LAPORAN
LAPORANLAPORANLAPORAN PENELITIANPENELITIANPENELITIANPENELITIAN DOSENDOSENDOSENDOSEN
PENGARUH PENGARUH PENGARUH
PENGARUH EKOLOGIEKOLOGIEKOLOGIEKOLOGI TANAMANTANAMANTANAMANTANAMAN AIRAIR TAWARAIRAIRTAWARTAWARTAWARCABOMBACABOMBACABOMBACABOMBA TERHADAP
TERHADAPTERHADAPTERHADAP LARVALARVALARVALARVA NYAMUKNYAMUKNYAMUKNYAMUKAEDESAEDESAEDESAEDES AEGYPTIAEGYPTIAEGYPTIAEGYPTI
Penelitian ini dibiayai oleh Universitas Hang Tuah
Oleh: dr.
dr. dr.
dr. ErinaErinaErinaErina Yatmasari,Yatmasari,Yatmasari,Yatmasari, M.Kes.M.Kes.M.Kes.M.Kes. NIK:
NIK:NIK:NIK: 01194011940119401194
FAKULTAS FAKULTAS FAKULTAS
FAKULTAS KEDOKTERANKEDOKTERANKEDOKTERANKEDOKTERAN UNIVERSITAS
UNIVERSITAS UNIVERSITAS
UNIVERSITAS HANGHANGHANGHANG TUAHTUAHTUAHTUAH SURABAYASURABAYASURABAYASURABAYA TAHUN
ABSTRACT
ECOLOGICAL INFLUENCEINFLUENCEINFLUENCEINFLUENCE OFOFOFOF THETHE AQUATICTHETHEAQUATICAQUATICAQUATIC PLANTPLANTPLANTPLANT NAMEDNAMEDNAMEDNAMED CABOMBA
CABOMBACABOMBACABOMBA TOTOTOTO THETHETHETHE AEDESAEDESAEDESAEDES AEGYPTIAEGYPTIAEGYPTIAEGYPTI LARVALLARVALLARVALLARVAL STAGESTAGESTAGESTAGE
oleh:
oleh:
oleh:
oleh: Erina
Erina
Erina
Erina Yatmasari
Yatmasari
Yatmasari
Yatmasari
Dengue hemorrhagic fever still cause any outbreaks suspected because of the increasing of the artificial container man made that have potencies to be the breed place of the Aedes aegypti, one of the mosquito species as the main vector of dengue hemorrhagic fever, such as aquatic aquarium used to care the aquatic plant named Cabomba. Whenever the Cabomba has biological activity to support or not support the life, growth and development of the Aedes aegypti larval.
Based on the reason above, it is important to understand the pontetial influence of the Cabomba to the Aedes aegypti larval.
The design of the research is the true experimental-post test only control group design, in order to understand the influence of the Cabomba in aquatic aquarium to the Aedes aegypti larval.
This research used 5 containers, each of them to be contained with 25 larval of Aedes aegypti. The trial used 3 interventions, 1 positive control with temephos, and 1 negative control without any intervention.
The result showed, the Kruskal-Wallis statistical test for the death of the Aedes aegypti larval showed p=0.000, because the probability was less than 0.05, it showed that at least there was a different between twogroups of treatment. Mann-Whitney statistical test showed that the couple of concentration which had significant level was 25% and 50% (sig = 0,000), 25% and 100% (sig = 0,000), 50% and 100% (sig = 0,000). Those showed that the couples of the concentrations had significantly different averages. The Spearman Rank correlation test showed the statistical rs was 1 ( > rs table α=0,05 ), so that meant there was a significant correlation between two variables tested.
ABSTRAKSI
PENGARUH EKOLOGIEKOLOGIEKOLOGIEKOLOGI TANAMANTANAMANTANAMANTANAMAN AIRAIR TAWARAIRAIRTAWARTAWARTAWARCABOMBACABOMBACABOMBACABOMBA TERHADAP
TERHADAPTERHADAPTERHADAP LARVALARVALARVALARVA NYAMUKNYAMUKNYAMUKNYAMUKAEDESAEDESAEDESAEDES AEGYPTIAEGYPTIAEGYPTIAEGYPTI
oleh:
oleh:
oleh:
oleh: Erina
Erina
Erina
Erina Yatmasari
Yatmasari
Yatmasari
Yatmasari
Demam berdarah dengue yang masih sering menimbulkan kejadian luar biasa diduga juga karena semakin banyaknya kontainer buatan manusia yang berpotensi sebagai breeding place nyamuk Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue, salah satunya adalah aquarium air tawar yang digunakan untuk memelihara tanaman air tawar Cabomba. Sedangkan tanaman air tawar Cabomba
tersebut memiliki aktifitas biologis yang berpotensi menunjang maupun tidak menunjang kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk Aedes aegypti.
Oleh karena itu perlu diketahui pengaruh yang potensial dari tanaman air tawarCabombaterhadap larva nyamukAedes aegypti.
Desain penelitian yang digunakan adalah true experimental-post test only control group design, untuk mengetahui pengaruh tanaman air tawar Cabomba
dalam aquarium air tawar terhadap larva nyamukAedes aegypti.
Di dalam penelitian ini digunakan 5 kontainer, masing-masing kontainer berisi 25 larva. Percobaan ini menggunakan 3 perlakuan, 1 kontrol positif dengan pemberian abate (temefos), dan 1 kontrol negatif yaitu tanpa perlakuan.
Hasil uji statistik Kruskal-Wallis untuk kematian larva nyamuk Aedes aegypti diperoleh nilai p = 0,000, oleh karena nilai p<0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa paling tidak terdapat pebedaan jumlah larva yang mati antara dua kelompok. Uji Mann-Whitney untuk kematian larva nyamuk Aedes aegypti
menunjukkan bahwa pasangan konsentrasi yang mempunyai nilai signifikansi<0,05 adalah konsentrasi 25% dengan 50% (sig = 0,000), 25% dengan 100% (sig = 0,000), 50% dengan 100% (sig = 0,000). Hal ini menunjukkan pasangan – pasangan konsentrasi tersebut mempunyai rataan yang berbeda secara bermakna. Uji Korelasi Spearman menunjukkan rs hitung adalah 1 ( > rs tabel α=0,05 ), maka terdapat korelasi yang bermakna antara dua variabel yang diuji.
HALAMAN HALAMAN HALAMAN
HALAMAN PENGESAHANPENGESAHANPENGESAHANPENGESAHAN LAPORAN
LAPORANLAPORANLAPORAN PENELITIANPENELITIANPENELITIANPENELITIAN DOSENDOSENDOSENDOSEN
1. Diajukan kepada : Rektor
c.q. Ketua Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hang Tuah Surabaya
2. a. Judul Penelitian : Pengaruh Ekologi Tanaman Air Tawar Cabombaterhadap Larva NyamukAedes aegypti
b. Bidang Ilmu : Parasitologi Kedokteran c. Kategori Penelitian : Eksperimental
3. Ketua Peneliti :
a. Nama Lengkap dan Gelar : dr. Erina Yatmasari, M.Kes b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Golongan / Pangkat : III B / Penata Muda Tk. I
d. NIP / NIK : 01194
e. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli 150
f. Fakultas/Jurusan : Kedokteran / Sarjana Kedokteran 4. Susunan Tim Peneliti :
Anggota :
-5. Lokasi Penelitian : Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hang Tuah
6. Lama Penelitian : 1 (satu) bulan
7. Biaya Penelitian : Rp. 15.000.000 (Lima Belas Juta Rupiah) Surabaya, 01 Agustus 2010 Mengetahui,
Dekan Fakultas Kedokteran Ketua Peneliti,
( dr. Janto Poernomo Hadi, SpP) (dr. Erina Yatmasari, M.Kes.)
DAFTAR
DAFTAR
DAFTAR
DAFTAR ISI
ISI
ISI
ISI
HALAMAN HALAMANHALAMANHALAMAN
Halaman Judul ……… i
Halaman Pengesahan……… ii
Daftar Isi ………. iii
BAB BABBABBAB 1 Pendahuluan………. 1
1.1. Latar Belakang……….. 1
1.2. Rumusan Masalah………. 3
1.3. Tujuan Penelitian……… 3
1.4. Manfaat Penelitian………. 3
1.4.1. Manfaat Teoritis……….. 3
1.4.2. Manfaat Praktis……… 3
2 Tinjauan Pustaka….... ……….. 5
2.1. Vektor Demam Berdarah……… 5
2.2. Tanaman Air TawarCabomba……… 8
3 Kerangka Konseptual dan Hipotesis………. 9
3.1. Kerangka Konseptual………. 9
3.2. Hipotesis………. 13
4 Metoda Penelitian……….. 14
4.1. Desain Penelitian……… 14
4.2. Populasi dan Sampel……… 15
4.2.1. Populasi………. 15
4.2.2. Sampel………... 15
4.2.3. Besar Sampel………. 15
4.2.4. Teknik Pengambilan Sampel………. 16
4.3. Variabel dan Definisi Operasional Variabel…… 16
4.3.1. Variabel………. 16
4.3.2. Definisi Operasional Variabel……… 17
4.4. Bahan Penelitian……….. 17
4.6. Lokasi dan Waktu Penelitian………. 18 4.7. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data 18
4.8. Cara Analisis Data………. 19
4.9. Kerangka Operasional……… 20
Daftar Pustaka ……….. 21
BAB
1.1.1.1.1.1. LatarLatarLatarLatar BelakangBelakangBelakangBelakang
Di Indonesia, salah satu penyakit infeksi yang sering menyebabkan
kejadian luar biasa (KLB), dan sering mematikan penderitanya, sehingga menjadi
prioritas pemerintah untuk menanggulanginya adalah demam berdarah dengue
(DBD). Penyakit infeksi ini dalam penyebarannya sangat tergantung dengan
adanya nyamuk vektor. (Djaja, 2003; Sutanto, 2005; Tjahjono, 2005).
Dalam rangka mengurangi kecenderungan penyebarluasan wilayah
terjangkit demam berdarah, mengurangi kecenderungan peningkatan jumlah
penderita dan mengusahakan agar angka kematian tidak melebihi 3% maka
pemerintah terus menyempurnakan program pemberantasan demam berdarah.
(Lestari, 2005).
Strategi pemberantasan demam berdarah lebih ditekankan kepada upaya
preventif, yaitu penyemprotan masal sebelum musim penularan penyakit di
desa/kelurahan endemis, yang merupakan pusat penyebaran penyakit ke wilayah
lainnya. (Lestari, 2005).
Strategi itu juga didukung dengan menggalakkan kegiatan Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN), penanggulangan fokus di rumah penderita dan di sekitar
tempat tinggal penderita guna mencegah terjadinya KLB, dan melaksanakan
penyuluhan kepada masyarakat melalui berbagai media. Peran dokter dan tenaga
kesehatan lainnya juga turut mendukung usaha penanggulangan demam berdarah.
Breeding place atau tempat perindukan nyamuk vektor demam berdarah dengue, yaitu nyamuk Aedes aegypti, terutama adalah pada kontainer-kontainer artificial atau buatan manusia, yang berisi air tawar yang jernih. Walaupun
demikian tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dapat saja di container-kontainer buatan yang airnya telah tercemar, dan juga pada genangan-genangan
air alamiah yang telah mengalami pencemaran. (Neva and Brown, 1994).
Sementara itu saat ini juga sedang berkembang pesat hobi aquarium air
tawar yang merupakan salah satu kontainer buatan manusia, baik untuk
memelihara ikan hias air tawar, maupun untuk memelihara tanaman hias air tawar.
(Swastika, 2006).
Tanaman hias air tawar yang digemari antara lain adalah Cabomba. Tanaman ini mempunyai sifat sebagai oksigenator dan menyerap garam yang
berlebih pada air tawar, selain itu juga berpotensi agresif dan invasif, serta dapat
mencemari air tawar karena proses pembusukannya sendiri. (Anonim, 2000;
Anonim, 2006; Anonim, 2007).
Demam berdarah dengue yang masih sering menimbulkan kejadian luar
biasa diduga juga karena semakin banyaknya kontainer buatan manusia yang
berpotensi sebagai breeding place nyamuk Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue, salah satunya adalah aquarium air tawar yang digunakan untuk
memelihara tanaman air tawar Cabomba. Sedangkan tanaman air tawar Cabomba
tersebut memiliki aktifitas biologis yang berpotensi menunjang maupun tidak
Walaupun sebagian besar aquarium digunakan sebagai tempat memelihara
ikan hias bersama tanaman air, tetapi tidak semua ikan merupakan predator bagi
larva nyamuk Aedes aegypti. Ikan air tawar yang merupakan predator bagi larva nyamuk tersebut hanya ikan kepala timah, ikan gambusia dan ikan panchak
panchak. (Yotopranoto, 2000; Swastika, 2006).
Oleh karena itu perlu diketahui pengaruh yang potensial dari tanaman air
tawarCabombaterhadap larva nyamukAedes aegypti.
1.2.
1.2.1.2.1.2. RumusanRumusanRumusanRumusan MasalahMasalahMasalahMasalah
Apakah ada pengaruh tanaman air tawar Cabomba dalam aquarium air tawar terhadap larva nyamukAedes aegypti?
1.3.
1.3.1.3.1.3.TujuanTujuanTujuanTujuan PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
Untuk mengetahui pengaruh tanaman air tawar Cabomba dalam aquarium air tawar terhadap larva nyamukAedes aegypti.
1.4
1.41.41.4 ManfaatManfaatManfaatManfaat PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
1.4.1
1.4.11.4.11.4.1 ManfaatManfaatManfaatManfaat TeoritisTeoritisTeoritisTeoritis
Mendapat penjelasan tentang pengaruh tanaman air tawarCabombadalam aquarium air tawar terhadap larva nyamuk Aedes aegypti
1.4.2
1.4.21.4.21.4.2 ManfaatManfaatManfaatManfaat PraktisPraktisPraktisPraktis
Jika telah diperoleh penjelasan tentang pengaruh tanaman air tawar
hiasan aquarium, dalam rangka mengurangi kemungkinan kontainer air
BAB
BAB
BAB
BAB 2222
TINJAUAN
TINJAUAN
TINJAUAN
TINJAUAN PUSTAKA
PUSTAKA
PUSTAKA
PUSTAKA
2.1.
2.1.2.1.2.1. VektorVektorVektorVektor DemamDemamDemamDemam BerdarahBerdarahBerdarahBerdarah DengueDengueDengueDengue
Demam berdarah dengue vektornya adalah nyamuk Aedes aegypti. (Markell and Voge, 1992; Neva and Brown, 1994; Schmidt, 2000: Sulianti, 2003).
Dalam upaya eradikasi penyakit infeksi tersebut di Indonesia, pemerintah
melalui Departemen Kesehatan dan instansi pemerintah terkait baik di tingkat
pusat maupun di daerah-daerah melakukan berbagai tindakan. Salah satu tindakan
yang giat dilakukan adalah dengan usaha memutus mata rantai siklus hidup agen
penyebab kedua penyakit, dengan cara mematikan nyamuk vektor, dari yang
masih berupa telur hingga yang telah menjadi nyamuk dewasa. (Lestari, 2005;
Sutanto, 2005).
Penyebaran demam berdarah dengue tersebut tidak lepas dari peranan
vektor, yang dalam hal ini spesies-spesies nyamuk merupakan vektor baik bagi
virusDengue. (Neva and Brown, 1994; Schmidt, 2000; Markell and Voge, 2006). VirusDenguedisebarkan melalui gigitan spesies nyamuk dari genusAedes, yang sudah sangat dikenal sekalipun oleh masyarakat awam adalahAedes aegypti. (Darwin, 2005; Lestari, 2005).
Nyamuk Aedes aegypti dewasa betina yang aktif bertelur, meletakkan telurnya pada genangan air jernih, terutama pada kontainer-kontainer buatan pada
rumah tangga yang sengaja atau tidak berisi air yang jernih. Telur diletakkan di
dinding wadah yang sangat berdekatan dengan permukaan air jernih dalam
Telur Aedes aegypti berbentuk ellips polygonal yang lembut dan memanjang dengan ukuran 0,7-1 mm, atau seperti serutu. Telur diletakkan satu
demi satu pada permukaan air atau pada perbatasan air dan kontainer
penyimpanan air. Air yang disenangi adalah air tawar yang bersih, jumlahnya
dapat ratusan hingga mencapai ribuan, dan tampak sebagai bintik-bintik
kehitaman. Telur ini dalam keadaan lingkungan yang kering mampu bertahan
hingga satu tahun. Hal ini yang menyebabkan telur ini dapat menyebar ke tempat
yang jauh dengan transportasi yang ada. Bila kemudian mendapat genangan air,
telur ini akan menetas. Namun demikian, untuk menetas telur Aedes aegypti ini membutuhkan genangan air tawar yang bersih cukup banyak sebagai lingkungan
yang ideal. (Schmidt, 2000; Tjahjono, 2005).
Larva atau instar Aedes aegypti mempunyai empat bentuk, yang setiap mengalami perubahan morfologi, bentuknya tidak jauh berbeda. Larva ini
mempunyai tubuh yang terbagi dalam sembilan segmen, bergerak dengan gerakan
lembut seperti ular, bila terganggu oleh rangsangan cahaya atau yang lainnya,
larva akan menyelam ke dasar kontainer. Mempunyai suatu saluran atau tuba yng
digunakan untuk mengambil udara dari luar permukaan air, dan mempunyai
bagian tubuh yang berfungsi menyerap zat-zat dalam air. Saat istirahat posisinya
tegak lurus terhadap permukaan air. (Neva and Brown, 1994; Schmidt, 2000;
Tjahjono, 2005).
Seperti nyamuk pada umumnya, dari fase larva dalam waktu paling lama 3
minggu akan metamorfosis menjadi fase pupa. Perubahan fase ini tergantung
kondisi lingkungan. Bila keadaan lingkungan kurang baik, perubahan dapat
makan dan berlangsung selama 2 sampai dengan 5 hari, ciri khasnya adalah
bagian kepala akan membesar dan tubuh menekuk membentuk seperti tanda baca
koma. Pada saat pupa ini menetas terjadi ruptur atau robekan spontan kantung
udara, yang berfungsi membantu meloloskan nyamuk muda. (Neva and Brown,
1994; Tjahjono, 2005).
Nyamuk muda beristirahat pada dinding kontainer beberapa jam setelah
terjadi perubahan dari fase pupa. Bentuk tubuhnya langsing, badannya lebih kecil
dari badan nyamuk biasa, dan mempunyai bercak-bercak putih keperakan atau
putih kekuningan pada warna dasar tubuh yang hitam. Dibagian punggung
terdapat bentuk bercak yang khas berupa dua buah garis sejajar di tengah dan dua
buah garis lengkung di tepinya. (Neva and Brown, 1994; Tjahjono, 2005; Markell
and Voge, 2006).
Nyamuk jantan tertarik terutama pada suara getaran sayap nyamuk betina
yang belum makan. Perkawinan nyamuk ini terjadi di udara atau di permukaan.
Sekali inseminasi akan membuahi seluruh telur nyamuk betina sepanjang masa
hidup nyamuk betina. (Tjahjono, 2005).
Nyamuk Aedes aegypti mempunyai daya terbang dalam radius 100-200 meter saja. Maka nyamuk ini cenderung mencari mangsa yang dekat (dalam atau
sekitar rumah). Usia nyamuk ini sekitar satu bulan dalam kondisi udara optimum,
yaitu suhu udara berkisar antar 24-28 derajat Celcius dan kelembaban 60-80%.
Aedes aegypti betina hidup rata-rata selama 10 hari. Nyamuk ini yang menghisap darah manusia hanya betinanya saja, biasanya dilakukan pada siang hari, dapat
juga petang hari, meskipun demikian saat malam hari lebih banyak digunakan
ruang gelap atau lembab. Mereka bisa menghisap darah manusia berulang kali,
jadi sekali menyerbu bisa beberapa orang sekaligus terkena. (Neva and Brown,
1994; Schmidt, 2000; Tjahjono, 2005).
Oleh karena obat untuk demam berdarah serta vaksinnya belum ditemukan,
maka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit tersebut hanya dapat
dilakukan melalui pemutusan rantai penularan manusia-nyamuk-manusia, yaitu di
antaranya dengan membasmi nyamuk vektornya. (Boesri, 2005; Sulianti, 2004).
Pemerintah bekerja sama dengan aparat kesehatan dan masyarakat, telah
melakukan berbagai upaya eradikasi kedua jenis penyakit tersebut. Antara lain
berbagai upaya untuk mengendalikan vektor, baik secara kimia, fisik, maupun
hayati. (Lestari, 2005; Sutanto, 2005; Yuniarti, 2004)
2.2.
2.2.2.2.2.2. TanamanTanamanTanamanTanaman AirAirAirAir TawarTawarTawarTawarCabombaCabombaCabombaCabomba
Budi daya tanaman air tawar kini makin menjanjikan. Budi daya tanaman
air tawar ini berkaitan erat dengan para penghobi akuarium air tawar yang saat ini
di kota-kota besar sedang tren. Tanaman air tawar yang tumbuh baik akan
mengeluarkan oksigen dengan sendirinya sehingga akuarium tak perlu lagi diberi
filter udara. (Swastika, 2006).
Prospek usaha budi daya tanaman air ke depan sangat baik. Mengingat
akuarium air tawar ini bukan hanya sekadar hobi musiman layaknya ikan louhan
maupun akuarium air laut yang tidak bisa bertahan lama. Tapi akuarium air tawar
tidak hanya sekadar hobi, tapi juga dilombakan hingga ke Jepang setiap
tapi keberadaannya turut membantu menciptakan keseimbangan ekosistem yang
baik. (Swastika, 2006).
Tanaman air memunyai peranan dalam proses fotosintesis dan respirasi
membuat ekosistem lebih mendekati habitat aslinya ketika berada di akuarium. Ini
penting untuk kelangsungan ikan agar bisa lebih sehat, dan warnanya makin
cemerlang dan eksotik. Selain memunyai peranan dalam fotosintesis dan respirasi
dari segi estetisnya, tanaman air tidak dapat digantikan dengan ornamen buatan
karena tidak akan memberikan kesan alami sekaligus aman bagi ikan. Tanaman
air juga dapat dijadikan sebagai indikator kualitas air, jika tanaman terlihat subur
ikan akan sehat dan bisa berkembang biak dengan baik. Tidak hanya itu, tanaman
air juga salah satu sumber makanan organik, penyaring kotoran, dan tempat
bertelur bagi ikan. (Swastika, 2006).
Ada beberapa jenis tanaman air yang berpeluang dikembangkan antara
lain; anubias, aponogeton, bacopa, blixa Japonica, cabomba, cryptocoryne, egeria, hygrophilla, microsorium, dan rotala macrandra. (Swastika, 2006).
Cabomba adalah genus tanaman air tawar yang sepenuhnya tenggelam di dalam air tawar yang segar dan jernih.Tanaman ini bersifat invasif dan agresif
pada ekositem air tawar yang alami, sehingga dapat menekan kehidupan ikan air
tawar dan organisme invertebrata air tawar lainnya yang ada. Dan ada satu
penelitian pada habitat alamiahnya yang menyebutkan bahwa Cabomba spesies tertentu (Red Cabomba), dapat menurukan kualitas air karena sifatnya yang memberi warna pada air dan akibat pembusukannya sendiri dalam air. (Anonim,
Tanaman air tawar tersebut berbunga yang muncul di permukaan air,
warna bunganya kekuningan. Cabombasangat dikenal sebagai tanaman aquarium air tawar, yang dapat bersifat agresif dan invasif, berkembang biak secara
vegetatif. Akarnya menempel pada dasar badan air, dan dapat tumbuh ke dalam
hingga tiga meter, ataupun hanya melayang bebas dalam air. Pembuangan
sebagian tanaman air tawar ini dari aquarium dalam rangka perawatannya, harus
memperhatikan perkembangbiakkannya yang cepat pada habitat alamiahnya,
terutama jangan sampai dibuang ke daerah aliran air tawar, seperti sungai, danau
atau bendungan. (Anonim, 1999; Anonim, 2004; Anonim, 2006).
Ciri khasnya seluruh bagian tanaman terendam dalam air. Ia mampu
membersihkan udara, menyerap kandungan garam yang berlebihan di dalam air,
dan menjadi tempat berlindung dan menyimpan telur ikan. Maka cocok dijadikan
tanaman penghias akuarium. (Anonim, 2003).
Spesies-spesies Cabomba yang biasa dipelihara sebagai tanaman hias aquarium adalah Cabomba caroliniana danCabomba aquatica,yang secara lokal dikonsumsi pula sebagai sayuran. Spesies-spesies tersebut juga merupakan
penghasil oksigen yang baik. (Anonim, 2000; Anonim, 2007).
Spesies dari nyamuk Aedes aegypti adalah serangga yang termasuk organismeinvertebrate, demikian pula larvanya tidak mempunyai tulang belakang, dan hidup mencari makan serta bermetamorfosis di dalam dan di dekat permukaan
air tawar. Air tawar yang disukai adalah yang jernih, namun tidak menutup
kemungkinan untuk hidup dan tumbuh dalam lingkkungan air yang tercemar.
BAB
BAB
BAB
BAB 3333
KERANGKA
KERANGKA
KERANGKA
KERANGKA KONSEPTUAL
KONSEPTUAL
KONSEPTUAL
KONSEPTUAL DAN
DAN
DAN
DAN HIPOTESIS
HIPOTESIS
HIPOTESIS
HIPOTESIS
3.1.
3.1.3.1.3.1. KerangkaKerangkaKerangkaKerangka KonseptualKonseptualKonseptualKonseptual
Tanaman air tawar Cabomba merupakan tanaman air yang mampu membersihkan udara menghasilkan oksigen, menyerap kandungan garam yang
berlebihan di dalam air, tetapi juga dapat menjadi agresif, invasif, mencemari
dengan hasil pembusukannya dalam air, sehingga dapat menekan organisme hidup
di sekitarnya, termasukinvertebrata.
Larva nyamuk Aedes aegypti adalah organisme invertebrata yang hidup serta tumbuh serta berkembang di dalam air tawar, dan tidak menutup
kemungkinan hidup dan tumbuh serta berkembang di dalam air yang tercemar.
Karena adanya sifat-sifat tanaman air tawarCabombayang saling bertolak belakang, yaitu berpotensi dapat menunjang maupun tidak menunjang kehidupan,
pertumbuhan serta perkembangan larva nyamuk Aedes aegypti, maka diharapkan diperoleh penjelasan pengaruh tanaman air tawar Cabomba terhadap larva nyamuk Aedes aegypti dalam kontainer air tawar buatan, yang merupakan
BAGAN
BAGAN
BAGAN
BAGAN KERANGKA
KERANGKA
KERANGKA
KERANGKA KONSEPTUAL
KONSEPTUAL
KONSEPTUAL
KONSEPTUAL
Tanaman Air TawarCabomba
+
-↓ ↓
Mampu membersihkan udara, Agresif, invasif,
Menghasilkan oksigen, Mencemari air tawar,
Menyerap kandungan garam Menekan kehidupan
yang berlebihan di dalam air organisme hidup yang lain
↓ ↓
Mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan
larva nyamukAedes aegypti dalam kontainer air tawar buatan
3.2.
3.2.3.2.3.2. HipotesisHipotesisHipotesisHipotesis
BAB
BAB
BAB
BAB 4444
METODA
METODA
METODA
METODA PENELITIAN
PENELITIAN
PENELITIAN
PENELITIAN
4.1.
4.1.4.1.4.1. DesainDesainDesainDesain PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah true experimental-post test only control group design, untuk mengetahui pengaruh tanaman air tawar Cabomba
dalam aquarium air tawar terhadap larva nyamukAedes aegypti. Skema:
O1111 K O2222
LA R O3333 P1111 O4444
O5555 P2222 O6666
O7777 P3333 O8888
O9999 KP O10101010
Keterangan :
LA = Larva III nyamukAedes aegypti
R = Randomisasi.
P1111 = Perlakuan berupa pengisian kontainer dengan tanaman air tawar
Cabombadengan kepadatan 25% luas dasar kontainer.
P2222 = Perlakuan berupa pengisian kontainer dengan tanaman air tawar
Cabombadengan kepadatan 50% luas dasar kontainer.
P3333 = Perlakuan berupa pengisian kontainer dengan tanaman air tawar
K = Kontrol, larva nyamukAedes aegyptidalam kontainer berisi air tawar saja.
KP = Kontrol Positif dengan diberi Temephos/Abate
O1111– O10101010 = Dilakukan penghitungan persentase larva nyamuk Aedes aegypti
yang hidup dan yang mati setelah 24 jam dan 48 jam perlakuan.
(Nindatu, 2005).
4.2.
4.2.4.2.4.2. PopulasiPopulasiPopulasiPopulasi dandandandan SampelSampelSampelSampel
4.2.1.
4.2.1.4.2.1.4.2.1. PopulasiPopulasiPopulasiPopulasi
Populasi pada penelitian ini adalah larva III nyamukAedes aegypti. 4.2.2.
4.2.2.4.2.2.4.2.2. SampelSampelSampelSampel
Sampel pada penelitian ini adalah larva III nyamuk Aedes aegypti yang tempat hidupnya dalam aquarium air tawar yang ditanami tanaman air tawar
Cabomba.
a.Kriteria Inklusi
• LarvaAedes aegyptisehat instar yang telah mencapai instar III. • Larva bergerak aktif.
b. Kriteria Eksklusi
• Larva Aedes aegypti yang belum mencapai instar III atau telah mencapai instar IV.
• Larva yang telah berubah menjadi pupa ataupun nyamuk dewasa.
• Larva yang mati sebelum perlakuan.
4.2.3
• Di dalam penelitian ini digunakan 5 kontainer, masing-masing
kontainer berisi 25 larva. (Choochote, 2004).
• percobaan ini menggunakan 3 perlakuan, 1 kontrol positif, dan 1
kontrol negatif. Rumus untuk estimasi besar sampel (Sastroasmoro
dan Ismael, 1995) yaitu :
p (n-1)≥15
5 (n-1)≥15
5n – 5≥15
5n≥20
n≥4
Ket : p : jumlah perlakuan
n : jumlah pengulangan
Maka dari hasil perhitungan didapatkan bahwa pengulangan yang
dilakukan adalah 4 kali.
• Jumlah total larva nyamuk Aedes aegypti yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah : 25 larva x 5 kelompok coba x 4 kali
pengulangan = 500 larva.
4.2.4
4.2.44.2.44.2.4 TeknikTeknikTeknikTeknik pengambilanpengambilanpengambilanpengambilan sampelsampelsampelsampel
• Cara penarikan sampel yang dipakai adalah simple random sampling, terhadap larva Aedes aegypti. Walaupun populasi homogen, terdapat kriteria inklusi dan ekskusi dalam menentukan
4.3.
4.3.4.3.4.3. VariabelVariabelVariabelVariabel dandandandan DefinisiDefinisiDefinisiDefinisi OperasionalOperasionalOperasionalOperasional VariabelVariabelVariabelVariabel
4.3.1.
4.3.1.4.3.1.4.3.1. VariabelVariabelVariabelVariabel
1. Variabel Tergantung
Variabel tergatung penelitian ini adalah persentase jumlah larva III nyamuk
Aedes aegyptiyang mati. 2. Variabel Bebas
Variabel bebas penelitian ini adalah tanaman air tawar Cabomba dengan kepadatan 25%, 50% dan 100% dari luas dasar aquarium.
4.3.2
4.3.24.3.24.3.2 DefinisiDefinisiDefinisiDefinisi OperasionalOperasionalOperasionalOperasional VariabelVariabelVariabelVariabel
1. Tanaman air tawarCabomba adalah tanaman air tawar yang digunakan sebagai tanaman hias aquarium air tawar, dengan badan tanaman mengisi setinggi
hingga kedalaman air, terdapat akar, dan bunganya muncul dari permukaan air.
2. Larva III nyamuk Aedes aegypti adalah bentuk atau stadium yang berasal dari telurAedes aegypti yang menetas, dan telah berusia dua minggu.
3. Digunakan sebagai pembanding yaitu sebagai kontrol adalah kontainer berisi
air tawar saja, setelah diletakkan larva III nyamuk Aedes aegypti, tidak ditambahkan tanaman air tawar Cabomba maupun Temephos, sedangkan sebagai kontrol positif adalah yang kemudian diberi Temephos sesuai aturan
pakai pada kemasan, yaitu 100 gram Temephos untuk 100 liter air.
5. Larva nyamuk Aedes aegypti yang mati adalah nyamuk yang tidak bergerak, pada saat dirangsang secara mekanik/disentuh dengan ujung lidi. (Yotopranoto,
6. Larva nyamuk Aedes aegypti yang hidup adalah nyamuk yang masih bergerak spontan, ataupun yang masih bergerak pada saat dirangsang secara
mekanik/disentuh dengan ujung lidi. (Yotopranoto, 2000; Asrini, 2007).
4.4.
4.4.4.4.4.4. BahanBahanBahanBahan PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
1. Larva III nyamukAedes aegypti
2. Tanaman air Cabomba
3. Bubuk Temephos/Abate
4. Air tawar yang jernih dan tidak tercemar
4.5.
4.5.4.5.4.5. InstrumenInstrumenInstrumenInstrumen PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
1. Aquarium kaca dan tutupnya berlubang
2. Sendok pemegang larva nyamuk
3. Lidi
4. Ember
5. Gayung air
6. Pinset
7. Jala halus
4.6.
4.6.4.6.4.6. LokasiLokasiLokasiLokasi dandandandan WaktuWaktuWaktuWaktu PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
Lokasi penelitian adalah di Laboratorium Parasitologi Fakultas
Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya, dengan waktu pelaksanaan
4.7.
4.7.4.7.4.7. ProsedurProsedurProsedurProsedur PengambilanPengambilanPengambilanPengambilan dandandandan PengumpulanPengumpulanPengumpulanPengumpulan DataDataDataData
Disiapkan lima buah aquarium yang masing-masing telah diisi air tawar hingga
setinggi lima sentimeter dari batas ujung atas aquarium. Kelima aquarium tersebut
masing-masing kemudian diisi dengan 25 ekor larva III nyamukAedes aegypti.
Aquarium pertama diisi air tawar dan kemudian diisi larva III nyamuk Aedes aegypti, dan setelah itu tidak diberi tambahan apa-apa lagi. Aquarium kedua, ketiga, dan keempat, masing-masing setelah diisi air tawar dan larva III nyamuk
Aedes aegypti, kemudian diisi dengan tanaman air Cabomba, dengan kepadatan 25%, 50% dan 100% luas dasar aquarium tersebut. Aquarium kelima diberi
Temephos sesuai aturan penggunaan yaitu 100 gram Temephos untuk 100 liter air.
Kelima aquarium tersebut kemudian diberi penutup yang dapat dibuka tutup
dengan mudah, dan memiliki lubang-lubang kecil untuk sirkulasi udara, namun
tidak dapat dimasuki nyamuk yang bebas meletakkan telurnya. Masing-masing
aquarium diamati setelah 24 jam dan 48 jam, dan dicatat masing-masing
persentase larva III nyamuk Aedes aegypti yang telah mati pada masing-masing aquarium.
Prosedur tersebut di atas dilakukan hingga sebanyak empat kali, dan setiap
aquarium serta masing-masing alat digunakan hanya sekali, untuk menjamin
bahwa kondisi setiap pengulangan adalah sama dengan percobaan masing-masing.
4.8.
4.8.4.8.4.8. CaraCaraCaraCara AnalisisAnalisisAnalisisAnalisis DataDataDataData
secara analitik, menggunakan uji Kruskal-Wallis, uji Mann-Whitney, dan uji
Korelasi Peringkat dari Spearman, dengan tingkat signifikansi atau nilai
probabilitas 0,05 (p= 0,05) dan taraf kepercayaan 95% (α= 0,05). Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah :
H0 : tidak terdapat perbedaan yang signifikan tentang jumlah kematian larva
nyamuk Aedes aegyptiantara kelompok perlakuan yang diberi tanaman air tawar
Cabombadibanding kelompok kontrol yang diberi air tawar saja dan Temefos. Uji statistik yang digunakan adalah sebagai berikut:
• Uji Kruskal -Wallis
Pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas untuk memperoleh nilai
sebesar atau sama dengan statistik uji yang telah dihitung lebih kecil atau
sama dengan α = 0,05, maka H0 ditolak.
•Uji Mann-Whitney
Pengambilan keputusan berdasarkan bila statistik uji < nilai kritis tabel
dengan α = 0,05, maka H0 ditolak.
•Uji Korelasi Spearman
Uji Korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan tingkat kematian larva
nyamuk A. aegyptidengan berbagai perlakuan tanaman air tawarCabomba. Pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas, jika rs hitung > rs tabel
maka H0 ditolak.
4.9.
Lima buah Aquarium ↓
Diisi air tawar hingga setinggi lima sentimeter dari ujung atasnya ↓
Satu aquarium diisi 25 larva; Satu aquarium diisi 25 larva dan diberi temephos; Sisanya tiga aquarium, masing-masing diisi 25 larva dan diisi tanaman air tawarCabombadengan
kepadatan masing-masing 25%, 50% dan 100% luas dasar aquarium. ↓
Kelima aquarim tersebut ditutup dengan penutup untuk menghindari peletakan telur nyamuk oleh nyamuk bebas dari luar, namun sirkulasi udara dapat tetap berlangsung baik
↓
Setelah 24 jam, kelima aquarium tersebut dibuka, dan dicatat masing-masing jumlah larva yang mati
↓
Setelah 48 jam, kelima aquarium tersebut dibuka, dan dicatat masing-masing jumlah larva yang mati
↓
Jumlah masing-masing larva mati dari setiap aquarium dipersentase ↓
Dilakukan pengulangan percobaan seperti tersebut di atas masing-masing 4 kali, dan setiap aquarium serta masing-masing alat digunakan hanya sekali, untuk menjamin
bahwa kondisi setiap pengulangan adalah sama dengan percobaan yang pertama masing-masing
↓
Data persentase jumlah larva yang mati dari setiap aquarium tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif dan diuji statistik yang ditentukan
↓
Dilakukan pembahasan dan penarikan simpulan atas hasil pengolahan, analisis dan hasil uji statistiknya
HASIL
HASIL
HASIL
HASIL PENELITIAN
PENELITIAN
PENELITIAN
PENELITIAN
5.1.
5.1.5.1.5.1. HasilHasilHasilHasil PenelitianPenelitianPenelitianPenelitian
Penelitian ini dilakukan dari tanggal 24 – 30 Juni 2010. kegiatan dalam
penelitian ini adalah perhitungan larva nyamuk Aedes aegypti yang mati setelah perlakuan. Adapun hasilnya sebagai berikut:
Akumulasi data :
Tabel 5.1. Akumulasi data Konsentrasi 100%
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 8 8 9 8
48 jam 12 11 13 13
Tabel 5.2. Akumulasi data Konsentrasi 50%
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 4 5 5 5
48 jam 9 9 8 9
Tabel 5.3. Akumulasi data Konsentrasi 25%
jam ke Pengulangan1 pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 1 1 1 2
48 jam 5 4 4 5
Tabel 5.4. Akumulasi data Kontrol positif
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 22 23 24 22
48 jam 25 25 24 23
Tabel 5.5. Akumulasi data Kontrol negatif
jam ke Pengulangan1 Pengulangan2 Pengulangan3 Pengulangan4
24 jam 0 0 0 0
48 jam 0 0 0 0
1 32% 48%
2 32% 44%
3 36% 52%
4 32% 52%
Rata rata 33% 49%
Tabel 5.7. Persentase rata – rata kematian larva pada Konsentrasi 50% Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 16% 36%
2 20% 36%
3 20% 32%
4 20% 36%
Rata rata 19% 35%
Tabel 5.8. Persentase rata – rata kematian larva pada Konsentrasi 25%
Tabel 5.9. Persentase rata – rata kematian larva pada Kontrol positif Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 88% 100%
2 92% 100%
3 96% 96%
4 88% 92%
Rata rata 91% 97%
Tabel 5.10. Persentase rata – rata kematian larva pada kontrol negatif Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 0% 0%
2 0% 0%
3 0% 0%
4 0% 0%
Rata rata 0% 0%
5.2 Hasil Analisa Statistik
Pengulangan 24 Jam 48 Jam
1 4% 20%
2 4% 16%
3 4% 16%
4 8% 20%
Hasil uji Kruskal-Wallis untuk kematian larva nyamuk Aedes aegyptiuntuk pengamatan setelah paparan dalam 24 jam maupun 48 jamdiperoleh nilai p =
0,000, oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
paling tidak terdapat pebedaan jumlah larva yang mati antara dua kelompok.
Untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan, maka harus
dilakukan analisis post hoc. Alat untuk melakukan analisis post hoc untuk uji Kruskal-Wallis adalah dengan uji Mann-Whitney.
• Mann-Whitney
Hasil uji Mann-Whitney untuk kematian larva nyamuk Aedes aegypti
menunjukkan bahwa pasangan kepadatan yang mempunyai nilai signifikansi
< 0,05 yaitu p = 0.001 adalah kepadatan 25% dengan 50%, 25% dengan
100%, 50% dengan 100%, baik setelah paparan 24 jam maupun 48 jam. Hal
ini menunjukkan pasangan – pasangan kepadatan tersebut mempunyai
rataan yang berbeda secara bermakna. Untuk pasangan kepadatan 100%
dengan kontrol positif setelah paparan 24 jam ternyata hasil uji p > 0,05,
maka tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua paparan.
•Korelasi Peringkat dari Spearman
Korelasi Spearman ini dipilih karena distribusi data tidak normal. hasil uji
korelasi Spearman menunjukkan rs hitung adalah 1 ( > rs tabel α=0,05 ), dan
p<0,05, maka terdapat korelasi yang bermakna antara dua variabel yang
diuji.
BAB
BAB
BAB
BAB 6666
Breeding place atau tempat perindukan nyamuk vektor demam berdarah dengue, yaitu nyamuk Aedes aegypti, terutama adalah pada kontainer-kontainer artificial atau buatan manusia, yang berisi air tawar yang jernih. Walaupun
demikian tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dapat saja di container-kontainer buatan yang airnya telah tercemar, dan juga pada genangan-genangan
air alamiah yang telah mengalami pencemaran. (Neva and Brown, 1994).
Nyamuk Aedes aegypti dewasa betina yang aktif bertelur, meletakkan telurnya pada genangan air jernih, terutama pada kontainer-kontainer buatan pada
rumah tangga yang sengaja atau tidak berisi air yang jernih. Telur diletakkan di
dinding wadah yang sangat berdekatan dengan permukaan air jernih dalam
kontainer tersebut tersebut, telur ini akan menetas menjadi larva. (Neva and
Brown, 1994).
Seperti nyamuk pada umumnya, dari fase larva dalam waktu paling lama 3
minggu akan metamorfosis menjadi fase pupa. Perubahan fase ini tergantung
kondisi lingkungan. Bila keadaan lingkungan kurang baik, perubahan dapat
berlangsung hingga lebih dari satu minggu. Fase pupa ini merupakan fase tanpa
makan dan berlangsung selama 2 sampai dengan 5 hari. (Neva and Brown, 1994;
Tjahjono, 2005).
Oleh karena obat untuk demam berdarah serta vaksinnya belum ditemukan,
maka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit tersebut hanya dapat
dilakukan melalui pemutusan rantai penularan manusia-nyamuk-manusia, yaitu di
Tanaman hias air tawar yang digemari antara lain adalah Cabomba. Tanaman ini mempunyai sifat sebagai oksigenator dan menyerap garam yang
berlebih pada air tawar, selain itu juga berpotensi agresif dan invasif, serta dapat
mencemari air tawar karena proses pembusukannya sendiri. (Anonim, 2000;
Anonim, 2006; Anonim, 2007).
Tanaman air mempunyai peranan dalam proses fotosintesis dan respirasi
membuat ekosistem lebih mendekati habitat aslinya ketika berada di akuarium. Ini
penting untuk kelangsungan ikan agar bisa lebih sehat, dan warnanya makin
cemerlang dan eksotik. Selain memunyai peranan dalam fotosintesis dan respirasi
dari segi estetisnya, tanaman air tidak dapat digantikan dengan ornamen buatan
karena tidak akan memberikan kesan alami sekaligus aman bagi ikan. Tanaman
air juga dapat dijadikan sebagai indikator kualitas air, jika tanaman terlihat subur
ikan akan sehat dan bisa berkembang biak dengan baik. Tidak hanya itu, tanaman
air juga salah satu sumber makanan organik, penyaring kotoran, dan tempat
bertelur bagi ikan. (Swastika, 2006).
Kontainer buatan manusia yang berpotensi sebagaibreeding placenyamuk
Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue, salah satunya adalah aquarium air tawar yang digunakan untuk memelihara tanaman air tawar
Cabomba. Sedangkan tanaman air tawar Cabomba tersebut memiliki aktifitas biologis yang berpotensi menunjang maupun tidak menunjang kehidupan,
pertumbuhan dan perkembangan larva nyamukAedes aegypti.
Tanaman yang mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang menjadi
pertumbuhan dan perkembangannya. Senyawa seperti ini dikenal sebagai
allelopathic.
Tanaman air tawar tersebut berbunga yang muncul di permukaan air,
warna bunganya kekuningan. Cabombasangat dikenal sebagai tanaman aquarium air tawar, yang dapat bersifat agresif dan invasif, berkembang biak secara
vegetatif. Akarnya menempel pada dasar badan air, dan dapat tumbuh ke dalam
hingga tiga meter, ataupun hanya melayang bebas dalam air. Pembuangan
sebagian tanaman air tawar ini dari aquarium dalam rangka perawatannya, harus
memperhatikan perkembangbiakkannya yang cepat pada habitat alamiahnya,
terutama jangan sampai dibuang ke daerah aliran air tawar, seperti sungai, danau
atau bendungan. (Anonim, 1999; Anonim, 2004; Anonim, 2006).
Ciri khasnya seluruh bagian tanaman terendam dalam air. Ia mampu
membersihkan udara, menyerap kandungan garam yang berlebihan di dalam air,
dan menjadi tempat berlindung dan menyimpan telur ikan. Maka cocok dijadikan
tanaman penghias akuarium. (Anonim, 2003).
Spesies-spesies Cabomba yang biasa dipelihara sebagai tanaman hias aquarium adalah Cabomba caroliniana danCabomba aquatica,yang secara lokal dikonsumsi pula sebagai sayuran. Spesies-spesies tersebut juga merupakan
penghasil oksigen yang baik. (Anonim, 2000; Anonim, 2007).
Spesies dari nyamuk Aedes aegypti adalah serangga yang termasuk organismeinvertebrate, demikian pula larvanya tidak mempunyai tulang belakang, dan hidup mencari makan serta bermetamorfosis di dalam dan di dekat permukaan
kemungkinan untuk hidup dan tumbuh dalam lingkungan air yang tercemar.
(Neva and Brown, 1994).
Bahan-bahan alellopatik yang terdapat atau dikandung oleh tanaman air tawar
Cabomba berdasarkan pengujian bahan aktif fitokimia yang dilakukan oleh
Markom dan kawan-kawan (2009), menunjukkan adanya komponen flavonoid,
saponin, dan alkaloid, walaupun yang diuji adalah ekstrak dari hanya satu spesies
Cabomba, yaitu Cabomba furcata, namun ini sudah merupakan awal pengetahuan bahwa memang anggota genus tanaman air tawarCabombamemang mengandung bahan-bahan alellopatik tersebut.
KESIMPULAN
KESIMPULAN
KESIMPULAN
KESIMPULAN DAN
DAN
DAN
DAN SARAN
SARAN
SARAN
SARAN
7.1
7.17.17.1 KesimpulanKesimpulanKesimpulanKesimpulan
1. Berdasarkan penelitian tanaman air tawar Cabomba terbukti mempunyai pengaruh terhadap kehidupan larvaAedes aegypti..
2. Pada konsentrasi 25%, 50%, dan 100% didapatkan bahwa dengan semakin
tinggi kepadatan tanaman air tawarCabomba yang digunakan, maka akan semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap kehidupan larvaAedes aegypti, yang dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah kematian larva.
3. Pada kepadatan tanaman air tawarCabomba masing-masing sebesar 25%, 50%, dan 100%, didapatkan bahwa dengan semakin lama waktu kontak
larva dengan lingkungan air tawar yang terdapat tanaman air tawar
Cabomba, maka jumlah kematian larva akan semakin tinggi.
7.2
7.27.27.2 SaranSaranSaranSaran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang mekanisme pengaruh tanaman
DAFTAR
DAFTAR
DAFTAR
DAFTAR PUSTAKA
PUSTAKA
PUSTAKA
PUSTAKA
Anonim. 1999. Cabomba. Keith Turnbull Research Institute, Frankston.
http://www.dpi.vic.gov.au/dpi/nreninf.nsf/childdocs.
Anonim. 2000. Aquatic Plant Selection. Home and Garden Information Center Clemson Extension.http://hgic.clemson.edu.
Anonim. 2003. Tanaman Air yang Unik dan Dekoratif. Tabloid Nova online.
http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=1049&no=1.
Anonim. 2004. Cabomba. NSW Department of Primary Industries.
http://www.ricecrc.org/reader/aquatic-weeds.
Anonim. 2006. Cabomba, Cabomba species. Natural Resources and Water.
http://www.nrw.gld.gov.au/factsheets/pdf/pest/pp30.pdf.
Arsin AA, & Wahiduddin. 2004. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian demam berdarah dengue di kota Makassar. Jurnal Kedokteran Yarsi,12 (2): 23-33.
Asrini DNP, Nia DAA, Erdawati GM, Fitriani. 2007. TOKSISITAS AKUT EKSTRAK BIJI SRIKAYA(Squamosae(Squamosae(Squamosae(Squamosae semen)semen)semen)semen)DAN PENGARUHNYA TERHADAP MORTALITAS RAYAP KAYU KERING(Cryptotermes(Cryptotermes(Cryptotermes(Cryptotermessp)))) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
Boesri H., Boewono DT, & Priyanto H. 2005. Efikasi insektisida resigen 1,5/10 OS dengan aplikasi Ultra low volume terhadap nyamuk vektor demam berdarah dengue Aedes aegypti.Jurnal Kedokteran Yarsi,13 (2): 191-195. Choochote, 2004. A note on laboratory colonization of Aedes harinasutai,
retrieved: 4 Agustus 2008, from:
http://www.medicineonearth.com/display.php?id=909
Djaja S, Suwandono A, & Soemantri S. 2003. Pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan pedesaan di Indonesia, Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001.Jurnal Kedokteran Trisakti,22 (2): 37-46. Djarwanto. 1996. Mengenal Beberapa Uji statistic Dalam Penelitian. Penerbit:
Liberty Yogyakarta. Yogyakarta. hal: 15.
Lestari CS., & Sungkar S. 2005. Upaya Mengatasi Faktor-Faktor penghambat Pemberantasan Demam Berdarah Dengue.Majalah Kedokteran Indonesia,
55 (11): 686-690.
Lubis H.A, dkk. 2005. Pengaruh Ekstrak Daun Simbukan, Daun Kumis Kucing, dan Daun Putri Malu Terhadap Pembasmian Larva Nyamuk
Markell EK, Voge M, & John DT. 2006. Medical Parasitology. Philadelphia: W.B. Saunders.
Neva FA, & Brown HW. 1994. Basic Clinical Parasitology. Norwalk: Appleton & Lange.
Sastroasmoro,I & Ismael,S, 1995. dasar-dasar metodologi penelitian klinis: Jakarta.
Sastroasmoro, Ismael, 1995. Uji Klinis Acak Tersamar Ganda Albendazole Dengan Gabungan Pyrantel Pamoate – Mebendazole, retrieved: 4 Juli 2008, from: http://library.usu.ac.id/download/fk/anak-chairuddin21.pdf. Schmidt GD, & Roberts LS. 2000. Foundations of Parasitology. Singapore:
McGraw-Hill.
Sulianti A. & Agoes R. 2003. Uji Resistensi Nyamuk Aedes aegypty Terhadap Malation di Kota Bandung.MKB,35 (3): 104-109.
Sutanto I. 2005. Berbagai Tantangan dalam Diagnosis dan Pengobatan Malaria pada Permulaan Abad ke-21.Majalah Kedokteran Indonesia, 55 (9): 559-563.
Swastika M. 2006. Agrobisnis: Tanaman Air Juga Menjanjikan. Lampung Post online.http://.www.lampungpost.com/cetak/rubrik.php?id=agro.
Yotopranoto S, Pagaya J, Idajadi A. 2000. Uji Toksisitas Isolat Bacillus thuringiensis Yang Diisolasi Dari Tanah terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti. Majalah Kedokteran Tropis Indonesia, 11 (1): 17-25.
ABSTRACT
ABSTRACT
ABSTRACT
ABSTRACT
Dengue hemorrhagic fever still cause any outbreaks suspected because of the increasing of the artificial container man made that have potencies to be the breed place of the Aedes aegypti, one of the mosquito species as the main vector of dengue hemorrhagic fever, such as aquatic aquarium used to care the aquatic plant named Cabomba. Whenever the Cabomba has biological activity to support or not support the life, growth and development of the Aedes aegypti larval.
Based on the reason above, it is important to understand the pontetial influence of the Cabomba to the Aedes aegypti larval.
The design of the research is the true experimental-post test only control group design, in order to understand the influence of the Cabomba in aquatic aquarium to the Aedes aegypti larval.
This research used 5 containers, each of them to be contained with 25 larval of Aedes aegypti. The trial used 3 interventions, 1 positive control with temephos, and 1 negative control without any intervention.
The result showed, the Kruskal-Wallis statistical test for the death of the Aedes aegypti larval showed p=0.000, because the probability was less than 0.05, it showed that at least there was a different between twogroups of treatment. Mann-Whitney statistical test showed that the couple of concentration which had significant level was 25% and 50% (sig = 0.001), 25% and 100% (sig = 0.001), 50% and 100% (sig = 0.001). Those showed that the couples of the concentrations had significantly different averages. The Spearman Rank correlation test showed the statistical rs was 1 ( > rs table α=0.05 ), so that meant there was a significant correlation between two variables tested.
ABSTRAK
ABSTRAK
ABSTRAK
ABSTRAK
Demam berdarah dengue yang masih sering menimbulkan kejadian luar biasa diduga juga karena semakin banyaknya kontainer buatan manusia yang berpotensi sebagai breeding place nyamuk Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dengue, salah satunya adalah aquarium air tawar yang digunakan untuk memelihara tanaman air tawar Cabomba. Sedangkan tanaman air tawar Cabomba
tersebut memiliki aktifitas biologis yang berpotensi menunjang maupun tidak menunjang kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk Aedes aegypti.
Oleh karena itu perlu diketahui pengaruh yang potensial dari tanaman air tawarCabombaterhadap larva nyamukAedes aegypti.
Desain penelitian yang digunakan adalah true experimental-post test only control group design, untuk mengetahui pengaruh tanaman air tawar Cabomba
dalam aquarium air tawar terhadap larva nyamukAedes aegypti.
Di dalam penelitian ini digunakan 5 kontainer, masing-masing kontainer berisi 25 larva. Percobaan ini menggunakan 3 perlakuan, 1 kontrol positif dengan pemberian abate (temefos), dan 1 kontrol negatif yaitu tanpa perlakuan.
Hasil uji statistik Kruskal-Wallis untuk kematian larva nyamuk Aedes aegypti diperoleh nilai p = 0,000, oleh karena nilai p<0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa paling tidak terdapat pebedaan jumlah larva yang mati antara dua kelompok. Uji Mann-Whitney untuk kematian larva nyamuk Aedes aegypti
menunjukkan bahwa pasangan konsentrasi yang mempunyai nilai signifikansi<0,05 adalah konsentrasi 25% dengan 50% (sig = 0,001), 25% dengan 100% (sig = 0,001), 50% dengan 100% (sig = 0,001). Hal ini menunjukkan pasangan – pasangan konsentrasi tersebut mempunyai rataan yang berbeda secara bermakna. Uji Korelasi Spearman menunjukkan rs hitung adalah 1 ( > rs tabel α=0,05 ), maka terdapat korelasi yang bermakna antara dua variabel yang diuji.