HASIL PENELITIAN
4.1 Pengaruh Perendaman Gigi dalam Susu Sapi dan Saliva Buatan Terhadap Peningkatan Nilai Kekerasan Enamel Gigi
Sebanyak 32 gigi premolar satu maksila dibagi secara acak menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok I direndam dengan susu sapi dan kelompok II direndam dengan saliva buatan. Seluruh sampel direndam dalam larutan asam sebelum direndam dalam susu sapi dan saliva buatan. Setiap sampel dilakukan pengujian kekerasan enamel sebelum perlakuan, setelah direndam dalam larutan asam, dan setelah direndam dalam susu sapi dan saliva buatan pada hari pertama dan hari ketiga menggunakan alat Micro Vickers Hardness Tester. Hasil pengukuran rata-rata kekerasan enamel yang diperoleh pada kelompok susu sapi secara berturut-turut yaitu 376,23 VHN, 309,62 VHN, 324,39 VHN, dan 354,80 VHN. Pada Kelompok saliva buatan secara berturut-turut 373,22 VHN, 301,18 VHN, 308,06 VHN, dan 322,18 VHN (Tabel 2).
Tabel 2. Nilai rata-rata kekerasan enamel sebelum perlakuan, setelah direndam larutan asam, setelah perendaman agen remineralisasi hari pertama dan hari ketiga
Jenis Perlakuan Kelompok I (Susu Sapi) X±SD (VHN) N Kelompok II (Saliva Buatan) X±SD (VHN) N Sebelum Perlakuan 376,23±16,94 16 373,22±15,08 16 Setelah Demineralisasi 309,62±18,44 16 301,18±15,44 16 Perendaman Agen
Remineralisasi Hari Pertama
Dari tabel 2, pada kedua kelompok terlihat penurunan nilai kekerasan enamel setelah perendaman dalam larutan asam bila dibandingkan dengan nilai kekerasan enamel sebelum perlakuan. Sebaliknya, terjadi peningkatan kekerasan enamel pada kedua kelompok yaitu kelompok susu sapi dan saliva buatan baik pada perendaman hari pertama dan hari ketiga bila dibandingkan dengan kekerasan enamel setelah perendaman dalam larutan asam.
4.2 Perbedaan Nilai Kekerasan Enamel pada Perendaman Hari Pertama dan Hari Ketiga pada Kelompok Susu Sapi
Perbedaan kekerasan enamel gigi setelah direndam dalam susu sapi pada hari pertama dan hari ketiga dapat dianalisis dengan uji T berpasangan. Sebelum dilakukan uji statistik maka dilakukan uji Shapiro-Wilk terlebih dahulu untuk mengetahui hasil uji normalitas. Hasil uji normalitas pada perendaman hari pertama menunjukkan nilai p=0,423 (p>0,05), pada perendaman hari ketiga menunjukkan nilai p=0,782 (p>0,05). Kedua nilai p tersebut menunjukkan bahwa data yang diperoleh merupakan data yang terdistribusi normal. Setelah diakukan uji normalitas, maka dilakukan uji T berpasangan. Hasil uji T berpasangan menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05). Nilai ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kekerasan enamel pada perendaman hari pertama dan hari ketiga pada kelompok susu sapi (Tabel 3).
Tabel 3. Uji T berpasangan untuk melihat perbedaan nilai kekerasan enamel pada perendaman hari pertama dan hari ketiga pada kelompok susu sapi
Waktu
perendaman N X ± SD (VHN) ΔX (VHN) Sig. (p) Hari pertama 16 324,39±20.35
30,41 0,000* Hari ketiga 16 354,80±21.09
4.3 Perbedaan Nilai Kekerasan Enamel pada Perendaman Hari Pertama dan Hari Ketiga pada Kelompok Saliva Buatan
Perbedaan kekerasan enamel gigi setelah direndam dalam saliva buatan pada hari pertama dan hari ketiga dapat dianalisis dengan uji T berpasangan. Sebelum dilakukan uji statistik maka dilakukan uji Shapiro-Wilk terlebih dahulu untuk mengetahui hasil uji normalitas. Hasil uji normalitas pada perendaman hari pertama menunjukkan nilai p=0,514 (p>0,05), pada perendaman hari ketiga menunjukkan nilai p=0,724 (p>0,05). Kedua nilai p tersebut menunjukkan bahwa data yang diperoleh merupakan data yang terdistribusi normal. Setelah diakuka n uji normalitas, maka dilakukan uji T berpasangan. Hasil uji T berpasangan menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05). Nilai ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kekerasan enamel pada perendaman hari pertama dan hari ketiga pada kelompok saliva buatan (Tabel 4).
Tabel 4. Uji T berpasangan untuk melihat perbedaan nilai kekerasan enamel pada perendaman hari pertama dan hari ketiga pada kelompok saliva buatan Waktu
perendaman N X ± SD (VHN) ΔX (VHN) Sig. (p) Hari pertama 16 308,06±15,94
14,12 0,000* Hari ketiga 16 322,18±16.94
*terdapat perbedaan signifikan pada level p<0,05
4.4 Perbedaan Nilai Kekerasan Enamel setelah Perendaman dalam Susu Sapi dan Saliva buatan pada Masing-masing Waktu Perendaman Perbedaan nilai kekerasan enamel gigi setelah direndam dalam susu sapi dan saliva buatan pada masing-masing waktu perendaman dapat dianalisis dengan uji one way Anova (uji Anova satu arah). Sebelum dilakukan uji statistik maka dilakukan uji homogenitas data terlebih dahulu. Hasil uji homogenitas data menunjukkan nilai
ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan kekerasan enamel gigi setelah direndam dalam susu sapi pada hari pertama dan hari ketiga dengan saliva buatan pada hari pertama dan hari ketiga.
Setelah dilakukan uji one way Anova, selanjutnya diteruskan dengan melakukan uji LSD (Least Significant Different) untuk mengetahui pasangan kelompok waktu perlakuan mana pada kelompok perendaman gigi dalam susu sapi dan saliva buatan yang memiliki perbedaan signifikan. Hasil uji LSD pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kekerasan enamel antara perendaman dalam susu sapi hari pertama dengan perendaman dalam saliva buatan hari pertama dengan nilai p=0,018 (p<0.05). Pada kekerasan enamel antara perendaman dalam susu sapi hari pertama dengan perendaman dalam saliva buatan hari ketiga tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p=0,740 (p>0.05). Pada kekerasan enamel antara perendaman dalam susu sapi hari ketiga dengan perendaman dalam saliva buatan hari pertama terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p=0,000 (p<0.05). Pada kekerasan enamel antara perendaman dalam susu sapi hari ketiga dengan perendaman dalam saliva buatan hari ketiga terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p=0,000 (p<0.05) (Tabel 5).
Tabel 5. Hasil uji LSD nilai kekerasan enamel setelah direndam dalam susu sapi dan saliva buatan pada masing-masing waktu perendaman
Susu Sapi Saliva Buatan
Hari pertama Hari ketiga ΔX (VHN) Sig. (p) ΔX (VHN) Sig. (p) Hari pertama 16,33 0.018* 2,21 0.740 Hari ketiga 46,74 0.000* 32,62 0.000* *terdapat perbedaan signifikan pada level p<0.05
BAB 5 PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan nilai kekerasan enamel gigi pada perendaman dengan susu sapi dan saliva buatan setelah demineralisasi gigi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang menggunakan 32 gigi premolar satu maksila yang diekstraksi untuk keperluan perawatan ortodonti dengan kriteria yang sudah ditentukan.
Seluruh sampel direndam terlebih dahulu ke dalam larutan asam selama 5 menit kemudian dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang direndam dalam susu sapi dan kelompok yang direndam dalam saliva buatan sebagai kontrol. Nilai kekerasan enamel diukur sebelum dan setelah sampel diberikan perlakuan.
5.1 Pengaruh Perendaman Gigi dalam Susu Sapi dan Saliva Buatan Terhadap Peningkatan Nilai Kekerasan Enamel Gigi
Kekerasan enamel gigi bervariasi tergantung jenis gigi dan lokasi gigi yang diukur. Hal ini dipengaruhi oleh komposisi kimia dan ketebalan enamel pada masing-masing gigi. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran kekerasan di bagian bukal gigi dan diambil satu data untuk setiap pengukuran. Hasil pengukuran kekerasan awal (tabel 2) menunjukkan kekerasan yang bervariasi dilihat dari standard deviasi di setiap kelompok. Rata-rata kekerasan enamel hasil pengukuran sebelum dilakukan perendaman pada penelitian ini berkisar antara 358,48-390,58 VHN, dimana nilai ini tidak jauh berbeda dengan hasil pengukuran yang dilakukan oleh Palti DG, dkk (2008) yaitu sebesar 367,13-399,97 VHN.40 Hal yang menjadikan penelitian ini sama dengan penelitian Palti DG, dkk adalah sampel gigi yang digunakan adalah gigi premolar yang sudah erupsi 4-10 tahun dan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah premolar yang diperoleh dari pasien usia 17-30 tahun dengan kata lain gigi sudah erupsi 6-19 tahun. Kekerasan enamel dipengaruhi oleh usia gigi di dalam
Setelah dilakukan pengukuran kekerasan awal, selanjutnya sampel direndam dalam larutan asam selama 5 menit. Nilai kekerasan enamel menunjukkan terjadinya penurunan kekerasan enamel gigi setelah direndam dalam larutan asam. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa larutan asam ini dapat menyebabkan kekerasan enamel gigi menurun. Hal ini disebabkan oleh nilai pH larutan lebih rendah daripada pH kritis hidroksiapatit (5,5), dimana pH larutan asam yang digunakan adalah 3,6. Jika hidroksiapatit berkontak dengan larutan yang mempunyai pH di bawah 5,5 maka dapat menyebabkan larutnya mineral enamel gigi yang disebut demineralisai sehingga memengaruhi kekerasan enamel gigi.14 Kecepatan melarutnya mineral enamel dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu derajat keasaman (pH), konsentrasi, komposisi ion mineral dan aliran saliva, aksi buffer saliva, diet (jumlah dan frekuensi mengonsumsi karbohidrat), dan struktur gigi.1,41
Kemudian dilakukan perendaman sampel dalam susu sapi pada kelompok I dan saliva buatan pada kelompok II. Hasil yang diperoleh bahwa terjadi peningkatan kekerasan enamel baik pada hari pertama maupun hari ketiga. Peningkatan kekerasan enamel yang terjadi merupakan pengaruh dari proses remineralisasi. Remineralisasi adalah proses pengembalian mineral, dalam bentuk ion mineral ke struktur hidroksiapatit.42 Faktor yang dapat memengaruhi terjadinya remineralisasi antara lain aliran saliva yang baik, adanya kalsium, fosfat dan fluorida serta pH rongga mulut dalam kondisi normal.41,43 Apabila proses remineralisasi alami tidak lagi adekuat untuk mempertahankan kekuatan enamel, terutama dengan adanya makanan olahan dan diet yang banyak mengandung gula, proses remineralisasi perlu ditingkatkan.7 Hal yang dapat dilakukan untuk membantu proses remineralisasi adalah dengan pemberian agen-agen remineralisasi yang memenuhi syarat yaitu mampu melepaskan kalsium dan fosfat ke permukaan enamel, tidak menyebabkan pembentukan kalkulus, dapat bekerja saat rongga mulut pH asam, mendorong fungsi remineralisasi saliva dan dapat bekerja pada penderita xerostomia.21,28
5.2 Perbedaan Nilai Kekerasan Enamel pada Perendaman Hari Pertama dan Hari Ketiga pada Kelompok Susu Sapi
Hasil uji T berpasangan pada kelompok susu sapi (tabel 3) menunjukkan terdapat perbedaan nilai kekerasan enamel gigi yang bermakna (p<0,05) setelah direndam hari pertama dan hari ketiga. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa susu sapi dapat menyebabkan kekerasan enamel gigi meningkat pada perendaman hari pertama dan semakin meningkat pada perendaman hari ketiga. Meningkatnya kekerasan enamel gigi setelah direndam dalam susu sapi disebabkan oleh terdapatnya mineral kalsium dan fosfor yang merupakan mineral penting dalam proses remineralisasi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Davari, dkk (2012) dimana kekerasan enamel gigi meningkat secara signifikan setelah sampel direndam dalam susu sapi yang sebelumnya sampel tersebut dilakukan bleaching dengan karbamid peroksida 10%.33 Namun, hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Amoras, dkk (2012) dimana terjadi peningkatan kekerasan enamel setelah sampel direndam dalam susu sapi yang sebelumnya sampel tersebut direndam dalam HCL namun peningkatan yang diperoleh tidak signifikan.11 Hal ini mungkin karena waktu perendaman yang relatif singkat dimana perendaman sampel dilakukan selama 1 menit sebanyak empat kali pengulangan. Selain itu mungkin disebabkan oleh perbedaan kandungan mineral yang terdapat pada susu sapi yang digunakan.
Kekerasan enamel gigi yang direndam dalam susu sapi setelah hari ketiga memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kekerasan enamel gigi yang direndam dalam susu sapi setelah hari pertama yaitu terjadi peningkatan sebesar 30,41 VHN. Hal ini kemungkinan karena semakin lama dan sering enamel terpapar minuman yang mengandung mineral kalsium dan fosfor maka semakin banyak mineral yang diserap oleh enamel yang terpapar sehingga meningkatkan kekerasan enamel tersebut.
Susu adalah emulsi selular yang memiliki struktur utama berupa kasein yang tersusun dari beribu molekul protein yang berikatan dengan kalsium dan fosfat.33
merupakan sumber alami kalsium.11 Susu memiliki kemampuan melindungi gigi dari erosi, terutama bila dikonsumsi setelah gigi terpapar asam. Susu dapat bertindak sebagai agen remineralisasi, dapat juga meningkatkan deposit mineral dan material organik di permukaan enamel, serta mampu membentuk sebuah film protektif. Film ini berhubungan dengan adsorpsi kasein di permukaan enamel, dengan cara demikian menurunkan tingkat pelarutan kristal hidroksiapatit dan menjaga stabilisasinya dengan menghambat keluarnya ion-ion.2
Karbohidrat yang terdapat pada susu sapi terdiri dari 80% laktosa.34 Laktosa bisa difermentasi oleh bakteri rongga mulut menjadi asam laktat yang dapat menurunkan pH menjadi sekitar 6,0 sehingga pada kondisi normal kandungan karbohidrat yang ada pada susu memiliki potensi kariogenik yang rendah.44 Namun, pada keadaan tertentu susu dapat menyebabkan karies sebagaimana yang terjadi pada anak dengan kebiasaan mengonsumsi susu menggunakan botol sepanjang malam. Hal ini berhubungan dengan penurunan aliran saliva saat malam sehingga menurunkan kapasitas netralisasi saliva, dimana pada saat anak tertidur maka minuman akan menggenangi gigi sehingga waktu fermentasi karbohidrat akan lebih lama. Asam yang dihasilkan akan menyebabkan demineralisasi enamel sehingga terjadi karies.45 Kebiasaan meminum susu dengan botol saat malam tetap dapat dilakukan dengan syarat harus menyikat gigi sebelum tidur. Mengonsumsi susu sehari-hari dapat menurunan pH plak setelah 10 menit (6,79) diakibatkan oleh fermentasi laktosa yang ada pada susu tersebut. Namun, pH meningkat setelah 20 menit karena adanya peptida dan asam amino yang dihasilkan dari hidrolisis kasein yang dapat meningkatkan pH plak dan mencegah demineralisasi.44 Fermentasi laktosa di rongga mulut mungkin dapat dicegah dengan cara berkumur menggunakan air putih 5 menit setelah meminum susu.
5.3 Perbedaan Nilai Kekerasan Enamel pada Perendaman Hari Pertama dan Hari Ketiga pada Kelompok Saliva Buatan
Hasil uji T berpasangan pada kelompok saliva buatan (tabel 4) menunjukkan terdapat perbedaan nilai kekerasan enamel gigi yang bermakna (p<0,05) pada perendaman hari pertama dan hari ketiga. Nilai kekerasan pada hari ketiga lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kekerasan pada hari pertama yaitu terjadi peningkatan sebesar 14,12 VHN . Hal ini disebabkan oleh kandungan mineral yang terdapat dalam saliva buatan dimana saliva buatan yang digunakan mengandung kalium hidrogen posfat, kalsium posfat, kalium tiosanat, natrium klorida, kalium klorida, dan urea.
Beberapa mekanisme yang dapat meningkatkan fungsi perlindungan saliva terhadap erosi yaitu pertama, saliva secara langsung bertindak terhadap agen erosi dengan cara mencairkan, membersihkan, menertalisir, dan buffering saliva. Kedua, komponen organik saliva dapat membentuk pelikel tipis pada permukaan enamel, dimana pelikel ini bertindak sebagai penyebaran pertahanan untuk mencegah kontak langsung antara asam dengan permukaan gigi, dengan demikian memengaruhi tingkat pelarutan jaringan keras gigi. Ketiga, dengan adanya kandungan ion kalsium dan fosfat, saliva bertindak sebagai sumber alami pembentukan kristal baru.46 Dengan adanya ketiga fungsi saliva tersebut maka saliva dapat menyebabkan peningkatan nilai kekerasan enamel gigi sebagai efek dari proses remineralisasi.
5.4 Perbedaan Nilai Kekerasan Enamel setelah Perendaman dalam Susu Sapi dan Saliva buatan pada Masing-masing Waktu Perendaman Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan kekerasan enamel gigi setelah direndam dalam susu sapi dan saliva pada masing-masing waktu perendaman. Hasil uji ANOVA Satu Arah didapat ada perbedaan kekerasan pada masing-masing kelompok waktu perendaman. Hasil uji LSD (tabel 5) pada perendaman antara susu sapi hari pertama dengan saliva buatan hari pertama dan antara susu sapi hari ketiga
rata-rata perbedaan kekerasan antara kelompok susu sapi hari ketiga dan saliva buatan hari ketiga adalah 32,62 VHN.
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa susu sapi memiliki kemampuan untuk meningkatkan kekerasan enamel lebih besar dibandingkan dengan saliva buatan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kandungan mineral kalsium dan fosfor dalam bahan tersebut sehingga menyebabkan proses remineralisasi antara kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan yang dapat diketahui dari peningkatan nilai kekerasan enamel masing-masing kelompok. Selain itu, susu mengandung kasein yang tidak dimiliki oleh saliva dimana kasein dengan cepat diserap ke permukaan enamel dan meningkatkan ketahanan enamel terhadap asam.47
Pengukuran pH masing-masing larutan yang dilakukan, diperoleh bahwa susu sapi memiliki pH 6,5 dan saliva buatan memiliki pH 6,8 dimana dari nilai ini diketahui bahwa pH susu sapi lebih rendah daripada saliva buatan. Namun, nilai pH ini tidak menjadikan pengaruh susu sapi terhadap remineralisasi enamel lebih rendah daripada saliva buatan. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya proses remineralisasi adalah jumlah mineral yang dikandung oleh suatu bahan terutama kalsium dan fosfat yang digunakan sebagai agen remineralisasi, meskipun juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti aliran saliva yang baik dan pH rongga mulut dalam kondisi normal.43
Saliva sendiri sudah memiliki kemampuan untuk memicu proses remineralisasi enamel dengan adanya sifat buffering, mampu membentuk pelikel tipis yang bertindak sebagai penyebaran pertahanan untuk mencegah kontak langsung antara asam dengan permukaan gigi dan memiliki ion kalsium dan fosfat.46 Namun apabila proses ini tidak lagi adekuat maka proses remineralisasi perlu ditingkatkan dengan mengonsumsi susu sapi.
Pada penelitian ini belum diperoleh hasil kekerasan enamel gigi yang sama dengan kekerasan awal sebelum dilakukan demineralisasi. Hal ini mungkin karena jumlah hari perendaman yang kurang sehingga perlu dilakukan penambahan hari perendaman atau dengan cara melakukan perendaman sampel dengan mencampur susu sapi dan saliva buatan.
Hasil analisis statistik pada penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan nilai kekerasan enamel gigi pada perendaman dengan susu sapi dan saliva buatan setelah demineralisasi gigi (tabel 5). Hal ini berarti hipotesis penelitian diterima.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Susu sapi dan saliva buatan dapat meningkatkan nilai kekerasan enamel gigi setelah demineralisasi gigi.
2. Terdapat perbedaan signifikan antara nilai kekerasan enamel gigi setelah perendaman dalam susu sapi pada hari pertama dan ketiga (p<0,05) dimana terjadi peningkatan pada hari ketiga senilai 30,41 VHN.
3. Terdapat perbedaan nilai signifikan antara kekerasan enamel gigi setelah perendaman dalam saliva buatan pada hari pertama dan ketiga (p<0,05) dimana terjadi peningkatan pada hari ketiga senilai 14,12 VHN.
4. Terdapat perbedaan signifikan antara nilai kekerasan enamel gigi pada perendaman dengan susu sapi dan saliva buatan pada masing-masing waktu perendaman (p<0,05) dimana pada hari pertama terdapat perbedaan senilai 16,33 VHN dan pada hari ketiga terdapat perbedaan senilai 32,62 VHN.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk mengetahui jumlah ion kalsium yang diserap oleh enamel dari susu sapi dan saliva buatan.
2. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk mengetahui pengaruh susu sapi terhadap bakteri plak gigi.
3. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan menambah jumlah hari perendaman dan perendaman dalam susu sapi yang dicampur saliva buatan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Enamel
Enamel merupakan lapisan pelindung terluar dari mahkota gigi.15,16 Pembentukan enamel dimulai dari tahap presecretory, secretory, transition,
maturation, dan postmaturation. Pada tahap presecretory terdapat tanda awal diferensiasi ameloblas pada tip cusp atau tepi insisal, resopsi basal lamina, interaksi epitel, dan pembentukan organel intraselular. Tahap secretory ditandai dengan sekresi matriks enamel dan mineralisasi awal, ameloblas membentuk prosesur Tomes pada stuktur prismatik. Komposisi enamel pada tahap ini terdiri dari 30% matriks organik, 20-30% mineral dalam bentuk kristal hidroksiapatit, dan 40-50% air.17 (Gambar 1)
Tahap transition, ameloblas memendek dan sebagian besar mengalami apoptosis, serta terjadi penghentian sekresi matriks.17 Tahap maturation, ameloblas secara aktif menghasilkan ion kalsium dan fosfat ke dalam matriks dan mengambil material organik pada waktu yang bersamaan. 17,18 Komposisi enamel pada tahap ini terdiri dari 96% mineral, 3% air, dan 1% matriks organik. Tahap postmaturation, gigi sudah erupsi, mineralisasi permukaan meningkat, hilangnya organ enamel dan terbentuknya integumen enamel. 17
Enamel memiliki ketebalan yang berbeda pada setiap daerah. Ketebalan enamel pada gigi anterior (insisal edge) adalah 2 mm, pada gigi premolar (cusp) sebesar 2,3-2,5 mm, dan pada gigi molar (cusp) sebesar 2,5-3 mm.19 Enamel lebih tebal pada bagian cusp gigi dan ketebalannya menurun dari cusp sampai batas sementoenamel di servikal gigi.19,20 (Gambar 2)
Gambar 2. Ketebalan enamel menurun dari cusp
sampai servikal.20
2.1.1 Komposisi Enamel
Enamel merupakan maktriks ekstraseluler yang paling tinggi kandungan mineralnya, terdiri dari 96% mineral (material anorganik) dan 4% material organik dan air.15,16 Kandungan anorganik dalam enamel adalah kristal kalsium fosfat yang disebut hidroksiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2) serta ion magnesium, timah, strontium dan
fluor. Kandungan mineral yang tinggi mengakibatkan enamel menjadi sangat keras sehingga enamel mampu menahan gaya mekanis selama gigi berfungsi.15
2.1.2 Struktur Enamel
Enamel dibentuk dari pita seperti kristal karbonatoapatit yang memiliki lebar 60-70 nm dan ketebalan 25-30 nm. Satu unit kalsium fosfat memiliki bentuk heksagonal yang simetris dan berkumpul membentuk outline heksagonal pada kristal tersebut. Tetapi Kristal enamel yang telah matang sepenuhnya tidak lagi berbentuk heksagonal yang sempurna melainkan bentuk tidak teratus karena Kristal-kristal tersebut saling menekan selama masa pertumbuhan. Gabungan kristal-kristal ini disebut sebagai prisma enamel.15
a. Prisma enamel
Prisma cenderung berkumpul dalam satu kelompok dan tersusun mengelilingi dan mengikuti arah aksis gigi. Prisma mengarah secara tegak lurus ke permukaan dentin, dengan adanya sedikit inklinasi ke arah cusp. Pada bagian di dekat puncak
cusp, prisma tersusun lebih vertikal dan pada bagian servikal tersusun horizontal.15 (Gambar 3)
Gambar 3. A dan B tampilan Scanning Electron Microscope kristal
Garis retzius adalah garis yang terbentuk dari hasil deposisi yang berulang pada enamel. Seperti mineralisasi matriks enamel, garis retzius mengikuti bentuk deposisi matriks dan mempercepat pertumbuhan garis enamel.15 (Gambar 4)
c. Garis Hunter-Schreger
Garis Hunter-Schreger merupakan fenomena optis yang dihasilkan dari perubahan arah antarkelompok prisma. Garis ini terlihat jelas pada potongan longitudinal yang dilihat dari cahaya yang direfleksikan dan ditemukan di dalam dua pertiga enamel. Garis-garis ini memiliki tampilan gelap dan terang yang dapat dibalikkan dengan mengubah arah pencahayaan.15