• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian Lestari (1994) yang bertopik hubungan status sosial ekonomi petani dengan tingkat adopsi inovasi sapta usaha pertaniaan mengungkapkan bahwa luas lahan petani, tingkat pendapatan petani, dan pendidikan mempunyai hubungan positif nyata dengan tingkat adopsi teknologi sapta usaha pertanian. Ini berarti semakin luas penguasaan lahan petani, semakin tinggi tingkat pendapatan petani, dan semakin tinggi tingkat pendidikan formal petani maka semakin tinggi pula tingkat adopsi, sedangkan umur dan pengalaman berusaha tani memiliki hubungan negatif nyata dengan tingkat adopsi. Ini berarti semakin tinggi umur petani dan semakin lama pengalaman berusaha taninya maka semakin rendah tingkat adopsinya, sementara besar tanggungan keluarga berhubungan tidak nyata dengan tingkat adopsi, berarti tidak terdapat keeratan hubungan antara besar tanggungan keluarga dengan tingkat adopsi teknologi sapta usaha pertanian.

Pada penelitian Novarianto (1999) yang bertopik adopsi inovasi teknologi TABELA bagi petani padi sawah, faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi tidak hanya status sosial ekonomi petani seperti penelitian Lestari di atas. Secara garis besar, faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi terdiri dari karakteristik internal petani dan karakteristik eksternal petani. Karakteristik internal petani terpilih antara lain: umur, lama pendidikan formal, pengalaman berusaha tani, jumlah tanggungan keluarga, penghasilan usahatani, motivasi petani mengikuti TABELA, frekuensi mengunjungi sumber informasi, dan pandangan petani terhadap sifat-sifat inovasi. Karakteristik internal petani terpilih pada penelitian ini hampir sama dengan status sosial ekonomi petani pada penelitian Lestari, hanya saja ditambah dengan motivasi petani mengikuti TABELA, frekuensi mengunjungi sumber informasi, dan pandangan petani terhadap sifat-sifat inovasi.

Adapun karakteristik eksternal petani terpilih adalah tingkat ketersedian informasi tentang TABELA, intensitas penyuluhan, dan ketersedian saprodi.

Berdasarkan hasil uji korelasi rank Spearman, karakteristik internal petani yang berhubungan nyata dengan tingkat penerapan teknologi TABELA adalah lama pendidikan formal, frekuensi mengunjungi sumber informasi, tingkat keuntungan, dan tingkat kesesuaian sedangkan karakteristik eksternal petani yang berhubungan nyata dengan tingkat penerapan teknologi TABELA adalah intensitas penyuluhan.

Lama pendidikan formal berhubungan nyata dengan tingkat adopsi inovasi pada dua penelitian di atas, namun pada penelitian Lestari (1994) berhubungan positif nyata sedangkan pada penelitian Novarianto (1999) berhubungan negatif nyata. Hal ini dikarenakan pada penelitian Lestari (1994), pendidikan bagi

responden akan membuka jalan pikiran seseorang sehingga memudahkan menerima sesuatu yang baru yang dirasakan bermanfaat, dengan kata lain bersedia adopsi inovasi. Pada penelitian Novarianto (1999), hubungan negatif nyata menunjukkan lamanya pendidikan satu tahun dan dua tahun sampai dengan enam tahun tidak memberikan pengaruh pada penerapan teknologi TABELA.

Tingkat pendidikan mungkin hanya menciptakan suatu dorongan agar mental untuk menerima inovasi yang menguntungkan dapat diciptakan.

Faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi inovasi pada penelitian Sadono (1999) yang bertopik tingkat adopsi inovasi pengendalian hama terpadu oleh petani, hampir sama dengan penelitian Novarianto (1999), yaitu internal petani dan eksternal petani akan tetapi karakteristik terpilih dari kedua faktor tersebut berbeda khususnya pada faktor eksternal petani, yaitu status keanggotaan dalam kelompok tani dan pemandu, sedangkan karakteristik terpilih pada faktor internal petani terdiri dari: luas lahan garapan, tingkat pendidikan formal, pekerjaan utama, dan persepsi terhadap PHT. Dari empat karakteristik terpilih faktor internal petani hanya dua karakteristik yang sama dengan penelitian Novarianto (1999), yaitu luas lahan garapan dan tingkat pendidikan formal.

Faktor internal petani yang berkorelasi nyata dengan tingkat penerapan PHT adalah pendidikan formal dan persepsi petani terhadap PHT, sementara luas lahan dan pekerjaan utama sebagai petani tidak berhubungan nyata dengan tingkat penerapan PHT. Faktor eksternal petani yang meliputi status keanggotaan dalam kelompok tani dan pemandu berkorelasi nyata dengan tingkat penerapan PHT.

Roswita (2003), dalam penelitiannya yang bertopik tahapan proses keputusan inovasi pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan agen hayati,

menambah satu faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi dari penelitian Sadono (1999) yaitu sifat inovasi sehingga faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi menjadi tiga faktor sebagai berikut: karakteristik internal petani, karakteristik eksternal petani, dan sifat inovasi. Faktor yang ditambahkan oleh Roswita, sebenarnya bukanlah faktor baru. Faktor ini dalam penelitian Novarianto (1999) merupakan bagian dari faktor internal.

Karakteristik internal petani terpilih pada penelitian ini lebih banyak dibandingkan tiga penelitian di atas, yang terdiri atas: tingkat pendidikan formal, pengalaman berusaha tani, luas lahan usahatani, kekosmopolitan, keinovatifan usahatani, sikap kepemimpinan, sikap kewirausahaan, dan keanggotaan dalam kelompok tani. Faktor karakteristik eksternal petani terdiri atas: ketersediaan sumber informasi, intensitas penyuluhan, ketersediaan sarana, peluang pasar, dan intensitas promosi pestisida. Faktor lainnya adalah sifat inovasi yang terdiri atas:

keuntungan relatif (relative advantage), kesesuaian (compatibility), kerumitan (complexity), kemudahan dicoba (triability), dan kemudahan diamati (observability).

Penelitian Roswita (2003) mengungkapkan terdapat beberapa faktor karakteristik internal petani, karakteristik eksternal dan sifat inovasi agen hayati yang berhubungan nyata dengan tahapan proses keputusan adopsi inovasi pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan agen hayati, dengan rincian pertahapnya sebagai berikut:

a) Pada tahap pengenalan, faktor yang berhubungan nyata, diurut dari yang paling erat hubungannya adalah: keinovatifan usaha tani, sikap kewirausahaan, ketersediaan sarana, ketersediaan sumber informasi,

kemudahan dicoba, kemudahan diamati, kerumitan (berhubungan negatif), intensitas penyuluhan, tingkat kesesuaian, keuntungan relatif, tingkat pendidikan formal, sikap kepemimpinan, kekosmopolitan, dan peluang pasar.

b) Pada tahap persuasi, faktor yang berhubungan nyata diurut dari yang paling erat adalah: kemudahan dicoba, keinovatifan usahatani, kerumitan (berhubungan negatif), ketersediaan sumner informasi, ketersediaan sarana, sikap kewirausahaan, sikap kepemimpinan, intensitas penyuluhan, keuntungan relatif, tingkat pendidikan formal, kemudahan diamati, kesesuaian, kekosmopolitan, peluang pasar, dan intensitas promosi pestisida (berhubungan negatif).

c) Pada tahap keputusan, faktor-faktor yang berhubungan, diurut berdasarkan nilai 2 hitung adalah: keinovatifan usahatani, kerumitan, sikap kepemimpinan, sikap kewirausahaan, peluang pasar, kemudahan diamati, keuntungan relatif, ketersediaan sumber informasi, intensitas penyuluhan, kekosmopolitan, ketersedian sarana, tingkat pendidikan formal, kemudahan dicoba, keanggotaan dalam kelompok tani, dan kesesuaian.

d) Pada tahap implementasi, faktor yang berhubungan nyata, diurut dari yang paling erat hubungannya adalah kemudahan diamati, intensitas penyuluhan, keinovatifan usahatani, tingkat pendidikan formal, kesesuain, kekosmopolitan, ketersediaan sumber informasi, keuntungan relatif, kerumitan (berhubungan negatif), ketersediaan sarana, sikap kewirausahaan, dan peluang pasar.

e) Pada tahap konfirmasi, faktor-faktor yang berhubungan, diurut berdasarkan

2 hitung adalah: keuntungan relatif, kesesuaian, dan ketersediaan sumber informasi.

Tiga tahun setelah Roswita (2003) mengadakan penelitian, Nardono (2006) mengadakan penelitian dengan topik faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat adopsi inovasi pada pertanian lahan pasir pantai. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi inovasi dalam penelitian ini yaitu:

faktor internal, faktor eksternal, dan karakteristik inovasi. Faktor-Faktor ini sama dengan faktor-faktor yang berpengaruh dengan tingkat adopsi inovasi pada penelitian Roswita (2003) hanya berbeda redaksional saja, begitu pula dengan karakteristik dari setiap faktor, namun setelah penelitian karakteristik (variabel) yang berkorelasi berbeda.

Faktor internal yang berhubungan dengan tingkat adopsi inovasi dalam penelitian ini adalah keinovatifan dalam berusahatani, sementara variabel lain tidak menunjukkan adanya korelasi dengan tingkat adopsi inovasi. Variabel eksternal yang berhubungan dengan tingkat adopsi inovasi ini adalah variabel intensitas penyuluhan dan penggunaan sarana. Penyuluhan yang dilakukan oleh tim penyuluh memiliki peran utama dalam mengembangkan sistem pertanian lahan pasir pantai. Penyuluhan ini memiliki tujuan untuk mensosialisasikan hasil penelitian (terutama yang berkaitan dengan pertanian lahan pasir) kepada masyarakat dan sekaligus mengajak masyarakat untuk mengoptimalkan hasil pertanian lahan pasirnya, sementara penggunaan sarana lebih didasarkan pada kelengkapan sarana prasarana yang digunakan oleh petani dalam melaksanakan

pertanian lahan pasir pantai. Variabel ketersediaan sumber informasi dan peluang pasar tidak menunjukkan adanya hubungan dengan tingkat adopsi inovasi.

Variabel pada karakteristik inovasi yang berhubungan dengan tingkat adopsi inovasi adalah tingkat keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dan tingkat kemudahan dicoba. Hasil pertanian lahan pasir memberikan keuntungan kepada petani yang menggarap pertanian lahan pasir.

Hasil panen yang dijual dengan sistem lelang mampu memberikan harga beli di atas harga pasar. Sistem pertanian lahan pasir juga sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat di Dusun Bugel II. Kerumitan yang dirasakan oleh petani adalah masalah penyiraman yang harus dilakukan setiap hari, namun secara keseluruhan tidak ada kerumitan yang berarti karena sistem pertanian ini hampir sama dengan sestem pertanian pada medium tanah. Sistem pertanian ini juga mudah dicoba pada lahan yang relatif sempit.

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran

Prima Tani merupakan salah satu program Badan Litbang Pertanian yang di dalamnya terdapat unsur inovasi. Sebagai suatu inovasi, Prima Tani diperkenalkan kepada petani melalui penyuluhan. Setelah mengikuti penyuluhan, petani diharapkan mengalami perubahan perilaku baik dalam aspek pengetahun, aspek sikap, dan aspek keterampilan. Lebih dari itu, petani diharapkan mau menerapkan Prima Tani dalam usahataninya dan menyebarkannya kepada petani lain.

Suatu inovasi yang diperkenalkan kepada petani tidak dengan serta merta diterima dan dipraktekkan oleh petani, melainkan melewati tahapan-tahapan tertentu. Petani memerlukan dasar-dasar pertimbangan yang dianggap benar, baik dan layak, baik yang telah dimiliki maupun yang berada di lingkungan sekitarnya.

Pengambilan keputusan oleh petani untuk menerima dan selanjutnya menerapkan atau menolak suatu inovasi teknologi pertanian dipengaruhi secara umum oleh tiga faktor, yaitu karakteristik internal petani, karakteristik eksternal petani, dan karakteristik inovasi.

Dalam penelitian ini, faktor karakteristik internal petani yang diteliti adalah umur, pendidikan formal, dan luas lahan garapan. Faktor karakteristik eksternal petani yang diteliti adalah peranan penyuluhan dan peranan kelompok tani, serta ketersedian sarana produksi pertanian. Peranan penyuluhan dan kelompok tani meliputi intensitas petani menghadiri penyuluhan, persepsi petani

terhadap kemampuan penyuluh, persepsi petani terhadap peranan penyuluh dan tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani. Ketersedian sarana produksi pertanian meliputi tingkat kemudahan petani mendapatkan benih, tingkat kemudahan petani mendapatkan pupuk, tingkat kemudahan petani mendapatkan obat-obatan-obatan.

Faktor karakteristik inovasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah tingkat keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, tingkat kemudahan dicoba, dan tingkat kemudahan diamati. Kerangka pemikiran di atas, disajikan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Pengambilan Keputusan Inovasi oleh Petani

Pengambilan Keputusan Inovasi oleh Petani (Y)

Karakteriktik Internal Petani (X1) Umur (X1.1) Persepsi petani terhadap peranan

penyuluh (X2.3)

Tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani (X2.4) Karakteristik Eksternal Petani (X2)

Karakteristik Inovasi (X3) Tingkat keuntungan relatif (X3.1) Tingkat kesesuaian (X3.2)

Tingkat kerumitan (X3.3)

Tingkat kemudahan dicoba (X3.4) Tingkat kemudahan untuk diamati

(X3.5)

3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis Penelitian ini adalah:

(1) Terdapat hubungan nyata antara karakteristik internal petani dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh Petani.

(2) Terdapat hubungan nyata antara karakteristik eksternal petani dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh Petani.

(3) Terdapat hubungan nyata antara karakteristik inovasi dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh Petani.

3.3 Definisi Operasional

Variabel-variabel dalam penelitian ini diberi batasan atau didefinisioperasionalkan agar dapat ditentukan indikator pengukurannya dan batasan-batasan yang digunakan dalam memperoleh data dan menganalisisnya sehubungan dengan penarikan kesimpulan. Definisi operasional dari variabel-variabel tersebut adalah:

(1) Karakteristik internal petani adalah gambaran tentang sifat-sifat atau ciri-ciri pribadi yang dimiliki petani dan mempengaruhi peran dan kinerja petani tersebut meliputi:

a. umur tingkat usia biologis petani pada saat penelitian dilaksanakan.

Pembulatan umur dilakukan apabila kurang dari enam bulan ditiadakan dan apabila lebih dari enam bulan dibulatkan satu tahun. Umur dihitung dalam satuan tahun dan pengukurannya dengan menggunakan skala ordinal. Dalam penelitian umur petani responden diklasifikasikan dalam

tiga kategori, yaitu: 1= muda ≤ 30 tahun; 2= 31 ≤ sedang ≤ 45 tahun;

dan 3= tua > 45 tahun,

b. pendidikan formal adalah tingkat pendidikan tertinggi yang pernah dijalani atau diikuti petani secara formal. Tingkat pendidikan formal petani diukur dengan skala ordinal dan diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: 1= rendah untuk SD; 2= sedang untuk SMP; dan 3=

tinggi untuk SMA, Diploma, PT.

c. luas lahan garapan adalah lahan yang digarap oleh responden dan dinyatakan dalam satuan hektar. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal dan diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: 1= sempit ≤ 0,5 hektar; 2= 0,6 ≤ sedang ≤ 1 hektar; dan 3= luas >

1 hektar.

(2) Karakteristik eksternal petani adalah gambaran sifat-sifat atau ciri-ciri di luar pribadi petani yang berkaitan dengan pengambilan keputusan inovasi meliputi:

a. Peranan penyuluhan dan kelompok tani adalah pengaruh penyuluhan dan kelompok tani dalam adopsi petani terhadap Prima Tani yang terdiri dari:

a1. intensitas petani menghadiri penyuluhan adalah berapa kali petani menghadiri pertemuan dengan penyuluh, petak percontohan, dan temu lapang selama tahun 2008. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=tidak pernah;

2=jarang; 3=sering; 4=selalu,

a2. persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh adalah pandangan petani terhadap kemampuan penyuluh terkait dengan tingkat pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju;

2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= rendah; 2=

sedang; 3= tinggi. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-17; kategori 2= 18-34; dan kategori 3= 35-52, a3. persepsi petani terhadap peranan penyuluh adalah pandangan

petani terhadap peranan penyuluh dalam adopsi Prima Tani. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu:

1= tidak setuju; 2= kurang setuju; 3= setuju; 4= sangat setuju.

Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= rendah; 2= sedang; 3= tinggi. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-10; kategori 2= 11-21;

kategori 3= 22-32,

a4. tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani adalah intensitas petani dalam melakukan hubungan kerjasama dengan kelompok tani. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=tidak pernah; 2=jarang; 3=sering.

b. Ketersedian sarana produksi pertanian adalah tingkat kemudahan petani dalam mendapatkan benih/bibit, pupuk, dan obat-obatan. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=

sangat sulit; 2= sulit; 3= mudah; 4= sangat mudah.

(3) Karakteristik inovasi adalah sifat-sifat inovasi Prima Tani yang diperkenalkan Badan Litbang Pertanian menurut pendapat petani. Sifat-sifat inovasi tersebut meliputi:

a. tingkat keuntungan relatif (relative advantage) adalah perbandingan keuntungan relatif antara teknologi Prima Tani (inovasi baru) dengan teknologi sebelumnya (lokal). Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju; 2=kurang setuju;

3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= lebih merugikan; 2= sama saja; dan 3=

lebih menguntungkan. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-6; kategori 2= 7-13; dan kategori 3= 14-20,

b. tingkat kesesuaian (compatibility) adalah sesuai atau tidaknya teknologi Prima Tani dengan nilai-nilai atau kebiasaan yang telah ada sebelumnya di dalam masyarakat, pengalaman sebelumnya, dan kebutuhan petani.

Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu:

1= tidak setuju; 2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1=

tidak sesuai; 2= sama saja; dan 3= sesuai. Skor untuk setiap kategori

didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan.

Skor untuk kategori 1= 1-4; kategori 2= 5-8; dan kategori 3= 9-12, c. tingkat kerumitan (complexity) adalah rumit atau tidaknya teknologi

Prima Tani untuk dilaksanakan. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju; 2=kurang setuju;

3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= lebih rumit; 2= sama saja; dan 3= lebih sederhana. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-4;

kategori 2= 5-8; dan kategori 3= 9-12,

d. tingkat kemudahan untuk dicoba (triability) adalah mudah atau tidaknya teknologi Prima Tani dicoba pada kondisi yang ada. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju;

2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= lebih sulit, 2= sama saja;

dan 3= lebih mudah. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-2; kategori 2= 3-5; dan kategori 3= 6-8,

e. tingkat kemudahan untuk diamati (observability) adalah ada atau tidaknya hasil yang dapat dengan mudah dilihat atau diamati. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=

tidak setuju; 2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1=

lebih sulit; 2= sama saja; dan 3= lebih mudah. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-4; kategori 2= 5-8; dan kategori 3= 9-12.

(4) Pengambilan keputusan inovasi oleh petani, adalah pemilihan petani untuk menerima atau menolak inovasi. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala nominal, yaitu 0= tidak (tidak adopsi); 1= ya (adopsi).

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei explanatory dengan menggunakan pendekatan kuantitatif didukung oleh

data kualitatif. Menurut Singarimbun dan Effendi (1989) penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Penelitian survei explanatory digunakan untuk menjelaskan suatu gejala dan hubungan faktor-faktor dengan gejala tersebut.

Pendekatan kuantitatif dipilih oleh peneliti untuk mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang menggejala dan mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapakan justifikasi keadaan dan kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan. Data kualitatif digunakan untuk mendukung data kuantitatif yang didapatkan dari pendekatan kuantitatif.

4.2 Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa lokasi ini adalah salah satu lokasi Prima Tani yang diduga berhasil7. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari tahun 2009.

7 Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian Ir. Kurnia Suci Indraningsih,M.Si dengan judul Inovasi Usahatani Terpadu pada Lahan Marjinal: Kasus Lahan Kering di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Disertasi. Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor

4.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang diterapkan oleh peneliti adalah teknik wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data tentang karakteristik internal petani, karakteristik eksternal petani, karakteristik inovasi, dan pengambilan keputusan inovasi oleh petani yang diperoleh dari responden. Data sekunder adalah keadaan umum lokasi penelitian, hasil penelitian terkait dan data-data yang relevan dengan penelitian. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait yaitu kantor Desa Jatiwangi dan situs resmi Prima Tani.

Data diperoleh dari responden dan informan. Responden penelitian ini adalah petani di Desa Jatiwangi. Pemilihan responden dilakukan secara acak menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata anggota kelompok tani (PKT) dan non anggota kelompok tani (PNKT). Teknik ini digunakan karena karakteristik responden dalam satu strata dianggap cenderung homogen atau sama dalam hal pengetahuan terhadap Prima Tani. Responden PKT terpilih sebanyak 24 orang dan responden PNKT terpilih sebanyak 20 orang sehingga total seluruh responden adalah sebanyak 44 orang. Informan penelitian ini adalah penyuluh dan ketua kelompok tani.

4.4 Teknik Analisis Data

Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi rank Spearman. Langkah awal yang dilakukan adalah analisis deskriptif, analisis tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran data awal responden untuk mengungkapkan keadaan atau karakteristik data responden untuk

masing-masing variabel penelitian secara tunggal. Analisis deskriptif dilakukan menggunakan perangkat lunak microsoft excel 2007. Langkah berikutnya adalah melakukan uji korelasi rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel yang dinginkan. Uji korelasi rank Spearman dilakukan dengan bantuan perangkat lunak statistika yaitu SPSS versi 13.

BAB V

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.1 Letak dan Kondisi Geografis

Desa Jatiwangi terletak di wilayah Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki, Halimun, dan Bojong), tiga belas rukun warga (RW), dan 54 rukun tetangga (RT) dengan luas wilayah 2.242,43 hektar yang membentang dari utara ke selatan, dengan lahan tegalan seluas 904,33 hektar. Ketinggian wilayah Desa Jatiwangi terletak antara 300-700 meter di atas permukaan laut (dpl) sedangkan jenis tanah termasuk jenis tanah latosol sebagian andosol dengan tekstur liat lempung sebagian berbatuan dan terjal dan pH-nya berkisar antara 4-6. Adapun batas–batas wilayahnya adalah sebagai berikut :

 sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pamulihan

 sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sukamulya

 sebelah timur berbatasan dengan Desa Talagawangi/Sukamulya

 sebelah barat berbatasan dengan Desa Depok/Wangunjaya

Kondisi alam wilayah Desa Jatiwangi pada umumnya berbukit bergelombang dengan tipologi desa sekitar pangkuan daerah hutan serta diapit oleh dua aliran sungai yaitu sungai Cikandang dan Ciarinem. Suhu harian rata-rata

Kondisi alam wilayah Desa Jatiwangi pada umumnya berbukit bergelombang dengan tipologi desa sekitar pangkuan daerah hutan serta diapit oleh dua aliran sungai yaitu sungai Cikandang dan Ciarinem. Suhu harian rata-rata