• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Hasil Penelitian Terdahulu

Beberapa peneliti telah membahas perhitungan harga pokok produk untuk tempat usaha dan ditemukan kesamaan dan perbedaan yang disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 2. 1 Hasil Penelitian Terdahulu

Aspek Zarima Fajriana

3. Periode Analisis Januari 2019 Januari – Maret 2020 Januari - Maret 2021 4. Permasalahan Bagaimana

Lanjutan harga pokok proses - full costing.

3. Membuat laporan biaya produksi pada pabrik tahu Usaha Bhakti.

6. Metode Penelitian

Studi kasus deskriptif Penelitian yang digunakan adalah studi

Sumber : Fajriana (2019), Rahimah (2020)

Penelitian yang penulis lakukan secara umum memiliki kesamaan dengan penelitian terdahulu dalam beberapa hal : (1) periode analisis, yaitu bulan Januari - Maret; (2) permasalahan dalam memperhitungkan harga pokok produksi yang masih sesuai perkiraan pemilik, sehingga menimbulkan harga yang tidak tepat; (3) tujuan penelitian untuk mengetahui penggolongan biaya yang sesuai agar dapat memperhitungkan harga pokok produksi yansg tepat;

(4) metode yang digunakan, yaitu metode harga pokok proses - full costing.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan penulis memiliki perbedaan dengan penelitian tersebut dalam hal subyek penelitian dan tujuan penelitian.

Pada penelitian ini, selain untuk menggolongkan biaya dan menghitung harga pokok produksi, penulis juga ingin membuat laporan biaya produksi untuk periode bulan Januari – Maret 2021.

16

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus pada pabrik tahu. Studi kasus merupakan bagian dari metode kualitatif untuk mendalami suatu kasus dengan mengumpulkan sumber informasi dari objek yang ingin diteliti. Dalam penelitian ini, data disusun meliputi penggolongan biaya produksi serta penentuan dan perhitungan harga pokok produksi dengan metode harga pokok proses - full costing.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Menurut Winartha (2006:155) metode analisis deskriptif adalah mengolah, menganalisis dan menggambarkan berbagai kondisi dan situasi objek penelitian dengan sumber informasi yang diperoleh dari hasil wawancara serta mengamati masalah yang terjadi. Analisis data mulai dari mengelompokkan data sesuai variabel dan melakukan perhitungan terhadap data yang diperoleh agar dapat menjawab permasalahan dari penelitian. Sehingga diperoleh hasil penelitian yang dilakukan pada produk tahu dengan mengelompokkan biaya, memperhitungkan biaya, membuat jurnal yang diperlukan, dan membuat laporan biaya produksi.

B. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini meliputi : 1. Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi merupakan biaya produksi yang digunakan untuk membuat bahan baku menghasilkan produk jadi. Pengelompokkan biaya digolongkan menjadi tiga, antara lain bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (tetap dan variabel). Biaya tersebut dikelompokkan sesuai jenis, sifat, dan perilaku biaya dalam menentukan harga pokok produksi agar diketahui biaya sesungguhnya untuk menghasilkan suatu produk (Djumali dkk, 2014).

2. Metode Harga Pokok Proses dan Metode Full – Costing

Menurut Wardoyo (2016) metode harga pokok proses merupakan metode dimana barang diproduksi secara massal dan biaya produksi digolongkan, dihitung dan dibebankan kepada proses yang bersangkutan.

Untuk menghitung harga pokok produksi penulis menggunakan metode harga pokok proses, sedangkan dalam menentukan harga pokok produksi menggunakan metode full-costing.

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan penulis sebagai berikut : 1. Data Kualitatif

Penelitian kualitatif merupakan penelitian dengan mengumpulkan data terhadap fenomena yang terjadi dengan cara berkomunikasi dan memperoleh informasi dari objek (Anggito dan Setiawan, 2018:8). Dalam penelitian ini data kualitatif berupa hasil wawancara seperti, sejarah berdirinya usaha dan proses produksi.

2. Data Kuantitaif

Data kuantitaif adalah data perusahaan berbentuk angka yang diukur dalam satuan volume atau satuan uang (Djumali dkk, 2014). Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menggunakan data yang berbentuk angka seperti data pembelian bahan baku dan penjualan produk.

Sumber data yang digunakan penulis sebagai berikut : a) Data Primer

Data primer merupakan data yang diterima langsung dari pemilik. Data primer dalam penelitian ini berupa hasil penjelasan dari pemilik pabrik tahu.

b) Data Sekunder

“Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh tidak berhubungan langsung memberikan data kepada pengumpul data.

Sumber data yang dimaksud berupa bukti atau catatan yang tersimpan dalam arsip”(Sugiyono, 2018:137).

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut : 1. Peneliti Kepustakaan

Peneliti melakukan kunjungan kepustakaan untuk mengumpulkan berbagai sumber dari buku dan artikel yang berkaitan dengan masalah yang ingin dibahas.

2. Penelitian Lapangan

Peneliti turun langsung ke tempat objek yang akan diteliti. Menurut Prabowo (2019) penelitian lapangan dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Wawancara

Melakukan wawancara kepada pemilik, yaitu pemilik pabrik tahu terkait sejarah berdirinya usaha, kegiatan produksi, dan mendapatkan data yang diperlukan.

b. Observasi

Mengadakan kunjungan langsung ke tempat objek usaha yang akan diteliti, yaitu pabrik tahu.

c. Dokumentasi

Mengumpulkan dokumen atau catatan yang berkaitan dengan masalah yang ingin diteliti.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Mengumpulkan informasi mulai dari sejarah berdirinya hingga proses pembuatan produk.

2. Mengelompokkan biaya sesuai penggolongan pada teori akuntansi biaya.

3. Mengidentifikasi dan melakukan perhitungan penyusutan aktiva tetap yang digunakan.

4. Melakukan perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode harga pokok proses - full costing.

5. Membuat laporan biaya produksi bulan Januari – Maret 2021.

6. Mengetahui perbandingan laba kotor perhitungan dari pemilik dengan perhitungan dari penulis.

7. Menarik kesimpulan dan saran yang ditentukan pada usaha pabrik tahu.

20

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

1. Sejarah pabrik tahu Usaha Bhakti

Pabrik tahu usaha bakti merupakan industri rumah tangga yang bergerak dalam bidang manufaktur. Pabrik tahu Usaha Bhakti sudah berdiri cukup lama, yaitu mulai tahun 1991. Bapak H. Nurhamid merintis usaha ini sendiri dengan dibantu anak-anaknya. Proses produksi dilakukan oleh beberapa karyawan pabrik yang telah beliau ajarkan terlebih dahulu. Dari hasil proses produksi ini menghasilkan limbah yang nantinya akan digunakan peternakan beliau. Penjualan tahu ini dilakukan di tempat pabrik ini sendiri dan dipasarkan ke beberapa pasar, yaitu daerah Banjarmasin dan Martapura.

2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi adalah gambaran mengenai bagian-bagian yang ada dalam suatu organisasi serta jabatan yang dimiliki. Biasanya perusahaan dalam skala besar memiliki struktur organisasi yang lebih luas dibandingkan perusahaan skala kecil. Pada pabrik tahu Usaha Bhakti ini tidak memiliki struktur organisasi yang cukup detail mengenai pembagiannya, karena semua kegiatan operasional masih dilakukan pemilik secara langsung, mulai dari membeli bahan, memegang keuangan, hingga survei pemasaran. Hanya saja untuk kegiatan pengolahan tahu sudah dilakukan semuanya oleh karyawannya dan diawasi oleh anak beliau. Berdasarkan hasil wawancara, penulis dapat membuatkan struktur organisasi sederhana untuk pabrik tahu Usaha Bhakti, sebagai beriku.

Gambar 4. Struktur organisasi pabrik tahu Usaha Pabrik

Peran dari masing-masing posisi yang ada dalam struktur organisasi pabrik tahu Usaha Bhakti memiliki tugas yang berbeda, antara lain sebagai berikut :

a. Pimpinan

Pimpinan pabrik tahu Usaha Bhakti juga sebagai pemiliknya yang berada di posisi paling atas pada struktur organisasi, yaitu Pak H. Nurhamid. Beliau bertugas mengkoordinir semua kegiatan produksi tiap harinya. Selain itu, beliau juga bertanggungjawab terhadap kegiatan usahanya.

b. Pengawas

Pengawas bertugas mengawasi karyawan dalam kegiatan produksi dan mengontrol proses pengolahan tahu. Bagian pengawas dipegang oleh anaknya Pak H. Nurhamid, yaitu Bu Aini dan suaminya.

c. Bagian keuangan

Bagian ini bertugas mengelola keuangan dalam kegiatan usaha pabrik tahu, seperti mengelola uang masuk atas penjualan produk dan uang keluar atas pembelian bahan baku dan pengeluaran biaya lain-lainnya. Bagian ini dikelola langsung oleh pemilik, yaitu Pak H.

Bagian pemasaran bertugas memasarkan produk tahu ke berbagai tempat, seperti pasar, rumah makan, ataupun warung sayuran. Bagian ini dipegang oleh Pak Anto dan Pak Anur. Wilayah pemasaran untuk produk tahu Usaha Bhakti ini ada di Banjarmasin dan Martapura.

d. Bagian Pembelian

Bagian ini bertugas membeli bahan-bahan pokok dan bahan pembantu dalam proses produksi tahu, seperti membeli kedelai, kayu bakar, minyak dan bahan lainnya yang diperlukan untuk produksi.

Bagian pembelian juga berkoordinasi dengan bagian keuangan apabila ada harga bahan baku yang naik. Bagian ini dipegang oleh Pak Iwan dan Pak Dwi.

e. Bagian produksi

Bagian ini merupakan kegiatan utama dalam usaha ini, yaitu mengolah berbagai macam jenis tahu. Bagian produksi diawasi oleh bagian pengawas, yaitu pemiliknya langsung Pak H. Nurhamid dan anaknya. Pada bagian produksi ini tenaga kerja terbagi menjadi tiga bagian berdasarkan tugas dan lamanya berkerja, yaitu karyawan pemula, karyawan menengah dan karyawan senior. Karyawan pemula tugasnya belajar proses membuat tahu dan membantu membuat tahu putih mentah, lalu karyawan menengah dan senior tugasnya membuat ketiga jenis tahu (tahu putih mentah, tahu goreng, dan tahu empong).

Selain itu karyawan menengah juga merangkap tugas pada bagian pembelian dan survei pasar, sedangkan karyawan senior merangkap tugas pada bagian pembelian dan pemasaran. Bagian produksi terdiri dari Pak Mus, Pak Yandi, Pak Aryo, Pak Wanto, Pak Edy, Pak Zakir dan Pak Ahmad.

f. Bagian survei pasar.

Bagian ini bertugas untuk menyurpei harga tahu di pasaran, apakah terjadi kenaikan atau penurunan harga tahu pada saingan pasar. Apabila harga kedelai naik, maka pemilik dan karyawan bagian

survei melakukan survei ke pasar agar menyesuaiakan harga tahu yang diolah dengan harga tahu di pasaran. Selain itu juga bertugas melayani penjualan tahu di pabrik langsung. Bagian survei pasar dipegang oleh Pak Ahsan.

3. Alat dan bahan yang digunakan

Dalam proses pembuatan produk tahu pada pabrik tahu Usaha Bhakti tidak rumit dan bahan yang digunakan cukup sederhana.

Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan.

a. Alat

Alat yang digunakan untuk proses pembuatan tahu dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.

Tabel 4. 1 Alat-alat untuk pembuatan tahu

No. Nama alat Kegunaan Gambar

1. Penggiling Alat ini digunakan untuk menggiling biji kedelai hingga menjadi bubur kedelai.

2. Ember Ember digunakan untuk menampung air, menaruh bubur kedelai dan menaruh tahu putih yang sudah selesai dipotong.

Lanjutan

3. Drum besar Drum ini digunakan untuk menaruh bubur kedelai yang akan diberikan obat.

4. Tungku rebusan

Tungku ini khusus digunakan untuk proses perebusan bubur kedelai.

5. Papan Papan ini digunakan untuk menaruh tahu yang telah dicetak, yang kemudian akan dipotong sesuai ukuran.

6. Wajan dan tungku penggoreng-an

Wajan dan tungku penggorengan ini digunakan untuk menggoreng tahu empong dan tahu putih goreng.

Lanjutan

7. Keranjang Keranjang digunakan untuk menaruh tahu-tahu yang siap untuk dijual.

8. Kain saringan Kain ini digunakan untuk menyaring bubur kedelai agar bubur kedelai

menjadi halus dan terpisah dari ampasnya.

9. Baskom Baskom digunkan untuk merendam tahu putih yang telah dipotong.

b. Bahan

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses produksi tidak terlalu banyak dan mudah untuk didapatkan antara lain sebagai berikut :

1. Bahan tahu putih mentah a) Air

b) Kedelai c) Cuka d) Garam

2. Bahan tahu goreng dan tahu empong

Pada umumnya proses produksi pengolahan tahu pada pabrik tahu Usaha Bhakti sama saja dengan pengolahan tahu di tempat yang lain. Hanya saja pabrik tahu Usaha Bhakti masih menerapkan cara tradisional. Berikut adalah tahap-tahap produksi untuk mengolah tahu putih mentah dan tahu goreng pada pabrik tahu Usaha Bhakti, sebagai berikut :

a. Penyortiran

Proses penyortiran dilakukan untuk memilah biji kedelai yang berkualitas bagus dan layak diolah. Agar menghasilkan bubur kedelai yang baik dan tidak banyak meninggalkan ampas.

b. Pencucian

Setelah biji kedelai selesai disortir, lalu dicuci untuk membersihkan kotoran yang masih terbawa dalam biji kedelai.

c. Perendaman

Setelah biji kedelai selesai dicuci, selanjutnya adalah proses perendaman. Hal ini dilakukan agar tekstur biji kedelai menjadi lunak sehingga mempermudah saat proses penggilingan dan ekstraksi sari kedelai dari ampasnya. Caranya dengan menaruh biji yang telah disortir ke dalam ember atau wadah besar lalu dimasukkan air biasa dan didiamkan selama tiga jam.

d. Penggilingan

Biji kedelai yang sudah dicuci, kemudian digiling agar menjadi bubur kedelai. Proses ini dilakukan agar saat penyaringan ekstraksi

protein kedalam susu kedelai lebih mudah dan lebih banyak menghasilkan sari kedelai. Bubur kedelai yang dihasilkan dalam proses penggilingan harus benar-benar lembut agar kualitas yang dihasilkan menjadi bagus.

e. Perebusan

Bubur kedelai yang diperoleh dari proses penggilingan kemudian direbus selama 15 menit dengan menambahkan air dua sampai 3 ember ukuran sedang, hal ini bertujuan agar bubur kedelai menjadi encer dan memudahkan pada saat proses penyaringan.

Selama proses perebusan akan menghasilkan busa. Busa ini harus diangkat dan dipisahkan ke tempat lain. Dari pengamatan pabrik tahu Usaha Bhakti, rata-rata perharinya memerlukan 6 sampai 7 kuintal kedelai mentah yang akan memadat menjadi 5 kuintal.

f. Penyaringan

Setelah bubur kedelai selesai dimasak, kemudian disaring menggunakan kain belacu untuk mendapatkan sari kedelai.

Penyaringan dilakukan dengan cara menaruh bubur kedelai diatas kain belacu yang digantung lalu digoyang-goyangkan sampai bubur kedelai terperas semua. Selama proses penyaringan juga perlu ditambahkan air sebanyak satu atau dua ember agar sari kedelai tersaring maksimal. Selama proses penyaringan ini akan menghasilkan ampas. Ampas ini akan dikumpulkan dan diberikan ke bagian peternakan.

g. Pengobatan

Bubur kedelai hasil saringan kemudian ditaruh kedalam drum besar dan dikasih cuka sebanyak 3 sampai 4 ember untuk proses pengobatan tahu. Selama proses pengobatan tahu ini nanti akan muncul gumpulan seperti agar-agar, lalu sisanya yang tidak terbentuk agar-agar akan dibuang, jika sisanya tidak dibuang akan membuat rasa tahunya menjadi asam.

h. Penindihan

Gumpalan agar-agar bisa dilanjutkan ke proses penindihan.

Proses ini, dilakukan dengan cara menindih gumpalan agar-agar dengan batu yang besar dan ditindih selama kurang lebih 10 menit.

Proses ini dilakukan untuk membuang sisa air yang masih ada didalam tahunya.

i. Pemotongan

Setelah dari proses penindihan, dilanjutkan ke proses pemotongan. Pada proses ini tahu dipotong kotak-kotak, ada juga yang dipotong sesuai ukuran dari pelanggan, misalnya 7cm x 8cm atau 8cm x 8cm.

j. Penggorengan

Pada pabrik tahu Usaha Bhakti memiliki tiga macam tahu yang dijual, yaitu tahu padat putih, tahu padat goreng dan tahu empong.

Untuk tahu padat putih setelah proses pemotongan bisa langsung dipasarkan. Sedangkan untuk tahu padat goreng dan tahu empong harus digoreng dulu. Namun, terkhusus untuk tahu empong setelah proses pemotongan tidak bisa langsung digoreng dan harus didiamkan seharian. Sehari setelah pemotongan baru tahunya bisa digoreng menjadi tahu empong. Pada proses penggorengan tahu padat biasanya memerlukan minyak goreng sebanyak 2 – 4 kaleng dan untuk tahu empong maksimal bisa sampai 6 kaleng, yang mana perkaleng sebanyak 18 liter.

Proses pengolahan tahu empong juga sama dengan proses pengolahan tahu putih, hanya saja ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan saat proses produksinya, yaitu pada proses pengobatannya harus dilakukan dengan pelan-pelan dan air sari kedelai harus benar-benar panas serta busa saat proses perebusan tidak boleh dibuang. Saat proses pengolahan tahu empong selesai, tidak boleh langsung digoreng, harus didiamkan dulu selama satu hari kemudian bisa digoreng dan dipasarkan.

5. Hasil produksi dan pemasaran

Produk yang dihasilkan ada tiga jenis tahu dengan berbagai macam ukuran, yaitu tahu putih mentah, tahu goreng dan tahu empong. Setiap harinya pemilik sudah menargetkan jumlah tahu yang diproduksi, kemudian dipasarkan ke beberapa pasar tradisional yang ada di Banjarmasin dan Martapura. Selain itu, pemilik juga memiliki strategi pemasaran dengan menjual tahu di pabriknya langsung atau memasok ke beberapa pelanggan yang memiliki usaha rumah makan. Daftar penjualan pada pabrik Tahu Usaha Bhakti dari bulan Januari – Maret 2021 disajikan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 4. 2 Daftar Penjualan Tahu Bulan Januari-Maret 2021

Tahu Putih Mentah 1040 Rp 28.000,00 Rp 29.120.000,00

Sumber : Pabrik tahu Usaha Bhakti diolah kembali oleh penulis Produksi pada pabrik tahu Usaha Bhakti dilakukan terus menerus tanpa menunggu adanya pesanan. Maka dari itu, metode yang tepat dalam memperhitungkan harga pokok produksinya adalah harga pokok proses, dimana biaya produksi digolongkan, dihitung dan dibebankan kepada proses yang bersangkutan. Berikut adalah tabel hasil produksi pada pabrik tahu Usaha Bhakti selama bulan Januari – Maret 2021.

Tabel 4. 3 Hasil Produksi Tahu Pada Bulan Januari-Maret 2021

1 Tahu Putih Mentah 3588 46%

2 Tahu Goreng 2262 29%

Berikut perhitungan persentase pembebanan untuk tabel diatas : a. Tahu putih mentah : 3.588

6. Penggolongan biaya menurut perusahaan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, perusahaan menggolongkan biaya menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya operasional. Rincian dari biaya tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4. 4 Penggolongan Biaya Menurut Perusahaan

No. Pengelompokkan biaya Keterangan

1. Biaya bahan baku Kedelai Air

Obat (cuka) Garam

Minyak goreng 2. Biaya tenaga kerja Upah karyawan pemula

Upah karyawan menengah Upah karyawan senior 3. Biaya operasional Listrik

Kayu bakar Bensin

7. Perhitungan Harga Pokok Produksi Menurut Perusahaan

Perhitungan harga pokok produksi pada pabrik tahu Usaha Bhakti yang dihasilkan selama bulan Januari-Maret 2021 dapat dilihat pada rincian sebagai berikut.

a. Biaya bahan baku

Pada pengolahan tahu bahan baku yang digunakan tidak terlalu banyak, antara lain kedelai, air, garam, dan obat (cuka).

Berikut rincian biaya disajikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4. 5 Biaya Bahan Baku Menurut Perusahaan Bulan Januari-Maret 2021

1 Kedelai 78 Kali 100 Kg Rp 10.000,00 Rp 78.000.000,00

Sumber : Pabrik tahu Usaha Bhakti diolah kembali oleh penulis b. Biaya tenaga kerja

Biaya tenaga kerja pada pabrik tahu Usaha Bhakti terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok ini diklasifikasikan berdasarkan tingkat lamanya bekerja di perusahaan dan tugas yang diberikan, antara lain gaji karyawan pemula, menengah dan senior. Rincian biaya tenaga kerja dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. 6 Biaya Tenaga Kerja Menurut Perusahaan Bulan Januari-Maret 2021

Sumber : Pabrik tahu Usaha Bhakti diolah kembali oleh penulis

No. Kelompok Gaji Jumlah Gaji per Bulan Bulan

c. Biaya operasional

Biaya operasional menurut perusahaan adalah biaya yang dikeluarkan selain untuk membeli bahan baku dan gaji karyawan.

Rincian biaya operasional dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. 7 Biaya Operasional Menurut Perusahaan Bulan Januari-Maret 2021

No. Nama Waktu

bekerja

Jumlah per produksi Total

1. Listrik 78 hari - Rp. 5.250.000,00

2. Kayu bakar 78 hari Rp. 550.000 Rp. 42.900.000,00

3. Bensin 78 hari Rp. 96.000 Rp. 7.488.000,00

Jumlah Rp. 55.638.000,00

Sumber : Pabrik tahu Usaha Bhakti diolah kembali oleh penulis Dari penjabaran biaya diatas, penulis merangkum biaya-biaya produksi yang dikeluarkan pada tabel berikut.

Tabel 4. 8 Rangkuman Biaya Produksi Menurut Perusahaan Bulan Januari-Maret 2021

No. Jenis Biaya Keterangan Total

1. Biaya bahan baku Kedelai Rp.78.000.000,00

Air Rp. 2.250.000,00

Garam Rp. 702.000,00

Cuka Rp. 7.800.000,00

Minyak goreng Rp. 30.000.000,00 Jumlah biaya bahan baku Rp.118.752.000,00

2. Biaya tenaga kerja Pemula Rp. 12.000.000,00

Menengah Rp. 20.400.000,00 Senior Rp. 30.000.000,00 Jumlah biaya tenaga kerja Rp. 62.400.000,00

3. Biaya operasional Listrik Rp. 5.250.000,00

Kayu bakar Rp. 42.900.000,00

Bensin Rp. 7.488.000,00

Jumlah biaya operasional Rp. 55.638.000,00

Total Rp. 236.790.000,00

8. Penentuan Harga Pokok Produksi untuk Tiap Jenis Produk Menurut Perusahaan

Berdasarkan hasil perhitungan yang didapatkan penulis pada pabrik tahu Usaha Bhakti diperoleh jumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi tahu selama bulan Januari-Maret 2021 sebesar Rp.236.790.000 dan total penjualan yang didapatkan sebesar Rp. 254.163.000 (lihat tabel 4.2), sehingga diperoleh laba kotor sebesar Rp. 17.373.000. Berikut adalah perhitungan alokasi harga pokok produksi menurut perusahaan.

Tabel 4. 9 Alokasi Harga Pokok Produk Tahu Menurut Perusahaan

1 Tahu Putih Mentah 46% Rp 54.625.920 Rp 28.704.000 Rp 25.593.480 Rp 108.923.400 didapatkan total keseluruhan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 236.790.000.

Dari tabel alokasi diatas dapat diketahui pula harga pokok produk untuk ketiga jenis tahu, yaitu sebagai berikut.

 Tahu putih mentah : 𝑅𝑝.108.923.400,00

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis menyarankan perhitungan dan penggolongan biaya dalam memperhitungkan harga pokok produksi. Penulis membatasi penelitiannya pada bulan Januari – Maret 2021.

1. Penggolongan Biaya Yang Disarankan Penulis

Dilihat dari segi akuntansi dalam menggolongkan biaya, pabrik tahu Usaha Bhakti masih belum menggolongkan biaya dengan tepat.

Pemilik menggolongkan biaya operasional untuk biaya yang dikeluarkan selain biaya bahan baku dan biaya gaji karyawannya, seharusnya biaya tersebut masuk ke dalam biaya overhead. Selain itu pemilik belum memperhitungkan penyusutan mesin dan alat-alat yang digunakan. Maka dari itu penulis menyarankan penggolongan biaya sebagai berikut.

a. Biaya bahan baku langsung Tahu Putih Mentah 1) Kedelai

b. Biaya bahan baku langsung Tahu Goreng dan Tahu Empong 1) Kedelai

2) Minyak goreng

c Biaya bahan baku tidak langsung 1) Garam

4) Penyusutan mesin dan peralatan.

5) Bensin 6) Obat (Cuka)

2. Biaya Yang Seharusnya Diperhitungkan

Selama melakukan penelitian, penulis menemukan penggolongan biaya yang kurang tepat dalam membebankan pada produk, yaitu

biaya penyusutan mesin dan peralatan tidak diperhitungkan padahal memiliki mesin dan beberapa peralatan. Ada pula penggunaan listrik dan air dalam kegiatan produksi yang digabung dengan penggunaan dalam rumah tangga. Maka dari itu, penulis ingin menghitung biaya penyusutan dari mesin dan peralatan serta penggunaan biaya listrik dan air dalam kegiatan produksi agar dapat diperoleh harga pokok produksi yang tepat.

3.

Penentuan Harga Pokok Produksi Yang Disarankan Penulis

3.

Penentuan Harga Pokok Produksi Yang Disarankan Penulis

Dokumen terkait