• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen thesis Depresi Pada anak (Halaman 35-41)

A. HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Bangsal Hemato-Onkologi anak Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Juli sampai Desember 2013, dengan jumlah subjek total 30 anak. Dari 30 subjek kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 15 anak yang lama terdiagnosis thalasemia kurang dari 1 tahun dan 15 anak yang terdiagnosis lebih dari 1 tahun. Selama berjalannya penelitian tidak ada subjek yang dikeluarkan. Didapatkan sebanyak 20 subjek mengalami depresi ringan, 10 subjek mengalami depresi sedang dan tidak ada yang mengalami depresi berat. Tabel 4.1. Karakteristik dasar penelitian berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik Terdiagnosis < 1 tahun (n) Terdiagnosis > 1 tahun (n)

Laki-laki 10 10

Perempuan 5 5

Jumlah (n) 15 15

Hasil penelitian ini didapatkan jumlah subjek laki-laki lebih besar dari perempuan (tabel 4.1). Jumlah total subjek laki-laki sebanyak 20 subjek dimana jumlah pasien yang terdiagnosis thalasemia kurang dari 1 tahun sama dengan junlah pasien yang terdiagnosis lebih dari 1 tahun.

Tabel 4.2. Karakteristik dasar penelitian berdasarkan usia

Karakteristik Usia < 12 tahun Usia ≥ 12 tahun

Laki-laki 12 8

Perempuan 1 9

Jumlah (n) 13 17

Tabel 4.2. Menjelaskan tentang karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia dan jenis kelamin, bahwa didapatkan sampel yang berusia lebih dari 12 tahun lebih banyak dari sampel yang berusia kurang dari 12 tahun (n=17). Diantara commit to user

dari pada perempuan (n=12), sedangkan pada sampel yang berusia lebih dari 12 tahun, jumlah sampel perempuan lebih banyak (n=9).

Tabel 4.3. Karakteristik dasar penelitian berdasarkan tingkat depresi dan jenis kelamin serta usia

Karakteristik Depresi Ringan(n) Depresi Sedang(n) Jenis kelamin  Laki-laki  Perempuan 5 5 15 5 Usia  < 12 tahun  > 12 tahun 3 7 10 10

Tabel 4.3. menjelaskan tentang karakteristik tingkat depresi dilihat dari jenis kelamin dan usia. Depresi sedang lebih banyak didapatkan pada sampel laki-laki dari pada perempuan (n=15). Selain itu jumlah sampel lebih banyak mengalami depresi sedang ditinjau dari segi usia.

Tabel 4.4. Hubungan tingkat depresi dengan usia dan jenis kelamin

Faktor risiko

Depresi Ringan Depresi Berat

p Jumlah (n) OR 95% CI Jumlah (n) OR 95% CI Usia < 12 tahun ≥ 12 tahun 3 7 0,560 0.179 1,759 – 10 10 1,308 0,796 2,149 – 0,745 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 5 5 2 0,751 5,329 – 15 5 0,667 0,341 1,302 – 0,301 Keterangan : bermakna bila p < 0,05

Hubungan antara tingkat depresi dengan lama terdiagnosis ditunjukkan pada tabel 4.4. Secara statistik tidak didapatkan hasil yang bermakna untuk faktor risiko depresi berdasarkan usia dan jenis kelamin, dengan nilai p > 0,05.

terdiagnosis Depresi ringan OR 95% CI Depresi sedang OR 95% CI < 1 tahun >1 tahun 7 3 2,33 0,741 - 7,352 8 12 0,667 0,390 – 1,140 0,065 Keterangan : bermakna bila p < 0,05

Hubungan antara tingkat depresi dengan lama terdiagnosis ditunjukkan pada tabel 4.5. Walaupun secara statistik tidak bermakna, didapatkan dari 15 subjek yang telah terdiagnosis thalasemia kurang dari 1 tahun terdapat 7 subjek yang mengalami depresi ringan dan 8 subjek mengalami depresi sedang. Sedangkan dari 15 subjek yang telah terdiagnosis thalasemia lebih dari 1 tahun didapatkan 3 subjek mengalami depresi ringan, dan 12 subjek mengalami depresi sedang. Ditemukan peluang thalasemia untuk menyebabkan depresi sebesar 2,33 dengan nilai p 0,065.

Tabel 4.6. Analisa Mann Whitney untuk menilai perbedaan tingkat depresi menurut lama terdiagosis

Lama terdiagnosis N Rerata U W Z p

< 1 th 15 13,50

82,5 202,5 -1,523 0,128

> 1 th 15 17,50 Keterangan : bermakna bila p < 0,05

Perbedaan kedua variabel pada penelitian dapat dilihat pada tabel 4.6. Tabel diatas menunjukkan rerata peringkat pada tiap kelompok. Kelompok pertama mempunyai rerata lebih rendah yaitu 13,50 dari pada rerata peringkat kedua yaitu 17,50. Setelah dilakukan uji statistik didapatkan nilai U sebesar 82,5 dan nilai W sebesar 202,5. Apabila dikonversikan ke nilai Z maka besarnya - 1,523, yang berarti terdapat perbedaan. Namun secara statistik dapat dikatakan tidak signifikan, karena mempunyai nilai p 0,128 (p > 0,05).

B. PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini didapatkan depresi ringan lebih banyak diderita pasien thalasemia, yaitu sebanyak 20 orang, 10 orang mengalami depresi sedang dan tidak ada yang mengalami depresi berat. Diantara subjek penelitian ditemukan subjek yang berusia lebih dari 12 tahun lebih banyak mengalami depresi daripada yang berusia kurang dari 12 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, bahwa anak usia remaja lebih banyak mengalami depresi (4,7%) dibandingkan dengan usia pra-sekolah dan usia sekolah (Coupey, 2008).

Secara statistik tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara usia dan jenis kelamin dengan tingkat depresi. Namun usia dapat menjadi faktor risiko terjadinya depresi pada anak. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan pada negara-negara berkembang, dimana faktor usia dan jenis kelamin menjadi faktor risiko yang bermakna terhadap terjadinya masalah psikososial pada anak yang mengalami penyakit kronis. Demikian juga dengan jenis kelamin, dimana jenis kelamin menjadi faktor risiko yang tidak bermakna terhadap terjadinya depresi pada anak. Kemungkinan hal ini disebabkan telah terjadinya perubahan pandangan terhadap kesetaraan jenis kelamin. Selain itu faktor lingkungan juga sangat berperan, apabila satu individu baik laki-laki maupun perempuan memiliki lingkungan yang medukung, individu tersebut kemungkinan akan mengalami masalah psikososial yang lebih kecil, yang berpotensi untuk terjadinya depresi pada anak.Depresi pada anak dan remaja ini sering kali tidak terdeteksi dan tidak menunjukkan gejala, karena kebanyakan anak remaja memiliki mood yang iritabel, sehingga penderita seringkali tidak menganggap dalam keadaan terdepresi (Coupey, 2008).

Bedasarkan hasil penelitian (tabel 4.5) didapatkan bahwa terdapat hubugan yang tidak bermakna antara thalasemia dengan kejadian depresi. Thalasemia mempunyai faktor risiko 3 kali untuk terjadinya depresi. Kejadian depresi sering dikaitkan dengan masalah psikososial atau penyakit yang bersifat kronis. Pada kasus dalam penelitian ini dikaitkan dengan thalasemia yang merupakan penyakit kronis. Menurut teori yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa semakin lama pasien menderita suatu penyakit, maka makin tinggi tingkat depresinya. Hal ini dikarenakan semakin lama penderita tersebut mendapatkan perlakuan yang tidak nyaman, baik dari gejala penyakit yag menetap, tindakan selama perawatan seperti seringnya diambil darah untuk pemeriksaan sebelum transfusi, dan pengobatan transfusi yang terus menerus (Khurana, 2006).

Namun berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar subjek mengalami depresi ringan, tidak ada yang mengalami depresi berat, dan thalaemia mempunyai faktor risiko untuk menyebabkan depresi ringan sebesar 2,3 kali dibandingkan dengan depresi sedang atau berat. Hal ini belum ada terori yang memaparkan secara jelas faktor yang mempengaruhi kemampuan pasien dalam mengatasi depresi, namun terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan pasien dalam menghadapi stress antara lain faktor interpersonal dan personal (Khurana, 2006).

Faktor interpersonal memiliki peranan yang besar pada seseorang untuk mengatasi masalah psikologisnya, yang termasuk dalam faktor ini adalah jaringan sosial, dukungan sosial dan keluarga. Beberapa teori menjelaskan bahwa individu dengan dukungan sosial yang baik akan lebih sehat dibandingkan individu yang tanpa dukungan sosial. Keterlibatan keluarga khususnya orangtua akan membantu pasien menghadapi stress. Faktor personal lebih ditekankan pada kemampuan

masing-masig individu untuk menghadapi stress yang dialaminya, namun faktor ini juga tidak lepas dari pengaruh dukungan dari keluarga khususnya orangtua (Coupey, 2008).

Penelitian ini juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara thalasemia dengan tingkat depresi. Berdasarkan hasil menunjukkan perbedaan rerata pada kedua kelompok, dimana kelompok pertama memiliki rerata yang lebih rendah, namun secara statistik tidak bermakna dikarenakan nilai p didapatkan hasil lebih dari 0,05.

Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan , diantaranya yaitu dalam jumlah sampel yang digunakan, jumlah sampel yang lebih besar diharapkan hasil yang didapatkan lebih baik dan diharapkan memiliki kekuatan penelitian yang lebih besar. Pada penelitian ini memiliki kekuatan < 50%, apabila menghendaki kekuatan penelitian sebesar 80%, maka jumlah sampel yang dibutuhkan yaitu berkisar 1.000 – 1.200. Keterbatasan lainnya yaitu dalam metode penelitian, sebaiknya dilakukan pemantauan penilaian tingkat depresi secara rutin agar dapat mengetahui dan mendeteksi kejadian depresi pada anak secara lebih akurat. Sedangkan kelebihan penelitian ini yaitu masih jarang penelitian tentang tingkat depresi dan pasien thalasemia, serta dengan adanya penelitian ini maka dapat dijadikan alat deteksi dini depresi pada anak khususnya yang mengalami penyakit kronis seperti thalasemia.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen thesis Depresi Pada anak (Halaman 35-41)

Dokumen terkait