• Tidak ada hasil yang ditemukan

Shendy Dianastesi 1 , TitaRatya Utari 2

HASIL PENELITIAN

Tabel 9. Distribusi subjek menurut keparahan maloklusi pra dan pasca perawatan.

Skor Par Indek Maloklusi Pasca % Saat ini %

0 Ideal 2 8,33 2 8,33 1-16 Ringan 22 91,67 22 91,67 17-32 Sedang 0 0 0 0 33-48 Parah 0 0 0 0 >48 Sangat parah 0 0 0 0 Total 24 100 24 100

Data pasca perawatan dan kondisi perawatan saat ini menunjukan dari 2 sampel termasuk dalam kelompok ideal (8,33%) dan 22 sampel termasuk dalam kelompok maloklusi ringan (91,67%). Tidak ada sampel yang masuk pada kelompok malokusi sedang, parah, sangat parah.

Tabel 10. Skor PAR indeks katagori ringan menurut keparahan maloklusi pra dan pasca perawatan Skor Par Setelah lepas

bracket % Saat Penelitian % 0 2 8,3% 2 8,3% 1 0 0% 0 0%

Tabel di atas menunjukan skor PAR indeks tertinggi pada skor 3 terdapat 5 (20,83%) sampel dan terendah dengan skor 1, 9, 10, 13, 14, 15 dan 16 terdapat 0 (0%) sampel pada kondisi setelah lepas bracket, sedangkan pada kondisi saat penelitian skor PAR indeks tertinggi dengan skor 5 terdapat 4 (16,67%) sampel dan terendah skor 1, 10, 13, 14, 15 terdapat 0 (0%) sampel.

Tabel 11. Presentase selisih skor setelah lepas bracket dan skor kondisi saat ini

Tabel diatas menunjukan selisih skor 1 terdapat jumlah sampel 1 (4,17%), pada selisih skor 0 terdapat jumlah 6 sampel (25%), pada selisih skor -1 terdapat jumlah 4 sampel (16,67%), pada selisih skor -2 terdapat jumlah 4 sampel (16,67%), pada selisih skor -3 terdapat jumlah 6 sampel (25%), pada selisih skor -4 terdapat 1 jumlah sampel

4 4 16,67% 1 4,17% 5 1 4,17% 4 16,67% 6 2 8,3% 3 12,5% 7 1 4,17% 1 4,17% 8 4 16,67% 3 12,5% 9 0 0% 1 4,17% 10 0 0% 0 0% 11 1 4,17% 2 8,3% 12 1 4,17% 1 4,17% 13 0 0% 0 0% 14 0 0% 0 0% 15 0 0% 0 0% 16 0 0% 2 8,3% Selisih skor PAR

Jumlah sampel Presentase

1 1 4,17% 0 6 25% -1 4 16,67% -2 4 16,67% -3 6 25% -4 1 4,17% -5 2 8,33% Total seluruh sampel 24 100%

PEMBAHASAN

Hasil pengukuran menggunakan PAR indeks pada 24 cetakan gigi saat lepas bracket dan 24 cetakan saat penelitian, setelah diuji dengan menggunakan uji parametrik Paired Sampel T test diperoleh hasil yang menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara skor setelah lepas bracket dan skor saat penelitian. Perbedaan bermakna tersebut menunjukkan terjadinya peningkatan skor, yang berarti terjadi perubahan susunan gigi geligi (terjadi relaps). Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya relaps yaitu jika seuatu benda di kenai tekanan yang melebihi ambang keseimbangan maka benda tersebut akan bergerak keposisi yang lain, sebagai contoh gigi geligi berada pada sistem keseimbangan gaya dimana gigi terkena berbagai macam gaya (gaya mstikasi, penelanan dan bicara) yang berasal dari otot bibir, pipi, lidah namun gigi tidak bergerak ke posisi yang baru9. Jika gigi diberi gaya dari alat ortodontik maka gigi akan bergerak. Gaya ortodontik telah mengubah sistem keseimbangan sebelumnya. Jika alat ortodontik di lepas, maka keseimbangan gigi didalam rongga mulut akan berubah sehingga gigi akan bergerak, mencari posisi keseimbangan yang baru. Perawatan ortodontik yang dilakukan berpotensi untuk tidak stabil. Oleh karenanya di perlukan alat retensi. Berdasarkan banyaknya faktor yang dapat menyebabkan relaps pada gigi tampaknya diperlukan pemakaian alat retensi selama beberapa tahun sampai pertumbuhan dari seseorang selesai4-5.

Hasil penelitian pada 24 sampel menunjukkan skor saat lepas bracket dan skor saat penelitian yang berada di katagori ideal (0) terdapat 2 sampel dan dikatagori ringan (1-16) terdapat 22 sampel. Hal ini menunjukan terdapat 2 sampel yang kondisi gigi geligi masih tetap dalam keadaan baik, dan 22 sampel dalam kondisi tidak ideal namun masih

dikatagorikan ringan adalah maloklusi yang gigi geligi sedikit berjejal dan sering terjadi pada gigi depan mandibula3.

Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa prevalensi terjadinya relpas setelah perawatan ortodontik cekat sebesar 70,83%. Hasil penelitian ini menunjukan walaupun relaps terjadi namun perubahan yang terjadi masih dalam katagori ringan, hal ini bisa dikarenakan kepatuhan pasien dalam menggunakan retainer sesuai dengan pernyataan menyatakan bahwa retainer merupakan alat pasif ortodontik yang membantu dalam menangani dan menstabilisasi gigi dalam waktu yang lama untuk memberikan kesempatan reorganisasi struktur-struktur pendukung setelah tahap aktif dalam perawatan ortodontik9.

Indeks PAR merupakan indeks yang sering dibutuhkan sebagai acuan dalam menentukan kebutuhandan evaluasi hasil perawatan ortodontik. Selain itu indeks ini terbukti dapat mengukur terjadinya relaps dengan cara membandingkan cetakan gigi setelah lepas braket dengan cetakan gigi saat penelitian. Indeks PAR merupakan indeks yang memiliki kelebihan dibandingkan indeks yang lain karena memiliki validitas dan reliabilitas yang sudah teruji serta mempunyai keseragam dalam intepretasi dan kriteria yang diteliti, namun dalam penelitian ini peneliti merasa bahwa indeks ini memiliki kekurangan yaitu pada penilaian overjet yang tidak mudah7.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil yang di peroleh dari penelitian tentang prevalensi terjadinya relaps setelah perawatan dengan alat ortodontik cekat (evaluasi dengan meggunakan Peer Assessment Rating Index/PAR) maka dapat disimpulkan bahwa: terdapat perbedaan yang signifikan antara skor PAR setelah lepas bracket dan kondisi saat penelitian. Hal ini

sampel yang mengalami peningkatan skor pada pasien pasca perawatan ortodontik cekat namun skor PAR masih dalam katagori ringan.

SARAN

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam menilai prevalensi terjadinya relaps setalah perawatan ortodontik cekat dengan jumlah sampel yang lebih banyak.

2. Dilakukan penelitian lebih lanjut dengan penilaian dengan indeks lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Alawiyah, Tuti & Sianti, P, P.(2012). Retensi dalam Perawatan Ortodonti. Jakarta: FKG UPDM.

2. Bhalajhi, S, I. (2001). Otrhodontics: The art and science, (4th ed). Edinburgh: Mosby.

3. Dika D, D., Hamid T., & Sylvia M. (2011). Penggunaan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) Sebagai Evaluasi Hasil Perawatan dengan Peranti Lepasan.

Orthodontic Dental Journal, 2(1). 45-48.

4. Little RM. Stability and Relapse : Early treatment of arch legth deficiency. Am J

Orthod Dentofac Orthop 2002;121:578-581.

5. Nanda RS, Nanda SK. Consideration of dentofacial growth in long term retention and stability:Is active retention needed? Am Orthod Dentofac Orthop 1992;101: 297-302.

6. Richmond S, Shaw WC. The PAR index (Peer Assessment Rating): methods to determine outcome of orthodontic treatment in terms of improvement and standards. Eur J Orthod 1992;14:180-187.

7. Sarah, S. P., 2005, Effect of early treatment on stability of occlusion in patients with

9. Profit, WR. Contemporary Orthodontics. 3rd ed. St.Louis. Mosby, 2000:128-141.

10. Yami, Al. Kuijpers-Jagtman, van Hof. (1999). Stability of Orthodontic Treatment

Outcome: Follow-Up until 10 Years Postretention[Abstrak]. Am J Orthod

Dentofacial Orthop, 115: 300–304.

11. Yohana, Winny. (2009). Perawatan Ortodontik pada Geligi Campuran. Bandung: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran.

Dokumen terkait