja bagi sebagian orang tidak ingin repot dalam mempersiapkan segala keperluan acara.
Beternak Babi Sebagai Planning Untuk Mengembalikan Indan Dalam Budaya Toraja
Setelah berkeluarga, mereka akan mulai melakukan strategi coping sebagai
planning untuk membayar indan. Mereka beternak babi sebagai tabungan jika suatu saat
ada indan yang harus dibayar dan mereka tidak memiliki uang. Mereka mempersiapkan
sejak dini untuk mengatasi hal-hal yang akan datang nantinya. Beternak babi dalam budaya Toraja, sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat, babi yang dipelihara oleh masyarakat Toraja dapat dijumpai dimana saja, sampai ada yang membuat kandang di pinggir jalan. Membayar indan yang tidak pernah habis memaksa mereka untuk melakukan penanganan sejak dini seperti yang dikatakan oleh P1. “Ya seperti ini, pelihara babi untuk persiapan, menjaga-jaga kalau tiba-tiba ada utang yang harus
dibayar, tiba-tiba mungkin saya tidak memiliki uang, ya babi kita lagi yang bisa kita
bawa kalau misalnya kalau belum diperlukan, kemudian ada orang yang datang lihat
babi, terus dijual kemudian uangnya disimpan.”
(Chaplin, 2004) mengungkapkan bahwa perilaku coping merupakan suatu tingkah laku dimana individu melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya dengan tujuan menyelesaikan tugas atau masalah. Tingkah laku coping merupakan suatu proses dinamis dari suatu pola tingkah laku maupun pikiran-pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan dalam situasi yang menekan dan menegangkan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut, dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, ketiga partisipan sering memikirkan indan yang berdampak pada aspek fisiologis, aspek psikologis, dan sosial
27 mereka dan merasa perubahan terhadap ukuran, bentuk serta potensi tubuh yang dirasakan saat ini, yang membuat individu sering merasa pusing, kelelahan, dan turunnya berat badan, menurunnya daya konsentrasi, pikiran menjadi kacau, serta pikiran yang berulang tentang utang. Mereka merasa khawatir pada saat akan mengembalikan indan namun tidak memiliki uang, hal ini membuat ketiga partisipan mengalami kecemasan, dan perasaan malu, dan juga marah. Namun kedua partisipan hal tersebut tidak berdampak pada mereka karena tidak memikirkan utang secara terus menerus.
Kelima partisipan memandang bahwa menikah di hotel lebih praktis dan tidak repot, kerena segala keperluan sudah disiapkan. Sedangkan bagi mereka menikah di
tongkonan dirasa lebih ribet karena harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk
keperluan acara. Namun bagi mereka lebih memilih tongkonan karena suasana adat Toraja lebih terasa dengan duduk bersama di lumbung dan dapat menikmati pemandangan alam. Menikah di tongkonan juga lebih menjalin kebersamaan dan kekeluargaan, karena keluarga yang jauh akan datang bersama yang akan melaksanakan
rambu tuka’ untuk bergotong royong membantu mempersiapkan segala keperluan acara, selain itu menikah di tongkonan juga lebih menghargai tradisi yang diturunkan oleh para leluhur. Bagi kelima partisipan juga melakukan coping untuk persiapan mengembalikan
indan nantinya, dengan cara memelihara babi sebagai tabungan jika suatu saat ada
keperluan mendadak ataupun untuk mengembalikan indan. Mereka akan menjual babi tersebut ataupun dibawa untuk dipakai mengembalikan indan jika mereka tidak memiliki uang.
Indan dalam rambu tuka’ dapat mempererat tali silahturahmi antar keluarga, yang datang dari berbagai wilayah karena adanya faktor kekeluargaan dan kebersamaan yang turut dirasakan. Keluarga yang datang membawa babi untuk diberikan kepada yang melaksanakan rambu tuka’ sebagai tanda sukacita yang turut dirasakan, kemudian pemberian tersebut menjadi indan bagi yang melaksanakan rambu tuka’ dan menjadi beban ekonomi bagi yang telah melaksanakan rambu tuka’, sehingga wajib dikembalikan secara turun temurun. Indan dalam budaya Toraja harus dipertahankan kerana menurut kelima partisipan karena budaya yang membuat banyak wisatawan datang berkunjung melihat keunikan yang ada di Toraja, selain itu juga untuk menghargai tradisi yang sudah diturunkan oleh para leluhur.
Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh, saran yang dapat diberikan peneliti dari penelitian ini yaitu :
1. Bagi partisipan, diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan pemahaman agar tidak memikirkan indan secara terus menerus karena dapat berdampak pada aspek fisiologis, psikologis, dan sosial.
2. Bagi keluarga, diharapkan yang memberikan sumbangan dapat melihat juga situasi keluarga yang akan menikah agar nantinya tidak terlalu menjadi beban bagi yang melaksanakan rambu tuka’.
3. Bagi peneliti selanjutnya, yaitu melakukan penelitian dengan memfokuskan pada anak yang melanjutkan membayar indan orang tuanya, lebih tepatnya mendapatkan turunan indan dari orang tua yang telah melaksanakan rambu tuka’ serta mengkaji
29 lebih dalam gambaran stress pada anak yang mendapat turunan utang dari orangtuanya.
Daftar Pustaka
Aldwin, C.M., & Revenson, T.A. (1987). Does coping help? a reexamination of the relation between coping and mental healty. Journal of Personality and Social
Psychology, 53, 337-348.
Azizah, Zulfah. (2015). Sejarah dan kebudayaan suku toraja. Diakses September 21, 2016 dari: dunia-kesenian.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-dan-kebudayaan-suku-toraja.html
Carver, C.S., Scheir, M.F., & Wientraub, J.K. (1989). Assessing coping strategies: a theoritically based approach. Journal of Personality and Social Psychology, 56, 267-283.
Chaplin, J. P. (2004). Kamus lengkap psikologi. (Terjemahan Kartini dan Kartono). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Chaplin, J. P. (1997). Kamus lengkap psikologi. (Kartono dan Kartini, Terj.). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Coyne, J., Aldwin, C., & Lazarus, R. (1981). Depression and coping in stressfull episodes.Journal of Abnormal Psychology, 50, 234-254.
Crider, A. B., Goethal, G. R., Kavanough, R. D., & Solomon, P. R. (1983). Psychology. Illinois: Sott, Foresman & Company.
Emzir. (2010). Metodologi penelitian kualitatif analisis data. Jakarta: Raja Grafindo Fatah, Rosdiana. (2014). Pergeseran nilai adat perkawinan masyarakat tidore. Other
Thesis, Universitas Negeri Gorontalo
Folkman, S. (1984). Personal control and stress and coping processes: a theoritical analysis. Journal of Personality and Social Psychology, 46, 839-858.
Hadjam, Noor Rachman. (2011). Perubahan nilai dan kesehatan mental. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
Horton, Paul B., dan Chester L. Hurt. (1987). Sosiologi jilid 1 edisi 6. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Koenjtaraningrat. (1991). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: PT Refika Cipta
Marwing, Arman. (2011). Problem psikologis dan stratrgi coipng pelaku upacara
kematian rambu solo’ di toraja (studi fenomenologi pada tana’ bulaan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Mezzina, R. (2001). Globalisation and the challenge for mental health service.
Birmingham. (tidak diterbitkan)
Pastò, L., McCreary, D., Thompson, M., (2000). Deployment stressors, coping, and
psychological well-being among peacekeepers. Toronto: Defence Research and
31 Santrock, J. W. (2003). Psychology (7th ed.). Boston: McGraw-Hill.
Taylor, S.E. (1991). Health psychology 2nd edition. University of California, Los