• Tidak ada hasil yang ditemukan

Luas daun trifoliat. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas dan taraf ketersediaan air, tetapi interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap luas daun trifoliat (Lampiran 1). Kondisi cekaman kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan luas daun. Varietas Tanggamus memiliki luas daun trifoliat terkecil dan berbeda nyata dibandingkan luas daun trifoliat varietas lainnya, sedangkan luas daun trifoliat terlebar terdapat pada varietas Argomulyo dan Anjasmoro (Tabel 16). Hal ini dipengaruhi oleh bentuk daun masing-masing varietas secara genetik memang berbeda, dimana varietas Argomulyo dan Anjasmoro memiliki bentuk daun yang berbentuk bulat, sedangkan Ceneng memiliki bentuk daun antara bulat dan lonjong, dan Tanggamus memiliki bentuk daun antara lonjong dan lancip.

Tabel 17 juga memperlihatkan bahwa ketersediaan air yang berbeda juga menunjukkan pengaruh nyata terhadap luas daun trifoliat. Pada ketersediaan air 100 % KL, tanaman memiliki luas daun trifoliat yang terlebar, dan berbeda nyata dibandingkan luas daun trifoliat yang dihasilkan pada ketersediaan air lainnya, sedangkan pada ketersediaan air 60 % KL dan 40 % KL, terjadi penurunan ukuran luas daun.

Tabel 16. Karakter luas daun trifoliat varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...cm2... Anjasmoro 21,6 (103) 20,9 18,0 (86) 15,9 (76) 19,1 AB Argomulyo 21,7 (107) 20,2 18,7 (93) 17,9 (88) 19,6 A Ceneng 22,5 (128) 17,6 15,3 (87) 14,9 (85) 17,6 B Tanggamus 16,8 (110) 15,3 13,9 (91) 13,0 (85) 14,8 C Rataan 20,7 A 18,5 B 16,5 C 15,4 C

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Stomata. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas dan taraf ketersediaan air, tetapi interaksi kedua perlakuan tidak nyata

terhadap kerapatan stomata daun (Lampiran 1). Kerapatan stomata daun dipengaruhi oleh luas daun yang terbentuk. Kerapatan stomata daun masing- masing varietas secara genetik juga berbeda, dimana varietas kedelai yang secara deskripsi dikatakan toleran memiliki kerapatan stomata yang lebih rendah dibandingkan varietas peka yang memiliki kerapatan stomata lebih tinggi, selain itu juga dipengaruhi oleh penurunan luas daun. Varietas Tanggamus memiliki kerapatan stomata daun nyata terendah dibandingkan kerapatan stomata daun varietas lainnya, sedangkan kerapatan stomata daun tertinggi terdapat pada varietas Argomulyo dan tidak berbeda nyata dengan varietas Anjasmoro dan Ceneng (Tabel 17).

Tabel 17 juga memperlihatkan bahwa pada ketersediaan air yang berbeda menunjukkan pengaruh nyata terhadap kerapatan stomata daun, pada ketersediaan air 100 % KL dan 80 % KL, tanaman memiliki kerapatan stomata daun yang lebih rendah , dan berbeda nyata dibandingkan kerapatan stomata daun yang dihasilkan pada ketersediaan air 60 % KL dan 40 % KL yang menghasilkan kerapatan stomata daun lebih tinggi, dimana hal ini dipengaruhi juga oleh terjadinya penurunan ukuran luas daun, sehingga stomata daun menjadi merapat per satuan luas daun. Penurunan persentase ketersediaan air, menurunkan ukuran luas daun, serta meningkatkan kerapatan stomata daun, dimana kerapatan stomata daun pada ketersediaan air 60 % KL dan 40 % KL nyata lebih tinggi daripada ketersediaan air 100% KL. Dengan demikian kerapatan stomata daun tidak dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan air.

Tabel 17. Karakter kerapatan stomata varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...jumlah/mm2... Anjasmoro 64,8 (92) 70,2 71,2 (101) 75,8 (108) 70,5 A Argomulyo 68,8 (99) 69,4 72,4 (104) 73,1 (105) 70,9 A Ceneng 66,8 (99) 67,2 68,1 (101) 71,8 (107) 68,5 A Tanggamus 64,2 (99) 64,9 67,0 (103) 67,6 (104) 65,9 B Rataan 66,1 C 67,9 BC 69,7 AB 72,1 A

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Bobot kering tajuk. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas dan taraf ketersediaan air, tetapi interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap bobot kering tajuk (Lampiran 1). Pada Tabel 18 menunjukkan bahwa varietas Anjasmoro memiliki bobot kering tajuk terberat dan berbeda nyata dibandingkan bobot kering tajuk varietas lainnya. Tabel 19 juga memperlihatkan bahwa ketersediaan air yang berbeda juga menunjukkan pengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk, pada ketersediaan air 100 % KL dan 80 % KL, tanaman memiliki bobot kering tajuk yang nyata lebih berat dibandingkan bobot kering tajuk pada ketersediaan air 60 % KL dan 40 % KL.

Tabel 18. Karakter bobot kering tajuk varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...g... Anjasmoro 9,4 (112) 8,4 5,8 (68) 5,0 (59) 7,1 A Argomulyo 5,7 (109) 5,2 4,8 (92) 3,7 (72) 4,9 B Ceneng 7,3 (127) 5,7 3,7 (66) 3,3 (58) 4,9 B Tanggamus 6,2 (117) 5,3 4,4 (84) 3,3 (62) 4,8 B Rataan 7,1 A 6,1 A 4,7 B 3,8 B

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak

berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung

merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Panjang akar. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas, tetapi taraf ketersediaan air dan interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap panjang akar (Lampiran 1). Secara genetik, masing-masing varietas memiliki perbedaan dalam pertumbuhan panjang akar. Pertumbuhan panjang akar juga disebabkan karena akar tanaman berusaha mencapai bagian tanah yang lembab untuk memperoleh air pada kondisi kekeringan.

Tabel 19. Karakter panjang akar varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...cm... Anjasmoro 36,2 (96) 37,8 42,1 (111) 47,9 (127) 41,0 BC Argomulyo 43,7 (123) 35, 7 40,6 (114) 39,9 (112) 39,9 C Ceneng 46,5 (96) 48,3 49,6 (103) 48,1 (100) 48,1 AB Tanggamus 48,1 (95) 50,5 55,2 (109) 55,1 (109) 52,2 A Rataan 43,6 43,1 46,9 47,8

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Bobot kering akar. Analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh varietas, taraf ketersediaan air dan interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap bobot kering akar (Lampiran 1). Tabel 20 menunjukkan bahwa secara umum, tanaman akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat pada saat mengalami cekaman air pada saat cekaman kekeringan (60 % KL dan 40 % KL), tetapi perlakuan ketersediaan air belum memberikan perbedaan pada bobot kering akar terhadap masing-masing varietas yang diuji.

Tabel 20. Karakter bobot kering akar varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...g... Anjasmoro 0,6 (83) 0,7 0,5 (80) 0,5 (71) 0,6 Argomulyo 0,6 (115) 0,6 0,4 (70) 0,3 (49) 0,5 Ceneng 0,5 (100) 0,5 0,4 (78) 0,4 (71) 0,5 Tanggamus 0,4 (94) 0,5 0,5 (105) 0,5 (120) 0,5 Rataan 0,5 0,6 0,5 0,4

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Bobot kering total. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas dan taraf ketersediaan air, tetapi interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap bobot kering total (Lampiran 3). Tabel 21 menunjukkan bahwa varietas Anjasmoro memiliki bobot kering total nyata terberat

dibandingkan bobot kering total varietas lainnya. Hal ini juga berhubungan dengan karakter bobot kering tajuk yang tinggi pada varietas Anjasmoro. Tabel 22 juga memperlihatkan bahwa ketersediaan air yang berbeda juga menunjukkan pengaruh nyata terhadap bobot kering total, pada ketersediaan air 100 % KL dan 80 % KL, tanaman memiliki bobot kering total yang nyata lebih berat dibandingkan bobot kering total pada ketersediaan air 60 % KL dan 40 % KL.

Tabel 21. Karakter bobot kering total varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...g... Anjasmoro 10,0 (110) 9,1 6,3 (69) 5,5 (60) 7,7 A Argomulyo 6,3 (110) 5,8 5,2 (90) 4,0 (69) 5,3 B Ceneng 7,8 (125) 6,2 4,2 (67) 3,7 (59) 5,5 B Tanggamus 6,6 (115) 5,7 4,9 (86) 3,8 (67) 5,3 B Rataan 7,7 A 6,7 A 5,1 B 4,3 B

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Tabel 22 menunjukkan nilai terendah perubahan terhadap kontrol (40% KL terhadap 80% KL) pada karakter bobot kering total terdapat pada varietas Argomulyo dan Tanggamus dan tidak terjadi perubahan nilai yang tinggi dari kontrol. Hal ini menunjukkan ke dua varietas mampu beradaptasi pada ketersediaan air 40 % KL.

Tabel 22. Perubahan terhadap kontrol (%) pada karakter bobot kering total

Varietas Ketersediaan air Perubahan terhadap

kontrol (%) 80% KL 40% KL ...ml... Anjasmoro 9,1 5,5 39,6 Argomulyo 5,8 4,0 30,4 Ceneng 6,2 3,7 40,9 Tanggamus 5,7 3,8 33,3

Volume akar. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas, taraf ketersediaan air dan interaksi kedua perlakuan terhadap

volume akar (Lampiran 4). Volume akar dipengaruhi oleh bobot basah akar dan panjang akar yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik akar dari masing- masing varietas yang diuji. Hasil analisis regresi polinomial pengaruh ketersediaan air terhadap volume akar pada masing-masing varietas diperoleh kurva respon berbentuk kuadratik untuk varietas Anjasmoro dan Ceneng dan bentuk linier untuk varietas Argomulyo dan Tanggamus. Pada varietas Anjasmoro dan Argomulyo, penurunan persentase ketersediaan air cenderung menghasilkan penurunan volume akar, sedangkan pada Ceneng dan Tanggamus terjadi peningkatan volume akar. Peningkatan persentase ketersediaan air akan menurunkan volume akar pada varietas Tanggamus, sedangkan Argomulyo mengalami peningkatan volume akar dengan semakin meningkatnya persentase ketersediaan air (Gambar 9).

Gambar 9. Hubungan antara volume akar (ml) varietas kedelai dengan persentase ketersediaan air.

Tabel 23 menunjukkan nilai terendah perubahan terhadap kontrol (40% KL terhadap 80% KL) pada karakter volume akar terdapat pada varietas Tanggamus. Berdasarkan indeks sensitifitas kekeringan, varietas Tanggamus termasuk varietas yang toleran.

y = -0,000x2+ 0,083x - 1,260 R² = 0,784 y = 0,003x + 0,158 r = 0,874 y = -0.000x2+ 0.081x - 0.690 R² = 0.922 y = -0,002x + 0,696 r = 0,838 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 0 20 40 60 80 100 V o lu m e A k a r (m l) Kapasitas Lapang (%) Anjasmoro Argomulyo Ceneng Tanggamus

Tabel 23. Pengaruh cekaman air terhadap karakter volume akar.

Varietas Ketersediaan air Perubahan terhadap

kontrol (%) ISK 80% KL 40% KL ...ml... Anjasmoro 2,3 1,3 42,9 1,9 (PK) Argomulyo 2,0 1,0 50,0 2,2 (PK) Ceneng 2,2 1,7 23,1 1,0 (MT) Tanggamus 2,4 2,8 18,6 -0,8 (T)

Keterangan : ISK = indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan, T=toleran, MT=medium toleran, PK=peka

Pada kondisi ketersediaan air 40 % KL, penurunan volume akar dipengaruhi oleh penurunan laju pertumbuhan tanaman disebabkan penurunan laju fotosintesis karena kondisi cekaman kekeringan, walaupun terjadi pemanjangan akar pada kondisi ini. Varietas tanaman yang toleran kekeringan memiliki sistem keseimbangan perakaran yang baik sehingga memiliki panjang dan volume perakaran yang tinggi untuk menghindari dari cekaman kekeringan dengan meningkatkan kemampuan menyerap air.

Nisbah tajuk-akar. Analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh varietas, taraf ketersediaan air dan interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap nisbah tajuk akar (Lampiran 1). Nisbah tajuk akar menunjukkan perbandingan antara bobot kering tajuk dengan bobot kering akar yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan tanaman dalam menghadapi kondisi kekeringan. Nisbah tajuk akar diamati pada tahap akhir R6 (polong berbiji penuh). Nisbah tajuk akar diperoleh dengan membagi bobot kering tajuk dengan bobot kering akar. Tabel 24 menunjukkan bahwa perlakuan ketersediaan air belum memberikan perbedaan pada nisbah tajuk akar terhadap masing-masing varietas yang diuji.

Tabel 24. Karakter nisbah tajuk akar varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...g... Anjasmoro 17,5 (136) 12,9 13,2 (102) 14,1 (109) 14,4 Argomulyo 8,9 (95) 9,4 12,6 (134) 14,4 (153) 11,3 Ceneng 18,6 (172) 10,8 11,4 (105) 9,1 (84) 12,5 Tanggamus 14,9 (117) 12,8 9,4 (73) 6,2 (48) 10,8 Rataan 14,9 11,5 11,6 10,9

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Tanggap Fisiologi Tanaman

Kehijauan daun saat awal cekaman dan pada tahap R6. Analisis

ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas dan taraf ketersediaan air, tetapi interaksi varietas, ketersediaan air dan waktu pengamatan kehijauan daun tidak nyata terhadap kehijauan daun saat awal cekaman dan pada tahap R6 (Lampiran 2). Kehijauan daun yang diukur menggunakan SPAD-502 klorofil meter, berhubungan dengan tingkat kandungan klorofil yang terdapat di dalam daun. SPAD-502 klorofil meter digunakan untuk mengukur daya serap cahaya matahari yang diterima daun dalam dua bagian, yaitu cahaya merah dengan panjang gelombang 650 nm dan cahaya infra merah dengan panjang gelombang 940 nm (Minolta, 1989).

Tabel 25 memperlihatkan bahwa varietas Tanggamus memiliki nilai tengah kehijauan daun saat awal cekaman yang berbeda nyata dibandingkan nilai kehijauan daun saat awal cekaman pada varietas lainnya. Secara genetik, varietas Tanggamus mempunyai daun yang berwarna hijau muda yang menggambarkan tingkat kandungan klorofil pada daun tidak sebesar pada daun yang berwarna hijau tua, seperti pada daun varietas Anjasmoro, Argomulyo dan Ceneng.

Tabel 25. Karakter kehijauan daun saat awal cekaman dan pada tahap R6 pada berbagai ketersediaan air.

Tahap perlakuan Varietas Ketersediaan air Rataan 100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...KH... Awal cekaman Anjasmoro 32,3 (101) 32,1 32,9 (103) 35,3 (110) 33,1 A Argomulyo 34,1 (101) 33,7 35,3 (105) 35,1 (104) 34,5A Ceneng 32,7 (95) 34,5 34,3 (99) 34,2 (99) 33,9A Tanggamus 26, 3 (78) 33,7 29,5 (87) 31,2 (92) 30,2B Rataan 32,95 B Tahap R6 Anjasmoro 41,6 (92) 45,1 44,8 (99) 45,4 (101) 44,2 A Argomulyo 40,1 (109) 36,8 44,7 (121) 42,9 (117) 41,1 B Ceneng 41,9 (93) 45,3 44,7 (99) 44,1 (97) 44,0 A Tanggamus 39,6 (94) 42,0 39,4 (94) 39,4 (94) 40,1 B Rataan 42,4A Rataan 36,1 B 37,9 A 38,2 A 38,4 A

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Varietas Tanggamus dan Argomulyo memiliki nilai tengah kehijauan daun pada tahap R6 yang nyata terendah dibandingkan dengan nilai tengah kehijauan tahap R6 pada varietas Anjasmoro dan Ceneng. Perlakuan ketersediaan air 40 % KL, 60 % KL dan 80 % KL memberikan tanggap yang nyata terhadap karakter kehijauan daun dibandingkan ketersediaan air 100 % KL.

Kandungan klorofil a dan klorofil b. Analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh varietas, taraf ketersediaan air dan interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap kandungan klorofil a dan klorofil b (Lampiran 3). Kandungan klorofil a dan b dapat dilihat pada Tabel 26. Pengaruh ketersediaan air 80 % KL memiliki kandungan klorofil a yang lebih tinggi dibandingkan ketersediaan air lainnya. Adapun pada ketersediaan air 60 % KL, memiliki kandungan klorofil b yang lebih tinggi dibandingkan ketersediaan air lainnya. Namun demikian, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan ketersediaan air belum memberikan perbedaan pada kandungan klorofil a dan klorofil b terhadap masing-masing varietas yang diuji.

Tabel 26. Karakter kandungan klorofil a dan klorofil b varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air

Karakter Varietas Ketersediaan air Rataan

100% 80% 60% 40% ...mg/g bb... Klorofil a Anjasmoro 173,7 174,2 184,40 183,6 179,0 Argomulyo 168,5 170,8 179,2 164,0 170,6 Ceneng 169,8 209,5 190,9 176,3 186,6 Tanggamus 165,1 193,0 164,8 160,9 170,9 Rataan 169,3 186,9 179,8 171,2 Klorofil b Anjasmoro 66,2 67,5 76,3 72,1 70,5 Argomulyo 67,7 64,3 76,6 66,3 68,7 Ceneng 69,3 78,7 73,39 64,3 71,4 Tanggamus 65,6 73,6 69,0 66,6 68,7 Rataan 67,2 71,0 73,8 67,3

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%

Evapotranspirasi. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas, taraf ketersediaan air dan interaksi kedua perlakuan terhadap evapotranspirasi (Lampiran 4). Penggunaan air oleh tanaman juga didasarkan karakter morfologi tanaman, seperti bobot tajuk, luas daun dan jumlah stomata daun serta evapotranspirasi.

Nilai evapotranspirasi terbesar terdapat pada ketersediaan air 100 % KL, yang berbeda nyata dengan ketersediaan air lainnya. Ini berhubungan dengan karakter luas daun dan bobot kering tajuk, dimana terjadi pertumbuhan meningkat pada kedua karakter dibandingkan pertumbuhan pada ketersediaan air lainnya.

Varietas Tanggamus pada semua perlakuan ketersediaan air memiliki nilai evapotranspirasi terendah diikuti oleh varietas Argomulyo, Ceneng dan Anjasmoro. Hasil analisis regresi polinomial pengaruh ketersediaan air terhadap evapotranspirasi pada masing-masing varietas diperoleh kurva tanggap berbentuk kuadratik untuk setiap varietas yang diuji.

Secara umum keempat varietas yang diuji memperlihatkan pola hubungan yang serupa, dimana perlakuan ketersediaan air mulai 60 % KL terjadi penurunan evapotranspirasi terendah. Peningkatan evapotranspirasi tertinggi pada ketersediaan air 100 % KL terdapat pada varietas Anjasmoro, disusul dengan

varietas Ceneng, Argomulyo dan evapotranspirasi terendah pada varietas Tanggamus (Gambar 10).

Gambar 10. Hubungan antara evapotranspirasi varietas kedelai dengan ketersediaan air

Tabel 27 menunjukkan nilai terendah perubahan terhadap kontrol (40% KL terhadap 80% KL) pada evapotranspirasi terdapat pada varietas Tanggamus. Berdasarkan indeks sensitifitas kekeringan, varietas Tanggamus termasuk varietas yang toleran.

Tabel 27. Pengaruh cekaman air terhadap karakter evapotranspirasi

Varietas Ketersediaan air Perubahan terhadap

kontrol (%) ISK 80% KL 40% KL ...liter... Anjasmoro 0,4 0,3 34,9 1,3 (PK) Argomulyo 0,3 0,2 27,0 1,0 (PK) Ceneng 0,4 0,2 33,3 1,2 (PK) Tanggamus 0,2 0,2 6,3 -0,2 (T)

Keterangan : ISK = indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan, T=toleran, MT=medium toleran, PK=peka

Efisiensi penggunaan air

Efisiensi penggunaan air adalah kemampuan tanaman untuk dapat menghasilkan produksi dan bobot kering tanaman yang tinggi pada setiap ml air

y = 0.000x2- 0.078x + 2.320 R² = 0.992 y = 0.000x2- 0.062x + 1.880 R² = 0.998 y = 0.000x2- 0.075x + 2.223 R² = 0.991 y = 0.000x2- 0.066x + 1.972 R² = 0.974 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 0 20 40 60 80 100 Ev a p o tr a n sp ira si (l) Kapasitas Lapang (%) Anjasmoro Argomulyo Ceneng Tanggamus

yang ditranspirasikan atau yang diberikan pada kondisi optimum. Efisiensi penggunaan air dihitung pada akhir tahap R6 (polong berisi penuh) dari tahap perkembangan tanaman. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata dari varietas dan taraf ketersediaan air, tetapi interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap efisiensi penggunaan air (Lampiran 3).

Tabel 28. Karakter efisiensi penggunaan air varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air. Varietas Ketersediaan air Rataan 100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...g/ml... Anjasmoro 288 x 10-5 (88) 327 x 10-5 302 x 10-5 (92) 395 x 10-5 (121) 328 x 10-5 A Argomulyo 183 x 10-5 (88) 208 x 10-5 249 x 10-5 (120) 290 x 10-5 (139) 232 x 10-5 B Ceneng 225 x 10-5 (100) 225 x 10-5 200 x 10-5 (89) 266 x 10-5 (118) 229 x 10-5 B Tanggamus 190 x 10-5 (92) 206 x 10-5 236 x 10-5 (115) 275 x 10-5 (133) 227 x 10-5 B Rataan 221 x 10-5 B 242 x 10-5 B 247 x 10-5 B 306 x 10-5 A

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Pada Tabel 28 menunjukkan bahwa varietas Anjasmoro memiliki nilai efisiensi penggunaan air yang tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan nilai efisiensi penggunaan air varietas lainnya. Varietas Anjasmoro memiliki nilai bobot kering tajuk yang lebih berat pada setiap volume dan taraf ketersediaan air yang diberikan bagi pertumbuhannya.

Ketersediaan air yang berbeda juga menunjukkan pengaruh nyata terhadap nilai efisiensi penggunaan air, pada ketersediaan air 40 % KL, terjadi peningkatan nilai efisiensi penggunaan air yang tinggi yang berbeda nyata dibandingkan nilai efisiensi penggunaan air pada ketersediaan air lainnya. Ini menunjukkan bahwa walaupun ketersediaan air 40 % KL, setiap varietas tanaman mampu menurunkan laju evapotranspirasi dan berusaha menghasilkan bobot kering tanaman dan produksi yang efisien pada ketersediaan air yang terbatas.

Kandungan gula total. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata taraf ketersediaan air, tetapi pengaruh varietas dan interaksi varietas dan taraf ketersediaan air tidak nyata terhadap kandungan gula total (Lampiran 3). Salah satu mekanisme yang memberikan kemampuan tanaman

untuk menyesuaikan diri terhadap cekaman kekeringan adalah dengan cara bertahan pada potensial air jaringan yang rendah serta menjaga tekanan turgor tanaman melalui osmotic adjustment (suatu proses yang menginduksi akumulasi bahan-bahan terlarut atau solut, seperti gula), sehingga tanaman mampu mentoleransi kondisi cekaman tersebut (Mitra 2001). Tabel 29 memperlihatkan bahwa ketersediaan air yang berbeda menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan gula total daun, sedangkan varietas kedelai dan interaksi antara varietas dengan ketersediaan air tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan gula total daun.

Kandungan gula total tertinggi terdapat pada ketersediaan air 40 % KL yang berbeda nyata dengan ketersediaan air lainnya. Ketersediaan air 40 % KL menyebabkan terjadinya penurunan kandungan air pada tanaman. Untuk dapat bertahan pada ketersediaan air yang rendah, tanaman mengakumulasi bahan- bahan terlarut seperti kandungan gula pada kondisi cekaman tersebut untuk menjaga tekanan turgor tanaman.

Tabel 29. Karakter kandungan gula total varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas

Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL ...mg/g... Anjasmoro 679 x 10-6 (169) 402 x 10-6 414 x 10-6 (103) 672 x 10-6 (167) 542 x 10-6 Argomulyo 750 x 10-6 (162) 463 x 10-6 525 x 10-6 (113) 616 x 10-6 (133) 589 x 10-6 Ceneng 442 x 10-6 (98) 453 x 10-6 511 x 10-6 (113) 734 x 10-6 (162) 535 x 10-6 Tanggamus 477 x 10-6 (85) 559 x 10-6 579 x 10-6 (104) 851 x 10-6 (152) 616 x 10-6 Rataan 587 x 10-6 B 469 x 10-6 B 507 x 10-6 B 718 x 10-6 A

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak

berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung

merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Tahapan Pemulihan dari Cekaman Air

Setelah perlakuan cekaman air diberikan dari awal R1 sampai tanaman memasuki tahap R6 (polong berisi penuh), tanaman diairi optimum kembali pada ketersediaan air 80 % kapasitas lapangan. Pengamatan dilakukan pada karakter umur panen dan bobot biji per tanaman.

Umur panen. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas dan taraf ketersediaan air sedangkan interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap umur panen (Lampiran 5). Varietas Tanggamus memiliki umur panen nyata terpanjang dibandingkan varietas lainnya, sedangkan varietas Argomulyo memiliki umur panen terpendek. Umur panen juga berhubungan dengan umur berbunga yang dipengaruhi oleh faktor genetik dari masing-masing varietas. Cekaman air belum berhasil mempengaruhi perbedaan umur panen antar varietas (Tabel 30). Hal ini disebabkan waktu perlakuan kekeringan tidak pada fase vegetatif sebelum pembungaan.

Ketersediaan air pada kapasitas lapangan yang berbeda juga menunjukkan pengaruh nyata terhadap umur panen, dimana nilai rata-rata umur panen tercepat terdapat pada ketersediaan air 40 % KL yang berbeda nyata dengan umur panen pada ketersediaan air kapasitas lapangan lainnya.

Tabel 30. Karakter umur panen varietas kedelai pada berbagai ketersediaan air.

Varietas Ketersediaan air Rataan

100% KL 80% KL 60% KL 40% KL

...Hari Setelah Tanam (HST)...

Anjasmoro 84,2 (99) 85,4 83,7 (98) 83,3 (98) 84,2 B

Argomulyo 83,4 (100) 83,8 80,4 (96) 81,8 (98) 82,31 C

Ceneng 85,1 (102) 83,4 84,4 (101) 81,7 (98) 83,7 BC

Tanggamus 88,4 (102) 86,8 87,2 (101) 85,0 (98) 86,8 A

Rataan 85,3 A 84,8 A 83,94 AB 82,9 B

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf α= 5%; angka dalam kurung merupakan persentase perubahan (dibulatkan) terhadap kontrol

Bobot biji/tanaman. Analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata varietas dan taraf ketersediaan air sedangkan interaksi kedua perlakuan tidak nyata terhadap bobot biji per tanaman (Lampiran 5). Perlakuan cekaman kekeringan yang diberikan pada awal pembungaan (R1) sampai polong penuh (R6) mempengaruhi produksi biji yang dihasilkan. Cekaman kekeringan yang diberikan akan mengganggu proses pembungaan dimana mempengaruhi jumlah bunga yang terbentuk, bunga kedelai banyak yang rontok, terganggunya pembentukan polong dan proses pengisian biji sehingga ukuran dan bobot biji yang dihasilkan berkurang.

Varietas Anjasmoro memiliki bobot biji per tanaman yang tinggi dan berbeda nyata dibandingkan bobot biji per tanaman pada varietas Ceneng dan Tanggamus (Tabel 31). Karakter bobot biji dipengaruhi juga oleh ukuran biji, dimana varietas Anjasmoro dan Argomulyo termasuk varietas yang mempunyai ukuran biji besar, sedangkan varietas Ceneng dan Tanggamus termasuk varietas yang mempunyai ukuran biji sedang. Perlakuan berbagai ketersediaan air kapasitas lapangan pada masing-masing varietas, mempengaruhi jumlah bunga dan polong yang terbentuk serta mempengaruhi pengisian dan ukuran biji.

Tabel 31 juga memperlihatkan bahwa ketersediaan air kapasitas lapangan yang berbeda juga menunjukkan pengaruh nyata terhadap bobot biji per tanaman. Pada ketersediaan air 80 % KL, tanaman memiliki bobot biji per tanaman tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan bobot biji per tanaman pada ketersediaan air kapasitas lapangan lainnya. Ketersediaan air 80 % KL merupakan kondisi air tanah yang optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga tanaman mampu memberikan produksi yang optimum dibandingkan pada tingkat kapasitas lapangan lainnya.

Tabel 31. Karakter bobot biji per tanaman varietas kedelai pada berbagai