• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN 1 Uji Larvasida

Pada penelitian ini menggunakan empat konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) untuk menentukan efektifitas larvasida dengan waktu

pengamatan 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam dan 24 jam. Adapun empat konsentrasi tersebut adalah 150 ppm, 300 ppm, 600 ppm, 1200 ppm. Pada penelitian ini juga menggunakan kontrol positif (Abate 1 ppm) dan kontrol negatif (air tanpa perlakuan). Berikut hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus

yang didapatkan:

Tabel 4.1 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok perlakuan. Perlakuan 150 ppm Perlakuan 300 ppm 600 ppm

1200 ppm

Sumber : Data Primer, 2014.

Tabel 4.1 memperlihatkan jumlah mortalitas larva Aedes albopictus per satuan waktu pengamatan. Pada konsentrasi 150 ppm dan 300 ppm kematian larva pertama terjadi pada waktu pengamatan 6 jam yaitu terdapat 1 larva yang mati pada konsentrasi 150 ppm dan 2 larva yang mati pada 300 ppm, sedangkan pada konsentrasi 600 ppm kematian larva pertama terjadi pada waktu pengamatan 4 jam yaitu terdapat 2 larva yang mati. Pada konsentrasi 1200 ppm pada 1 jam pertama sudah memberikan efek larvasida pada larva Aedes albopictus, yaitu ada 3 larva yang mati.

Tabel 4.2 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok perlakuan dan kontrol.

Perlakuan

Kontrol (+) (Abate 1 ppm)

Kontrol (-) (air tanpa perlakuan)

Sumber : Data Primer, 2014.

Pada tabel 4.2 menunjukkan pada kelompok kontrol positif kematian pertama larva terjadi pada waktu pengamatan 1 jam yaitu sebanyak 57 larva mati, sedangkan pada kontrol negatif kematian larva terjadi pada waktu pengamatan 24 jam yaitu sebanyak 8 larva. Adapun persentase rerata kematian larva Aedes albopictus dalam 24 jam ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 4.3 Persentase mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok perlakuan dalam 24 jam.

Perlakuan 150 ppm 300 ppm 600 ppm 1200 ppm Abate 1 ppm Kontrol -

Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa kelompok perlakuan 150 ppm hanya dapat memberikan persentase mortalitas larva sebesar 7,2%. Pada kelompok perlakukan 300 ppm memberikan persentase mortalitas larva 9,6%. Sedangkan pada kelompok perlakuan 600 ppm terdapat mortalitas larva 14,4% dan pada perlakuan 1200 ppm memberikan persentase mortalitas sebesar 66,4%. Pada kelompok positif dengan menggunakan abate 1 ppm, besar persentase yang didapatkan adalah 100%. Sedangkan pada kelompok negatif besar persentase yang didapatkan adalah 6,4%. Karena hasil persentase mortalitas kelompok kontrol (-) besar dari 5 % dan kecil dari 20 %, maka akan dilakukan koreksi mortalitas dengan menggunakan formula abbot. Adapun nilai korelasi mortalitas untuk masing-masing perlakuann dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Koreksi Persentase mortalitas larva Aedes albopictus dengan menggunakan formula Abbot.

Perlakuan

150 ppm

600 ppm

1200 ppm

Sumber : Data Primer, 2014.

Tabel 4.4 menunjukkan koreksi persentase mortalitas pada kelompok perlakuan dengan menggunakan formula abbot. Berikut adalah formula abbot:

Keterangan :

Untuk menentukan efektifitas daun widuri sebagai larvasida secara statistik. Maka akan dilanjutkan dengan menganalisis data dengan uji repeated Anova, namun sebelumnya harus dipenuhi terlebih dahulu dua syarat uji repeated Anova yaitu dilakukan uji distribusi data, meliputi uji normalitas dan homogenitas data. Uji distribusi data merupakan syarat untuk dilakukan uji repeated Anova harus memiliki nilai normal (nilai p > 0,05). Adapun hasil uji normalitas data dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk yang didapatkan beberapa data memiliki nilai p < 0,05 (lampiran 1). Sehingga dapat diartikan normalitas data tidak normal. Setelah itu dilakuakn transformasi data sebagai upaya untuk menormalkan distribusi data,

namun nilai P pada beberapa data masih <0,05 (lampiran 1). Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa distribusi data tidak normal. Karena syarat pertama uji

repeted Anova tidak terpenuhi, maka tidak dilanjutkan uji homogenitas.

Selanjutnya sebagai uji alternatif repeted Anova maka dilakukan non parametrics test yaitu Friedman test. Hasil yang didapatkan adalah:

Tabel 4.5 Friedman test

Friedman test

N

Asymp. Sig

Sumber : Data Primer, 2014.

Dari hasil analisis Friedman test didapatkan nilai signifikansi sebesar p = 0.000. karena nilai p < 0,05 maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata kematian larva pada kelompok setiap perlakuan.

Untuk mengetahui perbandingan hasil mortalitas larva antara kelompok perlakuan, maka digunakan uji statistik Post-hoc Mann-Whitney. Hasil yang didapatkan adalah:

Tabel 4. 6 Uji statistik perbandingan antar kelompok/konsentrasi (analisis Post- hoc Mann-Whitney) Perlakuan 150 ppm 300 ppm 600 ppm 1200 ppm Abate 1 ppm

*p<0,05 artinya memiliki perbedaan yang signifikan

Tabel 4.6 menunjukkan hasil uji Post-hoc Mann-Whitney, hasil dikatakan memiliki perbedaan yang bermakna bila nilai p < 0,05. Pada tabel 4.5 menunjukkan bahwa konsentrasi 150 ppm, 300 ppm dan 600 ppm memiliki perbedaan bermakna dengan konsentrasi 1200 ppm dan Abate 1%, artinya setiap kelompok perlakuan memiliki rata-rata mortalitas larva yang berbeda. Pada konsentrasi 150 ppm tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan konsentrasi 300 ppm dan 600 ppm. Konsentrasi 300 ppm juga tidak memiliki perbedaan signifikan dengan 150 ppm dan 300 ppm.

Untuk menentukan adanya hubungan peningkatan konsentrasi dengan mortalitas larva Aedes albopictus, maka dilakukan uji statistik korelasi Pearson. Namun karena nilai distribusi data tidak normal (Lampiran 1), maka dilakukan uji alternatif yaitu uji korelasi Spearman. Hasil yang didapatkan adalah:

Tabel 4.7 Uji korelasi Spearman

Korelasi Spearman

Correlation Coefficient Sig.2 (2-tailed)

Sumber : Data Primer, 2014.

Tabel 4.7 memperlihatkan nilai korelasi Spearman yang dimiliki konsentrasi pada tiap waktu pengamatan. Pada waktu pengamatan 1 jam nilai p yang didapatkan adalah 0,10. Artinya nilai p > 0,05 dan kekuatan korelasi 0,564. Nilai ini menunjukkan arah korelasi negatif (tidak bermakna) dan kekuatan korelasi sedang. Sedangkan pada waktu pengamatan 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8

jam dan 24 jam semua nilai p < 0,05. Nilai ini menunjukkan arah korelasi positif atau terdapat korelasi bermakna antara variabel yang diteliti. Kekuatan korelasi pada waktu pengamatan 2 jam dan 3 jam adalah 0,668 artinya kekuatan korelasi kuat. Pada waktu pengamatan 4 jam nilai kekuatan korelasi dalah 0,708 dan pada waktu pengamatan 6 jam adalah 0,719. Kedua nilai ini menunjukkan kekuatan korelasi kuat. Sedangkan nilai kekuatan korelasi pada waktu pengamatan 8 jam adalah 0,675 dan pada waktu pengamatan 24 jam adalah 0,758. Kedua nilai ini juga menunjukkan kekuatan korelasi kuat antara variabel konsentrasi dan mortalitas larva per satuan waktu. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara peningkatan konsentrasi terhadap mortalitas larva Aedes albopictus.

Analisis data selanjutnya adalah regresi Probit untuk menentukan efektivitas konsentrasi daun widuri (Calotropis gigantea) yang membuat mortalitas larva 50% atau lethal consentration 50% (LC50). Adapun nilai LC50 yang didapatkan adalah:

Tabel 4.8 Nilai analisis Probit LC50 ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)

LC50 (ppm)

Sumber : Data Primer, 2014.

Pada tabel diatas menunjukkan konsentrasi efektif ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) yang membuat mortalitas larva nyamuk Aedes albopictus

sebesar 50% adalah 1117,530 ppm. 2. Uji Fitokimia

Pada penelitian ini dilakukan uji fitokimia ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) secara kualitatif untuk menentukan golongan senyawa yang terdapat

pada ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea). Adapun hasil uji fitokimia yang didapatkan menunjukkan hasil positif pada alkaloid dan saponin. Hasil positif alkaloid ditunjukkan dengan terdapatnya endapan dan saponin hasil positifnya ditunjukkan dengan adanya busa, sedangka flavonoid dan tanin menunjukkan hasil negatif.

Tabel 4.9 Uji fitokimia ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)

No Nama senyawa

1. 2.

3. Flavonoid

4. Sumber : Data Primer, 2014.

Gambar 7. Hasil Uji Identifikasi Fitokimia, (a) Alkaloid positif (b) Saponin positif (c) Tanin negatif (d) Flavonoid negatif

B. PEMBAHASAN

Aedes albopictus adalah vektor penular demam berdarah dengue. Jika

rumah yang tidak berhubungan dengan tanah, Aedes albopictus berkembang biak di lubang-lubang pohon, drum, dan ban bekas yang terdapat di luar rumah (Hadi, 2012).

Salah satu upaya pengendalian vektor DBD dilakukan dengan cara memutuskan rantai penularan yaitu dengan penggunaan insektisida, baik dengan cara penyemprotan atau larvasida (Sukowati, 2010). Widuri (Calotropis gigantea) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi menjadi larvasida alami karena adanya kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, saponin (Seniya et al., 2011).

Dalam penelitian Shreya et al. (2012) melaporkan efek larvasida daun widuri (Calotropis gigantea) terhadap larva nyamuk Aedes aegepty dan dapat digunakan dalam program pengendalian vektor nyamuk DBD. Pada penelitian lainnya oleh Kumar et al. (2012) juga melaporkan bahwa daun widuri (Calotropis gigantea) dapat memberikan efek larvasida terhadap larva nyamuk Culex sp.

Penelitian ini dimulai dengan membuat simplisia kering daun widuri dengan cara melakukan penjemuran pada daun widuri hingga kadar air berkurang 90%. Kemudian simplisia kering dijadikan serbuk kering untuk memudahkan proses penarikan senyawa kimia yang berada didalam daun widuri. Proses selanjutnya adalah pembuatan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dengan metode maserasi. Metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% merupakan metode ekstraksi yang paling sederhana dengan cara merendam simplisia kering dengan cairan penyari (etanol 96%) selama 3x24 jam, setelah itu akan dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring dan dilakukan proses pengentalan

dengan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental (Syamsuni, 2006).

Setelah didapatkan ekstrak kental daun widuri (Calotropis gigantea), maka selanjutnya dilakukan uji fitokimia. Pada uji fitokimia yang dilakukan dalam penelitian ini ada empat senyawa yang diujikan dan dilakukan dengan pendekatan kualilalif. Hasil uji fitokimia yang didapatkan terdapat reaksi positif untuk senyawa alkaloid dan saponin pada ekstrak etanol daun widuri (Calotropis gigantea).

Pengujian alkaloid dilakukan dengan menggunakan reagen Wagner dan hasil positif ditunjukkan dengan adanya endapan pada larutan ekstrak, sedangkan untuk hasil positif saponin ditunjukkan dengan adanya busa pada saat larutan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dikocok beberapa kali.

Pada penelitian ini juga dilakukan pengujian tanin dan flavonoid. Pengujian tanin dilakukan dengan cara mereaksikan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dengan gelatin, hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan dan pada uji fitokimia yang dilakukan menunjukkan hasil negatif (tidak terbentuk endapan). Pengujian flavonoid, dilakukan dengan cara mereaksikan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dengan HCL pekat, hasil positif ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna larutan menjadi violet. Namun pada pengujian fitokimia pada penelitian ini memberikan hasil negatif (warna larutan tetap hijau). Hasil negatif untuk senyawa tanin dan flavonoid dipengaruhi oleh teknik ekstraksi yang digunakan dan kandungan senyawa kimia dalam bagian tanaman yang diambil. Teknik ekstraksi maserasi merupakan teknik ekstraksi yang paling

sederhana dan kekurangan dari teknik maserasi adalah ekstraksi kurang sempurna sehingga beberapa senyawa seperti tanin dan flavonoid tidak seluruhnya tertarik keluar dari sel tanaman, karena jumlah pelarut pada teknik ini jauh lebih sedikit dibandingkan teknik lainnya (Pratiwi, 2010).

Pengujian larvasida pada penelitian ini dilakukan dengan cara menyiapkan konsentrasi uji yaitu 150 ppm, 300 ppm, 600 ppm dan 1200 ppm serta kontrol negatif (air tanpa perlakuan) dan kontrol positif (Abate 1 ppm), kemudian menyiapkan larva nyamuk Aedes albopictus sebanyak 25 larva instar tiga yang dimasukkan ke dalam wadah pengujian menggunakan screen loops atau alat penapis. Wadah pengujian merupakan wadah gelas transparan yang berisi 100- 200 ml air dengan kedalam air 5cm atau 10 cm, jika lebih dari 10 cm akan menyebabkan kematian larva (WHO, 2004).

Waktu pengamatan efek larvasida dilakukan pada 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam dan 24 jam. Waktu pengamatan 24 jam merupakan standar yang ditetapkan WHO untuk pengujian larvasida, dimana pengujian larvasida harus melalui sebuah photoperiod yaitu 12 jam terang diikuti 12 jam gelap (WHO,2004). Pada waktu pengamatan, larva yang mati dicatat dan setelah 24 jam dihitung persentase mortalitas. Larva dikatakan mati bila tidak bergerak dan tidak memberikan respon ketika di stimulus dengan pipet.

Pada penelitian ini hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus seperti yang terlihat pada Tabel 4.1 dan 4.3. Pada konsentrasi 150 ppm jumlah mortalitas larva setelah 24 jam adalah 9 larva (7,2%). Konsentrasi 300 ppm jumlah mortalitas larva sebanyak 12 larvas (9,6%). Pada konsentrasi 600 ppm jumlah

mortalitas sebanyak 18 larva (14,4%), sedangkan pada konsentrasi 1200 ppm jumlah mortalitas sebanyak 83 larva (66,4%).

Pada kontrol negatif terdapat kematian larva sebanyak 8 larva (6,4%) setelah 24 jam, hal ini dipengaruhi oleh kondisi larva yang belum dapat beradaptasi pada lingkungan ruang uji. Oleh karena persentase mortalitas pada kontrol negatif >5 % dan < 20%, maka harus dilakukan koreksi mortalitas dengan menggunakan formula Abbot (Tabel 4.4) (WHO,2004).

Pada kontrol positif (+) persentase mortalitas larva adalah 100%, artinya semua larva mati pada kontrol positif dan efek larvasida sudah mulai terlihat pada waktu pengamatan 1 jam (Tabel 4.2). Pada kontrol (-) persentase mortalitas larva adalah 6,4% terdapat kematian larva sebanyak 8 larva setelah 24 jam. Dari data ini menunjukka bahwa daun widuri (Calotropis gigantea) memiliki efek larvasida yang berbeda-beda tiap konsentrasinya dan konsentrasi 1200 ppm memiliki efek yang paling kuat dibandingkan konsentrasi 150 ppm, 300 ppm, 600 ppm dan 1200 ppm.

Namun efek larvasida pada konsentrasi 1200 ppm belum dapat menyamai kekuatan efek larvasida dari kontrol positif Abate 1 ppm yang memberikan persentase mortalitas 100%. Abate merupakan salah satu larvasida golongan senyawa phosphat organik yang dapat masuk dan termakan lewat mulut. Golongan insektisida ini mempunyai cara kerja menghambat enzim cholinesterase

(anti cholinesterase) baik pada vertebrata maupun invertebrata, sehingga menimbulkan gangguan pada aktivitas saraf karena tertimbunnya acetylcholine

otot sehingga memungkinkan penjalaran impuls listrik dan menstimulus otot untuk berkontraksi dalam waktu lama sehingga terjadi konvulsi (kejang). Abate akan mengikat enzim cholinesterase dan dihancurkan sehingga terjadi kontraksi otot yang terus menerus, kejang dan akhirnya larva akan mati (Ridha, 2011).

Untuk menentukan efektivitas larvasida daun widuri (Calotropis gigantea) lebih lanjut, maka akan dilakukan uji statistik selanjutnya yaitu uji hipotesis dengan menggunakan repeated Anova. Adapuan syarat uji yang harus dipenuhi terlebih dahulu pada uji repeated Anova yaitu dilakukan uji distribusi data, meliputi uji normalitas dan homogenitas data. Namun hasil analisis uji normalitas dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk dan transformasi data yang telah dilakukan menunjukkan nilai p < 0,05 pada beberapa data (lampiran 1). Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa distribusi data tidak normal. Oleh karena syarat uji repeted Anova tidak terpenuhi, maka selanjutnya digunaka uji alternatif

repeted Anova yaitu Friedman test. Hasil Friedman test yang didapatkan adalah nilai p = 0,000. Oleh karena nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan signifikan nilai rata-rata kematian larva pada setiap kelompok perlakuan, sehingga dapat dilakukan uji Post-hoc Mann-Whitney untuk melihat kelompok perlakukan yang berbeda secara signifikan (Tabel 4.5).

Pada uji Post-hoc Mann-Whitney untuk konsentrasi 150 ppm, 300 ppm dan 600 ppm memiliki perbedaan yang signifikan pada konsentrasi 1200 ppm dan Abate 1 ppm. Pada konsentrasi 150 ppm tidak memiliki perbedaan signifikan untuk konsentrasi 300 ppm dan 600 ppm, begitu juga dengan konsentrasi 300 ppm tidak memiliki perbedaan yang signifikan pada konsentrasi 150 ppm dan 600

ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 1200 ppm merupakan konsentrasi yang dapat memberikan perbedaan nilai rata-rata mortalitas larva yang signifikan dibandingkan konsentrasi lainnya dan merupakan konsentrasi yang memiliki efek larvasida terkuat.

Untuk menentukan hubungan korelasi antara peningkatan konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) terhadap peningkatan mortalitas larva Aedes albopictus per satuan waktu maka dilakukan uji statistik korelasi Spearman. Nilai korelasi Spearman yang didapatkan pada waktu pengamatan 1 jam ialah nilai p= 0,10 dan kekuatan korelasi 0,564. Nilai ini menunjukkan arah korelasi negatif (tidak bermakna) dan kekuatan korelasi sedang. Sedangkan pada waktu pengamatan 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam dan 24 jam semua nilai p > 0,05. Nilai ini menunjukkan arah korelasi positif atau terdapat korelasi bermakna antara variabel yang diteliti. Kekuatan korelasi pada waktu pengamatan 2 jam sampai 24 jam berkisar antara 0,668-0,758. Nilai ini menunjukkan kekuatan korelasi kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa mulai dari waktu pengamatan 2 jam hingga 24 jam terdapat korelasi yang bermakna antara peningkatan konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) terhadap peningkatan mortalitas larva Aedes albopictus.

Efektivitas ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) sebagai larvasida dinilai dengan menentukan LC50 dengan mengunakan analisis regresi Probit pada SPSS. Nilai LC50 yang didapatkan untuk efek larvasida ekstrak daun widuri (Calotropis

Dari beberapa uji statistik diatas dapat disimpulkan bahwa daun widuri (Calotropis gigantea) terbukti memiliki efek larvasida dan hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Seniya et al. (2011) dan Kumar et al. (2012).

Efek larvasida daun widuri pada penelitian ini karena adanya senyawa alkaloid dan saponin. Senyawa alkaloid dapat berfungsi sebagai insektisida alami karena perannya dalam merusak sel neurosekretori otak (racun saraf) pada serangga sehingga menghambat pembentukan pupa dan sekresi hormon pertumbuhan. Senyawa alkaloid selain bekerja dengan cara menganggu sistem kerja saraf (neuromuscular toxic) larva, juga memiliki efek larvasida dengan menghambat daya makan larva dan bertindak sebagai racun perut (Wiryowidagdo, 2007).

Senyawa saponin diduga mengandung hormon steroid yang berpengaruh dalam pertumbuhan larva nyamuk. Senyawa ini akan menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif. Kerusakan salah satu organ nyamuk dapat menurunkan proses metabolisme dan gangguan dalam proses fisiologinya (Fuadzy

et al., 2012).

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Shreya et al. (2012) menggunakan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) sebagai larvasida pada larva Aedes aegypti, didapatkan hasil analisis Probit untuk LC50 berada pada konsentrasi 351,43 ppm. Perbedaan hasil penelitian ini dipengaruhi oleh teknik

ekstraksi yang digunakan, dimana pada penelitian yang dilakukan Shreya et al.

(2012) menggunakan teknik Sokhlet untuk mengekstraksi daun widuri.

Selain itu beberapa faktor yang juga mempengaruhi perbedaan hasil penelitian yang didapatkan diantaranya adalah faktor biologi seperti lokasi tumbuhan asal, cara penyimpanan bahan, umur tumbuhan, dan bagian tumbuhan yang digunakan. Faktor kimia yang dapat mempengaruhi diantaranya jenis senyawa aktif, serta kualitas dan kuantitas senyawa aktif yang terkandung di dalam bahan. Perbedaan alat yang digunakan, kekeringan bahan, pelarut yang digunakan juga dapat mempengaruhi hasil ekstraksi bahan. Perbedaan spesies objek penelitian juga dapat mempengaruhi hasil penelitian karena daya racun suatu insektisida umumnya berbeda antara satu spesies dengan spesies lainnya (Adhli et al., 2011).

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:

1. Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) memiliki efek larvasida pada larva nyamuk Aedes albopictus dengan LC50 pada konsentrasi 1117,530 ppm.

2. Terdapat hubungan antara peningkatan konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) terhadap peningkatan mortalitas larva

Aedes albopictus per satuan waktu.

1. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan uji fitokimia secara kuantitatif untuk menunjukkan jumlah kandungan senyawa aktif pada ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea).

2. Sebaiknya dilakukan penelitian serupa dengan variasi konsentrasi yang lebih tinggi dan dengan metode ekstraksi yang berbeda.

3. Sebaiknnya dilakukan penelitian untuk mengujian ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) sebagai repellant terhadap nyamuk Aedes albopictus.

Dokumen terkait