• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian dengan Sumber Dana dari DIPA T 2010

Dalam dokumen LAPORAN TAHUNAN T.A. 2010 (Halaman 32-47)

5.1. Evaluasi dan Penyusunan Desa Calon Lokasi Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) 2010

Modal finansial merupakan aspek dan masalah yang sangat penting dalam produksi pertanian. Sebagian besar petani umumnya terkendala oleh ketersediaan modal untuk usaha. Dengan keterbatasan aksesnya terhadap perbankan, menyebabkan modal usaha menjadi masalah besar dalam keberlanjutan dan keberhasilan usahanya. Untuk itu, program PUAP mencoba mengatasi masalah dana dengan cara menyalurkan dana kepada petani melalui kelompok tani/Gapoktan. Dana PUAP pada prinsipnya hanya sebagai stimulus dalam menggerakkan usaha tani petani yang kemudian dikelola melalui LKM. Penelitian ini bertujuan: (1) Penyusunan 10.000 desa calon lokasi program PUAP Tahun 2010; (2) Melakukan evaluasi kinerja pelaksanaan PUAP 2008 dan 2009; (3) Menetapkan/merumuskan saran kebijakan sebagai input rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan BLM PUAP selanjutnya. Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung dan Bali.

Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan program PUAP dapat dibagi dua, yaitu: Pertama, menentukan calon lokasi desa penerima dana BLM PUAP dan Kedua, implementasi dari pengembangan usaha agribisnis perdesaan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan teknologi baru dapat meningkatkan produksi, produktivitas dan pendapatan, oleh karena itu perlu didorong bagi anggota Gapoktan PUAP penerima dana BLM PUAP untuk menerapkan inovasi teknologi baru spesifik lokasi. Di sisi lain, dalam rangka pengembangan agribisnis komoditas utama, banyak ditemukan berbagai masalah dan kendala yang tidak mungkin dapat diatasi oleh Pelaksana PUAP saja. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan koordinasi dan integrasi dengan Program Strategis Kementerian Pertanian lainnya, misalnya dengan program SLPTT, PS2DS, Pengembangan Kawasan Hortikultura, FEATI, dan Pengembangan Agropolitan serta program terkait lainnya. Bila memungkinkan dapat diintegrasikan (lokasi dan komoditas) dengan program dinas terkait yang memperoleh dana dari anggaran Tugas Pembantuan, yang dirancang untuk mengembangkan komoditas unggulan.

Agar pelaksanaan program PUAP sesuai dengan rencana Gapoktan (petani/peserta program PUAP) maka penyaluran dana BLM PUAP perlu dipercepat, sehingga dana yang tesedia dapat digunakan untuk pengembangan agribisnis sesuai kebutuhan. Dalam perguliran dana BLM PUAP berikutnya, perlu diprioritaskan bagi usaha-usaha pengembangan agribisnis yang perguliran modalnya lebih cepat dan keuntungan yang diperoleh lebih tinggi, sehingga

Agar percepatan pengembangan agribisnis di daerah dapat ditingkatkan, maka perlu dilakukan integrasi desa dan Gapoktan penerima dana BLM PUAP dengan Program Strategis Kementerian Pertanian lainnya, termasuk program subsektor lain yang dapat menunjang pengembangan agribisnis. Diperlukan studi khusus pengembangan lembaga keuangan mikro (LKM) yang sesuai dengan lingkungan agribisnis lokal, sehingga dapat memberikan masukan yang lebih komprehensif dan mendalam untuk pengembangan LKM pada Gapoktan/desa penerima dana BLM PUAP.

Pada kajian evaluasi kinerja pelaksanaan PUAP tahun 2010 ini sangat terbatas jumlah lokasinya, sehingga mengalami kesulitan untuk memberikan gambaran secara keseluruhan kinerja pelaksanaan PUAP 2008 dan 2009 dengan jumlah telah lebih dari 20.000 desa.

Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih fokus, mendalam dan cakupan yang lebih luas (contoh yang representatif) sesuai dengan kebutuhan program PUAP ke depan, terutama dalam mengembangkan LKM. Bila diperlukan ada kaji tindak beberapa model LKM di beberapa lokasi desa program PUAP yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya.

5.2. Indikator Pembangunan Pertanian dan Perdesaan: Karakteristik Sosial Ekonomi dan Usahatani Padi

Padi atau beras merupakan komoditas strategis nasional. Selama ini pemerintah telah menghasilkan berbagai kebijakan dan program untuk peningkatan produksi dan produktivitas padi, namun ketahanan pangan dan kesejahteraan petani/masyarakat perdesaan ini masih tetap menyisakan permasalahan. Usahatani padi juga rawan terhadap dampak negatif perubahan iklim global, tekanan lahan serta keterbatasan infrastruktur pertanian (terutama irigasi) yang semua itu berpotensi melemahkan daya saing usahatani padi relatif terhadap usahatani pangan lainnya. Usahatani padi juga sarat dengan intervensi pemerintah yang diduga akan berpengaruh terhadap efisiensi usahatani.

Tujuan penelitian secara garis besar adalah mengkaji karakteristik rumah tangga perdesaan dan dinamika sosial ekonomi petani padi, menganalisis kinerja dan efisiensi usahatani padi, daya saing usahatani padi dan menghasilkan rekomendasi kebijakan peningkatan kesejahteraan rumah tangga petani padi dan rumah tangga perdesaan umumnya serta upaya peningkatan produksi dan daya saing usahatani padi. Penelitian dilakukan di lima provinsi sentra produksi padi, yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan dan mencakup 14 kabupaten. Lokasi desa contoh PATANAS 2010 mengacu pada lokasi PATANAS 2007

Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) Selama periode 2007-2010, terjadi penurunan rata-rata luas total pemilikan lahan di desa-desa Jawa, dan sebaliknya di Luar Jawa. Tingkat penguasaan lahan pertanian umumnya tergolong merata sampai agak mengelompok/timpang; (2) Tingkat partisipasi angkatan kerja yang

bekerja jauh lebih tinggi dibanding ART bukan angkatan kerja, baik pada tahun 2007 dan 2010. Sementara itu, kesempatan kerja yang merupakan proporsi dari jumlah angkatan kerja terhadap jumlah ART cenderung meningkat, namun tidak diimbangi dengan penurunan tingkat pengangguran; (3) Distribusi pendapatan pertanian (ditunjukkan oleh indeks Gini) cenderung mengarah pada kesenjangan yang semakin lebar. Secara umum pendapatan rumah tangga meningkat dengan meningkatnya luas penguasaan lahan; (4) Pangsa pengeluaran cenderung meningkat, ada indikasi tingkat kesejahteraan menurun yang terlihat dari penurunan tingkat konsumsi energi dan protein rumah tangga; (5) Tidak ada korelasi antara persentase kemiskinan dengan persentase penyakapan. Korelasi antara kemiskinan dengan persentase kepemilikan lahan sawah menunjukkan bahwa bila persentase kepemilikan sawah makin sempit maka persentase penduduk yang miskin semakin tinggi. Dengan demikian maka salah satu kebijakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi persentase penduduk miskin adalah dengan meningkatkan pemilikan lahan oleh petani; (6) NTS padi di semua desa kurang dari 100, yang berarti penerimaan dari usahatani padi belum dapat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga; (7) Ada perubahan pola tanam di lahan sawah selama 2007-2010, indikasi ini karena adanya penurunan atau peningkatan harga komoditas. Secara umum tidak ada perubahan nyata dalam penerapan teknologi baik dalam budidaya maupun pascapanen; (8) Kebutuhan sarana produksi pada umumnya sudah mencukupi, namun dari sisi modal masih kekurangan, masih ditemui petani yang meminjam untuk memenuhi kebutuhan modal usahatani; (9) Rumah tangga petani seluruhnya menjadikan sektor nonpertanian sebagai sumber pendapatan tambahan dimana pada rumah tangga buruh tani sektor pertanian memberikan kontribusi paling besar; (10) Rata-rata produktivitas yang dicapai petani adalah sekitar 92 persen dari produktivitas maksimum yang dapat dicapai dengan sistem pengelolaan terbaik; (11) Pengusahaan padi di Pulau Jawa maupun Luar Jawa menguntungkan, baik diusahakan secara individu maupun sosial.

Implikasi kebijakan yang dapat ditempuh adalah: (1) Untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di perdesaan, diperlukan program peningkatan keterampilan dan pengetahuan sehingga tenaga kerja dapat bersaing di pasar tenaga kerja dan meningkat produktivitasnya. Perlu diberi prioritas pengembangan sumberdaya manusia perdesaan agar memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan, dan teknologi, serta kapasitas manajemen yang lebih tinggi serta mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan; (2) Perbaikan distribusi lahan perlu didukung berbagai kebijakan seperti kebijakan reforma agraria, kebijakan lahan abadi, dan berbagai kebijakan lain dalam rangka mencegah pengurangan lahan sawah; (3) Agar terjadi diversifikasi pendapatan dan mengurangi ketimpangan pendapatan rumah tangga perlu memperbesar kesempatan kerja di sektor luar pertanian, misalnya dengan pengembangan industri perdesaan; (4) Dengan telah dicapainya efisiensi usahatani padi sawah yang relatif tinggi, guna meningkatkan lebih lanjut produktivitas dan produksi padi dan pendapatan petani, dibutuhkan terobosan teknologi khususnya dalam

bentuk penemuan-penemuan varietas unggul baru dan melalui perluasan areal sawah. Untuk itu kebijakan dan program pemerintah terkait dengan peningkatan akses petani terhadap lahan dan perbaikan distribusi lahan perlu terus didorong; (5) Perlu upaya perbaikan kualitas panen untuk meningkatkan peluang beberapa komoditas pesaing padi sebagai komoditas ekspor. Demikian pula perlu didukung melalui pembukaan lahan baru serta kebijakan pemerintah yang lebih kondusif dalam mendorong peningkatan ekspor (administrasi perijinan, birokrasi, dan lain-lain).

5.3. Evaluasi Dampak Program Penanggulangan Kemiskinan di Sektor Pertanian dan Perdesaan Tingkat Rumah Tangga dan Desa

Pencapaian sasaran MDGs di Indonesia akan dihadapkan pada permasalahan yang semakin kompleks dan bermuara pada perlambatan dalam pencapaian sasaran pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang diikuti oleh disparitas pendapatan yang semakin besar antar wilayah, desa-kota, dan antar kelompok pendapatan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan populasi penduduk miskin antara lain dengan meningkatkan alokasi dana program pengentasan kemiskinan. Namun penurunan populasi penduduk masih miskin relatif kecil. Dibutuhkan koordinasi dan sinergi program lintas sektoral pengentasan kemiskinan sehingga dapat memperbaiki efektivitas pemanfaatan dana pembangunan dan kinerja program pengentasan kemiskinan.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi konsepsi/perencanaan program pemberdayaan sektor pertanian dalam pengentasan kemiskinan di perdesaan; (2) mengevaluasi dampak program pemberdayaan sektor pertanian terhadap peningkatan ketahanan pangan, dan pengentasan kemiskinan di perdesaan; (3) menganalisis keterkaitan/sinergi program pemberdayaan dan Jaring Pengaman Sosial dalam konteks pengentasan kemiskinan dan pembangunan perdesaan; serta (4) merumuskan kebijakan strategis, dan program pengentasan kemiskinan dalam perspektif percepatan transformasi struktural ekonomi pertanian dan perdesaan.

Indikator Analisis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas: (1) evaluasi kebutuhan (perencanaan), (2) evaluasi operasional, dan (3) evaluasi dampak. Untuk evaluasi kebutuhan dilakukan terhadap sistem perencanaan, rancangan paket dan rancangan manajemen program. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan komparatif. Secara sederhana pendekatan komparatif ini dilakukan dengan membandingkan antara „rencana‟ dan „realisasi‟. Basis lokasi penelitian mengacu pada jenis program utama yang ada, yaitu Program Desa Mapan, P4MI dan FEATI. Ketiga program tersebut dinilai representatif untuk mewakili program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan, khususnya di sektor pertanian dan perdesaan pada tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat.

Penelitian ini menghasilkan kajian yang sangat menarik mengenai perbandingan program pengentasan kemiskinan di perdesaan. Disamping itu

terdapat temuan-temuan dilapangan mengenai pelaksanaan ketiga program tersebut yang sangat bernilai untuk perbaikan program tersebut dan sebagai masukan bagi pengambil kebijakan dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dengan demikian, target MDGs yang telah ditetapkan dapat kita capai.

5.4. Akselerasi Sistem Inovasi Teknologi Pengolahan Hasil dan Alsintan dalam Mendukung Ketahanan Pangan

Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana mempercepat atau mengakselerasi inovasi pengolahan hasil dan alsintan dalam mendukung ketahanan pangan. Untuk itu perlu dicermati terlebih dahulu informasi dan ketersediaan inovasi teknologi khususnya dalam pengolahan hasil dan alsintan yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian. Selanjutnya perlu ditelaah keragaan pemanfaatan teknologi tersebut di tingkat rumah tangga, kemudian diidentifikasi dan dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi teknologi pengolahan hasil dan alsintan pada kegiatan pascapanen dan pengolahan hasil. Faktor dan kendala adopsi inovasi yang dikaji mencakup permasalahan dari aspek teknis, ekonomi, kelembagaan/sarana pendukung, dan sosial budaya.

Secara umum penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan dan prospek akselerasi sistem inovasi teknologi pengolahan hasil dan alsintan mendukung ketahanan pangan. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi ketersediaan inovasi teknologi pengolahan hasil dan alsintan komoditas pangan; (2) mengidentifikasi tantangan dan masalah adopsi teknologi pengolahan hasil dan alsintan komoditas pangan; (3) menganalisis potensi pengembangan teknologi pengolahan hasil dan alsintan komoditas pangan; (4) menyusun rekomendasi untuk mengakselerasi adopsi teknologi pengolahan hasil dan alsintan komoditas pangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan akselerasi inovasi teknologi pengolahan hasil ke depan masih akan ditemui, oleh karena itu pemerintah harus melakukan upaya sebagai berikut: (a) memperkuat struktur permodalan dan akses terhadap sumber modal; (b) meningkatkan penguasaan teknologi di tingkat rumah tangga atau industri kecil; (c) meningkatkan kualitas sumberdaya manusia agar dapat menjadi pengrajin/pengolah produk pertanian.

Agar pengolah tidak menghadapi kendala dalam mencari bahan baku maka perlu diupayakan: (a) kesinambungan produksi; (b) ketersediaan informasi; dan (c) meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Selain itu, sebagai upaya untuk meningkatkan adopsi teknologi pengolahan hasil pertanian maka perlu dibangun kemitraan antara pengusaha tani (petani) – pengusaha pengolah – industri (koordinasi vertikal). Perlu diupayakan kebijakan yang akan mendukung akselerasi sistem inovasi teknologi pengolahan hasil dan mekanisasi pertanian demi terwujudnya kemandirian dan ketahanan pangan.

memperhatikan kearifan lokal. Selain itu, juga diperlukan kerja sama yang sinergis dan harmonis antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, petani dan industri guna perbaikan pascapanen dan pengolahan hasil pertanian.

Program akselerasi sistem inovasi teknologi pengolahan hasil dan alsintan mendukung ketahanan pangan harus melibatkan dan merupakan sinergi dari berbagai pihak sesuai dengan peran, kompetensi dan kapasitas masing-masing, antara lain; masyarakat petani, pemda, investor (sektor industri), lembaga keuangan, lembaga pendamping, kementrian/dinas terkait, Perguruan Tinggi, dan pasar/pembeli. Upaya agar tujuan itu tercapai pemerintah harus selalu melakukan berbagai kebijakan seperti: (1) mendorong diversifikasi pola konsumsi berbasis pangan lokal; (2) meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pangan beragam, dan (3) mendorong pengembangan teknologi pengolahan pangan non beras.

Strategi yang dapat dipilih untuk meningkatkan kinerja sistem inovasi guna meningkatkan kontribusi teknologi dalam upaya pencapaian ketahanan pangan adalah: (1) sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh petani dan industri pangan dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan konsumen domestik; (2) insentif bagi petani dan rangsangan untuk tumbuh-kembang industri pengolahan pangan yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik maupun internasional; (3) vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi oleh petani dan industri pangan dalam negeri; dan (4) dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi, menstimulasi, dan mengakselerasi interaksi antar aktor sistem inovasi teknologi pengolahan hasil pertanian dan kelembagaan pendukung lainnya.

5.5. Optimalisasi Sumberdaya Pertanian pada Agroekosistem Lahan Kering

Perkembangan pertanian pada agroekosistem lahan kering (kecuali perkebunan skala besar) saat ini sangat kurang, perkembangan teknologi dan produktivitas tanaman pangan pada agroekosistem lahan kering menjadi sangat lamban jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada agroekosistem pesawahan. Dalam penelitian ini makna agroekosistem lahan kering adalah wilayah agroekosistem lahan kering beriklim kering, dimana sistem usahatani sawah (yang secara teoritis adalah minoritas) tercakup pula di dalamnya karena merupakan bagian integral dari sistem pertanian agroekosistem lahan kering. Secara normatif, kinerja pertanian pada wilayah tersebut didominasi oleh komoditas pertanian pangan nonpadi. Perekonomian wilayah yang didominasi agroekosistem lahan kering digambarkan dalam konteks keterkaitan sektoral yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan output, nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) memperoleh gambaran mengenai profil perekonomian wilayah yang didominasi agroekosistem lahan kering di lokasi penelitian, (2) mengidentifikasi kendala dan potensi pemanfaatan

sumberdaya pertanian pada wilayah yang didominasi agroekosistem lahan kering; (3) mencari solusi optimal mengenai pemanfaatan sumberdaya pertanian wilayah dominan agroekosistem lahan kering; serta (4) merumuskan kebijakan dan program relevan dengan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pertanian, khususnya di wilayah dominan agroekosistem lahan kering.

Unit analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah wilayah. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis dengan pendekatan model I-O, tabulasi sederhana, dan LGP, sedangkan data kualitatif menyangkut aspek kebijakan dan kelembagaan akan dianalisis secara deskriptif. Sedangkan lokasi penelitian adalah di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan wilayah dominan lahan kering beriklim kering.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kendala dan permasalahan utama dalam pengelolaan usahatani di Jawa Tengah adalah ketersediaan air, kekurangan modal usaha, dan masih belum optimalnya pemasaran. Oleh karena itu, program-program pembangunan pertanian diarahkan untuk menangani hal tersebut. Sedangkan untuk optimalisasi sumberdaya pertanian di NTT yang efektif adalah melalui pendekatan langsung yaitu dengan memperbaiki teknologi usahatani berbasis pada teknologi lokal dan tidak langsung secara simultan sasarannya adalah meningkatkan permintaan agregat.

Implikasi kebijakan penelitian ini adalah: (1) pentingnya dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah pusat/daerah dalam wujud prioritasi anggaran pembangunan, pengembangan infrastruktur dan program yang berhubungan dengan mitigasi bencana dan advokasi terkait adaptasi terhadap perubahan iklim; (2) pengembangan mix-farming (tanaman pangan dan ternak) merupakan pilihan yang strategis untuk meningkatkan pendapatan petani. Selain pengembangan pertanian primer, pengembangan usaha pertanian sekunder juga harus diperhatikan untuk mendukung perekonomian wilayah berbasis pertanian; (3) khusus untuk NTT, optimalisasi sumberdaya pertanian di NTT yang efektif adalah melalui pendekatan langsung dan tidak langsung secara simultan.

5.6. Analisis Dampak Investasi Pertanian terhadap Kinerja Sektor Pertanian

Investasi mempunyai peranan sangat penting dalam pembangunan ekonomi nasional, termasuk sektor pertanian. Peningkatan investasi di bidang pertanian diharapkan mempunyai dampak positif terhadap kinerja sektor pertanian, antara lain produksi pertanian. Dengan meningkatnya produksi pertanian, maka ketahanan pangan nasional akan menjadi semakin kuat, pendapatan petani meningkat, kesempatan kerja perdesaan makin luas, jumlah penduduk miskin di perdesaan berkurang, devisa negara makin besar dan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian juga akan tumbuh makin cepat.

Tujuan penelitian ini adalah: (a) mengetahui perkembangan jumlah dan struktur investasi pertanian; (b) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi investasi pertanian; dan (c) menganalisis dampak investasi pertanian terhadap

investasi. Analisis yang digunakan adalah kombinasi antara metode kualitatif-deskriptif untuk menjawab tujuan (a) dan (b) dengan menggunakan data mikro primer hasil survei lapang, dan metode kuantitatif-ekonometrik serta akunting untuk menjawab tujuan (c) dengan menggunakan data sekunder makro nasional. Penelitian di lakukan di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor pertanian menempati urutan kedua setelah sektor manufaktur. Hal ini berarti investasi di sektor pertanian cukup menarik bagi investor. Di sisi lain, pada subsektor tanaman pangan dan perkebunan, investasi PMDN lebih besar dibanding PMA, sedangkan pada subsektor peternakan, investasi PMA lebih besar daripada PMDN. Investasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor pendorong utama, antara lain prospek pasar komoditas perkebunan yang semakin baik, bimbingan dan penyuluhan kepada kelompok tani, ketersediaan pakan bagi pembibitan sapi potong, dan sebagainya. Sedangkan faktor penghambat utama investasi adalah keterbatasan modal, meningkatnya harga input, upah tenaga kerja serta kondisi lingkungan dan iklim yang kurang kondusif. Dampak investasi pertanian oleh PMDN dan PMA memberikan dampak positif pada PDB pertanian dan penyerapan tenaga kerja baru. Secara agregat nasional, investasi PMDN memberikan kontribusi lebih besar dalam peningkatan PDB sektor pertanian. Demikian pula dengan investasi pertanian oleh petani juga memberikan dampak positif pada pendapatan petani. Pendapatan petani akan lebih besar jika nilai

Internal Rate of Return (IRR) investasi lebih besar dari suku bunga disubsidi

pemerintah.

5.7. Kebijakan Pemda dalam Alokasi Anggaran dan Penyusunan Perda untuk Mengakselerasi Pembangunan Pertanian

Sektor pertanian memiliki peran yang strategis dan signifikan dalam perekonomian nasional salah satunya dalam hal pengentasan kemiskinan. Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk miskin terdapat diperdesaan dan terlibat dalam kegiatan pertanian. Peningkatan akselerasi dan penajaman prioritas pembangunan pertanian seharusnya didukung oleh berbagai pihak terutama pemerintah daerah. Salah satu tolok ukur yang dapat dilihat mengenai keberpihakan pemerintah daerah dalam mendukung sektor pertanian adalah dengan memperhatikan besarnya alokasi anggaran dan komitmen para pengambil kebijakan dalam memajukan sektor pertanian di daerah setempat.

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi berbagai faktor yang berpengaruh kuat terhadap pelaksanaan dan akselerasi pembangunan pertanian di daerah dan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam rangka peningkatan peran pemerintah provinsi dan kebupaten/kota agar akselerasi pembangunan pertanian di daerah dapat dilakukan lebih signifikan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dan sebagian besar datanya dikumpulkan dengan menggunakan metode Focused Group Discussion (FGD) dan Snowballing dari

berbagai tingkatan spasial mulai tigkat provinsi sampai tingkat daerah. Analisis data akan dilakukan dengan dua pendekatan,yaitu secara nomotetis untuk analisis kuantitatif dan ideografis untuk analisis secara kualitatif.

Keluaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah data dan informasi tentang: (1) pangsa alokasi anggaran daerah untuk pembangunan pertanian; (2) pangsa lahan pertanian dan peta jaringan infrastruktur industri dan aspek pendukungnya; (3) political will, komitmen dan keberpihakan dari pimpinan daerah; (4) jumlah dan kinerja kelembagaan pertanian; (5) penegakan sanksi terhadap pelanggaran; (6) kesesuaian SDM pertanian; (7) manfaat lembaga pendidikan dan penelitian dalam pembangunan pertanian terutama dalam peningkatan capacity building masyarakat tani; (8) kesesuaian implementasi proyek/program/kegiatan dan dampak/manfaatnya untuk masyarakat; serta rekomendasi tentang kebijakan untuk peningkatan peran pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam mengakselerasi pembangunan pertanian. Lokasi Penelitian di Provinsi Jawa Barat, Lampung dan Bali.

Kesimpulan dari penelitian ini antara lain bahwa alokasi anggaran daerah dan anggaran pemerintah lainnya belum mencerminkan pemihakan pada sektor pertanian. Disamping itu lemahnya keberpihakan politik, penegakan hukum, kelembagaan ekonomi, ketersediaan modal finansial, penyiapan SDM, serta lemahnya jaringan integrasi kelembagaan pertanian di perdesaan menunjukkan lemahnya kebijakan pemerintah daerah dalam melakukan akselerasi pembangunan pertanian. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya penegakan sanksi terhadap pelanggaran dan penyimpangan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu, guna mengantisipasi hal-hal tersebut diatas diperlukan sinkronisasi pembangunan pertanian dengan mengkombinasikan antara aspek rentang waktu dan jaringan integrasi vertikal

Dalam dokumen LAPORAN TAHUNAN T.A. 2010 (Halaman 32-47)