• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

D. Hasil Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian terdahulu ini diharapkan peneliti dapat melihat persamaan dan perbedaan antara penelitian, yang telah dilakukan dengan penelitian yang akan dilakukan Selain itu juga diharapkan dalam penelitian ini dapat diperhatikan mengenai kekurangan dan kelebihan antara penelitian terdahulu dan penelitian yang akan dilakukan.

Adapun penelitian terdahulu: Baura (2014), Aljanna (2013), Hafide (2016), Tangkumahat (2017), Ridha (2014), Jamaluddin (2018), Afriliyanto (2017), Mahfudz (2009), Faisal dan Nain (2017), dan Muslihah (2019).

Bauran (2014) mengkaji tentang pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan alokasi dana desa di desa Bukumatiti Kabupaten Jailolo Halmahera Barat sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 2014 Tentang pengelolaan keuangan desa dalam artikel 2 Paragraf 1 menyatakan bahwa pengelolaan keuangan desa harus didasarkan pada prinsip transparansi akuntabilitas dan partisipatif. Sehingga penelitian ini menyimpulkan bahwa, untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan alokasi dana desa dengan menggunakan metode penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif yang terdiri dari 6 informan penelitian.

Penelitian berikutnya tentang dana desa yang dilakukan oleh Al Jannah (2013) mengkaji tentang evaluasi alokasi dana desa yang mempengaruhi implementasi penggunaan desa dan alokasi dana di desa Tambusai Utara Kecamatan Tambusai Utara Kec Rokan Hulu. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. penelitian ini bersifat deskriptif dengan analisis metode

Logical Framework yang digunakan oleh Bappenas menunjukkan implementasi

pengelolaan alokasi dana desa dalam mendukung pembangunan desa di Indonesia Tambusai Utara memperoleh anggaran di tahun 2013 sebesar Rp.439.560.000.

sedangkan pada 2014 memperoleh dana Rp.375.800.00.

Selain itu Penelitian Hafide (2016) mengkaji tentang distribusi penggunaan dana desa serta partisipasi masyarakat mengenai desa dan dampak bagi pembangunan desa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, dan observasi. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif evaluatif. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan dana desa lebih banyak digunakan untuk bidang pembangunan informal struktur desa.

Berikutnya Penelitian yang dilakukan oleh Tangkumahat (2017), tentang menganalisis kebijakan dana desa khususnya pada proses penerapan dana desa dari perencanaan, pencairan, penggunaan sampai dengan pertanggungjawaban.

Penelitian ini dilakukan pada tujuh desa penerima dana desa di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan Januari sampai Maret 2017. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder.

Penelitian yang dilakukan oleh Rida (2014), mengkaji tentang analisis pengelolaan dana desa dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Kecamatan langsa Kota langsa dapat ditarik kesimpulan bahwa pengelolaan dana desa selama ini telah berjalan dengan efektif walaupun pengalokasiannya belum 100% efektif.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Jamaluddin (2018), yang mengkaji tentang analisis dampak pengelolaan dan penggunaan dana desa terhadap pembangunan daerah yaitu, bagaimana dampak pengelolaan dan penggunaan dana desa terhadap pembangunan daerah, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan dan penggunaan dana desa tidak memberi dampak signifikan bagi pertumbuhan pembangunan daerah dan nyatanya program pembangunan desa tidak sinkron dengan kebijakan pembangunan daerah (RPJM Daerah).

Berikutnya penelitian yang dilakukan oleh Afrilianto (2017), mengkaji tentang analisis dampak alokasi dana desa terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bogor menyimpulkan bahwa kinerja perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari nilai pendapatan domestik Regional Bruto (PDRB) atau pertumbuhan ekonominya.

Mahfidz (2009), mengkaji tentang penggunaan alokasi dana desa dan menganalisis dampak alokasi dana desa terhadap penyerapan tenaga kerja serta persepsi aparatur desa di kabupaten Boyolali. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik multistage non random sampling. Penelitian ini dilakukan di 19 kecamatan di mana pada setiap kecamatan dipilih dua desa yaitu satu desa diklasifikasikan sebagai kelurahan yang terletak dekat ibu kota kecamatan dan desa lainnya yang diklasifikasikan perdesaan adalah sebuah desa yang dikategorikan sebagai desa terisolir. Jadi jumlah seluruh responden pada penelitian ini ada 228 responden dengan menggunakan pengumpulan data sekunder dan data primer yang dilakukan melalui survei dan

juga menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi tentang alokasi dana desa banyak yang tidak diimplementasikan dengan baik sesuai dengan peraturan yang ada.

Penelitian berikutnya oleh Faisal dan Nain (2017) mengkaji tentang implikasi pelaksanaan program dana desa terhadap kohesi sosial. Pelaksanaan program dana desa menjadi penting untuk dianalisis karena kehadirannya untuk memperkuat masyarakat desa sebagai subjek pembangunan. Jenis penelitian ini adalah korelasional prediktif non eksperimental. Data diperoleh melalui instrumen berupa kuesioner dan jumlah Responden penelitian ini sebanyak 265 warga desa Tamalate yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki sebanyak 198 dan perempuan sebanyak 67 yang diambil dengan teknik convenience sampling insidental dan secara purposif. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji regresi linear satu variabel independen dengan bantuan Program SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program pemanfaatan dana desa berimplikasi positif dan signifikan terhadap kohesi sosial masyarakat.

Muslihah (2019), mengkaji tentang dampak dana desa terhadap pembangunan dan kesejahteraan di wilayah Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan indikator pembangunan dan kesejahteraan antara sebelum dan setelah adanya dana desa.

Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 75 desa yang ada di Kabupaten Bantul. Metoda analisis data menggunakan uji beda dua rata-rata untuk melihat dampak yang dihasilkan dari alokasi dana desa. Hasil pengujian menunjukkan

bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada pembangunan fisik dan kesejahteraan masyarakat.

23 A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa penelitian kualitatif deskriptif. Alasan memilih penelitian tersebut yakni untuk menggambarkan dan mendeskripsikan secara mendalam terkait dengan pemanfaatan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat di desa Nanga Mbaling Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. Jenis penelitian kualitatif deskriptif ini juga dapat menghasilkan kesimpulan berupa data yang menggambarkan secara rinci bukan data yang berupa angka angka. Hal ini karena pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong 2008).

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan studi kasus. Alasan peneliti menggunakan pendekatan studi kasus yakni untuk menyelidiki dan memahami sebuah kejadian atau masalah dengan mengumpulkan berbagai macam informasi yang kemudian diolah untuk mendapatkan solusi agar masalah yang diungkap dalam pemanfaatan alokasi dana desa terhadap pemberdayaan masyarakat di desa Nanga Mbaling Kabupaten Manggarai Timur dapat terselesaikan.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di desa Nanga Mbaling Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. Alasan peneliti memilih desa ini karena desa Nanga Mbaling merupakan salah satu desa di Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur yang sedang marak dilakukan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan alokasi dana desa.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dimulai dari bulan Februari sampai bulan April 2020.

C. Informan Penelitian

Penelitian kualitatif ini tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian tidak ditentukan secara sengaja. Subjek penelitian menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian.

Menurut Hendarso dalam Suyanto (2005), informan penelitian ini meliputi tiga macam yaitu:

1. Informan kunci (key informan) yaitu mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Dalam hal ini Kepala Desa Nanga Mbaling yang menjadi informan kunci.

2. Informan utama yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah Sekretaris Desa, Bendahara Desa, Pendamping Desa, KAUR Desa, dan BPD Desa

Nanga Mbaling yang berperan dalam menjalankan proses pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan anggaran dana desa.

3. Informan tambahan yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat interaksi sosial yang diteliti. Informan tambahan adalah Kepala Dusun, RT RW, Ketua PKK, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, dan masyarakat yang mendapatkan dana desa.

Berdasarkan uraian terdahulu, maka informan ditentukan dengan teknik purposive sampling yaitu penentuan informan tidak didasarkan pedoman atau berdasarkan perwakilan populasi, namun berdasarkan kedalaman informasi yang dibutuhkan yaitu dengan menemukan informan kunci yang kemudian akan dilanjutkan dengan informan lainnya dengan tujuan mengembangkan dan mencari informasi sebanyak banyaknya yang berhubungan dengan masalah penelitian.

Informan pada penelitian ini sebanyak 12 orang responden yang telah mewakili dan disesuaikan dengan peranannya dan yang mengetahui pemanfaatan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat di desa Nanga Mbaling Kabupaten Manggarai Timur.

D. Jenis dan Sumber Data

Untuk memperoleh data penulis memperoleh dari pengamatan, wawancara, dokumen dokumen yang terkait dengan penelitian ini. Sedangkan sumber data dalam penelitian ada dua:

1. Data Primer

Yaitu data yang dihasilkan melalui wawancara secara langsung dengan informan terutama dengan informan kunci, informan utama dan informan

tambahan yang menjadi subjek penelitian di desa Nanga Mbaling Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur.

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data data yang diperoleh dari sumber kedua yang merupakan perlengkapan meliputi media seperti internet, jurnal, dan buku yang menjadi referensi dan berkaitan dengan masalah.

E. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah pemanfaatan anggaran dana desa untuk pemberdayaan masyarakat desa. Objek penelitian ini dipilih dengan alasan karena kebijakan alokasi dana desa ini merupakan kebijakan baru dengan alokasi anggaran dana yang besar (60-100 juta per tahun setiap desa) dan pentingnya untuk diteliti karena pemanfaatan anggaran dana desa ini dalam rangka perwujudan otonomi di tingkat desa. Tanpa adanya fokus penelitian penelitian terjebak oleh banyaknya data yang diperoleh dilapangan. Oleh karena itu fokus penelitian akan berperan sangat penting dalam memandang dan mengarahkan penelitian.

Fokus penelitian bersifat tentatif seiring dengan perkembangan penelitian (Moleong 2004), menyatakan bahwa fokus penelitian dimaksudkan untuk membatasi studi kualitatif sekaligus membatasi penelitian guna memilih data yang relevan dan yang baik. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan penelitian pada analisis program kegiatan dalam pemanfaatan anggaran dana desa untuk memberdayakan masyarakat desa Nanga Mbaling Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. Aspek aspek yang menjadi fokus penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pemanfaatan anggaran dana desa untuk pemberdayaan masyarakat di desa Nanga Mbaling Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur.

2. Bagaimana dampak pemanfaatan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat di desa Mbaling Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti menggunakan alat bantu seperti alat tulis, alat perekam, lembar observasi dan pedomaan wawancara.

Pengumpulan data sebuah penelitian dapat dilakukan dengan berbagai metode metode penelitian seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Memerlukan alat bantu sebagai instrumen dengan narasumber, lembar observasi digunakan saat melakukan observasi dan kamera digunakan ketika peneliti melakukan observasi untuk merekam kejadian yang penting pada suatu peristiwa baik dalam bentuk foto maupun video.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara memperoleh data data yang diperlukan dalam penelitian antara lain sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan aktivitas penelitian dalam rangka mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui proses pengamatan langsung di lapangan. Peneliti berada di tempat itu, untuk mendapatkan bukti bukti yang valid dalam laporan yang akan diajukan.

Dalam penelitian Alhamid (2012), Observasi adalah metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian (Gulo, 2002).

Observasi ini dilakukan dengan cara peneliti mendatangi lokasi penelitian selanjutnya melakukan pengamatan dan pencatatan tentang fenomena fenomena yang diteliti di lokasi penelitian yaitu di desa Nanga Mbaling Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. Dilakukan berulang ulang secara informal sehingga mampu mengarahkan peneliti untuk sebanyak mungkin mendapatkan informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian.

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2010).

Ciri utama wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi dan sumber informasi.

Peneliti melakukan wawancara langsung terhadap informan yang bersangkutan dengan masalah yang diteliti dan mengajukan beberapa pertanyaan yang menjadi inti masalah penelitian kepada informan. selanjutnya para informan ini memberikan jawaban menurut informan masing masing. Hasil tanya jawab ini direkam dan dicatat untuk mempermudah penulis dalam melakukan tabulasi data

3. Dokumentasi

Dokumentasi ini digunakan sebagai bukti yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian dokumentasi dalam bentuk foto, rekaman, maupun catatan hasil wawancara pada saat melakukan penelitian dengan pihak bersangkutan.

H. Teknik Analisis Data

Menurut Miles dan Huberman dalam (Silalahi 2009), kegiatan analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Terjadi secara bersamaan berarti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sebagai sesuatu yang saling jalin menjalin merupakan proses siklus dan interaksi pada saat sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk sejajar yang membangun wawasan umum yang disebut analisis.

Menurut Miles dan Huberman, terdapat tiga teknik analisis data kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses ini berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung, bahkan sebelum data benar-benar terkumpul. Berikut teknik analisis yang digunakan peneliti:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses seleksi, penyederhanaan dan abstraksi. Cara mereduksi data adalah dengan melakukan seleksi membuat ringkasan atau uraian singkat menggolong-golongkan ke pola dengan membuat transkrip penelitian untuk mempertegas, memperpendek, membuat fokus membuat bagian yang tidak penting dan mengatur agar dapat ditarik kesimpulan.

Data yang berasal dari hasil wawancara dengan subjek penelitian dan dokumentasi yang didapat akan diseleksi oleh peneliti. Kumpulan data akan dipilih dan dikategorikan sebagai data yang relevan dan data yang mentah.

Data yang mentah dipilih kembali dan data yang relevan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian akan disiapkan untuk proses penyajian data.

2. Penyajian Data

Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun sehingga memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Agar dalam penyajian data tidak menyimpang dari pokok permasalahan maka sajian data dapat diwujudkan dalam bentuk matrik, grafis, jaringan atau bagan sebagai wadah panduan informasi tentang apa yang terjadi. Data disajikan sesuai dengan apa yang diteliti.

3. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan adalah usaha untuk mencari atau memahami makna, keteraturan pola pola penjelasan alur sebab akibat atau proporsi.

Kesimpulan yang ditarik segera diverifikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan kembali sambil melihat catatan lapangan agar memperoleh pemahaman yang lebih tepat. Selain itu juga dapat dilakukan dengan mendiskusikan. Hal tersebut dilakukan agar data yang diperoleh dan penafsiran terhadap data tersebut memiliki valid di atas sehingga kesimpulan yang ditarik menjadi kokoh.

Untuk mendapatkan hasil kesimpulan data yang valid, maka perlu diperhatikan langkah-langkah berikut ini:

a. Mencatat poin poin terpenting yang didapat dari lapangan kemudian diuraikan secara luas dan dikembangkan sesuai dengan keadaan, pengamatan, dan hasil data dilapangan.

b. Peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber informasi. Peneliti mengambil data secara detail mulai dari foto-foto, pengamatan, hasil wawancara dan dokumentasi.

c. Pemilihan informan yang tepat sesuai dengan pemilihan data.

d. Peneliti harus jeli dalam memperhatikan proses di lapangan agar hasilnya maksimal dan dapat dipertanggungjawabkan.

H. Teknik Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif perlu adanya teknik pemeriksaan untuk menetapkan keabsahan data. Untuk mendapatkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas kriteria tertentu (Moleong: 2006). Ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan, keteralihan, kepastian, dan ketergantungan.

1. Triangulasi Sumber

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan dengan tiga sumber data (Sugiyono 2007:274).

2. Triangulasi Teknik

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya untuk mengecek data bisa melalui wawancara, observasi, dokumentasi. Bila dengan teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar (Sugiyono 2007:274).

3. Triangulasi Waktu

Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar akan memberikan data lebih valid sehingga lebih kredibel. Selanjutnya dapat dilakukan dengan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda maka dilakukan secara berulang ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya (Sugiyono 2007:274). Pada penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen dan sekaligus sebagai pengumpul data.

Peneliti berperan sebagai partisipan penuh dimana peneliti merupakan perencana pelaksana pengumpul data, analisis, penafsir data dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. Peneliti juga menggunakan alat instrumen lain seperti dokumen dan kamera sebagai pendukung dalam teknik pengumpulan data.

Oleh karena itu kehadiran peneliti di lokasi juga sebagai pengamat penuh.

Disamping itu sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya disini mutlak diperlukan.

33 A. Deskripsi Umum Daerah Penelitian

1. Sejarah Singkat Kabupaten Manggarai Timur Sebagai Daerah Penelitian

Kabupaten Manggarai Timur lahir dari kesadaran dan cita cita Kesadaran akan fakta pembangunan yang belum maksimal dan cita cita untuk mengubah keadaan dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta pemerataan pembangunan. Kesadaran dan cita-cita itu menjadi aspirasi, Aspirasi menjadi wacana. Wacana menjadi gerakan bersama perjuangan untuk membentuk Kabupaten Manggarai Timur.

Dalam rekam peristiwa, wacana pembentukan Kabupaten Manggarai Timur telah digulirkan sejak 1986. Berbagai elemen masyarakat berjuang agar Kabupaten Manggarai dibagi menjadi tiga yakni Manggarai Barat, Manggarai Tengah dan Manggarai Timur. Wacana ini lahir dari kesadaran bahwa wilayah Manggarai terlalu luas. Jika dimekarkan, kualitas pelayanan publik akan lebih baik dan tepat sasaran.

Wacana Pembentukan Kabupaten Manggarai Timur terus diperjuangkan dan disuarakan namun belum menjadi arus utama. Antara akhir dekade 1980-an hingga akhir dekade 1990-an, wacana itu seperti kehilangan momentum. Ada namun belum melonjak ke permukaan.

Sekitar tahun 2000 wacana pembentukan Kabupaten Manggarai Timur kembali bergulir. Tonggaknya adalah pernyataan dukungan dari DPRD Kabupaten Manggarai terhadap usulan pemekaran Kabupaten Manggarai menjadi tiga kabupaten. Dukungan itu tertuang dalam pernyataan Nomor 1/DPRD/2000 tanggal 29 Mei 2000. Dukungan tersebut ditindaklanjuti melalui keputusan politik lembaga DPRD Manggarai Nomor 06/DPRD/2002 tanggal 10 Agustus 2002. Selama lima tahun aspirasi ini timbul tenggelam mengendap namun hidup dalam hati masyarakat.

Sejak tahun 2005 dukungan terhadap pembentukan Manggarai Timur mendapatkan angin segar. Dimulai dengan surat usulan Bupati Manggarai Nomor Pem. 135/22/I/2006, Keputusan DPRD Kabupaten Manggarai Nomor 03/DPRD/2006 tanggal 4 Februari 2006, Keputusan Nomor 04/DPRD/2006 tanggal 15 Februari 2006 dan Keputusan Nomor 05/ DPRD/2006, tanggal 17 Februari 2006. Usulan Gubernur NTT Nomor Pem. 135/04/2006 tanggal 27 Januari 2006 dan Keputusan DPRD Provinsi NTT Nomor 4/PIMP.DPRD/2006 tanggal 1 Februari 2006.

Dengan melihat kebutuhan masyarakat serta dukungan pemerintah optimis melingkupi semua elemen yang berjuang untuk membentuk Kabupaten Manggarai Timur. Gerakan bersama untuk memekarkan dan membentuk daerah otonom baru mulai dilaksanakan dengan teratur dan terencana. Jalur politik dan jalur budaya ditempuh. Pendekatan demi pendekatan gencar dilakukan puncak dari perjuangan ini adalah lahirnya Undang Undang Nomor 36 Tahun 2007. Tentang Pembentukan

Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang disahkan pada tanggal 17 Juli 2007.

2. Kondisi Geografis Dan Iklim

Kabupaten Manggarai Timur, secara geografis terletak antara 08º.14’ LS–

09.00 LS hingga 120º.20’ BT - 120º.55’° BT dengan batas fisik sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Sawu Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ngada Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Manggarai

Kabupaten Manggarai Timur adalah daerah otonom baru yang merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Manggarai. Kabupaten Manggarai Timur didirikan 23 November 2007. Pembentukan Kabupaten Manggarai Timur telah disahkan menjadi daerah otonom baru sesuai dengan Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2007. Tentang pembentukan Kabupaten Manggarai Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 102. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725), dengan demikian Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu Kabupaten dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Secara administrasi Kabupaten Manggarai Timur terdapat 9 Kecamatan dan 3 Kecamatan lain pemekaran baru, dan secara operasional 3 Kecamatan baru masih dalam proses pembentukan dan pembubaran administratif. Tetapi secara hukum telah dikukuhkan sebagai wilayah pemekaran kecamatan baru. Dilihat dari jumlah desa dari 6 Kecamatan yang ditampilkan Kecamatan Poco Ranaka Jumlah desanya

paling tinggi dibandingkan dengan Kecamatan lain. Sedangkan urutan kedua adalah Kecamatan Borong dengan jumlah 39 desa. Dari jumlah desa yang ditampilkan diikuti dengan luas wilayah yang paling besar adalah Kecamatan Poco Ranaka dan urutan kedua Kecamatan Borong. Dan yang menarik Kecamatan Kota Komba

paling tinggi dibandingkan dengan Kecamatan lain. Sedangkan urutan kedua adalah Kecamatan Borong dengan jumlah 39 desa. Dari jumlah desa yang ditampilkan diikuti dengan luas wilayah yang paling besar adalah Kecamatan Poco Ranaka dan urutan kedua Kecamatan Borong. Dan yang menarik Kecamatan Kota Komba

Dokumen terkait