HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian 1. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi pearson product moment pada taraf signifikansi 5% (0.05) dengan perangkat lunak SPSS for windows seri 16. Uji hipotesis satu ekor (one tailed) dilakukan
pada penelitian ini karena hipotesis dalam penelitian ini sudah mengarah, yaitu berarah positif.
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa korelasi koefisien antara variabel pola asuh demokratis dan kecenderugnan melakukan interaksi sosial adalah 0.527 dengan probabilitas 0.00. Hal ini berarti terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel pola asuh demokratis dan kecenderungan melakukan interaksi sosial. Jadi, semakin tinggi pola asuh demokratis yang diterima seorang remaja maka semakin tinggi pula kecenderungan melakukan interaksi sosial. Sebaliknya, semakin rendah pola asuh demokratis yang diterima seorang remaja, maka semakin rendah pula kecenderungan untuk melalukan interaksi sosial.
Dari penelitian ini, diketahui bahwa r = 0.527 dan koefisien determinan (r²) sebesar 27%. Hal ini berarti pola asuh demokratis memiliki sumbangan efektif sebesar 27% terhadap kecenderungan melakukan interaksi sosial, sedangkan 73% lainnya dipengaruhi oleh variabel lainnya.
2. Uji Tambahan
Uji tambahan dilakukan untuk mengetahui apakah keseluruhan subjek memiliki pola asuh demokratis dan kecenderungan melakukan interaksi sosial yang tinggi. Pada tabel berikut ini disajikan data teoritis dan empiris Skala
Pola Asuh Demokratis dan Skala Kecenderungan Melakukan Interaksi Sosial dengan Teman Sebaya:
Tabel 10
Data Teoritis dan Empiris Skala Pola Asuh Demokratis dan Skala Kecenderungan Melakukan Interaksi Sosial
Variabel N X max X min SD P Mean Teoritis Empiris Pola Asuh Demokratis 116 240 112 20.843 0.00 125 152.95 Kecenderungan Melakukan Interaksi Sosial 312 167 24.556 0.00 192.5 235.03
Mean teoritis merupakan rata-rata skor pada alat ukur penelitian, sedangkan mean empiris merupakan rata-rata skor data hasil penelitian. Mean teoritis pada Skala Pola Asuh Demokratis sebesar 125 dan mean empirisnya sebesar 152.95. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar dari pada mean teoritisnya sehingga dapat diartikan bahwa pola asuh yang diterima subjek penelitian tergolong tinggi. Nilai P pada Skala Pola Asuh Demokratis sebesar 0.00. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan mean empiris pada Skala Pola Asuh Demokratis.
Mean teoritis pada Skala Kecenderungan Melakukan Interaksi Sosial dengan Teman Sebaya sebesar 192.5 dan mean empirisnya sebesar 235.03. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar daripada mean
teoritis dan dapat diartikan bahwa kecenderungan melakukan interaksi sosial dengan teman sebaya pada subjek penelitian tergolong tinggi. Nilai P pada Skala Kecenderungan Melakukan Interaksi Sosial dengan Teman Sebaya sebesar 0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara mean teoritis dan mean empiris pada skala tersebut.
D. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan positif antara pola asuh demokratis dan kecenderungan melakukan interaksi sosial pada remaja. Dari analisis yang dilakukan, terdapat nilai koefisien korelasi antara pola asuh demokratis dan kecenderungan melakukan interaksi sosial pada remaja sebesar 0.528 dengan nilai probabilitas 0.00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pola asuh demokratis dan kecenderungan melakukan interaksi sosial. Hal ini berarti semakin tinggi skor pola asuh demokratis maka semakin tinggi pula skor kecedenrungan melakukan interaksi sosial. Sebaliknya, semakin rendah skor pola asuh demokratis, maka semakin rendah pula skor kecenderungan melakukan interaksi sosial. Melalui hasil penelitian, dapat diketahui bahwa pola asuh demokratis memiliki peran bagi remaja dalam interaksi sosialnya. Dalam penelitian ini, pola asuh demokratis mempunyai sumbangan sebesar
27% terhadap kecenderungan melakukan interaksi sosial. Sedangkan 73% lainnya dipengaruhi oleh variabel lainnya.
Remaja yang dididik dengan pola asuh demokratis akan memiliki sikap mandiri, tegas terhadap diri sendiri, mudah bekerja sama dengan orang lain, ramah terhadap orang lain dan mempunyai rasa tanggung jawab untuk memperlihatkan tingkah laku yang baik yang akan memupuk rasa percaya dirinya (Gunarsa, 2004) sehingga mampu berdiskusi dengan orang lain dan berkompeten secara sosial.
Hasil dari penelitian ini membuktikan teori dari Armsden dan Lynch (dalam Santrock,1995) yang mengatakan bahwa relasi yang nyaman dengan orang tua membuat remaja memiliki harga diri dan kesejahteraan emosional yang baik. Oleh sebab itu hubungan antara orang tua dengan anak dapat menyediakan landasan yang kokoh dimana remaja dapat menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia sosial yang luas dalam suatu cara yang secara psikologis sehat (Santrock, 1995), sehingga remaja memiliki dorongan untuk melakukan interaksi sosial.
Subjek dalam penelitian ini cenderung memiliki kecenderungan melakukan interaksi sosial yang tinggi. Subjek penelitian ini merupakan remaja yang diidentikan dengan kebutuhan berinteraksi yang tinggi. Seperti yang diungkapkan Hurlock (1998) bahwa remaja memiliki kebutuhan interaksi sosial yang tinggi.
Subjek dalam penelitian ini juga mendapatkan pengasuhan demokratis yang tergolong tinggi. Hal ini disebaban karena kemajuan dalam pola pengasuhan dan keterbukaan pikiran di masa ini yang tidak lagi menerapkan pola pengasuhan yang terlalu ketat dan mengekang. Hal ini sesuai dengan pendapat Santorck (2007) yang mengungkapkan bahwa perkembangan zaman menuntut orang tua lebih mengerti akan anak-anak mereka sehingga kebanyakan orang tua zaman sekarang telah memahami serta menerapkan pola asuh demokratis pada anak-anaknya sehingga pengasuhan otoritarian sudah jarang ditemui dibandingkan masa yang lalu.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara pola asuh demokratis dan kecenderungan melakukan interaksi sosial pada remaja. Semakin tinggi pola asuh yang diterima, maka semakin tinggi pula kecenderungan melakukan interaksi sosial. Sebaliknya, semakin rendah pola asuh yang diterima remaja tersebut maka semakin rendah pula kecenderungan melakukan interaksi sosial.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Agar peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang serupa dapat mengembangkan berbagai kemungkinan variabel lainnya yang dapat mempengaruhi kecenderungan melakukan interaksi sosial. 2. Bagi Orang Tua
Semoga para orang tua menerapkan pola asuh demokratis kepada anak anaknya.