Penelitian dilakukan terhadap 16 gigi Premolar maksila yang dibagi dalam dua kelompok perlakuan dimana masing-masin kelompok terdiri atas delapan sampel. Kelompok pertama adalah gigi dengan kavitas klas I dengan perlekatan yang menggunakan silanisasi. Kelompok kedua adalah gigi dengan kavitas klas I dengan perlekatan tanpa menggunakan silanisasi.
Hasil penelitian pengujian kekuatan tarik pada restorasi onlay resin komposit indirek pada kedua kelompok perlakuan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1.Data hasil pengukuran kekuatan tarik Kelompok I (Silanisasi) Load (kgf) Newton (N) Kelompok II (Tanpa Silanisasi) Load (kgf) Newton (N) 1 34,7 340,06 1 15,3 149,94 2 12,7 124,46 2 17,5 171,5 3 35,7 349,86 3 24,7 242,06 4 23,9 234,22 4 8,3 81,34 5 24,9 244,02 5 21,5 210,7 6 14,4 141,12 6 15,9 155,82 7 42,5 416,5 7 36,5 357,7 8 44,6 437,08 8 32,7 320,46 Rata-rata 29,175 285,915 Rata-rata 21,55 211,190
Pada tabel 1 menunjukkan rerata daya tarik fraktur kelompok I (285,915 N) lebih besar daripada rerata daya tarik fraktur pada kelompok II (211,190 N).
Fraktur yang terjadi setelah proses uji tarik diidentifikasi dan dikelompokkan berdasarkan klasifikasi fraktur. Identifikasi pola fraktur dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Identifikasi pola fraktur setelah proses uji tarik. No. Sampel
Kelompok
Cohesive Adhesive Adhesive - Cohesive I 1 2 3 4 5 6 7 8 Jumlah 7 1 - II 1 2 3 4 - 5 6 7 8 Jumlah 7 - -
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa pada kelompok I ada sebanyak 87,5% (7 sampel) fraktur pada onlay dan 12,5% (1 sampel) fraktur pada perlekatan (onlay-gigi), sedangkan pada kelompok II sebanyak 87,5% (7 sampel) fraktur pada onlay dan 12,5% (1 sampel) tidak terjadi fraktur, namun onlay terlepas dari akrilik. Pada kedua kelompok, tidak satu pun terjadi fraktur pada gigi.
Gambar 21. Pola fraktur kelompok I sampel 2dan kelompok II sampel 4
Data pengukuran kekuatan tarik antara kelompok I dan kelompok II dianalisis dengan Kolmogorov-Smirnov test untuk mengetahui distribusi data yang diperoleh. Hasil menunjukkan bahwa distribusi data adalah normal. Hasil Kolmogorov-Smirnov ini dapat terlihat pada lampiran 4. Setelah itu data diuji secara statistik menggunakan uji t (t-test) dengan tingkat kemaknaan (α < 0,05).
Tabel 3 Hasil uji t berpasangan dari kelompok I (dengan silanisasi) dan kelompok II (tanpa silanisasi) Kelompok Δ kisaran T Df p rerata ± SB Silanisasi 285,91 ± 41,91 118,55 2,578 7 0,037 Tanpa silanisasi 211,19 ± 32,63 92,28
Berdasarkan data pada tabel diatas, secara statistik terlihat ada perbedaan yang bermakna pada restorasi dengan silanisasi dan tanpa silanisasi (t = 2,578 ; p = 0,037).
BAB 6 PEMBAHASAN
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah gigi-gigi Premolar maksila yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti dan prostodonti. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan sampel kurang dari enam bulan dan sampel direndam dalam larutan saline sehingga gigi tidak dehidrasi.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan bahan resin komposit tipe
nanofiller yang dapat digunakan untuk restorasi gigi posterior. Tipe ini juga
digunakan oleh Azevedo (2007)7, sedangkan Tay & Wei (2004), Hornbrook DS (2002), Terry & Touati (2001) dan Sisthaningsih (2008) menggunakan tipe mikrohibrid untuk restorasi posterior.3,5,8,15
Bahan silane yang digunakan adalah bahan yang mengandung
methacryloxypropyltrimethoxy-silane (MPTS). Silane coupling agent bekerja dengan cara mencegah gangguan hidrolisis diantara permukan filler dan matriks yang dapat menimbulkan keretakan resin komposit.
Metode yang digunakan dalam pembuatan restorasi onlay resin komposit adalah metode indirek, karena menghasilkan bentuk anatomis yang sangat baik, terutama untuk adaptasi marginal pada bagian proksimal gigi.
1
Ketika digunakan sebagai coupling agent,
silane yang mengikat polimer organik pada mineral atau filler siliceous,
menghasilkan peningkatan pencampuran, ikatan yang lebih baik pada pigment/filler terhadap resin, meningkatkan kekuatan matriks, menurunkan masukan air dari komposit, dan memperkecil pemakaian.21 Lapisan siloxane yang hidrofilik dapat
terjadi pada filler komposit yang hanya diberi MPTS, dan ikatan siloxane ini lama kelamaan mengalami kerusakan karena hidrolisis oleh molekul air yang diabsorbsi oleh resin komposit. Seperti ikatan kimia yang mengalami hidrolisa, juga terbentuk retakan antara permukaan partikel filler dan matrix resin, dan kekuatan mekanis dari komposit akan berkurang.
Desain onlay yang digunakan pada penelitian ini adalah berbentuk butt-joint, yang memberikan hasil estetis yang baik dan mudah membentuknya, namun desain secara tidak langsung memotong enamel rod secara paralel yang mana diketahui bahwa pengetsaan pada kondisi ini tidak memberikan adhesi yang optimal.
23
Pengujian kekuatan restorasi pada penelitian ini mengunakan uji kekuatan tarik (tensile strength). Spesimen ditarik oleh alat uji tarik (Torsee’s Universal
Machine, Japan) sampai fraktur dengan kecepatan 1,0 mm/menit dan beban sebesar
200 kilogramforce (kgf) yang kemudian dikonversikan ke dalam satuan Newton (N). 16
Beberapa penelitian sebelumnya oleh Brosh et al (1997) yang melakukan penelitian pada restorasi perbaikan antara resin komposit hibrid dan resin komposit mikrofill dengan penambahan silane pada permukaan yang di etsa, mendapat hasil uji kekuatan gesernya sebesar 6,43 ± 2,16 MPa.14 dan Sisthaningsih et al (2008) melakukan uji kekuatan geser terhadap dua jenis resin komposit yang berbeda dengan penambahan silane, didapat nilai kekuatan geser sebesar 9,9368 ± 0,87401 Mpa.15
Rerata daya tarik fraktur restorasi onlay resin komposit indirek pada gigi premolar untuk kelompok I adalah sebesar 285,91 ± 118,55 N dan untuk kelompok II adalah sebesar 211,19 ± 92,28 N. Dari data yang diperoleh dapat dilihat selisih sebesar 74,725 N antara kelompok I dan kelompok II, dimana rerata kelompok I lebih
besar dibandingkan kelompok II, namun pada kelompok I terdapat 2 sampel dengan kekuatan tarik yang rendah dibandingkan sampel yang lain, yaitu kelompok I sampel 2 dengan kekuatan sebesar 124,46 N dan sampel 6 dengan kekuatan sebesar 141,12N.
Pola fraktur pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 2, yaitu pada kelompok I sebanyak 87,5% (7 sampel) terjadi cohessive failure pada onlay dan 12,5% (1 sampel) terjadi adhesive failure (onlay-gigi), sedangkan pada kelompok II sebanyak 87,5% (7 sampel) terjadi cohessive failure pada onlay dan 12,5% (1 sampel) tidak terjadi fraktur, namun onlay terlepas dari akrilik. Pada kedua kelompok, tidak satupun terjadi adhesive-cohessive failure.
Pada kelompok I sampel nomor 2 didapat hasil dengan kekuatan tarik yang rendah dan terjadi adhesive failure. Hal ini disebabkan karena pada saat preparasi, struktur gigi yang dibuang terlalu banyak dan sudut-sudut preparasi kurang membulat, sehingga retensi berkurang. Penggunaan bahan silane yang tidak sesuai seperti prosedur yang ditetapkan juga dapat menyebabkan hal ini. Tidak terjadi ikatan
siloxane antara gugus akhir pada grup silane dengan grup hidroksil pada partikel filler melalui reaksi kondensasi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Yoshida et al
(2002) menyebutkan bahwa dari X-ray photoelectron spectroscopy yang mereka lakukan, menggambarkan ikatan filler-matrix sebagian tergantung pada ikatan
siloxane (Si-O-Si) yang terjadi antara permukaan silica dan molekul silane, daripada
ikatan intermolekuler antara molekul-molekul silane.
Sampel 4 pada kelompok II terlihat kekuatan tarik dengan hasil terendah yaitu 81,34 N dan tidak terjadi fraktur antara onlay dan gigi namun onlay terlepas dari akrilik. Hal ini disebabkan kurangnya retensi yang dibuat pada onlay sehingga onlay
terlepas dari akrilik dan tidak diperoleh hasil penelitian yang diharapkan pada sampel ini.
Semen luting yang dipilih pada penelitian ini adalah semen berbahan resin, yang akan memberikan hasil yang optimal karena berikatan sangat baik dengan resin komposit. Polimerisasi kimia yang terjadi pada semen ini membentuk konsistensi seperti gel yang mudah dibuang dan dibersihkan. Penggunaan semen luting berbahan resin menambah kekuatan perlekatan pada semua sampel pada penelitian ini. Pada kelompok dengan silanisasi, kekuatan itu semakin baik dengan adanya ikatan
siloxane antara resin komposit dan silane coupling agent juga antara silane coupling agent dan semen resin, sedangkan pada kelompok tanpa silanisasi hanya terjadi
ikatan antara resin komposit – semen resin.
Secara statistik, hipotesa penelitian ini diterima, ada perbedaan yang signifikan dari masing-masing kelompok. Hal ini terjadi karena adanya pengikatan partikel filler ke matriks resin organik melalui silane coupling agent yang memperbaiki sifat fisik resin komposit, dan peningkatan kekuatan tarik tidaklah semata-mata karena adanya interlocking mekanis resin komposit, tapi juga oleh pembentukan ikatan kovalen siloxane melalui penerapan silane.21
BAB 7