A. Pertanggungjawaban Hukum Terhadap Kecelakaan Pesawat Udara Penyelenggaraan angkutan udara di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari memegang peran yang sangat penting dalam berbagai kegiatan, karena masyarakat dalam melakukan aktivitas sering menggunakan pesawat udara karena sarana perhubungan yang cepat, efisien dan nyaman sehingga merupakan pilihan yang paling tepat dalam kehidupan dunia modern yang menuntut segala sesuatu serba cepat dan efisien. Namun penyelenggaraan beberapa tahun terakhir ini penyelenggara angkutan udara masih menunjukkan sering terjadi kecelakaan, dengan berbagai sebab yang mengakibatkan kerugian terhadap pengguna jasa angkutan udara sebagai konsumen. Kecelakaan (accident) adalah suatu peristiwa diluar kemampuan manusia yang terjadi selama berada di dalam pesawat udara dari bandar udara keberangkatan ke bandar udara tujuan, dimana terjadi kematian, luka parah atau kerugian. Kecelakaan-kecelakaan pesawat udara tersebut dapat disebabkan berbagai faktor antara lain faktor manusia, mesin pesawat udara dan cuaca.
Kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi selama ini telah menyita perhatian masyarakat luas, karena selain interval waktu yang berdekatan dan melanda hampir seluruh maskapai penerbangan, juga yang paling menyorot perhatian publik adalah timbulnya korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Di Indonesia juga tidak kebal terhadap kecelakaan pesawat udara20.
19Achmad Ali, Loc.Cit
20Martono, H,K,. dan Amad Sudiro,. Hukum udara Nasional dan Internasional Publik (Public International anb Nasional Air Law), Raja Wali Pers, Jakarta, 2012, hlm.295
Kepercayaan masyarakat atas kenyamanan dan keselamatan dalam penggunaan transportasi udara tersebut semakin berkurang, meskipun kebutuhan atas penggunaannya sangat tinggi. Perusahaan penerbangan selaku operator, oleh masyarakat dianggap lalai dan tidak profesional dalam pengelolaan perusahaan, disisi lain Pemerintah selaku regulator juga dianggap lamban dalam mengambil tindakan atas kondisi yang terjadi di lapangan serta tidak memiliki ketegasan dalam Pengaturan atas perusahaan-perusahaan penerbangan yang tidak memenuhi standar keselamatan. Tenaga professional dibidang penerbangan merupakan asset perusahaan penerbangan yang sangat menentukan kelangsungn hidup perusahaan.
Secara garis besar, hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sektor penerbangan di Indonesia terkait kualitas dari sumber daya manusia operator penerbangan dan pembuat regulasi sangat rendah. Lemahnya kualitas sumber daya manusia itu menjadi bahaya laten dalam industri penerbangan. Kelemahan itu diduga merupakan tindakan melanggar hukum dan atau tidak sesuai dengan norma etika kerja dari industri penerbangan secara mayoritas.
Terlepas dari fakta yang ada, pertanyaannya siapa yang bertanggungjawab akan selalu penting untuk dijawab agar mereka yang terbukti terlibat dapat dimintakan pertanggungjawabannya. Selain itu, jawaban tersebut juga bermanfaat dalam merumuskan langkah-langkah preventif agar tragedi serupa tidak terjadi lagi.
Terkait dengan masalah ini, setidaknya ada tiga pihak yang yang dapat dimintakan pertanggungjawaban apabila terjadi kecelakaan pesawat. Pihak-pihak tersebut adalah pengelola bandar udara, maskapai penerbangan baik itu maskapai yang dikelola Pemerintah ataupun maskapai swasta, dan awak pesawat secara individu.
Tabel 3
Pertanggungjawaban Kecelakaan Pesawat Pihak yang
Bertanggung jawab
Bentuk Pertanggungjawaban Dasar Hukum Pengelola bandar udara Sanksi Administrasi (teguran
tertulis s/d pencabutan
Ganti Rugi/Santunan Pihak ketiga
Pasal 44 ayat (1) UU No 15/1992 tentang
Penerbangan.
Pasal 45 ayat (2) PP No 40/1995
Sumber: Diolah Penulis dari berbagai Sumber.
1. Pertanggungjawaban Administrasi Terhadap Kecelakaan Pesawat Terbang.
a. Pengelola Bandar Udara
Pengelola bandar udara dapat dimintakan pertanggungjawaban apabila terbukti bahwa kecelakaan pesawat terjadi karena disebabkan oleh kondisi bandar udara yang tidak memenuhi syarat sebagaimana ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Pasal 20 Kepmenhub No: KM 47 Tahun 2002 tentang Sertifikasi Operasi Bandar Udara menyatakan bahwa pemegang sertifikat operasi bandar udara dalam melaksanakan tugasnya wajib mematuhi ketentuan keamanan dan keselamatan penerbangan sesuai dengan standar dan prosedur yang berlaku, mempertahankan kelaikan operasi bandar udara, menunjukkan Sertifikat Operasi Bandar Udara pada saat diperlukan.
Selanjutnya Pasal 21 menegaskan bahwa apabila kewajiban-kewajiban tersebut tidak dipenuhi maka pemegang sertifikat dapat dikenakan sanksi administrasi oleh Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan terkait mulai dari peringatan tertulis sampai dengan pencabutan sertifikat.
b. Maskapai Penerbangan
Selain tuntutan ganti rugi, maskapai penerbangan yang tidak mematuhi ketentuan yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan juga dapat dicabut izin usahanya sebagaimana diatur dalam Pasal 22-23 PP No. 40/1995.
Pencabutan izin usaha tersebut dilakukan setelah sebelumnya ditempuh prosedur teguran tertulis yang kemudian diikuti dengan pembekuan izin.
Artinya bahwa dalam setiap kecelakaan pesawat pihak pertama yang harus bertanggung jawab adalah maskapai penerbangan. “Sudah menjadi rahasia umum, maskapai penerbangan terkadang kurang memperhatikan maintenance (perawatan) pesawat bahkan perbaikan komponen pesawat dengan mengorbankan komponen pesawat lainnya.
c. Air Traffic Control (ATC)
Pihak Air Traffic Control (ATC) juga memiliki tanggung jawab dalam hukum administrasi negara, sebagaimana diketahui mengenai pengatur lalu lintas udara / ATC yang ada di Indonesia secara teknis berada dibawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Perhubungan Udara) yang merupakan induk Air Traffic Control (ATC). Guna mendukung pelaksanaannya Dirjen Perhubungan Udara mengangkat seorang atau mereka yang mempunyai
keahlian dibidang pesawat lalu lintas udara, berwenang memberikan sertifikat kecakapan personil, menggajinya serta dipekerjakan dalam lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Hal ini tertuang dalam pelaksanaan licencing dan rating bagi petugas pemandu lalu lintas udara didasarkan pada Keputusan Dirjen Perhubungan Udara SKEP/11/II/1984 tanggal 11 Februari 1984, tentang Petunjuk Pelaksanaan licencing dan rating bagi petugas pemandu. Penerbangan sistem licencing dan rating bag ipetugas pengatur lalu lintas udara merupakan suatu pembinaan fungsional dalam rangka meningkatkan kemampuan dan profesionalisme.
Seorang profesional seperti Air Traffic Control (ATC) hanya menjalankan tugasnya sesuai dengan bidang keahliannya, apabila terjadi kesalahan pada waktu menjalankan tugasnya, maka Dirjen Perhubungan Udara bertanggung jawab terhadap penanganan seorang Air Traffic Control (ATC). Seorang Air Traffic Control (ATC) apabila melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya dapat dikenakan sanksi administrasi misalnya dipecat, diberhentikan untuk sementara atau dicabut surat tugasnya. Ketentuan ini dapat dilihat dalam Perauran Pemerintah No. 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan.
Pencabutan sertifikat kecakapan ini sudah selayaknya dilakukan kepada personil Air Traffic Control (ATC) yang melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya. Karena mereka dianggap sudah cukup atau orang yang profesional dalam bidang pelayanan lalu lintas udara. Tetapi pencabutan sertifikat kecakapan ini harus melalui prosedur yang telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan dan harus disesuaikan dengan tingkat kesalahan yang dilakukan oleh personil Air Traffic Control (ATC).
2. Pertanggungjawaban Perdata Terhadap Kecelakaan Pesawat Terbang.
Maskapai penerbangan yang dalam banyak kasus seringkali menjadi sorotan utama, juga dapat dimintakan pertanggungjawaban apabila terjadi kecelakaan pesawat. Pasal 43 ayat (1) UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan menyatakan bahwa maskapai penerbangan bertanggung jawab atas kematian atau lukanya penumpang, musnah, hilang atau rusaknya barang yang diangkut, dan keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. Terkait dengan hal ini, pihak yang dirugikan dapat menuntut ganti rugi kepada maskapai tersebut.
Secara perdata tanggung jawab Jasa Pengangkut Udara yaitu Pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian yag diakibatkan oleh kecelakaan pesawat terhadap:
1) Penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka;
2) Hilang atau rusaknya bagasi kabin;
3) Hilang, musnah atau rusaknya bagasi tercatat.
Terkadang dalam pembayaran kompensasi terhadap pengguna jasa angkutan udara yang mengalami kerugian diselesaikan melalui dua mekanisme yaitu mediasi atau litigasi. Contohnya mekanisme mediasi jasa angkutan udara menawarkan kepada pengguna jasa angkutan udara pembayaran kompensasi sebesar Rp 200.000 sedangkan di dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor:
PM 77 Tahun 2011 yaitu pembayaran kompensasi sebesar Rp 500.000 dan contoh litigasi melalui pengadilan yaitu jasa angkutan udara membayar kompensasi terhadap pengguna jasa angkutan udara sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara Pasal 3 bagian a, besarnya ganti kerugian terhadap penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka yaitu sebagai berikut : Penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena akibat kecelakaan pesawat udara atau kejadian yang semata-mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara diberikan ganti kerugian sebesar Rp 1.250.000.000 (satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) per penumpang. Dan untuk penumpang yang mengalami cacat tetap pada pasal 3 bagian c yaitu : Penumpang yang dinyatakan cacat tetap total oleh dokter dalam jangka waktu paling lambat 60 hari kerja sejak terjadinya kecelakaan diberikan ganti kerugian sebesar Rp 1.250.000.000 (satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) per penumpang.
Sedangkan pada Pasal 3 bagian e, penumpang yang mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit, klinik atau balai pengobatan sebagai pasien rawat inap atau rawat jalan, akan diberikan ganti kerugian sebesar biaya perawatan yang nyata paling banyak Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) per penumpang.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara pada Pasal 15, besarnya ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam pasal, ditetapkan berdasarkan kriteria:
a. Tingkat hidup yang layak rakyat Indonesia
b. Kelangsungan hidup Badan Usaha Angkutan Udara c. Tingkat inflasi kumulatif
d. Pendapatan perkapita
e. Perkiraan usia harapan hidup f. Perkembangan nilai mata uang
Tuntutan ganti kerugian oleh penumpang dan /atau pengirim barang serta pihak ketiga yang mengalami kerugian berdasarkan bukti:
a. Dokumen terkait yang membuktikan sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tiket, bukti bagasi tercatat (claim tag) atau surat muatan udara (airway bill) atau bukti lain yang mendukung dan dapat dipertanggung jawabkan.
b. Surat keterangan dari pihak yang berwenang mengeluarkan bukti telah terjadinya kerugian jiwa dan raga atau harta benda terhadap pihak ketiga yang mengalami kerugian akibat pengoperasian pesawat udara.
Dalam penyelesaian sengketa ini, besaran ganti kerugian yang diatur dalam peraturan ini tidak menutup kesempatan kepada penumpang, ahli waris, penerima kargo atau pihak ketiga untuk menuntut pengangkut ke Pengadilan Negeri di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa lain sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Selanjutnya bahwa pihak ketiga pun dapat menuntut ganti rugi kepada pihak yang mengoperasikan pesawat apabila ia terkena dampak dari sebuah kecelakaan pesawat. Hal ini, tambahnya, sebagaimana diatur dalam Pasal 44 ayat (1) UU No 15/1992 tentang Penerbangan.
Pasal 44 ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggung jawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan.
Jadi, warga sekitar yang mengalami dampak langsung kecelakaan pesawat bisa saja menuntut ganti rugi kepada Mandala apabila mereka merasa dirugikan akibat kecelakaan kemarin, ujar Ruthanna. Mengenai besarnya ganti rugi, pasal 45 ayat (2) PP No 40/1995 menetapkan bahwa santunan untuk pihak ketiga yang meninggal dunia sebesar Rp40 juta, bagi yang menderita luka setinggi-tingginya Rp40 juta, bagi yang cacat tetap setinggi-tingginya Rp50 juta. Terkait dengan hal ini, maka tuntutan ganti rugi yang dapat diajukan oleh pihak ketiga hanya terbatas pada kerugian yang diderita. Hal ini, menurut Mieke, sesuai dengan ketentuan dalam Rome Convention 1952 on Damage to thirdparties on surface.
Artinya Kalau rumah penduduk hancur, maka pihak yang bertanggung jawab harus mengganti sampai rumah itu kembali seperti semula.
3. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Kecelakaan Pesawat Terbang.
Berbeda dengan kecelakaan mode transportasi di darat dan laut yang sering diselesaikan melalui sistem peradilan pidana, dalam kecelakaan moda transportasi penerbangan ini sejak Indonesia merdeka sampai dengan saat ini yang sudah lima puluh tiga tahun lebih tidak ada satu pun kecelakaan pesawat udara yang diselesaikan melalui sistem peradilan pidana. Padahal, KUHP telah mengatur tindak pidana yang berkaitan dengan kecelakaan pesawat udara (murni) secara lengkap dalam Pasal 359, 360 dan Pasal 479 KUHP.
Menurut E. Syaifullah, persoalan mendasar yang kini dihadapi dalam kegiatan transportasi udara, yaitu antara lain21:
a. Regulasi Penerbangan
Dari sisi regulasi masih belum tertata dengan baik, mulaidari sistematika materi peraturan perundang-undangan nasional sampai pada tahap implementasinya di lapangan masih perlu penanganan yang serius.
b. Kualitas service Penerbangan
Makin banyaknya jumlah maskapai penerbangan nasional, di satu sisi baik karena akan memberikan banyak pilihan bagi konsumen, namun di sisi lain menimbulkan persaingan yang salah kaprah, bukan dalam bagaimana memberikan service yang terbaik tapi dalam bentuk perang tarif untuk dapat meraup penumpang sebanyak-banyaknya. Akibatnya, untuk mengimbangi keuntungan yang berkurang maka dilakukan efisiensi yang sayangnya salah kaprah pula sehingga berdampak sangat besar terhadap faktor keselamatan
21E. Syaifullah, Artikel: Dilema Penerbangan Kita, (www.unisba.co.id: diakses tanggal 4 Januari 2019
penerbangan. Karena seringnya kecelakaan terjadi menimbulkan citra buruk terhadap dunia penerbangan kita, yang akhirnya mendapat sanksi dari dunia internasional.
c. Globalisasi dan Liberalisasi
Era globalisasi dan liberalisasi, termasuk di bidang penerbangan, adalah suatu keniscayaan, namun di sisi lain dunia penerbangan nasional kita belum siap menghadapinya”.2
Kecelakaan pesawat udara komersil pada perusahaan penerbangan nasional yang pernah terjadi di Indonesia merupakan pengalaman yang pahit untuk masa lalu dan manisuntuk masa yang akan datang. Oleh karena itu untuk menentukan pertanggung jawaban pidana terkait kecelakaan peswat terbang maka perlu dipahami terlebih dahulu faktor materiil atau faktor dari pesawat udara yang dapat menjadi “penyebab terjadinya kecelakaan pesawat udara adalah seperti pesawat udara yang mengalami keletihan. Kemudian yang dimaksud dengan faktor media yang menjadi penyebab kecelakaan pesawat udara adalah faktor cuaca, seperti angin yang datang secara tiba-tiba, awan berputar-putar yang biasa disebut awan Cumolonimbus (CB), topan, salju, awan hitam”22.
Kecelakaan adalah suatu kejadian yang menyebabkan kecelakaan, dimana kejadian tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diharapkan, dimana kejadian tersebut terjadi tidak seperti biasanya atau tidak dapat dapat di antisipasi. Di dalam dunia penerbangan penyebab kecelakaan tidak pernah disebabkan oleh faktor tunggal yang berdiri sendiri. Suatu sebab yang berdiri sendiri tidak mempunyai artiapa-apa, tetapi apabila kombinasi berbagai faktor dapat menyebabkan kecelakaan pesawat terbang yang mengakibatkan kematian orang. Yang dimaksud penyebab kecelakaan tersebut adalah “sesuatu yang ada dan terjadi ”pada manusia, materiil, dan media dan dimana sesuatu tersebut menimbulkan kecelakaan.
“Kecelakaan adalah suatu peristiwa di luar kemampuan manusia yang terjadi selama berada di dalam pesawat udara dari bandar udara keberangkatan ke bandar udara tujuan, di mana terjadi kematian atau luka parah atau kerugian yang disebabkan oleh benturan dengan pesawat udara atau semburan mesin jet pesawat udara atau terjadi kerusakan struktural atau adanya peralatan yang perlu diganti atau pesawat udara hilang sama sekali”.23
a. Pertanggung jawaban Pidana Awak Pesawat
Pertangung jawaban pidana awak pesawat pun baik itu pilot maupun kru lainnya tidak bisa lari dari tanggung jawab apabila terjadi kecelakaan pada pesawat yang mereka operasikan, tentunya jika yang bersangkutan masih hidup. Pasal 359 dan 360 KUHP menetapkan bahwa orang yang karena kesalahannya menyebabkan orang lain mati atau luka berat, maka diancam pidana penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun. Ancaman pidana tersebut bahkan dapat ditambah sepertiga serta dipecat
22K. Martono, Hukum Udara, Angkutan Udara dan Hukum Angkasa, Hukum Laut Internasional, Buku kedua, Mandar Maju, Bandung,1995, hlm.144.
23K. Martono, Hukum Udara, Angkutan Udara dan Hukum Angkasa, Alumni, 1987, Bandung, hlm. 10
dari pekerjaan, menurut Pasal 361 KUHP, jika tindak pidana tersebut dilakukan terkait dengan jabatan atau pekerjaan.
Ancaman hukuman terhadap awak pesawat juga diatur dalam UU No 15 Tahun 1992. Pasal 60 disebutkan bahwa barang siapa yang menerbangkan pesawat yang dapat membahayakan keselamatan pesawat, penumpang dan barang, dan/atau penduduk, atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda setinggi-tingginya Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Selanjutnya Pasal 64 menyatakan bahwa barang siapa mengoperasikan fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp18 juta.
Di samping ancaman penjara dan denda, seorang awak pesawat, menurut Pasal 101 PP No. 3/2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, juga diancam dengan pencabutan sertifikat kecakapan personil penerbangan apabila ia terbukti tidak memenuhi kewajiban sebagaimana ditetapkan oleh PP No 3/2001. Salah satu kewajiban yang dimaksud adalah memenuhi ketentuan tata cara berlalu lintas udara yang meliputi batas ketinggian, kawasan udara terlarang, terbatas dan berbahaya, lepas landas, pendaratan dan pergerakan di darat atau air, dan sebagainya.
Pertanggungjawaban (pidana) berdasarkan kesalahan terutama diabatasi pada perbuatan yang dilakukan dengan sengaja (dolus). Dapat dipidananya delik culpa hanya bersifat perkecualian (eksepsional) apabila ditentukan secara tegas oleh Undang-undang, sedangkan pertanggung jawaban terhadap akibat-akibat tertentu dari suatu tindak pidana yang oleh Undang-undang diperberat ancaman pidananya, hanya dikenakan kepada terdakwa apabila ia sepatutnya sudah dapat menduga kemungkinan terjadinya akibat itu atau apabila sekurang-kurangnya ada kealpaan. Jadi konsep tidak menganut doktrin “Erfolgshaftung”
(doktrin “menanggung akibat”) secara murni, tetapi tetap diorientasikan pada asas kesalahan”24. Menurut Adam Smith: dalam teori kapitalisme klasik bahwa apabila setiap individu dibebaskan untuk mencapai kepentingannya sendiri maka situasi ini akan menghasilkan kebaikan bagi masyarakat secara keseluruhan”25. Pada umumnya setiap orang harus bertanggung jawab (aasprakkelijk) terhadap tindakan atau perbuatannya. Bertanggung jawab berarti terikat sehingga tanggung jawab dalam pengertian hukum bearti keterikatan.”26
Membahas hukum pidana dengan segala aspeknya (aspek-aspek sifat melawan hukum, kesalahan dan pidana), akan selalu menarik perhatian, berhubung
24Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (PerkembanganPenyusunan Konsep KUHP Baru), Prenada Media Group, Jakarta, 2008, hlm. 85.
25Adji Samekto. Studi Hukum Kritis: Kritik Terhadap Hukum Modern, Badan Penertbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2003, hlm. 77 .
26Teguh Sulistia dan Aria Zurnetti, Hukum Pidana Horizon Baru Pasca Reformasi, Rajawali Press, Jakarta, 2011, hlm. 228.
dengan sifat dan fungsinya yang istimewa. Seiring dikatakan bahwa hukum pidana memotong dirinya sendiri”27 serta mempunyai fungsi ganda yakni yang primer sebagai sarana penanggulangan kejahatan rasional (sebagai bagian politik kriminal) dan yang sekunder sebagai sarana sebagaimana dilaksanakan secara spontan atau secara dibuat oleh negara dengan alat pelengkapannya.
Sudarto28 : “ berpendapat bahwa yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja di bebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu, sedangkan Roeslan Saleh29 mengatakan: bahwa pidana adalah reaksi atas delik dan iniberujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditumpukan kepada pembuat delik itu”.30 Berpangkal tolak dari teori duaistis “yang memisahkan tindak pidana dan pertanggung jawaban pidana, bahwa unsur pembentuk tindak pidana hanyalah perbuatan”31. Pada dasarnya tindak pidana adalah perbuatan atau serangkaian perbuatan yang padanya dilekatkan sanksi pidana. Pengertian tindak pidana hanya berisi tentang karakteristik perbuatan yang diarang dan diancam dengan pidana. Dengan demikian, dilihat dari istilahnya, hanya sifat-sifat dari perbuatan saja yang meliputi suatu tindak pidana. Dalam hal ini kesalahan harus dipertimbangkan sebagai dasar pemidanaan, selain perbuatan pidananya.
“tiada pidana tanpa kesalahan“ disini, selain berarti “tiada pertanggungjawaban pidana tanpa perbuatan pidana”, juga “tiada pertanggungjawaban pidana tanpa kesalahan”. Mempertanggungjawabkan seseorang dalam hukum pidana selain pertama-tama dapat dibuktikan seseorang melakukan perbuatan pidana, kemudian harus dipertimbangkan pula kesalahannya atas hal itu.”32
Dipidananya seseorang tidaklah cukup dengan membuktikan bahwa orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of apenal provision), namun hal tersebut belum memenuhi syarat untukpenjatuhan pidana. Untuk dapat dipertanggungjawabkannya orang tersebut masih perlu adanya syarat, bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). Dengan perkataan lain, orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatnnya, perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut.
27Van Bemelen, dalam Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat, Alumni, Bandung, 1992, hlm, 15-16.
28Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, 1986, Bandung, hlm. 35.
29Muladi dan Barda Nawawi arief, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, Op,Cit, hlm. 2.
30Sudarto, Op.Cit., hlm. 34
31Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjwaban Dalam Hukum Pidana, Bina Aksara,1983, Jakarta, hlm. 10
32Chairul Huda,“Dasar-Dasar Teori Dan Filsafat Rancangan Kitab Undang-UndangHukum Pidana”, Disampaikan Dalam Sidang Terbuka Memeperingati Dies Natalis XVII DanWisuda IX Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) (Jakarta : 04 Juni 2005),hlm. 24-25.
Dalam hal ini berlaku asas “Tiada Pidana Tanpa Kesalahan” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas, meliputi juga kesengajaan).Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dalam peraturan lain, namun berlakunya asas tersebut
Dalam hal ini berlaku asas “Tiada Pidana Tanpa Kesalahan” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas, meliputi juga kesengajaan).Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dalam peraturan lain, namun berlakunya asas tersebut