• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya

Kardiyanti, dkk (2017) melakukan penelitian pada PT. Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo terkait tentang Penerapan Pengendalian Intern Penjualan Kredit Dalam Upaya Meminimalisir Piutang Tidak Tertagih. Hasil penelitian Kardiyanti, dkk (2017) menyatakan secara keseluruhan, prosedur pengendalian intern penjualan kredit pada PT. Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo belum berjalan memadai karena ada beberapa unsur yang belum diterapkan seperti masih adanya perangkapan fungsi penjualan dan penagihan, sehingga menyebabkan peluang terjadinya kecurangan cukup tinggi, Tidak adanya fungsi kredit khusus yang hanya menangani penjualan kredit diantaranya otorisasi pemberian dan penjualan

kredit, Faktor-faktor penjualan kredit seperti penentuan standar, plafon, dan pemberian volume kredit pada PT. Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo belum diterapkan secara sempurna sehingga resiko piutang tidak tertagih masih relatif tinggi, Tidak adanya Staf pengawas intern diperlukan oleh PT. Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo untuk mengawasi proses berjalannya SOP. Staf Pengawas Intern Pusat diterjunkan ke cabang ketika masalah sudah dianggap parah, belum adanya bagian surveyor untuk calon pelanggan yang akan mengajukan kredit, sehingga kurang mengetahui kondisi calon pelanggan tersebut. Dalam hal ini sales/salesman yang menawarkan kredit kurang begitu detail dalam menyeleksi calon pelanggan, dengan alasan agar dapat memenuhi target omset yang telah ditentukan.

Rusady dan Abriandi (2016) melakukan penelitian pada PT. Astrido Toyota terkait tentang Analisis Sistem Pengendalian Internal Atas Penjualan Kredit. Hasil penelitian Rusady dan Abriandi (2016) menyatakan Sistem penjualan kredit pada perusahaan sudah baik. Hal ini bisa dilihat dari struktur organisasinya sudah jelas, sudah adanya pemisahan fungsi pada aktivitas penjualan kredit, setiap transaksi penjualan kredit dicatat dengan baik dan didokumentasikan dengan menggunakan dokumen-dokumen sebagai bukti dalam menjalankan aktivitas-aktivitas penjualan kredit, Sistem pengendalian internal atas penjualan kredit pada perusahaan sudah baik namun masih memiliki beberapa kekurangan. Hal ini bisa dilihat dari sisi organisasinya yaitu sudah melibatkan lebih dari satu fungsi dalam aktivitas penjualan kredit, sisi sistem otorisasi dan

prosedur pencatatan yaitu otorisasi sudah tepat dilaksanakan oleh orang yang berwenang dan prosedur pencatatan sudah dilaksanakan dengan baik oleh bagian yang berkaitan, sisi praktik yang sehat yaitu sudah menggunakan nomor urut tercetak pada dokumen, sudah ada pengujian ketelitian catatan biaya barang, dan sudah ada rekonsiliasi antara catatan pelunasan dengan rekening kontrol dalam buku besar, sisi karyawan yang mutunya sesuai tanggung jawabnya yaitu adanya training untuk karyawan baru, namun untuk karyawan lama tidak ada diberikan pengembangan pendidikan, Hasil kuesioner mengenai pengendalian internal atas penjualan kredit pada perusahaan sudah baik namun masih memiliki beberapa kekurangan, hal ini bisa dilihat dari : (a). Lingkungan pengendaliannya sudah baik, namun masih ada kekurangan yaitu tidak ada sanksi yang tegas pada kayawan yang melakukan pelanggaran dan tidak adanya pengembangan pendidikan untuk karyawan lama; (b). Penilaian risikonya sudah baik, namun masih ada kekurangan yaitu tidak ada memberlakukan syarat perbedaan pemberian batas kredit pada pelanggan baru dan pelanggan lama; (c). Aktivitas pengendaliannya sudah baik, namun masih ada kekurangan yaitu pengiriman barang tidak selalu dilakukan dengan tepat waktu; (d). Informasi dan komunikasinya sudah baik dan tidak memiliki kekurangan. Hal ini bisa dilihat dari keakuratan pada data pesanan pelanggan, catatan persediaan, laporan penjualan, laporan persediaan, dokumen pengiriman, dan dokumen penjualan; dan (e). Pemantauannya sudah baik dan tidak memiliki kekurangan. Hal ini bisa dilihat dari setiap pekerjaan karyawan penjualan kredit yang selalu disupervisi.

Lumempouw, dkk (2015) melakukan penelitian pada PT. Sinar Pure Foods International terkait tentang Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Terhadap Penjualan Kredit. Hasil penelitian Lumempouw, dkk (2015) menyatakan Unsur-unsur sistem pengendalian intern penjualan kredit pada PT. Sinar Pure Foods International Bitung cukup memadai, Pemisahan fungsi dan sistem otorisasi yang diterapkan mengurangi kemunngkinan terjadinya kesalahan atau kecurangan, Sistem otorisasi dokumen bukti transaksi penjualan kredit dilakukan oleh lebih dari satu fungsi memungkinkan terjadi pemeriksaan, sehingga diperoleh keyakinan memadai bahwa transaksi telah benar-benar lunas pembayarannya, Adanya auditor internal dan eksternal memungkinkan kesalahan atau kecurangan yang terjadi dapat segera diketahui.

Sari, dkk (2015) melakukan penelitian pada PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk terkait tentang Analisis Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Dan Sistem Akuntansi Penerimaan Kas Dari Piutang Dalam Upaya Meningkatkan Efektifitas Pengendalian Intern. Hasil penelitian Sari, dkk (2015) menyatakan Pada sistem akuntansi penjualan kredit, tidak terdapat perangkapan fungsi yang terkait; fungsi yang berwenang mengotorisasi dokumen yang digunakan; pencatatan transaksi telah dicatat secara lengkap, Kelemahan pada sistem ini ditunjukkan dengan belum adanya pencatatan pada kartu persediaan padahal kartu persediaan sangat diperlukan untuk mengawasi semen yang dipindah dari gudang semen ke tangan distributor serta untuk mengetahui persediaan semen yang ada di gudang-gudang semen; kegiatan penjualan kredit telah berjalan sesuai dengan

prosedur yang ada di perusahaan tersebut. Sedikit kelemahan yang terjadi membuat sistem akuntansi penjualan kredit dinilai masih kurang berjalan efektif, Pada pelaksanaan sistem akuntansi penerimaan kas (dari piutang), dokumen yang digunakan telah diotorisasi masing-masing oleh fungsi yang berwenang, dokumen yang digunakan untuk pencatatan transaksi telah dicatat secara lengkap sesuai kebutuhan perusahaan, kegiatan penerimaan kas (dari piutang) telah berjalan sesuai dengan prosedur perusahaan. Kelemahan yang membuat sistem akuntansi penerimaan kas (dari piutang) masih dinilai kurang efektif yaitu bagian penerimaan kas yang masih menjadi satu dengan bagian pembayaran, Penerapan pengendalian intern dengan memperhatikan beberapa unsurnya, pada umumnya sudah cukup baik, namun masih terdapat sedikit kelemahan yang salah satunya yaitu belum adanya surprised audit atau pemeriksaan mendadak pada perusahaan tersebut, serta sikap masih kurang disiplinnya pegawai pada PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk. Hal tersebut membuat tingkat efektifitas pengendalian intern pada perusahaan ini masih lemah.

Makaria, dkk (2015) melakukan penelitian pada PT. KASIN Malang terkait tentang Evaluasi Atas Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Dan Penerimaan Kas Sebagai Upaya Meningkatkan Pengendalian Intern. Hasil penelitian Makaria, dkk (2015) menyatakan Sistem Akuntansi penjualan dan penerimaan kas yang diterapkan oleh PT.Kasin Malang melibatkan beberapa bagian yaitu: bagian penjualan, bagian kasir, bagian gudang, bagian pengiriman, bagian penagihan, dan bagian akuntansi. Adapun formulir yang digunakan yaitu: order penjualan, surat

perintah pengiriman, faktur penjualan, rekapitulasi HPP, bukti transfer, dan bukti kas masuk. Catatan yang digunakan yaitu: jurnal penjualan, kartu piutang, kartu persediaan, kartu gudang, kartu piutang, jurnal penerimaan kas, dan jurnal umum. Penjualan yang dilakukan dilakukan PT.Kasin Malang yaitu melalui penjualan kredit. Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan pihak manajemen dalam meningkatkan perbaikan dan pengembangan perusahaan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Setelah memperoleh gambaran pelaksanaan sistem akuntansi penjualan dan penerimaan kas dalam meningkatkan pengendalian intern pada PT.Kasin Malang sudah baik hai itu dibuktikan dengan terdapat dokumen-dokumen yang digunakan di PT.Kasin Malang bernomor urut tercetak, pembayaran pelanggan dilaksanakan dengan tepat waktu tidak melebihi jatuh tempo, bagian akuntansi membantu mengontrol bagian gudang dalam mengawasi mutasi persediaan barang yang ada di gudang sehingga tidak merugikan perusahaan tetapi sistem penjualan kredit dan penerimaan kas di PT. Kasin masih mempunyai beberapa kelemahan karena terdapat beberapa dokumen yang dalam penggunannnya kurang efektif dan kesulitan dalam melakukan pemeriksaan dan penelusuran ke dokumen-dokumen. Pada bagian penjualan yang melakukan pemberian kredit. Sehingga, sangat memungkinkan terjadinya manipulasi pencatatan transaksi yang dapat merugikan perusahaan. Tidak adanya pemeriksa intern (pengecekan saldo) secara mendadak yang dilakukan oleh direktur utama.

Timuriana dan Risti Eni Nasution (2014) melakukan penelitian pada PT. Gaya Sastra Indah terkait tentang Pengaruh Pengendalian Piutang Usaha Dalam Meminimalkan Piutang Tak Tertagih. Hasil penelitian Timuriana dan Risti Eni Nasution (2014) menyatakan Sistematika penyajian dan prosedur Standar

Oprating Procedure Account Recevable pada PT Gaya Sastra Indah sudah

menunjukan adanya kesinambungan prosedur antara sub prosedur yang satu dengan yang lainnya, sehingga alur dokumen dapat terlihat jelas dimulai dari mana dan berakhir dimana serta bagiam mana saja yang bertanggung jawab, Dalam prosedur penjualan kredit pada PT Gaya Sastra tidak ada bagian kredit khusus yang meneliti status dari pelanggan yang lama maupun pelanggan baru. Karena dengan adanya bagian kredit ini dapat berfungsi untuk bertanggung jawab membuat kebijakan-kebijakan pemberian kredit yang memadai, Jangka waktu yang ditetapkan PT Gaya Sastra 60 hari. Namun, berdasarkan analisis ternyata jangka waktu yang diberikan sebelumnya adalah 60 hari tidaklah cukup. Masih banyak pelanggan yang melampaui batas waktu yang ditetapkan perusahaan, Pengendalian dan pengawasan piutang yang dilakukan oleh perusahaan kurang optimal, hal ini bisa dilihat dari meningkatnya piutang yang lewat jatuh tempo yang pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 27,92%. Dengan membandingkan jumlah piutang yang lewat jatuh tempo tahun 2009 mengalami kenaikan dibandingkan dengan total piutang lewat jatuh tempo tahun 2010 yaitu 95,04%. Dengan membandingkan jumlah piutang yang lewat jatuh tempo tahun 2010 mengalami kenaikan dibandingkan dengan total piutang lewat jatuh tempo

tahun 2011 yaitu 57,25%. Serta menurunya rata-rata periode pengumpulan piutang antara lain tahun 2008 sebanyak 23,51 kali, tahun 2009 sebanyak 12,54 kali, tahun 2010 sebanyak 9,85 kali dan 2011 sebanyak 9,11 kali yang berarti masih banyak pelanggan yang tidak memenuhi syarat pembayaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Rata-rata perputaran piutang kurang cepat hal ini mengakibatkan makin lama waktu terikatnya modal dalam piutang. Kondisi piutang selama empat tahun menunjukkan kondisi kurang baik, hal ini disebabkan karena piutang yang sudah jatuh tempo sebagian besar belum tertagih.

Tabel 2.1 Hasil Kajian Empiris

NO Peneliti Dan Tahun Penelitian

Tempat Penelitian

Permasalahan Hasl Penelitian

1 Novi Arie Kardiyanti, Ali Rasyidi, Siti Rosyafah (2017) PT. Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo Penerapan Pengendalian Intern Penjualan Kredit Dalam Upaya Meminimalisir Piutang Tidak Tertagih

Secara keseluruhan, prosedur pengendalian intern penjualan kredit pada PT. Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo belum berjalan memadai karena ada beberapa unsur yang belum diterapkan seperti masih adanya perangkapan fungsi penjualan dan penagihan, sehingga menyebabkan peluang terjadinya kecurangan cukup tinggi, Tidak adanya fungsi kredit khusus yang hanya menangani penjualan kredit diantaranya otorisasi pemberian dan penjualan kredit, Faktor-faktor penjualan kredit seperti penentuan standar, plafon, dan pemberian volume kredit pada PT. Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo belum diterapkan secara sempurna sehingga resiko piutang tidak tertagih masih relatif tinggi, Tidak adanya Staf pengawas intern diperlukan oleh PT.

Supralita Mandiri Cabang Sidoarjo untuk mengawasi proses berjalannya SOP. Staf Pengawas Intern Pusat diterjunkan ke cabang ketika masalah sudah dianggap parah, Belum adanya bagian surveyor untuk calon pelanggan yang akan mengajukan kredit, sehingga kurang mengetahui kondisi calon pelanggan tersebut. Dalam hal ini sales/salesman yang menawarkan kredit kurang begitu detail dalam menyeleksi calon pelanggan, dengan alasan agar dapat memenuhi target omset yang telah ditentukan.

2 Nia Amelia Rusady dan Abriandi (2016) PT. Astrido Toyota Analisis Sistem Pengendalian Internal Atas Penjualan Kredit

Sistem penjualan kredit pada perusahaan sudah baik. Hal ini bisa dilihat dari struktur organisasinya sudah jelas, sudah adanya pemisahan fungsi pada aktivitas penjualan kredit, setiap transaksi penjualan kredit dicatat dengan baik dan didokumentasikan dengan menggunakan dokumen-dokumen sebagai bukti dalam menjalankan aktivitas-aktivitas penjualan kredit, Sistem pengendalian internal atas penjualan kredit pada perusahaan sudah baik namun masih memiliki beberapa kekurangan. Hal ini bisa dilihat dari sisi organisasinya yaitu sudah melibatkan lebih dari satu fungsi dalam aktivitas penjualan kredit, sisi sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yaitu otorisasi sudah tepat dilaksanakan oleh orang yang berwenang dan prosedur pencatatan sudah dilaksanakan dengan baik oleh bagian yang berkaitan, sisi praktik yang sehat yaitu sudah menggunakan nomor urut tercetak pada dokumen, sudah ada pengujian ketelitian catatan biaya barang, dan sudah ada rekonsiliasi antara catatan pelunasan dengan rekening kontrol dalam buku besar, sisi karyawan yang mutunya sesuai tanggung jawabnya yaitu adanya training untuk karyawan baru, namun untuk karyawan lama tidak ada diberikan pengembangan pendidikan, Hasil

kuesioner mengenai pengendalian internal atas penjualan kredit pada perusahaan sudah baik namun masih memiliki beberapa kekurangan, hal ini bisa dilihat dari : (a). Lingkungan pengendaliannya sudah baik, namun masih ada kekurangan yaitu tidak ada sanksi yang tegas pada kayawan yang melakukan pelanggaran dan tidak adanya pengembangan pendidikan untuk karyawan lama; (b). Penilaian risikonya sudah baik, namun masih ada kekurangan yaitu tidak ada memberlakukan syarat perbedaan pemberian batas kredit pada pelanggan baru dan pelanggan lama; (c). Aktivitas pengendaliannya sudah baik, namun masih ada kekurangan yaitu pengiriman barang tidak selalu dilakukan dengan tepat waktu; (d). Informasi dan komunikasinya sudah baik dan tidak memiliki kekurangan. Hal ini bisa dilihat dari keakuratan pada data pesanan pelanggan, catatan persediaan, laporan penjualan, laporan persediaan, dokumen pengiriman, dan dokumen penjualan; dan (e). Pemantauannya sudah baik dan tidak memiliki kekurangan. Hal ini bisa dilihat dari setiap pekerjaan karyawan penjualan kredit yang selalu disupervisi. 3 Gerald Lumempouw, Ventje Ilat, AnnekeWang kar (2015) PT. Sinar Pure Foods Internationa l Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Terhadap Penjualan Kredit

Unsur-unsur sistem pengendalian intern penjualan kredit pada PT. Sinar Pure Foods International Bitung cukup memadai, Pemisahan fungsi dan sistem otorisasi yang diterapkan mengurangi kemunngkinan terjadinya kesalahan atau kecurangan, Sistem otorisasi dokumen bukti transaksi penjualan kredit dilakukan oleh lebih dari satu fungsi memungkinkan terjadi pemeriksaan, sehingga diperoleh keyakinan memadai bahwa transaksi telah benar-benar lunas pembayarannya, Adanya auditor internal dan eksternal memungkinkan kesalahan atau kecurangan

yang terjadi dapat segera diketahui. 4 Dewi Paramita Sari Siti Ragil Handayani DwiAtmanto (2015) PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk Analisis Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Dan Sistem Akuntansi Penerimaan Kas Dari Piutang Dalam Upaya Meningkatkan Efektifitas Pengendalian Intern

Pada sistem akuntansi penjualan kredit, tidak terdapat perangkapan fungsi yang terkait; fungsi yang berwenang mengotorisasi dokumen yang digunakan; pencatatan transaksi telah dicatat secara lengkap, Kelemahan pada sistem ini ditunjukkan dengan belum adanya pencatatan pada kartu persediaan padahal kartu persediaan sangat diperlukan untuk mengawasi semen yang dipindah dari gudang semen ke tangan distributor serta untuk mengetahui persediaan semen yang ada di gudang-gudang semen; kegiatan penjualan kredit telah berjalan sesuai dengan prosedur yang ada di perusahaan tersebut. Sedikit kelemahan yang terjadi membuat sistem akuntansi penjualan kredit dinilai masih kurang berjalan efektif, Pada pelaksanaan sistem akuntansi penerimaan kas (dari piutang), dokumen yang digunakan telah diotorisasi masing-masing oleh fungsi yang berwenang, dokumen yang digunakan untuk pencatatan transaksi telah dicatat secara lengkap sesuai kebutuhan perusahaan, kegiatan penerimaan kas (dari piutang) telah berjalan sesuai dengan prosedur perusahaan. Kelemahan yang membuat sistem akuntansi penerimaan kas (dari piutang) masih dinilai kurang efektif yaitu bagian penerimaan kas yang masih menjadi satu dengan bagian pembayaran, Penerapan pengendalian intern dengan memperhatikan beberapa unsurnya, pada umumnya sudah cukup baik, namun masih terdapat sedikit kelemahan yang salah satunya yaitu belum adanya surprised audit atau pemeriksaan mendadak pada perusahaan tersebut, serta sikap masih kurang disiplinnya pegawai pada PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk. Hal tersebut membuat tingkat efektifitas

pengendalian intern pada perusahaan ini masih lemah. 5 Beni Makaria Siti Ragil Handayani Dwi Atmanto (2015) PT. KASIN Malang Evaluasi Atas Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Dan Penerimaan Kas Sebagai Upaya Meningkatkan Pengendalian Intern

Sistem Akuntansi penjualan dan penerimaan kas yang diterapkan oleh PT.Kasin Malang melibatkan beberapa bagian yaitu: bagian penjualan, bagian kasir, bagian gudang, bagian pengiriman, bagian penagihan, dan bagian akuntansi. Adapun formulir yang digunakan yaitu: order penjualan, surat perintah pengiriman, faktur penjualan, rekapitulasi HPP, bukti transfer, dan bukti kas masuk. Catatan yang digunakan yaitu: jurnal penjualan, kartu piutang, kartu persediaan, kartu gudang, kartu piutang, jurnal penerimaan kas, dan jurnal umum. Penjualan yang dilakukan dilakukan PT.Kasin Malang yaitu melalui penjualan kredit. Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan pihak manajemen dalam meningkatkan perbaikan dan pengembangan perusahaan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Setelah memperoleh gambaran pelaksanaan sistem akuntansi penjualan dan penerimaan kas dalam meningkatkan pengendalian intern pada PT.Kasin Malang sudah baik hai itu dibuktikan dengan terdapat dokumen-dokumen yang digunakan di PT.Kasin Malang bernomor urut tercetak, pembayaran pelanggan dilaksanakan dengan tepat waktu tidak melebihi jatuh tempo, bagian akuntansi membantu mengontrol bagian gudang dalam mengawasi mutasi persediaan barang yang ada di gudang sehingga tidak merugikan perusahaan tetapi sistem penjualan kredit dan penerimaan kas di PT. Kasin masih mempunyai beberapa kelemahan karena terdapat beberapa dokumen yang dalam penggunannnya kurang efektif dan kesulitan dalam

melakukan pemeriksaan dan penelusuran ke dokumen-dokumen. Pada bagian penjualan yang melakukan pemberian kredit. Sehingga, sangat memungkinkan terjadinya manipulasi pencatatan transaksi yang dapat merugikan perusahaan. Tidak adanya pemeriksa intern (pengecekan saldo) secara mendadak yang dilakukan oleh direktur utama.

6 Timuriana dan Risti Eni Nasution (2014) PT. Gaya Sastra Indah Pengaruh Pengendalian Piutang Usaha Dalam Meminimalkan Piutang Tak Tertagih

Sistematika penyajian dan prosedur

Standar Oprating Procedure Account Recevable pada PT Gaya Sastra Indah

sudah menunjukan adanya kesinambungan prosedur antara sub prosedur yang satu dengan yang lainnya, sehingga alur dokumen dapat terlihat jelas dimulai dari mana dan berakhir dimana serta bagiam mana saja yang bertanggung jawab, Dalam prosedur penjualan kredit pada PT Gaya Sastra tidak ada bagian kredit khusus yang meneliti status dari pelanggan yang lama maupun pelanggan baru. Karena dengan adanya bagian kredit ini dapat berfungsi untuk bertanggung jawab membuat kebijakankebijakan pemberian kredit yang memadai, Jangka waktu yang ditetapkan PT Gaya Sastra 60 hari. Namun, berdasarkan analisis ternyata jangka waktu yang diberikan sebelumnya adalah 60 hari tidaklah cukup. Masih banyak pelanggan yang melampaui batas waktu yang ditetapkan perusahaan, Pengendalian dan pengawasan piutang yang dilakukan oleh perusahaan kurang optimal, hal ini bisa dilihat dari meningkatnya piutang yang lewat jatuh tempo yang pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 27,92%. Dengan membandingkan jumlah piutang yang lewat jatuh tempo tahun 2009 mengalami kenaikan dibandingkan dengan total piutang lewat jatuh tempo tahun 2010 yaitu 95,04%. Dengan membandingkan jumlah piutang yang lewat jatuh tempo

tahun 2010 mengalami kenaikan dibandingkan dengan total piutang lewat jatuh tempo tahun 2011 yaitu 57,25%. Serta menurunya rata-rata periode pengumpulan piutang antara lain tahun 2008 sebanyak 23,51 kali, tahun 2009 sebanyak 12,54 kali, tahun 2010 sebanyak 9,85 kali dan 2011 sebanyak 9,11 kali yang berarti masih banyak pelanggan yang tidak memenuhi syarat pembayaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Rata-rata perputaran piutang kurang cepat hal ini mengakibatkan makin lama waktu terikatnya modal dalam piutang. Kondisi piutang selama empat tahun menunjukkan kondisi kurang baik, hal ini disebabkan karena piutang yang sudah jatuh tempo sebagian besar belum tertagih.

Sumber : Berbagai kajian empiris yang diolah, 2018

Dokumen terkait