TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian yang berhubungan dengan masalah ekonomi regional.Hasil peneliti terdahulu tersebut dapat dipakai sebagai bahan masukan serta bahan pengkajian yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi antara lain :
A. Yukanti Sriyatiningsih (1999 : 85) dengan judul, “ Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Daerah Tingkat II Kabupaten Trenggalek “. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara simultan penerimaan pajak daerah, pengeluaran pemerintah daerah, dan tingkat inflasi berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil hipotesis secara parsial penerimaan pajak daerah dan pengeluaran pemerintah daerah mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi sedangkan tingkat inflasi mempunyai pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan diantara ketiga variabel bebas, variabel yang paling dominan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Daerah Tingkat II Kabupaten Trenggalek : adalah tingkat inflasi.
B. Aprianto Dwi H (2001 : 21) dengan judul, “ Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewah Yogyakarta “. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara simultan Penanaman Modal Dalam Negeri, Penanaman Modal Asing, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga kredit berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di
Daerah Istimewah Yogyakarta. Hasil uji parsial Penanaman Modal Dalam Negeri berpengaruh positif dan nyata terhadap pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewah Yogyakarta. Sedangkan Penanaman Modal Asing, tingkat inflasi, tingkat suku bunga kredit tidak berpengaruh secra nyata terhadap pertumbuhan ekonomi
C. Iqomadin (1999;ix) dengan judul, “Analisa Ekonomi Regional Disatuan Wilayah Pembangunan I Gerbang Kertasusila Penerapan Teori Basis Ekonomi Tahun 1993-1996”, dengan hasil penelitian menggunakan
analisa Location Quotien dan Analisa Shit Share dapat disusun skala
prioritas sebagai berikut : prioritas pertama dengan lokasi pengembangan sebagai berikut ; sektor industri pengolahan di Gresik dan Sidoarjo, sektor Listrik, Air, Gas, dan Air bersih di Kabupaten Sidoarjo dan Kotamadya Mojokerto. Prioritas kedua dengan lokasi pengembangan sebagai berikut ; sektor pertambangan dan penggalian di Kabupaten Gresik dan Kabupaten Mojokerto, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi Surabaya dan Kotamadya Mojokerto, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di Surabaya. Prioritas ketiga dengan lokasi pengembangan sebagai berikut :sektor pertanian di Kabupaten Gresik, sektor jaa-jasa di Kabupaten Mojokerto, Kotamadya Mojokerto, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bangkalan.
D. Prasodjo (1998:viii) dengan judul, “Peranan Pemerintah Pusat Untuk Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur Tahun 1990-1991”, dengan hasil penelitian sebagai berikut: hasil
analisa regresi sederhana Double log, dapat disimpulkan bahwa ;
Pengeluaran pemerintah pusat ke daerah tingkat I Propinsi Jawa Timur dan Investasi swasta ternyata mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, hal tersebut dapat dilihat dari nilai
koefisien determinasi (R2) sebesar 0,79 yang berarti kontribusi dari total
pengeluaran pemerintah pusat di daerah yang berbentuk bantuan Daerah Tingkat I dan alokasi dan sektoral ditambah dengan investasi swasta yang berupa penanaman modal asing sebesar 79%, ini menunjukkan bahwa peranan pengeluaran pemerintah pusat dan investasi swasta di Jawa Timur masih diatas 50%. Perbedaan penelitian yang sekarang dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah pada wilayah yang diambil untuk penelitian-penelitian, apabila penelitian terdahulu lebih banyak terfokus pada Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) I sedangkan untuk penelitian kali ini wilayah yang diambil adalah Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) IV yang meliputi ; Kotamadya Pasuruan, kabupaten Pasuruan, Kotamadya Malang, Kabupaten Malang.
E. Sophiyani (1999:x) dengan judul, ”Implementasi Pembangunan Daerah Tingkat I Dalam Kaitan Pengembangan Perwilayahan Pembangunan Di Suatu Wilayah Pembangunan VIII Madiun”, dengan menggunakan analisa
Location Quotien dan Indeks Fungsional Wilkinson dapat ditarik
kesimpulan : pertama, sektor pertanian secara umum sektor ini menjadi corak bagi perekonomian seluruh daerah dan berperan sangat menonjol terhadap PDRB di Daerah tingkat II se-satuan Wilayah Pembangunan VIII
Madiun (IFS 0,33). Kedua, sektor perdagangan, hotel dan restoran secara umum menjadi corak bagi perekonomian seluruh Daerah Tingkat I di satuan Wilayah Pembangunan VIII Madiun (IFS 0,33).
F. Dewi (1998,ix) dengan judul, “ Peranan Industri Di Satuan Wilayah Pembangunan I Gerbangkertasusila Dalam Rangka Menunjang Pertumbuhan Industri Jawa Timur”. Dengan menggunakan analisa
Location Quotien dan Indeks Fungsional Wilkinson dapat ditarik
kesimpulan : pertama, sektor industri di satuan wilayah pembangunan I Gerbangkertasusila ternyata mampu memberikan sumbangan terbesar pada Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur. Hal ini terlihat selama
tahun 1991-1995 berdasarkan Location Quotien dan Indeks Fungsional
sektoral. Predikat yang melekat pada Satuan Wilayah Pembangunan I
Gerbangkertasusila berdasarkan indeks sektoral adalah sektor industri perdagangan. Kedua, sektor industri terkonsentrasi di kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Gresik, Surabaya/Satuan Wilayah Pembangunan I Gerbangkertasusila. Kabupaten Pasuruan, Malang/Satuan Wilayah Pembangunan VI Malang – Pasuruan dan Kotamadya Kediri/Satuan wilayah Pembangunan VII Kediri dan sekitarnya. Keberadaan industri didaerah tersebut sangat ditunjang oleh adanya sarana dan prasarana, baik yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta, seperti kawasan industri Gresik, kawasan industri Tandes, kawasan industri Rungkut, kawasan industri Sidoarjo
G. Listyowati (1999:xi), dengan judul “Analisis Aspek-Aspek Aglomerasi Ekonomi Di Surabaya”, dengan menggunakan metode atau pendekatan lokasional serta pendekatan biaya friksi spasial, dapat disimpulkan ; Pertama, kota Surabaya mengalami perkembangan yang tidak seimbang diberbagai wilayah dengan adanya aglomerasi penduduk dan kegiatan ekonomi ditengarai sudah terbentuk sejak masa penjajahan, atau dengan kata lain bahwa aglomerasi yang tejadi saat ini merupakan warisan dari pemerintah kolonial yang pernah menjajah di Surabaya dalam kurun waktu yang cukup lama. Kedua, penebaran yang tidak merata terlihat pada kawasan-kawasan di pusat kota atau yang dekat dengan pusat kota dimana kawasan kota ini dipadati baik oleh penduduk maupun kegiatan usaha. Sebaliknya kawasan-kawasan dipinggiran kota, khususnya dibagian timur dan barat kota jumlah penduduk dan kegiatan ekonominnya masih jarang.
H. Jurnal ekonomi dari M. Nawir Messi berjudul " Analisis Faktor Dan Pertumbuhan Ekonomi 2001”
Variable terikat adalah Produk Domestik Regional Bruto (Y), dan variable
bebasnya adalah Investasi (X1), Pengeluaran Pemerintah (X2), dan Eksport
(X3) berpengaruh terhadap variable (Y). sedangkan secara persial
pengaruh investasi (X1) diketahui thitung = 7,3709 > ttabel = 0,05 sehingga
(X1) berpengaruh terhadap (Y), Pengeluaran Pemerintah diketahui thitung =
ekspor kerja (X3) diketahui thitung = 3,137 ttabel = 0,05 sehingga (X3)
berpengaruh terhadap variable (Y).
I. Listyowati (1999:xi) dengan judul “Analisis Aspe – Aspek Aglomerasi
Ekonomi Di Surabaya”, dengan menggunakan metode atau pendekatan lokasional serta pendekatan biaya friksi spasial, dapat disimpulkan ; Pertama, kota Surabaya mengalami perkembangan yang tidak seimbang diberbagai wilayah dengan adanya aglomerasi penduduk dan kegiatan ekonomi ditengarai sudah terbentuk sejak masa penjajahan, atau dengan kata lain bahwa aglomerasi yang tejadi saat ini merupakan warisan dari pemerintah kolonial yang pernah menjajah di Surabaya dalam kurun waktu yang cukup lama. Kedua, penebaran yang tidak merata terlihat pada kawasan-kawasan di pusat kota atau yang dekat dengan pusat kota dimana kawasan kota ini dipadati baik oleh penduduk maupun kegiatan usaha. Sebaliknya kawasan-kawasan dipinggiran kota, khususnya dibagian timur dan barat kota jumlah penduduk dan kegiatan ekonominnya masih jarang.
Perbedaan pelaksanaan penelitian yang dilakukan peneliti terdahulu dengan penelitian saya adalah secara mendasar terletak pada obyek dan sumber data, di mana pada penelitian saya, obyek dan sumber data lebih fokus ke daerah setingkat kecamatan di Daerah Tingkat II kabupaten Gresik, sedangkan penelitian terdahulu hanya sebatas kabupaten saja.