• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian Sebelumnya

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.10. Hasil Penelitian Sebelumnya

Berdasarkan hasil penelitian Pancasasti (2008), tentang Analisis Perilaku Ekonomi Rumahtangga dan Peluang Kemiskinan Nelayan Tradisional di Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang Propinsi Banten, menunjukan bahwa :

1. Karakteristik pekerjaan di dalam sektor perikanan dilakukan oleh nelayan tradisional adalah perbedaan musim dalam penangkapan ikan. Perbedaan musim mempengaruhi corak dalam kegiatan produktif yang dilakukan oleh anggota rumah tangga nelayan tradisonal di kecamatan Kasemen. Pada musim paceklik, peluang kerja anggota rumah tangga (suami dan istri) di sektor perikanan merupakan alternatif kegiatan produktif. Fenomena pencarian tambahan pendapatan mempengaruhi peluang kerja suami diluar sektor perikanan walaupun pendapatan yang dihasilkan tinggi atau rendah. Hal ini menyebabkan peranan suami dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumahtangga lebih besar dari pada istri. Faktor-faktor non ekonomi yang berkaitan dengan peranan istri dalam pekerjaan rumah tangga seperti memelihara anak balita, dan masih rendahnya pendidikan yang dimiliki oleh istri mempengaruhi peluang istri bekerja di luar sektor perikanan.

2. Kegiatan di dalam dan diluar sektor perikanan yang dilaksanakan pada musim penangkapan ikan memberikan corak yang berbeda terhadap perilaku ekonomi rumah tangga. Produksi nelayan, curahan waktu kerja anggota rumahtangga, pendapatan anggota rumah tangga, dan konsumsi rumah tangga merupakan perilaku ekonomi rumahtangga nelayan yang danalisis secara simultan. Komuditi yang diperoleh nelayan tradisonal dalam melakukan kegiatan penangkapan di laut adalah ikan atau udang. Untuk mempermudah pengukuran komuditi hasil produksi yang beragam maka produksi dinilai dalam satuan rupiah. Produksi nelayan dipengaruhi secara nyata oleh faktor-faktor produksi. Pendapatan total rumahtangga digunakan untuk membeli kebutuhan rumahtangga dan banyaknya anggota rumahtangga yang menjadi tanggungan/beban rumahtangga mempengaruhi besarnya kebutuhan konsumsi pangan dan konsumsi non pangan meningkat karena pendapatan total rumah tangga

meningkat. Respon konsumsi pangan terhadap pendapatan rumahtangga lebih kecil daripada konsumsi non pangan.

3. Terbatasnya pemenuhan kebutuhan rumah tangga mendorong peluang kemiskinan rumahtangga. Faktor-faktor yang mempengaruhi peluang kemiskinan rumahtangga nelayan tradisonal adalah pengeluaran total rumahtangga, banyaknya anggota rumahtangga, lama pendidikan suami, dan dummy musim. Pada musim paceklik, pemenuhan kebutuhan rumahtangga menurun sehingga peluang kemiskinan meningkat. Kemiskinan rumahtangga nelayan tradisonal di Kecamatan Kasemen merupakan kemiskinan sementara.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Kurniawan (2007) tentang Kajian Pengelolaan Sumberdaya Perikanan (C0-Fish Project) dampaknya terhadap keadaan Sosial-Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Bengkalis, menunujukan bahwa :

1. Dalam upaya peningkatan sosial-ekonomi masyarakat nelayan, C-Fish Project di Kabupaten Bangkalis bertumpuh pada proram pembangunan kelembagan, pelatihan dan pembinaan, pembangunan sarana dan prasarana, dan pengolahan lingkungan. Keterlibatan masyarakat hanya sebatas pada tokoh-tokoh tertentu saja. Aktifitas proyek berhenti seiring dengan habisnya masa proyek.

2. Oleh karena itu, perbaikan pengelolaan sumberdaya perikanan Kabupaten Bengkalis ke depan diperlukan adanya peningkatan peran pemerintah daerah untuk menyelasikan permasalahan sosial (konflik) melalui antara lain: penertiban penggunaan jaring batu (bottom gill net) dan perbaikan sistim informasi bagi masyarakat nelayan, dan menjaga kelestarian sumber daya perikanan melalui peningkatan partisipasi masyarakat, perbaikan ekonomi masyarakat nelayan, peningkatan peran dan fungsi kelembagaan, serta pembangunan sarana dan prasarana.

Hasil penelitian ekonomi nelayan dan pemanfaatan sumber daya perikanan di Jawa Timur yang dilakukan Muhammad (2002), menunjukan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan dalam penguasaan dalam pengusahaan penangkapan ikan, yaitu jangkauan wilayah perairan pantai dan laut yang dapat ditempuh, intensitas pemakaian modal kerja, perbaikan dan stabilitas harga ikan serta penyebaran informasi pasar. Selain itu, model ekonomi rumahtangga nelayan yang mengintegrasikan

perilaku nelayan juragan dan nelayan pendega merupakan pengembangan model ekonomi rumahtangga pertanian. Dimana perilaku rumahtangga nelayan dalam produksi ikan, curahan kerja, pendapatan dan pengeluaran rumahtangga nelayan dapat diterangkan sebagai berikut :

1. Kegiatan produksi ikan berhubungan dengan ukuran aset kapal, daerah penangkapan ikan, frekuensi melaut, dan produktifitas wilayah penangkapan ikan. Perilaku produksi tersebut berkaitan dengan berbagai faktor. Faktor bahan bakar minyak (BBM) dan peluang kerja non perikanan berhubungan negatif dengan produksi ikan, sedangkan status sumber daya, tehnologi, pelabuhan perikanan, ukuran kapal, kegiatan agro industri, pemberian bibit, dan mutu sumber daya manusia (SDM) berhubungan positif dengan produksi ikan dan pendapatan nelayan.

2. Pendapatan rumahtangga juragan maupun pendega terutama ditentukan oleh jumlah hasil tangkapan melaut. Pengaruh perubahan harga ikan dan status sumber daya terhadap menerimaan nelayan cukup rendah. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa dalam upaya meningkatakan pendapatannya, nelayan cendrung lebih menguras sumber daya dari pada memperbaiki harga ikan atau sumber daya perikanan. Dalam rumahtangga nelayan terdapat kegiatan komplementer antara kegiatan melaut dan kegiatan agro industri perikanan. Jika besarnya pendapatan dari melaut menurun maka rumahtangga nelayan cendrung meningkatkan jumlah curahan kerja non perikanan.

3. Dampak kebijakan perubahan harga BBM, pengembangan tehnologi, perbaikan status sumberdaya, peningkatan harga ikan, dan curahan kerja non melaut, pengaturan bagi hasil, perluasan daerah penangkapan sampai wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) 200 mil dan peningkatan fasilitas pelayanan pelabuhan perikanan lepas pantai sebagai berikut : (a) peningkatan harga BBM dan perluasan lapangan kerja non melaut mengurangi eksploitasi sumber daya perikanan. Peningkatan harga BBM disamping berdampak terhadap penurunan tingkat eksploitasi sumber daya perikanan juga penurunan pendapatan nelayan, maupun pendapatan asli daerah (PAD), (b) peningkatan mutu SDM, pemberian kredit, ukuran kapal, tehnologi, harga ikan, curahan kerja agroindustri, pengaturan bagi hasil, dan perluasan daerah penangkapan ikan sampai 200 mil secara tunggal akan

meningkatkan eksploitasi sumber daya perikanan dan pendapatan nelayan. Jika dilakukan kombinasi kebijakan kenaikan BBM dengan peningkatan harga ikan pada presentase yang sama, maka dampak terhadap keragaan ekonomi rumah tangga nelayan masih menunjukan penurunan pendapatan nelayan dan PAD sebagai akibat kebijakan kenaikan harga BBM sehingga masih dibutuhkan kebijakan kombinasi dan terpadu, (c) peningkatan pemanfaatan sumberdaya perikanan pada tingkat maximum sustainable yield (MSY) dan pengaturan bagi hasil antara juragan dan anak buah kapal (ABK) berdampak meningkatkan pendapatan nelayan pendega dan proses pemerataan pendapatan antara juragan dan ABK, dan (d) subsidi BBM akan berdampak dua arah, disamping peningkatan pendapatan dan kesejahteraan rumahtangga nelayan, namun pada sisi lain eksploitasi sumber daya akan semakin meningkat dan akan mempercepat terjadinya pemanfaatan sumber daya perikanan secara berlebih (over exploited).

Hasil penelitian Faradiba (2006), tentang Analisis Pengelolaan Perikanan Tangkap Secara Optimal dalam Upaya Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Teluk Palu, menunjukan bahwa :

1. Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap kegiatan penangkapan dimana hasil tangkapan aktual belum melebihi jumlah tangkapan lestari, dimana hal tersebut mengindikasikan bahwa tidak terjadi “biological overfishing” pada kegiatan penangkapan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut di Teluk Palu wilayah Kota Palu, namun yang terjadi adalah “economic overfishing” dimana jumlah effort jauh lebih banyak dibandingkan dengan volume hasil tangkapan yang diperoleh sehingga biaya yang dikeluarkan (untuk input) lebih besar dari pada penerimaan (hasil tangkapan).

2. Minimnya jumlah tangkapan aktual selain dipengaruhi oleh penggunaan alat dan armada penangkapan yang sederhana juga disebabkan oleh daya dukung lingkungan (dimensi Bio-ekologis) yang menurun akibat terjadinya reklamasi pantai, pencurian karang.

3. Dari hasil perhitungan surplus produsen dan surplus konsumen mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan nelayan lebih rendah dari pada konsumen. Salah satu penyebabnya karena lemahnya posisi tawar mereka.

Menurut Abubakar (2004), bahwa faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi pendapatan masyarakat nelayan sebelum adanya konfik di wilayah pesisir Kota Ternate yakni : umur nelayan, sarana transportasi, sarana pemilikan, kemudahan penjualan, dan kemudahan memperoleh pekerjaan sampingan. Sedangkan faktor-faktor yang tidak mempengaruhi pendapatan nelayan adalah : pengalaman kerja, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pendidikan, dan pengaruh tehnologi. Faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi pendapatan masyarakat nelayan sesudah konflik adalah : jumlah hasil tangkapan, transportasi, kemudahan memperoleh pekerjaan sampingan, dan interaksi tanggungan keluarga dan pendidikan. Sedangkan faktor-faktor yang tidak mepengaruhi pendapatan nelayan adalah : umur, pengalaman kerja, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pendidikan, transportasi, sarana pemilikan, dan kemudahan penjualan.

Hasil penelitian Alfian Zein (1991) dalam Lopulalan (2003) memperlihatkan bahwa pemanfaatan bantuan pemerintah melalui fasilitas kredit motor tempel dan alat penangkapan ikan memperlihatkan pengaruh yang berarti terhadap produksi hasil tangkapan. Hal ini memberi petunjuk bahwa kredit motor tempel dan alat tangkap ikan telah memberi dampak yang positif terhadap produksi perikanan. Selanjutnya dikatakan bahwa jika ditinjau dari tujuan program kredit yang dicanangkan oleh pemerintah melalui proyek dalam rangka meningkatkan pendapatan nelayan di Kotamadya Padang, ternyata tujuan tersebut baru tercapai sebesar 44% dari nelayan penerima kredit, terutama bagi nelayan yang mampu mengganti alat penangkapan ikan yang diberikan dari fasilitas kredit menjadi alat penangkap ikan.

Misradi (2003) dalam Kurniawan (2007) mengatakan bahwa indikator yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga nelayan di Kawasan Muara Angke Jakarta Utara adalah (1) tingkat pendapatan rumah tangga, pendapatan per kapita nelayan yang memanfaatkan fasilitas perikanan terdistribusi pada tingkat pendapatan lebih besar dari 351 ribu rupiah dan yang tidak memanfaatkan fasilitas terdistribusi pada tingkat pendapatan lebih besar dari 251 ribu rupiah (2) tingkat pengeluaran rumahtangga, nelayan yang memanfaatkan fasilitas memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan sebesar 350 ribu rupiah sedangkan nelayan yang tidak memanfaatkan fasilitas memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan sebesar 253 ribu rupiah (3) tingkat pendidikan, nelayan yang memanfaatkan fasilitas dan yang tidak memanfaatkan fasilitas memiliki

tingkat pendidikan yang tamat SD lebih besar dari 60 persen (4) tingkat kesehatan yang menunjukan kondisi kesehatan anggota keluarga adalah baik, (5) kondisi perumahan nelayan yang memanfaatkan fasilitas didominasi oleh kondisi perumahan yang permanent sebesar 54 persen, sedangkan kondisi perumahan yang tidak memanfaatkan fasilitas didominasi oleh kondisi perumahan yang semi permanen sebesar 74 persen (6) fasilitas perumahan, nelayan yang memanfaatkan fasilitas maupun tidak memanfaatkan fasilitas tergolong pada semi lengkap untuk fasilitas rumah tangga.

Lopulalan (2003) mengatakan bahwa dampak kemitraan terhadap produksi hasil tangkapan memperlihatkan bahwa variabel jumlah trip penangkapan, biaya operasional penangkapan, serta pengalaman memberikan pengaruh nyata terhadap produksi hasil tangkapan nelayan peserta kemitraan. Sementara pendapatan nelayan peserta kemitraan per tripnya sebesar 59.661,76 rupiah.

Arianto (2003) menyatakan bahwa program di bidang perikanan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Bengkalis masih meliputi aspek fisik yaitu bantuan yang berupa materi sedangkan aspek non materi seperti kesiapan para nelayan serta kemampuannya dalam menerima program dan kegiatan sangat minim diadakan dan diperhatikan oleh pemerintah setempat. Selain itu terlihat bahwa program kegiatan tersebut dilaksankan secara terpisah dari waktu ke waktu. Program yang disusun belum mengarah pada rencana dan kegiatan yang berkelanjutan. Program pengembangan masyarakat untuk masa yang akan datang perlu dilakukan pendekatan partisipatif, yaitu dengan melibatkan masyarakat secara aktif, sehingga program yang diaksanakan benar- benar merupakan solusi dalam peningkatan taraf hidup masyarakat nelayan.

Secara umum nelayan kecil baik yang memiliki keterkaitan kegiatan dengan usaha perikanan moderen maupun tidak, sedang menghadapi kondisi sosial ekonomi yang kurang menggembirakan. Secara garis besar ada beberapa faktor penyebab kemiskinan masyarakat nelayan di daerah pantai, yaitu (1) kurangnya sarana prasarana penunjang (2) rendahnya penerapan tehnologi perikanan (3) lemahnya kelembagaan masyarakat (4) lemahnya sumber daya keluarga nelayan. Faktor-faktor tersebut saling terkait antara satu dengan lainnya, Hermanto, (1994) dalam Lopulalan (2003).