mendiskusikan informasi yang disajikan berdasarkan perlakuan setiap grup dalam ruangan kelas. Selama proses diskusi partisipan diberikan waktu tiga menit agar ketika berdiskusi dalam kelompok partisipan fokus untuk berdiskusi mengenai profil klien dan meminimalkan potensi pembicaraan mengenai hal-hal yang keluar dalam konteks profil klien. Kemudian pemandu eksperimen memberikan waktu untuk partisipan memberikan penilaian audit judgment sesuai dengan keputusan akhir setiap individu setelah diskusi mengenai informasi klien. Diskusi dilakukan agar partisipan diharapkan dapat memitigasi terjadinya proses bias mengenai informasi yang disajikan berdasarkan efek halo positf melalui perlakuan visual dan non-visual serta efek halo negatif yang dapat memberikan dampak terhadap revisi keyakinan setelah berdiskusi melalui perlakuan visual dan non-visual. Setelah penugasan audit selesai maka dilakukan debriefing yaitu dengan tujuan untuk memastikan bahwa partisipan tidak terbawa pada situasi manipulasi terhadap objek restaurant siap saji yang diteliti setelah mengikuti proses eksperimen. Ketika selesai melakukan eksperimen peneliti mengumpulkan modul yang sudah dikerjakan yang kemudian untuk siap diuji oleh peneliti.
HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Penelitian Partisipan (Subjek Penelitian)
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. Subjek penelitian merupakan mahasiswa S-1 jurusan Akuntansi. Data penelitian diperoleh dengan melakukan eksperimen simulasi audit kepada mahasiswa yang sedang mengambil kelas mata kuliah Laboratorium Pengauditan. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan cek manipulasi berdasarkan pertanyaan dalam setiap penyajian informasi klien dalam simulasi audit.
Karakteristik mengenai informasi subjek partisipan di tunjukan pada tabel 2 yang menunjukkan informasi bahwa partisipan pria lebih kecil dengan jumlah
sebanyak 20 orang (33,33%) dibandingkan partisipan wanita yang berjumlah 40 orang (66,67%)
Tabel 2 Informasi Partisipan
Keterangan Total Persentase Jenis Kelamin: Pria 20 33,33% Wanita 40 66,67% Umur: 20 20 33,33% 21 29 48,33% 22 6 10% ≥ 23 5 8,33%
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):
2 0 0,00%
2,01-2,99 31 51,67% 3,00-3,49 19 31,67% ≥3,5 10 16,67% Sumber :Data Primer Diolah, 2015
Informasi mengenai partisipan masing-masing memiliki rata-rata umur 20 tahun sebanyak 20 orang (33,33%), umur 21 tahun sebanyak 29 orang (48,33%), umur 22 tahun sebanyak 6 orang (10%) dan ≥ 23 tahun sebanyak 5 orang (8,33%). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tidak terdapat partisipan yang memiliki IPK 2 sebanyak 0 (0%) dan mayoritas partisipan memiliki IPK dalam range 2,01-2,99 sebanyak 31 orang (51,67%).
Manipulation Check
Pengujian manipulation check (cek manipulasi) dalam efek halo negatif maupun positif terhadap informasi yang disajikan melalui visual dan non-visual memiliki rata-rata teoritis sebesar 55, menunjukkan bahwa partisipan dalam kondisi terkena kesan efek halo positif akan memberikan audit judgment lebih dari 55, sedangkan partisipan yang terkena kesan efek halo negatif akan memberikan audit judgment kurang dari 55. Berdasarkan pengujian cek
manipulasi yang dilakukan terdapat sebanyak 60 partisipan yang lolos untuk diuji dari keseluruhan total 107 yang lolos dari cek manipulasi.
Hasil dari pengujian cek manipulasi (tabel 4 manipulation check setiap perlakuan) menunjukkan bahwa efek halo negatif yang disajikan dalam bentuk non-visual dengan fakta range 10-70 memiliki rata 37,33 kurang dari rata-rata teoritis sebesar 55. Sedangkan penyajian dalam bentuk non-visual dengan efek halo positif dengan fakta range 70-100 memiliki rata-rata 88 lebih besar dari rata-rata teoritis sebesar 55. Dalam perlakuan efek halo negatif yang disajikan dalam bentuk visual memiliki fakta range 10-50 memiliki rata-rata 31,25 lebih kecil dari rata-rata teoritis sebesar 55. Sebaliknya efek halo positif yang disajikan dalam bentuk visual memiliki fakta range 70-100 memiliki rata-rata 80,67 lebih besar dari rata-rata teoritis 55. Berdasarkan hasil yang didapat dari cek manipulasi menyimpulkan bahwa seluruh partisipan telah menerima treatment manipulation yang sesuai dengan efek halo positf dan negatif dalam bentuk visual maupun non-visual. Dengan demikian pengujian data selanjutnya dapat dilanjutkan dengan pengujian data selanjutnya.
Tabel 3
Manipulation Check setiap Perlakuan
Variabel Teoritis Fakta
Range Mean Range Mean
Non Visual
Efek Halo Negatif 10-100 55 10-70 37,33 Positif 10-100 55 70-100 88 Visual
Efek Halo Negatif 10-100 55 10-50 31,25 Positif 10-100 55 70-100 80,67
Pengujian Randomisasi
Peneliti menguji efektivitas randomisasi demografi karakteristik partisipan (gender, indeks prestasi kumulatif, dan umur) dengan melakukan uji one way
anova (Tabel 2) sebelum pengujian cek manipulasi.
Berdasarkan hasil uji one way anova memperlihatkan bahwa ketiga indikator (Tabel 3) memiliki tingkat signifikan (Sig) yang lebih besar dibandingkan alpha 5% (0,05). Hasil pengujian one way anova menunjukkan bahwa ketiga indikator (gender, indeks prestasi kumulatif maupun umur mahasiswa) tidak memiliki pengaruh dalam menetukan audit judgment, gender dan indeks prestasi kumulatif maupun umur mahasiswa.
Pengujian Hipotesis
Uji Hipotesis 1a & 2a
Hipotesis 1a menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara audit
judgment yang dibuat secara individual dengan audit judgment yang dilakukan
secara berkelompok berdasarkan penyajian informasi klien melalui bentuk non-visual dan memiliki efek halo negatif. Pengujian paired samples t-test dengan
Tabel 4
Hasil Uji One Way Anova
Mean Square Sig Keterangan Jenis Kelamin:
Between Groups 7,5 0,757 Tidak Bepengaruh
Within Groups 77,888
Usia:
Between Groups 120 0,197 Tidak Bepengaruh
Within Groups 74,375
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):
Between Groups 47,254 0,548 Tidak Bepengaruh
membandingkan antara audit judgment individu yang dibuat sebelum diskusi dengan sesudah diskusi.
Tabel 5 Hasil Pengujian 1 a
Penyajian Informasi Profil Klien dengan Efek Halo Negatif dalam Bentuk Non-Visual
N Mean
Std
Deviation t Sig. (2-tailed)
Audit Judgment
Individu sebelum diskusi 15 67,33 7,037 2,553 0,023 setelah diskusi 15 61,33 10,601
Berdasarkan hasil pengujian statistik (tabel 5 hasil pengujian hipotesis 1a) menginterpretasikan terjadinya perbedaan rata-rata audit judgment dengan tingkat signifikan sebesar 0,023 lebih kecil dibandingkan dengan alpha sebesar 0,05 (5%). Menunjukkan bahwa hasil rata-rata penilaian informasi klien atas audit
judgment yang dibuat individu sebelum diskusi adalah 67,33 dan rata-rata
penilaian informasi klien atas audit judgment setelah diskusi adalah 61,33. Individu memiliki rata-rata audit judgment lebih besar sebesar 67,33 dari pada rata-rata teorits sebesar 55. Hal ini menunjukkan bahwa individu hampir mampu memahami informasi klien secara keseluruhan akan tetapi individu masih memiliki representasi mental mengenai informasi awal klien yang negatif sehingga informasi awal klien negatif dijadikan bahan pertimbangan ketika berdiskusi dalam kelompok. Hal ini terlihat dengan adanya pergesaran rata-rata
audit judgment individu sebelum diskusi sebesar 67,33 berubah setelah berdiskusi
dalam kelompok menjadi 61,33 lebih mendekati rata-rata teorits sebesar 55. Hasil pengujian tersebut memberikan keterangan bahwa kesan halo negatif klien telah dipetimbangkan ketika berdiskusi dengan kelompok dan memberikan dampak bias terhadap informasi klien secara keseluruhan. Bias akibat efek halo negatif mengakibatkan auditor menentukan resiko salah saji material tinggi
terhadap klien secara menyeluruh berdasarkan informasi awal klien. Hal ini merupakan efek halo yang berkaitan dengan efek primasi yang dapat dijelaskan dalam belief adjustment theory. Informasi awal klien yang negatif dijadikan sebagai nilai awal untuk dipertimbangan sehingga dengan adanya pertimbangan pada informasi awal maka seorang auditor menjadikan informasi awal sebagai bobot untuk menghasilkan keputusan audit judgment akhir yang merupakan
anchoring. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Hogarth dan Einron (1992)
serta Grcic (2008) yang mengkonfirmasi bahwa auditor akan cenderung memberikan bobot pada informasi awal yang negatif yang disebut efek primasi. Hasil penelitian ini juga mengkonfirmasi bahwa ketika individu berdiskusi dalam kelompok individu merevisi keyakinan (audit judgment) berdasarkan kesan efek halo negatif klien bukan secara keseluruhan.
Dengan demikian hipotesis 2a mengenai proses diskusi tidak dapat menurunkan (memitigasi) pengaruh efek halo negatif pada informasi dalam bentuk non-visual terhadap audit judgment diterima. Hal ini terbukti bahwa rata-rata audit judgment individu (67,33) terjadi pergeseran rata-rata-rata-rata audit judgment menjadi sebesar (61,33). Dengan demikian efek halo negatif memberikan dampak untuk mempengaruhi pergeseran keputusan individu ke dalam keputusan kelompok yang disebabkan oleh efek halo negatif. Penelitian ini memiliki hasil yang sama dengan Haryanto (2012) yang menjelaskan bahwa informasi (framing) negatif memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap audit judgment kelompok dari pada audit judgment individu dan penelitan Utami dan Wijono (2014) yang menjelaskan subjek dengan informasi profil yang tidak meyakinkan akan menentukan risiko salah saji yang lebih tinggi.
Uji Hipotesis 1b & 2a
Hipotesis 1b menunjukkan terdapat perbedaan antara audit judgment yang dibuat secara individual dengan audit judgment yang dilakukan secara berkelompok berdasarkan penyajian informasi klien melalui bentuk visual dan memiliki efek halo negatif. Pengujian paired samples t-test dengan
membandingkan antara audit judgment yang ditentukan secara individu sebelum diskusi dengan setelah berdiskusi dalam kelompok.
Berdasarkan hasil pengujian statistik (tabel 6 hasil pengujian hipotesis 1b) menginterpretasikan terjadinya perbedaan audit judgment dengan tingkat signifikan sebesar 0,001 lebih kecil dibandingkan dengan alpha sebesar 0,05 (5%). Terlihat bahwa hasil rata-rata penilaian informasi klien atas audit judgment individu sebelum diskusi adalah 63,33 dan rata-rata penilaian informasi klien atas
audit judgment setelah berdiskusi dalam kelompok adalah 52,67. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa individu hampir mampu memahami informasi klien secara keseluruhan akan tetapi individu masih memiliki representasi mental mengenai informasi awal klien yang negatif sehingga informasi awal klien dijadikan bahan pertimbangan terlihat dalam audit judgment setelah diskusi. Informasi klien secara menyeluruh menjadi bias disebabkan ketika individu berinteraksi dalam kelompok, antar individu berdiskusi untuk merevisi keyakinan mengenai kesan awal klien yang negatif menjadi menyeluruh dan memberikan penilaian akhir (anchor). Bias semakin tinggi dan membentuk representasi mental mengenai informasi awal klien yang negatif dalam diskusi. Bias mengakibatkan auditor menentukan resiko salah saji material tinggi mengenai informasi awal klien negatif.
Tabel 6
Hasil Pengujian Hipotesis 1 b
Penyajian Informasi Profil Klien dengan Efek Halo Negatif dalam Bentuk Visual
N Mean Std Deviation t Sig. (2-tailed)
Audit Judgment
Individu sebelum diskusi 15 63,33 8,997 4,298 0,001 setelah diskusi 15 52,67 12,799
Analisis Suplemen
Bias dalam kelompok terlihat lebih tinggi apabila informasi disajikan secara video. Dengan adanya selisih pergesaran rata-rata audit judgment (tabel 7 rata-rata audit judgment) sebelum dan setelah diskusi dengan penyajian informasi awal klien yang negatif dalam bentuk visual (video) memiliki selisih lebih besar 10,66 (63,33-52,67) dibandingkan rata-rata audit judgment sebelum dan setelah diskusi dengan penyajian informasi awal negatif melalui bentuk non-visual (narasi) sebesar 6 (10,66-6).
Tabel 7
Rata-rata Audit Judgment
Informasi Audit Judgment Non Visual Visual Negatif Individu sebelum diskusi 67,33 63,33
setelah diskusi 61,33 52,67
Dengan adanya perbedaan rata-rata audit judgment secara narasi dibandingkan video menerangkan bahwa auditor lebih merekam dalam memori mengenai informasi yang memiliki efek halo negatif. Penelitian ini sejalan dengan Ricchuite (1984) yang menunjukkan bahwa penyampaian informasi dengan modus persentasi memiliki dampak daya tangkap dalam memori lebih tinggi dan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan audit. Informasi presentasi dalam bentuk visual mengakibatkan individu lebih merekam dalam ingatan mengenai kesan awal (efek halo) yang negatif semakin tinggi dan informasi yang disajikan menjadi bias. Hal ini merupakan efek halo yang berkaitan dengan efek primasi yang dapat dijelaskan dalam belief adjustment theory. Informasi awal klien yang negatif dijadikan sebagai nilai awal untuk dipertimbangan sehingga dengan adanya pertimbangan pada informasi awal maka seorang auditor menjadikan informasi awal sebagai bobot untuk menghasilkan keputusan audit judgment akhir yang merupakan anchoring.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hogarth dan Einron (1992) serta Grcic (2008) yang menjelaskan bahwa auditor akan cenderung memberikan bobot penilaian pada informasi awal yang negatif yang disebut efek primasi. Hasil penelitian ini juga mengkonfirmasi bahwa ketika individu berdiskusi dalam kelompok individu merevisi keyakinan (audit judgment) berdasarkan kesan efek halo negatif klien bukan secara keseluruhan. Dengan demikian hipotesis 2a mengenai proses diskusi kelompok tidak dapat menurunkan (memitigasi) pengaruh efek halo negatif pada informasi dalam bentuk visual terhadap audit
judgment diterima. Hal ini terbukti bahwa rata-rata audit judgment individu
(63,33) terjadi pergeseran rata-rata audit judgment menjadi sebesar (52,67). Penelitian ini memiliki hasil yang sama dengan penelitian Haryanto (2012) yang menjelaskan bahwa informasi (framing) negatif memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap audit judgment kelompok dari pada audit judgment individu dan penelitan Utami dan Wijono (2014) yang menjelaskan subjek dengan informasi profil yang tidak meyakinkan akan menentukan risiko salah saji yang lebih tinggi.
Uji Hipotesis 1c & 2b
Hipotesis 1c menunjukkan terdapat perbedaan antara audit judgment yang dibuat secara individual dengan audit judgment yang dilakukan secara berkelompok berdasarkan penyajian informasi klien melalui bentuk non-visual dan memiliki efek halo positif. Pengujian paired samples t-test dengan membandingkan antara audit judgment yang ditentukan secara individu sebelum diskusi dengan setelah berdiskusi dalam kelompok. Berdasarkan hasil pengujian statistik (tabel 8 hasil pengujian hipotesis 1c) menginterpretasikan terjadinya perbedaan audit judgment dengan tingkat signifikan sebesar 0,004 lebih kecil dibandingkan dengan alpha sebesar 0,05 (5%).
Tabel 8
Hasil Pengujian Hipotesis 1 c
Penyajian Informasi Profil Klien dengan Efek Halo Positif dalam Bentuk Non-Visual
N Mean
Std
Deviation t Sig. (2-tailed)
Audit Judgment
Individu sebelum diskusi 15 70 5,345 3,389 0,004 setelah diskusi 15 61,33 11,872
Perbedaan terlihat dengan hasil rata-rata penilaian informasi klien atas
audit judgment sebelum diskusi adalah 70 berbeda dengan rata-rata penilaian
informasi klien atas audit judgment setelah berdiskusi dalam kelompok adalah 61,33. Individu sebelum diskusi memiliki rata-rata audit judgment lebih besar sebesar 70 dari pada rata-rata teoritis sebesar 55. Hal ini menunjukkan bahwa individu terkena bias yang tinggi dan memiliki representasi mental mengenai kesan informasi awal klien yang positif sebelum diskusi yang merupakan bias yang disebabkan oleh efek halo yang berkaitan dengan efek primasi yang dapat dijelaskan dalam belief adjustment theory. Informasi awal klien yang positif dijadikan sebagai bobot nilai awal untuk menghasilkan keputusan audit judgment akhir yang merupakan anchoring.
Bias mengakibatkan individu menentukan salah saji resiko material rendah mengenai informasi klien secara menyeluruh karena informasi awal klien positif. Menilai resiko salah saji material rendah pada klien yang memberikan kesan informasi awal (efek halo) positif sejalan dengan penelitian Hogarth dan Einron (1992) serta Grcic (2008). Penilaian audit judgment yang ditentukan secara individu berbeda hasilnya setelah individu berdiskusi dalam kelompok, hal ini disebabkan diskusi memberikan pengaruh kepada setiap individu berinteraksi dan mempertimbangkan mengenai informasi klien secara menyeluruh. Hal ini terlihat dengan adanya pergesaran selisih rata-rata audit judgment individu sebelum
diskusi sebesar 70 berubah setelah berdiskusi dalam kelompok menjadi sebesar 61,33.
Hasil pengujian tersebut menjelaskan bahwa efek halo positif tidak dalam petimbangan untuk dijadikan penentuan audit judgment. Dengan demikian hipotesis 2b mengenai proses diskusi kelompok dapat menurunkan (memitigasi) pengaruh efek halo positif pada informasi dalam bentuk non-visual terhadap audit
judgment diterima. Hal ini disebabkan ketika individu saling berinteraksi untuk
mendiskusikan mengenai informasi klien secara menyeluruh maka dampak bias yang disebabkan oleh efek halo positif klien menjadi menurun dan tidak dijadikan pertimbangan dalam menentukan audit judgment. Proses diskusi dalam kelompok, memberikan pengaruh yang lebih besar dalam memperbaruhi keyakinan mengenai kesan informasi awal (efek halo) positif pada informasi klien secara keseluruhan dan memberikan pengaruh untuk mengabungkan pendapat untuk menetukan audit
judgment yang berkualitas.
Penelitian ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian Theresia (2014) yang mengkonfirmasi bahwa hasil diskusi kelompok dapat memitigasi pengaruh efek resensi. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Martell dan Leavitt (2002) yang mengkonfirmasi bahwa penggunaan aktivitas grup untuk meningkatkan keakuratan rating dan mengurangi bias serta penelitian yang dilakukan Lee, Ross, & Little (2012) menunjukkan bahwa penilaian probabilitas individu menjadi lebih akurat dan kesalahan penilaian terbukti sangat berkurang.
Uji Hipotesis 1d & 2b
Hipotesis 1d menunjukkan terdapat perbedaan antara audit judgment yang dibuat secara individual dengan audit judgment yang dilakukan secara berkelompok berdasarkan penyajian informasi klien melalui bentuk visual dan memiliki efek halo positif. Melakukan pengujian paired samples t-test dengan membandingkan antara audit judgment yang ditentukan secara individu sebelum
diskusi dengan setelah berdiskusi dalam kelompok. Berdasarkan hasil pengujian statistik (tabel 9 hasil pengujian hipotesis 1d) menginterpretasikan terjadinya perbedaan audit judgment dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan dengan alpha sebesar 0,05 (5%).
Perbedaan terlihat dengan hasil rata-rata penilaian informasi klien atas
audit judgment individu sebelum diskusi adalah 69,33 berbeda dengan rata-rata
penilaian informasi klien atas audit judgment setelah berdiskusi dalam kelompok adalah 53,33. Hal ini menunjukkan bahwa individu terkena bias yang tinggi dan memiliki representasi mental mengenai kesan informasi awal klien yang positif yang disajikan secara visual sebelum diskusi yang merupakan bias yang disebabkan oleh efek halo yang berkaitan dengan efek primasi yang dapat dijelaskan dalam belief adjustment theory. Informasi awal klien yang positif dijadikan sebagai bobot nilai awal untuk menghasilkan keputusan audit judgment akhir yang merupakan anchoring.
Bias mengakibatkan auditor menentukan salah saji resiko material rendah pada informasi klien secara menyeluruh karena informasi awal klien positif. Penilaian resiko salah saji material rendah pada klien yang memberikan kesan awal positif sejalan dengan penelitian Hogarth dan Einron (1992) serta Grcic (2008). Penilaian audit judgment yang ditentukan secara individu berbeda
Tabel 9
Hasil Pengujian Hipotesis 1 d
Penyajian Informasi Profil Klien dengan Efek Halo Positif dalam Bentuk Non-Visual
N Mean
Std
Deviation t Sig. (2-tailed)
Audit Judgment
Individu sebelum diskusi 15 69,33 11,629 4,773 0,000 setelah diskusi 15 53,33 11,751
hasilnya setelah individu berdiskusi dalam kelompok, hal ini disebabkan diskusi memberikan pengaruh kepada setiap individu untuk berinteraksi dan mempertimbangkan mengenai informasi klien secara menyeluruh, terbukti dengan adanya pergesaran rata-rata audit judgment sebelum diskusi (individu) sebesar 69,33 dan setelah diskusi menjadi sebesar 53,33.
Analisis Suplemen
Penyajian informasi dalam bentuk visual (video) memberikan pergeseran
audit judgment sebelum dan setelah diskusi lebih tinggi sebesar 16 (69,33-53,33)
dibandingan audit judgment sebelum dan setelah diskusi ketika informasi disajikan dalam bentuk non-visual (narasi) yang hanya bergeser sebesar 8,67 (70-61,33) dalam tabel 10 rata-rata audit judgment.
Dengan adanya perbedaan rata-rata audit judgment secara narasi dibandingkan video menerangkan bahwa auditor lebih merekam dalam memori mengenai informasi yang memiliki efek halo positif. Penelitian ini sejalan dengan Ricchuite (1984), yang menunjukkan dengan informasi persentasi memiliki dampak daya tangkap dalam memori lebih tinggi dan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan audit. Informasi presentasi dalam bentuk visual mendukung pengaruh mengenai materi diskusi menjadi lebih besar akibat gambaran informasi klien yang terekam lebih tinggi dalam ingatan. Dengan demikian hipotesis 2b mengenai proses diskusi kelompok dapat menurunkan (memitigasi) pengaruh efek halo positif pada informasi dalam visual terhadap
audit judgment diterima.
Tabel 10
Rata-rata Audit Judgment
Informasi Audit Judgment Non Visual Visual Positif Individu sebelum diskusi 70 69,33
Penelitian ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian Theresia (2014) yang mengkonfirmasi bahwa hasil diskusi kelompok dapat memitigasi pengaruh efek resensi. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Martell dan Leavitt (2002) yang mengkonfirmasi bahwa penggunaan aktivitas grup untuk meningkatkan keakuratan rating dan mengurangi bias serta penelitian yang dilakukan Lee, Ross, & Little (2012) menunjukkan bahwa penilaian probabilitas individu menjadi lebih akurat dan kesalahan penilaian terbukti sangat berkurang.
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan peneliti menunjukkan bahwa pertama, audit judgment yang dibuat secara individu berbeda sebelum dengan setelah diskusi kelompok berdasarkan penyajian informasi klien dengan efek halo positif maupun efek halo negatif baik melalui bentuk visual dan non-visual, kedua efek halo negatif maupun efek halo positif dalam bentuk visual maupun non-visual dapat mempengaruhi revisi keyakinan audit judgment kelompok dan ketiga diskusi kelompok dapat menurunkan atau merevisi keyakinan individu akibat bias yang dipengaruhi oleh efek halo positif dalam bentuk visual maupun non-visual.
Implikasi Penelitian
Hasil penelitian ini memiliki implikasi yaitu pertama, secara teori dapat memberikan kontribusi pengetahuan dalam bidang audit dan organisasi audit internal sehingga dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya serta memberikan kontribusi untuk memperoleh kualitas audit judgment. Kedua, secara praktek penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan kepada auditor bahwa efek halo negatif memberikan pengaruh terhadap pembuat keputusan. Diskusi kelompok dapat menurunkan pengaruh efek halo positif
dibandingkan efek halo negatif karena memberikan pengaruh yang kuat terhadap
audit judgment.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu, pertama pelaksanaan eksperimen dilakukan dengan beberapa tahap dan waktu yang berbeda sehingga dimungkinkan terjadi pembocoran informasi dari subjek satu kelas dengan subjek kelas berikutnya akan tetapi hal ini telah diantisipasi dengan memberikan jeda waktu yang tidak terlalu panjang. Kedua, pada saat pelaksanaan diskusi kelompok karakteristik individu dalam kelompok memiliki sifat yang pasif, aktif dan tidak saling kenal sehingga di awal diskusi kurang kondusif tetapi hal ini telah diantisipasi dengan cara setiap kelompok ditunjuk satu perwakilan untuk menjadi
leader (ketua grup) oleh peneliti agar diskusi menjadi kondusif. Ketiga penelitian
ini menunjukkan bahwa efek halo negatif meberikan pengaruh terhadap revisi keyakinan dalam diskusi kelompok sehingga hal ini dapat sebagai bahan pertimbangan apabila akan dilakukan penelitian berikutnya.