BAB IV PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan
4.3.1 Pembahasan Hasil Penelitian
Dari wacana-wacana yang terdapat dalam buku teks BIPA Level 2A, diperoleh temuan mengenai tingkat keterbacaan wacana sebagai berikut.
1. Hasil analisis tingkat keterbacaan wacana berdasarkan jumlah wacana yang sesuai dan wcana yang tidak sesuai untuk pembelar BIPA Level 2A.
Berdasarkan enam belas wacana yang dianalisis, hanya terdapat dua wacana yang sesuai untuk pembelajar BIPA Level 2A. Wacana tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. Wacana yang berjudul “Jalan-jalan Ke Jogja”
dengan peringkat baca 5,6,7, “Komodo” dengan peringkat baca 5,6,7.
Menurut Hardjasujana, dkk., dalam Merryta (2013), sebagai pegangan pembelajar, buku teks harus memiliki tingkat keterbacaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan pembelajar. Menurut Naga dalam Suladi (2000:13), banyak hal yang turut mempengaruhi keterbacaan suatu tulisan. Salah satunya adalah panjang kalimat dan panjang kata. Semakin panjang suatu kalimat, semakin sulit pula untuk memahami kalimat tersebut, begitu pula dengan kata. Oleh karena itu, agar suatu wacana mudah untuk dipahami oleh pembelajar panjang kalimat dan katanya diperhatikan kembali. Peneliti memperoleh dua wacana yang sesuai. Hal tersebut mungkin disebabkan karena wacana tersebut memiliki jumlah kalimat yang tidak terlalu panjang dan kata-katanya mudah untuk dipahami. Semakin panjang suatu kalimat dan disertai kata-kata yang sukar, wacana tersebut makin sulit untuk dipahami oleh pembelajar. Menurut Tampubolon ( dalam Suladi, 2000:13), untuk mengukur keterbacaan berbagai faktor perlu dipertimbangkan, seperti struktur bahasa (kosakata dan kalimat), jenis isi bacaan, tipografi, dan minat baca. Keterbacaan pada dasarnya sesuai tidaknya suatu bacaan bagi pembaca dilihat dari tingkat kesukaraannya.
Hasil analisis berdasarkan jumlah kalimat dan jumlah suku kata menunjukkan bahwa, terdapat dua wacana yang dianggap sesuai. Adapun wacana tersebut memiliki jumlah kalimat yang terdiri dari 7 sampai 9 kalimat dan jumlah suku kata sekitar 127 sampai 135 suku kata per seratus kataan. Dengan demikian, karena jumlah kalimat yang tidak terlalu banyak, siswa lebih mudah untuk memahami isi wacana. Kata-kata yang digunakan dalam dua wacana tersebut juga bukan merupakan kata-kata yang sulit. Hal ini dapat dilihat dari jumlah suku katanya.
Adapun keempat belas wacana yang tidak sesuai untuk pembelajar BIPA Level 2A, contohnya wacana dengan kode teks W1 dan teks W8. Masing-masingdari wacana tersebut berdasarkan pengeplotan grafik Fry jatuh pada peringkat baca 0,1,2 dan 1,2,3. Artinya wacana tersebut sesuai untuk pembelajar BIPA Level 1A. Ketidaksesuaian wacana-wacana tersebut diperkirakan karena bahan bacaan yang tersedia merupakan pengetahuan yang sudah lama dipelajari sehingga sukar untuk dipahami.
2. Hasil analisis tingkat keterbacaan wacana berdasarkan variasi kemunculan tingkat/kelas baca
Berdasarkan tabel analisis tingkat keterbacaan wacana (lihat tabel 5), ditemukan ada enam peringkat baca dari masing-masing wacana. Peringkat-peringkat baca yang muncul adalah kelas baca 0,1,2 dari empat wacana, Peringkat-peringkat baca 1,2,3 dari empat wacana, peringkat baca 2,3,4 dari satu wacana, peringkat baca 3,4,5 dari dua wacana, peringkat baca 5,6,7 dari dua wacana, peringkat baca
9,10,11 dari satu wacana, dan ada dua wacana yang tidak memenuhi syarat perhitungan grafik fry sehingga tidak dapat dimasukkan dalam peringkat baca.
BAB V PENUTUP
Pada bab penutup, peneliti memaparkan simpulan dan saran dari hasil penelitian “Tingkat Keterbacaan Wacana dalam Buku Teks BIPA Level 2A di Wisma Bahasa Yogyakarta Berdasarkan Grafik Fry”. Pada penelitian ini sudah memiliki hasil analisis data berdasarkan rumusan masalah yang ditemukan.
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan di bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat keterbacaan wacana dalam buku teks BIPA untuk Level 2A berdasarkan perhitungan grafik Fry dari enam belas wacana, hanya terdapat dua wacana yang sesuai, yaitu wacana dengan kode teks W13 bejudul “Jalan-jalan Ke Jogja” dan W15 berjudul “Komodo”. Hal ini menjelaskan bahwa, wacana dalam buku teks BIPA Level 2A tidak sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran BIPA. Dalam hal ini pembelajar BIPA masih membutuhkan bimbingan dan pendampingan dari pengajar BIPA untuk memahami isi bacaan selama proses belajar mengajar.
5.2 Implikasi
Setelah mengetahui tingkat keterbacaan wacana dalam buku teks BIPA Level 2A di Wisma Bahasa Yogyakarta berdasarkan grafik Fry, peneliti dapat menarik implikasi sebagai berikut.
1. Sebelum memulai pembelajaran pengajar BIPA memastikan kembali apakah wacana yang terdapat dalam buku teks BIPA sudah sesuai dengan
54
kemampuan pembelajar atau belum, agar tidak mengganggu proses pembelajaran.
2. Pengajar BIPA dapat mengunakan sumber referensi lain seperti surat kabar dan majalah untuk mendukung bahan ajar dan bacaan.
3. Pengajar BIPA dituntut untuk tidak hanya terfokus pada wacana yang terdapat dalam buku teks BIPA tetapi dapat mengembangkannya.
5.3 Saran
Berdasarkan hasil penelitian tingkat keterrbacaan ini, peneliti akan menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pengajar BIPA dan calon pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), para editor maupun penulis naskah, dan bagi peneliti lain. Adapun kesimpulannya sebagai berikut.
a. Bagi Pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA)
Pengajar BIPA hendaknya memeriksa kembali wacana-wacana yang terdapat di dalam buku teks, seperti bagaimana tipografi, kosa kata, kalimat, paragraf, serta bahasa yang digunakan di dalamnya. Hal ini dilakukan, agar pengajar dan pembelajar tidak mengalami kesulitan ketika menggunakan wacana tersebut.
b. Bagi Penulis atau Editor
Bagi Penulis atau editor diharapkan dalam menyusun buku teks harus memperhatikan kosa kata, struktur isi dan kalimat, isi, tipografi dan ilustrasi yang digunakan. Buku teks merupakan media cetak dan tingkat keterbacaannya dilihat dari hal-hal diatas. Apabila penulis atau editor
merevisi kembali bahan ajar hendaknya disajikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
c. Bagi Peneliti Lain
Bagi peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan penelitian yang sejenis yaitu mengenai tingkat keterbacaan wacana dengan jenis buku teks BIPA. Peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan alat uji/ukur yang lainnya karena sudah banyak sumber lain yang sejenis di dunia pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Membaca Berbasis Pendidikan Karakter.
Bandung: PT Refika Aditama.
Ali, Faried dan Gau Kadir. 2014. Manajemen Penelitian Berbasis Sasaran.
Bandung: PT Refika Aditama.
Arikunto, Suharsimi. 2010 . Prosedur Penelitian Satu Pendekatan Praktik Edisi Revisi 2010. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Azizah, dkk. 2012. Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Program CLS (Critical Language Scholarship). Malang: Fakultas
Sastra, Universitas Negeri Malang.
Basundoro, Yohanes Wedha. 2015 . Tingkat Keterbacaan Wacana dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Tahun 2013 untuk SMK Kelas X di SMK Negeri 4 Yogyakarta Berdasarkan Grafik Fry, Cloze Test, dan SMOG. Skripsi Sarjana Strata Satu. Yogyakarta: PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma.
Gunawan, Imam. 2013 . Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta:
Bumi Aksara.
Hardjasujana, dkk. 1999 . Evaluasi Keterbacaan Buku Teks Bahasa Sunda untuk Sekolah Dasar di Jawa Barat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa.
Hamidi. 2004 . Metode Penelitian Kualitatif Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian Edisi Revisi. Malang: UMM Press.
Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014 . Panduan Membuat Bahan Ajar (Buku Teks Pelajaran Sesuai Dengan Kurikulum 2013. Surabaya: Kata Pena.
Martono, Nanang. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder Edisi Revisi 2. Jakarta: Rajawali Pers 2014.
Merryta. 2013 . Tingkat Keterbacaan Wacana dalam Buku Teks Kompeten Berbahasa Indonesia dan Buku Teks Paduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun 2007 untuk SMA Kelas XI Berdasarkan Grafik Fry.
Skripsi Sarjana Strata Satu. Yogyakarta: PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma.
Moleong, Lexy J. 2006 . Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi 2006.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muliastuti, Liliana. 2017. Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Acuan Teori dan Pendekatan Pengajaran. Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Sitepu, B.P. 2012 . Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Soewandi, A. M. Slamet. 1991. “Pengembangan Instrumen Penelitian” Materi Kuliah Penelitian Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Yogyakarta:
PBSI, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Suharsaputra, Uhar. 2012 . Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan. Bandung: PT Refika Aditama.
Suladi, dkk. 2000. Keterbacaan Kalimat Bahasa Indonesia dalam Buku Pelajaran SLTP. Jakarta: Pusat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tarigan, H. Guntur. 2009. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung:
Angkasa.
Widharyanto, B., Rishe., dan Septina (2017: 3). Keterbacaan Wacana Buku Teks Ekspresi Diri dan Akademik untuk SMK dengan Grafik Fry, Tes Klos, dan SMOG: Studi Kasus di SMK N 1 Cilacap dan SMK N 4 Yogyakarta.
Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Sanata Dharma.
Program BIPA. Program Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Wisma Bahasa Yogyakarta. (online), (https://www.wisma-bahasa.com), diakses tanggal 8 Januari 2020.
BIOGRAFI
Epifania Yuliati Suwanika lahir di Pontianak pada tanggal 12 Juli 1996. Ia menyelesaikan SD Negeri 11 Benuis dan lulus pada tahun 2008. Ia menempuh pendidikan menengah di SMP Negeri 3 Selimbau lulus pada tahun 2011, lalu melanjutkan pendidikan di SMA Swasta Panca Setya Sintang lulus pada tahun 2014. Setelah lulus SMA ia melanjutkan studi ke Universitas Sanata Dharma dan tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Bahasa Sastra Indonesia. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta diakhiri dengan penulisan skripsi berjudul “Tingkat Keterbacaan Wacana dalam Buku Teks BIPA Level 2A di Wisma Bahasa Yogyakarta Berdasarkan Grafik Fry”.
LAMPIRAN
Lampiran 1
ANALISIS WACANA
BERDASARKAN JUMLAH KALIMAT DAN
SUKU KATA
Analisis Wacana dalam Buku Teks BIPA Level 2A terbitan Wisma Bahasa Yogyakarta Berdasarkan Jumlah Kalimat Dan Jumlah Suku Kata Kode Teks: W1
Teks Jumlah
Kalimat Suku Kata
Budi dan Rita adalah suami-istri. 1 12
Sore itu, ketika Budi pulang dari kantor, Rita bilang bahwa tadi siang ada orang yang mencari Budi.
1 32
Rita : Mas, tadi siang ada orang yang mencarimu. 1 14
Budi : Oh, ya? 1 4
Siapa? 1 3
Rita : Tidak tau, ya, saya belum pernah melihatnya. 1 16
Budi : Tidak tanya namanya? 1 9
Rita : Wah, saya lupa. 1 7
Dia tidak mau masuk dan cepat-cepat pergi. 1 13
Budi : Bagaimana orangnya? 1 8
Laki-laki atau perempuan? 1 9
Rita : Laki-laki, masih muda, tinggi, berkulit putih, dan berambut lurus.
1 23
Budi : Berambut gondrong? 1 7
Rita : Ya, rambutnya gondrong. 1 8
Budi : Dari mana dia? 1 7
Rita : Dia bilang bahwa dia 0,7 8
Jumlah 16,8 121
Ibu dan bapak saya berasal dari Yogyakarta. 1 16
Saya berdarah Belanda karena kakek, bapak dan ibu saya berasal dari Belanda.
1 28
Kakek saya tinggi, berhidung mancung, bermata biru dan berkulit putih, sama seperti ibu, tetapi ibu bermata coklat.
1 38
Ibu berwajah sangat cantik. 1 8
Bapak saya berdarah biru. 1 9
Dia punya hubungan keluarga dengan Raja Yogyakarta. 1 18
Bapak saya sudah tidak punya orang tua. 1 12
Bapak saya dua bersaudara. 1 9
Adik perempuannya sudah bersuami. 1 12
Suaminya orang Australia. 1 8
Mereka punya satu orang anak laki-laki bernama Tommy. 1 17
Dia selalu bersepatu sport. 1 9
Dia anak tunggal. 1 4
Sekarang bapak 0,3 6
Jumlah 16,1 127
Kode Teks: W3 tidak sampai seratus kata Teks Homestay : Selamat sore
Beatrice : Selamat sore.
Apakah benar ini Homestay Wiwik?
Homestay : Ya, benar.
Beatrice : Maaf, bisa bicara dengan Corina?
Homestay : Wah, Corina sedang keluar.
Maaf, saya bicara dengan siapa, ya?
Beatrice : Saya Beatrice, teman Corina.
Apakah saya bisa titip pesan?
Homestay : Tentu saja!
Beatrice : Tolong sampaikan kepada dia untuk menelpon saya.
Nomor telepon saya 897564.
Homestay : Sebentar, saya ambil kertas dan bolpoin.
Maaf, nama Anda siapa dan nomor telepon Anda berapa?
Beatrice : Nama saya Beatrice.
Nomor telepon saya 897564.
Homestay : ok.
Beatrice, nomor telepon Anda 897564.
Baik, nanti
Mbak Rina mau minta tolong Pak Ari untuk memberikan seminar kepada murid-murid Wisma Bahasa.
1 33
UGM : Selamat siang, Universitas Gadjah Mada! 1 15
Mbak Rina : Selamat siang, bisa bicara dengan Pak Ari Sujito? 1 21 UGM : Oh, maaf, Bu, beliau tidak ada di tempat. 1 9
Ada yang bisa saya bantu? 1 9
Mbak Rina : Kapan beliau akan datang? 1 13
UGM : Maaf, saya kurang tahu. 1 9
Ada yang bisa saya sampaikan? 1 11
Mbak Rina : Terima kasih, Bu! 1 Tolong sampaikan kepada beliau, saya Rina dari Wisma Bahasa
akan menelpon lagi kira-kira jam 12.30.
1 45 Hari ini Beatrice tidak bisa belajar karena sakit. 1 20 Dia menelpon Mas Agung untuk membatalkan kelasnya. 1 16
Mbak Prisca : Wisma Bahasa, selamat pagi! 1 14
Beatrice : Selamat pagi! 1 22
Saya Beatrice, murid Wisma Bahasa.
Maaf, saya bicara dengan siapa? 1 12
Mbak Prisca :Dengan Prisca, apa kabar Beatrice? 1 15
Beatrice :Oh, Mbak Prisca. 1 8
Saya sedikit sakit. 1 7
Apakah saya bisa bicara dengan Mas Agung? 1 15
Mbak Prisca :Tunggu sebentar, ya? 1 20
Saya sambungkan ke pesawat dia.
Mbak Prisca menelpon ke pesawat Mas Agung, tetapi Mas Agung sibuk.
1 21
Mbak Prisca :Maaf Beatrice, pesawat Mas Agung sedang sibuk. 1 19
Ada yang bisa saya sampaikan. 1 11
Beatrice : Ya, tolong sampaikan kepada Mas Agung, 0,5 17
Jumlah 13,7 118
Kode Teks:W6
Teks Jumlah
Kalimat Suku Kata
Sally berasal dari Skotlandia. 1 10
Dia datang ke Yogyakarta dua minggu yang lalu. 1 16
Dia tinggal di Homestay Ibu Heru. 1 12
Di homestay Ibu Heru itu ada beberapa orang asing. 1 20 Mereka berasal dari Australia, Belanda, Jepang, dan Amerika. 1 22 Sally dan teman-temannya senang dan kerasan tinggal di sana
karena Ibu Heru dan keluarganya sangat ramah dan suka mengobrol dengan mereka dalam bahasa Indonesia.
1 55
Kamar-kamarnya bersih dan cukup luas. 1 12
Mereka merasa nyaman belajar dan membuat PR di dalam kamar mereka sendiri.
1 26
Kadang-kadang Ibu Heru mengajak Sally dan beberapa temannya berjalan-jalan di sekitar Yogyakarta supaya mereka tidak merasa bosan dengan aktivitas yang rutin, yaitu belajar di
0,8 62
Terus terang, saya tidak tahu terlalu banyak tentang Indonesia. 1 22 Sebelum ini, saya belum pernah berkunjung ke Indonesia. 1 20
Saya banyak tahu sedikit tentang Pulau Bali. 1 16
Dulu saya pikir Pulau Bali bukan bagian dari Indonesia. 1 23 Itulah mengapa hari-hari pertama saya tinggal di Indonesia saya
sering bingung.
1 29
Kode Teks: W8
Teks Jumlah
Kalimat Suku Kata Sudah tiga hari ini Tomoko merasa tidak enak badan. 1 20
Wajahnya pucat dan badannya sedikit demam. 1 14
Sebetulnya dia membawa obat dari Jepang, tetapi sayang, obat itu sudah habis.
1 28
Hari ini dia tidak bisa datang karena sakitnya makin parah. 1 22 Sorenya, Siwi, seorang guru di WB, mendatangi rumahnya. 1 18
Siwi akan mengantarkan dia ke dokter. 1 13
Sebetulnya, Tomoko ragu-ragu pergi ke dokter. 1 16
Siwi : Mbak, mau periksa. 1 16
Sesudah menandatangani formulir, Tomoko dan Siwi 0,5 18
Jumlah 16,5 129
Misalnya, ketika untuk kali pertama saya masuk ke kamar mandi, saya tidak tahu bagaimana saya harus mandi.
1 39
Jadi saya mandi di dalam bak mandi. 1 12
Sebelum bekerja di Jakarta saya harus 0,4 14
Jumlah 11,4 134
Kode Teks: W9
Teks Jumlah
Kalimat Suku Kata Dari setiap tahun kondisi kesehatan di Indonesia selalu menjadi
lebih baik.
1 30
Setiap tahun pemerintah membangun lebih banyak fasilitas kesehatan di berbagai daerah di Indonesia.
1 38
Salah satu fasilitas kesehatan yang banyak terdapat di Indonesia adalah Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas.
1 43
Puskesmas tidak sama dengan rumah sakit karena Puskesmas memiliki lebih sedikit dokter dan melayani lebih sedikit pasien.
1 43
Puskesmas berdiri pada tahun 1968. 1 10
Sebenarnya, sebelum tahun 1968 pemerintah telah membangun beberapa fasilitas kesehatan dengan fungsi-fungsi khusus.
1 38
Namun, kemudian pemerintah memutuskan untuk menyatukan beberapa fasilitas kesehatan tersebut menjadi Puskesmas.
1 41
Mula-mula Puskesmas melayani sekitar 50.000 orang di satu daerah.
1 22
Namun, karena pemerintah terus menambah 0,3 14
Jumlah 8,3 164
Kode Teks: W10
Teks Jumlah
Kalimat Suku Kata Butet mau menonton film Daun di Atas Bantal. 1 15
Dia mengajak Nonie untuk menonton bersama. 1 16
Butet : Non, kamu ngajar, nggak, besok? 1 10
Nonie : Nggak, kenapa? 1 7
Butet : Kamu mau nonton, nggak? 1 9
Nonie : Nonton apa? 1 7
Butet : Kamu udah nonton Film Daun di Atas Bantal, belum? Ini film bagus, lho!
1 24
Nonie : Wah, sebetulnya aku mau, tapi gimana, ya, aku udah ada janji sama Dewi mau beli buku.
1 36
Butet : Ah, itu bisa besok, kan? 1 10
Nonie : Iya, sih! Ok, deh, aku nelpon Dewi dulu, ya?
Mungkin dia mau ikut juga! Jam berapa kita pergi?
1 35
Dia mengajak Geger dan guru yang lain, Emil dan Totok. 1 18 Caroline : Mas Geger, udah makan malam, belum? 1 15
Geger : Belum, kenapa? 1 7
Caroline : Makan malam, yuk! 1 9
Geger : Ok, aku juga udah lapar, tapi sebentar aku mau nanya teman-teman yang lain karena mungkin mereka mau juga
Caroline : Wah, gimana, ya? 0,4 9
Jumlah 15 106
Kode Teks: W12 tidak sesuai tidak sampai seratus kata TEKS
Michael dan guru-gurunya punya acara makan malam.
Sesudah makan malam, Michael mengantar Ika pulang ke rumah Ika.
Ika : Nggak masuk dulu, Mas?
Michael : Nggak, makasih!
Lain kali aja, Mbak!
Ika : Kok, keburu banget, sih?
Ada apa, sih?
Michael : Nggak ada apa-apa, kok!
Ika : Lalu, kenapa nggak mampir?
Michael : Gimana, ya?
Udah kemalaman, nih!
Ika : Ayo, dong!
Nanti aku buatin minum.
Kita minum sama-sama, ya!
Michael : Ya, deh!
Kali ini, boleh, deh!
Jumlah Kata: yang suka jalan-jalan.
1 30
Kode Teks: W14
Teks Jumlah
Kalimat Suku Kata
Gilles seorang ekolog dari Prancis. 1 12
Dia bekerja untuk Green Peace. 1 12
Dia sedang belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa. 1 21 Gilles mau berlibur di Jawa Barat tetapi dia tidak tahu
banyak tentang Jawa Barat.
1 29
Dia bertanya pada gurunya. 1 10
Gilles : Gus, kabarnya di Jawa Barat ada banyak temppat wisata yang indah yang sering dikunjungi orang, ya? Cipanas, Pangalengan, dan Tangkuban Perahu.
1 34
Kalau yang berudara panas ada di 0,5 13
Di Jogja, orang bisa belanja apa saja dan jalan-jalan ke mana aja.
Jalan Malioboro itu jalan yang populer banget di Jogja. 1 20 Di sana, kamu bisa beli macam-macam barang, mulai dari
baju batik, tas batik, sandal, makanan khas Jogja, aksesoris sampai oleh-oleh khas Jogja.
1 49
Tapi, kalau kamu beli barang di Jalan Malioboro, lebih baik kamu nawar karena penjual biasanya kasih harga yang mahal untuk turis.
1 48
Di Jalan 0,2 3
Jumlah 7,2 136
Jumlah 12,5 128
Kode Teks: W15
Teks Jumlah
Kalimat Suku kata
Apakah anda sudah berkunjung ke Pulau Komodo? 1 17
Pulau eksotis yang telah menjadi Taman Nasional ini terkenal di seluruh Indonesia dan di dunia.
1 37
Setiap tahun Pulau Komodo di kunjungi banyak wisatawan, baik wisatawan asing maupun wisatawan domestik.
1 39
Meskipun transportasi ke Pulau Komodo yang terletak di Nusa Tenggara Timur ini mahal dan makan banyak waktu, wisatawan-wisatawan tersebut tidak keberatan untuk berkunjung ke sana.
1 62
Pulau ini didatangi oleh banyak orang dari berbagai negara karena ada binatang komodo di sana.
1 38
Pulau inilah satu-satunya habitat binatang komodo yang masih ada di dunia.
1 29
Komodo adalah binatang besar yang berukuran 2-3 meter dengan berat hingga 100 kg.
1 24 Stella adalah relawan yang berasal dari Australia. 1 19
Dia baru saja datang dari Australia. 1 15
Dua bulan yang akan datang dia akan mulai bekerja sebagai dosen di Universitas Sanata Dharma.
1 36
Namun, dia merencanakan akan mengontrak rumah. 1 16
Kode Teks: W16
Dia memerlukan rumah yang tidak terlalu besar karena dia akan tinggal seorang sendirian.
1 32
Stella ingin mengontrak rumah yang terletak di pinggiran kota yang tidak terlalu jauh dengan tempat bekerjanya.
1 35
Rumah itu tidak harus besar, yang terpenting ada 0,5 16
Perhitungan 8,5 134
Lampiran 3
WACANA BUKU TEKS BIPA LEVEL 2A WISMA BAHASA
YOGYAKARTA
W1
W2
W3
W4
W5
W6
W7
W8
W9
W10
W11
W12
W13
W14
W15
W16
Triangulasi Data dan Hasil Penelitian Dengan Judul "Tingkat Keterbacaan Wacana Dalam Buku Teks BIPA Level 2A Di Wisma Bahasa Yogyakarta Dengan Gtafik Fry"
Oleh Epifania Yuliati Suwanika/141224014
Pembimbing Rishe Pumama Dewi, S.Pd., M.Hum.
Petunjuk Triangulasi:
1. Berilah tanda centang ( ) pada kolom SETUJU atau TIDAK SETUJU yang menggambarkan penilaian anda terhadap hasil analisis tingkat keterbacaan wacana pada buku teks BIPA terbitan Wisma Bahasa.
2. Berilah catatan pada kolom keterangan yang dapat membantu kebenaran hasil analisis tingkat keterbacaan wacana padabuku teks BIPA terbitan Wisma Bahasa.
3. Setelah mengisi tabulasi data, triangulator membubuhi tanda tangan pada akhir.
1 Bagaimana Orangnya
l • <. ~ ~ r; '- Teks Jumlah IJ
\b-~I~' r~,
Budi dan RIta adalah suami-istri.
Sore itu, ketika Budi pulang dari kantor, Kalimat Suku l<..--l~ g-~
Rita bilang bahwa tadi siang ada orang Kata ~1A;1v~~
yang mencari Budi. Budi dan Rita adalah suami- 1 13 ~~~4
Rita : Mas, tadi siang ada orang yang istri. ~v""J ~.
mencarimu. Sore itu, ketika Budi pulang 1 35 klil~ ~.\..;~!)
Budi : Oh, ya? Siapa? dari kantor, Rita bilang ~~
Rita Tidak tau, ya, saya belum bahwa tadi siang ada orang
pemah melihatnya. yang mencari Budi.
Budi : Tidak tanya namanya? Rita : Mas, tadi siang ada 1 16 Rita : Wah, saya lupa. Dia tidak mau orang yang mencarimu.
masuk dan cepat-cepat pergi. Budi : Oh, ya? 1 4
Budi Bagaimana orangnya? Laki- Siapa? 1 3
laki atau perempuan? Rita Tidak tau, ya, saya 1 17
Rita : Laki-laki, masih muda, tinggi, belum pemah melihatnya.
berkulit putih, dan berambut lurus. Budi Tidak tanya 1 9 Budi : Berambut gondrong? namanya?
Rita : Ya, rambutnya gondrong. Rita : Wah, saya lupa. 1 7 Budi : Dari mana dia?
Yogya dan menginap di rumah Budi Bagaimana
temannya. orangnya?
1 10
Budi : Ehm... mungkin Dik Wanto, keponakan saya. Dia bilang apa?
Rita : Ya, dia bilang bahwa dia mau datang lagi nanti malam, kira-kira jam delapan.
Budi Oh, ya, Dik Wanto itu anak
Budi Oh, ya, Dik Wanto itu anak