Penelitian ini dilakukan terhadap 275 mahasiswa pendidikan profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi tentang kontrol infeksi pada instalasi radiologi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 1. Tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi secara individu tentang kontrol infeksi pada instalasi radiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 2.
Mahasiswa pendidikan profesi menjawab dengan benar pada pengetahuan mengenai kontak transmisi COVID-19 sebesar 90,91%, cairan kumur pasien sebesar 98,18%, APD radiografi intraoral sebesar 63,64%, APD radiografi ekstraoral sebesar 73,45%, APD level II sebesar 76,36%, APD level III sebesar 96,36%, jarak aman radiografer sebesar 62,91%, desinfektan permukaan alat dan panel sebesar 77,45%, bahan pembungkus reseptor sebesar 78,91% dan desinfektan untuk reseptor sebesar 45,82%.
Tabel 1. Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi tentang kontrol infeksi pada instalasi radiologi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara n = 275
No Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai kontrol infeksi
23
8 Desinfektan untuk permukaan alat dan panel
213 77,45 62 22,55
9 Bahan pembungkus reseptor 217 78,91 58 21,09
10 Desinfektan untuk reseptor 126 45,82 149 54,18
Tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi secara individu dikategorikan berdasarkan nilai total persentase. Tingkat pengetahuan baik sebesar 52,73%, tingkat pengetahuan cukup sebesar 42,18% dan tingkat pengetahuan kurang sebesar 5,09%.
Tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi secara individu dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi secara individu tentang kontrol infeksi pada instalasi radiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
No Kategori tingkat pengetahuan
Skor Mahasiswa Pendidikan Profesi Nilai total Persentase
(%) N Persentase
(%)
1. Baik 8-10 76%-100% 145 52,73
2. Cukup 6-7 56%-75% 116 42,18
3. Kurang 0-5 <56% 14 5,09
Total 275 100
24
BAB 5 PEMBAHASAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan sampel mahasiswa pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Data diperoleh dengan cara penyebaran kuesioner menggunakan google form. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara mengenai kontrol infeksi di instalasi radiologi kedokteran gigi saat pandemi COVID-19.
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai jalur transmisi COVID-19 adalah melalui droplet dan aerosol mendapatkan hasil sebesar 90,91% mengetahuinya.
Sebagian besar mahasiswa dapat menjawab benar kemungkinan karena mendapatkan informasi melalui media dan jurnal mengenai cara penyebaran virus COVID-19. Hal ini sesuai dengan penelitian Esakandri et al. yaitu transmisi COVID-19 dari manusia ke manusia terjadi lewat droplet dan aerosol. Kontak langsung terjadi apabila virus masuk ke tubuh melalui sekresi saluran pernafasan. Radiografer dan tenaga medis lainnya harus berdiri di garis depan pandemi dan menangani pasien COVID-19, mereka juga yang paling sering terekspos dengan COVID-19 dan menjadi yang paling rentan terinfeksi.15
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai cairan kumur pasien adalah povidone iodine 0,2% mendapatkan hasil sebesar 98,18% mengetahuinya. Hal ini sesuai dengan rekomendasi dari pengurus besar persatuan dokter gigi Indonesia bahwa penggunaan povidone iodine 0,2% digunakan untuk tindakan praprosedural pada masa new normal. SARS-CoV dan MERSCoV sangat rentan terhadap povidone iodine, maka penggunaan povidone iodine 0,2% dalam bentuk obat kumur bagi pasien sangat dianjurkan.24
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai penggunaan APD untuk melakukan radiografi intraoral adalah APD level 2 didapatkan hasil sebesar 63,64%
mengetahuinya dan radiografi ekstraoral adalah APD level 3 didapatkan hasil sebesar 73.74% mengetahuinya. Hal ini sesuai dengan penelitian Manuel yang
menyatakan bahwa penggunaan APD yang disarankan pada pemeriksaan radiografi ekstraoral adalah level 2 dan pada pemeriksaan radiografi intraoral adalah level 3.
Petugas pada resepsionis, dapat menggunakan APD level 1. Seluruh petugas medis diharapkan tetap memperhatikan lima momen cuci tangan dan enam langkah dalam mencuci tangan sesuai petunjuk WHO.20
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai kelengkapan APD level 2 didapatkan hasil sebesar 76,36% mengetahuinya dan APD level 3 didapatkan hasil sebesar 96,36% mengetahuinya. Hal ini terjadi akibat kurangnya pengetahuan mahasiswa mengenai spesifikasi APD yang berlaku secara resmi di Indonesia, mahasiswa sebagian besar merujuk pasien untuk melakukan radiografi intraoral dimana radiografer menggunakan APD level 3. Hal lain kemungkinan karena mahasiswa belum pernah merujuk pasien untuk dilakukan radiografi ekstraoral saat pandemi COVID-19 sehingga tidak mengetahui jenis APD yang dipakai saat melakukan radiografi ekstraoral adalah APD level 3. Ding J et al. menyatakan bahwa APD level 2 terdiri dari topi, kacamata pelindung, masker pelindung medis, pakaian pelindung atau gaun isolasi, sarung tangan lateks sekali pakai dan penutup sepatu sekali pakai. APD level 3 terdiri dari topi, masker pelindung medis, pelindung wajah, pakaian pelindung medis, sarung tangan lateks sekali pakai dan penutup sepatu sekali pakai.19
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai jarak aman antara radiografer dan pasien saat melakukan teknik radiografi adalah 1 meter didapatkan hasil sebesar 62,91% mengetahuinya. Hal ini dapat terjadi karena mahasiswa tidak memperhatikan saat dilakukan radiografi karena berada di luar instalasi radiologi. Pedoman yang dikeluarkan oleh Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) pada masa pandemi menyatakan bahwa petugas kesehatan pada skrining awal dan tidak kontak dengan pasien, wajib menjaga jarak satu meter dengan pasien, menggunakan masker bedah, sarung tangan dan face shield.21
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai desinfektan yang digunakan untuk mendesinfeksi permukaan alat dan panel pengaturan pesawat radiografi adalah alkohol 70% didapatkan hasil sebesar 77,45% mengetahuinya. Hal ini kemungkinan karena desinfektan yang digunakan untuk sebagian besar peralatan di kedokteran gigi
adalah alkohol 70%. Novo M dkk. menyatakan peralatan non-kritis merupakan peralatan yang hanya berkontak dengan kulit pasien dan disinfeksi peralatan ini dapat menggunakan air sabun atau alkohol 70%.27
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai bahan yang digunakan untuk membungkus film atau reseptor adalah plastik didapatkan hasil sebesar 78,91%
mengetahuinya. Hal ini kemungkinan karena mahasiswa melihat proses radiografi pada pasien dan ketika radiografer membungkus film rontgen menggunakan plastik. Novo M dkk. menyatakan bagian pesawat X-ray yang berkontak dengan pasien, disarankan untuk dilakukan pembungkusan dengan plastik dan didisinfeksi permukaan setiap sebelum dan sesudah pemeriksaan radiografi dan tetap dilakukan disinfeksi permukaan dengan alkohol selepas barrier plastik dilepas.27
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi mengenai bahan desinfektan yang digunakan untuk mendesinfeksi reseptor adalah H2O2 didapatkan hasil sebesar 45,82%
mengetahuinya. Hal ini kemungkinan karena mahasiswa tidak pernah melakukan desinfeksi dan tidak pernah menerima informasi mengenai bahan desinfektan untuk reseptor. DoriguĂȘtto PVT et al. menyatakan bahwa peralatan semi-kritis merupakan peralatan yang berkontak dengan kulit dan mukosa mulut pasien, seperti reseptor (film dan digital) dan alat XCP (X-ray Cone Paralelling). Disinfeksi peralatan ini dapat menggunakan Glutaraldehide atau Hidrogen Peroxide (H2O2).25
Pengetahuan mahasiswa pendidikan profesi secara individu dikategorikan tingkat pengetahuan baik sebesar 52,73%, tingkat pengetahuan cukup sebesar 42,18% dan tingkat pengetahuan kurang sebesar 5,09%. Berdasarkan hasil penelitian paling banyak mahasiswa pendidikan profesi memiliki tingkat pengetahuan yang baik, hampir separuh memiliki pengetahuan cukup namun sebagian kecil memiliki pengetahuan kurang. Hal ini kemungkinan karena mahasiswa pendidikan profesi selama pandemi COVID-19 tidak banyak melakukan radiografi di instalasi radiologi kedokteran gigi, disebabkan minimal requirement ada yang dialihkan ke phantom. Prosedur kontrol infeksi pada pasien berbeda dengan prosedur kontrol infeksi pada phantom.
BAB 6