• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

Dalam subbab ini, peneliti memaparkan hasil temuan yang diperoleh dari analisis data. Pemaparan dilakukan berdasarkan hasil data dengan menggunakan metodologi pada bab III.

4.2.1 Tingkat Keterbacaan Wacana dalam Buku Teks BIPA Untuk Level 2A Terbitan Wisma Bahasa Yogyakarta Berdasarkan Grafik Fry

Tabel 4.

Analisis Tingkat Keterbacaan Buku Teks BIPA untuk level 2A terbitan Wisma Bahasa Yogyakarta Berdasarkan Grafik Fry Kode

Teks

Judul Teks Jumlah Penafsiran

Kalimat Suku Kata

W1 Bagaimana Orangnya? 16,8 121 0,1,2

W2 Keluarga Dewi Setyawati 16,1 127 1,2,3

W3 Beatrice Menelpon Corina ( di Homestay Wiwik?

- - -

W4 Mbak Rina Menelpon Pak Ari Sujito

12,2 117 1,2,3

W5 Beatrice Menelpon Pak Agung 13,7 118 0,1,2

W6 Hidup di Jogja 8,7 123 3,4,5

W7 Budaya Baru 11,4 134 3,4,5

W8 Periksa Dokter 16,5 129 1,2,3

W9 Puskesmas 8,3 164 9,10,11

W10 Nonton, Yuk! 14,3 90 0,1,2

W11 Makan Malam, Yuk! 15 106 0,1,2

W12 Mampir Dulu, Mas! - - -

W13 Jalan-jalan Ke Jogja 7,2 127 5,6,7 W14 Adakah Taman Nasional di Jawa

Barat

12,8 118 1,2,3

W15 Komodo 8,8 135 5,6,7

W16 Stella Mau Mengontrak Rumah 8,5 117 2,3,4

Berdasarkan tabel analisis tingkat keterbaaan di atas menunjukkan hasil perhitungan terhadap enam belas wacana yang terdapat dalam buku teks BIPA level 2A terbitan Wisma Bahasa Yogyakarta. Wacana-wacana tersebut merupakan hasil perhitungan jumlah rata-rata kalimat dan jumlah rata-rata suku kata per seratus kata. Adapun hasil perhitungan enam belas wacana tersebut sebagai berikut.

Wacana berkode teks W1 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Bagaimana Orangnya?” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 9 dari 11 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 9 : 11 = 0,81 dibulatkan menjadi 0,8. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 16 + 0,8 = 16,8. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 16,8. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 201 x 0,6 = 121. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 16,8 dan 121. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 1. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan

ditambah satu tingkat. Hasil yang diperoleh adalah 1 – 1 = 0 dan 1 + 1 = 2. Untuk itu, wacana kode teks W1 berada pada tingkat pembaca 0,1, dan 2.

Grafik Fry 1 untuk Kode teks W1

Wacana berkode teks W2 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Keluarga Dewi Setyawati” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 1 dari 7 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 1 : 7 = 0,14 dibulatkan menjadi 0,1. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 16 + 0,1 = 16,1. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 16,1. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 211 x 0,6 = 126,6 dibulatkan menjadi 127. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 16,1 dan 127. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 2. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Hasil yang diperoleh adalah 2 –

1 = 1 dan 2 + 1 = 3. Untuk itu, wacana kode teks W2 berada pada tingkat pembaca 1,2, dan 3.

Grafik Fry 2 untuk Kode teks W2

Wacana berkode teks W3 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Beatrice Menelpon Corina (di Homestay Wiwik)” memiliki hasil analisis data kurang dari seratus kata. Sehingga tidak dapat dimasukkan kedalam grafik Fry.

Wacana berkode teks W4 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Mbak Rina Menelpon Pak Ari Sujito” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 1 dari 5 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 1 : 5 = 0,2. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 12 + 0,2 = 12,2. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 12,2. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 195 x 0,6 = 117. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 12,2 dan 117. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang

diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 2. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat.

Hasil yang diperoleh adalah 2 – 1 = 1 dan 2 + 1 = 3. Untuk itu, wacana kode teks W4 berada pada tingkat pembaca 1,2, dan 3.

Grafik Fry 3 untuk Kode teks W4

Wacana berkode teks W5 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Beatrice Menelpon Mas Agung” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 10 dari 14 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 10 : 14 = 0,71 dibulatkan menjadi 0,7. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 13 + 0,7 = 13,7. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 13,7. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 197 x 0,6 = 118,2 dibulatkan menjadi 118. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 13,7 dan 118.

Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik

temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 1. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W5 berada pada tingkat pembaca 0,1, dan 2.

Grafik Fry 4 untuk Kode teks W5

Wacana berkode teks W6 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Hidup Di Yogyakarta” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 22 dari 31 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 22 : 31 = 0,70 dibulatkan menjadi 0,7. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 8 + 0,7 = 8,7. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 8,7. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 205 x 0,6 = 123. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 8,7 dan 123. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 4. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan

ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W6 berada pada tingkat pembaca 3,4, dan 5.

Grafik Fry 5 untuk Kode teks W6

Wacana berkode teks W7 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Budaya Baru”

memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 6 dari 14 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 6 : 14 = 0,42 dibulatkan menjadi 0,4. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 11 + 0,4 = 11,4. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 11,4. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 223 x 0,6 = 134. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 11,4 dan 134. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 4. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat.

Untuk itu, wacana kode teks W7 berada pada tingkat pembaca 3,4, dan 5.

Grafik Fry 6 untuk Kode teks W7

Wacana berkode teks W8 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Periksa Dokter”

memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 6 dari 14 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 6 : 11 = 0,54 dibulatkan menjadi 0,5. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 16 + 0,5 = 16,5. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 16,5. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 215 x 0,6 = 129. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 16,5 dan 129. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 2. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat.

Untuk itu, wacana kode teks W8 berada pada tingkat pembaca 1,2, dan 3.

Grafik Fry 7 untuk Kode teks W8

Wacana berkode teks W9 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Puskesmas”

memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 6 dari 14 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 5 : 19 = 0,26 dibulatkan menjadi 0,3. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 8 + 0,3 = 8,3. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 8,3.

Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 274 x 0,6 = 164,4 dibulatkan menjadi 164. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 8,3 dan 164. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 10. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W9 berada pada tingkat pembaca 3,4, dan 5.

Grafik Fry 8 untuk Kode teks W9

Wacana berkode teks W10 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Nonton, Yuk!”

memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 6 dari 14 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 1 : 3 = 0,33 dibulatkan menjadi 0,3. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 14 + 0,3 = 14,3. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 14,3. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 150 x 0,6 = 90. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 14,3 dan 90. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 1. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat.

Untuk itu, wacana kode teks W10 berada pada tingkat pembaca 1,2, dan 3.

Grafik Fry 9 untuk Kode teks W10

Wacana berkode teks W11 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Nonton, Yuk!”

memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 7 dari 7 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 7 : 7 = 1. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 15 + 1 = 16. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 16. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 177 x 0,6 = 106,2 dibulatkan menjadi 106. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 16 dan 106. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh.

Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 1. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W11 berada pada tingkat pembaca 0,1, dan 2.

Grafik Fry 10 untuk Kode teks W11

Wacana berkode teks W12 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Mampir Dulu Mas!” memiliki hasil analisis data kurang dari seratus kata. Sehingga tidak dapat dimasukkan kedalam grafik Fry.

Wacana berkode teks W13 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Jalan-jalan Ke Jogja” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 2 dari 12 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 2 : 12 = 0,16 dibulatkan menjadi 0,2. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 7 + 0,2 = 7,2. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 7,2. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 212 x 0,6 = 127,2 dibulatkan menjadi 127. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 7,2 dan 127. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 6. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini

dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W13 berada pada tingkat pembaca 5,6, dan 7.

Grafik Fry 11 untuk Kode teks W13

Wacana berkode teks W14 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Adakah Taman Nasional di Jawa Barat” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 2 dari 12 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 9 : 11 = 0,81 dibulatkan menjadi 0,8. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 12 + 0,8 = 12,8. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 12,8. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 196 x 0,6 = 117,6 dibulatkan menjadi 118. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 12,8 dan 118.

Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 2. Mengacu pada teori grafik Fry,

peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W14 berada pada tingkat pembaca 1,2, dan 3.

Grafik Fry 12 untuk Kode teks W14

Wacana berkode teks W15 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Komodo”

memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 2 dari 12 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 11 : 13 = 0,84 dibulatkan menjadi 0,8. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 7 + 0,8 = 7,8. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 12,8. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 225 x 0,6 = 135. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 7,8 dan 135. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 6.

Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu tingkat dan

ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W15 berada pada tingkat pembaca 5,6, dan 7.

Grafik Fry 13 untuk Kode teks W15

Wacana berkode teks W16 (Lihat Tabel 4) dengan judul “Stella Mau Mengontrak Rumah” memiliki hasil analisis data sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana jatuh pada kata ke 2 dari 12 kata. Dengan demikian, perhitungan kalimat tidak utuh adalah 8 : 15 = 0,53 dibulatkan menjadi 0,5. Kemudian, jumlah perhitungan keseluruhan adalah 8 + 0,5 = 8,5. Dapat disimpulkan bahwa hasil kalimat utuh menjadi 8,5. Untuk perhitungan suku kata, hasil keseluruhan suku kata dikalikan rumus grafik Fry sebesar 0,6. Perhitungan suku kata yakni 195 x 0,6 = 117. Dari kedua hasil tersebut, diperoleh informasi jumlah kalimat dan jumlah suku kata sebesar 8,5 dan 117. Grafik Fry berikut ini menunjukkan titik temu kedua hasil yang diperoleh. Titik temu tersebut jatuh pada tingkat pembaca 3. Mengacu pada teori grafik Fry, peringkat baca ini dikurangi satu

tingkat dan ditambah satu tingkat. Untuk itu, wacana kode teks W16 berada pada tingkat pembaca 2,3, dan 4.

Grafik Fry 14 untuk Kode teks W16

4.2.2 Wacana Buku Teks BIPA Terbitan Wisma Bahasa Yogyakarta yang sesuai untuk Level 2A Berdasarkan Grafik Fry

Tabel 5

Analis Wacana Buku Teks BIPA Terbitan Wisma Bahasa Yogyakarta yang sesuai untuk Level 2A Berdasarkan Grafik Fry Kode

Teks

Judul Wacana Jumlah Penafsiran Keterangan Kalimat Suku

Kata

W1 Bagaimana Orangnya? 16,8 121 0,1,2 Tidak Sesuai W2 Keluarga Dewi Setyawati 16,1 127 1,2,3 Tidak Sesuai

W3 Beatrice Menelpon - - - -

Corina ( di Homestay Wiwik)

W4 Mbak Rina Menelpon Pak Ari Sujito

12,2 117 1,2,3 Tidak Sesuai

W5 Beatrice Menelpon Pak Agung

13,7 118 0,1,2 Tidak Sesuai

W6 Hidup di Jogja 8,7 123 3,4,5 Tidak Sesuai

W7 Budaya Baru 11,4 134 3,4,5 Tidak Sesuai

W8 Periksa Dokter 16,5 129 1,2,3 Tidak Sesuai

W9 Puskesmas 8,3 164 9,10,11 Tidak Sesuai

W10 Nonton, Yuk! 14,3 90 0,1,2 Tidak Sesuai

W11 Makan Malam, Yuk! 15 106 0,1,2 Tidak Sesuai

W12 Mampir Dulu, Mas! - - - -

W13 Jalan-jalan Ke Jogja 7,2 127 5,6,7 Sesuai

W14 Adakah Taman Nasional di Jawa Barat

12,8 118 1,2,3 Tidak Sesuai

W15 Komodo 8,8 135 5,6,7 Sesuai

W16 Stella Mau Mengontrak Rumah

8,5 117 2,3,4 Tidak Sesuai

Tabel analisis diatas menunjukkan adanya 16 wacana dalam buku teks BIPA untuk Level 2A terbitan Wisma Bahasa Yogyakarta. Sebanyak dua wacana

menunjukkan hasil yang sesuai digunakan untuk BIPA Level 2A. Pada penelitian ini, kedua wacana tersebut ialah W13 bejudul “Jalan-jalan Ke Jogja” dengan tingkatan 5,6,7, dan W15 berjudul “Komodo” dengan tingkatan 5,6,7.

Dua wacana yang sesuai digunakan untuk Level 2A di atas, telah dianalisis dan dilakukan perhitungan berdasarkan teori grafik Fry. Hal itu mengacu pada teori tingkatan (grade) diuraikan sebagai berikut: (a) angka 1,2,3 menunjukkan tingkat (grade) yang sesuai untuk BIPA Level 1A, (b) angka 4,5,6 menunjukkan tingkat (grade) yang sesuai untuk BIPA Level 1B, (c) angka 7,8 menunjukkan tingkat (grade) yang sesuai untuk BIPA Level 2A, (d) angka 9,10 menunjukkan tingkat (grade) yang sesuai untuk BIPA Level 2B, (e) angka 11,12 menunjukkan tingkat (grade) yang sesuai untuk BIPA Level 3A, (f) angka 13,14,15 menunjukkan tingkat (grade) yang sesuai untuk BIPA Level 3B.

Dengan demikian, penelitian ini hanya sesuai untuk BIPA Level 2A dengan wacana yang berada pada tingkatan 7,8.

Dokumen terkait