HASIL
HASIL
HASIL PENELITIANPENELITIANPENELITIANPENELITIAN
5.1.
5.1.5.1.5.1. HasilHasilHasilHasil PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
Penelitian ini dilakukan dari tanggal 24 – 30 Juni 2010. kegiatan dalam penelitian ini adalah perhitungan larva nyamuk Aedes aegypti yang mati setelah perlakuan. Adapun hasilnya sebagai berikut:
Akumulasi data :
Tabel 5.1. Akumulasi data Konsentrasi 100%
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 8 8 9 8
48 jam 12 11 13 13
Tabel 5.2. Akumulasi data Konsentrasi 50%
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 4 5 5 5
48 jam 9 9 8 9
Tabel 5.3. Akumulasi data Konsentrasi 25%
jam ke Pengulangan1 pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 1 1 1 2
48 jam 5 4 4 5
Tabel 5.4. Akumulasi data Kontrol positif
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 22 23 24 22
48 jam 25 25 24 23
Tabel 5.5. Akumulasi data Kontrol negatif
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 0 0 0 0
48 jam 0 0 0 0
Tabel 5.6. Persentase rata – rata kematian larva pada Konsentrasi 100% Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 32% 48%
2 32% 44%
3 36% 52%
4 32% 52%
Rata rata 33% 49%
Tabel 5.7. Persentase rata – rata kematian larva pada Konsentrasi 50% Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 16% 36%
2 20% 36%
3 20% 32%
4 20% 36%
Rata rata 19% 35%
Tabel 5.8. Persentase rata – rata kematian larva pada Konsentrasi 25%
Tabel 5.9. Persentase rata – rata kematian larva pada Kontrol positif Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 88% 100%
2 92% 100%
3 96% 96%
4 88% 92%
Rata rata 91% 97%
Tabel 5.10. Persentase rata – rata kematian larva pada kontrol negatif Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 0% 0%
2 0% 0%
3 0% 0%
4 0% 0%
Rata rata 0% 0% 5.2 Hasil Analisa Statistik
Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 4% 20%
2 4% 16%
3 4% 16%
4 8% 20%
Hasil uji Kruskal-Wallis untuk kematian larva nyamuk Aedes aegyptiuntuk pengamatan setelah paparan dalam 24 jam maupun 48 jamdiperoleh nilai p = 0,000, oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa paling tidak terdapat pebedaan jumlah larva yang mati antara dua kelompok. Untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan, maka harus dilakukan analisis post hoc. Alat untuk melakukan analisis post hoc untuk uji Kruskal-Wallis adalah dengan uji Mann-Whitney.
• Mann-Whitney
Hasil uji Mann-Whitney untuk kematian larva nyamuk Aedes aegypti
menunjukkan bahwa pasangan kepadatan yang mempunyai nilai signifikansi < 0,05 yaitu p = 0.001 adalah kepadatan 25% dengan 50%, 25% dengan 100%, 50% dengan 100%, baik setelah paparan 24 jam maupun 48 jam. Hal ini menunjukkan pasangan – pasangan kepadatan tersebut mempunyai rataan yang berbeda secara bermakna. Untuk pasangan kepadatan 100% dengan kontrol positif setelah paparan 24 jam ternyata hasil uji p > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua paparan.
•Korelasi Peringkat dari Spearman
Korelasi Spearman ini dipilih karena distribusi data tidak normal. hasil uji korelasi Spearman menunjukkan rs hitung adalah 1 ( > rs tabel α=0,05 ), dan p<0,05, maka terdapat korelasi yang bermakna antara dua variabel yang diuji.
BAB
BAB
BAB
BAB 6666
PEMBAHASAN
PEMBAHASANPEMBAHASANPEMBAHASAN
Breeding place atau tempat perindukan nyamuk vektor demam berdarah dengue, yaitu nyamuk Aedes aegypti, terutama adalah pada kontainer-kontainer artificial atau buatan manusia, yang berisi air tawar yang jernih. Walaupun demikian tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dapat saja di container-kontainer buatan yang airnya telah tercemar, dan juga pada genangan-genangan air alamiah yang telah mengalami pencemaran. (Neva and Brown, 1994).
Nyamuk Aedes aegypti dewasa betina yang aktif bertelur, meletakkan telurnya pada genangan air jernih, terutama pada kontainer-kontainer buatan pada rumah tangga yang sengaja atau tidak berisi air yang jernih. Telur diletakkan di dinding wadah yang sangat berdekatan dengan permukaan air jernih dalam kontainer tersebut tersebut, telur ini akan menetas menjadi larva. (Neva and Brown, 1994).
Seperti nyamuk pada umumnya, dari fase larva dalam waktu paling lama 3 minggu akan metamorfosis menjadi fase pupa. Perubahan fase ini tergantung kondisi lingkungan. Bila keadaan lingkungan kurang baik, perubahan dapat berlangsung hingga lebih dari satu minggu. Fase pupa ini merupakan fase tanpa makan dan berlangsung selama 2 sampai dengan 5 hari. (Neva and Brown, 1994; Tjahjono, 2005).
Oleh karena obat untuk demam berdarah serta vaksinnya belum ditemukan, maka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit tersebut hanya dapat dilakukan melalui pemutusan rantai penularan manusia-nyamuk-manusia, yaitu di antaranya dengan membasmi nyamuk vektornya. (Boesri, 2005; Sulianti, 2004).
Tanaman hias air tawar yang digemari antara lain adalah Cabomba. Tanaman ini mempunyai sifat sebagai oksigenator dan menyerap garam yang berlebih pada air tawar, selain itu juga berpotensi agresif dan invasif, serta dapat mencemari air tawar karena proses pembusukannya sendiri. (Anonim, 2000; Anonim, 2006; Anonim, 2007).
Tanaman air mempunyai peranan dalam proses fotosintesis dan respirasi membuat ekosistem lebih mendekati habitat aslinya ketika berada di akuarium. Ini penting untuk kelangsungan ikan agar bisa lebih sehat, dan warnanya makin cemerlang dan eksotik. Selain memunyai peranan dalam fotosintesis dan respirasi dari segi estetisnya, tanaman air tidak dapat digantikan dengan ornamen buatan karena tidak akan memberikan kesan alami sekaligus aman bagi ikan. Tanaman air juga dapat dijadikan sebagai indikator kualitas air, jika tanaman terlihat subur ikan akan sehat dan bisa berkembang biak dengan baik. Tidak hanya itu, tanaman air juga salah satu sumber makanan organik, penyaring kotoran, dan tempat bertelur bagi ikan. (Swastika, 2006).
Kontainer buatan manusia yang berpotensi sebagaibreeding placenyamuk
Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue, salah satunya adalah aquarium air tawar yang digunakan untuk memelihara tanaman air tawar
Cabomba. Sedangkan tanaman air tawar Cabomba tersebut memiliki aktifitas biologis yang berpotensi menunjang maupun tidak menunjang kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan larva nyamukAedes aegypti.
Tanaman yang mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang menjadi dominan, biasanya menghasilkan senyawa yang membuat tanaman lain terhambat
pertumbuhan dan perkembangannya. Senyawa seperti ini dikenal sebagai
allelopathic.
Tanaman air tawar tersebut berbunga yang muncul di permukaan air, warna bunganya kekuningan. Cabombasangat dikenal sebagai tanaman aquarium air tawar, yang dapat bersifat agresif dan invasif, berkembang biak secara vegetatif. Akarnya menempel pada dasar badan air, dan dapat tumbuh ke dalam hingga tiga meter, ataupun hanya melayang bebas dalam air. Pembuangan sebagian tanaman air tawar ini dari aquarium dalam rangka perawatannya, harus memperhatikan perkembangbiakkannya yang cepat pada habitat alamiahnya, terutama jangan sampai dibuang ke daerah aliran air tawar, seperti sungai, danau atau bendungan. (Anonim, 1999; Anonim, 2004; Anonim, 2006).
Ciri khasnya seluruh bagian tanaman terendam dalam air. Ia mampu membersihkan udara, menyerap kandungan garam yang berlebihan di dalam air, dan menjadi tempat berlindung dan menyimpan telur ikan. Maka cocok dijadikan tanaman penghias akuarium. (Anonim, 2003).
Spesies-spesies Cabomba yang biasa dipelihara sebagai tanaman hias aquarium adalah Cabomba caroliniana danCabomba aquatica,yang secara lokal dikonsumsi pula sebagai sayuran. Spesies-spesies tersebut juga merupakan penghasil oksigen yang baik. (Anonim, 2000; Anonim, 2007).
Spesies dari nyamuk Aedes aegypti adalah serangga yang termasuk organismeinvertebrate, demikian pula larvanya tidak mempunyai tulang belakang, dan hidup mencari makan serta bermetamorfosis di dalam dan di dekat permukaan air tawar. Air tawar yang disukai adalah yang jernih, namun tidak menutup
kemungkinan untuk hidup dan tumbuh dalam lingkungan air yang tercemar. (Neva and Brown, 1994).
Bahan-bahan alellopatik yang terdapat atau dikandung oleh tanaman air tawar Cabomba berdasarkan pengujian bahan aktif fitokimia yang dilakukan oleh Markom dan kawan-kawan (2009), menunjukkan adanya komponen flavonoid, saponin, dan alkaloid, walaupun yang diuji adalah ekstrak dari hanya satu spesies
Cabomba, yaitu Cabomba furcata, namun ini sudah merupakan awal pengetahuan bahwa memang anggota genus tanaman air tawarCabombamemang mengandung bahan-bahan alellopatik tersebut.